Tampilkan postingan dengan label Buku Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Islami. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juli 2011

Ribuan Kaum Muda Indonesia Tolak Poligami

Ribuan Kaum Muda Indonesia Tolak Poligami
Kaum muda Indonesia dan Malaysia tidak setuju dengan poligami. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA - Hukum islam syariah mengizinkan poligami. Namun, hal itu ditentang ribuan kaum muda Indonesia dan Malaysia. Tanggapan senada juga berlaku bagi seks bebas?

Menurut harian Trouw, ada sekitar seribu lima ratus kaum muda Indonesia dan seribu dari Malaysia menjadi responden penelitian yang dilakukan oleh dua yayasan kebudayaan Jerman. Mereka berusia 15 hingga 25 tahun.

Hasilnya? Ada sekitar 72 persen dari Indonesia dan 86 persen dari Malaysia menentang poligami. Perlawanan itu terutama datang dari generasi muda perempuan. Kendati demikian sulit untuk menghitung berapa jumlah laki-laki yang melakukan poligami di Malaysia dan Indonesia.

Klub Istri Patuh SuamiTidak itu saja. Baru-baru ini muncul pula di Malaysia dan Indonesia apa yang dinamakan kelompok istri patuh suami. Sebuah kelompok yang menganjurkan agar istri menurut apa kata suami.
Klub itu mendapat banyak tentangan. Menurut kelompok itu istri, harus melayani suami termasuk dalam hubungan seksual. Karena, hal tersebut akan mengurangi tingkat pelacuran.

Selanjutnya penelitian juga menanyakan soal pernikahan beda agama. Generasi muda Indonesia yang menentangnya lebih banyak dibanding rekannya di Malaysia. Di Indonesia, sebanyak 90 persen responden menentangnya sedang di Malaysia hanya ada 60 persen.

Namun jika menyangkut masalah seks sebelum menikah, baik generasi muda di Indonesia dan Malaysia sama saja. ''Di kedua negara tersebut, hanya 1,5 persen responden yang mendukung seks bebas,'' tulis Trouw.
Redaktur: Didi Purwadi
Sumber: www.rnw.nl

Minggu, 01 Agustus 2010

Belanja Nyaman di Rehal alKisah

Produk
 Dari 
Sinilah Jalannya: Cara Keluar dari Kemelut
Dari Sinilah Jalannya: Cara Keluar dari Kemelut
BI0046
Rp29.000
Wasiat para Wali dan 
Shalihin 2
Wasiat para Wali dan Shalihin 2
BI0058
Rp55.000
Bagaimanakah Anda Menikah dan Mengatasi Permasalahannya?
Bagaimanakah Anda Menikah dan Mengatasi Permasalahannya?
BI0057
Rp33.000
Bagaimanakah Anda Membagikan Harta Warisan dengan Benar?
Bagaimanakah Anda Membagikan Harta Warisan dengan Benar?
BI0056
Rp33.000
Ma`had Darullughah Wadda`wah
Ma`had Darullughah Wadda`wah
BI0055
Rp18.000
Ya Allah... Benarkah 
Sejarah Ini?
Ya Allah... Benarkah Sejarah Ini?
BI0051
Rp29.000
Mana Dalilnya 1: Seputar Permasalahan Ziarah Kubur, 
Tawassul, Tahlil
Mana Dalilnya 1: Seputar Permasalahan Ziarah Kubur, Tawassul, Tahlil
BI0050
Rp27.000
Tak Ada Penderitaan Abadi Pelipur Lara bagi Mereka yang 
Tertimpa Musibah
Tak Ada Penderitaan Abadi Pelipur Lara bagi Mereka yang Tertimpa Musibah
BI0049
Rp44.000
Habib Umar bin Hafidz 
Singa Podium
Habib Umar bin Hafidz Singa Podium
BI0048
Rp25.000
text_stars
Kuliah Syariah Masalah Keagamaan Edisi 9 Hasil Keputusan Lajnah 
Murajaah Fiqhiyah & Bahtsul Masail Pondok Pesantren Sidogiri
Kuliah Syariah Masalah Keagamaan Edisi 9 Hasil Keputusan Lajnah Murajaah Fiqhiyah & Bahtsul Masail Pondok Pesantren Sidogiri
BI0047
Rp26.500
Astaghfirullah...! Kuraih Kalimat Istghfar dalam Taubatku
Astaghfirullah...! Kuraih Kalimat Istghfar dalam Taubatku
BI0045
Rp29.000
Menggapai Ridho Allah: Dengan Sebuah Kajian Akhlak Praktis
Menggapai Ridho Allah: Dengan Sebuah Kajian Akhlak Praktis
BI0044
Rp35.000
Riwayat Hidup para 
Wali dan Shalihin
Riwayat Hidup para Wali dan Shalihin
BI0043
Rp69.000
Meniti Kesempurnaan Ibadah
Meniti Kesempurnaan Ibadah
BI0042
Rp24.900
Pelayan dan Tamu di Rumah 
Allah
Pelayan dan Tamu di Rumah Allah
BI0041
Rp25.000
Kitab Agung Ar-Risalah Targhib wa 
Tarhib: Anjuran dan Peringatan dari Al-Quran dan Sunnah
Kitab Agung Ar-Risalah Targhib wa Tarhib: Anjuran dan Peringatan dari Al-Quran dan Sunnah
BI0040
Rp47.000
Membangun Rumah Tangga 
Sakinah
Membangun Rumah Tangga Sakinah
BI0039
Rp32.500
Permasalahan Thariqah: Hasil Kesepakatan 
Muktamar dan Musyawarah Besar Jatman 1957-2005
Permasalahan Thariqah: Hasil Kesepakatan Muktamar dan Musyawarah Besar Jatman 1957-2005
BI0038
Rp36.000
Ritual ke Alam Arwah dalam Persepektif Al-Quran dan Sunnah
Ritual ke Alam Arwah dalam Persepektif Al-Quran dan Sunnah
BI0037
Rp39.000
Islam Sempurna lagi Abadi
Islam Sempurna lagi Abadi
BI0036
Rp48.000

Sabtu, 24 Juli 2010

Dinamika NU di Tengah Pusaran Zaman


Judul Buku : Nahdlatul Ulama: Dinamika Ideologi dan Politik Kenegaraan
Editor : Khamami Zada, A. Fawaid Sjadzili
Penerbit : Kompas, Jakarta
Cetakan : I, Maret 2010
Tebal : xii + 260 Halaman
Peresensi : Abdul Halim Fathani*


NU, merupakan Organisasi massa terbesar -saat ini- di Indonesia, bahkan di dunia. NU, baru saja menggelar Muktamar ke-32 yang berlangsung di Asrama Haji Sudiang Makasar Sulawesi Selatan 22-27 Maret 2010 yang lalu. Banyak persoalan penting yang dibahas dalam muktamar tersebut, seperti meneguhkan kembali jati diri NU melalui pemantapan makna “kembali ke khittah”, pembentukan Pengurus Anak Ranting (PAR), peneguhan identitas Ahlussunah Waljamaah, selain agenda penting –pemilihan rais am dan ketua umum. Di luar itu, juga banyak digelar acara pendukung, seperti seminar, bedah buku, bursa buku, dan sebagainya.

Melalui muktamar inilah, NU berupaya melakukan refleksi dan evaluasi-kritis atas peran dan kontribusi NU dalam konteks sosial-kemasyarakatan, dalam berbangsa dan bernegara. Hal ini telah menunjukkan bahwa NU benar-benar eksis, baik secara kultural-struktural, maupun jamaah-jam’iyyah. Dengan kata lain, ini menjadi modal awal mengantarkan NU untuk selalu berada di garda terdepan dalam rangka mengawal dinamika perubahan yang terus terjadi dalam koridor ahlussunah waljamaah.

Sebagaimana yang disampaikan Mbah Sahal Mahfudh dalam khutbah iftitah di Muktamar ke-32. Bahwa, berdirinya NU, sesuai dengan namanya, adalah momentum kebangkitan para ulama yang seiring dan menyertai kebangkitan seluruh bangsa Indonesia dalam tekad perjuangan untuk mencapai cita-cita kemanusiaannya, yaitu kemerdekaan sejati dan keluhuran martabat lahir dan batin. Sejarah pun mencatat sumbangsih NU yang menjadikannya tak terpisahkan dari NKRI, alam jati diri, jiwa, dan cita-cita. Selanjutnya, Mbah Sahal juga menuturkan, NU menyadari bahwa, dewasa ini dinamika dunia internasional telah menempatkan Islam dalam posisi kritis, dengan maraknya paham keagamaan yang cenderung ekstrem, fundamentakistik, formalistik, dan tidak toleran. Menanggapi fenomena ini, NU bertekad untuk mengambil bagian dalam upaya mengatasi masalah kemanusiaan. NU siap mengambil peran aktif, baik dalam skala nasional maupun internasional.

Sementara, Presiden SBY mengatakan, sebagai organisasi, NU memiliki nilai dasar dan prinsip jati diri yang kukuh, yang mencerminkan setidaknya dua hal. Pertama, sebagai organisasi keumatan yang menganut jalan tengah yang lurus yang dikenal sebagai jalan moderat, yang menolak jalan ekstremitas dan jalan kekerasan. Jalan itu justru menghormati kemerdekaan dan kemajuan, yang menjalin ukhuwah Islamiyah (persatuan Islam) dan ukhuwah wathaniyah (persatuan bangsa) yang menjadikan Islam sebagai rahmat bagi semua alam (rahmatan lil alamin). Kedua, NU adalah organisasi yang terus membangun kemitraan dengan pemerintah untuk menyukseskan program kesejahteraan rakyat, seperti ekonomi kerakyatan; pendidikan, baik pesantren maupun umum; kesehatan masyarakat; gerakan melawan kejahatan, seperti narkoba dan korupsi; dan pemeliharaan lingkungan. (Kompas, 24/3/10)

Buku ini merupakan kumpulan pikiran-pikiran cerdas kaum muda NU, yang mencoba untuk melakukan refleksi dinamika perubahan yang selalu dan terus terjadi dalam perspektif NU dalam rangka mewujudkan kesatuan bangsa yang beradab dan bermoral. Buku yang berisi pelbagai opini yang telah di muat di Kompas dalam kurun waktu 2004-2009 ini dapat menggambarkan betapa gigihnya perjuangan NU dalam rangka membangun keutuhan NKRI. Ternyata, NU sebagai organisasi umat terbesar, telah menjadi bagian penting dari kekuatan masyarakat beradab untuk berkontribusi dalam membangun keadaban bangsa. NU Berhasil membangun keadaban bangsa yang didasarkan pada semangat kebersamaan lintas agama dan keyakinan, begitulah kata Zada-editor buku ini. Kiranya, tekad bulat NU –seperti ini- patut diapresiasi dan terus didukung oleh umat kebanyakan.

Tantangan bagi NU adalah, bagaimana NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia mampu (sekaligus) mau menampilkan karakter Islam ala Indonesia, seperti yang telah dipraktikan oleh para pendiri, sebut saja Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari dan K.H. A. Wahab Hasbullah. Cara berpikir NU untuk mempertahankan tradisi tak lain adalah menjaga warisan leluhur yang telah mengembangkan Islam sambil terus melakukan perubahan yang lebih baik (hlm. 131).

Sejak kelahirannya, Nahdlatul Ulama menjadi pelopor dalam membangun peradaban yang berbasis keislaman sekaligus keindonesiaan. NU senantiasa menjunjung tinggi keberagaman dan toleransi beragama. Dengan prinsip dasar dan jati diri itu, NU terus meningkatkan pengabdian dan perannya dalam membangun bangsa ini. Semua yang dilakukan NU pada masa lalu masih tetap relevan dan tetap diperlukan pada masa sekarang ataupun masa depan. Sebagai organisasi Islam yang berpengaruh, kehadiran NU di Tanah Air bukan saja memberikan pencerahan dan pencerdasan umat, melainkan melampaui perbedaan agama. Masyarakat dibimbing ke dalam kehidupan bermoral, berakhlak, berbudi, dan bermartabat sebab Islam membawa nilai-nilai universal serta menembus batas-batas negara dan peradaban. (Kompas, 24/3/10)

NU kini berada pada suatu zaman yang memerlukan penyikapan matang dan bijaksana. NU berada pada arus perubahan dan informasi yang cepat. Sudah seharusnya warga NU tetap menjaga komitmen untuk memegang kaidah “Almuhaafadhatu ‘alal qadiimish shaalih wal akhdzu bil jadiidil ashlah”.

* Alumnus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Saat ini aktif di Pusat Pengembangan Sumber Manusia “Fathoni Institute”
 http://www.nu.or.id/page.php

Imam Syafi’i dalam Yurispundensi Islam


Judul Buku : Fiqih Imam Syafi’i
(Mengupas Masalah Fiqhiyah Berdasar Al-Qur’an dan Hadits)
Penulis : Prof. Dr. Wahbah Zuhaili
Penerbit : Almahira, Jakarta
Cetakan : I, Februari 2010
Tebal : 716 hal.
Peresensi : Ahmad Shiddiq Rokib*

Fiqih merupakan cabang ilmu keislaman yang mengkaji hukum syariat yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah) dan  hubungan antar sesama manusia (hablum minannas). Kata “fiqih” sendiri secara bahasa berarti “paham”, seperti dikutip dalam hadits di atas, awal mulanya fiqih pengertian yang luas, yaitu pemahaman yang mendalam terhadap islam secara utuh. Definisi ini berlaku pada masa generasi sahabat dan tabi’in. Selanjutnya pada masa muta’akhirin (abad IV-XII H), fiqih mengalami penyempitan makna, menjadi “pengetahuan hukum syara’ yang bersifat alamiyah bersumber dari dalil-dalil yang spesifik”.

Pada periode Mutaakhirin ini, pula terjadi pelembagaan fiqih dalam beberapa madzhab. Ketika itu ada empat madzhab besar berkembang dan mampu bertahan hingga saat ini, yaitu Madzhab Hanafi, Madzhab Maliki, Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hambali. Empat madzhab tersebut tersebar ke seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Berdasarkan sejarah masuknya Islam ke Nusantara, Madzhab Syafi’i lah yang pertama kali di anut penduduk Nusantara. Dan saat ini mayoritas kaum muslimin indonesia bermadzhab Syafi’i.

Madzhab Syafi’i yang digagas oleh Muhammad bin Idris as-Syafi’i (150-204 H) mendapat apresiasi yang luar biasa dari umat Islam dunia. Madzhab ini dianut oleh kurang lebih 28 persen populasi muslim dunia, atau sekitar 439,6 juta jiwa dari 1,57 miliyar penduduk  dunia.  Penganut Madzhab Syafi’i tersebar di Mesir, Arab Saudi, Suriah, Indonesia, Malasyia, Brunai Darussalam, Pantai Koromandel, Malabar, Hadramaut, dan Bahrain.

Tidak heran jika pengaruhnya sangat luar biasa dalam yurispundensi Islam sebab Imam Syafi’i memang dikaruniai kecerdasan istimewa, kemampuan nalar dan gaya bahasa yang luar biasa. Pada usia 20 tahun ia sudah hafal kitab “al-Muwaththa’” karya monumental Imam Malik. Imam Malik mengagumi Imam Syafi’i sembari berkata “wahai Muhammad (Syafi’i)” sesungguhnya Allah telah memancarkan cahaya hatimu, maka jangan engkau sia-siakan cahaya itu dengan maksiat. Esok akan banyak orang yang berdatangan untuk belajar kepadamu. Pujian Imam Malik benar menjadi kenyataan. Syafi’i kemudian Imam madzhab panutan umat diberbagai belahan dunia Islam, termasuk di Indonesia.

Madzhab Syafi’i, satu dari sekian banyak madzhab fiqih saat ini masih mendapat apresiasi luar biasa mayoritas kaum muslim dunia. Keunggulan utama madzhab Syafi’i terletak pada sifatnya yang moderat. Di awal pertumbuhannya, pendiri madzhab ini, Muhammad bin Idris as-Syafi’i (150-204 H), mengakomodasi dua aliran hukum Islam yang berkembang saat itu, yaitu aliran tektualis (madrasatul hadits) dan aliaran rasionalis (madrasatur ra’y). Hasil kolaborasi keduanya dapat dilihat dari produk hukum Imam Syafi’i yang selalu mengacu pada subtansi nash (Al-Qur’an dan as-Sunnah), kemudian dalam kasus tertentu dipadukan dengan dalil analogi (qiyas).

Sebagai Bapak Ushul Fiqh, Imam syafi’i mewariskan seperangkat metode istimbath hukum yang berfungsi untuk menganalisasi beragam kasus hukum baru yang terjadi dikemudian hari. Dari tangan Imam Syafi’i lahir ribuan ulama yang konsen menafsirkan, menjabarkan, dan mengembangkan pemikiran beliau dalam ribuan halaman karya dibidang hukum Islam. Tidak heran jika dinamika perkembangan Madzhab ini melampaui Madzhab lainnya.

Buku yang terdiri tiga jilid yang ditulis Prof. Dr. Wahbah Zuhaili ini, memuat ribuan kasus yang terjadi masyarakat, yang dibidik dengan aturan hukum islam dalam berbagai aspek kehidupan yang bersumber dari al-qur’an, as-sunnah, ijma’ ulama dan qiyas serta hasil ijtihad Imam Syafi’i dan murid-murid beliau.

Secara garis besar, Masterpiece Prof. Dr. Wahdah as Zuhaili ini disusun dalam lima bab. Sebagai pendahuluan, pembaca akan diajak menelusuri biografi dan pemikiran hukum Imam Syafi’i. Selanjutnya secara sistematis, Prof. Wahbah mengurai secara detail hukum thaharah dan ibadah, pada bab satu. Bab dua menyajikan hukum muamalah konferensional dan syari’ah berikut transaksinya. Bab ketiga memaparkan hukum keluaga Islam. Kemudian pada bab empat berisi hukum Hadd, Jinayah, dan Jihad, terakhir. Bab lima, mengulas aspek peradilan Islam.

Dalam buku fiqih Imam Syafi’i ini diperkaya dengan penjelasan hikmah dibalik penetapan sebuah aturan syariat, penjelasan terperinci atas setiap topik bahasan, dan pemberian contoh-contoh lengkap dengan dalilnya. Penulisan buku ini berpatokan sepenuhnya pendapat Imam Syafi’i yang lebih valid yang terdapat didalam Majmu’dan minhajnya, dan tidak merujuk pada kitab al-raudhah dan sebagainya. Tujuan agar madzhab ini dapat menjadi jelas bagi kalangan awam. Apalagi, penyajian Fiqih perbandingan yang dilakukan terlalu dini tampaknya lebih sering hanya akan memunculkan kebingungan serta menhancurkan keselarasan hukum syaiat.

Jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainya, fiqih merupakan ilmu yang paling lurus dan matang. Dengan fiqih, syariat Islam telah menjadi salah satu sumber penetapan syariat yang sekaligus dapat diterima disetiap waktu dan tempat. Karena itu, fiqihlah yang telah menghimpun antara ajaran pokok dengan hal-hal yang menjaman serta menghimpun antara upaya untuk menjaga berbagai macam sumber syariat yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadis dengan berbagai macam pekembangan dan perubahan yang terjadi, yang tujuannya adalah untuk mengindentifikasi hukum halal-haram dan demi menggapai kemaslahatan bagi umat manusia dan kebutuahan mereka disepanjang zaman. Karena fiqih memang terlahir dari dasar-dasar dan berbagai sumber yang kokoh demi tujuan syariat yang universal.

Dengan demikian, buku yang sangat mengagumkan ini patut menjadi rujukan umat Islam, baik untuk dijadikan leterasi dalam dunia akademik maupun sebagai pandangan hidup dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Sehingga, mampu membedakan dari hal-hal yang diperbolehkan dengan yang tidak diperbolehkan oleh agama. Wallahu a’lam bis-showab.

* Peresensi adalah mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya, aktif Pada Pondok Budaya Ikon Surabaya

 http://www.nu.or.id/page.php 

Ajaran Kearifan Tiga Guru Sufi Jawa


Judul Buku : Tiga Guru Sufi Tanah Jawa
Penulis : H. Murtadlo Hadi
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan : 1, Februari 2010
Tebal : 250 halaman
Peresensi : Ahmad Hasan MS*)

Sosok ulama atau kiai lazim dikenal karena suri teladannya, yatiu bagaimana praktek syariat itu menjadi laku (amal) sehari-hari. Di samping itu, sosok kiai pun bisa menempati ruang khusus di hati umat karena pernyataan-pernyataan, wasiat-wasiat atau wejangan- wejangan mereka kepada oreang terdekat dan para santri serta masyarakat. Wajar bila kiai oleh KH Aziz Mashuri menjadi penyangga kazanah kebudayaan islam yang adiluhung.

Buku Tiga Guru Sufi Tanah Jawa berusaha memaparkan “wejangan ruhani” atau pesan-pesan spiritual dari tiga sosok kiai tanah jawa; Syaikh Muslih Bin Abdur Rahman al-Maraqy (Mranggen Demak), Syaikh Romli Tamim (Rejoso Jombang) dan Syaikh Dimyathi Bin Muhammad Amin al-Bantany (Cidahu Banten). Pesan-pesan spiritual dari tiga tokoh yang menjadi maha guru (mursyid) di tanah jawa ini menyimpan semacam doktrin sufistik Ala Thariqah Qadiriyah Wa Naqsyabandsiyah dan Thariqah Syadziliyah.

Dalam buku ini penulis membagi dalam tiga bagian ihwal wejangan tiga guru sufi termasyhur di jagad jawa ini. Pada bagian pertama dijelaskan mengenai wejangan ruhani dari Abuya Dimyathi. Abuya Dimyathi merupakan ulama kharismatik dari Banten. Wejangan spiritualnya mampu menjadi peneduh terhadap dahaga umat. Wejangan-wejangan Abuya memiliki kualitas tinggi sebagai obat bagi jiwa yang sakit, oase bagi jiwa yang gersang sekaligus Nur ilahiyah yang menguasai kerajaan hati, dengan berjuta-juta malaikat berjaga disana, yang bisa mengusir gelap (zhulumat) dan setan serta bala tentara (junudus syaithon) dari hati manusia.

Dalam Wejangannya, menjadi mursyid thariqah tidak asal begitu saja, melainkan melalui syarat tertentu. Setidaknya, ada tiga syarat menjadi seorang Mursyid. Pertama, seorang mursyid ketika menjadi pembimbing spiritual dan penunjuk jalan haruslah matang dalam menguasai ilmu para ulama. Kedua, seorang mursyid juga harus memahami memahami hikmah dari orang-orang yang sudah Ma’rifat Billah. Ketiga, seorang mursyid menguasai pula taktik dan strategi yang diterapkan penguasa (raja atau pemimpin politik).

Tiga kriteria ini pertama kali sebenarnya telah dicetuskan oleh pemimpin Thariqah Qadiriyah, yaitu syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Hasil ijtihad Syaikh Abdul Qadir Jailani itu dicatat oleh Syaikh Abi Ja’far al- Barzanji dalam kitab Lujainid Dany. Karena nilai universalnya, menurut penulis berlaku di setiap gerakan tarekat hingga sekarang. Criteria ini mengharuskan ulama yang benar-benar alim, ahli ibadah dan hikmah serta giat membimbing dan mendekat pada umat.

Secara khusus, Abuya Dimyathi juga memiliki risalah yang diperuntukkan untuk umat dalam menekuni Thariqat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah. Di antaranya risalah ashl al-qadar yang berisi tentang nama-nama sahabat ahli perang badar beserta ajaran kearifannya. Juga kitab Rasn Al-Qasar yang menjelaskan tentang pentingnya Hidzib Nashr. Juga kitab hadiyyah al-jalaliyyah yang menjelaskan ihwal sanad, karakteristik Thariqah Syadziliyah, dan kepantasan untuk para salik dalam bertaqarrub kepada Allah.

Pada bagian kedua berisi tentang wejangan ruhani Syaikh Romli Tamim, Rejoso, Jombang, ulama kharismatik yang mennadi mursyid Thariqah Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah. Salah satu buah karya Syaikh Romli adalah Tsamnrah al-Fikriyah yang berisi tentang doktrin sufistik bagi ahli thareqat dan tasawuf. Dalam wejangannya, Syaikh Romli mengatakan bahwa jalan untuk wushul (ma’rifat billah) bagi para santri Thariqah adalah dengan cara serius melaksanakan tiga hal berikut.

Pertama, mengembangkan Dzikir Khafi (dzikir samar) atau dzikir dalam hati. Caranya dengan menghadirkan hati secara total senantiasa ingat Allah dalam keadaan apapun. Kedua, muraqabah, yaitu senantiasa berusaha mengejar dan mendekat kepada Allah. Dalam wukuf di hadrah ilahiyah, santri thareqah mesti senantiasa berharap dengan prasangka baik (Khusnudzon) terhadap anugerah yang diberikan Allah.

Ketiga, dengan jalan khidmah (pengabdian), yaitu setia menjadi pelayan bagi guru yang telah memberikan Talqin Dzikir, kaifiyah, dan Jam’iyyah serta juga bersedia menyediakan diri untuk menjadi pelayan bagi santri-santri yang lain. Saling berlomba-lomba dalam kebaikan sekaligus berusaha bermanfaat bagi sesama. Tiga jalan ini dilakukan secara ikhlas dan istiuqomah dengan berserah total kepada Allah.

Pada bagian ketiga, penulis menjelaskan ihwal wejangan ruhani Syaikh Muslih Mranggen. Syaikh Muslih Mranggen dikenal sebagai mursyid Thareqah Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah yang memiliki kedalaman ilmu dan kejernihan hati. Salah satu karyanya yang cukup populer adalah Futuhat Rabbaniyah yang menguraikan doktrin sufistik menuju tersingkapnya Ma’rifat Ilahiyah. Karya lainnya yang juga tak kalah populer adalah an-Nur al-Burhani yang merupakan syarah (penjelasan kitab Lujain ad Dani) karya Syaikh Abi Ja’far al-Brzanji yang meriwayatkan biografi Sulthan Al-Auliya Syaikh Abdul Qadir Jailany.

Dalam Futuhat ar-Rabbaniyah, Syaikh Muslih secara detail menjelaskan tentang tata cara santri dalam menjalankan thareqah, terutama doktrin yang ia sebut sebagai “ Mabadi Ilmi Ath Thariqah yang membahas landasan thariqah qadiriyah wa naqsyabandiyah. Salah satu untaian hikmahnya adalah berfiqh harus dibarengi dengan tasawuf. “Barang siapa yang semata berpegang pada formalitas fiqh, tanpa praktek tasawuf, maka seorang itu bisa terjatuh pada perilaku fasiq. Dan barang siapa mencoba-coba bertasawuf tanpa tuntunan syara’ maka ia bisa jatuh dalam kafir zindiq. Dan barang siapa bertasawuf dan menjalankan tuntunan syara’(fiqh) maka ia akan sampai pada hakekat dan kesejatian”.(hal 203).

Buku ini menarik dibaca bagi siapa saja ingin mengenal lebih dekat ihwal warisan tiga ulama besar sufi jawa beserta ajaran dan selub beluk kehidupannya. Namun pembaca jangan lantas kecewa sebab buku ini bukanlah biografi khusus melainkan sekedar serpihan pemikiran dan untaian hiikmah yang menyejukkan. Sebuah buku yang memuat ajaran kearifan tiga guru sufi jawa yang terus dikenang sepanjang masa.

*) Peresensi adalah Santri Hasyim Asy’ari Yogyakarta. Aktif juga di PWNU DIY 
http://www.nu.or.id/page.php 

Konstruksi NU


Judul Buku : Memahami Nahdlatul Ulama Urgensi Besar Membangun Kembali Jembatan Putus
Penulis : Prof. Dr. H. Ali Maschan Moesa, M.Si
Pengantar : Dr. KH A. Hasyim Muzadi
Editor : Ach. Syaiful A’la
Penerbit : Pesantren Luhur Al-Husna, Surabaya
Cetakan : I, Pebruari 2010
Tebal : xiv+302  Halaman
Peresensi : Rangga Sa’adillah S.A.P.*


Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi yang memiliki masa cukup besar di Indonesia. Istilah guyon di kalangan nahdliyin (sebutan bagi warga NU), mereka juga memiliki komunitas warga yang kompleks, mulai dari qari’ sampai korak. Karena itu, tidak belebihan kalau dikatakan warga NU adalah sebagai representasi fenomena grassroot negara ini.

Dilihat dari namanya yang berarti “Kebangkitan Ulama’”, dapat dipahami bahwa hal ini merupakan penegasan bahwa NU adalah perkumpulan organisasi para kiai yang bangkit untuk membangkitkan para pengikutnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Karenanya kedudukan Kiai pesantren adalah sentral, baik sebagai pendiri, pemimpin dan pengendali organisasi serta sebagai panutan kaum nahdliyin.

Dengan demikian, NU merupakan organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang tidak bisa dipisahkan dari Kiai dan tradisi pesantren. Perkembangan NU sejak awal berdirinya menunjukkan betapa besar peranan Kiai dan pesantren di dalamnya. Sehingga, pada hakikatnya NU memang merupakan manifestasi modern dari kehidupan keagamaan, sosial dan budaya dari para kiai pesantren tradisional. Kiai dan Pesantren menjadi konstruk tersendiri pada tubuh NU. Keduanya saling terkait dan dan membentuk bangunan. Kekompakan hubungan itu nampaknya akan tetap merupakan institusi yang mempunyai peranan kuat dalam perkembangan dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Prof Dr KH Ali Maschan Moesa MSi melalui buku "Memahami Nahdlatul Ulama Urgensi Besar Membangun Kembali Jembatan Putus" sejatinya ingin menegaskan kepada pembaca mengenai kontribusi (besar) NU terhadap perjalanan bangsa Indonesia mulai dari sejarah perjuangan Kiai-kiai pesantren NU dalam merebut kemerdekaan ikut mencerdaskan bangsa melalui pengajaran pendidikan di pondok pesantren, dan turut serta mengisi kemerdekaan (dari masa orde lama, orde baru hingga masa reformasi), sehingga NU tidak lagi hanya dipahami sebagai gerakan seremonial politik saja ibarat gadis cantik yang dipinang banyak orang dalam rangka digunakan alat untuk memuaskan ambisi syahwat politiknya masing-masing. Akan tetapi NU masih mempunyai banyak tugas yang harus diselesaikan berkenaan dengan pemberdayaan sosial kemasyarakatan bangsa Indonesia yang terkadang pula dilupakan (atau memang sengaja dibuat lupa) oleh para elite-elite NU sendiri.

Ia memberikan masukan mengenai konstruksi NU sebagai jam’iyyah diniyyah haruslah berangkat dari upaya-upaya meningkatkan SDM. Secara ideal kualitas kehidupan bagi masyarakat NU secara berkesinambungan merupakan bagian paling utama dalam rangka membumikan paham Aswaja. Tantangan yang harus kita jawab bersama adalah, “Bisakah kita menyatakan bahwa pada era saat ini kita mampu mempertajam pencapaian tersebut?”.

Penulis mengajukan beberapa agenda implementasi Aswaja sebagai masukan pada NU. Pertama, memajukan keadilan dan kesetaraan gender serta pemberdayaan perempuan, menghapus seluruh bentuk kekerasan terhadap perempuan; dan menjamin kemampuan perempuan untuk mengontrol kehidupan fertilitas mereka sendiri adalah dasar dari keterkaitan program membumikan Aswaja.

Kedua, menurunkan tingkat kematian bayi di bawah 35 per 1.000, kelahiran hidup dan kematian balita 45 per 1.000. Ketiga, menurunkan tingkat kematian ibu hamil dan melahirkan sampai di bawah 125 per 100.000. Keempat, upaya penjaminan paling tidak 75% dari penduduk usia 15-25 tahun memiliki akses pada KIE (komunikasi, Informasi, Edukasi), serta pelayanan untuk mengembangkan life skill yang dibutuhkan untuk mengurangi kerentaan mereka terhadap infeksi HIV/AIDS. Kelima, peningkatan kualitas SDM ini harus diintegrasikan dalam formulasi, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi dari kebijakan dan program yang terkait.

