Tampilkan postingan dengan label profile. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label profile. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Januari 2012

Ali Anwar, Penjaga Sejarah Bekasi

SEJARAH bagi sebagian orang membosankan. Namun untuk Ali Anwar, sejarah adalah mainan yang mengasyikkan. Ia menelusurinya ke ceruk terdalam, mengupas lapisan masa lalu dengan penuh kesabaran. Begitulah, Ali sudah kepincut cerita sejarah sejak remaja. Cerita tentang Bekasi tempo dulu yang dituturkan oleh orang-orang tua di kampungnya membangunkan imajinasi Ali. Ia hafal mulai dari kisah kejayaan Kerajaan Tarumanegara di masa Raja Purnawarman hingga heroisme perjuangan melawan kompeni Belanda.
Suatu ketika, Ali muda kecewa ketika mendapati kenyataan bahwa Bekasi kurang diakui dalam peta kebudayaan nusantara dan sejarah pergolakan kemerdekaan. Sejak itu, ia bertekad untuk mengabdikan diri, mengumpulkan serpihan sejarah Bekasi yang terserak. "Waktu itu, K.H. Noer Ali memberikan dorongan kepada saya untuk mendalami ilmu sejarah. Katanya, harus ada orang Bekasi yang menulis sejarah kampungnya sendiri," kata Ali mengenang wasiat K.H. Noer Ali, seorang tokoh masyarakat Bekasi.
Karya tulis sejarahnya yang pertama adalah "Bekasi Lautan Api", sebuah tulisan yang menggambarkan tentang pembumihangusan Bekasi oleh pasukan sekutu pada 13 Desember 1945. Tulisan ini berhasil menjadi juara lomba karya tulis tingkat pelajar dan mahasiswa yang diadakan oleh Kodam V/Jaya, Jakarta, pada tahun 1984. Ketika itu, Ali baru memasuki bangku kuliah di Universitas Indonesia pada Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya.
Tulisan tersebut bersumber dari cerita yang biasa didengar Ali dari orang-orang tua di kampungnya. Sejarah yang dianggap biasa saja oleh para pencerita itu ternyata menjadi sorotan media nasional dan internasional kala itu. Tulisan ini kemudian dikembangkan Ali selama dua puluh tahun dan diterbitkan menjadi buku berjudul Bekasi Dibom Sekutu : Pembumihangusan Kota dan Kampung-kampung di Bekasi oleh Tentara Sekutu-Inggris, 13 Desember 1945, Bekasi terbitan Komunitas Baca Bekasi, pada tahun 2006.
Proses penggalian sejarah ini tidak mudah. "Kesulitannya adalah pengumpulan data karena banyak yang tidak terdokumentasikan. Saksi sejarah pun rata-rata sudah meninggal," kata pria kelahiran Bekasi, 12 Januari 1965 ini.
Kelangkaan data tak membuat semangat Ali padam. Sebaliknya ia malah semakin bergairah. Ali melakukan pencarian dengan enjoy, meminjam istilah anak muda masa kini. Kegiatan pencarian data ia sebut sebagai tamasya ke masa lalu.
Berbagai buku sejarah telah lahir dari tangannya, antara lain, Seri Sejarah Peradaban Dunia, Gerakan Protes Petani Bekasi : Studi Kasus Awal Masuknya Sarekat Islam di Tanah Partikelir, Sejarah Bekasi Sejak Purnawarman sampai Orde Baru, Cuplikan Sejarah Patriotik Rakyat di Bekasi, Benda Cagar Budaya Kabupaten Bekasi, Konflik Sampah Kota, dan K.H. Noer Alie, Kemandirian Ulama Pejuang.
Bagi suami Lisnarti Wardah ini, sejarah harus ditulis agar tidak pupus ditempa waktu. Sejarah amat penting bagi generasi sesudahnya sebab ingatan orang sangat terbatas. Ali memandang, penulisan sejarah sama halnya dengan usaha mencari identitas kultural.
Bekasi, kata dia, sampai saat ini tidak memiliki akar budaya yang jelas. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu faktor karena Bekasi yang menjadi tempat berbaurnya berbagai macam kebudayaan di era kerajaan Tarumanegara. Selain itu mayarakat juga banyak terpengaruh kebudayaan asing akibat penjajahan. Ia mengusulkan perlu adanya rekonstruksi budaya untuk menciptakan kesatuan budaya dan kultur. "Ini adalah tugas kita bersama, terutama pemerintah daerah," kata pria yang sehari-hari bekerja sebagai wartawan Koran Tempo.
Selain sibuk mengeluti sejarah, Ali juga aktif di One Center Bekasi, Ketua Bekasi Heritage, Ketua Komunitas Budaya Pangkalan Bambu, dan pengurus Badan Kekeluargaan Masyarakat Bekasi (BKMB) Bhagasasi. (JU-16)***

Senin, 19 September 2011

Arwani Syaerozi, Doktor Indonesia Termuda di Maroko


Arwani Syaerozi (ppi)Wartaislam.com - Prestasi pria yang satu ini luar biasa. Dia meraih gelar doktor dalam usia 29 tahun. Gelar tersebut diraih Arwani Syaerozi, mahasiswa program doktor pada Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Muhammad V Rabat. Dia menuntut ilmu di universitas ternama di Maroko tersebut sejak tahun ajaran 2007-2008. Tidak hanya meraih gelar doktor termuda dari Indonesia, Kang Wawan, demikian dia biasa disapa, juga menyelesaikan pendidikan doktornya tepat waktu.

Disertasinya yang berjudul Konsep Maqashid Syari'ah dalam Pengembangan Hukum Fikih; Prespektif AlKiya Harrasi, berhasil dipertahankannya pada sidang yang dihadiri Dubes RI untuk Kerajaan Maroko, Tosari Widjaja beserta Ibu Mahjsusoh Ujiati, Staf KBRI Rabat, Pengurus Harian, dan Anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko, serta Dosen utusan dari Ma'had Atiq Imam Nafi'-Tanger, dosen, dan mahasiswa Maroko.

Dalam disertasinya, pria lajang yang lahir dan besar di lingkungan Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat ini menulis, Al Kiya Harrasi (Wafat 1110 M/504 H) sebagai ulama tafsir bermadzhab Syafi'i memiliki konsep-konsep maqashid syari'ah dalam buku tafsirnya yang berjudul Ahkamul Qur'an.
"Dia juga dianggap sebagai salah seorang ulama yang menjadi motor kajian maqashid syari'ah. Dan Harrasi sebagai ulama Syafi'iyah, pemikiran-pemikirannya sangat tepat untuk diaplikasikan di Indonesia yang mayoritas masyarakat muslimnya bermadzhab Syafi'i," kata Kang Wawan seperti dikutip dari situs PPI Maroko, Jumat (10/6/2011).

Ketika itu, dewan penguji yang terdiri dari Dr. Abder Razak Eljay, Dr. Mohammed Qajwi, Dr. Ahmad Amharazy 'alawi, dan Dr. Abdel Karim 'Akiwi, menganugerahi Arwani gelar Doktor dengan predikat SUMMA CUMLAUDE (Musyarraf Jiddan).

Pendidikan dasar hingga menengah ditempuh Kang Wawan di kampung halamannya. Dia melanjutkan pendidikan sarjana di fakultas Syari'ah dan Hukum Universitas al Ahgaff Yaman (2000-2004), kemudian menempuh studi master kajian Maqasid Syari'ah di Universitas Ezzitouna Tunisia (2005-2007).****(okez/WI-001)

Puisi-Puisi Sufi Pilihan Jalaluddin Rumi

Quantcast
Lukisan Diri Jalaluddin Rumi
Lukisan Diri Jalaluddin Rumi
DALAM sebuah puisi sufinya bertajuk “Syahadat Kita”, penyair klasik Persia terkemuka Jalaluddin Rumi mengajak para pembaca mengernyitkan dahi sejenak. Rumi menggelitik kesadaran religi kita: Dia berkata Tiada tuhan, lalu dia berkata kecuali Tuhan. Dari Tiada menjadi kecuali Tuhan maka menjelmalah Keesaan.
Dengan nukilan goresan pena itu, sesungguhnya Rumi menyingkap dan mengungkap situasi kepenyairannya sendiri. Tepat sekali bila pembaca menebak-nebak, disamping terkenal sebagai penyair, ia memang seorang ulama besar (mullah). Nama lengkapnya Jalaluddin Rumi ialah Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri. Lahir pada 30 September 1207 Masehi di Balkh (kini terletak di perbatasan Afganistan) dan meninggal pada 17 Desember 1273 Masehi di Konya (wilayah Turki, Asia).
Jalaluddin Rumi dibesarkan dalam keluarga dan masyarakat yang memberikan semangat keagamaan padanya. Ayahnya, Bahauddin Walad mendapat kedudukan tinggi di kalangan keagamaan di Khorasan, sebelum ia dengan tiba-tiba mengungsi ke Konya wilayah kekuasaan Turki Saljuq menjelang penyerbuan bangsa Mongol. Di Konya, Bahauddin mendapat bantuan lindungan dan bantuan raja serta penghargaan rakyat sebagai khotib dan guru agama.
Rumi sendiri, setelah menyelesaikan pendidikan bertahun-tahun di Aleppo dan Damsyik, pada saatnya pula mengajar dan menjadi khatib di Konya. Sepanjang hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari tiga ribu kasidah (ode) dan ghazal (lirik). Bagi pembaca tanah air, buku kumpulan puisi Rumi yang sangat terkenal yakni Masnawi. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain.
Pada bagian pendahuluan bukunya itu, Jalaluddin Rumi mengatakan:
Aku tidak menyanyikan Masnawi agar orang membawanya dan mengulang-ulangnya pula, akan tetapi agar orang meletakkan buku itu di telapak kaki dan terbang bersamanya. Masnawi adalah tangga pendakian menuju kebenaran. Jangan engkau pikul tangga itu di pundakmu sambil berjalan dari satu kota ke kota lain.
Terbang bersamanya, kata Rumi di atas. Demikian pula puisi-puisi sufi yang akan saya tampilkan berikut,  berupaya agar semangat ketuhanan yang ada dalam diri manusia dapat diusahakan lahir kembali. Terbang bersama makna tersembunyi puisi sufi. Atau seperti yang dianjurkan Rumi adalah melakukan perjalanan dari diri (yang rendah) ke diri (yang tinggi) — from lower self to higher self.
Dalam sebuah puisinya Rumi mengumpamakan perjalanan dari diri ke dalam diri sebagai perjalanan ‘sebutir pasir yang menyimpang dari jalan yang lazim dan memasuki tubuh tiram, dan setelah lama terkurung akan muncul sebagai mutiara’.
Lantaran banyaknya puisi-puisi sufi yang telah ia ciptakan dan agar postingan ini tidak terlalu panjang, maka pada kesempatan ini akan saya pilihkan beberapa buah saja diantaranya. Selamat membaca dan menghayatinya:
Puasa Membakar Hijab
Rasa manis yang tersembunyi,
Ditemukan di dalam perut yang kosong ini!
Ketika perut kecapi telah terisi,
ia tidak dapat berdendang,
Baik dengan nada rendah ataupun tinggi.
Jika otak dan perutmu terbakar karena puasa,
Api mereka akan terus mengeluarkan ratapan dari dalam dadamu.
Melalui api itu, setiap waktu kau akan membakar seratus hijab.
Dan kau akan mendaki seribu derajat di atas jalan serta dalam hasratmu.

Disebabkan Ridha-Nya
Jika saja bukan karena keridhaan-Mu,
Apa yang dapat dilakukan oleh manusia yang seperti debu ini
dengan Cinta-Mu?

Letak Kebenaran
Kebenaran sepenuhnya bersemayam di dalam hakekat,
Tapi orang dungu mencarinya di dalam kenampakan.

Rahasia yang Tak Terungkap
Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta),
Itu semua hanyalah kulit.
Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah
rahasia yang tak terungkapkan.

Pernyataan Cinta
Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam kata,
Kusimpan kasih-Mu dalam dada.
Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu,
Segera saja bagai duri bakarlah aku.
Meskipun aku diam tenang bagai ikan,
Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan
Kau yang telah menutup rapat bibirku,
Tariklah misaiku ke dekat-Mu.
Apakah maksud-Mu?
Mana kutahu?
Aku hanya tahu bahwa aku siap dalam iringan ini selalu.
Kukunyah lagi mamahan kepedihan mengenangmu,
Bagai unta memahah biak makanannya,
Dan bagai unta yang geram mulutku berbusa.
Meskipun aku tinggal tersembunyi dan tidak bicara,
Di hadirat Kasih aku jelas dan nyata.
Aku bagai benih di bawah tanah,
Aku menanti tanda musim semi.
Hingga tanpa nafasku sendiri aku dapat bernafas wangi,
Dan tanpa kepalaku sendiri aku dapat membelai kepala lagi.

Hati Bersih Melihat Tuhan
Setiap orang melihat Yang Tak Terlihat
dalam persemayaman hatinya.
Dan penglihatan itu bergantung pada seberapakah
ia menggosok hati tersebut.
Bagi siapa yang menggosoknya hingga kilap,
maka bentuk-bentuk Yang Tak Terlihat
semakin nyata baginya.

Kesucian Hati
Di manapun, jalan untuk mencapai kesucian hati
ialah melalui kerendahan hati.
Maka dia akan sampai pada jawaban “Ya” dalam pertanyaan
Bukankah Aku Tuhanmu?

Memahami Makna
Seperti bentuk dalam sebuah cermin, kuikuti Wajah itu.
Tuhan menampakkan dan menyembunyikan sifat-sifat-Nya.
Tatkala Tuhan tertawa, maka akupun tertawa.
Dan manakala Tuhan gelisah, maka gelisahlah aku.
Maka katakana tentang Diri-Mu, ya Tuhan.
Agar segala makna terpahami, sebab mutiara-mutiara
makna yang telah aku rentangkan di atas kalung pembicaraan
berasal dari Lautan-Mu.

Tuhan Hadir dalam Tiap Gerak
Tuhan berada dimana-mana.
Ia juga hadir dalam tiap gerak.
Namun Tuhan tidak bisa ditunjuk dengan ini dan itu.
Sebab wajah-Nya terpantul dalam keseluruhan ruang.
Walaupun sebenarnya Tuhan itu mengatasi ruang.

Lihatlah yang Terdalam
Jangan kau seperti iblis,
Hanya melihat air dan lumpur ketika memandang Adam.
Lihatlah di balik lumpur,
Beratus-ratus ribu taman yang indah!

Keterasingan di Dunia
Mengapa hati begitu terasing dalam dua dunia?
Itu disebabkan Tuhan Yang Tanpa Ruang,
Kita lemparkan menjadi terbatasi ruang.
***
Puisi sufi, meminjam pernyataan penyair sufi Indonesia Sutardi Calzoum Bachri adalah perwujudan seorang penyair yang sadar sebagai makhluk spiritual. Sebagai makhluk spiritual dia selalu berusaha mengungkapkan kerinduannya akan nilai-nilai spiritual demi menciptakan keutuhan dirinya.
Tanpa dimensi spiritual, manusia takkan pernah bisa menyempurnakan kemanusiaannya. Ia hanyalah robot berdaging yang hidup di bumi dengan segala aktivitas bernilai relatif, yang dijalankannya dari hari ke hari sekedar menunggu atau menunda saat kematiannya.
Lihat pula posting saya sebelumnya dan klik “Puisi-puisi Cinta Pilihan“.  Semoga sajian kami memperkaya khazanah jiwa para pembaca.
*****
Referensi:
1. Kasidah Cinta Jalaluddin Rumi, Yogyakarta: Tarawang, Maret 2000.
2. Jalaluddin Rumi Kisah Keajaiban Cinta, Yogyakarta: Penerbit Kreasi Wacana, Cetakan Kelima Oktober 2003.
3. Abdul Hadi WM, “Sastra Transedental dan Kecenderungan Sufistik Kepengarangan di Indonesia“, makalah Simposium Festival Istiqlal Tahun 1991.
Instrumentalia yang tengah pembaca dengarkan sembari menyimak Puisi-puisi Sufi Pilihan Jalaluddin Rumi ini bertitel The Lonely Shepherd. Sebuah koleksi khusus mp3, yang saya unggah di situs http://soundcloud.com.

Selasa, 02 Agustus 2011

Iyom Rochaeni, Revolusi Sampah dari Taman Sari

Wartaislam.com - “Zaman global sekarang ini mana mungkin ada yang beli tas dari sampah,” cemooh para tetangga dan ibu-ibu PKK di bilangan Cihampelas, jalan Bongkaran, Tamansari, Bandung, kepada Iyom Rochaeni (56), 5 tahun silam.
Kini, situasi itu sudah berubah, Iyom yang biasa dicemoohkan tetangga karena bergelut dengan sampah kering, kini menjadi panutan dan sosok kebanggaan di daerahnya.
Perjalanan meniti sukses Iyom Rochaeni bermula 5 tahun lalu, awal Maret 2006. Saat itu Iyom dan suaminya Emuy Sunardi, yang menjabat sekretaris RW serta beberapa jajaran RW setempat, kedatangan petugas dari Koalisi Untuk Jawa Barat Sehat (KUJBS) dan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berpusat di luar negeri.
Saat itu, petugas KUJBS hendak mensosialisasikan Cikapundung bersih. Bongkaran menjadi salah satu daerah garapan KUJBS lantaran jarak sungai Cikapundung dengan wilayah tersebut sangat dekat. Belum lagi kebiasaan buruk masyarakat setempat yang terbiasa membuang sampah ke sungai Cikapundung.
Salah satu bentuk sosialisasi Cikapandung Bersih yaitu dengan memilah sampah kering dan sampah basah dari masyarakat. Sampah basah atas instruksi KUJBS oleh masyarakat setempat kemudian dimanfaatkan menjadi kompos multi-vitamin untuk menyuburkan tanah.
Beberapa minggu setelah sosialisasi Cikapundung Bersih dicanangkan, penanganan sampah basah di daerah Bongkaran berjalan lancar. Namun, penanganan sampah kering masih tersendat. Alasannya, sampah jenis ini yang banyak berasal dari bahan plastik sangat sulit dihancurkan.
Petugas KUJBS lantas meminta bantuan para warga yang dipandang cukup memiliki jiwa kreatif, untuk memanfaatkan sampah kering menjadi kerajinan. Namun, setelah dicoba, tak ada seorangpun warga yang mampu melakukannya.
Iyom pun mencoba memanfaatkan sampah kering tersebut dengan menempelkan beberapa sampah plastik, semisal bungkus kopi yang memiliki kesamaan warna dan gambar ke dus bekas sepatu untuk dibuatkan tas jinjing. Sayangnya, usaha ini mengalami kendala. Beberapa kali bungkus plastik yang ditempel, lepas tak dapat bertahan lama.
Iyom tak lantas menyerah. beberapa kali ia memandangi tumpukan sampah kering di hadapannya. hatinya merasa yakin, sampah yang seolah tak berguna itu pasti bisa bermanfaat dan menghasilkan uang.
Dengan bakat menjahit yang dimiliki, ia memberanikan diri untuk menerapkan pola jahit dengan objek yang kini berbeda dari biasanya. Dengan sabar, satu persatu bungkus kopi yang telah dibersihkan dan dikeringkan, ia rangkai dengan jahitan untuk kemudian berubah rupa menjadi tas jinjing.
Kesabarannya berbuah manis. Senyum merekah dari bibirnya setelah melihat buah tangan dia ternyata menghasilkan sesuatu yang menarik. Sebuah tas jinjing unik terbuat dari rangkaian bungkus kopi yang dibalut dengan kesamaan warna dan gambar, tampak sangat rapi dan cantik. Tas jinjing ini pun dibeli Mr Watter, seorang perwakilan LSM asing, seharga 25 ribu, sebagai bentuk dukungan terhadap Iyom dalam mengatasi Cikapundung Bersih.
Setelah berhasil membuat tas jinjing, beberapa kerajinan pun berhasil dibuatnya. Bahkan beberapa tas, dompet, taplak meja, pot bunga, mangkuk, tempat pinsil dan lain-lain telah laku terjual baik oleh warga lokal hingga turis mancanegara.
Hinaan yang Memotivasi
Perjalanan Iyom menjadi seseorang yang kreatif dengan karyanya, tentu tak lepas dari tantangan silih berganti yang harus dihadapi. Tak hanya dari tetangga, namun juga keluarga. Suami dan ketiga anaknya kerap mempermasalahkan listrik yang dipakai untuk menjahit plastik.
Saat berpapasan, para tetangga dan Ibu PKK kerap melontar cemoohan kepada Iyom “ ‘Zaman global sekarang ini mana mungkin ada yang beli tas dari sampah.’ ‘Bu ini sampahnya, bisa buat bikin tas.’ Bahkan ada yang sengaja membawa pampers dan sampah kerumah hanya sekedar bertanya apakah barang yang dibawanya bisa didaur ulang,” kenang Iyom.
Meskipun beragam hinaan, sindiran yang datang terkadang menjengkelkan hatinya, namun Iyom mencoba bersabar. Ia berusaha istiqomah untuk tetap dengan hobinya mengelola sampah menjadi sesuatu yang berguna.
“Karena ini kesenangan ibu, ibu tidak mikir apakah barang ini laku atau tidak. Ibu hanya ingin mencoba saja,” ujarnya.
Sanggar Pelatihan Untuk Semua Orang
Semangat yang membara, tekad yang membaja, usaha yang tekun dan kreativitas yang seolah tak berujung pada diri seorang Iyom, mulai menampakkan hasil. Tak hanya membuat kerajinan dan mengikuti pameran, tawaran sebagai Trainer dalam berbagai pelatihan daur ulang pun membludak dari berbagai kota di Indonesia.
Bahkan pada beberapa kesempatan, seringkali sekelompok orang dari berbagai latar belakang datang ke rumahnya di Rancaekek, Bandung, hanya untuk belajar menganyam limbah plastik menjadi tas atau keranjang. Tak jarang pula rombongan turis mancanegara dari Amerika, Belanda, Australia, Jerman, dan Inggris mengunjungi kediamannya, lantas membawa pulang beberapa hasil kreasi Iyom sebagai oleh-oleh.
Beberapa penghargaan pun pernah diraih Iyom. Satu diantaranya dari Walikota Bandung, H. Dada Rosada atas komitmennya untuk pelestarian lingkungan hidup, yang diberikan bulan Juni 2008 lalu.
Namun, itu semua tak lantas membuat Iyom jumawa. Bahkan ada satu lagi obsesinya yang belum tercapai. Memiliki sanggar pribadi, sebagai wahana pengasah kreativitas berbagai kalangan, untuk menggapai asa kemandirian. "Saya ingin punya sanggar sendiri supaya dapat dengan leluasa melatih lebih banyak orang, apalagi mereka yang menengah ke bawah. Sehingga, mereka bisa mendapatkan penghasilan sendiri dari mengelola limbah plastik ini. Lebih banyak orang kan berarti lebih banyak limbah yang termanfaatkan juga," ungkapnya.***(alhikmah/WI-001)

Ida, Melawan Pemurtadan adalah Jihad


Wartaislam.com - Di dalam memandang kaum muslimah yang eksis terhadap persoalan pemurda, Ida Trusdida, anggota Divisi Sosial FUUI mengatakan muslimah kita kurang peduli terhadap hal ini. Justeru ia menginginkan setiap kelompok pengajian yang ada semestinya  turun menangani persoalan yang terjadi di sekelilingnya.Menurutnya, masih banyak umat Islam yang ngajinya juga belum benar.
"Muslimah Jawa Barat harus peduli dan turun ke daerah terpencil karena di sana rawan pemurtadan. Para penyuluh agama pun harus turun ke sana" tegasnya kepada wartaislam.com dalam sebuah kesempatan.
Ida mengungkapkan seringkali untuk melakukan hal ini terkendala urusan dana. Kalau turun ke daerah itu misalnya tak ada dana, itu sebenarnya bisa diusahakan. Kemudian  katanya, mereka kaum itu sangat licik. Justeru menurutnya umat islam jangan kalah siasat dari orang Nasrani karena dirinya juga sudah berhadapan dengan pendetanya sewaktu di Garut. "Harus ada keberanian untuk melakuan hal itu sebagai jihad di jalan Allah," ungkapnya.
Masih menurutnya, muslimah kita seringkali menjadi sasaran mereka dengan pemberian sembako karena mereka banyak di rumah saat suaminya sedang bekerja di rumah." Ini terkait urusan perut. Selain membantu mereka startegi lain yang harus dilakukan adalah  menguatkan aqidahnya dengan besosialisasi kepada mereka yaitu memberikan pemahaman agama untuk kaum muslimah secara baik," ujarnya.
Ida pun mengajak kaum muslimah yang punya wadah untuk bergabung dengan organisasi lain yang terjun di ranah pemurtadan. Ia berharap lembaga muslimah yang ada bisa duduk satu meja untuk membicarakan ." Tidak harus banyak tetapi yang terpenting  adalah bisa menyatukan visi dan misinya agar mampu berjuang bersama menghadapi pemurtadan dan kemudian bergerak melakukan aksi kepedulian bagi umat islam yang tinggal di pedesaan dan rawan untuk bisa dimurtadkan," pungkasnya.*** (WI-003)
Melawan Pemurtadan Jihad Di Jalan Allah

Luthfi Afandi, Perindu Tegaknya Syariat Islam

Wartaislam.com - Obsesinya adalah tegaknya Syariat dan Khilafah Islamiyah. Jika tercipta, maka persoalan umat yang mendera akan dapat diselesaikan secara baik. Kini, ia berjuang untuk mewujudkan semua itu.
Luthfi Afandi adalah sosok muda yang memiliki visi dan misi cukup kuat di dalam berdakwah. Tak mengherankan bila waktunya selama ini digunakan secara optimal untuk hal itu. Ia begitu menyadari bila untuk mengubah  kondisi umat Islam yang ada maka cara yang harus dilakukan adalah dengan dakwah. Ini sejak dulu telah dilakukan Rasulullah. Umat Islam akan berubah bila menang terjadi pengubahan dalam cara pandang atau pemikirannya. Masyarakat harus diajak memahami Islam secara utuh sehingga cara berpikirnya haruslah dengan pemahaman Islam yang baik.
“Masalah yang dihadapi umat saat ini berakar dari tidak tegaknya Syariat Islam. Sebagai contoh, pornografi dan seks bebas akan sulit diberantas, kendati para da’i telah berkoar-koar tentang dosa dan bahaya hal ini. Sayang karena di sini tak menggunakan aturan Islam maka tak ada hukum tentang perzinaan yang menyebabkan seks bebas semakin meningkat. Maka bila aturan Islam soal zina ditegakkan secara baik maka efek jera itu akan tercipta dengan sendirinya dan dosa pelakunya akan tertebus” terang pria yang lahir di Karawang, 1 Oktober 1978 kepada wartaislam.com di kantornya di Pasirkaliki 143 beberapa waktu lalu.
Terkait persoalan tersebut, ia pun bersama Tim Kajian Raperda Miras HTI Kota Bandung menjadi garda terdepan mengkritisi aturan yang menjadi produk hukum DPRD Kota Bandung ini. Kendati dalam draft telah terjadi perubahan dengan adanya Pelarangan, Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol namun pihaknya tetap bersikukuh menolak legalisasi miras. Artinya aturan boleh ada tetapi intinya melarang  miras dilegalisasi atau miras itu dilarang saja secara total. “Apa jadinya, jika aturan legalisasi miras terjadi maka bukan mustahil aturan kemaksiatan lainnya bisa muncul karena dipicu adanya hal ini. Narkoba saja yang dilarang dengan aturan hukum yang jelas masih banyak yang melanggar, apalagi ini dilegalkan. Bukankah ini berarti sama saja dengan memberi kesempatan orang untuk berbuat dosa ?” tegas putra bungsu pasangan Nanang (alm) dan Mardiyah.
Suami dari dr. Arti Rosaria Dewi ini menduga sepertinya ada berbagai kepentingan terjadi dalam soal miras ini. Penetapan peraturan tersebut yang terjadi tampak tarik ulur. Luthfi telah menegaskan baik dengan cara menulis di media massa maupun berdialog di TV atau radio swasta di Kota Kembang, tak ada satupun alasan yang bisa melegalkan miras dalam bidang apapun. Justeru miraslah penyebab hancurnya akhlak dan semangat masyarakat dalam bekerja. Ia mengutip  pernyataan Ketua Pansus Miras ini sendiri, jika miras dilarang total maka yang pasti miras akan hilang dari Kota Bandung ini. “Jadi kalau begitu, mengapa harus dilegalkan ?” Tanya ayah dari Muhammad Azka Afkari dan Ghiza Mursyida ini.
Namun begitu, Luthfi pun sadar jika dalam pertarungan ideologi tentu konskuensi pahit akan diterimanya. Oleh sebab itu bila aturan legalisasi miras itu gol maka ia bersama umat Islam tidak akan berhenti melakukan amar maruf nahyi munkar. Dia menyadari memaksakan kehendak pun tentu akan ada konsekuensinya pula. Hanya ia akan mengatakan kepada umat, patut dipertanyakan integritas dan kualitas para anggota dewan terutama yang muslim bila berani melegalkan aturan yang bertentangan dengan Hukum Allah. Dia mengatakan jika aturan itu digolkan maka bukan saja dosa bagi peminum, penjual, perusahaan yang memperoduksi miras, distributor tetapi anggota dewan yang melegalkannya pun akan tertimpa dosa pula dan anak cucu mereka akan mencatat jika orangtuanya/kakek neneknya telah mengeluarkan aturan yang justeru merusak akhlak anak-anak dan cucu mereka.
Pria yang mengajar  Pendidikan Agama Islam di Uinversitas Padjajaran ini menegaskan miras hanyalah satu satu problem umat. Masih banyak problem lain yang harus dihadapi. Hanya saja di negeri ini sulit untuk menciptakan kehidupan yang benar-benar islami karena cara pandang masyarakatnya masih jauh dari Islam itu sendiri. Untuk melihat sejauh mana kehidupan Islam itu tercipta secara baik melalui tiga komponen. Pertama, pemikirannya. Kedua, perasaannya dan ketiga, aturan yang ditegakkannya. Ketiga hal itu di Indonesia belum dapat diterapkan secara utuh. “Coba saja kita lihat, hukuman terhadap pelaku perzinaan saja dengan hukum rajam dianggap kejam. Sehingga inilah yang menyebabkan sebuah tantangan dakwah untuk menyadarkan masyarakat muslim untuk mengedpankan aturan Allah daripada sekedar mengedepankan perasaannya saja,” urai dai muda yang sempat pula menulis secara bersama rekannya dua buku yaitu “Gerakan Zakat untuk Indonesia” dan “Ilusi Negara Demokrasi.
Sehingga menurutnya, agar mampu menegakkan Syariat Islam maka perjuangan ini harus dilakukan segenap elemen umat Islam yang ada. Hal ini merupakan tanggung jawab seluruh umat Islam. HTI memposisikan diri sebagai leadership dalam hal ini. “Tak mengherankan jika sekitar tahun 80-an semasa mulai dikenal HTI hanya diikuti 2-3 orang saja kini telah banyak umat Islam yang tertarik dan bergabung dengan HTI karena rindu tegaknya Syariat dan Khilafah Islamiyah,” ujar lelaki yang menjadi Direktur WakafPro 99, Pimpinan Tabloid AL-HIKMAH, Humas HTI Jawa Barat, Ketua Tim Kajian Raperda Miras HTI Kota Bandung dan pengelola Social Entrepreneurship Leader (SEL).
Tidak hanya itu, Luthfi sendiri cukup peduli pula pada persoalan ekonomi umat. Ia melihat kemiskinan yang terjadi di negeri ini adalah kemiskinan kultural dan kemiskinan struktural. Jika kemiskinan kultural sebagai akibat dari kondisi orangtuanya, sehingga anaknya tercipta seperti itu. Sedangkan kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang diciptakan sebagai akibat adanya aturan yang tidak pro rakyat dan lebih mengutamakan kaum kapitalis. Salah satu ciri sistem ekonomi kapitalis ini adalah kebijakan yang menghilangkan subsidi, sebagai contoh kenaikan harga BBM dan TDL yang terjadi akhir-akhir ini. Sehingga hubungan Pemerintah dengan rakyatnya bukan lagi antara pelayan dan yang dilayani namun sudah berubah menjadi hubungan penjual dan pembeli. Sehingga rakyat yang miskin tentu saja akan tersingkirkan. Sistem Kapitalis ini justeru menguntungkan pihak asing dan memiskinkan rakyat negeri ini karena keuntungannya bukan dirasakan rakyat tetapi malah bagi pihak asing. Satu contoh yang terjadi di Freeport atau lokasi SDA di seluruh Indonesia. “Padahal Rasulullah telah menegaskan bila almau (air), alkalaa (padang rumput dan an-naar (api atau sumber daya alam) harus dikuasai secara bersyarikat atau oleh Negara. Bukan justeru malah diberikan kepada pihak asing. Menurut pria yang gemar sayur asam ini, pihak asing lebih menekankan pada sisi profit oriented saja tanpa memikirkan kesejahteraan bagi rakyat di sekitar lokasi yang dieksploitasi. Akibatnya rakyat di sana bukannya sejahtera malah yang terjadi adalah kemiskinan.
Solusi untuk memecahkan problem ini adalah kembali kepada aturan Islam yang sesungguhnya ungkap pria yang telah menimba ilmu di SDN 5 Teluk Ambul dan MI Mathlaul Anwar, Karawang (1990), MTS Mathlaul Anwar (1993), MA Mathlaul Anwar (1996), Fakultas Hukum UNPAD  tamat tahun 2001 dan kini sedang menyelesaikan S2 di Unisba dengan mengambil Hukum Islam.
Kembali kepada persoalan umat yang ada, Luthfi baik secara lembaga atau persoarangan berupaya terus melakukan dakwah tiada henti. Ia pun terus berjuang pula untuk tegaknya Syariat dan Khilafah Islamiyah. Ada baiknya, tambahnya agar umat Islam sendiri sudah harus mengesampingkan perbedaan-perbedaan soal khilafiyah atau furuiyah yang dapat memecah persatuan umat Islam. Sudah seharusnya umat Islam mengokohkan ukhuwah Islamiyah untuk mewujudkan kehidupan yang benar-benar islami yang ada dalam lindungan Allah SWT.
Bahkan pemilik slogan hidup “Idealisme Seumur Hidup” mengungkapkan jika ulama memiliki posisi yang strategis di dalam menyampaikan dakwah. Ulama adalah sosok panutan atau teladan bagi umat. Materi dakwah yang disampaikan semestinya tidak sekedar pada tatanan rituial ibadah semata. Bukan berarti hal itu tidak baik, melainkan perlu pula menyadarkan umat dan mengubah pemikirannya tentang Islam. Sudah saatnya mereka kembali kepada aturan Islam yang sesungguhnya agar selamat dunia dan akhirat.
Menarik mengikuti perjalanan hidup Luthfi Afandi. Semula ia tak berpikir akan terjun ke dunia dakwah. Sebagai anak yang dididik dengan kejujuran dan kesederhanaan oleh kedua orangtuanya. Tidak lantas membuatnya menjadi remaja yang tampil dengan sosok utuh. Ia juga sempat ikutan nongkrong dengan anak-anak sebayanya, berkelahi di terminal bahkan merokok. Tetapi ia menyadari semua itu takkan berguna sehingga ia sadar untuk segera menggapai cita-citanya. Orangtuanya begitu menekankan dalam soal pendidikan. Lebih baik tidak membeli motor, kalaupun ada uangnya lebih baik untuk sekolah saja. Luthfi ingat betul itu, makanya ia berputar haluan dengan terjun sekolah secara baik sampai bercita-cita menjadi seorang pengacara karena ia merasa tidak ingin selalu dicap keluarga guru serta selalu lulus dari IAIN (UIN, red). Maka ia memilih Unpad dengan mengambil fakultas hukum.
Di tempat kuliah, apa yang dipelajarinya ternyata hukum-hukum sekuler bukan hukum Islam. Terlebih waktu di semester I, sang ayah wafat hingga hal ini yang membuatnya tak bisa kos seperti mahasiswa yang lain. Maka Mesjid Al-Jihad Unpad, di jalan Dipati Ukur, Kota Bandung menjadi pilihannya. Konsekuensinya ia harus siap membantu membersihkan mesjid, adzan, jadi imam dan dikondisikan menjadi dai. Di sinilah ia bersentuhan dengan dunia dakwah hingga dalam bulan Ramadhan ia disuruh menggantikan seniornya untuk ceramah tarawih yang dijemput dengan mobil. “Dapat dibayangkan oleh Akang sebagai pemula, ketika melakukan itu saya keluar keringat dingin dan kaki gemetar. Alhamdulillah hal itu dapat dilakukan secara baik sehingga sampai saat ini saya bisa melakukannya secara baik semoga Allah meridloi apa yang telah saya lakukan,” kenang pria yang memiliki tokoh idola Rasulullah dan Syekh Taqiyudin An-Nabhani.
Dari sinilah ia berkenalan dengan HTI melalui diskusi dan penajaman pemikiran, apalagi hukum sekuler yang dipelajari sangat bertentangan dengan garis perjuangan HTI tetapi itu tetap dipelajarinya sebagai upaya untuk mewujudkan amanah sang ayah. Namun dalam hati ia meyakini bagaimanapun Hukum Islamlah yang paling sempurna. Tak jarang hal ini yang menyebabkan ia berdebat dengan dosen hukumnya. “Biarpun hukum sekuler yang dipelajari saat itu namun saya tetap mengajak untuk menggunakan hukum Allah di dalam mengatasi persoalan masyarakat” ucapnya.
Pada akhirnya, Luthfi berujar bahwa setiap zaman tentu ada tantangannya. Orang yang memegang agama sama artinya memegang bara api. Melepas bara api tentu akan lepas dari rasa panas. Namun yang memegang tentu akan terasa panas. Maka untuk saat ini bisa lepas dari riba saja sudah luar biasa, mampu melakukan aktivitas muamalah secara Islami, luar biasa dan mampu mendidik anak secara islami, sungguh luar biasa. Sehingga sebagai muslim, sudah tentu harus memegang aturan Islam daan taat kepada Allah sebagai cermin dari diri seorang muslim yang mencintai Syariat Islam.***(WI-003)

Arwani Syaerozi, Doktor Indonesia Termuda di Maroko


Arwani Syaerozi (ppi)Wartaislam.com - Prestasi pria yang satu ini luar biasa. Dia meraih gelar doktor dalam usia 29 tahun. Gelar tersebut diraih Arwani Syaerozi, mahasiswa program doktor pada Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Muhammad V Rabat. Dia menuntut ilmu di universitas ternama di Maroko tersebut sejak tahun ajaran 2007-2008. Tidak hanya meraih gelar doktor termuda dari Indonesia, Kang Wawan, demikian dia biasa disapa, juga menyelesaikan pendidikan doktornya tepat waktu.
Disertasinya yang berjudul Konsep Maqashid Syari'ah dalam Pengembangan Hukum Fikih; Prespektif AlKiya Harrasi, berhasil dipertahankannya pada sidang yang dihadiri Dubes RI untuk Kerajaan Maroko, Tosari Widjaja beserta Ibu Mahjsusoh Ujiati, Staf KBRI Rabat, Pengurus Harian, dan Anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko, serta Dosen utusan dari Ma'had Atiq Imam Nafi'-Tanger, dosen, dan mahasiswa Maroko.
Dalam disertasinya, pria lajang yang lahir dan besar di lingkungan Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat ini menulis, Al Kiya Harrasi (Wafat 1110 M/504 H) sebagai ulama tafsir bermadzhab Syafi'i memiliki konsep-konsep maqashid syari'ah dalam buku tafsirnya yang berjudul Ahkamul Qur'an.
"Dia juga dianggap sebagai salah seorang ulama yang menjadi motor kajian maqashid syari'ah. Dan Harrasi sebagai ulama Syafi'iyah, pemikiran-pemikirannya sangat tepat untuk diaplikasikan di Indonesia yang mayoritas masyarakat muslimnya bermadzhab Syafi'i," kata Kang Wawan seperti dikutip dari situs PPI Maroko, Jumat (10/6/2011).
Ketika itu, dewan penguji yang terdiri dari Dr. Abder Razak Eljay, Dr. Mohammed Qajwi, Dr. Ahmad Amharazy 'alawi, dan Dr. Abdel Karim 'Akiwi, menganugerahi Arwani gelar Doktor dengan predikat SUMMA CUMLAUDE (Musyarraf Jiddan).
Pendidikan dasar hingga menengah ditempuh Kang Wawan di kampung halamannya. Dia melanjutkan pendidikan sarjana di fakultas Syari'ah dan Hukum Universitas al Ahgaff Yaman (2000-2004), kemudian menempuh studi master kajian Maqasid Syari'ah di Universitas Ezzitouna Tunisia (2005-2007).****

(okez/WI-001)

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"









"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog