Tampilkan postingan dengan label Profile Masjid Sedunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profile Masjid Sedunia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2011

Masjid Salman ITB: Ditentang Rektor, Didukung Proklamator


Wartaislam.com - Salman Alfarisi, seorang sahabat Rasulullah Saw asal Persia yang cerdas dan ahli strategi perang. Ia menjadi pahlawan dengan ide membuat parit dalam upaya melindungi kota Madinah dalam pertempuran Khandaq.
Kepribadian dan ide  teknokrat brilian yang mengagumkan ini menginspirasi Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, untuk mengabadikan nama Salman Alfarisi pada sebuah masjid unik di kawasan pendidikan Institut Teknologi Bandung (ITB), meski sebelumnya mendapat tentangan dari rektor ITB saat itu, Otong Kosasih.
Masjid Salman, begitu sebutan populer masjid yang terletak di Jalan Ganesha 10, Bandung. Masjid berkapasitas 1000 orang jamaah  ini memang luar biasa. Meski tanpa tiang penyangga, bangunan ini tetap berdiri kokoh. Kubah sebagai simbol khas pada umumnya sebuah masjid pun tak nampak. Itulah rupanya kekhasan Masjid Salman, yang tak ditemukan di masjid-masjid kebanyakan.
Berdirinya Masjid Salman tak lepas dari tangan lihai sang maestro arsitektur masjid, Ir. Achmad Noe’man. Tahun 50-an, semasa kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Arsitektur, Noe’man muda memimpikan memiliki sebuah masjid kampus di ITB agar memudahkan dia beribadah, terutama shalat Jumat, saat tengah menimba ilmu.
Keinginan tersebut memang beralasan, karena sebagai seorang muslim Noe’man muda menyadari betul pentingnya shalat, sedang di kampusnya sendiri tidak ada masjid. Selama ini Noe’man selalu shalat di ruangan menggambar di kampusnya. Itu pun tidak memadai Karena ruangannya sempit.
Konsistensi Noe’man dalam beribadah sudah diketahui oleh dosennya yang seorang Belanda, bernama Prof. Van Roeman. Saking seringnya meminta izin shalat, beberapa menit menjelang adzan dzuhur, Prof. Van Roeman hapal betul bahwa Noe’man akan keluar lebih dahulu.
Mengenai kebiasaan tersebut ada suatu pengalaman yang tidak mengenakkan yang masih membekas. Kebetulan saat hari UAS bertepatan dengan jam shalat jumat. Noe’man pun menjadi bimbang antara memilih mendahulukan shalat jumat atau menyelesaikan ujian dahulu.
Jarak yang ditempuh menuju masjid terdekat yaitu masjid Cipaganti, pasti akan memakan waktu ujiannya. Namun, jika menyelesaikan ujian dahulu maka waktu shalat Jumat telah habis.
Akhirnya Noe’man memutuskan untuk menangguhkan ujiannya dan meminta ujian susulan setelah shalat Jumat.
Keinginan Noe’man tidak serta merta dipenuhi oleh Profesornya, malah Noe’man dicurigai beralasan keluar ruangan hanya untuk mencontek. Ada perkataan yang masih teringat jelas di benaknya, “Masak muslim mencontek,“ kenang Noe’man. Mendengar hal itu Noe’man merasa sakit hati dan makin membulatkan tekadnya untuk memiliki masjid sendiri di kampus.
Tahun 1959 Noe’man mulai merancang masjid Salman. Upaya Noe’man  mendirikan masjid Salman pun tidak mudah. Tentangan dari rektor, Otong Kosasih, yang berpendapat jika diizinkan membuat masjid tentu harus juga membuat gereja, cukup menghambat upaya Noe’man.
Padahal menurut arsitek kelahiran Garut, 10 Oktober 1924 ini, kebutuhan akan gereja atau masjid jelas berbeda. Gereja hanya digunakan seminggu sekali pada jam-jam tertentu, berbeda dengan masjid yang digunakan setiap hari.
Tentangan lain juga didapat dari BTI (Barisan Tani Indonesia). Lahan 7500 m2 yang akan dipakai sebagai lokasi pendirian masjid diklaim milik BTI, dan ditanami dengan berbagai kebutuhan pangan.
Saran ini disambut oleh rekan Noe’man yang memiliki paman seorang anggota Cakrabirawa (pengawal presiden), yang dapat mempertemukannya dengan Soekarno. Maka berangkatlah mereka berdua ke Jakarta menuju istana Merdeka dengan membawa surat persetujuan mendirikan masjid yang sudah disiapkan sebelumnya.
Berbekal surat yang ditandatangani Soekarno, Noe’man pun menghadap rektor yang tak berkutik  mendapat perintah langsung dari Soekarno. Akhirnya di tahun 1960, pembangunan masjid Salman yang namanya pemberian dari Soekarno pun berjalan.
Dalam setahun, pembangunan masjid Salman berhasil dirampungkan. Namun, beragam kritik datang, salah satunya yang menganggap kurang mencirikan Islam karena tidak memiliki kubah dan hiasan kaligrafi.
Menyikapi kritikan tersebut, maka Noe’man balik bertanya, “Apa yang imam katakan sebelum memulai shalat berjamaah?” tanyanya. “Tentu saja jawabnya adalah rapatkan dan luruskan shaf,” ungkapnya lebih lanjut.
Padahal, menurut Noe’man, jika masjid menggunakan kubah, maka dibutuhkan  tiang penyangga untuk menopangnya. Sedangkan adanya tiang penyangga, dapat memisahkan shaf yang seharusnya lurus.
Gebrakan yang dibuat Achmad Noe’man ini membuat masjid Salman dikenal sebagai masjid dengan arsitektur modern pertama di Indonesia. Menurut sang arsitek, bentuk atap beton menggunakan balok beton prestressed yang membentang sepanjang 25 meter. Lengkungan atap yang direpresentasikan sebagai tangan yang sedang berdoa, juga berfungsi sebagai talang besar bagi aliran air dari atap datarnya.
Dengan menggunakan balok beton prestressed maka diperolehlah ruang shalat yang luas yang menjadi salah satu ciri penting masjid rancangan Achmad Noe`man. Masjid inilah yang telah menjelma menjadi masjid dengan arsitektur modern pertama di Indonesia.***(alhikmah/WI-001)

Senin, 03 Januari 2011

Masjid Schwetzingen: Berdiri demi Toleransi

PDF Print E-mail
“Jika muslim Turki hijrah ke negara ini dan mampu mengamalkan esensi ajarannya dengan baik dan benar, kita akan mendirikan masjid untuk mereka,” kata Raja Frederick II.
Perkembangan Islam di Eropa semakin pesat. Sejalan dengan itu, ribuan tempat ibadah berdiri dengan megah. Tak terkecuali di Jerman. Siapa yang mengira, di negara itu terdapat ribuan masjid sejak akhir abad ke-18. Sedikitnya sekitar 2.500 masjid, namun hanya 160 yang dikenal luas.

Salah satu masjid yang terkenal hingga ke pelosok dunia adalah Masjid Schwetzingen. Masjid yang terletak di kompleks Istana Schwetzingen, Jerman, ini adalah masjid pertama yang dibangun di Jerman. Adalah Raja Frederick II yang membangunnya pada tahun 1796. Menurutnya, semua agama adalah sama dan baik. “Jika muslim Turki hijrah ke negara ini dan mampu mengamalkan esensi ajarannya dengan baik dan benar, kita akan mendirikan masjid untuk mereka,” katanya.

Pada tahun 1779 arsitek berkebangsaan Prancis, Nicolas de Pigage, mulai merancang masjid. Proses pembangunannya sendiri memakan waktu selaman 15 tahun, sejak tahun 1779, hingga tahun 1796.

Konon, selain untuk menghormati toleransi, Masjid Schwetzingen sengaja dibangun sebagai hadiah kepada salah satu bangsawan kerajaan yang beragama Islam.

Masjid Schwetzingen terbilang unik. Lokasinya berada di dalam kompleks Istana Schwetzingen. Bagunan Masjid Schwetzingen mengedepankan gaya arsitektur Oriental. Namun bukan berarti menafikan gaya arsitektur Islam. Arsitek kelahiran 1723, Nicolas de Pigage, juga menggabungkan arsitektur Oriental dengan elemen-elemen dari arsitektur Islam Moor dan eksotisme dari kisah-kisah dongeng Seribu Satu Malam. Masjid ini disebut-sebut sebagai bangunan terbesar pertama bergaya Oriental.