Mengenai konstruksi NU di bidang pendidikan sudah tak asing lagi yakni pesantren. Pesantren sebagai center of learning umat minmal dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu aspek pendidikan dan pengajaran. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam secara selektif mengkonstruk santri menjadi manusia mandiri dan diharapkan dapat menjadi pemimpin umat serta memperoleh ridha Tuhan. Yang paling ditekankan adalah pengembangan watak individual yang berorientasi pada self employment dan social employment.

Selanjutnya adalah aspek kepemimpinan kiai dan aspek pengembangan masyarakat. Setidaknya konstruk Kiai memiliki beberapa kriteria. Pertama, memiliki integritas pada kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Kedua, kapasitas potensial dalam penguasaan informasi, keadilan profesional, dan kekuatan moral. Ketiga, pesona pribadi yang tidak saja menjadikan seorang Kiai dicintai dan dijadikan panutan, melainkan juga figur keteladanan dan sumber inspirasi bagi komunitas yang dipimpin. Jika Kiai memenuhi kriteria diatas, maka semakin kuat pula ia dijadikan pemimpin di tengah umat.

Yang terakhir adalah konstruk pengembangan masyarakat. Dalam bidang sosial pengasuh pesantren menjadi pemimpin umat dan rujukan legitimasi terhadap warganya. Bentuk kegiatan masyarakat tradisional diwujudkan dalam layanan pengobatan dan perdukunan, demikian juga konsultasi kerohanian untuk masalah kehidupan sehari-hari. Pelayanan kepada masyarakat tersebut pada dasarnya menunjukkan kemauan untuk melindungi kedudukan, tradisi  dan ciri kepribadian mereka.

Akhirnya, buku ikumpulan makalah penulis yang telah dimuat dalam surat kabar dan disampaikan di berbagai seminar ini tidak seperti bunga rampai biasa. Sistematika kajian dan pembahasan mempunyai keterkaitan satu sama lain, hal ini menampakkan proses pengeditan yang bagus. Memang ada beberapa kesalahan kecil namun tidak berpengaruh secara esensial karena yang terpenting adalah isi pembahasan dan alurnya. Selamat membaca!


 
*Staf Menteri Agama Dewan Eksekutif Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya, Pengurus Pesantren Luhur Al-husna Surabaya
 
http://www.nu.or.id/page.php

Filosofi Kenyelenehan Gus Dur



Judul buku : Nyeleneh itu Indah
Penulis : Achmad Mufid AR
Penerbit : Kutub Yogyakarta
Cetakan : 1, 2010
Tebal : 112 halaman
Peresensi : Siti Muyassarotul Hafidzoh*


Kehebohan ini bermula dari kejadian sederhana. Saat itu, Gus Dur telah diwawancarai oleh majalah Amanah, edisi Mei, 1987, selama lima jam dalam bulan puasa. Gus Dur saat itu tanyai ihwal ide pribumisasi Islam yang dilontarkannya. Gus Dur mencontohkan idenya tersebut dengan bolehnya menggunakan selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam, sebagai ganti dari assalamu’alaikum.

Saat majalah Amanah tersebar di publik, suara miring langsung menyeruak untuk memojokkan Gus Dur. Bahkan para kiai sepuh di lingkungan nahdliyyin juga resah dengan ulah nakal cucu pendiri NU ini. Tidak tanggung-tanggung, para kiai yang resah dengan Gus Dur ini akhirnya menggelar “pengadilan” buat Gus Dur. Pada 8-9 Maret 1989, sekitar 200 kiai berkumpul di Pesantren Darut Tauhid Cirebon untuk mengadili pemikiran Gus Dur.

Sekitar 200 kiai tersebut menyusudutkan dan mendakwa Gus Dur dengan beragam sebutan. Berbagai pertanyaan diajukan para kiai dengan nada marah dan menggugat. Tetapi dengan santai dan percaya diri, Gus Dur saat itu menjelaskan bahwa apa yang dilakukan sebenarnya meniru Wali Songo. Gus Dur ingin mempertemukan antara budaya (al-‘adah) dan norma (syariah). Karena Wali Songo menjadi rujukan utama dalam dakwah NU, bagi Gus Dur, maka melanjutkan metode Wali Songo dalam berdakwah adalah tugas para kiai dan ulama’ di Nusantara.

Walaupun telah menjelaskan panjang lebar ihwal ide pribumisasi Islamnya, tetap saja Gus Dur menjadi tokoh yang terkadung mendapat cibiran dari sebagian kiai. Tak terkecuali kiai sepuh yang sangat disegani saat itu, yakni KH As’ad Samsul Arifin, dari Situbondo. Bahkan Kiai As’ad inilah yang melapangkan jalan Gus Dur menuju Ketua Umum PBNU saat Muktamar NU tahun 1984 di pesantrennya Kiai As’ad sendiri. Karena tidak sepakat dengan Gus Dur, Kiai As’ad menyebut Gus Dur saat itu sebagai kiai ketoprak. 

Peristiwa tersebut menjadi monumen penting untuk membaca Gus Dur sebagai sosok nyeleneh, alias kontroversial. Dan buku  ini berusaha membedah kenyelenehan Gus Dur tersebut dalam sebuah tafsir yang juga nyeleneh, karena kalau menggunakan logika positivistik, maka sulit sekali menemukan ritme gerak pemikiran yang diwacanakan Gus Dur. Kaca mata nyeleneh, namun kritis, menjadi perspektif paling menarik untuk membaca segala kenyelenehan Gus Dur.

Logika yang tidak linier yang digunakan penulis untuk membaca ragam kenyelenehan Gus Dur menjadi menarik, karena melihat Gus Dur bukan dengan tafsir sebagaimana selama ini digunakan publik seperti biasanya. Penulis mampu melihat Gus Dur sebagai sosok yang ingin membuka pencerahan, bukanlah dengan cara umumnya, karena masyarakat santri akan mengalami kelambanan dalam gerak mobilitas vertikalnya.

Beragam gerak nyeleneh Gus Dur kalau didalami dengan seksama, justru mengasyikkan dan menyenangkan. Karena pembaca akan menemukan sesuatu yang baru yang sulit menemukannya dalam berbagai fenomena social yang linier. Gus Dur membuka mata batin pemikiran kita agar tidak terjebak dalam simbolisme yang seringkali ambigu.

Kasus mengganti assalamu’alaikum dengan “selamat pagi” bukanlah keinginan Gus Dur untuk mengganti syariat, tetapi sebuah upaya Gus Dur yang sangat brilian karena berupaya mendekatkan syariat dengan tradisi. Gus Dur juga tidak menginginkan masyarakat terjebak dalam tafsir simbolik apa adanya. Gus Dur ingin menggugah kesadaran beragama umat agar kritis dan terbuka. Beragama bukanlah dengan terikat berlebihan dengan simbol. Karena yang jauh lebih penting adalah memahami substansi dari ajaran agama itu sendiri. Terjebak dalam symbol hanya akan membuat keberagamaan menjadi artifisial dan dangkal. Sedangkan kalau mampu memahami ajaran agama substansi ajaran, maka keberagamaan akan semakin jernih.

Gus Dur menginginkan masyarakat agar tidak terjebak dalam dangkalnya keberagamaan. Dalam sebuah ungkapan dijelaskan bahwa yang dianggap adalah yang substansi, bukan pada sisi luarnya (al-‘ibroh bil jauhar la bil madzhar). Gus Dur menginginkan mutiara (jauhar) dalam keberagamaan, bukan pada kulit luar (madzhar) yang seringkali menipu seseorang. Meneguhkan mutiara dalam bersikap di ruang kehidupan inilah yang selalu diasah Gus Dur dengan berbagai kontroversi pemikiran dan tindakan yang kerap kali tidak dipahami secara jernih oleh warga nahdliyyin maupun bangsa Indonesia .

Berbagai sikap kontroversial Gus Dur lahir mengalir begitu saja. Seperti menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKI), membukam malam puisi Yesus, bekerjasama dengan Israel, gabung dengan Institute Simon Peres, menolak hadirnya kaum sektarian (ICMI), hubungan antar agama, dan sbagainya. Semua gerak kontroversi ini lahir mengalir begitu saja, sehingga public menilainya pun dengan beragam tafsir. Ragam tafsir yang tidak searah dan sepihak itulah justru yang diharapkan Gus Dur, sehingga masyarakat tidak terjebak dalam tafsir tunggal yang absolute yang hegemonic.

Dengan berbagai uraian renyah dan kritis, Mufid menyajikan buku ini agar kita bisa melihat kontroversi Gus Dur bukan para aras yang serba salah dan serba disalahkan. Tetapi Mufid menginginkan agar kita terus membaca setiap jejak langkah, agar tak kabur dengan fenomena. Gus Dur hadir bukan untuk menggurui, tetapi untuk mengajak kita semua untuk bersikap kritis, teguh dengan prinsip, dan terbuka tanpa harus tersekat.

*Peresensi dalah peneliti Center for Developing Islamic Education (CDIE) UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

http://www.nu.or.id/page.php 

Menyambut Satu Abad Pondok Pesantren Lirboyo



Judul       : Mbah Manab, Mbah Marzuqi, dan Mbah Mahrus; Kesan Mendalam Para Tokoh Alumni Terhadap Tiga Tokoh Lirboyo
Penyusun : Tim FORMAL Jakarta
Tebal       : xxii+326 hlm., 14x21 cm
Penerbit   : Jausan
Cetakan   : I, Juli 2010
Harga      : Rp 48.000
Peresensi : A. Khoirul Anam *


Ada yang sangat menarik diamati dari Pondok Pesantren Lirboyo, yakni jumlah santrinya yang luar biasa banyak. Para peneliti pendidikan mungkin menilai ini tidak masuk akal. Bagaimana tidak, kamar-kamar santri pun tidak muat untuk ditempati tidur, dan para santri malahan rela tidur di emperan masjid bahkan sampai di tempat jemuran. Konon magnet Pesantren Lirboyo yang begitu kuat sehingga banyak santri tertarik belajar ini merupakan hasil dari tirakat para pendiri pesantren ini, Kiai Abdul Karim, Kiai Marzuqi Dahlan dan Kiai Mahrus Ali.

Santri yang tinggal di Pondok Pesantren Lirboyo kini mencapai lebih dari sepuluh ribu santri yang tersebar di seluruh penjuru negeri, bahkan sampai ke Malaysia dan Singapura. Sementara para alumninya tak terhingga jumlahnya dan telah berkiprah di berbagai bidang.

Menyambut peringatan satu abad pondok pesantren Lirboyo, yang acara puncaknya akan digelar pada Juli 2010 ini, Forum Mahasiswa Santri dan Alumni Lirboyo (FORMAL) mempersembahkan buku bertajuk “Mbah Manab, Mbah Marzuqi, dan Mbah Mahrus; Kesan Mendalam Para Tokoh Alumni Terhadap Tiga Tokoh Lirboyo”. Buku ini dimaksud untuk menyempurnakan buku Tiga Tokoh Lirboyo yang telah ada namun lebih fokus pada uraian pengalaman para alumni tentang tiga tokoh dan berbagai pengalaman para alumni pada saat belajar di Pesantren LIrboyo.

Tak kurang Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj menceritakan pengalamannya di buku ini, yakni ketika ia belajar di Pondok pesantren Lirboyo pada 1968 – 1971 silam. Waktu itu, dan mungkin sampai sekarang, para santri itu hidup sangat sederhana, apa adanya. Para santri tidur di plester (lantai) tanpa bantal, lalu minum dengan air sumur yang selalu aktif dan tidak pernah berhenti dipakai oleh para santri. “Namun di sisi lain kita semua waktu itu sangat mencintai ilmu. Kita belajar tidak karena terpaksa, bukan karena pengakuan formal, ingin mendapat ijazah, bukan. Kita ingin hafal Alfiyah, Imriti, atau Faraidhul Bahiyah, pokonya hafal semua pelajaran. Waktu itu tidak ada ijazah. Kita ingin hanya menjadi orang alim saja, tidak membayangkan setelah lulus kita akan diterima kerja di mana.”

Kang Said dalam buku ini mengaku mendapat banyak perbendaharaan atau khasanah ilmu. Kiai Mahrus dan Kiai Marzuki telah memberikan ilmu, khazanah yang cukup banyak. ”Minimal santri jebolan Lirboyo sudah mengaji Mugni Labib, Ghoyatul Wusul, dan Fathul Wahab,” katanya membanggakan Pesantren Lirboyo.

KH Musthofa Bisri (Gus Mus) juga menceritakan pengalamannya. Kisah yang paling menarik ketika berada di Lorboyo adalah ketika Gus Mus mengumpulkan teman-temannya untuk mencuri tebu Kiai Marzuki.

Gus Mus mengumpulkan kawan-kawan sebayanya. Waktu itu dia mendengar informasi besok tebu kiai ini mau ditebang. “Sebelum ditebang mari kita ngambil. Waktu mau berangkat, Kiai Marzuki yang pada waktu itu gak pake baju, ketemu saya dan rombongan. Beliau berkata, “Gus..Gus..mriki Gus!”

Ternyata Kiai sudah tahu kalau para santrinya akan mencuri tebu. “Padahal saya mau nyuri tebunya beliau, kok pertanyaan pertama kali yang beliau sampaikan malah seperti itu. Pak plong gitu loh.. Saya diam saja. Saya gak bisa menjawab. Orang saya mau nyolong tebunya. Kemudian beliau masuk ke rumah, ke ndalem, dan keluar itu sambil membawa sak gompok tebu, yang bagus-bagus. Jadi kami gak jadi nyolong karena sudah dikasih,” cerita Gus Mus.

Banyak aspek yang diceritakan dalam buku ini. Para narasumber tidak hanya bercerita pengalaman belajar tetapi juga misalnya tentang berbagai aspek kekerabatan di kalangan para kiai. KH Imam Yahya Mahrus, putra tertua Kiai Mahrus dalam buku ini bercerita tentang ihwal perjodohan Kiai Abdul Karim pendiri Pesantren Lirboyo dengan putri Kiai Sholeh. Kiai Hasyim Asy’ari lah yang menyebabkan terjadinya perjodohan ini.

Hubungan Kiai Abdul Karim dengan Kiai Hasyim Asyari itu berawal dari Bangkalan. Pada waktu itu, beliau sama-sama berguru ke Mbah Kholil. Beberapa tahun kemudian, Kiai Abdul Karim mengunjungi Pesantren Tebuireng yang diasuh oleh Kiai Hasyim, dan tiba-tiba Kiai Sholeh datang dan bertanya ke Kiai Hasyim. “Mana calon menantu saya,” kata Mbah Sholeh menagih. Kiai Hasyim pada waktu itu dengan enteng langsung memanggil “Kang Manab!, Kang Manab! (nama kecil KH Abdul Karim) Ini loh Mbah Sholeh, calon mertuamu.” Nah, sederhana saja, dari situlah Mbah Sholeh mengambil Kiai Abdul Karim sebagai menantunya.

Kiai Abdul Karim sebagai pendiri utama Pesantren Lirboyo dalam buku ini diceritakan sebagai sosok yang sangat sederhana baik pada saat belajar kepada Kiai Kholil Bangkalan maupun saat memimpin pesantren Lirboyo. Pada saat santri Lirboyo sudah mencapai ribuan, Kiai Abdul Karim bahkan masih memegang cangkul ke sawah.

Kisah yang tidak ketinggalan diceritakan oleh hampir semua alumni adalah tentang kelebihan atau lebih tepatnya kesaktian para Kiai Pendiri Lirboyo terutama Kiai Marzuki dan Kiai Mahrus. Misalnya Kiai Marzuki yang tiba-tiba telah berada di Makkah padahal tidak berhaji, atau Kiai Marzuki yang tidak mempan ditembak, juga tentang Kiai Mahrus yang bisa menaklukkan orang gila mengamuk atau Kiai Mahrus selamat dari kendaraan yang tercebur ke kali dengan kondisi tetap santai dan sedang merokok. Banyak cerita-cerita tantang kelebihan para Kiai Lirboyo itu entah para pembaca percaya atau tidak tapi kisah-kisah ini menjadi bagian dari dinamika hidup yang dialami para santri pada saat melakukan tafaqquh fid din di pesantren Lirboyo.

* Peresensi adalah Alumi Pondok Pesantren Lirboyo, Komplek HM Putra

http://www.nu.or.id/page.php 

Rabu, 02 Juni 2010

Bahagia Dunia – Akhirat: Kumpulan renungan, motivasi dan inpirasi untuk meraih kebahagiaan abadi







Penulis : Husein Anis Habsyi
Penerbit : Pustaka Zawiyah
Harga : Rp 25.000

Amatilah orang yang paling bahagia yang kau kenal, kau pasti akan memperhatikan sesuatu. Mereka selama ini tidak menjalani hidup dengan mudah. Orang-orang yang bahagia biasanya menderita dan berjuang lebih banyak daripada kebanyakan orang. Namun dalam prosesnya, mereka telah belajar untuk mencari sisi-sisi baik dalam kehidupan. Dan tidakkah kau perhatikan ini…

Ketika kita mencari sisi baik dari suatu keadaan atau orang, kita menemukannya. Bila kita mencari sisi-sisi buruk, kita menemukannya.

Jadi masalahnya bukan pada mengubah situasi yang dapat membuatmu lebih bahagia. Tapi mengubah jalan pikiranmu!

Petikan kalimat-kalimat bijak itu hanya satu dari sekian renungan, motivasi dan inspirasi meraih kebahagiaan abadi. Buku ini mampu menghibur hati, membangkitkan semangat dan mengajak pembaca untuk meraih kebahagiaan. Banyak mutiara Quran dan mutiara hadis, kisah serta kalimat bijak yang mampu mengubah cara pandang kita dalam memandang hidup. Sehingga kita mampu meraih apa yang disebut dengan kebahagiaan dunia dan akhirat.


Pesan Segera!
Hubungi bagian Sirkulasi Majalah alKisah
Jalan Pramuka Raya No. 410, Jakarta 13120
Telp. 021-856. 2257/ 8590. 0947
Fax: 021-8590.0947
e-mail: alkisah_online@yahoo.com

Doa Orang Tua dan Anak






Penerbit : Pustaka Zawiyah
Harga : Rp 2.500


“Dan rendahkanlah dirimu kepada mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah,”Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidikku sewaktu kecil.” (QS.Al-Isra, 17:24)

Alquran dengan tegas menyatakan bahwa kita sebagai anak wajib menghormati dan mengasihi orang tua. Bahkan ridho orang tua adalah ridho Allah SWT,

Buku ini sangat ringkas memuat doa orang tua untuk anak dan doa anak untuk orang tua. Mudah dibawa-bawa dan bisa dijadikan pengingat, bahwa orang tua selalu mendoakan kita. Dan kita sebagai anak wajib mendoakan mereka.


Pesan Segera!
Hubungi bagian Sirkulasi Majalah alKisah
Jalan Pramuka Raya No. 410, Jakarta 13120
Telp. 021-856. 2257/ 8590. 0947
Fax: 021-8590.0947
e-mail: alkisah_online@yahoo.com

Hikmah-Hikmah Untuk Menuju Surga






Penulis : Drs. Aep Saepulloh
Penerbit : Shuhuf
Harga : Rp 29.000

Kumpulan kisah-kisah menarik yang membuat kita terpacu untuk meraih surga Allah SWT. Tidak bisa dipungkiri kisah-kisah manusia, baik yang tercatat ataupun yang tersirat, seringkali membawa perubahan watak dan karakter pembaca atau pendengarnya. Bahkan kita sering menyaksikan orang yang sedang membaca buku, tiba-tiba ia mencucurkan air matanya dan terisak menangis.

Begitu juga buku ini mengetengahkan kisah-kisah menarik yang bisa diambil hikmahnya. Mulai dari kisah tangisan Abu Bakar dan Hari wafatnya Rasulullah SAW, kisah isteri seorang khalifah yang rela hidup miskin demi meraih cinta Allah hingga kisah ulama atau kiai yang rasa takutnya kepada Allah melebihi rasa inginnya terhadap seorang wanita.

Ada juga kisah seorang wanita ahli ibadah yang masuk neraka, karena mengikat dan tidak memberi makan seekor kucing. Mengandung arti, apalah artinya sebauah ibadah yang kita jalani, jika kita tidak memiliki kasih sayang terhadap hewan apalagi dengan sesama manusia.


Pesan Segera!
Hubungi bagian Sirkulasi Majalah alKisah
Jalan Pramuka Raya No. 410, Jakarta 13120
Telp. 021-856. 2257/ 8590. 0947
Fax: 021-8590.0947
e-mail: alkisah_online@yahoo.com

Bagaimanakah Anda Menikah dan Mengatasi Permasalahannya?






Penulis: Ust. Segaf Hasan Baharun, S.HI.
Penerbit: Ma`had Darullughah Wadda`wah
Harga: Rp. 33.000

Pernikahan adalah salah satu tahap dalam kehidupan yang sangat menentukan masa depan seseorang. Bila niatnya didorong oleh motivasi agama, ada jaminan untuk meraih keluarga sakinah, yang penuh dengan cinta dan kasih sayang, seperti yang diidam-idamkan setiap insan. Rumah tangga semacam inilah yang diungkapkan sebagai baiti jannati, “rumahku surgaku”.

Dalam konteks ini, Nabi SAW bersabda, “Nikah itu adalah sunnahku, barang siapa berpaling dari sunnahku bukan dari golonganku.”

Hadits ini, selain menunjukkan jaminan kebahagiaan bagi masa depan pengikut Rasul SAW, cukup jelas pula menunjukkan bahwa pernikahan yang direstui Nabi SAW adalah yang sesuai dengan sunnah beliau. Atau dengan kata lain, pernikahan yang disetujui adalah pernikahan yang diteladankan oleh beliau dalam kehidupannya.

Itulah sebabnya, sangat penting, khususnya bagi para remaja, untuk mempelajari masalah pernikahan dalam Islam secara seksama sebelum melangkah ke jenjang perkawinan, dan siapa pun yang ingin membangun rumah tangganya di atas fondasi syari’at Rasulullah SAW. Sehingga tiada satu upaya pun yang dilakukan dalam membangun rumah tangga selain ibadah yang bernilai tinggi di hadapan Allah SWT, sebagaimana yang diisyaratkan Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Apa yang dinafkahkan seseorang terhadap istrinya adalah shadaqah, dan seseorang akan diberi pahala dari setiap suapan yang masuk ke dalam mulut istrinya.”


Pesan Segera!
Hubungi bagian Sirkulasi Majalah alKisah
Jalan Pramuka Raya No. 410, Jakarta 13120
Telp. 021-856. 2257/ 8590. 0947
Fax: 021-8590.0947
e-mail: alkisah_online@yahoo.com

Hikmah Dari Seberang: Kumpulan Kisah dan Artikel Berhikmah dari Internet oleh Pengarang Tak di Kenal







Penulis : Drs. Abu Abdillah Al-Husainy
Penerbit : Pustaka Zawiyah
Harga : Rp 25.000

Suatu hari seorang ayah dari keluarga sangat kaya membawa anaknya ke desa untuk menunjukkan kepadanya kehidupan orang-orang miskin. Mereka tinggal beberapa hari di rumah seorang petani miskin. Sekembalinya dari desa, sang ayah bertanya kepada anaknya,” bagaimana menurutmu perjalanan kita ini?”

“Hebat, Ayah,” kata anaknya.

“Apakah kau melihat bagaimana orang-orang miskin itu hidup?”

“Ya.”

“Lalu, pelajaran apa yang dapat kau ambil dari perjalanan itu?” tanya ayahnya dengan bangga.

“Aku baru sadar, bahwa kita punya dua anjing sedang mereka punya empat. Kita punya kolam renang luasnya sampai setengah kebun, sedang mereka punya sungai yang tak memiliki ujung. Kita mengimpor lentera untuk kebun kita, mereka punya bintang-bintang di malam hari. Teras kita sampai halaman depan, sedang mereka seluruh horizon. Kita punya tanah tempat tinggal kecil, mereka punya halaman sejauh mata memandang. Kita punya pembantu-pembantu yang melayani kita, sedang mereka memberikan pelayanan kepada orang lain. Kita membeli makanan kita, mereka memetik sendiri makanan mereka. Kita memiliki pagar mengelilingi dan melindungi kekayaan kita, mereka punya teman yang melindungi mereka.

Sampai di sini, sang ayah tak bisa berkata apa-apa. Kemudian anaknya menambahkan,” Ayah, terima kasih, engkau telah menunjukkan betapa miskinnya kita.”

****
Kita sering kali lupa pada segala yang kita miliki dan memusatkan perhatian hanya pada apa-apa yang tidak kita miliki.

Kisah di atas hanya satu dari sekian banyak kisah dan cerita yang bisa kita petik hikmahnya. Rasullallah pernah bersabda,”Kalimat hikmah adalah milik orang mukmin yang hilang.” (Tirmidzi dan Ibnu Majah). Maksudnya, di mana pun orang mukmin menemukan hikmah maka ia berhak menyimpannya. Ali bin Abi Thalib, sahabat nabi yang paling alim pun, berkata,”Ambillah hikmah dari sumber mana pun.”

Buku ini berisikan kumpulan tulisan orang-orang dari negara seberang yang mempunyai kebudayaan dan keyakinan berbeda dengan kebanyakan kita. Namun berdasarkan ayat Quran dan hadis nabi di atas, insya Allah, kita bisa memetik banyak hikmah dari pesan-pesan yang disampaikan oleh penulis lewat kisah-kisah dan ibarat-ibarat mereka yang sederhana tapi bermakna sangat dalam.


Pesan Segera!
Hubungi bagian Sirkulasi Majalah alKisah
Jalan Pramuka Raya No. 410, Jakarta 13120
Telp. 021-856. 2257/ 8590. 0947
Fax: 021-8590.0947
e-mail: alkisah_online@yahoo.com

Dzikir Kaum Sholihin: Amalan Sepanjang Hari






Penerbit : Putera Riyadi
Harga : Rp 9.000


“Ingat, hanya dengan berdzikir kepada Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d : 28)

Buku mungil ini berisi kumpulan doa, dzikir dan hizb untuk berbagai kegiatan ibadah sepanjang hari. Mulai dari manusia bangun dari tidurnya, sampai ia bersiap-siap untuk kembali tidur. Dari berbagai macam solawat sampai berbagai istighfar, wirid Habib Ali Habsy, Ratib Al-Haddad hingga berbagai doa dari Nabi Saw, sahabat dan kaum sholihin ra.

Dengan bentuk bukunya yang kecil dan bisa dibawa kemana-mana, buku ini Insya Allah dapat membantu menghadirkan Allah dalam keseharian kita. Membuat kita sadar bahwa Allah selalu mengawasi kita, dan menjadi asas yang kokoh untuk semua niat dan perilaku kita.


Pesan Segera!
Hubungi bagian Sirkulasi Majalah alKisah
Jalan Pramuka Raya No. 410, Jakarta 13120
Telp. 021-856. 2257/ 8590. 0947
Fax: 021-8590.0947
e-mail: alkisah_online@yahoo.com

Minggu, 07 Maret 2010

The Art Of Body Language


Penulis : Athif Abul id
Harga : Rp 20.000
Tema : Tips Pengembangan Diri
ISBN : 978-979-1164-17-7
Halaman : xxii + 138 Halaman
Cetakan : 1

Jenis Cover : Soft Cover
Tahun Terbit : Desember 2009


Sinopsis :

Pernahkah Anda melihat orang yang berdiri sambil menyilangkan satu tangannnya ke depan badan,sambil memegang lengan satunya? Bila Anda melihatnya, apa pendapat Anda? pasti wanita itu terlihat tidak percaya diri,bukan? Sejatinya, posisi ini merefleksikan kegelisahan dan kepercayaan diri yang rendah. Para pakar bahasa tubuh (Body Language) menyatakan, lengan yang menyilang dilihat sebagai pelukan setengah, posisi nyaman yang mengindikasikan bahwa orang yang melakukannya sedang mencoba menenangkan ketegangannya.

Demikianlah, bahasa tubuh yang merupakan komunikasi pesan nonverbal adalah salah satu faktor terpenting dalam melancarkan efektifitas komunikasi. Di buku ini,secara garis besar, Anda akan mengetahui beberapa bahasa tubuh yang memberi Anda pengetahuan akan suasana emosi dan hati orang lain, demi menyukseskan relasi dan interaksi sosial. Atau bahkan, memahami bahasa tubuh untuk menghindari bahaya yang akan menghampiri Anda.

Di buku ini juga, penulisnya menjanjikan bahwa dengan buku ini, Anda akan mendapatkan kesenangan yang tidak bisa ketika Anda membaca setiap paragrafnya. Bahkan, sang penulis menjamin bahwa Anda nantinya akan menirukan gerakan-gerakan yang ada di buku ini dan mengajarkannya kepada orang-orang di sekitar Anda. "Sebagaimana nantinya Anda juga akan mengawasi orang lain ketika Anda mereka melakukan gerakan-gerakan itu." tandas sang penulis, buku ini penting bagi Anda.


Sumber : Pustaka Alkautsar

Everyday is Honeymoon ; Panduan Berbulan Madu

Everyday is Honeymoon ; Panduan Berbulan Madu

Penulis : Alaa' Mahgoub
Harga : Rp 24.000,00
Tema : Keluarga & Pernikahan
ISBN : 978-979-592-510-1
Halaman : 192 Halaman
Cetakan : 1

Jenis Cover : Soft Cover
Tahun Terbit : November 2009


Sinopsis :

Tidak perlu disangsikan lagi, bahwa bulan madu adalah saat sangat penting yang akan meninggalkan banyak kenangan yang sampai kapan pun tidak akan terlupakan, tak akan terhapus oleh waktu. Kenangan manis atau pahit, terserah Anda memilihnya. Bagi sepasang suami istri yang mengerti dan memahami kedalaman maknanya, ia akan berjuang sepenuh hati menjadikan bulan madu sebagai momen paling indah dan membahagiakan.

Agar keindahan saat-saat bulan madu menjadi sempurna dan terasa bahagia, tidak menjadi tragedi yang melukai hati dan meninggalkan rasa kecewa, maka untuk sepasang calon mempelai dipersembahkan buku indah ini. Sebuah buku penting yang sangat dibutuhkan, karena berisi tentang panduan mengayuh kenikmatan di atas ranjang dan berbagai solusi atas masalah-masalah psikis yang biasanya mereka hadapi di malam pertama.

Buku ini patut menjadi teman Anda sejak detik pertama memasuki malam pengantin. Ia layak menjadi pembimbing dan pemberi nasehat yang tulus, agar Anda benar-benar dapat menikmati hari-hari yang tak terlupakan tersebut. Menikmati bulan madu adalah sebuah seni yang patut dipelajari oleh setiap orang yang hendak memasuki pintu gerbang perkawinan, baik oleh calon suami maupun istri. Supaya, ia mengetahui hal-hal yang sebaiknya dilakukan maupun hal-hal yang seyogyanya ditinggalkan.


Sumber : Pustaka Alkautsar

Panduan Malam Pertama Untuk Gadis


Penulis : Dr. Akram Thala'at
Harga : Rp 23.000
Tema : Keluarga & Pernikahan
ISBN : 978-979-592-509-5
Halaman : xii + 140 Halaman
Cetakan : 1

Jenis Cover : Soft Cover
Tahun Terbit : Desember 2009


Sinopsis :

Momen paling penting sekaligus paling dikhawatirkan oleh setiap gadis adalah menghadapi pernikahan, malam pertama dan bulan madunya. Bayang-bayang beragam perasaan pun muncul, seperti; cemas, gelisah, khawatir, was-was, semuanya tiba-tiba muncul, karena ia takut, sesuatu yang tak pernah disangka-sangka bakal terjadi.

Bagi para gadis, sejatinya mengetahui hal-hal apa saja yang semestinya dilakukan untuk kepuasan dirinya dan pasangannya. Karena, kegagalan rumah tangga banyak terjadi akibat kegagalan malam pertama dan bulan madu. Dan, kegagalan malam pertama dan bulan madu, itu terjadi akibat ketidakpahaman mereka seputar hal apa saja yang harus diberikan kepada pasangan.

Buku "Panduan Malam Pertama" ini, akan membimbing pada gadis menjalani malam pertama dan bulan madunya. Penulis yang memang pakar di bidangnya menyuguhkan setiap pembahasan menarik dengan bahasa yang mudah dipahami.


Sumber " Pustaka Alkautsar"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"









"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog