Salah
satu peserta didiknya seorang nenek berusia 76 tahun. Ternyata, si
nenek tak bisa membaca Al-Qur’an. Namun karena kesungguhannya,
subhanallah, dalam waktu sembilan bulan ia telah hafal Al-Qur’an. Syaikh Ali Jaber, demikian sapaan akrab Syaikh Ali Saleh Muhammad Ali Jaber, lahir di kota Madinah Al-Munawarah pada tanggal 3 Shafar 1396 H, bertepatan dengan tanggal 3 Febuari 1976 M. Ia menjalani pendidikan, baik formal maupun informal, di Madinah. Tahun 1410 H/1989 M, ia tamat ibtidaiyah, tahun 1413 H/1992 M tamat tsanawiyah, tahun 1416 H/1995 M tamat aliyah. Tahun 1417 H/1997 M hingga saat ini ia mulazamah (melazimi) pelajaran-pelajaran Al-Qur’an di Masjid Nabawi, Madinah. Sedari kecil Ali Jaber telah menekuni membaca Al-Qur’an. Ayahandanyalah yang awalnya memotivasi Ali Jaber untuk belajar Al-Qur’an, karena dalam Al-Qur’an terdapat semua ilmu Allah SWT. Dalam mendidik agama, khususnya Al-Qur’an dan shalat, ayahnya sangat keras, bahkan tidak segan-segan memukul bila Ali Jaber kecil tidak menjalankan shalat. Ini implementasi dari hadis Nabi Muhammad SAW yang membolehkan memukul anak bila di usia tujuh tahun tidak melaksanakan shalat fardhu. Keluarganya dikenal sebagai keluarga yang religius. Di Madinah ia memiliki masjid besar yang digunakan untuk syiar Islam. Sebagai anak pertama dari dua belas bersaudara, Ali Jaber dituntut untuk meneruskan perjuangan ayahnya dalam syiar Islam. Meski pada awalnya apa yang ia jalani adalah keinginan sang ayah, lama-kelamaan ia menyadari itu sebagai kebutuhannya sendiri. Tidak mengherankan, di usianya yang masih terbilang belia, sebelas tahun, ia telah hafal 30 juz Al-Qur’an. Sejak itu pula Syaikh Ali memulai berdakwah mengajarkan ayat-ayat Allah SWT di masjid tersebut, kemudian belanjut ke masjid lainnya. Selama di Madinah, ia juga aktif sebagai guru tahfizh Al-Qur’an di Masjid Nabawi dan menjadi imam shalat di salah satu masjid kota Madinah. Tahun 2008, ia melebarkan sayap dakwahnya hingga ke Indonesia. Kebetulan ia menikahi seorang gadis shalihah asli Lombok, Indonesia, bernama Umi Nadia, yang lama tinggal di Madinah. Pada tahun yang sama, ia melaksanakan shalat Maghrib di masjid Sunda Kelapa Jakarta Pusat. Selepas shalat ada salah seorang pengurus masjid memintanya untuk menjadi imam shalat Tarawih di masjid Sunda Kelapa, karena saat itu hampir mendekati bulan Ramadhan. Sejak itulah ia terus mendapat kepercayaan masyarakat di sejumlah tempat di Indonesia. Demi menunjang komunikasinya dalam berdakwah, ia pun mulai belajar bahasa Indonesia. Diterima Semua Kalangan Kini, aktivitas ayah satu orang anak ini semakin padat, di antaranya mengajar tahfizh Al-Qur’an di Islamic Centre Cakranegara, Lombok, NTB, sekaligus menjadi imam besar dan khatib, imam shalat Tarawih, dan pembimbing tadarus Al-Qur’an selama Ramadhan 1429 H/2007 M, di Masjid Agung Al-Muttaqin Cakranegara, serta imam shalat ‘Idul Fithri 1429 H di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, pengajar di Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Al-Asykar, Puncak, Jawa Barat, muballigh pada beberapa majelis ta’lim di Jakarta dan sekitarnya. Ia juga berdakwah melalui media bersama Ustadz Yusuf Mansur melalui program Nikmatnya Sedekah di salah satu stasiun televisi swasta, dan Indonesia Menghafal. Sebagai seorang hafizh, ia begitu menginginkan agar banyak di antara umat Islam Indonesia juga dapat hafal Al-Qur’an. Ia ingin menjadi khadimul Qur’an, pelayan Al-Qur’an, yang mengabdikan dirinya untuk mengajarkan Al-Qur’an. Menurutnya, semua bisa hafal Al-Qur’an, bahkan hafal Al-Qur’an itu mudah. Yang sulit adalah mengamalkannya. Tahun 2009-2010 ia pernah mendatangkan keluarganya untuk membantu program menghafal Al-Qur’an di Indonesia. Kesebelas adiknya, baik yang laki-laki maupun perempuan, juga hafal Al-Qur’an. Kini ia baru menyadari manfaat didikan orangtuanya yang keras dalam mengajarkan agama. Syaikh Ali benar-benar merasakan manfaatnya dalam belajar Al-Qur’an. “Saya merasa bersyukur atas pendidikan yang diberikan orangtua kepada saya,” katanya. Ia berharap bisa bermanfaat untuk umat Islam dan juga untuk dirinya sendiri, dan meraih ridha Allah SWT. Syaikh Ali juga merasa bersyukur bisa begitu diterima semua kalangan, baik masyarakat maupun pejabat. “Ini semua tidak terlepas dari kekuasaan Allah SWT dan berkah Al-Qur’an serta orangtua. Allah SWT berjanji akan mengangkat dan meninggikan orang-orang yang menekuni Al-Qur’an.” Hafal Al-Qur’an itu Mudah Di Indonesia, ia memiliki program mudah menghafal Al-Qur’an.
Hanya dengan waktu enam bulan kita bisa hafal Al-Qur’an, karena pada
dasarnya menghafal itu memang mudah. Bahkan dengan ketekunan dan
kesungguh-sungguhan bisa hafal Al-Qur’an dengan waktu yang lebih
singkat.Salah satu metode menjaga hafalan adalah menyimpan hafalan melalui shalat sunnah qabliyah dan shalat sunnah malam dengan membacanya. Ada juga dengan membacanya sesaat sebelum tidur. Menurutnya, ini cara terbaik. Esok hari, ketika bangun tidur, insya Allah hafalan Al-Qur’an-nya tidak hilang. Sebetulnya tidak ada syarat khusus bagi yang ingin menghafal Al-Qur’an, karena semua umat Islam bisa hafal Al-Qur’an, baik tua maupun muda, bisa membaca Al-Qur’an atau tidak. Terbukti, beberapa tahun silam, ketika ia masih di Madinah, ada salah satu peserta didiknya seorang nenek berusia 76 tahun. Si nenek ternyata juga tak bisa membaca Al-Qur’an. Namun karena kesungguhannya, subhanallah, dalam waktu sembilan bulan ia telah hafal Al-Qur’an. Kejadian ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan memang mudah dipahami oleh umat-Nya. Ini sesuai janji Allah SWT. Hanya saja, mereka yang sudah lancar membaca Al-Qur’an akan semakin mudah menghafal Al-Qur’an. Kini sang nenek ini telah tiada, ia meninggal dunia ketika sedang melaksanakan shalat malam. Allahummaghfirlaha warhamha.... Menurut Syaikh Ali, belakangan sistem mudah menghafal Al-Qur’an sudah tumbuh subur. Karena memang sebetulnya menghafal Al-Qur’an itu mudah. Yang sulit itu adalah memahami kandungan Al-Qur’an dan mengamalkannya. Inilah mukjizat Al-Qur’an, mudah dihafalkan. Menurut Syaikh Ali Jaber, ada empat target ahli Al-Qur’an: menghafal Al-Qur’an, istiqamah membaca Al-Qur’an, memahami isi kandungan Al-Qur’an, dan terakhir mengamalkan isi kandungan dalam Al-Qur’an. Allah SWT melarang berdusta, maka jangan berdusta. Allah SWT melarang memakan harta riba, maka jangan melakukannya. Allah SWT akan membuka rahasia keutamaan sesuatu setelah seseorang berani berkorban empat hal, yaitu waktu, tenaga, harta, dan pikiran. Berapa lama waktu yang telah dihabiskan untuk menghafal Al-Qur’an. Begitu juga tenaga, berhari-hari, bahkan sampai ada yang bertahun-tahun rela mengorbankan tenaganya untuk menghafalkan Al-Qur’an tanpa lelah. Kemudian harta yang dimiliki juga ia rela korbankan untuk menghafal Al-Qur’an, baik untuk membayar tenaga atau guru, akomodasi diri sendiri, maupun untuk sedekah. Dan terakhir pikiran. Ketika menghafalkan Al-Qur’an, seseorang hendaknya memusatkan pikirannya agar target menghafalnya sesuai dengan yang telah direncanakan. Fenomena yang banyak terjadi, menurutnya, umat hanya menginginkan yang serba cepat, tapi tanpa mengorbankan waktu, tenaga, uang, dan pikiran, untuk menghafal Al-Qur’an. Berbagai program dan metode canggih seperti yang telah dipaparkan oleh Syaikh Ali sekalipun tetap membutuhkan waktu dan keseriusan, tidak bisa hanya sekali atau dua kali saja. Sebagai kitab suci, Al-Qur’an memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam. Terlebih bagi para pendakwah. “Dalam berceramah, kita selalu mengutip ayat suci Al-Qur’an. Kurang sempurna peran seorang muballigh bila dalam setiap seruannya kepada umat Islam tidak mendasarkannya pada dalil kalamullah dan kalam Rasulullah SAW,” kata Syaikh Jaber. SEL*AP |
| ||||
Kamis, 08 November 2012
Syaikh Ali Saleh Muhammad Ali Jaber: Ingin Menjadi Pelayan Al-Qur’an
Selasa, 24 April 2012
Sayidina Umar RA dan Nenek Buta
Di sebuah rumah kecil, hidup seorang nenek buta yang memiliki seekor kambing, sebuah ember dan tikar yang sudah usang. Melihat keadaanya yang sangat menyedihkan, Umar bin Khattab berjanji kepadanya untuk datang setiap saat membantu membersihkan rumahnya, memeras susu kambing dan membawa makanan baginya.
Satu hari sebagaimana biasa ia datang ke rumah nenek buta itu, tapi hari itu sangat berbeda dengan hari hari yang lain, ia mendapatkan rumahnya sudah rapi, bersih, susu kambing sudah diperas dan makanan sudah tersedia. Beliau sangat heran siapa gerangan yang datang kerumah nenek itu?.
Hari berikutnya ia datang lagi ke rumahnya. Begitu pula ia dapatkan rumahnya sudah rapi, bersih, susu kambing sudah diperas dan makanan sudah tersedia. Timbul penasaran di hati Umar ra ingin cari tahu siapa gerangan yang datang membantu nenek tua tadi.
Hari berikutnya ia datang ke rumah nenek buta pagi pagi sekali. Hari itu berbeda dengan hari biasanya, ia tidak masuk ke rumahnya, tetapi ia duduk di luar rumah menunggu siapa gerangan yang datang ke rumahnya setiap hari. Tiba tiba seorang datang mengetuk pintu rumah nenek buta itu dan masuk ke dalam rumah. Ia adalah Abu Bakar Shiddik ra. Pada saat itu ia menjabat sebagi khalifah.
Setelah Umar ra mengetahui kejadian itu, Ia kembali pulang dan di hati beliau tersimpan kesan indah dan pujian terhadap perbuatan dan kemurahan hati khalifah Abu Bakar ra yang selalu mendahuluinya dalam segala kebaikan.
Wallahua’lam
Hasan Husen Assagaf
(sumber://hasanalsaggaf.wordpress.com)
Minggu, 08 Mei 2011
Al-Azhar Adalah Asy`ari
Siapa yang tidak kenal dengan Universiti al-Azhar asy-Syarif. Pusat pengajian ulung yang telah melahirkan ramai ulama yang berjasa di seluruh pelusuk dunia Islam. Alhamdulillah, dalam menghadapi serangan kaum salafi gadungan yang menuduh aqidah al-Asy`ari dan al-Maaturidi sebagai sesat dan keluar daripada Ahlus Sunnah wal Jama`ah, maka para ulama al-Azhar turut dengan lantang mempertahankan pegangan majoriti umat Islam tersebut. Bahkan Syaikhul Azhar, Prof. Dr. Ahmad ath-Thayyib hafizahUllah menegaskan bahawa al-Azhar berpegang dengan `aqidah al-Asy`ari dan al-Maaturidi, fiqh para Imam yang empat dan tasawwuf Imam Junaid. Bahkan, al-Azhar asy-Syarif akan tetap kekal atas `aqidah al-Asy`ari dan pemikiran sufi yang shahih. Inilah antara pernyataan beliau di hadapan ratusan pelajar antarabangsa yang mengikuti pengajian di al-Azhar sebagaimana dilaporkan dalam akhbar "al-Hayat". Beliau juga menyifatkan puak-puak yang mengaku "salafi" yang ada pada masa kita ini, yang suka menyesatkan secara sembrono umat Islam yang tidak sefaham dengan mereka sebagai "Khawarij al-`Ashri" - puak Khawarij zaman moden.Maka kepada puak-puak "Khawarij al-`Ashr", bersederhanalah, perkara furu` yang menjadi khilaf fiqh janganlah dijadikan sebagai perkara `aqidah pula sehingga tergamak menyamakan umat yang bersyahadah dengan kaum musyrikin. Janganlah mudah-mudah menyesatkan pegangan majoriti umat Islam. Sungguh puak-puak ekstrem ini telah menanam dakyah mereka dalam negara kita sehingga ada yang telah secara terang - terangan memproklamir bahawa al-`Asyairah sebagai sesat dan bukan Ahlus Sunnah wal Jama`ah.... Allahu ... Allah... tanggung depan Allah nanti. Ada jugak balaci mereka yang tergamak menyesatkan Imam-Imam Muslimin sebesar Imam Ibnu Hajar al-`Asqalaani rahimahUllah kerana beliau berpegang dengan `aqidah al-Asy`ari. Mereka mencanangkan ke sana ke mari akan fatwa-fatwa songsang sesetengah puak badwi "Khawarij al-Ashr" yang menjajah bumi Hejaz tempat al-Haramain. Mereka kini juga tidak segan silu membawa tokoh-tokoh mereka ke tempat kita dengan menempelkan gelar-gelar tertentu untuk mengelirukan orang awam. Maka berhati-hatilah wahai ikhwah sekalian dan tetap teguhlah kita atas pegangan `aqidah yang sebenar. Janganlah didengar dakyah-dakyah puak "Khawarij al-Ashr" yang bertopengkan pegangan Salaf. Sesungguhnya kitalah pengikut salaf yang sebenar, tiadalah khalaf itu melainkan kesinambungan bagi salaf.
Oleh itu, diharap para ulama kita, teristimewanya para Azhariyyun, agar semakin gigih memperjuang dan mempertahankan ajaran Ahlus Sunnah wal Jama`ah yang sebenar yang berteraskan `aqidah al-`Asyairah yang mubarakah yang menjadi anutan majoriti umat Islam di seluruh dunia sepanjang masa. Janganlah dibiarkan puak-puak "Khawarij al-`Ashr" mencemuh dan menuduh `aqidah kita ini sebagai bid`ah dan sesat.
Shallu 'ala Khairil Anam
Malam ini kita memperingati hari kelahiran Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW. Sekarang sambutannya turut dimeriahkan dengan konsert - konsert sholawat dan seumpamanya. Ianya adalah sesuatu yang elok dan baik, pada dasarnya, atas niat untuk membumikan sholawat, untuk menanamkan cinta kasih kepada Junjungan SAW, untuk memberi alternatif kepada hiburan-hiburan yang melalaikan, sebagai media dakwah istimewanya bagi para pemuda-pemudi yang sukakan suara-suara merdu dan bunyi-bunyian yang indah. Akan tetapi perlu diberi perhatian bahawa dalam berdakwah pun kita mesti menjaga syarat, peraturan dan adab agar apa yang dilakukan tidak mengandungi unsur-unsur yang bercanggah dengan syariat. Maka perlulah diberi perhatian agar majlis-majlis seumpama ini tidak dicemari perkara-perkara yang ditegah oleh syarak yang mulia. Antaranya hendaklah diikhtiarkan sedapat-dapatnya agar pergaulan antara hadirin terjaga dari segala unsur pergaulan bebas yang dilarang oleh Syarak. Para penganjur hendaklah lebih peka untuk menegakkan syariah dari hanya meninggikan syiar. Moga kita sentiasa dalam rahmat dan keredhaan Allah SWT dan mendapat pandangan khusus daripada baginda Nabi Besar Muhammad SAW.وَ أجْمَلُ مِنْكَ لَمْ تَلِدِ النّسَاءُ
خلقتَ مبرءاً منْ كلّ عيبٍ
كأنكَ قدْ خلقتَ كما تشاءُ
Yang lebih indah daripadamu belum pernah wanita melahirkan
Engkau dicipta bebas dari segala keaiban
Seolah-olah menurut kemahuanmulah engkau diciptakan
Hayatul Anbiya` - Fatwa al-Baarizi
Imamul Fuqaha`, Syaikhul Islam, Syarafuddin, HibatUllah bin 'Abdur Rahim bin Ibrahim al-Baarizi adalah seorang ulama terkemuka bermazhab Syafi`i. Beliau dilahirkan di Hamah pada 27 Ramadhan 645H dan dibesarkan dalam keluarga ilmuwan. Ayahanda beliau, Abdur Rahim digelar sebagai Najmuddin, adalah seorang qadhi. Begitulah juga dengan datuk beliau, Ibrahim yang diberi gelaran Syamsuddin. Pendidikan awalnya diperolehi daripada ayah dan datuknya tersebut. Kemudian, beliau turut belajar dengan ramai ulama terkemuka, antaranya Syaikhul 'Iraq Abil 'Abbas Ahmad bin Ibrahim al-Faarutsi, al-Muhaddits Ibrahim bin 'Abdullah al-Armuni, al-Muhaddits Muhammad bin 'Abdul Mun`im, Syaikhul Qurra` Muhammad bin Ayyub al-Tadzafi dan Hujjatul 'Arab Muhammad bin 'Abdullah bin Malik ath-Tho-ie.Imam al-Baarizi menekuni jalan ilmu dan menyebarkannya. Kealiman beliau diakui umat sezaman dengannya dan ramai pelajar datang untuk belajar dengan beliau. Di antara murid beliau ialah Qadhi Qudhah Ismail bin Muhammad al-Lakhmi an-Andalusi al-Maliki, al-Faqih Muhammad bin Muhammad al-Maushili, Syaikh 'Umar bin Ibrahim al-'Ajmi al-Halabi, al-Hafiz al-Barzali, al-Hafiz adz-Dzahabi, al-Mu`arrikh Ibnul Wardi, Imam Taqiyuddin as-Subki dan ramai lagi. Bahkan menurut Imam Ibnu Hajal al-`Asqalani, Imam as-Sakhawi pernah mengutus beberapa pertanyaan kepada Imam al-Baarizi dan beliau telah memberikan jawapannya yang kemudiannya dicatat oleh Imam as-Sakhawi dalam karya-karya beliau.
Pada tahun 675H, Imam al-Baarizi telah dilantik menjadi qadhi Hamah., jawatan yang dipegangnya selama 40 tahun. Tugas sebagai qadhi dilaksanakannya dengan menuruti sunnah Junjungan Nabi SAW dengan penuh amanah dan adil. Beliau menolak upah atau gaji yang diberikan kepadanya sebagai seorang qadhi dan memilih untuk hidup zuhud dengan menjauhi segala perhiasan duniawi. Beliau mempunyai kegemaran membaca dan mengumpul berbagai jenis kitab, bahkan dikatakan bahawa tiada siapa yang memiliki koleksi kitab sepertinya. Setelah beliau wafat, kitab-kitabnya diwakafkan bagi penuntut ilmu dan dianggarkan nilainya berjumlah 100,000 dirham.
Imam al-Baarizi meninggalkan banyak karya tulis dalam bidang fiqh, tauhid, hadits, qiraah dan sebagainya. Qadhi Safadi Syamsuddin Muhammad bin 'Abdur Rahman al-'Uthmani dalam tabaqatnya menyebut bahawa Imam al-Baarizi menulis lebih dari 70 buah kitab. Di antara karya beliau adalah:-
- al-Asas fi Ma'rifah Ilahin Naas;
- Badi`ul Qur`an;
- Asrarut Tanzil;
- an-Nasikh wal Mansukh;
- al-Bustan fi Tafsiril Qur`an;
- al-Faaridah al-Baariziyyah fi Syarhi asy-Syathibiyyah;
- Tautsiqu 'Ural Imaan fi Tafdhil Habibir Rahman;
- al-Wafa` fi Ahaditsil Musthofa;
- al-Mujarrad minal Musnad;
- at-Tamyiz;
- Nadzam al-Hawi ash-Shoghir;
- Syarah al-Hawi ash-Shoghir.

Imam al-Baarazi rahimahUllah telah ditanyai berhubung Junjungan Nabi SAW, samada baginda hidup (yakni dengan kehidupan barzakhiyyah) selepas kewafatan baginda. Beliau menjawab soalan tersebut dengan katanya:-Oleh itu, janganlah pula kita yang mematikan hubungan kita dengan Junjungan Nabi SAW. Berusahalah agar baginda sentiasa hidup dalam diri, hati dan jiwa kita sentiasa. Biarlah berderai air mata kita tatkala mengucapkan salam dan sholawat atas baginda, kerana pasti ianya diketahui dan disampaikan kepada baginda dan percayalah baginda pasti akan membalas kebaikan dengan kebaikan. Baginda terlalu mulia dan tinggi untuk melupai kebaikan seseorang walaupun kebaikan itu sebenarnya tiada nilai sekupang pun. Syafaat ... Syafaat Ya RasulAllah.
Sesungguhnya baginda SAW itu hidup (yakni dengan kehidupan barzakhiyyah yang sempurna). Telah berkata al-Ustaz Abu Manshur 'Abdul Qaahir bin Thohir al-Baghdaadi, seorang yang faqih lagi ahli ushul, syaikhnya para pengikut mazhab asy-Syafi`iyyah: "Ulama ahli kalam yang benar daripada kalangan sahabat kami (yakni daripada kalangan ulama asy-Syafi`iyyah) berpendapat bahawa Junjungan Nabi kita SAW hidup selepas kewafatan baginda, baginda bergembira dengan ketaatan umatnya dan bersedih dengan maksiat yang dilakukan oleh para penderhaka daripada kalangan umatnya. Bahawasanya disampaikan kepada baginda akan sholawat yang diucapkan kepada baginda oleh umatnya. Sesungguhnya para nabi itu (yakni jasad mereka) tidak punah binasa dan tidak sedikit pun dimakan tanah. Nabi Musa AS telah wafat pada zamannya dan Junjungan Nabi SAW telah mengkhabarkan yang baginda sesungguhnya telah melihatnya di dalam kuburnya menunaikan sholat. Disebut dalam hadits mi'raj bahawa Junjungan Nabi SAW melihat Nabi Musa AS di langit ke-4, baginda juga melihat Nabi Adam AS di langit dunia dan melihat Nabi Ibrahim yang mengucapkan "Selamat datang, wahai anak dan nabi yang sholeh" kepada baginda. Maka bersandarkan kepada asas yang shohih kami menyatakan bahawa Junjungan Nabi kita Muhammad SAW adalah hidup setelah kewafatan baginda dan tetaplah baginda atas maqam kenabiannya. " - tamat perkataan al-Ustaz. Telah berkata al-Hafiz, Syaikhus Sunnah Abu Bakar al-Baihaqi dalam kitab "al-I'tiqad":- "Para nabi 'alaihimus sholatu was salam setelah diwafatkan, dikembalikan roh mereka dan adalah mereka di sisi Tuhan seperti orang-orang yang mati syahid. Junjungan Nabi SAW telah melihat sebahagian daripada mereka dan baginda telah mengimamkan mereka dalam sembahyang. Telah diberitakan daripada riwayat yang benar bahawasanya sholawat kita dibentangkan kepada baginda dan salam kita disampaikan kepadanya. Sesungguhnya Allah ta`ala telah mengharamkan bumi dari memakan jasad para nabi. Kami telah menulis satu kitab yang khusus bagi mentsabitkan kehidupan mereka (setelah wafat)......"
Sabtu, 01 Mei 2010
Ustadz Hasan Saifouridzal: Berdakwah di Negeri Singa
| | | |
| Written by Publisher Team |
| Friday, 11 September 2009 13:56 |
| Sudah menjadi cita-cita yang terpatri dalam dirinya, suatu saat kelak ia dapat menyebarkan dakwah Islamiyah dan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah ke seluruh pelosok Singapura, tanah kelahirannya.
Saifouridzal lahir di tengah-tengah keluarga yang sederhana. Sejak kecil, putra pasangan Haji Rahamat bin Abdullah dan Hajah Norimah binti Mohd Shariff ini sering dibawa ke majelis-majelis yang penuh kebaikan oleh ayahnya. Di antaranya, pada majelis dzikir Thariqah Qadiriyah wan Naqsyabandiyah, yang pada saat itu dipimpin oleh K.H. Hassan Asy'ari bin Musthafa Bakri, setiap hari Ahad malam Senin, di Masjid Alkaff, dan hari Kamis malam Jum’at, di majelis ta'lim di kediaman K.H. Hassan Asy’ari sendiri, serta banyak lagi majelis yang telah ia kunjungi di masa kecilnya.
|
Guru Rofi'ie, Lambang Dedikasi
Namanya Ahmad Rofi’ie. Kami memanggilnya guru Rofi’ie. Orangnya gemuk dan sehat. Suka becanda tapi juga gampang marah. Jago bahasa Inggris dan mengerti psikologi. Dia juga pembina pramuka yang hebat, selain penggemar sepakbola yang fanatik. Tulisan ini dibuat untuk mengenang jasa-jasa beliau sebagai guru, (yang mungkin sudah terlupa), sekaligus nostalgia selama bersamanya. Juga untuk mengenalkan kepada adik-adik santri yang mungkin tidak pernah bertemu dengannya.
Kuliah dan Aktifis Organisasi
Guru Rofi’ie, (kami memanggilnya dengan tambahan “guru”, yang merupakan tradisi pesantren kami), konon waktu mudanya adalah aktivis organisasi. Waktu kuliah di Universitas Ibn Chaldun, yang kampusnya ada di bilangan Senen, dia tinggal di asrama Pelajar Islam Indonesia (PII), yang terletak di Jalan Menteng Raya 58, Jakarta Pusat (bersebelahan dengan kantor Pusat Muhammadiyah Jakarta). Buat yang belum kenal PII, organisasi ini seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). PII dan HMI dulu menjadi organisasi terbesar di kalangan pelajar dan mahasiswa Islam. Terkadang diantara keduanya terjadi kepengurusan yang sama, karena menganut idealisme dan ideologi yang sama. Mereka juga sering disebut sebagai “anak-anak Masyumi”, partai Islam terbesar jaman 50-60an.
Bisa jadi karena suasana politik yang tidak menentu dan atau juga karena keterbatasan biaya, Rofi’ie harus kembali ke kampung tanpa bisa menuntaskan kuliahnya. Tapi ia tidak putus asa. Ia terus menambah wawasannya dengan membaca, terutama bahasa Inggris. Kemampuannya dalam bahasa Inggris inilah yang membuatnya dipanggil pimpinan pondok, KH. Noer Alie. Ia diminta untuk mengajar para siswa agar mereka juga tidak ketinggalan dalam bahasa Internasional itu, selain bahasa Arab yang sudah dikembangkan sebelumnya.
Bahasa Inggris
Yang kami tidak pernah lupa dari beliau adalah Bahasa Inggris. Semua lulusan pondok pasti mengakui mereka bisa pinter bahasa Inggris dari guru kita ini. Kombinasi penguasaan materi dan cara mengajar yang galak ditengarai menjadi faktor utama para siswa jadi rajin belajar bahasa Inggris. Pokoknya jangan pernah berani masuk kalau belum mengerjakan PR. Taruhannya adalah kaki yang pegal gara-gara berdiri menghadap tembok selama jam pelajaran. Atau baju yang basah kuyup karena disiram air minum yang biasa disediakan di depan mejanya. Pernah telapak tangan seorang siswa disundutnya dengan rokok gara-gara tidak hafal vocabulary yang diajarkan di kelas sebelumnya.
Anehnya, tidak ada satupun siswa yang kemudian merasa dendam. Tidak seperti siswa sekarang yang suka ngeroyok gurunya. Atau main tuntut ke pengadilan. Dalam dunia pesantren, seperti tempat kami belajar dulu, guru adalah sumber ilmu dan sumber akhlaq. Jadi apapun yang dilakukan guru, kami percaya bahwa itu untuk kepentingan kami sendiri. Paling tidak, itulah yang kemudian saya fahami filosofinya dari literatur tentang pendidikan. Nampaknya karena keikhlasan beliau dan para siswanya dalam mempelajari bahasa Inggris, para siswa di pesantren kami malah cenderung jadi lebih sering mempraktekkan bahasa Inggris ketimbang bahasa Arab.
Kepandaiannya dalam bahasa Inggris juga diakui teman-teman seangkatannya. Konon beliau pernah kursus dari Sutan Sulaiman, pengarang buku “Sistem 60 jam” yang sangat populer tahun 1960-70an. Bahkan menurut cerita teman-temannya, Rofi’ie adalah satu dari sedikit orang yang sangat menguasai buku itu, sehingga Sutan Sulaiman sangat sayang padanya.
Kepala sekolah yang tekun dan bertanggungjawab
Dia dipercaya memimpin madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) selama puluhan tahun. Selama itu nyaris tidak ada masalah yang terjadi, baik dalam administrasi maupun kesiswaan. Nampaknya pengalaman di organisasi ketika masih jadi pelajar dan mahasiswa sangat berperan disini.
Salah satu hal yang sulit diikuti guru-guru adalah ia hampir mengenal setiap siswa di sekolahnya. Dan itu merupakan kiatnya dalam mendidik para siswa. Menurutnya, jika ingin anak itu merasa diperhatikan, seorang guru harus mampu menghafal nama setiap siswa di kelas yang diajarnya. Tidak heran jika kenangan setiap siswa dengannya tidak akan pernah hilang. Bisa jadi karena galaknya, atau yang lainnya. Tapi setiap siswa pasti merasa bahwa ia dikenal olehnya.
Perhatiannya kepada siswanya semakin kuat ketika mereka berada di kelas III Tsanawiyah. Seolah-olah ia ingin memastikan lulusan Tsanawiyah benar-benar siap untuk menghadapi tingkatan sekolah di atasnya, atau jika para siswa itu kembali ke masyarakat. Maka tidak heran jika ia terkesan “memanjakan” para siswa kelas III, dengan memberikan fasilitas lebih kepada mereka. Bahkan ia sering meminjamkan motornya kepada anak-anak untuk digunakan keperluan sekolah.
Pembina Pramuka
Rofi’ie juga pembina pramuka aktif. Ia sangat memperhatikan kualitas pembinaan dan jaringan. Pondok kami, Attaqwa, memang terletak di kampung. Tepatnya di kampung Ujungharapan, Desa Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. Tapi Attaqwa memiliki lebih dari 40 cabang di kecamatan sekitar, bahkan sampai kota Bekasi (Pekayon). Setiap tahun di pondok pesantren kami ada program yang disebut Pekan Isra Mi’raj, dimana seluruh cabang akan mengirim utusan pramuka dan melaksanakan perkemahan disitu. Berbagai acara digelar, mulai dari musabaqah tilawatil Quran, lomba qasidah sampai pertandingan sepakbola.
Saat seperti ini, Guru Rofi’ie biasanya yang paling sibuk. Seringkali ia terlihat mondar-mandir di sekitar tenda peserta. Atau berkumpul dengan para pembina yang datang dari cabang-cabang. Apalagi pada pertengahan tahun 1983, ketika para pramuka tingkat penegak mulai dikirim untuk membina pramuka di cabang-cabang itu. Informasi cabang-pusat semakin lancar dan ikatan mereka semakin kuat. Sejak saat itu perkemahan gabungan tidak saja dilakukan saat peringatan Isra Mi’raj di pondok pesantren pusat. Tapi juga di cabang tertentu, bahkan daerah lain.
Di jamannya pondok Attaqwa pernah mengadakan Kursus Mahir Dasar, semacam kursus sertifikasi untuk para pembina pramuka. Kursus ini biasanya hanya mampu dilakukan oleh institusi pramuka setingkat kwartir cabang (tingkat kabupaten). Di dunia pesantren, hanya Pondok Modern Darussalam, Gontor yang mampu melakukannya karena Gontor sendiri adalah Kwartir Cabang Khusus, dimana kwartir rantingnya adalah asrama, dan gudep-gudepnya adalah kelas-kelas di sekolah. Dari kursus yang dilakukan ini berkembanglah pola pembinaan yang tertib, yang menjadi panduan seluruh cabang pesantren.
Kehidupan yang sederhana
Meski dia anak satu-satunya, kehidupannya sederhana bahkan bisa dibilang pas-pasan. Rumahnya terbuat dari kayu dan berlantai tanah, khas rumah penduduk kelas menengah ke bawah di kampung itu. Mungkin satu-satunya harta yang terasa mewah adalah skuter “vespa” birunya, yang sering terlihat dipakai untuk keperluan sekolah oleh murid-muridnya. Konon rumah dan sawah yang dimilikinya pun diperoleh dari warisan orangtuanya.
Di waktu senggang dia sering terlihat mengolah tanah di depan dan samping rumahnya untuk ditanami pohon singkong atau ubi. Dia juga pernah mendirikan warung di depan rumahnya untuk tambahan penghasilan.
Dia juga anggota masyarakat yang aktif. Pada malam-malam tertentu mengisi pengajian remaja dan anak-anak di mushalla lingkungannya yang bernama Nurul Huda. Karena itu ia pernah dipercaya untuk untuk memimpin mushalla ini ketika ketua mushallanya wafat.
Wafat
Kebiasaan merokok nampaknya membuat kesehatannya sering terganggu. Kami ingat betul rokok favoritnya adalah ”Commodor” dan “Djarum” coklat. Akhirnya suatu hari di bulan September 1992 ia menghembuskan nafas terakhirnya. Umurnya saat itu 55 tahun. Ia meninggalkan seorang istri dan 7 orang anak, 6 lelaki dan 1 perempuan.
Guru Rofi’ie memang hanya “salah seorang” dari kita. Tapi saya tidak tahu bagaimana nasib bahasa Inggris para santri waktu itu, jika ia tidak tekun dan galak dalam mengajarkannya.
Thank you Guru. It is unimaginable that without you we can be familiar with this language.
And with the world too.
Biografi dua guru KH.Noer Alie
Oleh : Irfan Mas’ud
K.H. AHMAD MARZUKI AL-BETAWI
(1293 – 1353 H/1876 – 1934 M)
Nama lengkap beliau adalah “Ahmad Marzuki bin Syekh Ahmad al-Mirshad bin Khatib Sa’ad bin Abdul Rahman al-Batawi”. Ulama terkemuka asal Betawi yang bermazhab Syafi’i dan populer dengan sebutan Guru Marzuki ini lahir dan besar di Batavia (Betawi). Ayahnya, Syekh Ahmad al-Mirshad, merupakan keturunan keempat dari kesultanan Melayu Patani di Thailand Selatan yang berhijrah ke Batavia. Guru Marzuki dilahirkan pada bulan Ramadhan tahun 1293 H/1876 M di Meester Cornelis, Batavia.
Masa Pertumbuhan dan Menuntut Ilmu
Pada saat berusia 9 tahun, Guru Marzuki ditinggal wafat ayahnya. Pengasuhannya pun beralih ke tangan ibunya yang dengan penuh kasih sayang membina sang putra dengan baik. Pada usia 12 tahun, Marzuki dikirim oleh sang ibu kepada seorang ahli fikih bernama Haji Anwar untuk memperdalam Al-Qur'ân dan ilmu-ilmu dasar bahasa Arab. Guru Marzuki kemudian melanjutkan pelajarannya mengaji kitab-kitab klasik (turats) dibawah bimbingan seorang ulama Betawi, Sayyid Usman bin Muhammad Banahsan. Melihat ketekunan dan
kecerdasan Marzuki-muda, sang guru pun merekomendasikannya untuk berangkat ke Mekah al-Mukarramah guna menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu. Guru Marzuki yang saat itu berusia 16 tahun pun kemudian bermukim di Mekah selama 7 tahun.
Guru-guru di Haramain
Selama tidak kurang dari 7 tahun, hari-harinya di Tanah Suci dipergunakan Guru Marzuki dengan baik untuk beribadah dan menimba ilmu dari para ulama terkemuka di Haramain. Ulama Haramain yang sempat
membimbing Guru Marzuki, antara lain: Syekh Muhammad Amin bin Ahmad Radhwan al-Madani (w. 1329 H.), Syekh Umar Bajunaid al-Hadhrami (w. 1354 H.), Syekh Abdul karim al-Daghistani, Syekh Mukhtar bin Atharid al-Bogori (w. 1349 H), Syekh Ahmad al-Khatib al-Minangkabawi (w. 1337 H.), Syekh Umar al-Sumbawi, Syekh Mahfuzh al-Termasi (w. 1338 H.), Syekh Sa’id al-Yamani (w. 1352 H), Syekh Shaleh Bafadhal, Syekh Umar Syatta al-Bakri al-Dimyathi (w. 1331 H.), Syekh Muhammad Ali al-Maliki (w. 1367 H.) dan lain-lain.
Ilmu yang dipelajarinya pun bermacam-macam, mulai dari nahwu, shorof, balaghah (ma‘ani, bayan dan badi‘), fikih, ushul fikih, hadits, mustholah hadits, tafsir, mantiq (logika), fara’idh, hingga ke ilmu falak (astronomi). Dalam bidang tasawuf, guru Marzuki memperoleh ijazah untuk menyebarkan tarekat al-‘Alawiyah dari Syekh Umar Syatta al-Bakri al-Dimyathi (w. 1331 H.) yang memperoleh silsilah sanad tarekatnya dari Syekh Ahmad Zaini Dahlan (w. 1304 H/1886 M.), Mufti Syafi’iyyah di Mekah al-Mukarramah.
Dalam disertasi doktoralnya di Fak. Darul Ulum, Cairo University (hal. 63 – 66), Daud Rasyid memasukkan Guru Marzuki sebagai salah seorang pakar hadits Indonesia yang sangat berjasa dalam penyebaran hadits-hadits nabi di Indonesia dan menjaga transmisi periwayatan sanadnya.
Sistem Mengajar dan Para Muridnya
Sesudah kembali ke tanah air, atas permintaan Sayid Usman Banahsan, Guru Marzuki mengajar di masjid Rawabangke selama lima tahun, sebelum pindah dan menetap di Cipinang Muara. Di sinilah ia merintis berdirinya pesantren di tanah miliknya yang cukup luas. Santri yang mondok di sini memang tidak banyak, ditaksir sekitar 50 orang dan terutama datang dari wilayah utara dan timur Jakarta (termasuk Bekasi).
Cara mengajar Guru Marzuki kepada muridnya tidak lazim di masa itu, yaitu sambil berjalan di kebun dan berburu bajing (tupai). Ke mana sang guru melangkah, ke sana pula para murid mengikutinya dalam formasi berkelompok. Setiap kelompok murid biasanya terdiri dari empat atau lima orang yang belajar kitab yang sama, satu orang di antaranya bertindak sebagai juru baca. Sang guru akan menjelaskan bacaan murid sambil berjalan. Setiap satu kelompok selesai belajar, kelompok lain yang belajar kitab lain lagi menyusul di belakang dan melakukan hal yang sama seperti kelompok sebelumnya.
Mengajar dengan cara duduk hanya dilakukan oleh Guru Marzuki untuk konsumsi masyarakat umum di masjid. Meskipun demikian, anak-anak santrinya secara bergiliran membacakan sebagian isi kitab untuk sang guru yang memberi penjelasan atas bacaan muridnya itu. Para juru baca itu kelak tumbuh menjadi ulama terpandang di kalangan masyarakat Betawi dan sebagian mereka membangun lembaga pendidikan yang tetap eksis sampai sekarang, seperti KH. Noer Alie (pendiri Pesantren Attaqwa, Bekasi), KH. Mukhtar Thabrani (pendiri Pesantren An-Nur, Bekasi), KH. Abdul malik (putra Guru Marzuki), KH. Zayadi (pendiri Perguruan Islam Az-Ziyadah, Klender), KH. Abdullah Syafi’i (pendiri Pesantren Asy-Syafi’iyyah, Jatiwaringin), KH. Ali Syibromalisi (pendiri Perguruan Islam Darussa’adah dan mantan ketua Yayasan Baitul Mughni, Kuningan-Jakarta), KH. Abdul Jalil (tokoh ulama dari Tambun, Bekasi), KH. Aspas (tokoh ulama dari Malaka, Cilincing), KH. Mursyidi dan KH. Hasbiyallah (pendiri perguruan Islam al-Falah, Klender), dan ulama-ulama lainnya. Selain KH. Abdul Malik (Guru Malik), putera-putera Guru marzuki yang lain juga menjadi tokoh-tokoh ulama, seperti KH. Moh. Baqir (Rawabangke), KH. Abdul Mu’thi (Buaran, Bekasi), KH. Abdul Ghofur (Jatibening, Bekasi).
Guru Marzuki dan Jaringan Ulama Betawi
Dalam kajian Abdul Aziz, MA., peneliti Litbang Depag dan LP3ES, Guru Marzuki termasuk eksponen dalam jaringan ulama Betawi yang sangat menonjol di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 bersama lima tokoh ulama Betawi lainnya, yaitu: KH. Moh. Mansur (Guru mansur) dari Jembatan Lima , KH. Abdul majid (Guru Majid) dari Pekojan , KH. Ahmad Khalid (Guru Khalid) dari Gongangdia , KH. Mahmud Romli (Guru mahmud) dari Menteng , dan KH. Abdul Mughni (Guru Mughni) dari Kuningan-Jakarta Selatan .
Guru Marzuki beserta kelima ulama terkemuka Betawi yang hidup sezaman ini memang berhasil melebarkan pengaruh keulamaan dan intelektualitas mereka yang menjangkau hampir seluruh wilayah Batavia (Jakarta dan sekitarnya). Jaringan keulamaan yang dikembangkan oleh “enam pendekar-ulama Betawi” hasil gemblengan ulama haramain inilah yang kelak menjadi salah satu pilar kekekuatan mereka sebagai kelompok ulama yang diakui masyarakat dan telah berjasa menelurkan para ulama terkemuka Betawi selanjutnya.
Wafatnya
Guru Marzuki —rahimahullah wa ardhahu— wafat pada hari Jumat, 25 Rajab 1353 H. Pemakaman beliau dihadiri oleh ribuan orang, baik dari kalangan Habaib, Ulama dan masyarakat Betawi pada umumnya, dengan shalat jenazah yang diimami oleh Habib Sayyid Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (w. 1388/1968) .
Di masa hidupnya, Guru Marzuki dikenal sebagai seorang ulama yang dermawan, tawadhu’, dan menghormati para ulama dan habaib. Beliau juga dikenal sebagai seorang sufi, da’i dan pendidik yang sangat mencintai ilmu dan peduli pada pemberdayaan masyarakat lemah; hari-hari beliau tidak lepas dari mengajar, berdakwah, mengkaji kitab-kitab dan berzikir kepada Allah swt. Salah satu biografi beliau ditulis oleh salah seorang puteranya, KH. Muhammad Baqir, dengan judul Fath Rabbil-Bâqî fî Manâqib al-Syaikh Ahmad al-Marzûqî.
* * * *
SYEKH MUHAMMAD ALI AL-MALIKI
(1287 – 1367 H/1870 – 1948 M)
Nama lengkap beliau adalah “Muhammad Ali bin Husain bin Ibrahim bin Husain bin ‘Abid al-Makki al-Maliki, berasal dari keturunan Maroko yang lahir dan menetap di Mekah. Syekh Muhammad Ali al-Maliki dikenal sebagai “Mahaguru pada masanya” (Syaikh masyayikh ‘ashrihi), dan karena kepakarannya yang tak tertandingi dalam bidang gramatika bahasa Arab, dijuluki sebagai “Sibawaihi zamannya” (Sibawaihi zamânihi).
Syekh Al-Maliki dilahirkan di kota Mekah pada tahun 1287 H/1870 M dan meninggal di kota Tha’if pada tahun 1367 H/1948. Di antara guru-guru yang membekalinya ilmu-ilmu keagamaan dan tatabahasa Arab adalah saudaranya sendiri yang saat itu menjabat sebagai mufti mazhab Maliki di Mekah, Syekh Abid bin Husain al-Maliki (w. 1292 H) . Di samping menguasai fikih Maliki, beliau juga mendalami dan menguasai fikih Syafi’i di bawah bimbingan seorang faqih shufi, Syeikh Sayyid al-Bakri Syatta (lahir 1310 H), pengarang kitab I‘anah ath-Thalibin, sebuah kitab fikih Syafi’i yang menjadi buku daras di berbagai pesantren di Indonesia, termasuk di Pesantren Tinggi Attaqwa.
Guru-guru Syekh al-Maliki yang lain adalah Syekh Abdul Haq al-Alahabadi, Syekh Muhammad Khudeir ad-Dimyati, Syekh Abdullah al-Qaddumi an-Nabulsi, Syekh Muhammad Abdul Baqi al-Luknawi, Syekh Abdul Hayyi al-Kattani, dan ulama-ulama Haramain lainnya. Silsilah sanad periwayatan hadits dan jaringan inteletual Syekh Ali al-Maliki telah ditulis dan diabadikan secara lengkap oleh salah seorang muridnya, Syekh Muhammad Yasin al-Fadani (w. 1410/1990), seorang pakar hadits terkemuka asal Nusantara yang diberi gelar “Musnid ad-Dunya”, dengan judul “al-Maslak al-Jaliyy fi Asânîd Fadhilah as-Syaikh Muhammad Ali al-Maliki” (“Jalan Terang tentang Sanad-sanad Yang Mulia Syekh Muhammad Ali al-Maliki”).
Setelah menamatkan pelajarannya di bawah bimbingan para ulama Haramain terkemuka di masanya, Syekh al-Maliki mendermakan ilmu dan hidupnya mengajar di Masjidil Haram dan Madrasah Darul Ulum, Mekah, yang didirikan oleh ulama-ulama haramain asal Melayu-Nusantara, dan menjabat sebagai pimpinan para syekh (Syaikhul Masyayikh) sejak pertama kali madrasah tersebut berdiri pada tahun 1933 . Kepakarannya di berbagai bidang ilmu-ilmu keislaman dan tata-bahasa Arab, menjadi magnet tersendiri bagi para pelajar Arab dan non-Arab —bahkan tidak sedikit yang sudah bergelar ulama— yang datang berguru kepadanya. Sehingga tidak berlebihan bila dikatakan bahwa hampir seluruh ulama Hijaz dan para penuntut ilmu dari Melayu-Nusantara (yang mencakup Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand Selatan dan Brunei) yang menjadi muridnya.
Di antara ulama-ulama besar Hijaz yang menjadi muridnya adalah: Syekh Hasan al-Masysyat (w. 1399 H), Syekh Alwi bin Abbas al-Maliki (w. 1391 H) , Syekh Muhammad Amin al-Kutbi (w. 1404 H) , dll. Adapun murid-murid beliau yang berasal dari Indonesia (baik yang kembali ke tanah air maupun yang memilih menetap di Mekah) , antara lain: Syekh Muhsin al-Musawa (w. 1354 H.) , “Enam Pendekar-Kiyai Betawi” (Guru Mansur, Guru Majid, Guru Romli, Guru Marzuki, dan Guru Mughni), Musnid ad-Dunya Syekh Muhammad Yasin al-Fadani (w. 1990) , KH. Noer Alie (w. 1992 M.), KH. Muhammad Syarwani Abdan (Guru Bangil) dari Martapura, Kalimantan (w. 1989 M.), Tuan Guru KH. M. Zainuddin Abdul Majid (pendiri Nahdlatul-Wathan) Pancor, NTB (w. 1997 M.), dll.
Kepakaran dan Aktivitasnya
Sebelum menjabat sebagai pimpinan para syekh (Syaikul Masyayikh) madrasah Darul Ulum sejak pertama kali didirikan pada tahun 1933, Syekh al-Maliki telah menjabat sebagai mufti mazhab Maliki di Mekah menggantikan saudara tua yang juga gurunya, Syekh Abid al-Maliki, tahun 1921. Kendatipun inisiasi resminya dengan mazhab Maliki, Syekh Muhammad Ali al-Maliki juga dikenal sebagai pakar dalam fikih Syafi’i, hasil gemblengan Syekh Umar Syatta ad-Dimyati, saudara dari Usman Syatta al-Bakri ad-Dimyati, seorang pakar fikih Syafi’i dan pengarang kitab fikih I‘anah ath-Thalibîn yang menjadi rujukan pesantren-pesantren di Indonesia.
Keluasan ilmu fikih lintas mazhab Ahlussunnah (terutama mazhab yang empat) membuatnya terhindar dari fanatisme sempit mazhab-fikih yang tercermin dalam salah satu karyanya Inthishâr al-I‘tishâm bi Mu‘tamad Kulli Madzhab min Madzâhib al-A’immah al-A‘lâm (“Pembelaan Objektif atas Pendapat-pendapat Otoritatif Seluruh Mazhab Imam-Imam Besar”). Karya-karyanya yang lain di yang menunjukkan kepakarannya di bidang fikih dan ushul fikih sebenarnya cukup banyak, antara lain: At-Taqrîrât ‘ala Syarh al-Muhallâ, Tahdzib al-Furûq lil-Qarâfi, al-Hawâsyî as-Saniyyah ‘ala Qawânîn Ibn Jizziy al-Mâlikî (ketiganya dalam bidang ushul fikih mazhab Maliki), dan Hawâsyi ‘ala al-Asybâh wan-Nazhâ’ir lis-Suyûthî (dalam bidang ushul fikih mazhab Syafi’i).
Kendatipun keluasan ilmu fikihnya yang menyebabkan keluwesan dalam menyikapi berbagai perbedaan fikih-furu‘iyyah inter-Ahlussunnah waljamaah, Syekh al-Maliki dikenal tegas dalam hal-hal yang berkaitan dengan prinsip-prinsip akidah-ushuliyyah. Untuk menjaga akidah Ahlussunah wal-jamaah dari berbagai upaya penyimpangan di bidang akidah, ia misalnya telah menulis secara khusus bantahan atas aliran Ahmadiyah dengan judul Al-Qawâthi‘ al-Burhaniyyah fi Bayân Ifki Ghulâm Ahmad wa Atbâ‘ihi al-Qâdiyâniyyah (“Bukti-bukti Meyakinkan tentang Kebohongan Mirza Ghulam Ahmad dan Para Pengikut Aliran Qâdiyâniyyah”).
Tulisannya mengenai penyimpangan akidah Ahmadiyah yang berpusat di Qadiyan dan Lahore —suatu aliran yang muncul dan berkembang jauh di luar Semenanjung Arabia di mana al-Maliki hidup— menyiratkan bahwa Syekh al-Maliki bukanlah tipe intelektual “menara gading” yang masa bodo terhadap persoalan-persoalan keumatan, baik dalam skala nasional, regional dan internasional. Kepeduliannya terhadap perkembangan umat Islam dalam skala internasional, misalnya, tampak jelas ketika ia bersama murid seniornya, Muhammad al-Amin al-Kutbi, termasuk di antara ulama yang disowani dan dimintakan pendapat oleh Abul Hasan an-Nadawi, seorang tokoh intelektual Muslim asal India yang memiliki reputasi internasional, ketika an-Nadawi berkunjung ke Mekah pada tahun 1947. Kepedulian al-Maliki terhadap kondisi umat dan dunia Muslim boleh jadi telah muncul sebagai hasil dari kunjungan yang pernah dilakukannya ke berbagai negara Asia —termasuk Indonesia dan wilayah Melayu-Nusantara— pada tahun 1343 dan tahun 1345 H. Petunjuk lain tentang kepedulian al-Maliki atas pelbagai permasalahan umat dapat dibaca dari ulasan-ulasan yang dituangkannya dalam satu karya yang berjudul Fatâwâ an-Nawâzil al-‘Ashriyyah (Fatwa-fatwa tentang Pelbagai Masalah Kontemporer).
Selain fikih dan akidah, bidang keilmuan lain yang digeluti Syekh al-Maliki adalah disiplin ilmu-ilmu hadits (dirayah dan riwayah). Kepakaran di bidang yang satu ini sangat tampak ketika ia, bersama Syekh Umar Hamdan (w. 1368 H) —rekannya yang juga salah seorang guru KH. Noer Ali— menjadi salah seorang mata rantai terpenting periwayatan hadits (isnad) Musnid ad-Dunya, Syekh Muhammad Yasin al-Fadani. Oleh karenanya, Syekh al-Maliki termasuk salah satu mata rantai sanad para pakar hadits Mekah yang terpenting, sebagaimana tercatat dalam karya al-Fadani “An-Nafhah al-Miskiyyah fil-Asânîd al-Makkiyyah” (“Hembusan Aroma Misik tentang Isnad-isnad Mekah”). Bahkan periwayatan melalui jalur Syekh al-Maliki dicatat tersendiri oleh al-Fadani dalam karyanya al-Maslak al-Jaliyy fi Asânîd Fadhilah as-Syaikh Muhammad Ali al-Maliki (“Jalan Terang tentang Sanad-sanad Yang Mulia Syekh Muhammad Ali al-Maliki”).
Kecuali itu, tentu saja kita tidak dapat mengabaikan kepakaran Syekh Ali al-Maliki dalam bidang gramatika dan sastera Arab (nahwu, sharaf, balaghah, arudh, qawafî) yang turut membentuk kepakaran KH. Noer Ali dalam bidang ini. Gelar “Sibawaih pada masanya” (Sibawaihi zamânihî) yang disandang al-Maliki adalah sebentuk pengakuan para ulama atas kepakarannya di bidang ini. Dua jilid bukunya tentang gramatika bahasa Arab dengan judul “Tadrîb ath-Thullâb fi Qawâ‘id al-I‘râb”, masih membuat decak kagum para pengkajinya.
Harmonisasi Syariat dan Tasawuf
Bidang keilmuan lain yang digeluti oleh Syekh Al-Maliki —juga hampir seluruh ulama-ulama Haramain pada masanya— adalah disiplin tasawuf. Sebagaimana dimaklumi, melalui adikaryanya Ihyâ’ ‘Ulumid-Dîn, Imam al-Ghazali (w. 505 H/1111 M) telah mampu secara memuaskan mengkombinasikan aspek eksoterik (syari’ah) dan esoterik (tasawuf) dalam Islam; sehingga harmonisasi antara syari’ah dan haqiqah, fikih dan tasawuf menjadi mainstream atau —dalam istilah Azra: great tradition— corak keagamaan dan keilmuan di hampir seluruh dunia Islam setelah kemunculan tokoh yang digelari “Hujjatul Islam” (Bukti Kebenaran Islam) ini. Bahkan Dr. Tawfiq at-Thawîl dalam kajiannya mengenai tasawuf di masa Imperium Khilafah Usmaniyah yang runtuh pada tahun 1924, menulis, bahwa sampai akhir masa imperium Ottoman yang berpusat di Turki yang cakupan wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh dunia Islam (termasuk Hijaz), harmonisasi antara disiplin fikih dan tasawuf menjadi corak utama keagamaan dan intelektual dunia Arab-Islam pada masa itu. Menurut Dr. Hasan Asy-Syâfi‘î, harmonisasi ini tampak misalnya dalam karya-karya hampir semua tokoh intelektual di dunia Islam yang hidup pada masa itu yang, karena kecenderungan praktek fikih yang dibalut dengan penghayatan sufi mereka, salah satu gelar akademik yang kerap disandang para ulama kala itu adalah “Faqih, Muhaddits, Shufî” (Pakar Fikih dan Hadits serta Pegiat Tashawwuf). Untuk menyebut di antara ulama yang memiliki gelar akademik seperti itu, kita bisa menyuguhkan beberapa nama, misalnya, Abdul Wahab asy-Sya‘rani (w 973 H) di Mesir; Abdul Ghani an-Nabulsi (w. 1143 H) di Syam; Shah Waliyullah ad-Dahlawi (w. 1176 H) yang meneruskan pemikiran pendahulunya Ahmad as-Sirhindi (1034 H) di India; Ahmad ad-Dardîrî, pendiri tarekat al-Khalwati (w. 1201 H.) di Mesir; Muhammad Ali as-Sanusi (w. 1275 H), pendiri tarekat Sanusiah yang melahirkan seorang tokoh sufi-mujahid, Umar Mukhtar (1349 H) di Libia; dan —tidak ketinggalan— Nuruddin ar-Râniri (w. 1076/1666), Abdul Rauf as-Sinkili (w. 1105/1693) dan Yusuf al-Maqassari (1111/1699) di Indonesia ; serta yang lainnya.
Kecenderungan harmonisasi syariat dan tasawuf ala Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali yang, dalam jaringan intelektual ulama-ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad 17 mengkristal pada sosok Ibrahim al-Kurani dan Ahmad al-Qusysyasi (tiga murid mereka asal Indonesia adalah Ar-Raniri, Al-Sinkili dan al-Maqassari), terus bergulir di abad-abad selanjutnya. Tokoh ulama seperti Syekh Ahmad Zaini Dahlan , Mufti Syafi’iyyah di Mekah al-Mukarramah yang berhasil mencetak ulama-ulama selanjutnya (seperti Muhammad Abid al-Maliki, Abu Bakar Syatta ad-Dimyati dari Arab; dan Mahfuzh at-Termasi dari Indonesia), mereka semua termasuk dalam jaringan intelektual yang mendukung harmonisasi syariat dan tasawuf. Dan corak intelektual seperti inilah yang kemudian dipraktekkan oleh Syekh Ali al-Maliki dan KH. Hasyim Asy‘ari (pendiri NU, kolega Syekh Ali al-Maliki yang bersama-sama menjadi murid Syekh Abid al-Maliki) , yang kemudian terus dilanjutkan oleh para ulama abad 19/20, termasuk “enam pendekar-ulama Betawi”, KH. Noer Alie, KH. Abdullah Syafi‘i, Tuan Guru KH. Zainuddin, dan ulama-ulama Indonesia lainnya.
Kembali kepada Syekh Ali al-Maliki. Hubungan K.H. Noer Ali dengan guru yang satu ini memang agak lebih istimewa dibandingkan dengan guru-gurunya yang lain di Haramain. Keistimewaan itu terlihat karena Guru Marzuki yang juga murid Syekh Ali al-Maliki, diduga kuat telah merekomendasikan KH. Noer Alie untuk melanjutkan pelajarannya langsung di bawah bimbingan Syekh al-Maliki yang pernah menjadi gurunya di Mekah. Kecuali itu, keistimewaan Syekh al-Maliki bagi KH. Noer Alie juga terlihat dari beberapa ijazah hizb dan wirid yang didapatkannya langsung dari Syekh Ali al-Maliki. Ijazah (sertifikasi) wirid dan hizb ini menunjukkan inisiasi Syekh Ali al-Maliki dan para ulama di masanya pada tasawuf-sunni —lawan dari tasawuf falsafi— yang berupaya mengharmonisasikan antara aspek lahiriah-eksoteris (syariat) dan zuhud-esoteris (hakikat), suatu upaya yang kemudian diikuti dengan setia oleh murid-muridnya, termasuk KH. Noer Alie dan para murid beliau yang setia.
Wallâhu A‘lam.* * *
BIBLIOGRAFI:
Ad-Dahlawi, Shah Waliyullah, Hujjatullâh al-Bâlighah, Cairo: Dar at-Turats, 1355 H.
Al-Azhîmabâdi, Muhammad Asyraf, ‘Aunul Ma‘bûd Syarh Sunan Abi Dawud, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, cetakan I, 1415 H.
Al-Baghdadi, Isma‘îl, Hadiyyatul ‘Ârifîn, dalam digital library: al-Maktabah asy-Syâmilah versi 2.
Al-Fâdânî, Muhammad Yasîn, An-Nafhah al-Miskiyyah fil-Asânîd al-Makkiyyah, Beirut: Darul Basya’ir al-Islamiyyah, 1990.
Al-Kattani, Abdul Hayy, Fihris al-Fahâris, dalam digital library: al-Maktabah asy-Syâmilah versi 2.
An-Nadawi, Abul Hasan, al-Imam ad-Dahlawi, Kuwait: Darul Qalam, 1996.
An-Nadawi, Abul Hasan, al-Imam as-Sirhindi Hayâtuhû wa A‘mâluhû, Kuwait: Darul Qalam, 1994.
An-Nadawi, Muhammad Thariq, Abul Hasan an-Nadawi Rabbani al-Ummah, dalam Al-Mu‘jam al-Jâmi‘ fi Tarâjim al-‘Ulamâ’ wa Thalabatil-‘Ilmi al-Mu‘âshirîn, dalam digital library: al-Maktabah asy-Syâmilah versi 2.
An-Najjâr, ‘Âmir (Dr.), Ath-Thuruq ash-Shûfiyyah fi Misr, Dar al-Ma‘ârif, cet. VI, 1995.
Ash-Sha‘îdî, Abdul Muta‘al, al-Mujaddidûn fil Islam min al-Qarnil Awwal ila al-Râbi‘ ‘Asyar, Cairo: Maktabah al-Adab, 1996.
Asy-Syâfi‘î, Hasan (Dr.) et. al, Fi at-Tashawwuf al-Islâmî, Cairo: Dar ats-Tsaqafah al-‘Arabiyah, 1996.
Ath-Thawaîl, Tawfiq (Dr.), At-tashawwuf fi Misr Ibbâna ‘ashril Utsmânî, Mesir: Maktabah al-I‘timâd, 1946.
At-Taftazânî, Abul Wafâ (Dr.), Madkhal Ila at-Tashawwuf al-Islâmî, Cairo: Dar ats-Tsaqafah, 1979.
Az-Zirikli, Khairuddin, al-A‘lâm (Qâmûs Tarâjim li Asyhar al-Rijâl wa an-Nisâ’ minal ‘Arab wal Musta‘rabîn wal-Mustasyriqîn, dalam digital library: al-Maktabah asy-Syamilah, versi 2.
Aziz, Abdul (MA), Islam dan Masyarakat Betawi, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002.
Azra, Azyumardi (Dr.), Jaringan Ulama Timteng dan Nusantara abad 17 dan 18, Bandung: Mizan, 1994.
Fadli, Ahmad, Ulama Betawi (Studi tentang Jaringan Ulama Betawi dan Kontribusinya Terhadap Perkembangan Islam Abad ke-19 dan 20), abstrak thesis M.A. Universitas Indonesia, tidak diterbitkan.
Jabbar, Umar Abdul, Siyâr wa Tarâjim Ba‘dhi ‘Ulamâ’ina fil Qarni ar Râbi‘ ‘Asyara lil-Hijrah, Saudi, t.p.,t.t.
Kuhalah, Muhammad Ridha, Mu‘jam al-Mu’allifîn, dalam digital library: al-Maktabah asy-Syâmilah versi 2.
Mamduh, Mahmud Sa‘id, Tasynîf al-Asmâ‘ bi Syuyukh al-Ijâzah wa al-Simâ‘, Cairo: Mathba‘ah Dâr asy-Syabâb, 1984.
Rasyid, Daud (Dr), Juhûd ‘Ulamâ Indonesia fi as-Sunnah, disertasi Fak. Darul Ulum, Cairo University, tahun 1996, supervisor: Prof. Dr. M. Nabil Ghanaim.
Sezkin, Ilyas, Mu‘jam al-Mathbû‘ât, dalam digital library: al-Maktabah asy-Syâmilah versi 2.
Selasa, 09 Februari 2010
Mufti Pertama Singapura
Haji Mohd. Sanusi bin Haji Mahmood bin Abdul Rahim lahir di Singapura tanggal 3 Syawwal 1326H bersamaan 8 Oktober 1909. Beliau memulakan persekolahannya dalam aliran Inggeris di mana dalam tahun 1930 beliau lulus Senior Cambridge di Raffles Institution. Memandangkan kepada minatnya mendalam dalam pengajian agama, beliau telah belajar bahasa `Arab dengan Syaikh Haji Abdul Rahman Siddiq, ulama terbilang keturunan Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari yang menjadi Mufti Kerajaan Inderagiri, Sumatera.Pada tahun 1933, beliau berangkat ke Makkah al-Mukarramah untuk menunaikan fardhu haji dan mendalami ilmu agamanya. Di sana beliau berguru dengan Syaikh Muhammad Amin al-Kutbi, Sayyid `Alwi al-Maliki, Syaikh Hasan Masyath, Syaikh Husain Palembang dan Syaikh `Abdul Hamid Banjar. Kesungguhannya untuk meneruskan pengajian agamanya akhirnya membawa beliau menjejakkan kaki ke Universiti al-Azhar pada tahun 1936. Beliau menerima syahadah al-ahliyyah daripada Universiti al-Azhar pada tahun 1938 dan menerima pula syahadah al-`alimiyyah dalam tahun 1940. Beliau meneruskan pengajiannya dengan para masyaikh di Mesir sehinggalah beliau pulang ke Singapura pada tahun 1947. Di Singapura beliau bekerja menjadi penterjemah dan kemudian menjadi Setiausaha Bersekutu Majlis Penasihat Islam Singapura. Beliau kembali ke Makkah pada tahun 1948 dan seterusnya ke Mesir pada tahun 1951 untuk berkhidmat menjadi kerani dan penolong attache kebudayaan di Kedutaan Besar Republik Indonesia.
Beliau pulang semula ke Singapura pada tahun 1958 dan pada tahun 1959 beliau dilantik menjadi Qadhi Mahkamah Syariah Singapura. 1 Januari 1960, beliau menjawat jawatan Presiden Mahkamah Syariah Singapura. Pada tahun 1969, beliau dilantik menjadi Mufti Singapura yang pertama, jawatan yang dijawatnya sehingga 31 Januari 1971.
Beliau meninggalkan beberapa karya antaranya "Kamus Istilah Islamiah Sanusi", "Taman Mu'minin" dan "Mengenal Islam dan Hubungannya Dengan Sains & Teknologi". "Taman Mu'minin" adalah karya beliau yang menghimpunkan hadits-hadits pilihan yang diberi syarah yang ringkas mengenai kemasyarakatan dan kehidupan seharian setiap orang mu'min. Hadits yang pertama dimuatkan dalam karya beliau ini adalah hadits mengenai bid`ah yang masyhur itu. Dalam komentarnya, beliau menyatakan bahawa kalimah "Kullu" itu membawa dua makna, iaitu "al-jamii`" dan "al-majmuu`". Ikhwah bolehlah baca penjelasan beliau yang ese bubuh di bawah nanti. Moga Allah merahmati beliau dan menempatkan beliau di kalangan sholihin. .... al-Fatihah.Dicatat oleh Abu Muhammad
Mufti Haji Said Haji Ibrahim
Mufti Haji Said bin Haji Ibrahim, mantan mufti Sabah, dilahirkan di Kampung Kedai Lalat, Kelantan pada tahun 1923. Dalam menimba pengetahuan ilmu agama, beliau telah mengaji sehingga ke Jambi, Sumatera dan Makkah al-Mukarramah. Selain fasih berbahasa Arab, beliau juga terkenal mahir dalam perundangan Islam, 'aqidah, perbandingan `aqidah dan fiqh.Setelah tamat pengajian, Haji Said telah memulakan karyanya untuk menabur bakti dalam bidang pendidikan dengan menjadi guru seawal tahun 1947 di sekolah-sekolah Arab di Kelantan. Pada tahun 1954, beliau bertukar mengajar ke Madrasah al-Hidayah di Singapura. Semasa di Singapura, beliau telah dipilih menjadi Yang DiPertua PERGAS (Persatuan Ulama dan Guru-Guru Agama ISlam Singapura) dari tahun 1963 sehingga tahun 1968. Pada 1968, beliau meninggalkan Singapura untuk berkhidmat di Brunei. Di Brunei, selain mengajar di sekolah menengah Arab, beliau dilantik menjadi penyusun sukatan pelajaran Maktab Perguruan Agama Brunei.
Dalam tahun 1971, beliau ke Sabah dan bertugas menjadi Pegawai Agama dan dalam tahun 1972, beliau kembali ke Semenanjung kerana dilantik menjadi Imam Masjid Negara yang disandangnya sehingga tahun 1975. Sebagai seorang yang berpengetahuan luas dalam ilmu-ilmu agama lagi berpengalaman, beliau telah dilantik menjadi Mufti Kerajaan Sabah untuk dua penggal iaitu 1975 - 1978 dan 1985 - 1989. Antara tahun 1978 sehingga 1985, beliau diberi penghormatan sebagai pakar rujuk di Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan (JAWI).
Selain dari mengajar, Haji Said juga telah menghasilkan lebih daripada 20 buah buku agama yang membicaraan pelbagai aspek seperti fiqh, 'aqidah dan sebagainya. Antara karya beliau:-
- Sinaran Fiqh;
- Mengenal al-Quran;
- Manasik Haji & Umrah;
- Qanun Jenayah Syariah;
- Sistem Kehakiman Dalam Perundangan Islam;
- Soal - Jawab Nikah Kahwin;
- Fiqh Mazhab Syafi`i & Pendapat Imam-Imam Mazhab;
- Perbandingan 'Aqidah & Fahaman Umat Islam;
- Minhaj Ilmu Fiqh.
Haji Said terkenal sebagai seorang yang tegas menangani gejala ajaran sesat yang menyalahi pegangan Ahlus Sunnah wal Jama`ah yang sebenar. Karya beliau "Perbandingan 'Aqidah & Fahaman Umat Islam" dihasilkannya untuk menjelaskan perbezaan firqah-firqah yang sesat seperti Syiah, Khawarij, Ibnu Taimiyyah dan sebagainya. Berhubung dengan fahaman Ibnu Taimiyyah, beliau menulis mengenai penyelewengannya secara khusus dalam Fasal ke-18, Fasal ke -19 dan Fasal ke-20. Mufti Haji Said adalah antara ulama yang tegas dalam pernyataannya bahawa fahaman Ibnu Taimiyyah adalah menyeleweng daripada Ahlus Sunnah wal Jama`ah. Dalam muqaddimahnya bagi karya tersebut, beliau rahimahUllah menulis pada halaman ii, antara lain:-Dalam sejarah telah tercatat bahawa umat Islam dari masa ke semasa hingga kini terdapat beberapa firqah `aqidah dan fahaman mereka yang berbeza dan bertentangan di antara satu firqah dengan firqah yang lain.Mufti Haji Said meninggalkan dunia yang fana ini pada tahun 2001 dalam usia 78 tahun dengan meninggalkan 8 orang anak serta ribuan anak murid. Sepanjang hayatnya, beliau tidak jemu-jemu menyumbangkan tenaga dan idea dalam memartabatkan Islam. Mudah-mudahan segala amalnya dinilai sebagai ibadah yang tulus dan rahmat Allah yang berkekalan dicucuri atas beliau....al-Fatihah.
Perkara ini memang sudah menjadi suatu kenyataan yang tidak boleh dibantah dan ditolak, iaitu firqah-firqah Syiah, Khawarij, Mu'tazilah, Qadariyah, Jabariyah, Najaariyah, Musyabbihah (Mujasimah), Bahaiyah dan Ibnu Taimiyyah, kesemuanya firqah tersebut berlainan fahaman dan `aqidah mereka. Dan tidak sama juga fahaman `aqidah mereka dengan `aqidah Ahlus Sunnah wal Jama`ah.
Sungguhpun umat Islam di negara ini sejak dahulu lagi menganut fahaman dan `aqidah Ahlus Sunnah wal Jama`ah, tetapi kini mereka telah banyak diresapi oleh fahaman `aqidah-`aqidah yang berlawanan dan bertentangan dengan fahaman dan `aqidah Ahlus Sunnah wal Jama`ah, sehingga ada yang sudah dipengaruhi oleh fahaman dan `aqidah Syiah dan Mu'tazilah, bahkan ada pula yang telah terpengaruh dan mengikut fahaman dan `aqidah Ibnu Taimiyyah dan lain-lainnya.
Senin, 14 Desember 2009
Atsar Ibnu Mas`ud r.a.
Ada satu Cik Nony yang segan mauk letak dia punya nama atau username, ada post satu komen jugak sama saya. Dalam itu komen aaa, kalu abang adik ada baca, darah muda mauk panas jugak ada. Nasib baik sini blog punya dalam, kalu itu parrrtiii punya mesyuarat mauk terbang itu kerusi meja...ayoyo banyak sabar... banyak sabar. Saya sini letak itu komen jugak ada, mauk kasi abang adik tengok baca, kalau sudi, kalau tarak sudi boleh langkah saja. Abang adik jangan maraa, saya sini komen kasi letak:-
Ikhwah, sebenarnya hujjah yang dikemukakan oleh Cik Anon kita ini, adalah atsar Sayyidina 'Abdullah bin Mas`ud r.a. Anon kita dengan taksubnya menshohihkan atsar tersebut dengan bersandarkan kepada al-Albani dan bukunya (maap le, kalam al-Albani ngak ada nilai di sini, kamu juallah perkataannya tempat lain). Tanpa menjelaskan kepada kita status atsar tersebut di sisi para ahli hadits yang lain. Atsar ini diriwayatkan oleh Imam ad-Daarimi dalam sunannya, jilid 1 halaman 68, dengan sanad daripada al-Hakam bin al-Mubarak daripada 'Amr bin Yahya daripada ayahnya daripada datuknya (Amr bin Salamah). Menurut sebahagian muhadditsin, kecacatan atsar ini adalah pada rawinya yang bernama 'Amr bin Yahya (yakni cucu Amr bin Salamah). Imam Yahya bin Ma`in memandang "riwayat daripadanya tidak mempunyai nilai". Imam adz-Dzahabi menyenaraikannya dalam kalangan rawi yang lemah dan tidak diterima riwayatnya, dan Imam al-Haithami menyatakan bahawa dia adalah rawi yang dhoif. Jadi sanad atsar ini mempunyai pertikaian di kalangan muhadditsin, sekalipun dinyatakan shohih oleh panutan Cik Anon kita, al-Albani.
Jika pun atsar tersebut dianggap shohih, maka Cik Anon sepatutnya merujuk kepada tafsiran dan penjelasan para ulama yang muktabar mengenainya. Anon juga tidak berlaku amanah bila tidak memaklumkan bahawa berhubung zikir bersama-sama atau berjemaah dalam satu majlis mempunyai sandaran yang banyak lagi shohih daripada hadits-hadits Junjungan Nabi s.a.w. dan atsar - atsar. Cik Anon juga gagal memahami bahawa puak yang ditegur oleh Sayyidina Ibnu Mas`ud adalah golongan KHAWARIJ. Maka atsar Sayyidina Ibnu Mas`ud lebih kepada kritikan beliau kepada para pelaku yang tergolong dalam firqah Khawarij. Di mana golongan Khawarij memang terkenal dengan kuat beribadah, kuat sholat, kuat berpuasa, kuat membaca al-Quran, banyak berzikir sehingga mereka merasakan diri mereka lebih baik daripada para sahabat Junjungan s.a.w. Maka kritikan Sayyidina Ibnu Mas`ud ini ditujukan kepada kelompok Khawarij yang mereka itu mengabaikan bahkan mengkafirkan para sahabat kerana beranggapan ibadah mereka lebih hebat daripada para sahabat.
Oleh itu, janganlah digunakan atsar yang ditujukan kepada kaum Khawarij untuk kamu gunakan terhadap saudara kamu yang sangat memuliakan para sahabat Junjungan Nabi s.a.w. Sungguh sikap kamu ini jelas sikap Wahhabi yang menggunakan ayat-ayat yang ditujukan kepada orang kafir dan musyrikin untuk dijadikan peluru menghentam, membid`ah, mensyirik, mengkafirkan sesama Islam. Jangan kamu ingat para ulama kami tidak tahu mengenai atsar Sayyidina Ibnu Mas`ud ini. Takutlah kamu kepada Allah, kerana seperti yang kamu katakan bahawa agama ini milik Allah bukannya hakmilik kamu dan bukan milik ikutan kamu golongan serpihan umat itu. Jangan kamu merobek perkara yang telah dipandang baik dan elok, kalau tidak dengan ijma' umat ini, setidak-tidaknya baik dan elok di sisi jumhur. Jangan kamu taksub dan fanatik kepada seorang imam kamu untuk menuding jari bahawa para Imam kami dan ulama kami membuat-buat bid`ah. Insaflah wahai Cik Anon, khazanah ilmu Islam itu luas, seluas lautan lepas tidak bertepi, bukan hanya dalam karangan-karangan al-Albani sahaja.
Akhir sekali, aku nukilkan di sini kalam Imam as-Sayuthi rhm. berhubung atsar Sayyidina Ibnu Mas`ud ini. Ikhwah dan Cik Anon boleh rujuk tulisan Imam Besar ini yang dengan jodol "Natiijatul Fikri fil Jahri fidz Dzikri" dalam "al-Hawi lil Fatawi" juz 1. Di situ Imam asy-Sayuthi menyenaraikan 25 hadits dan atsar yang diriwayatkan oleh asy-Syaikhan hinggalah yang diriwayatkan oleh al-Mirwazi berhubung berzikir secara jahar dan majlis zikir berjemaah. Berhubung atsar Ibnu Mas`ud, Imam asy-Sayuthi pada halaman 394 menyatakan, antara lain:


(Jika engkau kata) Telah dinukilkan yang Sayyidina Ibnu Mas`ud telah melihat satu kaum bertahlil dengan mengangkat suara dalam masjid, lalu beliau berkata: "Tidak aku melihat kamu melainkan (sebagai) pembuat bid`ah", sehingga dikeluarkannya mereka dari masjid tersebut. (Kataku - yakni jawapan Imam as-Sayuthi) Atsar daripada Sayyidina Ibnu Mas`ud r.a. ini memerlukan penjelasan lanjut berhubung sanadnya dan siapa yang telah mengeluarkannya daripada kalangan para hafidz dalam kitab-kitab mereka. Jika dikatakan ianya memang tsabit, maka atsar ini bercanggah dengan hadits-hadits yang banyak lagi tsabit yang telah dikemukakan yang semestinya didahulukan (sebagai pegangan) berbanding atsar Ibnu Mas`ud apabila berlaku percanggahan. Kemudian, aku lihat apa yang dianggap sebagai keingkaran Sayyidina Ibnu Mas`ud itu (yakni keingkarannya terhadap majlis-majlis zikir bersama-sama tadi) akan penjelasan Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab "az-Zuhd" yang menyatakan:- Telah memberitahu kami Husain bin Muhammad daripada al-Mas`udi daripada 'Aamir bin Syaqiiq daripada Abu Waail berkata:- "Mereka-mereka mendakwa 'Abdullah (yakni Ibnu Mas`ud) menegah daripada berzikir (dalam majlis-majlis zikir), sedangkan 'Abdullah tidak duduk dalam sesuatu majlis melainkan dia berzikirUllah dalam majlis tersebut." Dalam kitab yang sama, Imam Ahmad juga meriwayatkan bahawa Tsabit al-Bunani berkata:- "Bahawasanya ahli dzikrUllah yang duduk mereka itu dalam sesuatu majlis untuk berdzikrUllah, jika ada bagi mereka dosa-dosa seumpama gunung, nescaya mereka bangkit dari (majlis) dzikrUllah tersebut dalam keadaan tidak tersisa sesuatupun dosa-dosa tadi pada mereka", (yakni setelah berzikir, mereka memperolehi keampunan Allah ta`ala).Ikhwah, sekali lagi aku ingatkan bahawa para ulama kita bukan orang jahil dan bukanlah orang tidak takutkan Allah. Sungguh mereka lebih takutkan Allah, daripada kita semua, termasuklah Cik Anon kita. Oleh itu, berhati-hatilah bila mengkritik fatwa dan pandangan mereka. Aku sekadar membawa kalam mereka.
"MAJELIS RASULULLAH SAW"
Salah
satu peserta didiknya seorang nenek berusia 76 tahun. Ternyata, si
nenek tak bisa membaca Al-Qur’an. Namun karena kesungguhannya,
subhanallah, dalam waktu sembilan bulan ia telah hafal Al-Qur’an.
Al-Qur’an.
Hanya dengan waktu enam bulan kita bisa hafal Al-Qur’an, karena pada
dasarnya menghafal itu memang mudah. Bahkan dengan ketekunan dan
kesungguh-sungguhan bisa hafal Al-Qur’an dengan waktu yang lebih
singkat.
Indahnya Perbedaan