Tak hanya itu. Sang arsitek merancang Masjid Schwetzingen dengan menggunakan konsep taman. Karenanya, masjid ini menjadi masjid taman pertama yang dibangun pada abad ke-18, dan hingga kini masih berdiri megah di kawasan Eropa. Taman yang berada di sekeliling bangunan masjid mengadopsi konsep taman-taman di Turki.

Pesona arsitektur Timur secara jelas sudah bisa ditangkap manakala pengunjung melihat bagian luar bangunan Masjid Schwetzingen. Pengaruh arsitektur Timur ini semakin tampak jelas kita pengunjung memasuki bagian tengah masjid, yang berbentuk kubah bundar, yang diapit oleh ruangan-ruangan berbentuk persegi. Sementara gaya Oriental juga tampak kental pada interior masjid, dengan penggunaan mozaik marmer pada lantai di ruang bagian tengah.

Bagian langit-langit masjid dihiasi dengan ornamen dari bahan plesteran. Sementara bagian atas tembok diberi delapan buah pilaster yang berfungsi untuk memperkuat kedudukan tembok agar kokoh. Di bagian tengah bangunan masjid terdapat ruangan khusus bagi para imam masjid.

Permukaan dinding masjid bagian dalam dihiasi lukisan dan sepuhan emas. Sementara permukaan dinding masjid bagian luar dan di langit-langit kubah dihiasi dengan kaligrafi kutipan ayat-ayat Al-Quran surah tertentu.

Untuk mencapai bagian teras depan masjid, pengunjung harus melewati sejumlah tiang pilar yang dari kejauhan tampak terlihat seperti memainkan siluet bayangan dan cahaya secara bergantian.

Seperti bangunan masjid lainnya yang dibangun pada masa pemerintahan Turki Usmani, Masjid Schwetzingen juga dilengkapi dengan bangunan menara. Menara tersebut menghiasi kedua sisi bangunan masjid. Namun, sayangnya menara Masjid Schwetzingen ini tertutup bagi kunjungan wisatawan. Karena letaknya yang di dalam kompleks istana.

Kecuali hari Senin, bangunan Masjid Schwetzingen terbuka bagi kunjungan masyarakat umum. Tapi, yang juga disayangkan, bangunan masjid ini sekarang tidak lagi digunakan sebagai tempat shalat. Saat ini, Masjid Schwetzingen hanya difungsikan sebagai bangunan bersejarah dan obyek wisata, seperti halnya bangunan lainnya yang berada di dalam kompleks Istana Schwetzingen.

Padahal, seperti di Indonesia, misalnya, masjid-masjid klasik dan bernilai sejarah pun tetap digunakan sebagai tempat shalat. Bahkan masjid-masjid yang pernah menjadi tempat shalat para wali, misalnya, dipercaya lebih mustajab dan memberikan lebih banyak barakah.

SEL

Rabu, 01 September 2010

Masjid Agung Roma, Termegah di Eropa


PDF Print E-mail
Written by Fredi Wahyu Wasana   
Friday, 27 August 2010 17:44
Tempat ibadah dan kegiatan umat Islam di Italia ini menjadi simbol toleransi di jantung Katholik.
Roma. Kota kuno nan cantik itu begitu tersohor dibelahan dunia. Ibu kota negara Republik Italia ini menjadi pusat agama Katholik. Tepatnya di Vatikan, kebijakan keagamaan umat Katholik terpusat di sana.

Namun siapa yang mengira, ternyata kota yang identik dengan Katholik itu memiliki sebuah masjid megah yang berdiri sejak lama, yaitu Masjid Agung Roma, atau yang biasa disebut “Grande Moschea Masjid”.

Masjid ini menjadi simbol toleransi keberagamaan di Italia. Letaknya di Basilica, Santo Paulus Roma, persisi bersebelahan dengan Vatikan dan Sinagog Yahudi.

40.000 Jama’ah

Berdiri di atas lahan seluas 30 ribu meter persegi, masjid yang menjadi kebanggaan umat Islam Italia bahkan dunia ini mampu menampung sekitar 40.000 jama’ah. Lebih mengangumkan lagi, masjid ini merupakan masjid terbesar di daratan Eropa.

Keberadaan masjid di tengah kota Roma itu tak terlepas dari jasa almarhum Raja Faisal bin Abdul Aziz Al-Saud, pemimpin Arab Saudi, yang meninggal pada 1975. Kala itu, Raja Faisal meminta kepada Presiden Giovanni Leone, yang menjabat presiden Republik Italia ke-6 sejak tahun 1971-1978, untuk membangun masjid bagi umat Islam Roma. “Sudah seharusnya Roma memiliki sebuah masjid, lantaran saat itu, tahun 1970-an, terdapat sekitar 40 ribu muslim,” kata Raja Faisal kala itu (Puluhan tahun sebelumnya terjadi imigrasi muslim besar-besaran dari negara-negara Asia untuk mencari penghidupan yang lebih baik).

Lebih jauh, menurut Raja Faisal, rencana pembangunan masjid itu, selain sebagai tempat ibadah dan kegiatan umat Islam di Italia, juga bisa dimanfaatkan untuk menjalin hubungan akrab serta dialog antara umat Islam dan Kristen.

Presiden Leone menyambut baik usulan Raja Faisal. Ia berjanji akan menyediakan tanah untuk pembangunan masjid itu.

Maka, tepat pada tahun 1975, Presiden Leone mulai merealisasikan janjinya. Bersama Wali Kota Roma, Giulio Carlo Argan, ia menyumbangkan tanah seluas 30 ribu meter persegi yang kepada Pusat Kebudayaan Islam di Italia utuk dibangun sebuah masjid.

Namun, karena terjadi suksesi kepemimpinan di Italia, pembangunannya baru dimulai pada tanggal 11 Desember 1984. Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Agung Roma dilakukan oleh Presiden Italia saat itu, Alessandro Pertini. Pembangunan baru selesai 11 tahun kemudian, tepatnya tanggal 21 Juni 1995.

Pertemuan Dua Budaya

Masjid Agung Roma disebut-sebut sebagai masjid terindah di Eropa. Dari kawasan Lembah Tiber, masjid itu tampak menjulang tinggi menyaingi Montenne Mountain, sebuah bukit yang sangat subur di utara kota Roma.

Arsitek terkenal Italia, Paolo Portoghesi, dipercaya mendesain masjid ini setelah menyisihkan 40 arsitek lainnya dalam seleksi yang dilakukan Wali Kota Roma, Giulio Carlo Argan, bersama arsitek Avio Mattiozzi pada tahun 1975. Portoghesi juga dosen sejarah arsitek di Universitas Roma. 

Menyadari tanggung jawabnya sangat besar dalam mengemban tugas membangun masjid di negeri itu, ia pun mempelajari sejarah Islam untuk memahami arsitektur Islam, bahkan ia pun mempelajari terjemahan Al-Quran. Tidak hanya itu, demi mendapatkan sumber yang lebih akurat, ia juga melakukan penelitian langsung ke Yordania, Sudan, Tukia, Mesir, dan Tunisia.

Sejak itulah, tepatnya pada tahun 1970-an, ia mulai mengenal arsitektur Islam, dan siap untuk mendesain masjid megah kebanggaan umat Islam.

Portoghesi mendesain masjid berarsitektur Islam klasik berpadu gaya Eropa. Gaya Islam-nya, ia terinspirasikan Al-Quran surah An-Nur, yang berarti “cahaya”. Sedang gaya Eropa-nya, karena ia ingin melestarikan seni bangun negerinya.

Masjid ini memiliki enam belas kubah ditambah sebuah kubah besar di tengah yang atasnya dihiasi bulan sabit, simbol Islam. Desain interior kubahnya saling silang. Dan menjadi ciri khas masjid ini.

Teknik semen bersilang membuat bagian-bagian lengkungan tersebut terlihat begitu apik, menyimbolkan pertemuan dua kebudayaan: Islam dan Eropa.

1,030 Juta Muslim di Italia

“Sukses membangun masjid ini telah memberikan kebahagiaan tersendiri buat saya. Selama mendedikasikan diri saya dalam seni arsitektur 20 tahun, baru kali ini saya bisa mewujudkan karya bangunan arsitektur abad lalu yang menggambarkan keindahan dan kedamaian begitu rupa,” kata Portoghesi.

Rancangan ruang utama masjid, Portoghesi terinspirasikan dari arsitektur Islam klasik. Ruang ibadahnya didesain begitu luas, berbentuk persegi.

Sementara untuk ruang ibadah wanita, dibangun dua balkon di dua sisi ruang utama.

Untuk mendekorasi interior ruang utama masjid, arsitek yang juga pernah merancang Masjid Agung Strasbourg di Prancis ini mendatangkan sejumlah pengrajin tangan ahli dari Maroko. Menggambar berbagai mosaik yang membatasi balkon, relung, dan basis-basis lajur. Lajur-lajur yang didesain Portoghesi mengikuti motif klasik dari tipe lengkungan seperti yang ada di sebagian besar masjid kuno. Pola mosaik yang indah terdapat di lantai atas. 

Masjid karya Portoghesi ini juga tampak megah dengan adanya pilar-pilar pada bagian dalam dan luar bangunan utama setinggi 40 meter. Pilar-pilar masjid ini terlihat berbeda dengan pilar-pilar masjid-masjid yang ada di negara-negara Islam lainnya. Perbedaan itu terlihat pada bagian menara masjid yang memiliki bentuk semacam palem di hutan Maghribi, Maroko. Ada sekitar 186 pilar di bagian luar, 32 pilar di bagian dalam, dan dua buah menara yang tegak terpisah dari bangunan utama masjid. Terpisahnya menara itu dapat dipandang sebagai sebuah tugu, yang biasanya ditempatkan di ujung jalan-jalan kota Roma. Ini mewarisi gaya Eropa.

Kemegahan bangunan masjid ini juga bisa dilihat pada dekorasi lantai masjid, yang terdiri dari beraneka warna dan memiliki motif geometris yang berbentuk bintang. Adapun bahannya terbuat dari marmer, batu alam, dan batu bata khas Roma.

Halaman sekitar bangunan masjid disulap menjadi taman yang indah dilengkapi dengan air mancur yang jernih. Pohon palem, cemara, dan beberapa jenis pohon lainnya menutupi sekitar area masjid, menciptakan suasana teduh. Jalan-jalan kecil setapak dibuat di sekitar lokasi taman untuk memudahkan para pengunjung yang hendak menikmati keindahan taman masjid.

Portoghesi melihat arsitektur Islam sebagai hal yang begitu luhur, sehingga ia memaksimalkan potensi yang dimilikinya untuk medesain Masjid Agung Roma.

Kini, masjid megah itu menjadi kebanggaan 1,030 juta muslim di Italia. Ya, saat ini tercatat warga muslim menjadi pemeluk agama terbesar kedua di Italia setelah Katholik.

Bazar Ramadhan

Pada bulan Ramadhan seperti sekarang ini, Masjid Agung Roma tidak berbeda seperti masjid pada umumnya, lebih ramai dan bergeliat memainkan peranya sebagai pusat peribadahan. Setiap waktu shalat, umat Islam Italia berbondong-bondong mendatangi masjid itu, mengikuti shalat berjama’ah. Berbagai ibadah sunnah Ramadhan pun begitu hidup, seperti tilawah, qiyamu al-lail, i’tikaf. 

Begitu juga menjelang waktu berbuka puasa. Muslim Italia memilih ngabuburit di lingkungan masjid. Mempelajari berbagai sejarah Islam yang digelar pengurus masjid, atau sekadar menikmati keindahan dan kemegahan masjid. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang memilih berbuka dengan ta’jil yang disediakan panitia, berlanjut dengan melaksanakan ibadah-ibadah lainnya. “Kami memilih melakukan shalat lima waktu, Tarawih, serta shalat berjama’ah lainnya di masjid ini, lantaran kami ingin merasakan suasana Ramadhan di Yaman, seraya mengobati rindu,” demikian kata Dr. Abdul Wali Asy-Syamiri, imigran Yaman di Roma.

Memanjakan muslim Italia, pengurus masjid juga mengadakan bazar Ramadhan di halaman masjid dengan berbagai menu Timur Tengah, Asia, dan Italia tentunya. Pedagang-pedagang di sekitar masjid juga ada yang menjual makanan khas Arab, seperti kurma, kismis, manisan.

Begitu antusias umat Islam Italia untuk beribadah di Masjid Agung Roma, sehingga jama’ah yang berasal dari luar kota pun berbondong-bondong datang ke sana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Terlebih di bulan mulia yang penuh ampunan ini.

SEL

Minggu, 01 Agustus 2010

Masjid Merah, yang Makin Sempurna

PDF Print E-mail
Monday, 02 August 2010 12:06
Masjid megah nan unik yang terletak di perempatan Jalan Pettah Bazaar, Kolombo, ini menyempurnakan perannya dalam membangun peradaban Islam, dengan berbagai kegiatan dawah.
Ornamen dinding belang berwarna merah dan putih begitu indah. Warna merah nan cerah, yang lebih dominan, sangat menyala di antara bangunan sekitarnya. Karenanya masyarakat menyebut Masjid Jamiul Alfar di Kolombo, Sri Lanka, ini sebagai Samman Kottu Palli (bahasa Tamil), Rathu Paliya (bahasa Sinhala), Red Mosque (bahasa Inggris), Masjid Adzfar (bahasa Arab), yang berarti “Masjid Merah”.

Meskipun demikian, kecerahan itu tidak menghilangkan nilai spiritual dan kekhusyu’an jama’ah.

Warna merah nan cerah tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang melancong kawasan Kolombo.

Sedang warna hijau toska mendominasi dinding bagian dalam ruangangan. Pola lengkungan pada bagian atap dinding begitu indah, terdapat pada hampir setiap pintu masuk yang menghubungkan bagian halaman dalam masjid dengan ruang tempat shalat di lantai dasar. Arsitekturnya memperlihatkan kekayaan kebudayaan Islam yang dipadu dengan kemegahan bangunan kastil Inggris.

Seperti masjid pada umumnya, masjid tertua di kota Kolombo ini juga memiliki menara masjid. Di Masjid Jamiul Alfar ini terdapat 14 menara. Terdiri dari dua menara berukuran sedang, dan sisanya berukuran kecil.

Masjid yang dibangun pada tahun 1909 ini disebut-sebut sebagai land mark Sri Lanka. Untuk mencapai hasil yang maksimal, Saibo Lebbe, sang arsitek, merancang bagunan ini selama satu tahun pada tahun 1908.

Masjid Jamiul Alfar sempat mengalami perbaikan dan perluasan bangunan. Awalnya masjid ini hanya mampu menampung 1.500 jama’ah. Seiring perkembangan Islam di Sri Lanka, masjid ini tak lagi mampu menampung jama’ah. Maka, pada tahun tahun 1975, panitia masjid melakukan perluasan dengan membangun gedung tambahan di sebelah bangunan lama masjid.

Kini, setelah mengalami perluasan itu, masjid ini mampu menampung sekitar 5.000 jama’ah.

Sebagaimana di negara-negara muslim, ketika Hari Raya tiba, jama’ah membludak di sekitar masjid. Maka, sekeliling jalan masjid, yang biasanya sangat sibuk dengan aktivitas perdagangan, disulap menjadi bagian tempat ibadah umat Islam, yang tentu saja menjadi sangat rapi dan bersih.

Kemudian, untuk perluasan yang kedua kalinya, pengurus masjid membeli lahan di belakang masjid yang telah berdiri sebuah pusat perbelanjaan dengan 32 buah toko.

Tahun 2009 lalu, perluasan itu dimulai. Diperkirakan, perluasan kedua ini akan menelan biaya sekitar 2,4 juta dolar AS (Rp 240 miliar).

Masjid yang direncanakan akan mampu menampung 10.000 jama’ah ini akan dilengkapi dengan sebuah gedung aula yang akan digunakan untuk tempat pertemuan dan ruang istirahat bagi para musafir.

Pengembangan tahap dua ini akan dilakukan dengan menambah bangunan utama masjid menjadi bangunan empat lantai.

Untuk memudahkan jamaa’ah berusia lanjut, bangunan masjid juga akan dilengkapi dengan eskalator menuju lantai dua, tiga, dan empat.

Selain itu, masjid ini juga akan menyediakan ruang shalat, tempat wudhu, dan ruang istirahat khusus untuk perempuan secara terpisah dengan gaya kontemporer.

Selain menjadi pusat ibadah umat Islam di Sri Lanka, Masjid Jamiul Alfar juga telah memainkan peran penting dalam tatanan sosial kehidupan. Dahulu, masjid ini menjadi tempat berlindung masyarakat dari gangguan dan ancaman selama berkecamuknya konflik etnis yang melanda Sri Lanka dua dekade terakhir.

Kini masjid megah nan unik yang terletak di perempatan Jalan Pettah Bazaar ini menyempurnakan perannya dalam membangun peradaban Islam, dengan berbagai kegiatan dawah.

SEL

Selasa, 06 Juli 2010

Masjid Al-Aqsha’ dan Qubbah Al-Shakhra’

Apa yang anda ketahui tentang Masjid al-Aqsha?  

Perhatikanlah setiap saat disebut nama masjid Al-Aqsha selalu yang ditampilkan adalah masjid Qubah Al-Shakhra’ yang dibangun oleh Sayyidina Umar ra bukan masjid Al-Aqsha. Dan banyak diantara kita yang tidak tahu bagaimana bentuknya masjid Al-Aqsha’. Hal ini kembali kepada maksud busuk Yahudi untuk menghapus masjid Al-Aqsha’ dari ingatan muslimin. Mereka sengaja atau tidak sengaja selalu menampilkan foto masjid Qubbah al-Shakhra dan mengenyampingkan masjid Al-Aqsha sehingga ia lebih tenar dan dikenal dikalangan masyarakat muslim atau non muslim ketimbang masjid Al-Aqsha.  Masjid Al-Aqsha adalah masjid yang Rasulallah saw bermi’raj bersama sama Jibril ke langit, dan sebelum naik ke langit beliau sholat bersama sama para nabi dari mulai nabi Adam as sampai nabi Isa as. Allah telah memberi keberkahan kepada masjid tsb dan tempat2 di sekelilingnya, sesuai dengan Firman Allah. “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”

 
Perhatikan perbedaan atara Masjid Qubbah Al-Shakhra dan masjid Al-Aqsha 

Masjid Qubbah Al-Shakhra
    
 
Masjid Al-Aqsha
 Masjid Al-Aqsha
 113
 Bukit dimana Rasulallah saw naik ke langit disaat Mi’raj berada di dalam masjid Al-Aqsha

Jumat, 02 Juli 2010

Pesona Masjid Biru di Antara Gereja


PDF Print E-mail
Thursday, 01 July 2010 12:03
Masjid yang berdiri megah di Rusia ini disebut-sebut sebagai masjid terbesar di Eropa.
Kubah Masjid Biru, “The Blue Mosque”, tampak menonjol di antara gereja-gereja di kota St Petersburg, salah satu kota budaya dan bersejarah di Rusia. Kubah berwarna biru langit terlihat sangat jelas dari Jembatan Trinitas di Neva, yang membelah kota itu.

Bangunan indah seperti St Isaac’s Cathedral, Kazan Cathedral, dan tentu saja Masjid Kubah Biru, menambah cantik kota itu. Posisi masjid itu berseberangan dengan Benteng Petrus dan Paulus di pusat kota St Petersburg, kota yang dibangun Peter The Great.

Masjid yang sudah berusia 100 tahun ini mampu menampung lima ribu jama’ah. Di tengah ruangan masjid, yang pada era Uni Soviet (1940-1956) pernah digunakan sebagai gudang saat Perang Dunia II, terdapat lampu bulat bertatahkan kaligrafi buatan Rusia. Diperkirakan, beratnya mencapai dua ton. Sementara, interior masjid berornamen bunga-bunga khas Rusia menghiasi dinding masjid.

Saat Perang Dunia II, Masjid Biru sempat ditutup dan digunakan sebagai medical warehouse. Tetapi seperti diwartakan Antara, atas permintaan Presiden Indonesia Soekarno yang mengunjungi masjid ini pada tahun 1956, masjid ini dibuka kembali hanya 10 hari setelah kunjungan Bung Karno di St Petersburg. Dan kini dikelola oleh Komunitas Muslim di St Petersburg.

Jasa Presiden Soekarno selalu disebut-sebut oleh umat Islam St Petersburg, yang merasa bersyukur memiliki tempat ibadah yang indah dan menjadi salah satu tempat yang dikunjungi oleh umat Islam dunia.

Masjid St Petersburg disebutkan sebagai salah satu di antara 25 masjid terindah di dunia, karena bangunan dan ornamen biru yang menghiasi masjid.

Masjid yang dibangun untuk memperingati 25 tahun masa pemerintahan Abdul Ahat Khan, emir Bukhara dari Turkistan, ini merupakan karya dua arsitek Nasrani, Nikolay Vasiliev dan insinyur sipil Stepan Krichinskiy. Pengawas pembangunan Alexander Von Gogen juga turut andil dalam menyukseskan pembangunan masjid ini. Toleransi Kaisar Tsar Nicholas II pada 1907 akhirnya membuat Masjid Biru St Peterburg dibuka pada 1913.

Masjid yang disebut-sebut sebagai masjid terbesar di Eropa ini memiliki dua buah menara yang menjulang kokoh setinggi 48 meter, sedangkan kubahnya dibalut keramik warna biru yang gagah dengan ketinggian 39 meter seperti kubah gereja di Rusia.

Masjid St Petersburg dibangun dari sumbangan banyak pihak, dan tercatat sebagai donatur terbesar adalah Said Abdul Sahad, emir Bukhara.

SEL

http://majalah-alkisah.com/index

Sabtu, 01 Mei 2010

Masjid Al-Fatih, Megah dan Indah





Written by Publisher Team
Wednesday, 10 June 2009 13:43

Arsitekturnya didesain selama empat tahun, berdasarkan arsitektur budaya Arab, Persia, Maroko, Mughal, dan Turki.

Jika Anda sempat ke Bahrain, Timur Tengah, jangan lupa berkunjung ke masjid Al-Fatih. Selain sebagai tempat ibadah yang berkapasitas sekitar 7.000 jemaah, Al-Fatih juga menjadi salah satu tujuan wisata.

Jutaan wisatawan domestik dan mancanegara berbondong-bondong mengunjungi masjid megah yang terletak di sebelah istana mendiang Raja Bahrain, Sheikh Isa bin Salman, di Manama itu. Sang raja membangunnya pada akhir 1987.

Masjid terbesar di Bahrain ini didesain dengan memadukan arsitektur budaya Arab, Persia, Maroko, Mughal dan Turki selama empat tahun, sejak Juni 1988 hingga Desember 1983. Di sepanjang dindingnya terlukis kaligrafi ayat-ayat suci Al-Quran yang sangat indah, sementara kubahnya yang berukuran besar terbuat dari fiberglass murni dengan bobot lebih dari 60 ton.

Masjid ini juga berfungsi sebagai pusat pengembangan dakwah Islam. Di sana terdapat perpustakaan berstandar internasional, sebuah gedung teater, aula serbaguna, ruang kuliah, galeri, kafetaria, dan sebuah tempat penyimpanan dokumen dan literatur Islam dalam berbagai bahasa.

Jika sempat berkunjung ke sana, Anda akan disambut oleh pramuwisata yang menguasai berbagai bahasa. Bukan hanya itu, Anda juga tidak dipungut bayaran sepeser pun. Waktu berkunjung pun bebas, sesuai jam bukanya.

Masjid dibuka pada hari Kamis sampai Sabtu, jam 09.00 sampai 16.00 waktu setempat. Namun, untuk menjaga kesucian masjid, para wisatwan diminta berbusana sopan. Bagi wanita misalnya, telah disiapkan selembar abaya berpenutup kepala. Pada hari Jumat masjid tentu saja tertutup bagi wisatawan, sebab akan digunakan untuk menunaikan shalat Jumat. Kapan Anda berkunjung ke sana? SEL, dari berbagai sumber

Qiblatayn: Masjid dengan Dua Kiblat





Written by Publisher Team
Friday, 28 August 2009 15:14


Bangunan fisiknya telah mengalami renovasi berkali-kali. Sehingga masjid sakral bernilai sejarah itu semakin indah dengan arsitektur Islam-nya yang sangat kental.


Kekhusyu’an tampak menyelimuti suasana shalat berjama’ah yang diimami langsung oleh Rasulullah, rakaat demi rakaat. Namun tatkala sampai pada rakaat kedua, tiba-tiba belia membalikkan badanya hingga 80 derajat ke arah selatan dan melanjutkan shalatnya. Para makmum, walau merasa keheranan, mengikuti perpindahan arah shalat.
Sepenggal kisah itu terdapat dalam sebuah hadits yang menjelaskan perpindahan arah kiblat pada bulan Rajab 12 H/633 M silam ketika Rasulullah sedang melaksanakan shalat Zhuhur di Masjid Bani Salamah di Quba dalam perjalanan hijrah ke Madinah.
Kiblat, yang kala itu menghadap ke utara (Palestina, tepat Masjidil Aqsha berediri), berpindah ke arah selatan (menghadap ke Masjidil Haram, di Makkah). Sebagaimana diabadikan dalam QS Al-Baqarah ayat 144, yang memerintahkan mengubah arah kiblat dari Baitul Maqdis di Palestina, setelah kurang lebih selama 17 bulan 13 hari umat Islam shalat menghadap ke sana, berpindah ke Ka'bah, di Masjidil Haram, Makkah.
Masjid yang kini terletak di atas sebuah bukit kecil utara Harrah, persis di tepi jalan menuju Kampus Universitas Madinah, itu dinamakan Masjid Qiblatayn, yang berarti “dua kiblat”.
Bangunan fisiknya telah mengalami renovasi berkali-kali. Al-Syuja’i Syahin Al-Jamaly, pada tahun 893 H/ 1487 M untuk yang pertama kali merenovasinya. Kemudian kembali disempurnakan oleh Sultan Sulaiman,pada tahun 950 H/ 1543 M, tanpa menghilangkan ciri khas masjid. Sehingga masjid sakral bernilai sejarah itu semakin indah dengan arsitektur Islam-nya yang sangat kental.
Pada pemugaran-pemugaran terdahulu, tanda kiblat pertama masih jelas terlihat dengan petunjuk yang tertera kaligrafi QS Al-Baqarah, ayat 144, lengkap dengan pelarangan shalat menghadap atau menggunakan kiblat lama. Sayang, setelah mengalami perluasan bangunan pada masa Kerajaan Arab Saudi, pentunjuk itu dihilangkan.
Di sebelah Masjid Qiblatayn ada telaga Sumur Raumah, sebuah sumber air milik orang Yahudi, namun, atas anjuran Rasulullah SAW, Khalifah Utsman bin Affan menebus telaga tersebut seharga 20 ribu dirham dan mewakafkannya untuk kepentingan masjid dan jama’ah.
Menariknya, air telaga tersebut hingga sekarang masih berfungsi untuk memenuhi kebutuhan masjid serta penduduk sekitar dan tidak pernah kering. Namun kini bentuk fisiknya tidak terlihat, karena ditutup dengan tembok, untuk melindunginya dari kerusakan.
Masjid Qiblatayn memang tidak pernah sepi pengunjung. Seperti jamaah haji dan umrah tatkala berkunjung ke Madinah, yang selalu menyempatkan diri berziarah ke masjid tersebut. Biasanya, penziarah pun shalat di masjid itu. SEL

Inggris Memiliki Masjid Berseni Tinggi





Written by Publisher Team
Sunday, 25 October 2009 20:03


Dana pembangunan masjid berasal dari iuran penduduk muslim setempat, terutama di Daneshouse.


Sebagai negara mayoritas berpenduduk non-muslim, menjadi kebanggaan tersendiri buat umat Islam bila kini Inggris memiliki masjid megah yang bernilai seni tinggi. Pekan lalu, lebih dari 2.000 muslim dari seluruh dunia berkumpul di Burnley untuk meresmikan Masjid Jami’ Ghausia, yang memiliki arsitektur berbeda dengan masjid pada umumnya.
Pembangunan masjid yang berada di Habel Street itu mengahabiskan dana sebesar 15 juta dolar selama empat tahun. Dana tersebut berasal dari iuran penduduk muslim setempat, terutama di Daneshouse.
Kapasitas masjid itu pun cukup besar untuk ukuran Inggris, yang tak memiliki banyak masjid megah. Bisa menampung 2.000 jama’ah di dalam ruangan utama masjid, yang terdiri dari tiga lantai.
Fasilitas pendukung lainnya, kamar untuk menampung 500 orang jama’ah perempuan yang ingin menginap bila ada acara, ruang rapat, perpustakaan, ruang serbaguna untuk seminar atau pertemuan sejenisnya, dan kios yang menjual pakaian serta perlengkapan muslim.
Arsitektur ruangan dalam Masjid Jami’ Ghausia dinilai memiliki cita rasa seni sangat tinggi. Ruangan masjid yang megah dihiasi mozaik yang indah, lantainya menggunakan marmer produksi India. Karpet buatan Turki, yang sangat terkenal keindahannya, juga menghiasi setiap lantai yang digunakan untuk shalat. Satu lagi yang menarik, yakni lampu-lampu kristal yang sengaja didatangkan dari Arab Saudi, yang bagitu indah dan terang cahayanya, menyinari masjid dan sekitarnya.
Rencananya, area di sekitar Masjid Jami’ Ghausia juga akan dijadikan sekretariat komunitas muslim dan remaja muslim di Burnley.
Selain digunakan untuk shalat, Masjid Jami’ Ghausia juga akan digunakan sebagai pusat kegiatan keislaman dan sosial yang telah diagendakan selama setahun ke depan. SEL

Meraih Seribu Kali Shalat





Written by Publisher Team
Monday, 09 November 2009 16:45


Masjidil Haram merepresentasikan kemegahan dan keagungan Allah.

Siapa tak kenal Masjidil Haram? Masjid yang terletak di tengah-tengah kota Makkah dan dikelilingi beberapa bukit itu adalah kiblat bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia.
Masjid tertua yang pertama kali dibangun pada masa Nabi Ibrahim itu merupakan manivestasi keselarasan, ketertiban, dan kedamaian alam semesta yang telah ditetapkan Allah SWT sebagai rumah peribadahan abadi umat Islam. Masjid yang telah mengalami berkali-kali renovasi itu berdiri dengan sangat megah dengan gaya arsitektur seni Islam klasik yang tinggi.
Konon, pada masa Rasulullah SAW hingga Khalifah Abu Bakar, Masjidil Haram belum memiliki dinding di sekelilingnya. Penerangannya pun masih berupa lampu-lampu kristal yang berbahan bakar minyak zaitun, dan materialnya masih alami peninggalan Nabi Ibrahim AS.
Barulah pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab Masjidil Haram diperluas. Di sekeliling masjid dibangun dinding yang tak seberapa tinggi. Di atas dinding itu diletakkan lampu bercahaya tinggi, agar cahayanya mampu menyinari Masjidil Haram dan sekelilingnya.
Semakin banyaknya umat Islam yang melakukan shalat di masjid itu menggugah hati Khalifah Utsman bin Affan untuk melakukan pelebaran dan perluasan masjid. Ia juga membuatkan kamar-kamar bilik, yang dinamakan ruak, di sekeliling masjid, untuk digunakan sebagai asrama bagi pengunjung yang memiliki hajat beberapa lama di masjid itu. Seperti menunaikan ibadah haji, misalnya.
Kemudian, Abdullah bin Zubair, cucu Abu Bakar, kembali merenovasi bangunan Masjidil Haram.
Penguasa-penguasa berikutnya pun melakukan renovasi Masjidil Haram. Di antaranya Abdul Malik bin Marwan. Ketinggian masjid tersebut ditambahkan dan dihiasi dengan perhiasan emas 50 karat pada tiap-tiap tiangnya. Juga Al-Walid. Sepanjang dinding diperindah dengan ukiran bermotif bunga. Pada beberapa tempat diberi dinding dari batu marmer dan batu pualam yang dipahat dengan seni yang tinggi.
Tak ketinggalan, sembilan menara yang menjulang tinggi, yang dibangun para penguasa berikutnya, salah satunya Al-Walid, pun ikut memperindah Masjidil Haram. Kesemua menara ini kelihatan cantik bermandikan pijar cahaya lampu kristal pada malam hari.
Masjidil Haram menjadi tempat peribadahan yang ideal laksana nuansa surgawi. Meletakkan ketenangan dan kemuliaan sesuai dengan sifat bathin alamiahnya, ketimbang sesuatu yang sekadar material.
Tidak hanya kemegahan, keindahan, ketenangan, dan kemuliaan yang terpancar dari bangunan yang dimuliakan Allah itu, tapi juga persatuan umat Islam. Umat Islam dari seluruh penjuru dunia bersatu menghadapkan wajahnya ke Masjidil Haram.
Shalat di Masjidil Haram memiliki pahala yang sangat luar biasa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Selain di Masjidil Haram, shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih baik daripada seribu kali shalat di tempat lain.” (HR Bukhari-Muslim).

Subhanallah.... SEL

Keistimewaan Spiritual Masjid Quba





Written by Publisher Team
Friday, 15 January 2010 11:09

Selain keistimewaan-keistimewaan bangunan fisik, Masjid Quba juga memiliki keistimewaan spiritual khusus dari Allah SWT.

Pesona kota Madinah memang tidak pernah pudar. Di kota yang kerap menjadi percontohan banyak negara itu terdapat berbagai peninggalan sejarah penyebaran dan perkembangan Islam, tak terkecuali masjid.

Selain Masjid Nabawi, yang ramai dikunjungi, masih ada masjid-masjid bersejarah lainnya yang tidak kalah menarik. Salah satunya Masjid Quba.

Masjid yang dinamakan berdasarkan letaknya ini adalah masjid yang pertama kali dibangun oleh Baginda Rasulullah SAW, di atas sebidang tanah milik keluarga Kalsum bin Hadam dari Kabilah Amir bin Auf yang diwakafkannya kepada beliau setiba di Quba.

Ketika itu, Quba merupakan sebuah kawasan pinggiran Yatsrib dan terletak sekitar tiga kilometer di selatan.

Rasulullah sendiri yang mendesain masjid itu. Bahkan beliau ikut bekerja, tidak segan-segan mengangkat bahan material bangunan, sehingga tampak letih yang teramat sangat pada wajahnya yang mulia. Nabi Muhammad SAW menunjukkan suri teladan yang begitu mulia, yang tak hanya pandai menyuruh.

Rasulullah SAW juga orang pertama yang meletakkan batu di mihrab masjid tersebut menghadap ke Baitul Maqdis di Palestina, kiblat pertama umat Islam, kemudian disusul berturut-turut oleh Abu Bakar Assidiq, Umar bin Khaththab, dan Utsman bin Affan. Siapakah yang menduga, ternyata proses peletakan batu kiblat ini kemudian paralel dengan sejarah pengangkatan Khulafaur Rasyidin.

Setelah rampung, di masjid inilah untuk kali pertama shalat berjama’ah dilaksanakan.

Meskipun sangat sederhana, Masjid Quba kala itu dijadikan sebagai masjid percontohan masjid-masjid yang didirikan kemudian hari. Bangunan bersahaja itu memenuhi syarat-syarat standar pendirian masjid. Terdapat suatu ruang persegi empat untuk shalat dan sebuah serambi. Ruangan itu bertiang pohon kurma dan beratap datar dari pelepah daun kurma bercampurkan tanah liat, yang melindungi jama’ah dari buruknya cuaca.

Di tengah-tengah masjid terdapat ruang terbuka yang biasa disebut sahn. Dan di sahn itulah ada sebuah sumur tempat mengambil air wudhu. Kebersihan area masjid itu begitu terjaga dan cahaya matahari serta udara dapat masuk.

Ketika peralihan arah kiblat umat Islam menghadap ke Masjidil Haram, masjid itu tentu mengalami rekonstruksi. Arah kiblat, yang semula menghadap ke Baitul Maqdis di Palestina, diputar balik menghadap ke arah Baitullah di Makkah.

Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, masjid itu, yang kerap dikunjungi oleh Baginda Rasulullah SAW tiap hari Sabtu bila beliau bertugas di luar Madinah, diperbaiki karena rusak berat.

Kini, masjid yang terletak sekitar lima kilometer di sebelah tenggara kota Madinah ini telah mengalami perbaikan dan perluasan berkali-kali.

Bangunan fisiknya mengalami banyak perkembangan. Salah satunya, keempat menara setinggi 47 meter yang mengelilingi masjid berwarna putih bersih. Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah orang pertama yang membangun menara pada masjid ini.

Rekonstruksi kembali terjadi pada masa Sultan Al-Asyraf Saif Al-Din Qait-Bey dari Dinasti Mamluk. Masjid tersebut dilengkapi dengan sebuah mimbar baru dari pualam. Mimbar itu kemudian diganti dengan mimbar yang terkenal dengan sebutan “Mimbar Masjid Raya”.

Kemudian pada masa kepemimpinan Raja Fahd ibn Abdul Aziz tahun 1986, Masjid Quba kembali direnovasi dan diperluas, menelan biaya 90 juta riyal (Rp.90.000.000.000,-). Hingga saat ini, inilah renovasi terbesar masjid tersebut, tapi tetap mempertahankan bentuk arsitektur tradisionalnya.

Di sisi selatan masjid dibuat galeri terbuka dengan deretan tiang. Sedangkan di sisi sebelah utara terdapat dua serambi bertiang. Di sebelah timur dan barat terdapat tempat terbuka dengan dinding tembok berbeton. Pada bagian atasnya berjejer sebanyak enam kubah besar, masing-masing berdiameter 12 meter, serta 56 kubah kecil yang masing-masing berdiameter enam meter. Kubah-kubah tersebut ditopang oleh pilar-pilar beton yang sangat kokoh.

Sementara lantai halaman, yang terbuka, dilapisi marmer yang anti panas. Di bagian ini terdapat atap yang dapat bergerak, terbuka dan tertutup otomatis, serta terpal yang sangat kokoh, yang melindungi lantai atau jama’ah dari sengatan matahari.

Masjid ini memiliki 19 pintu, terdiri dari tiga pintu utama. Tiga pintu utama, yang berdaun pintu besar, diperuntukkan bagi para jama’ah yang ingin memasuki masjid mulia itu. Dua pintu diperuntukkan bagi jama’ah laki-laki, sedangkan satu pintu bagi jama’ah perempuan. Berbagai petunjuk dan informasi khusus ditempatkan pada dinding luar masjid dan di dinding pintu. Di seberang ruang utama masjid, terdapat ruangan yang dijadikan tempat belajar-mengajar.

Sakarang yang bertanggung jawab atas renovasi masjid ini adalah keluarga Saud.

Kompleks masjid ini memiliki luas 135.000 meter persegi. Sementara ruang shalat utama seluas 5.035 meter persegi, yang bisa menampung hingga 20.000 jama’ah. Masjid ini, sebelum diperluas, pada zaman Rasulullah, hanya memiliki luas 1.200 meter persegi.

Di kompleks masjid ini terdapat kantor, pertokoan, dan ruang tamu. Kompleks masjid juga dilengkapi dengan tempat tinggal imam dan muadzin.

Atas Dasar Taqwa
Selain keistimewaan-keistimewaan bangunan fisik tersebut, Masjid Quba juga memiliki keistimewaan spiritual khusus dari Allah SWT. Yakni, masjid ini disebut Masjid Taqwa, seperti termaktub dalam Al-Quran surah At-Tawbah ayat 108, yang artinya “Janganlah kamu shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah SWT menyukai orang-orang yang bersih.”

Menurut ulama tafsir, umat Islam tidak diperkenankan bersikap egois dalam meraih kemulian. Shalat berlama-lama, bahkan hingga tinggal di dalam masjid tersebut, sementara yang lainnya tidak bisa memasukinya, sangat dibenci Allah SWT.

Masjid itu dibangaun berdasarkan ketaqwaan kepada Allah, maka sejatinya umat Islam pun bisa beribadah di dalamnya dengan penuh taqwa kepada-Nya. Semoga.... SEL

Masjid Nabawi, Landmark Kota Madinah





Written by Publisher Team
Friday, 04 December 2009 13:48


Kubah Hijau, atau lebih terkenal di dunia Barat dengan sebutan The Green Dome, menjadi simbol Masjid Nabawi.

Berkunjung ke Makkah belum afdhal rasanya bila tidak menziarahi dan shalat di Masjid Nabawi.
Penamaan masjid megah yang berada di kota Madinah Al-Munawwarah itu dinisbatkan langsung kepada Baginda Nabi, lantaran beliau selalu menyebutnya dengan kata “masjidku” pada masjid yang didirikan di atas lahan seluas 1.050 m oleh Baginda Nabi bersama para sahabat setelah hijrah dari Makkah ke Madinah pada Rabi'ul Awal tahun pertama Hijjriyyah (September 662 M). Baginda Nabi-lah arsiteknya.
Awalnya, bangunan yang didirikan di atas lahan yang dibebaskan dari dua orang anak yatim bernama Shal dan Suhail itu belumlah semegah dan seluas seperti sekarang ini. Hanya terdiri dari bangunan sederhana dengan material seadannya. Tiang dan atapnya terbuat dari batang kurma. Sedangkan penerangannya dari pelepah kurma yang dibakar.
Seiring berjalannya waktu, jama’ah yang mengunjungi Masjid Nabawi kian bertambah. Maka dilakukanlah upaya perluasan oleh para pengusa Kota Suci. Untuk kali pertama perluasan dan pemugaran dilakukan oleh Raja Abdul Aziz.
Kemudian pada masa pemerintahan Raja Fahd bin Abdul Aziz, masjid itu kembali direnovasi hingga berubah total dari bangunan semula, menjadi semakin indah dan megah, dengan menghabiskan biaya sekitar 7 miliar dolar AS (Rp.7.000.000.000.000,-). Konon, pada masa itu Masjid Nabawi adalah satu-satunya masjid termegah di dunia.
Renovasi masjid itu dilengkapi dengan membangun 10 menara dan 27 kubah dengan paduan warna yang sangat cantik, memantulkan cahaya bagaikan zamrut di gurun pasir.
Dengan kecanggihan teknologi, kubah itu di-setting agar bisa bergerak membuka-menutup secara otomatis untuk mengatur sirkulasi udara alami, sehingga dapat menyejukkan udara di dalam masjid.
Salah satu kubah yang sangat populer adalah Kubah Hijau. Di bawah kubah itulah terdapat makam Baginda Nabi Muhammad SAW dan dua sahabat beliau, yaitu Sayyidina Abu Bakar Siddiq dan Sayyidina Umar bin Khatab. Area itu biasa disebut Raudhauh.
Kubah Hijau, atau lebih terkenal di dunia Barat dengan sebutan The Green Dome, yang dibangun pada pemerintahan Sultan Mahmud pada tahun 1233, menjadi simbol Masjid Nabawi.
Pintu masuk juga diperbanyak hingga mencapai tujuh pintu utama. Untuk mempercantik, setiap pintu dihiasi kaligrafi berbahan emas.
Sebanyak 674 lampu kristal berlapis emas, yang dipesan dari Italia, produsen kristal terkenal di Eropa, menyinari ruangan Masjid Nabawi dengan begitu sempurna, tanpa membiaskan pandangan.
Sementara di bagian tengah Masjid Nabawi ada dua ruang terbuka yang terdapat enam buah payung besar artistik.
Payung pelindung dari terik matahari itu dapat dibuka dan ditutup secara otomatis seperti halnya ke-27 kubah yang ada. Pada batang payung itu juga dipasang AC sehingga bisa megeluarkan hawa sejuk.
Kini masjid yang telah mengalami berkali-kali renovasi itu tampak begitu megah dan indah. Luasnya pun sangat menakjubkan, sekitar 298.000 m2. Masjid itu berdiri tegak menghadap selatan, arah kiblat. Dengan area yang begitu luas, lantai dasar Masjid Nabawi mampu menampung 257.000 jama’ah. Sedang lantai atas, yang luasnya 67.000 m2, dapat menampung 90.000 jama’ah. Jika disatukan dengan halamannya, Masjid Nabawi normalnya dapat menampung 650.000 jama’ah. Tapi pada musim haji dan bulan Ramadhan, lebih dari satu juta jama’ah.
Maka tidak mengherankan jika Masjid Nabawi menjadi landmark kota Madinah Al-Munawwarah.
Selain memiliki kelebihan fisik, Masjid Nabawi, masjid kedua umat Islam setelah Majidil Haram di Makkah, mendapatkan jaminan keutamaan yang luar biasa dari Baginda Nabi. “Shalat di masjidku lebih utama dari 1.000 shalat di tempat lainnya, kecuali Masjidil Haram.” (Muttafaq Alaih).
Itulah sebabnya, jika musim haji tiba, selain ke Masjidil Haram, umat Islam juga berbondong-bondong mengunjungi masjid yang terletak di pusat kota Madinah Al-Munawwarah itu. SEL

Masjid Badshahi, Megah lagi Asri









Written by Fredi Wahyu Wasana
Monday, 15 March 2010 19:15

Memiliki halaman terluas, dan kapasitas ruang shalat terbesar kelima di dunia, menjadikan masjid ini selalu menarik untuk diziarahi.

Sesaat setelah Islam masuk di kawasan Asia Selatan, Lahore berkembang menjadi pusat penyebaran Islam. Kota ini juga menjadi saksi sisa-sisa kejayaan Kerajaan Islam Mughal.
Kerajaan Mughal, yang mencapai puncak kejayaan antara tahun 1524 hingga 1752, menjadikan kota pecahan India itu begitu cantik dengan berbagai taman, istana, dan masjid-masjid yang memiliki arsitektur sangat khas. Sebut saja Masjid Badshahi, yang dibangun pada tahun 1673. Masjid megah yang mampu menampung sekitar 200.000 jama’ah di ruang shalat utama dan di serambi itu hingga kini masih berdiri kokoh dan indah.

Masjid yang berarsitektur mirip Masjid Jami di New Delhi, India, ini dijadikan UNESCO World Heritage Site sebagai salah satu tempat bersejarah di Lahore. Masjid yang memiliki arti “Masjid Kaisar” itu tidak pernah kehilangan pesonanya, menjadi salah satu obyek wisata budaya favorit bagi warga setempat, dan bagaikan magnet terus menyedot ratusan wisatawan dari berbagai negara.

Raja keenam pada Dinasti Mughal, Aurangzeb Alamgir, putra Shah Jahan, pendiri Taj Mahal, adalah yang mendirikan Masjid Badshahi. Pengerjaan konstruksi dilakukan di bawah pengawasan saudara angkat Aurangzeb, Muzaffar Hussain, yang kala itu menjadi gubernur Lahore, memerintah dari tahun 1671 hingga 1675. Letak masjid ini tak jauh dari Benteng Lahore, yang juga menjadi simbol kejayaan Dinasti Mughal.

Seperti gelar Alamgir, yang berarti “Penakluk Dunia”, yang tersemat pada diri Raja Aurangzeb, bangunan Masjid Badshahi pun memiliki karakter berani, luas, dan megah dalam berekspresi. Desainnya terinspirasi arsitektur Islam, Persia, Asia Tengah, dan sedikit pengaruh India.

Pada awal dibangun, bagian lantai halaman masjid dihiasi dengan batu bata berukuran kecil yang disusun membentuk pola simetris. Pada tahun 1852 hingga 1939, masjid itu mengalami renovasi besar-besaran dan batu bata tersebut diganti dengan batu merah menyala.

Renovasi kembali dilakukan secara bertahap oleh pihak masjid terhadap sejumlah kerusakan yang terdapat pada bangunan masjid akibat peralihan fungsi saat direbut oleh penjajah Inggris pada tahun 1960, menggunakan jasa arsitek Nawab Zen Yar Jang Bahadur. Biayanya menghabiskan dana sekitar 4,8 juta rupee (Rp.96.000.000.00,-).

Bangunan Masjid Badshahi dikelilingi tembok yang berfungsi sebagai pagar pembatas antara bagian depan dan bagian dalam kompleks masjid. Pagar tembok bagian utara masjid dibangun berdekatan dengan tepi Sungai Ravi. Sementara pagar tembok bagian selatan dibuat simetris dengan tembok bagian utara. Keseluruhan pagar tembok ini terbuat dari material batu kapur yang memiliki lapisan pasir dari batu merah.

Warna merah bata juga tampak mendominasi dinding yang bertabur ukiran dan ornamen cantik di setiap sisi tembok. Tiga kubah besar berwarna putih tampak agung. Delapan menara setinggi 60 meter terlihat gagah di berbagai sudut masjid yang memiliki halaman terluas di dunia ini.

Anak tangga yang menuju ruang shalat utama dihiasi beraneka ragam marmer. Memasuki ruang shalat utama, pengunjung dihadapkan pada sebuah ruangan yang seakan-akan terlihat dibagi menjadi tujuh bagian dengan cara membuat lengkungan-lengkungan tembok yang dilapisi dengan kertas perak. Keberadaan tiga lengkungan tembok pertama untuk menyangga kubah ganda bermarmer putih. Sedang empat lainnya untuk menyangga kubah-kubah datar.

Interior ruang shalat utama ini kaya akan dekorasi bahan plesteran, lukisan dinding, dan hiasan marmer. Sedang bagian eksteriornya dihiasi dengan ukiran dari batu marmer serta tatahan batu pasir merah. Seluruh hiasan yang terdapat pada ruang shalat utama ini banyak mengadopsi desain arsitektur Yunani, Asia Tengah, dan India, baik dalam hal teknik maupun motif.

Bagian kaki langit masjid dihiasi dengan ornamen merlon (sejenis ornamen patung singa, lambang negara Singapura) bertatahkan marmer. Sementara berbagai fitur arsitektur, seperti halaman dengan bentuk persegi, lorong-lorong, empat menara pojok, arah kiblat pada ruang shalat dan pintu gerbang yang megah, yang terdapat pada bangunan kompleks Masjid Badshahi, memperlihatkan kekayaan khazanah arsitektur Islam selama ribuan tahun lalu sebelum masjid ini dibangun.

Pada tahun 2000, Masjid Badshahi kembali mengalami renovasi. Perbaikan kali ini untuk mengganti potongan keramik pada bagian utama kubah. Dan tahun 2008, kembali dilakukan pekerjaan penggantian marmer pada bagian halaman masjid dengan menggunakan material batu merah yang diimpor langsung dari sumber aslinya di Rajasthan, India.

Makam Muhammad Iqbal


Selama 313 tahun masjid ini sempat menjadi masjid terbesar di dunia sejak tahun 1673 hingga 1986, sebelum akhirnya dikalahkan dalam ukuran daya tampung jama’ah oleh Masjid Faisal di Islamabad. Saat ini, masjid itu menjadi masjid kelima terbesar di dunia, setelah Masjidil Haram di Makkah, Masjid Nabawi di Madinah, Masjid Hassan II di Casablanca, dan Masjid Faisal di Islamabad.

Di tengah kompleks masjid ada sebuah makam penyair Islam terkemuka, Muhammad Iqbal, yang nisannya diukir dengan gaya arsitektur Afghan dan Moorish menggunakan batu merah khusus dari Rajasthan.

Selain karya-karya puitisnya yang terus dikenang, ia juga terus diabadikan oleh masyarakat lantaran idenya yang mencetuskan pembentukan Pakistan sebagai sebuah negara Islam, terpisah dari India.
Di dalam kompleks bangunan Masjid Badshahi juga terdapat sebuah museum kecil. Museum ini memajang berbagai benda peninggalan Nabi Muhammad SAW, Khulafaur Rasyidin, dan Fathimah Az-Zahra (putri Rasulullah SAW).

Belakangan bangunan Masjid Badshahi telah menginspirasi sejumlah bangunan masjid di berbagai tempat di dunia. Di antaranya Masjid Syekh Zayed di Abu Dhabi, Masjid Sir Syed di kompleks Aligarh Muslim University, Uttar Pradesh, India, juga Taj-Ul Masajid di Bhopal, India, yang merupakan salah satu masjid terbesar di Asia.

Dengan reputasi seperti itu, kompleks Badshahi menjadi landmark di Lahore dan salah satu wisata utama, yang memiliki keindahan dan keagungan era Mughal.

Berbeda dari kebiasaan Islam pada umumnya, Majid Badshahi tidak memiliki tempat shalat untuk wanita. Kehidupan masyarakat Pakistan yang agak ekstrem dalam menerapkan syari’at, misalnya soal kewajiban istri untuk selalu taat kepada suami, menjadi salah satu pemicu. Karakteristik kaum pria yang hidup di negara empat musim seperti Pakistan memiliki watak cemburu berlebihan. Akibatnya, tumbuh norma-norma tak tertulis dalam kehidupan sosial, seperti larangan bagi wanita untuk melakukan berbagai kegiatan di luar rumah, termasuk ke masjid. Sebenarnya ini bukan murni ajaran Islam.

Hal lain yang juga ikut mempengaruhi adalah alasan keamanan. Suasana politik Pakistan memang kurang kondusif dan rawan konflik sektarian, di samping tingkat kriminalitas yang juga sangat tinggi.

SEL

Pesona Masjid Hassan II Casablanca





Written by Fredi Wahyu Wasana
Thursday, 22 April 2010 23:11

“Saya ingin membangun masjid di atas air, karena Allah bertakhta di atas air,” ujar Raja Hassan kala itu.

Kawasan semenanjung Afrika Utara kerap disebut negeri Maghribi. Letak geografisnya yang sangat dekat dengan benua Eropa dan Asia membuat kota ini sangat menarik dan unik. Perpaduan budaya pun menjadi ciri khas negeri-negeri ini, dengan ciri khas utama budaya Islam. Ribuan wisatawan pun datang per harinya.

Lihat saja Maroko, negeri sarat pesona di belahan benua Afrika bagian utara. Hingga kini negeri ini menjadi obyek wisata religi favorit wisatawan mancanegara. Obyek wisata di Maroko bertebaran di mana-mana. Namun yang paling terkenal adalah Casablanca. Kota terbesar di Maroko ini memiliki keunikan karena memiliki sejumlah bangunan berarsitektur indah bergaya art deco.

Salah satunya Masjid Raja Hassan II, yang berdiri megah menghiasi kehidupan warga Casablanca. Begitu indah dan mengagumkan, hingga tersohor ke seluruh penjuru dunia. Bahkan masjid ini disebut-sebut sebagai masjid terbesar dan terindah di Maroko sekaligus masjid terbesar ketiga di dunia setelah Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Masjid ini dibangun atas keinginan Raja Hassan II. “Saya ingin membangun masjid di atas air, karena Allah bertakhta di atas air,” ujar Raja Hassan kala itu.

Pemerintah Maroko pun mengabulkannya. Ditunjuklah arsitek dari Prancis, Michael Pinseau, untuk merancang pembangunan masjid di sebuah tanah reklamasi, kawasan kumuh dekat laut, kala itu.

Pada tahun 1986 dimulailah pembangunan tahap awal. Rencananya, masjid yang kemudian dinamakan Masjid Raja Hassan II ini diremiskan bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-60 tahun 1989. Namun, peresmiannya tertunda dan baru dilakukan pada 30 Agustus 1993.

Konon, masjid ini menelan biaya 800 juta dolar AS (Rp 8 triliun). Kala itu Masjid Hassan II disebut-sebut sebagai masjid termahal sedunia.
Masjid ini memang sangat indah. Setengah luas bangunan masjid berada di atas Samudera Atlantik dan sisanya dibangun di atas tanjung yang direklamasi. Kawasan yang kumuh itu disulap menjadi indah dan berkelas.

Lantai ruangan utama masjid yang berkapasitas 25.000 jama’ah terbuat dari kaca yang menempel di atas laut, sehingga ketika shalat jama’ah bak shalat di atas air. Sementara halaman masjid mampu menampung 80.000 jama’ah.

Dalam proses pembangunannya, para pekerja dan material bangunan hampir semuanya lokal, hanya beberapa tiang granit putih dan lampu kristalnya yang didatangkan dari Italia. Meskipun demikian meterial lokal tersebut disulap menjadi sangat artistik oleh 6.000 pengrajin tradisioanl Maroko. Alhasil, dengan keterampilan tinggi yang ada pada para pekerja itu, material lokal itu menjelama menjadi mosaik, lantai marmer bercorak unik, relief, dan plafon yang keindahannya membuat pengunjung terpesona.

Bagian dinding ruang shalat dan luar masjid diberi hiasan ukiran kaligrafi dari potongan ayat Al-Quran yang ditulis sangat indah. Gambar-gambar indah menyiratkan kekuasaan dan keesaan Allah SWT.

Masjid yang dirancang tahan gempa ini juga tak luput dari sentuhan teknologi modern. Selain pendingin ruangan, masjid ini pun memiliki pemanas lantai, agar bila musim dingin tiba para jama’ah merasa nyaman duduk di atasnya. Pintunya digerakkan dengan menggunakan listrik. Atapnya pun bisa terbuka dan bergeser seperti atap yang terdapat di halaman Masjid Nabawi Madinah.
Seperti masjid pada umumnya, masjid ini pun memiliki menara. Bahkan menara Masjid Hassan yang berada di bagian pojok kompleks masjid adalah menara tertinggi di dunia, yang mencapai 210 m2. Puncak menara ini dilengkapi cahaya laser ke arah Masjidil Haram, Makkah, kiblat shalat umat Islam. Pada malam hari cahaya itu begitu sempuna terlihat.

Keindahan masjid ini tak hanya pada arsitektur, tetapi juga halaman dan taman yang tertata begitu rapi, dilengkapi dengan kolam air mancur. Sungguh mengagumkan.

Masjid Hassan, salah satu masjid modern yang berfungsi sebagai pusat kegiatan umat Islam, tak hanya tempat ibadah. Masjid ini juga menyediakan berbagai fasilitas lainnya, seperti klinik, perpustakaan, dan tempat berolahraga.

Inilah ciri utama salah satu masjid terindah di dunia setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Subhanallah....

SEL

Selasa, 09 Februari 2010

New masjid in Moscow

New masjid in Moscow by Elif Damla.
New masjid opened in Moscow a couple of mounths ago. Situated very close to MGU (Moscow State University)
Metro station: Filyovskiy Park (about 10mins on foot)
See all masjids in Moscow: www.imam.ru/mecheti/moskva.html

Birkaç ay önce yapımı tamamlanan Moskova'nın yepyeni camiisinin içi. Camiinin bahçesinden Moskova Devlet Üniversitesi görünüyor. Camiye en yakın metronun Filyovskiy park olduğunu gördüm..

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"









"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog