Tampilkan postingan dengan label Info Ulama Dan Habaib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Ulama Dan Habaib. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juli 2011

Ilham Habibie: Islam Indonesia Sangat Inklusif

Ilham Habibie: Islam Indonesia Sangat Inklusif
Ilham Habibie

REPUBLIKA.CO.ID, BANDA ACEH - Ketua Presidium Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat Ilham Akbar Habibie mengungkapkan bahwa Islam di Indonesia sangat inklusif (terbuka) bagi siapapun, sehingga sangat toleran dengan agama lain.

"Toleransi agama yang terbina selama ini di Indonesia karena pemeluk agama Islam di Indonesia sangat inklusif," katanya pada kegiatan Musyawarah wilayah (Muswil) III Aceh di Banda Aceh, Jumat malam.

Menurut dia, sikap seperti ini memang sudah menjadi sikap dasar dan turun-temurun bagi orang Islam di Indonesia terhadap pemeluk agama lain. "Kita sebagai orang Islam diharuskan terbuka dengan orang lain," sebut anak pertama mantan Presiden BJ Habibie ini.

Ilham berharap, mudah-mudahan toleransi yang sudah berjalan lama ini bisa terus diperlihara dan dipertahankan, sehingga masyarakat Indonesia bisa selalu hidup dalam suasanan rukun dan damai.
"Sikap seperti ini sudah menjadi khas negara kita," kata dia.

Selain itu, kata dia, organisasi ICMI merupakan kumpulan tiga buah unsur yakni unsur Islam, unsur cendikiawan dan orang Indonesia. Untuk itu secara moral organisasi ini juga bertugas menjaga agar toleransi ini terus terbina.

Ia menambahkan, toleransi yang terbina selama ini di Indonesia karena sikap saling menghargai satu sama lain. "Negara kita memiliki banyak pulau, berbagai macam suku jadi kita tetap saling menghargai agar toleransi tetap terjaga," tambahnya.

Untuk terus menjaga negara tetap toleran, organisasi ICMI terus memberikan masukan-masukan untuk pemerintah dalam mengelola negara tercinta ini. "Hingga saat ini, kita tetap jadi mitra pemerintah," terangnya.

Ilham berharap agar pemerintah selalu bersedia mendengar masukan yang diberikan oleh organisasi lain demi terwujudnya toleransi. "Insya-Allah, pemerintah bisa menerima masukan dengan lapang dada, karena masukan yang diberikan semua bertujuan menjaga dan memajukan bangsa ini," demikian Ilham.
Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: Antara

Sabtu, 09 April 2011

Film '?' Hanung Layak Diberi Judul 'Sang Murtadin'

Jakarta (voa-islam) - Toleransi ala Hanung seperti jalan yang menghantarkan umat ini pada sebuah pendangkalan aqidah dan jembatan menuju Neraka. Aroma pluralisme dalam film ”?” terasa begitu menyengat. Stereotype umat Islam yang buruk, dilukiskan Hanung dengan cara pandang yang lebay, tendensius, dan fatal.  
Setelah Film “Perempuan Berkalung Surban” menuai kontroversi, Sutradara Hanung Bramantyo kembali menggarap film terbarunya yang hanya diberi tanda “?” (tanda tanya). Difilm ke-14 nya tersebut, Hanung menggaet beberapa bintang film muda, seperti Reza Rahardian, Revalina S Temat, Agus Kuncoro, Endhita, Rio Dewanto, Hengky Sulaeman, David Chalik, dan Glenn Fredly.
Film ”?” merupakan hasil produksi kerjasama antara Mahaka Picture dan Dapur Film ini, dimana Erick Thohir sebagai Produser Eksekutifnya, Titien Wattimena (penulis naskah), Tya Subiakto (penata musik),  dan Yadi Sugandi (penata fotografi). Untuk lokasi syuting dipilih di kota Semarang, Jawa Tengah.   
“Saya pilih tempat di Semarang, karena di sana ada lima agama, tapi tidak pernah terjadi penusukan terhadap umat beragama yang berbeda. Ini sebuah film yang menceritakan kegelisahan saya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Saya ingin berstatmen dalam bentuk film,” tukas Hanung.
Saat menyaksikan launcing pemutaran film berdurasi 100 menit ini di bioskop Jakarta Teater, voa islam mencatat, ada beberapa adegan yang sangat menyengat dan melukai hati umat Islam. Aroma pluralisme sudah bisa dirakan saat melihat poster film itu dengan kata: “masih pentingkah kita berbeda?”. Bahkan Hanung akan memberi doorprize senilai Rp. 100 juta kepada penonton yang memberikan judul untuk film “?” ini.
Melukai Umat Islam
Di awal-awal film itu, penonton sudah disengat dengan hal yang sensitif, seperti  adegan penusukan terhadap seorang pendeta bernama Albertus. Tidak jelas apa motif penusukan yang dilakukan oleh seseorang yang berpenampilan preman tersebut. Meski tidak menunjuk hidung secara langsung, namun ada kesan Hanung hendak menggiring sterotype buruk, seolah yang suka melakukan tindakan anakis datang dari kelompok agama tertentu.
Adegan selanjutnya, tanpa alasan yang jelas pula, sekelompok pemuda Islam bersarung dan berpeci tiba-tiba mencerca seorang keturunan Cina dengan panggilan ”Cino” (menyebut Cina dengan logat Jawa). Dalam film ini, Hanung banyak menggunakan simbolik-simbolik sensasi murahan yang didramatisir, yang berpangkal dari sebuah kemarahan terpendam.
Dangan dalih toleransi, Hanung juga menciptakan adegan seorang Muslimah berkerudung yang merasa nyaman bekerja di sebuah rumah makan (restoran) yang menyajikan daging babi yang diharamkan oleh Islam. Toleransi ala Hanung ingin mengesankan, bahwa muslimah yang diperankan oleh Revalina  S Temat adalah muslimah yang ideal, yang bisa menghargai sebuah perbedaan. Meski tidak sampai memakannya, tidak terlihat kegalauan hati dari seorang Muslimah, seolah daging babi bukan sesuatu yang diharamkan.
Di sela adegan itu, ada seorang Muslimah yang menolak bekerja di sebuah restoran yang sama, dengan alasan prinsip agama yang dipegang. Namun, cara pandang Hanung yang keliru, ingin menunjukkan bahwa Muslimah yang menolak bekerja di restoran Cina karena menyajikan daging babi itu sabagai muslimah yang tidak toleran.
Sang Murtadin
Adegan yang menyesatkan lainnya adalah ketika seorang wanita (diperankan Endhita) yang sebelumnya beragama Islam kemudian berpindah agama alias murtad menjadi seorang pemeluk Nasrani yang taat. Ada sebuah ungkapa yang terlontar dari bibir sang murtadin tadi, bahwa dirinya pindah agama tidak berarti mengkhinati Tuhan.  Pesan yang disampaikan dalam film ini adalah manusia berhak menjadi murtad, dan itu adalah hak asasi yang patut dihargai.
Adegan yang lebih menyengat lagi adalah ketika seorang pemuda Muslim (diperankan Agus Kuncoro) bersedia diajak bermain drama di sebuah gereja pada perayaan Paskah, dengan memerankan sebagai Yesus Kristus. Mulanya hatinya galau, tapi setelah berkonsultasi pada seorang ustadz muda (diperankan oleh David Khalik), ditemukan jawaban yang amat sesat menyesatkan.
Katanya, bahwa untuk menjaga keimanan bukan terletak pada fisik, melainkan hati. Maka masuk gereja, bahkan memerankan aktor sebagai Yesus sekalipun bukan sesuatu yang subhat dan diharamkan. Bagi Hanung, hal itu tak perlu dipersoalkan.
Serasa kontras, usai memerankan Yesus, pemuda muslim yang sehari-hari tinggal di masjid itu pun melafadzkan QS. Al Ikhlas. Hanung ingin menggambarkan, memerankan Yesus bukan ancaman yang bisa mendangkalkan akidah keislaman seseorang. Justru ia semakin shaleh. Inilah kampanye pluralisme yang diusung Hanung.
Kok bisa, QS Al Ikhlas yang menegaskan bahwa Dia (Allah Swt) Tuhan yang Maha Esa. Tuhan tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Tapi oleh Hanung, Al Ikhlas ditafsirkan secara serampangan dengan kacamata pluralis, yang  membenarkan Yesus sebagai anak Tuhan. Setidaknya Hanung memnghantarkan seorang Muslim menjadi hipokrit bahkan musyrik.
Adegan yang terasa lebay juga dilukiskan Hanung, pada saat restoran Cina mengalami kerugian saat memasuki bulan Ramadhan dimana umat Islam sedang berpuasa. Ada kesan, bahwa pelanggan restoran yang suka makan daging babi itu adalah dari umat Islam. Sehingga ketika umat islam sedang menjalankan ibadah puasa, maka restoran pun menjadi sepi. Bahkan pada saat lebaran, pemilik restoran Cina itu lagi-lagi melarang karyawannya untuk libur atau pulang kampung, dengan alasan restoran merugi, karena terlalu lama libur.
Konyolnya, diciptakan insiden penyerangan terhadap restoran Cina itu oleh sekelompok umat Islam dengan membawa kayu dan terjadi tindakan anarkis yang disertai pemukulan. Hanung lagi-lagi membuat stereotype buruk atas umat Islam yang suka dengan anarkis. Bisa dibayangkan, apa mungkin di hari lebaran umat Islam melakukan penyerangan dan perusakan. Hanung yang mengaku Muslim nampak lebay dan tidak waras, dimana umat Islam digambarkan sebagai makhluk yang bengis dan biadab.
Adegan Banser yang menjaga gereja pun digambarkan sebagai hero. Oleh Hanung, Banser NU adalah sebuah pekerjaan yang disediakan untuk para pengangguran, seperti Soleh (diperankan oleh Reza Rahadian). Dari banyak adegan dalam film tersebut, nampak alur cerita yang tidak sistematis, tergesa-gesa, vulgar, sarkasme, sekedar simbolik untuk mendramatisir kisah yang penuh amarah, dan jauh dari kualitas. Film Hanung tak ubahnya ”sampah” yang melukai hati umat Islam.
Hanung sepertinya pura-pura bodoh, ketika ditanya apa itu pluralisme. Bahkan ia mengelak film garapannya itu punya motif untuk mengkampanyekan pluralisme. “Saya tidak mengerti apa itu pluralisme. Nanti, kalau saya bilang, film itu pluralisme, nanti golongan pluralis akan berusaha memanfaatkan. Begitu juga kalau saya bilang ini liberal, nanti mereka akan mengklaimnya juga.”
Jadi istilah pluralisme buat Hanung tidak lagi sesederhana istilahnya saja karena di dalamnya sudah ada muatan politis, pergerakan dan keyakinan. Saya berusaha melepas diri dari itu semua. Saya adalah peribadi yang hanya berusaha memotret semua persoalan yang berkelindan di dalam diri saya.
Ketika ditanya, bagaimana anda memahami pluralisme? Hanung mengaku tidak tahu pluralisme itu apa, karena ia sangat hati-hati dengan istilah pluralisme. “Makanya saya kasih judul film itu hanya tanda tanya,” ujarnya berdalih.
Bila Hanung mempersilahkan penonton memberi judul film “?” ini, maka pantas, jika film ini diberi judul “Sang Murtadin”. Setuju??? ● Desastian

Sabtu, 08 Januari 2011

Menengok Kejayaan Islam di New York

Smaller  Reset  Larger
1001inventions.com
 
Menengok Kejayaan Islam di New York
Penemuan Cendekiawan Muslim
 
REPUBLIKA.CO.ID,‘’Apa yang mereka buat, menarik,’’ ujar Marissa Campis. Gadis cilik berusia 8 tahun itu mengomentari temuan yang menjadi favoritnya, kamera obscura. Di kemudian hari, temuan itu menjadi cikal bakal bagi perkembangan fotografi modern. Marissa mendapati temuan itu dalam “1,001 Inventions: Discover the Muslim Heritage in Our World”.

Ini merupakan sebuah pameran yang menggambarkan penemuan para cendekiawan Muslim dari abad ketujuh hingga ke-17, yang digelar di New York Hall of Science, Queens, New York. Pameran tersebut diusung oleh the Foundation for Science, Technology and Civilisation (FSTC), sebuah lembaga nirlaba yang berbasis di Inggris.

Pameran di New York akan berlangsung hingga April mendatang. Dan New York, menjadi kota pertama untuk mengenalkan kejayaan Islam di Amerika Serikat (AS).Selanjutnya, pameran digelar di California Science Center, Los Angeles kemudian National Geographic Museum, Washington DC pada 2012.

Sebelum merambah ke AS, FSTC menyelenggarakan pameran di London, Inggris dan Istanbul Turki. Gelaran ini telah mampu menarik sebanyak 800 ribu pengunjung. Pameran sains ini, juga menarik minat Marissa Campis beserta teman sebayanya  serta keluarga dan orang-orang dewasa lainnya.

Sebab, di sana mereka mendapatkan penjelasan mengenai bagaimana temuan-temuan saintifik itu bekerja. Menurut Marium Sattar, mahasiswa School of Journalism, Columbia University, dalam artikelnya yang dikutip Middle East Online, Rabu (5/1), langkah FSTC ini bisa menjadi bagian dari kampanye memupus citra jelek terhadap Islam dan Muslim.

Sebuah laporan yang dirilis Pew Research Center pada 2009, menyatakan, sebanyak 38 persen warga Amerika menilai Islam mendorong kekerasan dibandingkan keyakinan lainnya. Pamerin ini, menghadirkan fakta sebaliknya. Muslim mempunyai warisan budaya dan ilmu pengetahuan yang sangat kaya.

Pencapaian gemilang dalam ilmu pengetahuan oleh Muslim yang digambarkan melalui pameran ini, tentu membuat pengunjung tertegun. Sebab, selama ini mereka mungkin tak pernah tahu soal itu. Apalagi kemajuan Muslim di abad pertengahan tak pernah diajarkan di sekolah-sekolah di Barat.

Saat pengunjung melintasi aula yang bernuansa ungu dan emas, mereka mendapati sebuah replika jam air setinggi 20 kaki yang dibuat oleh cendekiawan Muslim, Al-Jazari. Di seberangnya, terlihat modal mesin terbang yang dirancang pada abad ke-9 oleh ilmuwan bernama  Abbas bin Firnas.

Banyak pihak yang memandang bahwa Abbas merupakan orang pertama yang berpikir secara ilmiah untuk menemukan cara untuk terbang. Fitur lain yang mengagumkan dalam pameran di New York itu adalah kapal yang digunakan Laksmana Cheng Ho atau dikenal pula dengan panggilan Zheng He dalam pelayaran pada abad ke-15.

Ukuran kapal  sang laksamana seperti luas lapangan sepak bola. Meski bertema temuan-temuan ilmuwan Muslim, pameran ini juga tak menafikkan penemuan cendekiawan non-Muslim. Terbukti, ada display Maimonides, ahli fisika abad ke-12 dari Kordoba, Spanyol, yang banyak bekerja sama dengan para filsuf Muslim.


Red: Krisman Purwoko
Rep: ferry kisihandi

Senin, 03 Januari 2011

Masjid New York Merangkul Publik


PDF Print E-mail
Upaya Ayoub menuai hasil. Beberapa pengunjung setiap Sabtu mengekspresikan dukungan atas kehadiran muslim, yang kian berkembang di New York barat.
Di tengah pemantauan ketat terhadap tempat ibadah muslim di penjuru AS, tiga masjid di New York Barat, yakni Masjid Islamic, Lackwan, Masjid An-Nur, Heim Road, Amherst, dan Masjid Al-Iman, Connecticut, mencoba memberikan pemahaman dengan membuka diri untuk umum setiap Sabtu siang. Mereka membiarkan khalayak umum melongok sendiri apa dan bagaimana sebenarnya masjid itu. Pemimpin masjid juga mengundang setiap pertanyaan terbuka bagi pengunjung.

Kontan saja, mereka merespons dengan berbagai pertanyaan seputar ajaran Islam, hukum syari’ah, peran wanita dalam Islam, keyakinan muslim tentang setan, terorisme, tafsir Al-Quran, bagaimana muslim beribadah, siapa yang membuat keputusan dalam masjid, apakah penganut paham Syi’ah dan Suni beribadah di tempat yang sama, dan lain-lain.

“Semoga ini menjadi awal yang baik,” ujar Presiden Asosiasi Budaya Islami, Mohamad Ayoub, seperti dilansir Buffalo News.

Muslim yang juga seorang kontraktor di Williamsville ini pun mengelola Masjid Al-Iman di Connecticut. “Pintu kami selalu terbuka bagi mereka yang ingin mengetahui Islam secara benar,” katanya.

Menurut Ayoub, Tragedi 11 September, 2001, meski membawa hikmah tersendiri, sempat memukul muslim dunia, khususnya AS. Lebih dari 1.800 masjid di seantero AS langsung dicurigai sebagai titik berkumpul para teroris atau simpatisan teroris.

Kini salah satu upaya Ayoub menuai hasil. Beberapa pengunjung setiap Sabtu mengekspresikan dukungan atas kehadiran muslim, yang kian berkembang di New York barat. Salah satu jama’ah Gereja Lutheran Trinitas Suci, Victoria Ros, mengatakan, kedatangannya ke Masjid Al-Iman sebagai solidaritas dengan muslim. Ia juga berniat menghentikan penyulut kebencian dan sentimen anti Islam yang tengah berlangsung. “Saya senang ada masjid di sini.”

Masjid Al-Iman dibuka sekitar lima tahun lalu, menggunakan gedung bekas bioskop. Sejak itu, bangunan tersebut sempat mengalami renovasi dan pelebaran.

Beberapa pekan lalu, Pusat Islami Jaffarya, Niagara Frontier, juga membangun masjid baru senilai 2,4 juta dolar yang terletak di Transit Road.

Ketika memasuki aula shalat Masjid Al-Iman, aktivis Gereja Presbiterian Pertama, Lesley Haynes, menanyakan makna kaligrafi Arab yang tertulis di dinding balkon kepada Ayoub.

Dengan senang hati Ayoub menerjemahkan dan menjelaskan ayat tersebut.

Open house semacam ini diorganisir Dewan Urusan Publik Muslim (MPAC). Presiden MPAC, Khalid J Qazy, berniat mengeksplorasi konsep acara open house lebih jauh dan menarik lagi. Antara lain agar bisa menepis kontroversi seputar pendirian masjid di dekat Ground Zero, Manhattan, yang masih menyisakan polemik. Semoga....

SEL

Kamis, 02 September 2010

FUI : Pendeta Terry Jones Halal Darahnya


alt

Bismillahirrahmanirrahiim


PERNYATAAN SIKAP

TENTANG
RENCANA PEMBAKARAN AL QUR’AN
OLEH
TERRY JONES
PEMIMPIN GEREJA PERJANJIAN BARU NON DENOMINASI
DI FLORIDA AMERIKA SERIKAT




Sebuah gereja perjanjian baru non-denominasi di Gainesville, pimpinan Pastor Terry Jones, di Florida, AS, atau yang biasa disebut (Dove World Outreach Center) akan menjadi tuan rumah ‘Hari Pembakaran Al Quran Internasional’ dalam memperingati 9 tahun tragedi serangan 11 September 2001.

Selain berencana melakukan pembakaran Mushaff Al Qur’an, Pendeta Terry Jones juga telah menghina dan mencerca Islam dengan menyatakan: “Kami percaya bahwa Islam adalah setan, yang menyebabkan jutaan orang masuk neraka. Itu adalah agama menipu, itu adalah agama kekerasan dan itu terbukti”,  kata Pendeta Terry Jones seperti dilansir BBC, awal minggu ini.

Atas perbuatan dan ucapan dari Pendeta Biadab ini, Pemerintah Amerika Serikat melalui Konsul AS di Surabaya memberikan kesan membiarkan tindakan biadab tersebut  ketika ditanya kemungkinan AS berupaya menghentikan Hari Pembakaran Al Quran supaya tidak ada orang yang disakiti, Konsul Bauer menegaskan bahwa pemerintah AS tidak berada dalam posisi memperbolehkan atau melarang.

Berdasarkan :

Surah At Taubah 12 :
Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.

Surah Al Baqarah 193 :
Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.

Surah An Nissa 91 :
Kelak kamu akan dapati (golongan-golongan) yang lain, yang bermaksud supaya mereka aman dari pada kamu dan aman (pula) dari kaumnya. Setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), merekapun terjun kedalamnya. Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan (tidak) mau mengemukakan perdamaian kepadamu, serta (tidak) menahan tangan mereka (dari memerangimu), maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka dan merekalah orang-orang yang Kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk menawan dan membunuh) mereka.

Juga amar rasulullah saw. kepada para sahabatnya untuk mengesekusi mati seorang gembong Yahudi Ka’ab bin Al Asyraf yang telah melakukan perbuatan yang menyakitkan Rasulullah saw.,  

Maka Forum Umat Islam menyatakan sikap sebagai berikut :

1.    Menurut hukum syariat Islam halal darahnya Pendeta Terry Jones yang telah melakukan tindakan penghinaan kepada Islam dan kaum muslimin untuk ditumpahkan. 
2.    Wajib bagi seluruh kaum muslimin di seluruh dunia yang memiliki kemampuan untuk membunuh Pastor Terry Jones dalam rangka melaksanakan hokum syariat di atas.
3.    Menyerukan kepada Pemerintah Amerika Serikat untuk secara aktif dan berusaha dengan keras melalui tindakan untuk menghentikan perbuatan biadab Pendeta Terry Jones dan memberikan hokuman yang setimpal kepadanya.

Wamakaruu wamakarallah wallahu khairul maakiriin

Menag: Ahmadiyah Wajib Dibubarkan

 alt
Walaupun usulannya banyak dikritik, namun Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali
menegaskan kembali bahwa ajaran Ahmadiyah harus dibubarkan. Membiarkan aliran tersebut tetap hidup di Indonesia sama saja dengan memelihara masalah dan pada akhirnya membuat kondisi makin buruk. "Jadi sekali lagi, ini harus diselesaikan. Kalau dibiarkan ini me maintenance masalah. Ini setiap hari, setiap minggu, potensi konflik terus ada gitu, lho. Kalau ini tidak diselesaikan, kita khawatir eskalasinya makin meningkat dan pada akhirnya keadaannya makin buruk," kata Suryadharma.

Hal itu dikatakan dia usai mengikuti buka bersama Wakil Presiden Boediono dengan para ulama di Kediaman Dinas Wapres, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Selasa (31/8/2010).

"Jadi lebih baik kita semua lebih dinamis menyelesaikan masalah ini. Dihentikan kegiatannya, dirangkul para pemeluknya ke dalam Islam yang benar," sambung menteri asal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini.

Menurut Suryadharma, ia berpatokan pada Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri dan UU No 1 PNPS/1965 dalam menambil sikap terhadap ajaran Mirza Ghulam Ahmad ini. SKB itu menyebutkan bahwa Ahmadiyah harus menghentikan seluruh ajarannya karena bertentangan dengan prinsip-prinsip pokok agama Islam.

"Memang membiarkan ada risiko, membubarkan ada risiko. Tapi sekali lagi kita berpegang kepada aturan dan berpegang kepada kebenaran," ujarnya.

Suryadharma mengatakan, di sejumlah negara, aliran tersebut memang dibiarkan tumbuh dan berkembang. Namun, di banyak negara, Ahmadiyah juga dilarang. Oleh karena itu, terkait ajaran tersebut, tergantung bagaimana perintah masing-masing negara dalam menilainya.

"Langkah-langkah yang mengarah ke lebih intensif itu saya kira nanti setelah lebaran, karena saat ini kita konsentrasi pada lebaran. Pihak keamanan konsentrasi lebaran, pihak lain juga begitu," tutupnya.
(SI / dari berbagai sumber)

PERNYATAAN PERS FORUM UMAT ISLAM (FUI) TENTANG ’OPERASI INTELIJEN’ UNTUK PEMBUBARAN ORMAS ISLAM


altAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Berdasarkan data dan fakta yang kami kumpulkan saat ini, terlihat jelas persekongkolan antara kaum Sekularis, Pluralis dan Liberalis (SEPILIS) dengan kaum Marxis, Leninis dan Komunis dalam upaya mengembangkan opini untuk membubarkan Ormas-ormas Islam pada umumnya dan FPI pada khususnya.

Persekongkolan tersebut juga melibatkan “Mafia” Narkoba, “Mafia Opini” dan “Mafia Jabatan” yang sangat terganggu dengan keberadaan Ormas-ormas Islam yang menyerukan penegakkan Syari’at Islam. Ini dikarenakan  Syari’at Islam adalah musuh paham Marxisme, Leninisme, Komunisme, Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme. Syariat Islam juga musuh perbuatan korupsi, narkoba dan berbagai bentuk kemaksiatan politik dan kemaksiatan sosial.

Beberapa bukti dari persekongkolan jahat tersebut adalah:

Pertama; dalam kasus Banyuwangi terlihat jelas upaya kompolotan Komunis dan Liberalis serta para “Mafia” untuk mengadu-domba partai politik dengan ormas Islam tertentu dengan target pembubaran ormas Islam yang mengusung Syari’at Islam sebagai agenda perjuangan.

Fakta bahwa peristiwa Banyuwangi adalah murni gerakan masyarakat dan 10 elemen ormas Islam lainnya diabaikan begitu saja. Adalah juga merupakan fakta bahwa Ketua DPW FPI Banyuwangi sama sekali TIDAK MENGETAHUI baik sebelum maupun pada saat peristiwa terjadi. Secara organisasi FPI juga tidak pernah dilibatkan dalam kegiatan masyarakat tersebut. Perlu diketahui bahwa informasi yang didapat masyarakat Banyuwangi mengenai kegiatan eks PKI di daerah tersebut berasal dari aparat intelijen setempat.

Acara Ribka dan Rieke di Banyuwangi adalah atas undangan dari kelompok yang mengatasnamakan diri "Paguyuban Layar Kumendung", sebuah organisasi eks PKI dengan agenda acara Temu Kangen Eks PKI.

Kedua; persekongkolan jahat antara Komunis dan Liberalis ini terlihat jelas dari upaya memanipulasi opini publik dengan memanfaatkan media massa sebagai sarana untuk mengkampanyekan gerakan anti Islam dan anti Syari’at Islam.

Ketiga; pola manipulasi opini publik tersebut sudah pernah terjadi dalam peristiwa Purwakarta pada tahun 2006 yang lalu dengan target sasaran dan agenda yang sama. Masyarakat perlu diingatkan bahwa dalam peristiwa Purwakarta tahun 2006 yang lalu, dikembangkan isu bahwa salah satu tokoh masyarakat yang saat ini sudah wafat, diusir oleh ormas Islam dari ruang diskusi, padahal peristiwa pengusiran tersebut TIDAK pernah terjadi.

Keempat; dari wawancara dengan salah satu Liberalis di televisi pada Senin malam, 28 Juni 2010 yang lalu, pada akhir wawancara, terungkap bahwa agenda utama dari kompolotan SEPILIS, Komunis dan para Mafia tersebut adalah semata-mata pembubaran ormas Islam yang dianggap mengganggu eksistensi mereka. Oknum Sepilis tersebut juga menyebut-nyebut kejadian di kota Singkawang dan Bekasi yang digunakan untuk memanipulasi opini publik dalam menjalankan agenda mereka.

Kelima; perlu kami sampaikan di sini bahwa kejadian di kota Singkawang adalah ulah dari oknum Walikota yang memprovokasi masyarakat dengan sentimen SARA untuk mengamankan kepentingan jabatannya. Sementara peristiwa kota Bekasi adalah murni reaksi masyarakat kota Bekasi atas tindakan provokatif dari segelintir oknum yang memanfaatkan Badan Narkotika Kota (BNK) Bekasi. Modusnya dengan melakukan pawai, dan dalam pawai itu mereka membentuk formasi barisan yang menggambarkan agama tertentu di halaman Masjid Agung Al Barkah kota Bekasi.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka Forum Umat Islam (FUI) menyatakan:

1.    Menuntut penegakan UU No. 27 Tahun 1999 jo Pasal 107 a KUHP Tentang Larangan Menyebarkan dan Mengembangkan ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme Dalam Segala Bentuk dan Perwujudannya secara tegas.

2.    Menuntut Mabes Polri agar memeriksa Ribka Tjiptaning Proletariyati terkait 2 buku karangannya yang berjudul “Aku Bangga Menjadi Anak PKI” dan “Anak PKI Masuk Parlemen” serta berbagai tindakannya yang sering melakukan temu eks PKI.

Ribka Tjiptaning Proletariyati bukan saja anak bilogis dari anggota PKI, akan tetapi juga merupakan anak ideologis dari Komunisme/Marxisme-Leninisme yang terungkap dalam dua buku karangan yang bersangkutan yaitu memperjuangkan masyarakat tanpa kelas yang merupakan cita-cita Komunisme/Marxisme-Leninisme.

3.    Menuntut DPR RI memeriksa dan meneliti adanya dugaan penyalahgunaan dana kunjungan kerja DPR RI oleh Ribka Tjiptaning Proletariyati untuk kegiatan temu eks PKI di berbagai daerah.

4.    Kasus Banyuwangi adalah murni kasus pertikaian antara masyarakat Banyuwangi Anti PKI versus para pembela PKI yang diketahui oleh aparat TNI/Polri setempat, bahkan informasi awal justru datang dari intelijen Kodim Banyuwangi yang diberikan kepada masyarakat, sehingga secara organisatoris TIDAK ada kaitan dengan ormas Islam manapun.

5.    Mengecam segala bentuk fitnah dan rekayasa yang diotaki oleh tokoh liberal Ulil Abshar Abdallah yang diarahkan ke ormas Islam manapun.

6.    Meminta kepada Pemerintah dan masyarakat untuk mengawasi sepak terjang Ulil Abshar Abdallah yang sesungguhnya anti Pancasila dan anti Islam.

7. Meminta Pemerintah membubarkan Jaringan Islam Liberal beserta seluruh organisasi jaringannya yang telah melanggar UU No. 8 Tahun 1985 karena telah menerima dana asing dari Luar Negeri untuk kegiatan subversi politik dan subversi agama yang sangat meresahkan umat Islam di Indonesia.

8.    Menolak wacana pembubaran ormas Islam manapun hanya untuk memenuhi syahwat politik kelompok SEPILIS.

9.    Meminta Pemerintah menindak ormas dan LSM Komprador yang berhaluan SEPILIS dan Komunis/Marxis-Leninis demi menjaga keutuhan NKRI.

10.    Menyerukan kepada masyarakat agar waspada terhadap upaya adu domba antar-anak bangsa yang dilakukan oleh kelompok ormas dan LSM Komprador yang berhaluan SEPILIS, Komunis/Marxis-Leninis.

11.    Menyerukan kepada segenap ormas Islam untuk meningkatkan kesiap-siagaan terhadap upaya makar yang dilakukan oleh kelompok ormas dan LSM Komprador yang berpaham SEPILIS, Komunis/Marxis-Leninis yang terus merongrong persatuan dan kesatuan umat, bangsa dan negara.

12.    Menyerukan kepada para ulama, habaib, dan seluruh umat Islam untuk merapatkan barisan dengan berpegang teguh kepada Syariat Islam dan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt serta terus menerus meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh musuh-musuh Allah, musuh Rasulullah dan musuh kaum muslimin. Allah Swt berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama!. (QS. An Nisa’ [04]: 71)

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. 



Jakarta, 30 Juni 2010/ 17 Rajab 1431 H
Atas Nama Umat Islam Indonesia
Forum Umat Islam (FUI)
Sekretaris Jenderal


KH. Muhammad Al Khaththath

Baca Jangan Tak Baca

Nombor Rujukan Jabatan Mufti Selangor: ( 90 ) dlm.mufti.sel 500-1.Jld.3 Bertarikh 13 Ogos 2010 / 03 Ramadhan 1431. Jawapan Fatwa Adalah Seperti Berikut:

i- Kepercayaan Allah berjisim dan bersifat duduk bersila atau Allah bertempat adalah kepercayaan atau i'tiqad kaum MUSYABBIHAH (MUJASSIMAH). Dinamakan kaum musyabbih (menyerupakan) kerana mereka menyerupakan Allah dengan makhlukNya. Mereka mengatakan bahawa Allah bertangan, berkaki, bertubuh seperti manusia. Di antara i'tiqad sesat mereka yang bertentangan dengan i'tiqad Ahlusunnah Wal Jamaah ialah seperti berikut:

a. Allah bermuka dan bertangan.
b. Allah duduk bersila di atas arasy.
c. Allah berada di langit.
d. Allah bertubuh serupa nur.

I'tiqad seperti di atas adalah bertentangan dengan i'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah lagi sesat dan menyesatkan kerana Allah tidak boleh sekali-kali diserupakan dengan makhluk (al-Syura ayat 11). I'tiqad ini membawa kepada syirik yang mengeluarkan seseorang daripada Islam.
ii- Amalan bertawassul sama ada dengan nabi atau orang soleh adalah diharuskan kerana pada hakikatnya mereka yang bertawassul itu beri'tiqad segala usaha ikhtiar dan doa yang dilakukan oleh manusia hanya Allah sahaja yang memperkenankannya. (al-Maidah: 35)

Sekian, Wassalam.

"BERKHIDMAT KERANA ALLAH UNTUK NEGARA"

Saya yang benar,


(MAT JAIS BIN KAMOS)
Pegawai Hal Ehwal islam (Istinbat)
b/p: Mufti Negeri Selangor

Rabu, 01 September 2010

Parpol Tinggalkan Simbol Agama

Rabu, 1 September 2010 13:07
Jakarta, NU Online
Pengamat politik dari Centre for Strategic of International Studies (CSIS) J Kristiadi mengatakan pasca-Orde Baru partai-partai politik berbasis agama telah meninggalkan simbol-simbol agama.

"Hal ini dilakukan untuk meraih suara dalam pemilihan umum. Saat ini, agar mendapat dukungan dari masyarakat, semua partai harus mau jalan ke tengah. Partai yang mau jadi besar harus bisa merangkul dan menyatakan partai ini milik semua," katanya pada diskusi "Preferensi Agama dalam Perilaku Politik Pemilih di Indonesia" di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan hilangnya simbol-simbol agama dalam parpol setelah bangsa Indonesia belajar dari Orde Baru karena selama Orde Baru agama Islam direndahkan hanya sebagai instrumen politik.

"Kampanye dulu perang ayat. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) cari ayat untuk membenarkan milih PPP, Golkar juga punya ayat lain. Saya kira itu merendahkan agama," katanya.

Menurut dia, saat ini parpol yang pada dasarnya Islam, tetapi sudah bisa merangkul keseluruhan dan partai Islam pun tidak memakai simbol-simbol Islam, seperti PKB, PAN, dan PKS.

"Saat ini, PKS sudah menyatakan partai terbuka. Itu sangat menggembirakan bahwa simbol-simbol agama tidak dapat dijualbelikan untuk politik," ucapnya.

Peneliti senior dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi menilai partai politik berbasis Islam harus melakukan pembenahan agar suara mereka meningkat di pemilu mendatang.

"Partai Islam harus keluar dari `captive marketnya dengan merambah konstituen baru yang selama ini bernaung di partai politik nasionalis. Pemilih Muslim di Indonesia semakin rasional melihat isu yang diangkat oleh partai politik," katanya. (ant/mad)

Selalu Melaksanakan Perbuatan Mulia

Print E-mail
Kebaikan di bulan suci Ramadhan ini terus kita lakukan. Agar tatkala bulan suci Ramadhan telah kita lewatkan, kita tetap melaksanakan hal-hal yang mulia sehingga kalau meninggal insya Allah meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
Setiap kali bulan suci Ramadhan tiba, ratusan masjid dan mushalla mengadakan acara buka bersama serta santunan anak yatim dan yatim piatu bagi anak-anak yang kurang mampu. Tak bedanya dengan Majelis Ta’lim Al-Chairiyyah, pimpinan Haji Chaidir Byah, di bilangan Cikunir, Bekasi Selatan.

Sore itu, Jum’at 28 Agustus, selepas adzan shalat Ashar, puluhan yatim piatu dari penduduk sekitar dan juga dari Pondok Pesantren Al-Fath Galaxy Bekasi mendatangi kediaman Bapak H. Chaidir.

Sebelum acara dibuka, puluhan anak yatim piatu membentuk barisan yang begitu rapi. Mereka duduk saling berhadapan, yang laki-laki berhadapan dengan laki-laki, yang perempuan berhadapan dengan perempuan.

Tak berapa lama, acara pun dibuka dengan pembacaan surah Al-Fatihah, yang dipimpin langsung oleh Ustadz Abdul Basith. Setelah itu dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh tuan rumah sekaligus pemimpin majelis ta’lim.

Dalam sambutannya, H. Chaidir mengucapkan banyak terima kasih kepada anak-anak yang telah menyempatkan hadir pada acara buka puasa itu. “Semoga semua niat kebaikan kita diterima oleh Allah SWT,” katanya.

Penuh Berkah



Detik-detik memasuki adzan maghrib, anak-anak pun membacakan doa berbuka puasa yang dipimpin langsung oleh Ustadz Taufik, pemimpin Pondok Pesantren Al-Fath.

Kemudian acara pun berlanjut dengan shalat Maghrib berjama’ah, pembacaan doa, dan taushiyah, masih oleh Ustadz Taufik.

Dalam taushiyahnya, Ustadz Taufik menyatakan kegembiraannya. “Dengan momentum Ramadhan dan acara buka bersama,  kita bisa saling bersilaturahim, saling menyayangi satu di antara yang lain.”

Seiring dengan itu, ustadz yang masih muda ini juga menganjurkan agar kebiasaan baik yang dilakukan di bulan suci Ramadhan ini terus dipertahankan, seperti silaturahim, tadarusan, berpuasa, dan shalat-shalat sunnah yang biasa kita lakukan, agar tatkala bulan suci Ramadhan ini telah berlalu, kita tetap melaksanakan hal-hal yang mulia dan kalau meninggal insya Allah meninggal dalam keadaan husnul khatimah.

Acara  diakhiri dengan pemberian santunan kepada anak yatim, dhuafa, dan santri Pondok Pesantren Al-Fath.


RIS

Berlomba-lomba dalam Kebaikan di AS







Selain beramal, semua kegiatan ini juga memperlihatkan kepada masyarakat Amerika umumnya bahwa muslim AS adalah warga negara yang baik.

Mengamalkan hadits Nabi tentang anjuran memberikan makanan berbuka kepada yang berpuasa, muslim Amerika Serikat menyumbangkan makanan ke berbagai masjid.

Omar Ahmad, seorang pegawai perusahaan teknologi informasi di Silicon Valley, California, yang masih harus bekerja ketika saat berbuka tiba, mengatakan, sumbangan makanan ke masjid sangat membantu orang-orang seperti dirinya.

Lebih dari sekadar memberi makan bagi mereka yang kurang beruntung, di bulan yang penuh rahmat ini, banyak warga muslim AS melakukan amal kebaikan lainnya. Seperti yang dilakukan Yusuf Ramelize, seorang manajer produksi perusahaan layanan informasi di New York. Ia kerap meluangkan waktunya selama Ramadhan dengan membantu tunawisma di kota The Big Apple. Bahkan tahun lalu, melalui situs yang dibentuknya, homelessforoneweek.com, ia berhasil mengumpulkan dana 3.000 dolar AS , yang kemudian disumbangkan kepada lembaga New York’s Coalition for the Homeless. Tahun ini, ia berupaya mengumpulkan 5.000 dolar (Rp...) untuk diberikan kepada Bank Pangan kota New York.

Kemudian pemilik rumah makan Ambassador di daerah Queens, New York, Shakeel Cozmi, mengimbau pelanggannya agar memberi sumbangan kepada Pakistan dengan menyediakan menu gratis selama satu kali makan malam. “Saya tidak menagih bayaran sedikit pun kepada pelanggan, menu yang saya sediakan akan saya alihkan ke harga makanan. Berapa pun besarnya uang yang dikumpulkan, setiap sennya akan disumbangkan bagi dana bantuan Pakistan,” katanya, Kamis (26/8), seperti dilansir voanews.

“Ramadhan adalah bulan penuh rahmat. Dalam bulan inilah umat Islam berpuasa, dengan tujuan antara lain untuk berempati kepada mereka yang kurang beruntung, dan sangat bermurah hati menolong semua orang di seluruh dunia,” tutur General Manager Islamic Relief USA, Mohamed Abdul-Magd.

Setiap bulan Ramadhan, organisasi muslim AS ini mengerahkan ribuan sukarelawan dari berbagai latar belakang untuk membagikan makanan, pakaian, selimut, melakukan pelayanan kesehatan dan sosial kepada tunawisma dan kaum dhuafa di berbagai kota di seluruh AS.

Kegiatan seperti itu juga banyak dilakukan organisasi kemasyarakatan muslim lainnya. Misalnya Project Downtown di Miami.


Selain beramal, semua kegiatan ini juga memperlihatkan kepada masyarakat Amerika umumnya bahwa muslim AS adalah warga negara yang baik.

SEL

Senin, 02 Agustus 2010

Fashion Busana Muslimah di London

PDF Print E-mail

“Saya selalu tertarik dengan fashion, terlebih bergaya funky. Jika mengenakan jilbab, saya ingin memakai busana bergaya seperti itu,” kata Tasnem, salah satu mahasiswi yang menjadi peserta perancang busana muslimah.

Sekelompok kecil mahasiswi sedang melakukan fitting busana. Melonggarkan ikat pinggang dan memadukan t-shirt dengan dasi. Ini umum dilakukan untuk calon desainer yang tengah merancang pakaian. Idenya adalah untuk mengaplikasikan tradisionalisme dalam fashion modern.

Namun ada yang berbeda pada rancangan yang dibuat mahasiswa Hackney, London School of Fashion, kali ini: busana muslimah kontemporer.

Melalui tema Faith and Fashion, mahasiswa lintas keyakinan yang mengambil kelas merancang busana muslimah menciptakan busana bagi wanita muslim sesuai syari’at Islam. “Tidak ketat, menutup aurat, dan tentu saja modis,” ujar salah seorang mahasiswi seperti dikutip dari Guardian.co.uk.

Program ini didukung penuh oleh Three Faiths Forum, sebuah organisasi antar-penganut agama untuk mendukung keharmonisan dan menghadapi prasangka negatif antara komunitas penganut agama.  Sophia Tillie, muallaf wanita kelahiran Inggris, begitu tertarik dengan kewajiban memakai hijab dan niqab (cadar) pada muslimah.

Awalnya ketua program Three Faiths Forum berwajah cantik itu menduga, jilbab merupakan bagian dari gerakan puritan yang reduksionis dalam doktrin keislaman. “Tapi setelah membaca secara lebih luas dan komprehensif, saya terkesima oleh fleksibilitas pemikiran Islam. Dan itulah yang menginspirasi teman-teman untuk merancang busana muslimah yang syar’i lagi trendy.”

Khazanah fashion muslimah sangat luas. “Saya selalu tertarik dengan ,fashion terlebih bergaya funky. Jika mengenakan jilbab, saya ingin memakai busana bergaya seperti itu,” kata Tasnem, salah satu mahasiswi yang menjadi peserta perancang busana muslimah.

Lebih dari 100 mahasiswi yang terlibat dan menampilkan gambar rancangan mereka. Sebagian besar mereka asli warga negara Inggris dan muslim. Gadis-gadis ini berasal dari berbagai sekolah di berbagai belahan London dan tak sedikit yang mengenakan jilbab. Sebut saja Nadaya, muslimah berjilbab yang begitu cantik, elegan, dan sopan. “Allah SWT tidak menilai keadaan luar kita, melainkan inner beauty kita. Untuk itu saya tidak pernah minder mengenakan busana ini."

Selama di College London Fashion, mereka akan mengembangkan desain dan menimba ilmu dari para ahli desain kondang Inggris. Rancangan mereka akan dibuat massal dan tentu saja akan memperkaya khazanah fashion muslimah.

SEL

Rabu, 02 Juni 2010

Ziarah ke Makam Awliya’ Jakarta: Menelusuri Jejak Spiritual Waliyullah di Tanah Betawi





Written by Fredi Wahyu Wasana

“Ikutilah jalan baik, niscaya Allah menunjukimu jalan orang-orang salaf dahulu....”

Sabtu pagi jam 7.00 WIB, 8 Mei 2010, pelataran parkir kantor redaksi alKisah dipenuhi puluhan orang. Acara yang dipimpin Bapak Harun Musawa, salah satu pemimpin Aneka Yess Group, cukup mendapat perhatian dari orang-orang yang berlalu-lalang di Jalan Pramuka Raya, Jakarta Timur. Gerangan apakah yang membuat puluhan orang berpakaian putih-putih itu berkumpul?

Ternyata, hari itu alKisah tengah menggelar hajatan ziarah ke sejumlah makam habaib yang dikenal memeiliki peran penting bagi perjalanan dakwah di ibu kota Jakarta di masa lalu.

Perhelatan sakral ini dipandu salah seorang anggota sidang redaksi alKisah, Muhammad Shobihullah, dengan pembimbing habib muda yang energik dan piawai dalam kegiatan ziarah yang sering diasuhnya, yakni Habib Ahyad bin Abdullah Banahsan, pengasuh Ma’had Al-Abidin Pondok Bambu, Jakarta Timur. Turut serta dalam rombongan ziarah alKisah ini Habib Ali Shahab dari Semarang, Habib Luqman Bilfaqih, dan Bapak Lukman Adham dari Dian Rakyat (pencetak majalah alKisah), yang mensponsori makan siang para peserta.

Bimbingan ziarah Habib Ahyad berbeda dan unik. Dalam bacaan tawassulnya, ia menyertakan sangat banyak nama a’immah (para imam) dan awliya’. Ia juga menjelaskan ushul dan furu’ (pokok dan cabang) silsilah nasab para shahibul maqam, sehingga membuat kami merasa semakin dekat dengan mereka, yang pada gilirannya membuat tawassul kami semakin khusyu’. Keunikan lainnya, Habib Ahyad membiasakan sepanjang ziarah membacakan surah Al-Fatihah sebanyak tujuh kali di setiap tawassulan, sedangkan lazimnya hanya sekali.

Pemakaman Al-Hawi

Dengan iringan doa, bus yang ditumpangi rombongan peziarah meluncur menuju tempat pertama, Pemakaman Al-Hawi, Cililitan. Sepanjang perjalanan, Mu’allim Shobih memandu jama’ah dengan menceritakan kisah para ulama dan awliya’ yang makamnya tengah dituju tersebut. Tentunya ini bukan sekadar ziarah, tapi juga kegiatan yang bertujuan untuk menambah pengetahuan dengan menelusuri jejak spiritual mereka yang dikasihi Allah SWT itu.

Setibanya di Pemakaman Al-Hawi, para peziarah mengucapkan salam bagi para ahli kubur di pemakaman tersebut. Di antaranya di sana dimakamkan Habib Muhsin bin Muhammad bin Muhsin Al-Aththas, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Haddad, Habib Ali bin Husein Al-Aththas, Habib Salim bin Jindan, Habib Umar bin Hud Al-Aththas, Syarifa Nur binti Muhsin AL-Aththas, Habib Ja’far bin Muhammad Al-Haddad, Habib Zein bin Abdullah Al-Idrus Al-Shalabiyah, Habib Utsman bin Alwi bin Yahya.

Pengucapan salam itu diiringi pembacaan qashidah Salamullah ya Sadah, karya Habib Abdullah bin Husein Bin Thahir Ba’alawi, yang lazim dibawakan saat ziarah ke makam para waliyullah.

Lalu, jama’ah bersimpuh dan memanjatkan tawassul serta bacaan surah Al-Fatihah dan tahlil yang dibimbing oleh Habib Ahyad bin Abdullah Banahsan.

Kami yakin, para awliya’ yang dimakamkan di tempat tersebut hadir dan turut mengamini doa-doa yang kami panjatkan. Sungguh, para wali itu tetap hidup dan mendapatkan rizqi dari Allah SWT.

Pemakaman Habib Kuncung

Sejam kemudian acara ziarah dilanjutkan menuju pemakaman Habib Ahmad bin Alwi Al-Haddad, atau Habib Kuncung, yang letaknya kurang lebih 10 km dari Pemakaman Al-Hawi. Nuansa spiritual pemakaman yang banyak dihuni keluarga Al-Haddad ini tak kalah dengan Pemakaman Al-Hawi.

Dengan penghantar doa yang banyak ditujukan bagi pemuka keluarga Al-Haddad, seperti shahibur ratib Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Habib Ahyad memulai prosesi ziarah tersebut. Selanjutnya, bacaan dzikir dan tahlil terus mengumandang dari setiap lisan peziarah. Jama’ah pun sempat mencicipi air dari gentong yang terdapat di pelataran kubah Habib Kuncung, yang diyakini membawa keberkahan.

Makam Habib Ali Kwitang

Selepas dari pemakaman ini, jama’ah melanjutkan perjalanan berikutnya. Kali ini tujuannya adalah Kwitang. Sepanjang perjalanan ke sana, Ustadz Shobih melantunkan qashidah ba’da ziarah dan bacaan surah Al-Ikhlash.

Maka sampailah kami ke makam guru para guru Betawi, Al-‘Allamah Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi, yang terdapat di sisi Masjid Ar-Riyadh Kwitang. Suasana hati semakin hanyut ketika iringan tawassul dan doa kembali dipanjatkan.

Seorang peserta, di atas pusara Habib Ali, menitikkan air mata, berharap keberkahan dari Allah SWT melalui shahibul maqam agar putranya kelak menjadi ahli ilmu dan dakwah seperti shahibul maqam, Habib Ali Al-Habsyi.

Seorang peserta lainnya, yang selama ini baru mengenal nama Habib Ali, tampak tertegun. Dikatakannya kepada kami, saat dulu Habib Ali masih hidup, banyak orang yang bersilaturahim seraya mengharap doa dan keberkahannya. Dan setelah ia tiada pun, keberkahannya masih diharapkan orang. “Inilah tanda-tanda seorang wali tetap hidup, sebagaimana sering dikatakan para ulama,” ujarnya penuh takzim.

Makam Keramat Kampung Bandan

Ketika matahari kian menjulang, perjalanan dilanjutkan menuju Makam Keramat Kampung Bandan. Di makam yang terletak di bagian dalam masjid Kampung Bandan ini, dikebumikan tiga tokoh ulama habaib, yakni Habib Muhammad bin Umar Al-Qudsi, Habib Ali bin Abdurrahman Ba’alawi, dan Habib Abdurrahman bin Alwi Asy-Syathiri. Muncullah di benak kami bayangan kisah di masa lalu, bagaimana ketiga tokoh ini turut mengumandangkan gema dakwah di kawasan pesisir Utara Jakarta pada tiga abad yang lalu.

Keramat Luar Batang

Sekalipun singkat, perjalanan yang dilanjutkan menuju makam Keramat Luar Batang seakan membawa seluruh jama’ah hidup di masa silam. Bangunan-bangunan tua, pelabuhan tua Sunda Kelapa, tempat bersandarnya ratusan kapal, mengingatkan kami bagaimana epos perjuangan yang dilakukan para dai kalangan habaib yang menempuh perjalanan beribu-ribu kilometer demi meneruskan dakwah datuknya, Nabi Muhammad SAW.

Tak terasa, air mata menetes membasahi pipi. Dan seolah mengiringi doa-doa yang kami panjatkan bagi mereka, rintik-rintik gerimis pun jatuh dari langit sepanjang perjalanan menuju persinggahan ziarah terakhir kami, Makam Keramat Luar Batang.

Setibanya di Luar Batang, kami menunaikan shalat Zhuhur. Kemudian, kami menyambangi makam Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus beserta pendamping setianya, Haji Abdul Kadir.

Dalam syahdunya suasana dzikir yang dilantunkan Habib Ahyad Banahsan, kembali pikiran kami menerawang ke masa lalu. Betapa pengharapan dan kegigihan yang diusahakan Habib Husein Alaydrus untuk meninggikan kalimah Allah dan menyebarkan dakwah Rasulullah begitu hebat, sehingga di kala ia wafat harapan dan kegigihannya itu menjadi pelita bagi umat dan berbuah keberkahan bagi setiap orang yang mulazamah (rutin) bertamu ke makamnya.

Suasana sakral memang selalu menyelimuti bathin para jama’ah. Beberapa orang di antara kami menitikkan air mata, terkenang akan kegigihan para wali di masa lalu dan kagum akan kemuliaan dan keberkahan yang mereka peroleh kini. Keinginan pun timbul di hati kami untuk menuai apa seperti yang mereka peroleh. Dan kami pun teringat pesan Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, “.... Waqtad sunnatan hadakallahu bil aslaf.... (Ikutilah jalan baik, niscaya Allah menunjukimu jalan orang-orang salaf dahulu....)”
AB

Selasa, 01 Juni 2010

Inilah Pengurus Lembaga-Lajnah PBNU

Rabu, 2 Juni 2010 10:39

Jakarta, NU Online
Berikut ini adalah nama-nama pengurus (ketua-sekretaris-bendahara) lembaga dan lajnah PBNU masa khidmah 2010-2015 yang dilantik oleh Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudh, Selasa (1/6) malam di Jakarta.

1. RABITHAH MA’AHID ISLAMIYYAH (RMI)
Ketua : Dr. H. Amin Haidari
Sekretaris : Drs. Miftah Faqih, MA
Bendahara : Drs. Masrur Ainun Najih

2. LEMBAGA KEMASLAHATAN KELUARGA NAHDLATUL ULAMA (LKKNU)
Ketua : Dr. Arif Mudatsir Mandan, MA
Sekretaris : Drs. M. Andi Ilham
Bendahara : Syamsudin Rentua

3. LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF NAHDLATUL ULAMA
Ketua : Prof. Dr. Mansur Ramli
Sekretaris : Dr. H. Mamat S. Burhanuddin, MA.
Bendahara : Moh. Zamzami, Msi

4. LEMBAGA PENGEMBANGAN PERTANIAN NAHDLATUL ULAMA (LPP NU)
Ketua : Prof. Dr. Ahmad Dimyati
Sekretaris : Imam Pituduh, SH, MH
Bendahara : Drs. H. Nusron Wahid

5. LEMBAGA PEREKONOMIAN NAHDLATUL ULAMA (LPNU)
Ketua : Drs. H. Muhyiddin Arubusman
Sekretaris : Drs. H. Mustholihin Madjid
Bendahara : Erwin Aksa Mahmud

6. LEMBAGA DAKWAH NAHDLATUL ULAMA (LDNU)
Ketua : Dr. KH. Zaki Mubarok
Sekretaris : Drs. Nurul Yaqin
Bendahara : Drs. H. Harun Abdullah

7. LEMBAGA TA’MIR MASJID NAHDLATUL ULAMA (LTMNU)
Ketua : KH. Abdul Manan A. Ghani
Sekretaris : Ibnu Hazen
Bendahara : Ir. Hari Yudiarto

8. LAJNAH TA’LIF WAN NASYR NAHDLATUL ULAMA (LTNNU)
Ketua : H. M. Sulton Fatoni, M.Si
Sekretaris : Ulil Hadrawi, M.Si
Bendahara : Muhammad S.Pd

9. LEMBAGA KAJIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBERDAYA MANUSIA NAHDLATUL ULAMA (LAKPESDAM NU)
Ketua : Yahya Maksum
Sekretaris : Lilis Nurul Husna
Bendahara : Ahmad Miftah

10. LEMBAGA KESEHATAN NAHDLATUL ULAMA (LKNU)
Ketua : Dr. dr. Imam Rasyidi, Sp.OG (k) OnK
Sekretaris : Dra. Anggia Ermarini, MPd
Bendahara : Drs. Altofurrahman

11. LEMBAGA AMIL ZAKAT NAHDLATUL ULAMA (LAZNU)
Ketua : KH. Masyhuri Malik
Sekretaris : Muhammad Zuhdi, MA
Bendahara : Agus Salim Thoyib

12. LEMBAGA WAQAF DAN PERTANAHAN NAHDLATUL ULAMA (LWPNU)
Ketua : Ahmad Fayumi, MA
Sekretaris : H. Faza Wirda
Bendahara : Yanuar Bagdja

13. LEMBAGA BAHTSUL MASA’IL NAHDLATUL ULAMA (LBMNU)
Ketua : KH. Zulfa Musthofa
Sekretaris : KH. Drs. Miftahul Falah
Bendahara : H. Ali Mubarok, SE, MBA.

14. LEMBAGA BANTUAN HUKUM NAHDLATUL ULAMA (LBHNU)
Ketua : H. Andi Najmi Fu’ady, SH
Sekretaris : Ahmad Rifai, SH
Bendahara : Zainul Mujahidin Syaichu

15. LAJNAH FALAKIYAH NAHDLATUL ULAMA (LFNU)
Ketua : KH. A. Ghozalie Masroeri
Sekretaris : Nahari Muslih, SH
Bendahara : Ahmad Qorob, S.Pd

16. LEMBAGA SENIMAN BUDAYAWAN MUSLIMIN INDONESIA (LESBUMI)
Ketua : Dr. Al-Zastrow Ngatawi
Sekretaris : Ir. Suwadi D. Pranoto
Bendahara : Baihaqi Saifuddin

17. LAJNAH PENDIDIKAN TINGGI NAHDLATUL ULAMA (LPTNU)
Ketua : Dr. H. Noor Achmad, MA
Sekretaris : Dr. Muhammad Zain
Bendahara : Edi Kusnadi

18. LEMBAGA PENANGGULANGAN BENCANA DAN PERUBAHAN IKLIM NAHDLATUL ULAMA (LPBINU)
Ketua : Ir. Avianto Muhtadi, MM
Sekretaris : Drs. Sultonul Huda, M.Si
Bendahara : M. Ali Yusuf, SAg, Msi

Menikah di Makkah, Membawa Berkah?

titi ovie

Menikah di Makkah, Membawa Berkah?

SERAMBI KHUSUS


Orang Tua Bermasalah,
Bayi Disandera

Manusia rupanya sudah hilang rasa perikemanusiaannya. Bagaimana tidak, hanya gara-gara utang orang tuanya, sang bayi ‘disandera’ sebagai jaminan. Peristiwa semacam ini sudah terjadi berulang kali. Bahkan, baru-baru ini terjadi di Semarang dan Surabaya. Bagaimana pandangan Islam terhadap masalah ini?

AYU dan suaminya, warga Kalicari, Semarang hanya bisa mengelus dada. Anaknya yang berusia dua bulan 'disita' seseorang sebagai jaminan karena keduanya tak sanggup mengembalikan uang. Kejadian ini berawal saat suami Ayu membuka usaha rongsokan beberapa tahun silam. Usaha menerima dan menjual kembali barang 'sampah' itu berkembang dan terus berkembang.

Merasa butuh tambahan modal, suami Ayu yang enggan disebut namanya itu menghubungi sejumlah orang agar menanamkan modalnya. Usaha itu berhasil. Tak berselang lama, sejumlah orang menanamkan uangnya dengan bunga 10 persen per bulan. Tambahan modal itu membuat usaha rongsokan kian bagus. Suami Ayu sanggup memberi keuntungan sebagaimana dijanjikan kepada penanam modal yang jumlahnya tak diketahui pasti itu. Bisnis rongsokan plus investasi kian berkibar.

USAHA BANGKRUT
Beberapa bulan lalu meski jumlah setoran modal mencapai Rp 1,2 miliar, pelan-pelan usaha suami Ayu bangkrut. Para penanam modal pun berang. Berkali-kali mereka menagih keuntungan kepada keluarga Ayu, tapi selalu kandas. Akhirnya, saat Ayu melahirkan putra keduanya, seseorang berinsial A mengambil alih bayi yang baru lahir dua bulan lalu itu.

"Bayi itu diasuh keluarga A di Lampersari, Semarang. Seharusnya hal ini tidak terjadi, karena sejak awal suami Ayu dan penanam modal tak ada perjanjian bahwa anak bisa jadi jaminan," kata Kepala Biro PBHI Semarang, Kahar Muamalsyah. Setelah menjadi polemik, akhirnya bayi itu dilepas. Aipda Agus Susanto yang dituding menyita bayi itu sempat marah.

"Saya tidak pernah melarang mereka mengambil anaknya. Kalau mau dibawa sekarang, silakan. Saya tidak pernah berpikiran bayi itu jaminan utang," kata Agus di hadapan kedua orangtua bayi, Ayu dan Kenang, di rumah Agus, Jalan Bancarsari I No. 4C, Lampersari, Semarang, Jumat (25/5/). Ayu dan Kenang datang dengan ditemani Kepala Biro PBHI Semarang, Kahar Muamalsyah dan seorang staf PBHI. Dia diterima langsung oleh Agus dan keluarganya. Agus yang tengah menemui orangtua bayi, Ayu dan Kenang itu menyatakan, dirinya tidak pernah menghubung-hubungkan bayi itu dengan utang. Keluarganya merawat bayi karena kasihan.

"Orangtua bayi itu orang miskin dan punya utang hingga Rp 1,2 miliar. Sampai kapan pun, utang itu tidak bakal lunas. Makanya saya rawat bayinya agar beban mereka berkurang," tegasnya.

KARENA BIAYA PERSALINAN
Lain lagi dengan yang dialami Bambang Kusbiantoro (32) dan Mirza Indah (23). Bayinya tertahan di Rumah Sakit Islam Surabaya karena Bambang dan Mirza, pasutri yang tinggal kos di Jl. Wonorejo Selatan No. 7 Surabaya itu tak mampu membayar biaya persalinan istrinya. Karena itu, bayi yang baru dilahirkan satu bulan lalu itu harus tertahan di rumah sakit.

Sebenarnya drama bayi “tertahan” di rumah sakit ini bukan kali ini. Sebelumnya di di Rumah Bersalin (RB) Citra Lestari di Jalan Raya Citayam, Depok juga pernah mengalai hal serupa. Bayi mungil dari hasil perkawinan Rodjizah (19) dan Hamdani (25) harus tertahan selama tiga bulan lamanya. Persoalannya, pasutri asal Serambi Makkah, Aceh itu tak mampu membayar perawatan sebesar Rp 4,5 juta.

Kondisi ekonomi yang pas-pasan, tentu saja membuat Rodjizah dan Hamdani belum mampu membayar uang sebesar itu. Pihak rumah bersalin terpaksa menahan bayi yang baru lahir itu untuk tetap di rumah sakit hingga sampai orang tuanya bisa melunasi sejumlah uang kepada pihak rumah bersalin. Malangnya bayi itu tertahan di rumah bersalin itu berlangsung hingga tiga bulan lamanya. Ini memang sungguh menyedihkan. Akibat persoalan ekonomi, bayi-bayi itu untuk sementara, harus berpisah dengan orangtuanya yang tidak mampu menebus biaya kelahirannya.

Sedangkan menurut Bambang, drama buah hatinya yang tertahan di RSI itu berawal dari dirinya yang tak mampu membayar biaya persalinan istrinya selama mendapat perawatan di RSI, 28 April silam. Namun, kisah itu telah berakhir. Kini, bayi itu telah kembai ke pelukan Bambang dan Mirza.
“Ya sukurlah, bayi kami telah kembali,” ujar Bambang singkat. Biaya yang harus dikeluarkan Bambang saat itu sebesar Rp 2,1 juta. Namun, bagi Bambang yang mengaku bekerja sebagai sales kartu kredit di sebuah bank niaga ini, biaya itu masih mahal.

Hingga akhirnya, pada Rabu (23/5) lalu, lewat bantuan para donatur, bayi itu akhirnya bisa diambil dari RSI. Tentunya setelah segala pembayaran yang dibebankan kepada Bambang dan Mirza kepada pihak RSI telah dilunasi.

Dr H Sri Darmawanti, direktur medis Rumah Sakit Islam Surabaya mengatakan, sebenarnya pihak rumah sakit tidak membebankan sepenuhnya biaya perawatan ibu pasien dan bayinya. Bahkan kata Sri, pihak rumah sakit telah banyak memberikan keringanan kepada orang tua si jabang bayi agar bayi itu segara dibawa pulang.

Sebenarnya biaya perawatan ibu dan bayi Sabtu (28/4) hingga Rabu (16/5) dikenakan biaya sebesar Rp 2,7 juta. Tapi karena orang tua tidak mampu, akhirnya pihak rumah sakit memberi keringanan menjadi Rp 2.070.000 ribu rupiah.

“Meski sudah mendapat keringanan, tapi Bambang dan Mirza seperti masih tak mampu membayar. Mereka keberatan dengan jumlah yang ditawarkan masih relatif mahal. Bambang dan Mirza meminta untuk beri keringanan lagi,” tegasnya.
Karena belum bisa membayar juga, pihak rumah sakit pun kembali melakukan terobosan. Pihak RSI kemudian meminta Bambang untuk mengurus kartu miskin. Namun, Bambang tak juga membuat kartu miskin. Alasannya, KTP-nya sudah mati sejak lama. Menurut Sugustono, Kabiro Umum dan Rehabilitasi P3 A (Pusat Perlindungan Perempuann dan Anak) Sidoarjo, amat menyayangkan terjadinya penahanan bayi yang dilakukan RSI.

“Tak seharusnya hal itu terjadi. Tidak etis bila bayi yang baru lahir itu harus menanggung beban orang tua,” ujarnya. Tapi kalau memang memang terpaksa bayi itu harus jadi jaminan, karena ada alasan tertentu, maka pihak RSI berkewajiban untuk mengurus bayi itu dengan baik layaknya bayi yang lain. Hal ini karena bayi tidak boleh menjadi beban derita orang tua yang tak bisa melunasi utangnya.
“Kalau sampai ketahuan bayi itu diterlantarkan, maka pihak RSI bisa dipidanakan,” katanya. 04/lis








Menikah di Tanah Suci Makkah sekarang menjadi tren. Beberapa artis pun melakukannya. Bahkan, kabar terbaru, artis Titi Dwijayanti juga melakukan akad nikah di Tanah Suci. Benarkah menikah di Tanah Haram membawa berkah?

PENIKAHAN Titi Dwijayati dan Nuviar Rachmansyah menjadi perhatian masyarakat saat ini. Selain kisah cintanya yang terbilang buru-buru, juga proses akad nikah Titi DJ yang terbilang unik dan mengesankan. Titi dan Ovie menikah di Tanah Suci Makkah ketika keduanya melaksanakan umrah pada 22 Mei 2007. Titi dan Ovie menikah pada 23 Mei 2007, pukul 07.38 pagi waktu Makkah dengan wali hakim Habib Abdullah Assegaf dan penghulu Jafar Nasrudin dari KJRI Jaddeh.

Akad nikah berjalan lancar dengan maskawin uang sebesar 2.352.007 yang dilipat seperti gitar dan mikrofon. Titi tampak sangat bahagia dengan pernikahan ketiganya ini. Pasalnya, keluarga besar Titi merestui dan juga keenam anak mereka tidak mempermasalahkannya. Titi tampak tersenyum saat akad nikah berlangsung.
“Titi memang tengah berbahagia. Ini patut disyukuri karena mereka sama-sama musisi dan mungkin ini impian Titi sejak lama,” ujar Iwan, manajer Titi.

TEMPAT SAKRAL
Pernikahan Titi di Makkah ditanggapi positif oleh banyak artis. Salah satunya Cheche Kirani. Menurutnya, menikah di Makkah impian banyak orang. Sebab, Makkah dianggap tempat yang membawa berkah bagi umat Islam. Apalagi, suasana di Makkah nyaman untuk beribadah.
“Menikah itukan ibadah. Jadi, karena suasananya ibadah mereka memilih Makkah sebagai tempat akad nikah,” kata Cheche.

Selain alasan itu, kata Cheche, bagi orang Indonesia menikah adalah proses sakral yang tidak bisa dilakukan di sembarang tempat. Sehingga, mereka memilih tempat yang suci, sakral, dan penuh wibawa. Bagi para pejabat dan selebriti, mereka memilih Makkah karena suasananya nyaman dan tenang. “Kalau kita menikah di Indonesia suasananya rame. Karena disaksikan keluarga. Di Makkah suasananya sepi dan penuh ibadah. Mereka menikah ingin tempat yang sepi,” tambahnya.
Berbeda dengan Cheche, artis Gunawan mengaku memilih menikah di Makkah karena pertimbangan ibadah. Pasalnya, Makkah adalah tempat suci ibadah umat muslim. Alangkah baiknya jika suasana ibadah itu dimanfaatkan untuk acara akad nikah. Toh, akad nikah juga ibadah dan perintah Allah.

“Saya percaya bahwa Makkah adalah tempat ritual yang menyimpan banyak hidayah. Dengan pertimbangan itu kami menikah waktu itu,” tegas Gunawan. Kendati demikian Gunawan menepis citra pernikahan di Makkah selalu berujung cerai. Pasalnya, kasus perceraian tidak berkaitan dengan tempat pernikahan. “Kami bercerai bukan karena menikah di Makkah. tetapi karena ketidak cocokan,”katanya.

BAGIAN BUDAYA
Gunawan menambahkan, banyak jamaah dan pejabat yang menikah di Makkah justru keluarganya langgeng. Bahkan mereka bahagia seumur hidup. Karena, pernikahan sangat tergantung sama niatnya.

“Menurut aku, tergantung niatnya aja. Kalau niatnya menikah hanya untuk senang-senang, maka hasilnya juga begitu,” ucapnya. Gunawan berharap, umat Islam bisa menghilangkan imaje menikah di Makkah berujung perceraian. Pasalnya, Makkah adalah tempat suci dan dipelihara oleh Allah. Sehingga, orang yang hatinya suci dan ikhlas menjalankan ibadah di Makkah pahala berlipat ganda daripada ibadah di Indonesia.
“Allah melipatgandakan pahala orang yang ibadah di Makkah. Karena Makkah adalah tempat suci,” katanya.

Pakar Ushul fiqih, Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Prof Dr Amir Syaifuddin mengatakan, nilai mistik yang sering dilakukan umat Islam Indonesia berasal dari budaya Hindu. Namun, budaya tersebut sekarang sudah menjadi bagian dari budaya umat Islam Indonesia. Budaya tersebut bernilai manfaat dan positif. Salah satunya adalah menikah di Makkah. “Sebenarnya budaya haji berkali-kali dan umrah keluarga, umrah sambil menikah hanya ada di Indonesia. Di negara lain tidak demikian. Ini langkah positif dan bagian dari budaya,” kata Amir.
Menurutnya, Rasulullah sendiri dalam keterangan hadis tidak pernah melakukan haji lebih dari satu kali. Tetapi, setiap bulan Rasulullah berkunjung ke Makkah yang disebut umrah. Namun, umrah Rasulullah lebih bersifat ibadah bersama sahabat, bukan wisata seperti sekarang yang dilakukan umat Islam Indonesia.

“Dulu orang Indonesia setiap liburan pergi ke Eropa. Sekarang berubah pergi ke Arab sekaligus umrah. Langkah itu baik sekali, daripada pergi ke Eropa yang tempatnya maksiat, lebih baik pergi ke Makkah dengan niat ibadah,” katanya. Amir menambahkan, menikah di Makkah adalah bagian dari budaya yang positif. Kerena tujuannya baik dan bernilai ibadah. Jika sesuatu niatnya ibadah, insya Allah akan mendapatkan pahala dari Allah. “Setiap perbuatan yang niatnya ibadah, insya Allah balasannya pahala,” tegas Amir.

INGIN RIDA ALLAH
H Hasbullah, direktur sebuah travel mengatakan, pernikahan di Makkah sedang menjadi tren bagi masyarakat muslim Indonesia. Pasalnya, konjen RI memberikan banyak kemudahan bagi jemaah umrah untuk melaksanakan akad nikah di sana. Pihak konjen banyak membantu proses akad nikah sampai pelaksanaan syukuran akad nikah.

“Sejak dua tahun terakhir ini memang banyak jemaah umrah yang melaksanakan nikah di sana. Ini sesuatu yang baru dan harus dipertahankan,” kata Hasbullah.
Ia menambahkan, dulu umat Islam Indonesia pergi ke Makkah hanya untuk ibadah. Setelah itu tidak ada proses ritual yang lain. Namun sekarang berbeda, banyak travel yang menawarkan paket nikah, paket wisata, paket umrah keluarga, paket umrah tahajud, dan lain-lain. Semua itu dilakukan para pemilik travel untuk menjaring jumlah jemaah dan didukung oleh pihak Konjen RI yang memberikan kemudahan dalam pengurusan administrasi. “Dulu pemerintah Arab Saudi tidak memperbolehkan umrah bagi anak-anak. Apalagi menikah di sana. Tetapi sekarang berbeda.

Semuanya jadi boleh dan ini menjadi peluang bagi travel untuk menawarkan paket,” katanya.
Hal senada juga dikatakan H Muhammad Mashur yang selama ini banyak melayani pernikahan jemaah di Tanah Suci Makkah. Menurutnya, setiap bulan ada 2-3 jemaahnya yang melakukan pernikahan di Makkah, baik dari kalangan selebriti, pejabat, pengusaha, dan masyarakat awam. Mereka rata-rata menginginkan menikah di Makkah karena ingin hikmat dan mencari rida Allah. Apalagi, mereka sejak pacaran sudah punya niat untuk menikah di Makkah.
“Jemaah yang datang ke kantor menanyakan soal paket menikah di Makkah. Mereka tertarik karena syarat dan administrasinya mudah, apalagi Makkah dikenal sebagai kota suci umat Islam,” kata

Muhammad yang juga direktur operasional sebuah travel ternama di Jakarta.
Dijelaskan H Muhammad Mashur, selama ini proses menikah di Makkah banyak mendapatkan perhatian dari Konjen RI, termasuk penghulu, wali hakim, dan saksi-saksi serta juga surat nikah. Konjen RI telah menyediakan surat nikah pada saat itu juga. Padahal, tahun 2001, Konjen RI tidak bisa menyediakan surat akte nikah sehingga jemaah yang menikah di Makkah sifatnya hanya nikah siri.

“Kita banyak mendapatkan bantuan dari Konjen RI. Setiap jemaah yang mau menikah, pihak konjen langsung memberikan surat akte nikah. Ini luar biasa. Sama halnya menikah di Indonesia,” ucapnya. 04/ham










artis rame-rame titi




Sabtu, 01 Mei 2010

Sepuluh Tokoh Berpengaruh NU: Dari Hasyim Asy’ari sampai Presiden RI





Written by Publisher Team
Friday, 05 February 2010 11:01

Pengaruh mereka tidak hanya dalam bangunan yang berisikan para pemuda yang berpeci dan berkopiah, melainkan juga di gedung wakil rakyat, bahkan juga istana negara.


Peran NU dari sejak berdirinya, 1926, sampai hari ini cukup signifikan. Tidak hanya dalam hal keagamaan, melainkan juga dalam bidang-bidang lain, termasuk politik.

Kini, ketika NU memasuki usia 84 tahun, alKisah menyuguhkan penggalan-penggalan kisah sepuluh tokoh berpengaruh dalam kehidupan ormas keagamaan terbesar di Indonesia itu.

Hadratusy Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari

K.H. Hasyim Asy’ari lahir pada 24 Dzulqa`dah 1287 H atau 14 Februari 1871 M di Desa Nggedang, Jombang, Jawa Timur. Ia anak ketiga dari 10 bersaudara pasangan Kiai Asy`ari bin Kiai Usman dari Desa Tingkir dan Halimah binti Usman.

Ia lahir dari kalangan elite santri. Ayahnya pendiri Pesantren Keras. Kakek dari pihak ayah, Kiai Usman, pendiri Pesantren Gedang. Buyutnya dari pihak ayah, Kiai Sihah, pendiri Pesantren Tambakberas. Semuanya pesantern itu berada di Jombang.

Sampai umur 13 tahun, Hasyim belajar kepada orangtuanya sendiri sampai pada taraf menjadi badal atau guru pengganti di Pesantren Keras. Muridnya tak jarang lebih tua dibandingkan dirinya.

Pada umur 15 tahun, ia memulai pengembaraan ilmu ke berbagai pesantren di Jawa dan Madura: Probolinggo (Pesantren Wonokoyo), Tuban (Pesantren Langitan), Bangkalan, Madura (Pesantren Trenggilis dan Pesantren Kademangan), dan Sidoarjo (Pesantren Siwalan Panji).

Pada pengembaraannya yang terakhir itulah, ia, setelah belajar lima tahun dan umurnya telah genap 21 tahun, tepatnya tahun 1891, diambil menantu oleh Kiai Ya`kub, pemimpin Pesantren Siwalan Panji. Ia dinikahkan dengan Khadijah.

Namun, dua tahun kemudian, 1893, saat pasangan ini tengah berada di Makkah, Khadijah meninggal di sana ketika melahirkan Abdullah. Dua bulan kemudian Abdullah pun menyusul ibunya. Kala itu Hasyim tengah belajar dan bermukim di tanah Hijaz.

Tahun itu juga, Hasyim pulang ke tanah air. Namun tak lama kemudian, ia kembali ke Makkah bersama adiknya, Anis, untuk dan belajar. Tapi si adik juga meninggal di sana. Namun hal itu tidak menyurutkan langkahnya untuk belajar.

Tahun 1900, ia pulang kampung dan mengajar di pesantren ayahnya. Tiga tahun kemudian, 1903, ia mengajar di Pesantren Kemuring, Kediri, sampai 1906, di tempat mertuanya, Kiai Romli, yang telah menikahkan dirinya dengan putrinya, Nafisah.

Selama di Makkah ia belajar kepada Syaikh Mahfudz dari Termas (w. 1920), ulama Indonesia pertama pakar ilmu hadits yang mengajar kitab hadits Shahih Al-Bukhari di Makkah. Ilmu hadits inilah yang kemudian menjadi spesialisasi Pesantren Tebuireng, yang kelak didirikannya di Jombang sepulangnya dari Tanah Suci.

Selama hidupnya, K.H. Hasyim menikah tujuh kali. Selain dengan Khadijah dan Nafisah, antara lain ia juga menikahi Nafiqah, dari Siwalan Panji, Masrurah, dari Pesantren Kapurejo, Kediri.

Tahun 1899, 12 Rabi’ul Awwal 1317, ia mendirikan Pesantren Tebuireng. Lewat pesantren inilah K.H. Hasyim melancarkan pembaharuan sistem pendidikan keagamaan Islam tradisional, yaitu sistem musyawarah, sehingga para santri menjadi kreatif. Ia juga memperkenalkana pengetahuan umum dalam kurikulum pesantren, seperti Bahasa Melayu, Matematika, dan Ilmu Bumi. Bahkan sejak 1926 ditambah dengan Bahasa Belanda dan Sejarah Indonesia.

Kiai Cholil Bangkalan, gurunya, yang juga dianggap sebagai pemimpin spiritual para kiai Jawa, pun sangat menghormati dirinya. Dan setelah Kiai Cholil wafat, K.H. Hasyim-lah yang dianggap sebagai pemimpin spiritual para kiai.

Menghadapi penjajah Belanda, K.H. Hasyim menjalankan politik non-kooperatif. Banyak fatwanya yang menolak kebijakan pemerintah kolonial. Fatwa yang paling spektakuler adalah fatwa jihad, yaitu, “Wajib hukumnya bagi umat Islam Indonesia berperang melawan Belanda.” Fatwa ini dikeluarkan menjelang meletusnya Peristiwa 10 November di Surabaya.

Dalam paham keagamaan, pikiran yang paling mendasar Hasyim adalah pembelaannya terhadap cara beragama dengan sistem madzhab. Paham bermadzhab timbul sebagai upaya untuk memahami ajaran Al-Quran dan sunnah secara benar. Pandangan ini erat kaitannya dengan sikap beragama mayoritas muslim yang selama ini disebut Ahlussunnah wal Jama’ah.

Menurut Hasyim, umat Islam boleh mempelajari selain keempat madzhab yang ada. Namun persoalannya, madzhab yang lain itu tidak banyak memiliki literatur, sehingga mata rantai pemikirannya terputus. Maka, tidak mungkin bisa memahami maksud yang dikandung Al-Quran dan hadits tanpa mempelajari pendapat para ulama besar yang disebut imam madzhab.

NU didirikan antara lain untuk mempertahankan paham bermadzhab, yang ketika itu mendapat serangan gencar dari kalangan yang anti-madzhab.

Kiai Hasyim wafat pada 7 Ramadhan 1366 atau 25 Juli 1947 pada usia 76 tahun.


Abdul Wahab Chasbullah
Ia lahir pada bulan Maret 1888 di Tambakberas, Jombang. Nasabnya tidak jauh dari Hasyim Asy`ari. Nasab keduanya bertemu dalam satu keturunan dari Kiai Abdus Salam (Siapa dia?).

Ayahnya, Chasbullah, adalah pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas. Ibunya, Nyai Lathifah, juga putri kiai kondang (Siapa?).

Pendidikannya dihabiskan di pesantren, mulai dari Pesantren Langitan (Tuban), Mojosari, Nganjuk, di bawah bimbingan Kiai Sholeh, Pesantren Cepoko, Tawangsari (Surabaya), hingga Pesantren Kademangan, Bangkalan (Madura), langsung berguru kepada Mbah Cholil. Kiai Cholil kemudian menganjurkannya belajar ke Pesantren Tebuireng (Jombang).

Pada umur 27, ia pergi ke Makkah dan berguru kepada ulama-ulama besar Indonesia yang bermukim di sana, seperti Kiai Mahfudz Termas, Kiai Muhtarom Banyumas, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabaw, Kiai Bakir Yogya, Kiai Asy`ari Bawean. Ia juga belajar kepada tokoh-tokoh besar lain di sana yang bukan orang Indonesia, seperti Syaikh Sa`id Al-Yamani dan Syaikh Umar Bajened.

Tahun 1921, sewaktu menunaikan ibadah haji bersama istri, sang istri meninggal di Makkah. Kemudian ia menikah dengan Alawiyah binti Alwi. Setelah melahirkan seorang anak, istri kedua ini juga meninggal. Setelah itu ia menikah berturut-turut dengan tiga wanita yang semuanya tidak memberikan keturunan. Empat anak diperolehnya dari istri berikutnya, Asnah binti Kiai Said.

Setelah Asnah meninggal, ia menikah lagi dengan Fatimah binti H. Burhan, seorang janda yang punya anak bernama Syaichu, yang kelak menjadi ketua DPR pada masa Orde Baru. Sesudah itu ia menikah lagi dengan Masnah, dikaruniai seorang anak, lalu dengan Ashikhah binti Kiai Abdul Majid (Bangil), meninggal di Makkah setelah memberinya empat anak, dan yang terakhir dengan Sa`diyah, kakak sang istri, yang mendampinginya sampai akhir hayatnya dan memberinya keturunan lima anak.

Sedikit mundur ke belakang, tahun 1914, ketika berumur 26 tahun, ia mendirikan kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) bersama K.H. Mas Mansur.

Pada tahun 1916, ia mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Negeri) di Surabaya. Pengajarnya terdiri dari banyak ulama tradisional muda, seperti K.H. Bisri Syansuri (1886-1980) dan K.H. Abdullah Ubaid (1899-1938), yang di kemudian hari memainkan peranan penting di NU.

Masih pada tahun yang sama, bersama Kiai Hasyim Asy’ari (1871-1947), ia mendirikan koperasi dagang Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Pedagang) untuk kalangan tradisionalis di kisaran Surabaya-Jombang.
Pada tahun 1920, ia juga aktif dalam Islam Studie Club, jembatan untuk menghubungkan dirinya dengan tokoh-tokoh nasionalis modernis, seperti dr. Soetomo.

Sejak 1924, Wahab Chasbullah telah mengusulkan agar dibentuk perhimpunan ulama untuk melindungi kepentingan kaum tradisionalis.

Pada 31 Januari 1926, atas persetujuan Hasyim Asy`ari, ia mengundang para ulama terkemuka dari kalangan tradisionalis ke Surabaya untuk mengesahkan terbentuknya Komite Hijaz, yang akan mengirim delegasi ke kongres di Makkah untuk mempertahankan praktek-praktek keagamaan yang dianut kaum tradisionalis. Pertemuan 15 kiai terkemuka dari Jawa dan Madura itu dilakukan di rumah Wahab Chasbullah di Kertopaten, Surabaya.

Pertemuan tersebut akhirnya juga menghasilkan kesepakatan mendirikan NU, sebagai representasi Islam tradisional, untuk mewakili dan memperkukuh Islam tradisional di Hindia Belanda.

Kemudian, MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia, Dewan Tertinggi Islam di Indonesia), yang terbentuk pada September 1937, juga merupakan gagasan Wahab Chasbullah dan Ahmad Dahlan Kebondalem (NU), Mas Mansur (Muhammadiyah), dan Wondoamiseno (SI). Federasi organisasi Islam ini bertujuan meningkatkan komunikasi dan kerja sama di antara umat Islam.

Namun kemudian MIAI dibubarkan oleh Jepang dan dibentuklah Masyumi pada November 1943. Hasyim Asy`ari ditunjuk sebagai ketua umum dan Whab Chasbullah sebagai penasihat dewan pelaksananya.

Meski Masyumi adalah organisasi non-politik, pada kenyataannya fungsinya setengah politis, dimaksudkan untuk memperkuat dukungan umat Islam terhadap pemerintahan Jepang.

November 1945, Masyumi berubah menjadi parpol. Masyumi menjadi satu-satunya kendaraan politik umat Islam. Hasyim Asy`ari menjadi ketua umum Majelis Syuro (Dewan Penasihat Keagamaan), Wahid Hasyim, putra Hasyim Asy`ari, menjadi wakilnya, dan Wahab Chasbullah menjadi anggota dewan.

Selanjutnya, setelah NU menyetujui peran politik bagi Masyumi lewat muktamar di Purwokerto (1946), orang-orang NU tampil di pemerintahan, yakni Wahid Hasyim, Kiai Masykur, dan K.H. Fathurahman Kafrawi. Sedang Wahab Chasbullah menjadi anggota DPA.

Tahun 1947, Wahab Chasbullah menjabat rais am NU.

Benih-benih krisis NU-Masyumi mulai tumbuh pada 1952. Saat itu Wahab Chasbullah menjadi ketua Dewan Syuro. Maka ia sangat gencar mengkampanyekan penarikan diri NU dari Masyumi. Dan secara resmi NU menarik diri dari Masyumi pada 31 Juli 1952. Pada sidang parlemen 17 September 1952, tujuh anggota parlemen dari NU menarik diri dari Masyumi. Di antaranya Wahab Chasbullah, Idham Chalid, Zainul Arifin.

Mereka kemudian membentuk partai sendiri, NU. Akibatnya, Masyumi bukan lagi partai terbesar. “Gelar” itu jatuh ke tangan PNI.

Pada Pemilu 1955, di luar dugaan, NU meraih tempat ketiga setelah PNI dan Masyumi. Sejak itu kesibukan Wahab Chasbullah lebih banyak pada bidang politik praktis di Jakarta, terutama sebagai anggota parlemen dan rais am NU.

K.H. Wahab Chasbullah wafat tanggal 29 Desember 1971, pada usia 83 tahun, di rumahnya di Kompleks Pesantren Tambakberas, Jombang.


Bisri Syansuri
RUU Perkawinan, yang menyita banyak perhatian umat Islam pada tahun 1974, terselesaikan dan diterima umat Islam salah satunya karena peran besar Bisri. Sebagai tokoh utama PPP, ia mengajukan amandemen besar atas RUU yang telah diajukan ke DPR RI. Rancangan tandingan yang dibuat bersama sejumlah ulama itu, setelah mendapat restu dari Majelis Syuro PPP, diperjuangkan di DPR hingga akhirnya disahkan.

Begitu pula ketika ada usaha keras untuk mengganti tanda gambar PPP dari Ka`bah ke bintang pada Pemilu 1977, ia tampil dominan dan berhasil mempertahankan tanda gambar PPP.

Diakui atau tidak, ia adalah penerus Wahab Chasbullah, yang kebetulan sahabat karib dan kakak iparnya, baik di NU, PPP, maupun DPR.

Setelah Wahab wafat pada 1971, ia menggantikan posisi kakak iparnya itu di NU sebagai rais am. Tapi memang sejak adanya jabatan rais am, yang ditetapkan setelah wafatnya Hasyim Asy’ari pada 1947, keduanya menjadi “dwi tunggal” sebagai ketua dan wakil.

Bisri, anak nomor tiga dari lima bersaudara pasangan Syansuri dan Maiah, lahir pada 18 September 1886/26 Dzulhijjah 1304 di Tayu, Jawa Tengah, daerah yang kuat memegang tradisi ajaran Islam.

Umur tujuh tahun, ia belajar agama kepada Kiai Sholeh hingga umur sembilan tahun. Setelah itu ia mempelajari hadits, tafsir, dan bahasa Arab kepada Kiai Abdul Salam, salah seorang familinya yang hafal Al-Quran. Sesudah itu ia ke Jepara belajar kepada Kiai Syu`aib Sarang dan Kiai Cholil Kasingan.

Umur 15 tahun ia menuju Bangkalan, Madura, berguru kepada Kiai Cholil. Di sinilah ia berjumpa dan berteman akrab dengan Wahab Chasbullah.

Dari Bangkalan, ia menuju Jombang, berguru kepada K.H. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng.
Setelah enam tahun, ia mendapat ijazah untuk mengajarkan kitab hadits Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim serta kitab fiqih Matn Az-Zubad.

Seusai dari Tebuireng, ia melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Makkah bersama Wahab (1912). Di sana ia berguru kepada sejumlah ulama terkemuka, seperti K.H. Muhammad Bakir, Syaikh Muhammad Sa`id Yamani, Syaikh Ibrahim Madani, Syaikh Jamal Maliki. Juga kepada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabaw, Syaikh Syu`aib Dagestani, dan Syaikh Mahfudz Termas.

Tahun 1914 ia mempersunting adik Wahab Chasbullah, Nur Chadijah, di Tanah Suci. Setelah itu, tahun itu juga, Bisri balik ke tanah air dan menetap di Jombang, membantu mertuanya mengurus Pesantren Tambakberas.

Pada 1917, atas bantuan mertua, ia membuka pesantren sendiri di Desa Denanyar, yang populer dengan sebutan Pesantren Denanyar. Tahun itu pula, kakak iparnya, Wahab, pulang kampung. Bisri ikut terlibat dalam sepak terjang Wahab ketika mendirikan Komite Hijaz dan pembentukan NU pada 31 Januari 1926 di Kertopaten, Surabaya.

Dalam proses pendirian NU, Bisri menjadi penghubung antara Kiai Wahab dan Kiai Hasyim Asy`ari.

Segera setelah NU terbentuk, sebagai pembantu dalam susunan pengurus besar, ia menjadi motor penggerak di Jombang dan daerah pesirir utara Jawa. Posisi itu membuatnya dikenal secara luas.

Rumah tangga Bisri dikaruniai sepuluh anak, tapi ada beberapa yang meninggal waktu kecil. Di antaranya anaknya itu, Solichah, dinikahkan dengan Wahid Hasyim, putra sulung Hasyim Asy`ari, gurunya.

Ketika Masyumi terbentuk, ia pun aktif di dalamnya. Periode kemerdekaan juga membawanya pada fase perjuangan bersenjata. Di pemerintahan, ia mula-mula duduk di Komite Nasional Indonesia Pusat, mewakili Masyumi. Tahun 1855 ia terlibat dalam Dewan Konstituante hasil pemilu, mewakili NU. Pada Pemilu 1971 ia terpilih masuk DPR.

K.H. Bisri Syansuri menutup mata beberapa bulan setelah terpilih menjadi rais am NU dalam Muktamar Semarang Juni 1979, tepatnya pada 25 April 1980, dalam usia 94 tahun.

K.H. Ahmad Shiddiq

“Ibarat makanan, Pancasila, yang sudah kita kunyah selama 36 tahun, kok sekarang dipersoalkan halal dan haramnya.” Demikian ungkapan K.H. Ahmad Shiddiq mengenai penerimaan NU terhadap Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi, dalam Munas Alim Ulama 1983 di Situbondo.

NU adalah organisasi Islam pertama yang menerima Pancasila sebagai asas tunggal, padahal tidak sedikit umat yang menolaknya, apalagi partai Islam. Itulah ketokohan, kemampuan intelektual, dan kapasitas keulamaan Ahmad Shiddiq.

Pujian Presiden Suharto terucap pada tahun 1989 ketika membuka Muktamar NU ke-28 di Yogyakarta. Sejak itu, di bawah kepemimpinan Ahmad Shiddiq, sebagai rais am, pamor NU semakin terangkat.

Pada Muktamar NU ke-27/1984 di Situbondo, ia berhasil menjadi palang terakhir pemisahan diri yang dilakukan K.H. As`ad Syamsul Arifin terhadap kepemimpinan PBNU hasil Muktamar ke-28. Ia merangkul kembali kiai sesepuh NU yang kharismatis tersebut.

Pada Muktamar NU ke-28 itu ia berhasil menyelamatkan duet dirinya dengan Gus Dur, yang banyak menerima guncangan dari sebagian warga NU sendiri.

Begitu juga mengenai “kembali ke khiththah NU 1926”. Meski bukan satu-satunya perumus, dialah yang disepakati sebagai bintangnya kembali ke khiththah. Pada 1979 ia menyusun pokok-pokok pikiran tentang khiththah Nahdliyah, sebagai sumbangan berharga bagi warga NU.

Ahmad Shiddiq lahir di Jember tepat seminggu sebelum NU diresmikan berdirinya oleh Hasyim Asy’ari, yaitu 24 Januari 1926. Ayahnya, K.H. M. Siddiq, adalah pendiri Pesantren Ash Shiddiqiyah di Jember. Seusai belajar di Ash-Shiddiqiyah, ia belajar di Pesantren Tebuireng.

Ia diangkat menjadi sekretaris pribadi menteri agama ketika jabatan itu dipercayakan kepada Wahid Hasyim pada 1950. Ketika menjadi ketua Tanfidziyah NU, Abdurrahman Wahid, cucu K.H. Hasyim Asy`ari, pun berduet dengannya sebagai rais am PBNU.

Sebelum itu, ia mundur dari DPR hasil Pemilu 1955, karena, “Saya selalu bicara keras soal Nasakom.” Ia hadir kembali sebagai wakil rakyat setelah pemilu Orde Baru pertama, 1971.

Tanggal 23 Januari 1991, K.H. Ahmad Shiddiq berpulang ke rahmatullah pada usia 65 tahun. Sesuai wasiatnya, ia dimakamkan di pemakaman Auliya, Ploso, Kediri, tempat beberapa kiai hafal Al-Quran dikuburkan.

K.H. Wahid Hasyim
Gus Wahid, demikian ia biasa disapa, lahir pada Jum’at 1 Juni 1914, dari pasangan K.H. Hasyim Asy`ari, pendiri NU, dan Nyai Nafiqah binti Kiai Ilyas. Ia anak lelaki pertama pasangan tersebut.

Umur lima tahun, Wahid Hasyim mulai belajar mengaji kepada ayahnya, dan umur tujuh tahun sudah khatam Al-Quran.

Umur l3 tahun, ia masuk pesantren di Siwalan Panji, Sidoarjo, Mojosari, Nganjuk, dan Lirboyo. Setelah itu ia belajar sendiri berbagai ilmu pengetahuan.

Tahun 1932, ketika berumur 18 tahun, ia pergi haji dan bermukim di Tanah Suci selama dua tahun.

Empat tahun sepulang dari Tanah Suci, ia bergabung dengan NU. Di NU ia mulai dari bawah, sekretaris tingkat ranting di Desa Cukir. Namun lompatan panjang terjadi. Tak lama kemudian ia dipercaya menjadi ketua NU cabang Jombang, dan ketika departemen maarif (pendidikan) NU dibuka pada tahun 1940 ia ditunjuk sebagai ketuanya. Sejak itu ia duduk di barisan pengurus PBNU.

Pada umur 25 tahun ia menikah dengan Solichah binti K.H. Bisri Syansuri. Mereka pasangan yang serasi, termasuk dalam dunia politik. Ketika sang suami menjadi menteri, sang istri pun menjadi anggota DPR. Pasangan ini dikaruniai enam anak, empat laki-laki dan dua perempuan.

Bulan Maret 1942, Jepang mendarat. Semua ormas dan orpol Islam dilarang, dan dibentuk MIAI. Kiai Wahid terpilih menjadi ketuanya. Kedudukan itu, belakangan, mengantar dirinya ke pusat perjuangan bangsa Indonesia di zaman Jepang. Ia menjadi anggota Cu Sangi In, kemudian Dokuritsu Zombi Cosakai, hingga Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

K.H. Wahid Hasyim adalah salah satu dari sembilan orang yang menandatangani Piagam Jakarta. Sikapnya yang tegas tapi luwes menjadikannya figur yang dapat diterima oleh berbagai kalangan kendati umurnya baru sekitar 30 tahun.

Suksesnya mengintegrasikan kelasykaran golongan Islam ke dalam TRI, dan kemudian TNI, mengantarnya menjadi penasihat Panglima Besar Soedirman hingga terjadi Clash I, pemberontakan PKI Madiun, dan Clash II.

Setelah ayahnya wafat pada 25 Juli 1947, ia mengasuh Pesantren Tebuireng.

Dalam Kabinet Sukiman, ia menjadi menteri agama. Lima kali ia menjadi menteri. Yaitu menteri negara dalam Kabinet Presidentil I (1945), menteri negara dalam Kabinet Syahrir (1946-1947), menteri agama Kabinet RIS (1949- 1950), menteri agama Kabinet Natsir (1950- 1951), dan menteri agama Kabinet Sukiman (1951-1952).

Setelah tidak menjadi menteri, ia aktif dalam Partai NU, yang saat itu baru memisahkan diri dari Partai Masyumi.

Pada 19 April 1953, ia dipanggil ke haribaan Allah SWT dalam suatu kecelakaan lalu lintas di Cimindi, Cimahi, Jawa Barat, dalam usia 39 tahun. Jenazah dimakamkan di Tebuireng, hari itu juga.

Dengan Keppres No. 206/1964 tertanggal 24 Agustus 1964, gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional disandangkan kepada K.H. Wahid Hasyim.


K.H. M. Ilyas Ruhiat
Mohamad Ilyas lahir pada 31 Januari 1934. Ia putra pasangan Ajengan Ruhiat dan Siti Aisyah. Ilyas hanya nyantri di Cipasung. Sejak kecil, ia berpembawaan tenang dan sejuk, namun kharisma dan kecerdasannya diakui oleh para ulama di kalangan NU dan non-NU.

K.H. Ilyas memulai kariernya di organisasi NU sejak 1954, terpilih sebagai ketua NU Cabang Tasikmalaya. Saat itu ia merangkap ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Jawa Barat. Tahun 1985-1989, ia menjadi wakil rais Syuriah NU Jawa Barat.

Tahun 1989, saat muktamar NU di Krapyak, Ilyas terpilih menjadi salah seorang rais Syuriah PBNU. Puncaknya, tahun 1994, pada muktamar ke-29 NU yang berlangsung di Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, ia terpilih menjadi rais am PBNU, mendampingi K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sebagai ketua umum PBNU.

Pada saat muktamar NU di Krapyak, K.H. Ilyas menjadi salah satu anggota rais Syuriah PBNU. Kemudian, sejak Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar NU di Bandar Lampung tahun 1992, ia ditunjuk sebagai pelaksana rais am Syuriah NU, menggantikan Rais Am K.H. Ahmad Siddiq, yang wafat. Kemudian, ia kembali menjadi rais am untuk periode berikutnya, 1994-1999.

K.H. Ilyas menikah dengan Hj. Dedeh Fuadah, dan memiliki tiga anak.

K.H. Muhammad Ilyas Ruhiat, atau kerap disebut “Ajengan Ilyas”, adalah sosok yang sangat santun, lembut, mengayomi, dan menebarkan aura kesejukan. Kepribadiannya mencerminkan tipikal ulama NU sejati: penuh toleransi, bersahaja, dan gandrung pada kedamaian.

Potret kesejukan Kiai Ilyas Ruhiat semakin mengemuka ketika NU diguncang prahara usai Muktamar Cipasung tahun 1994.

Ketika itu perhelatan lima tahunan tersebut berakhir dengan pecahnya kepengurusan PBNU ke dalam dua kubu, pro Gus Dur dan pro Abu Hasan. Bahkan, kelompok kedua itu sempat mengadakan muktamar luar biasa di Asrama Haji Pondok Gede.

Lima tahun kemudian, dengan pendekatannya yang menyejukkan, perlahan warga NU kembali bersatu. Ketika merasa tugasnya untuk menyatukan jam`iyah sudah selesai, bapak tiga anak ini kemudian mengundurkan diri pada Muktamar Lirboyo 1999. Ajengan Ilyas lebih memilih kembali mengajar di pesantrennya di lereng Gunung Galunggung.

Ajengan Ilyas wafat pada Selasa 18 Desember 2007. Pengasuh Pesantren Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, ini berpulang ke hadirat Allah SWT dalam usia 73 tahun.

K.H. M.A. Sahal Mahfudz
K.H. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz, pengasuh Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah, seluruh kehidupan dan aktivitasnya terkait dengan dunia pesantren, ilmu fiqih, dan pengembangan masyarakat.

Kiai Sahal memang nahdliyyin tulen. Dalam menyikapi berbagai problematik sosial, ia selalu menjunjung tinggi sikap tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), dan tasamuh (egaliter), yang menjadi ciri khas ulama NU.

Namun, kontribusi pemikirannya yang paling menonjol adalah perhal fiqih sosial kontekstual, yakni bahwa fiqih tetap mempunyai keterkaitan dinamis dengan kondisi sosial yang terus berubah. Penampilan Kiai Sahal Mahfudz bersahaja, tenang, dan lugas dalam berbicara tapi tidak terkesan menggurui. Padahal ia adalah nakhoda kapal besar bernama Nahdlatul Ulama dan MUI, yang fatwa-fatwanya sangat berpengaruh.

Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz lahir di Desa Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, 17 Desember 1937. Ia putra K.H. Mahfudz Salam, pendiri Pesantren Maslakul Huda, pada tahun 1910. Nasab Mbah Sahal bermuara pada K.H. Ahmad Mutamakin, tokoh legendaris yang diyakini hidup pada abad ke-18, salah seorang waliyullah, penulis kitab tasawuf Serat Cebolek.

Sahal Mahfudz kecil mengaji kepada orangtuanya, sambil bersekolah di Madrasah Diniyyah tingkat ibtidaiyah (1943-1949) dan tingkat tsanawiyah (1950-1953) di lingkungan Perguruan Islam Mathaliul Falah, Kajen, Pati. Sambil sekolah di Madrasah Diniyyah, ia juga mengikuti kursus ilmu umum di Kajen (1951-1953).

Tamat MTs, Sahal nyantri di Pesantren Bendo, Pare, Kediri, Jawa Timur, yang diasuh Kiai Muhajir. Empat tahun kemudian ia melanjutkan ke Pesantren Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Di pesantren yang terkenal dengan pendidikan ilmu fiqih itu ia belajar langsung kepada Kiai Zubair. Selain mengaji, ia, yang sudah cukup alim, juga diminta membantu mengajar santri-santri yunior.

Pertengahan tahun 1960, usai menunaikan ibadah haji, Sahal Mahfudz bermukim di Makkah dan belajar kepada Syaikh Muhammad Yasin Al-Fadani. Tak kurang tiga tahun ia berguru kepada ulama besar Al-Haramain asal Padang itu. Tahun 1963, ia pulang ke tanah air.

Kehadiran ulama muda yang berita kealimannya dalam bidang fiqih sudah mulai tersebar itu segera saja menarik perhatian beberapa lembaga. Sejak 1966 Kiai Sahal diminta mengajar sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi. Puncaknya, sejak 1989, ia dipercaya menjadi rektor di Institut Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Meski hanya belajar di bangku pesantren, sejak muda Kiai Sahal telah menunjukkan bakat menulis. Tradisi yang semakin langka di lingkungan ulama NU. Ratusan risalah atau makalah dan belasan buku telah ditulisnya.

Salah satu karya yang merupakan bukti keandalannya dalam menulis adalah kitab Thariqat al-Hushul (2000), syarah atas kitab Ghayah Al-Wushul, sebuah kitab tentang ushul fiqh karya Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari. Karena kelebihan tersebut, Kiai Sahal kemudian banyak didekati kalangan media.

Kiprah Kiai Sahal di NU diawali dengan menjadi kahtib Syuriah Partai NU Cabang Pati 1967-1975. Kedalaman ilmunya dan kearifan sikapnya perlahan membawa langkah kaki suami Dra. Hj. Nafisah Sahal itu ke jenjang tertinggi di NU, yakni rais am Syuriah PBNU, untuk periode 1999-2004, dan terpilih lagi di Muktamar Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, untuk periode 2004-2009.

Kiai Sahal sangat teguh dalam menjaga sikap. Saat terpilih menjadi rais am PBNU pada 1999, ia menyampaikan pandangan kenegaraannya bahwa, sejak awal berdirinya NU, warga nahdliyyin berada pada posisi menjaga jarak dengan negara. Karena itu, meski jabatan presiden saat itu diemban oleh K.H. Abdurrahman Wahid, yang juga tokoh NU, Kiai Sahal tetap mempertahankan tradisi tersebut dengan selalu bersikap independen terhadap pemerintah.

Selain di NU, kefaqihan Kiai Sahal juga membawanya ke MUI. Setelah sepuluh tahun memimpin MUI Jawa Tengah, pada tahun 2000 ia terpilih menjadi ketua umum MUI Pusat untuk periode 2000-2005, dan terpilih lagi untuk periode 2005-2010.

K.H. Idham Chalid
Menyebut nama Kiai Idham Chalid, ingatan kita tentu akan melayang pada gonjang-ganjing NU pada tahun 1982-1984, yang melahirkan sekaligus menghadapkan dua kubu tokoh-tokoh nahdliyyin: kubu Cipete dan kubu Situbondo.

Konflik internal NU itu juga yang kemudian membuat Idham dianggap kontroversial. Bahkan ia dijuluki “politikus gabus”, karena dianggap tidak memiliki pendirian.

Tak banyak yang mau melihat sisi lain kebijakan-kebijakan Kiai Idham, yang sebenarnya sangat NU dan sangat Sunni. Sebagai politisi besar NU yang lihai, Idham memang memainkan dua lakon berbeda, sebagai politisi dan ulama. Sebagai politisi, ia melakukan gerakan strategis, dan bila perlu kompromistis. Sebagai ulama, ia bersikap fleksibel, tapi tetap tidak terlepas dari jalur Islam dan tradisi yang diembannya.

Semua itu ia lakukan sebagai bagian dari upaya kerasnya menjaga stabilitas kalangan bawah nahdliyyin, yang menjadi tanggung jawabnya, agar selamat fisik dan spiritual melewati masa-masa gawat transisi dari Orde Lama ke Orde Baru, yang berdarah-darah.

Strategi politik tersebut dilandaskan pada beberapa prinsip. Di antaranya, luwes, memilih jalan tengah ketimbang sikap memusuhi dan konfrontasi, yang justru membahayakan kepentingan umat. Menggunakan pendekatan partisipatoris terhadap pemerintah sehingga mampu memengaruhi kebijakan penguasa, demi kemaslahatan umat.

Menurut Idham, NU harus ikut andil dalam kekuasaan sebagai kekuatan penyeimbang. Cara ini dianggap lebih tepat dalam menghasilkan kebijakan-kebijakan pemerintah yang pro umat, daripada berada di luar kekuasaan, yang justru membuat sulit bergerak.

Efek kebijaksanaannya sangat luar biasa. Ia menjadi sangat berakar di kalangan bawah kaum nahdliyyin, terutama di luar Jawa, dan mampu bertahan di kancah perpolitikan tanah air lebih dari tiga dekade. Namun, dalam intrnal nahdliyyin ada anggapan bahwa keterlibatan NU di wilayah politik di bawah kepemimpinannya terlalu besar. Maka, dengan memanfaatkan isu kembali ke khiththah 1926 yang tengah digaungkan kalangan muda NU di Muktamar Situbondo 1984, pihak lawan membuat Idham terjatuh dari kursinya.

Idham Chalid lahir pada tanggal 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan. Ia anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya, H. Muhammad Chalid, penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 km dari Banjarmasin.

Sejak kecil Idham dikenal sangat cerdas dan pemberani. Saat masuk SR, ia langsung duduk di kelas dua dan bakat pidatonya mulai terlihat dan terasah. Keahlian berorasi itu kelak menjadi modal utama Idham Chalid dalam meniti karier di jagat politik.

Selepas SR, Idham melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Ar-Rasyidiyyah, yang didirikan oleh Tuan Guru Abdurrasyid, alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, pada tahun 1922. Kebetulan, saat Idham bersekolah di sana, beberapa guru lulusan Pesantren Gontor, yang terkenal dengan kelebihannya dalam pendidikan bahasa, direkrut untuk membantu mengembangkan pendidikan. Idham, yang sedang tumbuh dan gandrung dengan pengetahuan, mendapatkan banyak kesempatan untuk mendalami bahasa Arab, bahasa Inggris, dan ilmu pengetahuan umum.

Di mata para siswa dan wali murid, guru-guru alumni Gontor itu sangat hebat. Tak mengherankan, banyak siswa, termasuk Idham, bercita-cita melanjutkan pendidikannya ke pesantren yang didirikan oleh K.H. Imam Zarkasyi di Ponorogo, Jawa Timur, itu.

Di Gontor, otak cerdas Idham Chalid lagi-lagi membuat namanya bersinar. Kegiatan favoritnya di pesantren adalah kepanduan, yang kelak ditularkan kepada murid-muridnya di Amuntai dan di Cipete. Kesempatan belajar di Gontor juga dimanfaatkan Idham untuk memperdalam bahasa Jepang, Jerman, dan Prancis.

Tamat dari Gontor, 1943, Idham melanjutkan pendidikan di Jakarta. Di ibu kota, kefasihan Idham dalam berbahasa Jepang membuat penjajah Dai-Nipon sangat kagum. Pihak Jepang juga sering memintanya menjadi penerjemah dalam beberapa pertemuan dengan alim ulama. Dalam pertemuan-pertemuan itulah Idham mulai akrab dengan tokoh-tokoh utama NU.

Ketika Jepang kalah perang dan Sekutu masuk Indonesia, Idham Chalid bergabung ke dalam badan-badan perjuangan. Menjelang kemerdekaan, ia aktif dalam Panitia Kemerdekaan Indonesia Daerah di kota Amuntai. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, ia bergabung dengan Persatuan Rakyat Indonesia, partai lokal, kemudian pindah ke Serikat Muslim Indonesia.

Tahun 1947 ia bergabung dengan Sentral Organisasi Pemberontak Indonesia Kalimantan, yang dipimpin Hassan Basry, muridnya saat di Gontor. Usai perang kemerdekaan, Idham diangkat menjadi anggota Parlemen Sementara RI mewakili Kalimantan. Tahun 1950 ia terpilih lagi menjadi anggota DPRS mewakili Masyumi. Ketika NU memisahkan diri dari Masyumi, tahun 1952, Idham memilih bergabung dengan Partai Nahdlatul Ulama dan terlibat aktif dalam konsolidasi internal ke daerah-daerah.

Idham memulai kariernya di NU dengan aktif di GP Ansor. Tahun 1952 ia diangkat sebagai ketua PB Ma’arif, organisasi sayap NU yang bergerak di bidang pendidikan. Pada tahun yang sama ia juga diangkat menjadi sekretaris jenderal partai, dan dua tahun kemudian menjadi wakil ketua. Selama masa kampanye Pemilu 1955, Idham memegang peran penting sebagai ketua Lajnah Pemilihan Umum NU.

Sepanjang tahun 1952-1955, ia, yang juga duduk dalam Majelis Pertimbangan Politik PBNU, sering mendampingi Rais Am K.H. Abdul Wahab Chasbullah berkeliling ke seluruh cabang NU di Nusantara.

Dalam Pemilu 1955, NU berhasil meraih peringkat ketiga setelah PNI dan Masyumi. Karena perolehan suara yang cukup besar dalam Pemilu 1955, pada pembentukan kabinet tahun berikutnya, Kabinet Ali Sastroamijoyo, NU mendapat jatah lima menteri, termasuk satu kursi wakil perdana menteri, yang oleh PBNU diserahkan kepada Idham Chalid.

Pada Muktamar NU ke-21 di Medan bulan Desember tahun yang sama, Idham terpilih menjadi ketua umum PBNU, menggantikan K.H. Muhammad Dahlan.

Kabinet Ali Sastroamijoyo hanya bertahan setahun, berganti dengan Kabinet Djuanda. Namun Idham Chalid tetap bertahan di posisi wakil perdana menteri sampai Dekrit Presiden tahun 1959. Idham kemudian ditarik menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung, dan setahun kemudian menjadi wakil ketua MPRS.

Pertengahan tahun 1966 Orde Lama tumbang, dan tampillah Orde Baru. Namun posisi Idham di pemerintahan tidak ikut tumbang. Dalam kabinet Ampera, yang dibentuk Presiden Soeharto, ia dipercaya menjabat menteri kesejahteraan rakyat sampai tahun 1970 dan menteri sosial sampai 1971.
Nahdlatul Ulama di bawah kepemimpinan Idham kembali mengulang sukses dalam Pemilu 1971. Namun setelah itu pemerintah melebur seluruh partai menjadi hanya tiga partai: Golkar, PDI, dan PPP. Dan NU tergabung di dalam PPP.

Idham Chalid menjabat presiden PPP, yang dijabatnya sampai tahun 1989. Ia juga terpilih menjadi ketua DPR/MPR RI sampai tahun 1977. Jabatan terakhir yang diemban Idham Chalid adalah ketua Dewan Pertimbangan Agung.

Ali Ma’shum
Kiai Ali lahir pada 15 Maret 1915 di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Ia putra Kiai Ma`shum, pemimpin Pesantren Al-Hidayah, Soditan, Lasem Rembang, Jawa Tengah.

Ketika usianya menginjak 12 tahun, Ali dikirim ke Pesantren Termas, Pacitan, Jawa Timur, pesantren terbesar dan termasyhur kala itu selain Tebuireng, Jombang, dan Lasem sendiri. Di Termas ia berguru kepada Syaikh Dimyathi At-Tarmasi, adik Syaikh Mahfudz At-Tarmasi, ulama besar Nusantara yang mengajar di Masjidil Haram.

Sebagai putra kiai kondang, sejak kecil Ali telah digembleng dengan dasar-dasar ilmu agama. Sehingga, ketika delapan tahun belajar di Termas, ia sama sekali tak menemukan kesulitan. Ia mendapat perhatian istimewa dari Syaikh Dimyathi. Sejak awal mondok, Ali diizinkan gurunya mengikuti pengajian bandongan, yang biasanya hanya diikuti santri-santri senior. Bahkan ia dibiarkan membaca kitab-kitab karya ulama pembaharu, yang tidak lazim dipelajari di pesantren salaf. Syaikh Dimyathi menilai, Ali Ma’shum sudah memiliki dasar keilmuan yang cukup kuat, sehingga bacaan-bacaan itu tidak akan mempengaruhinya, bahkan justru akan memperluas pandangannya.

Segala kelebihan Ali Ma’shum itu tidak terlepas dari kepandaiannya dalam ilmu bahasa Arab, yang di atas rata-rata.

Sekembali dari Termas, Ali membantu ayahnya mengasuh pesantren mereka di Lasem. Tak lama kemudian ia dinikahkan dengan Hasyimah binti Munawir, putri pemimpin Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Sebulan setelah pernikahan, ia pergi haji.

Selain berhaji, selama dua tahun bermukim di Makkah, Ali juga belajar kepada ulama besar Tanah Suci, Sayyid Alwi Al-Maliky dan Syaikh Umar Hamdan.

Ketika Kiai Ali kembali dari Makkah, tahun 1941, kondisi tanah air kacau balau. Penjajah Jepang baru saja masuk. Seperti pesantren-pesantren lain, Pesantren Lasem pun sepi, ditinggal para santrinya.
Dengan usaha Kiai Ali yang gigih, perlahan pesantren yang didirikan ayahandanya itu kembali menggeliat bangkit.

Namun baru dua tahun ia memimpin Pesantren Lasem, ibu mertuanya datang dan minta dirinya pindah ke Krapyak, Yogyakarta, untuk memimpin pesantren yang baru saja ditinggal wafat Kiai Munawir.
Sentuhan tangan dinginnya berhasil menghidupkan kembali Pesantren Krapyak. Bersama ipar-iparnya, ia meneruskan kepemimpinan Kiai Munawir hingga Pesantren Krapyak kembali berkembang pesat dan dikenal luas.

Arus perubahan melanda NU menjelang dan di awal tahun 1980-an. Yakni, adanya keinginan untuk kembali ke khiththah 1926, bahwa NU tidak berpolitik. Setelah wafatnya Rais Am K.H. M. Bisri Syansuri pada 25 April 1981, untuk menduduki posisi puncak dalam kepemimpinan NU, salah seorang yang dianggap paling pas adalah Kiai Ali Ma’shum.

Benar saja, September 1981, Kiai Ali Ma’shum terpilih menjadi rais am PBNU. Ia dipilih dalam Muktamar NU di Kaliurang, Yogyakarta.

Masa 1981 sampai 1984 itu ternyata merupakan babak yang sangat menarik bagi NU. Tahun 1982 berlangsung pemilihan umum. Menjelang pemilu, beberapa tokoh NU disingkirkan dari PPP, sehingga di kalangan NU timbul keinginan untuk meninggalkan partai berlambang Ka’bah itu.

Kiai Ali termasuk orang yang tidak setuju dengan langkah tersebut. Bersama dengan Kiai As`ad Syamsul Arifin, Kiai Mahrus Ali, dan Kiai Masykur, ia minta agar Ketua PBNU K.H. Idham Chalid mundur dari jabatan, karena dianggap gagal memimpin.

Pada awalnya Idham Chalid setuju mundur. Tapi beberapa hari kemudian, karena ada pengkhianatan, ia mencabut pernyataan pengunduran dirinya itu.

Nahdlatul Ulama pecah menjadi dua kelompok: kelompok Idham Chalid, atau sayap politik, yang berbasis di Cipete, Jakarta Selatan, dan kelompok Kiai As’ad, atau sayap khiththah, yang disebut kelompok Situbondo. Walaupun demikian, selalu diupayakan agar terjadi ishlah. Namun usaha itu gagal.
Setelah upaya ishlah mentok, Kiai Ali menganggap kelompok Cipete tidak ada, hingga jabatan ketua umum atau ketua tanfidziyah dirangkap oleh rais am.

Pada 1983, sayap khiththah mengadakan Musyawarah Nasional Alim Ulama di Situbondo dan menghasilkan konsep kembali ke khiththah 1926. Tahun berikutnya, pada Muktamar ke-27, ditetapkanlah konsepsi tersebut serta penerimaan asas tunggal Pancasila. Dengan keputusan itu, NU menyatakan independen, tidak ada hubungan dengan partai politik tertentu. Jabatan ketua tanfidziyyah diserahkan kepada K.H. Abdurrahman Wahid dan jabatan rais am diserahkan kepada K.H. Achmad Siddiq. Kiai Ali sendiri duduk dalam Dewan Penasihat atau Mustasyar.

Kamis 7 Desember 1989, tepat usai adzan maghrib, Kiai Ali Ma’shum berpulang ke rahmatullah dalam usia 74 tahun. Keesokan harinya, ribuan umat Islam mengantarkan kepergiannya ke peristirahatan terakhir di Pekuburan Dongkelan, Bantul, Yogyakarta.


K.H. Abdurrahman Wahid
Saat Muktamar Nahdlatul Ulama di Situbondo, Jawa Timur, tahun 1984, sempat terjadi suasana yang panas. Bukan hanya karena konflik kubu Situbondo dan kubu Cipete, melainkan juga karena kubu Situbondo terancam pecah akibat K.H. Machrus Ali, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, menolak K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi ketua umum Tanfidziyah Pengurus Besar NU apabila tidak mau melepaskan jabatannya sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta. Alasannya, ketua umum PBNU tidak pantas ngurusi “kethoprak”.

Namun ternyata Gus Dur tidak mau mundur. Ia bersikeras lebih baik tidak jadi ketua umum PBNU daripada melepas jabatan ketua DKJ. Sikap keras Gus Dur sekilas tampak agak menyimpang dari tradisi keulamaan NU, yakni tunduk kepada kiai. Apalagi K.H. Machrus saat itu rais Syuriyah Pengurus Wilayah NU Jawa Timur.

Masalahnya kemudian terselesaikan saat K.H. Achmad Sidiq dari Jember bercerita kepada K.H. Machrus Ali. Ia bermimpi melihat K.H. Wahid Hasyim, ayah Gus Dur, berdiri di atas mimbar. Spontan K.H. Machrus berubah, sikap mendukung Gus Dur tanpa syarat. Ia menakwilkan mimpi itu, K.H. Wahid Hasyim merestui Gus Dur.

Sekalipun lebih tua, K.H. Machrus tawadhu kepada K.H. Wahid Hasyim, karena K.H. Wahid Hasyim adalah putra Hadratusy Syaikh K.H. Hasyim Asy`ari, pendiri NU dan gurunya.

Akhirnya Gus Dur terpilih sebagai ketua umum PBNU, dan pada dua muktamar berikutnya ia kembali terpilih sebagai ketua umum. Maka selama lima belas tahun (1984-1999) NU berada dalam kendali Gus Dur.

Kejadian di tahun 1984 itu menunjukkan kuatnya tradisi keulamaan di tubuh NU. Dua pilar dalam tradisi itu adalah nasab, yaitu atas dasar hubungan darah, dan hubungan patronase kiai-santri atau guru-murid.

Gus Dur memiliki nasab yang sangat kuat, baik dari jalur ayah maupun ibu. Selain cucu K.H. Hasyim Asy-ari dari jalur ayah, ia pun cucu K.H. Bisri Syansuri dari jalur ibu. K.H. Bisri Syansuri, rais am ketiga NU dan pengasuh Ponpes Denanyar, Jombang, adalah ayahanda Hj. Solichah Wahid Hasyim, ibunda Gus Dur.

Dalam hubungan patronase kiai-santri, Ponpes Tebuireng merupakan ”kiblat”, khususnya semasa K.H. Hasyim Asy`ari. Banyak kiai besar yang belajar di Tebuireng. Dalam tradisi keulamaan NU, penghormatan seorang santri kepada putra kiainya sama dengan kepada kiainya. Bahkan, sampai kepada cucu kiainya. Karena itu, putra atau cucu kiai dipanggil “Gus”.

Wajar jika Gus Dur memiliki superioritas tinggi di mata nahdliyin. Apalagi, ia juga memiliki kemampuan keilmuan yang dipandang sangat tinggi di antara para tokoh NU. Meskipun tidak dikenal sebagai spesialis dalam salah satu atau bebrapa cabang ilmu keislaman, ia sangat menguasai kitab kuning, juga kitab-kitab kontemporer yang disusun para ulama di masa belakangan. Selain mumpuni dalam ilmu-ilmu agama, ia pun menguasai berbagai ilmu lain dengan wawasan yang sangat luas.

Di masa Gus Dur, pamor NU terus menaik. Ia berhasil membawa NU menjadi kekuatan yang berskala nasional sebagai pengimbang kekuasaan, yang waktu itu tak terimbangi oleh siapa pun. Setelah sebelumnya kurang diperhitungkan, kecuali di saat-saat pemilu, NU kemudian berubah menjadi betul-betul dikenal dan dihormati banyak pihak, baik dari dalam maupun luar negeri. Jika sebelumnya jarang dibicarakan orang, dalam waktu singkat NU berubah menjadi obyek studi dari banyak sarjana di mana-mana. Semua itu tak dapat dilepaskan dari peran Gus Dur, baik sebagai ketua umum PBNU maupun sebagai pribadi dalam berbagai kapasitasnya.

Ya, Gus Dur memang punya kharisma yang besar di mata para kiai, apalagi di depan umatnya. Umat NU ketika itu sedang mencari tokoh yang menjadi jendela menuju dunia modern. Ada kebanggaan di kalangan NU terhadap Gus Dur, karena ia membawa pesantren dan NU ke dunia luar yang luas. Ia membuka masyarakat NU untuk sadar bahwa kita hidup dalam dunia global.

Sejak di bawah kepemimpinan Gus Dur, peran NU sebagai jam`iyyah maupun peran tokoh-tokohnya sebagai individu dari waktu ke waktu semakin kuat dan terus meluas, termasuk dalam politik. Meskipun secara resmi NU telah menyatakan diri kembali ke khiththah dan tidak lagi berpolitik praktis, pengaruh politiknya tak pernah surut, bahkan semakin menguat. Tokoh-tokoh NU yang terlibat di pentas politik, meskipun tidak mengatasnamakan NU, semakin banyak.

Munculnya PKB dan partai-partai baru lainnya sangat mengandalkan dukungan warga NU.

Dinamika politik kemudian terus bergulir. Hanya berselang setahun tiga bulan setelah pendirian PKB, akhirnya pada bulan Oktober 1999 Gus Dur terpilih sebagai presiden RI yang keempat melalui pemilihan langsung yang dramatis di MPR. Itulah puncak karier NU di pentas politik. Bill/AY

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"









"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog