Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Mei 2012

Dr. Arif Zamhari: Ilmuwan yang tetap Santri


“Kalau kamu ingin besar, jangan terus di sini. Harus hijrah. Kalau hanya di kampung, tidak bisa besar.”




Di antara ilmuwan dan aktivis muda NU potensial yang aktif dalam berbagai kegiatan berbobot namun tetap berada dalam jalur para pendahulunya dan tidak tergoda dengan pemikiran liberal adalah Dr. Arif Zamhari, yang meraih gelar doktor dari The Australian National University (ANU), Canberra, Australia. Ia memegang berbagai jabatan yang diamanahkan kepadanya di berbagai lembaga keislaman dan keilmuan.

Salah satu amanah yang diembannya kini adalah menjadi direktur Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an (STKQ), yang berlokasi di Jln. H. Amat, Kukusan, Beji, Depok, Jawa Barat.   Lembaga pendidikan tinggi yang hanya menerima santri yang telah hafal Al-Qur’an ini didirikan dan diasuh oleh tokoh terkemuka NU, K.H. Dr. Hasyim Muzadi, yang juga mertuanya.

Di tengah kesibukannya mengemban amanah yang mulia itu, ia juga dipercaya menjadi pengajar di berbagai perguruan tinggi. Di antaranya di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Psikologi UIN Jakarta, juga di Fakultas Psikologi Universitas Paramadina, Jakarta. Juga pada Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Malang, Jawa Timur.

Dr. Arif Zamhari termasuk ilmuwan muda NU yang sering terlibat dalam kegiatan berskala internasional. Ia di antaranya pernah menjadi ketua penyelenggara pertemuan para ulama dan cendekiawan muslim dunia di Jakarta pada 19-20 Desember 2009, yang membicarakan berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam. Konferensi ini membahas berbagai persoalan penting yang menyangkut umat Islam, tanpa membedakan madzab.

Penghargaan Internasional
Keseriusan dan keaktifannya dalam mengikuti berbagai kegiatan keagamaan ternyata mendapat perhatian dari dunia internasional. Pada tahun 2010 ia memperoleh penghargaan bergengsi di luar negeri, yakni diangkat sebagai Tokoh Dunia Yale 2010.
Program Tokoh Dunia Yale diselenggarakan oleh Universitas Yale, New Haven, Amerika Serikat, sebagai upaya pengembangan kepemimpinan global. Program tersebut berlangsung setiap tahun sejak 2002 dan telah mengangkat 155 tokoh dari 74 negara.

Dr. Arif Zamhari adalah salah satu dari 15 Tokoh Dunia Yale untuk tahun 2010 itu. Mereka terpilih dari 1.500 orang peserta yang diseleksi. Ia dinilai sebagai aktivis yang telah menunjang Islam moderat dan progresif. Ketua Tanfidziah PCI NU Australia dan New Zeland tahun 2007 itu juga dianggap berkomitmen menjalankan masyarakat beradab dalam menghadapi terorisme dan mendukung toleransi melalui dialog dan pendidikan.

Dr. Arif Zamhari sesungguhnya berasal dari keluarga biasa, tidak kaya dan tidak pula terlalu sederhana. Ia putra pertama dari empat bersaudara pasangan H. Abdurrahman dan Hj. Ummu Sulfa, yang berasal dari keluarga pedagang dan petani.

Ia, yang kini usianya belum genap 40 tahun, lahir di Lamongan, Jawa Timur, pada 15 Juli 1972, di Desa Tanggung Prigel, Glaga, Lamongan, daerah terpencil yang jauh dari kota.

Pendidikan awalnya dilaluinya di Madrasah Bustanul Ulum, yang lokasinya tak jauh dari tempat tinggalnya. Sejak Ibtidaiyah hingga Aliyah ia belajar di lembaga ini. Di waktu kecil itu, ia juga mengikuti sekolah diniyah, lembaga pendidikan yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama. 

Saat mulai duduk di tingkat aliyah, lembaran baru dalam kegiatan pendidikannya pun dimulai. Di sinilah ia mulai tinggal di pondok, meskipun untuk makan ia tetap pulang ke rumah. Maklum, lokasi pondok sangat berdekatan dengan rumahnya. Tetapi setelah itu ia langsung kembali ke pondok. Jadi, pulang hanya untuk mengisi perut.

Gurunya saat di pesantren banyak, bukan hanya satu. Di antara mereka, K.H. Ahmad Hanbali, yang juga pengasuh pesantren itu, adalah seorang yang sangat memberikan pengaruh terhadap dirinya. Ia seorang yang sangat disiplin dan menginginkan santrinya berkiprah lebih jauh, tidak hanya di daerah situ. “Kalau kamu ingin besar, jangan terus di sini. Harus hijrah. Kalau hanya di kampung, tidak bisa besar.”

Kata-kata sang kiai sangat mempengaruhi dirinya. Ia benar-benar terinpirasi oleh kata-kata itu.

Maka, sejak lulus aliyah, ia tak pernah tinggal di kampung lagi. Tak lain karena ingin besar, sebagaimana pesan gurunya itu. Ia hanya pulang kampung untuk menjenguk orangtua dan silaturahim dengan saudara-saudaranya.

Setelah menyelesaikan aliyah pada tahun 1990, ia segera hijrah ke Malang untuk kuliah di Fakultas Tarbiyah Sunan Ampel Malang, yang dirampungkannya pada tahun 1995. Setelah itu ia hijrah lagi ke tempat yang baginya saat itu sangat jauh dan asing, yaitu Padang, Sumatera Barat, untuk mengikuti pendidikan pascasarjana dengan mengambil konsentrasi Pemikiran Islam, di IAIN Imam Bonjol.

Saat itu, Padang benar-benar jauh baginya, karena Jakarta saja belum pernah dimasukinya. Namun sosok yang tetap berpenampilan santri, rendah hati, dan sederhana ini cepat dapat beradaptasi, baik dengan lingkungan kuliah maupun lingkungan masyarakat tempatnya tinggal. Malah ia lebih senang bergaul dengan masyarakat setempat dibandingkan hanya membatasi diri dengan teman-teman sedaerah. "Karena itu, saya cepat bisa berbahasa Minang. Sampai sekarang pun masih lancar."

Tanpa banyak mengalami kesulitan, ia dapat menyelesaikan S-2 nya ini pada tahun 1998 dengan judul tesis Konsep Iman Menurut Imam Abu Hanifah.

Pengembaraannya dalam menimba ilmu semakin jauh ketika ia mengikuti kuliah S3-nya pada Asian Pacific College, ANU, Canberra, Australia, yang dimulainya sejak tahun 2003 dan dapat diselesaikannya pada tahun 2007. Ia menulis disertasi dengan judul Rituals of Islamic Spirituality: A Study of Majlis Dhikr Groups in East Java.

Di samping tesis dan disertasi, ia juga telah banyak menghasilkan banyak karya ilmiah, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, baik yang telah maupun yang belum dipublikasikan.

Selain itu, berbagai konferensi internasional pun telah diikutinya. Lebih dari 25 konferensi internasional, baik di Indonesia maupun di luar negeri, telah diikutinya.

Meskipun telah menyelesaikan jenjang pendidikan tertinggi dan telah pula memiliki pengalaman yang luas di dalam maupun di luar negeri, pembawaan dan penampilan Dr. Arif Zamhari tetaplah sebagaimana santri pada umumnya: rendah hati dan sederhana. Tidak pernah berpenampilan berlebihan, apalagi aneh-aneh. Apalagi ia merasa masih terus harus banyak belajar dari siapa saja yang patut diambil ilmunya.   

Ya, bertahun-tahun ia terus merantau dari satu kota ke kota lain hingga akhirnya kini “terdampar” di bilangan Depok.

Mutiara Terpendam
Amanah yang diembannya sebagai direktur STKQ adalah hal yang sangat mulia dan sangat penting, karena menyangkut kepentingan umat secara luas. Sebab di Indonesia sangat banyak penghafal Al-Qur’an, potensi yang sangat besar. Muslim yang mampu menghafal Al-Qur’an ribuan jumlahnya, yang tersebar di seluruh negeri, mulai dari yang masih kanak-kanak sampai yang sudah tua renta.

Namun demikian, potensi tersebut tak termanfaatkan secara optimal. Kenyataan ini menunjukkan bahwa masih banyak potensi lain yang belum dikembangkan, yang bermanfaat bagi masyarakat. “Mereka sebatas menghafal, belum memahami kandungan Al-Qur’an.”

Sebenarnya, kualitas dan kemampuan mereka masih bisa lebih ditingkatkan. Yakni, dari sosok yang hafal Al-Qur’an menjadi pribadi yang paham dan berakhlaq Al-Qur’an, serta mampu menjawab tantangan zaman yang semakin meningkat di tengah-tengah masyarakat. Justru itulah yang terpenting dari aktivitas para penghafal Al-Qur’an. “Tujuan kami meningkatkan dan mencetak para hafizh menjadi ulama,” jelas Arif.

Dengan demikian, hafal saja tidak cukup. Perlu ditambah dengan pemahaman. Secara sadar, mereka telah gigih dan bersungguh-sungguh menghafal al-Qur’an. Tentu semangat itu bisa diarahkan ke tingkat yang lebih tinggi. “Di STKQ Al-Hikam ini, kita hanya menerima  hafizh yang lulusan SLTA,” katanya.

Kenyataan lain yang kita temukan, kebanyakan hafizh berasal dari keluarga serba kekurangan, sehingga mereka tidak mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

SDM yang sangat potensial ini tentu tak boleh disia-siakan. Mereka adalah anak muda, cerdas, dan shalih. Sebagaimana kita tahu, masa-masa remaja adalah masa-masa yang paling efektif untuk menanamkan ilmu dan membentuk kepribadian mereka. Harus ada yang menampung dan mengarahkan. Karena mereka adalah aset bangsa yang tak ternilai harganya.

Selain itu, mereka sering kali hanya dilibatkan untuk kegiatan seremonial, seperti tujuh bulan, pindah rumah, khataman, pernikahan. K.H. Hasyim Muzadi bermaksud memoles mutiara yang terpendam ini. Atas dasar itulah, STKQ Al-Hikam ini didirikan.

Selama proses pendidikan di sini, seluruh biaya perkuliahan hingga lulus digratiskan.

Metode pembelajaran di STKQ Al-Hikam  menggabungkan tiga aspek secara bersamaan, yaitu muraja’ah (mengulang hafalan), dirasah (belajar memahami), dan tanmiyah (pengembangan, berupa kursus-kursus dengan beragam materi wawasan kebangsaan, teknologi informasi, dan kewirausahaan).

Harapannya, mereka tetap bisa menjaga hafalannya, namun juga mampu memahami dan mengaitkan Al-Qur’an dengan konteks kekinian. Setelah kembali ke masyarakat, diharapkan mereka mampu menyampaikan kandungan Al-Qur’an, sesuai dengan konteks dan kebutuhan mereka, baik secara sosiologis maupun secara keilmuan.

Komodifikasi Agama
Meskipun sering berkiprah di dunia internasional, Dr. Arif Zamhari juga cermat mengamati perkembangan kehidupan umat di tanah air. Di antara yang disorotinya adalah masalah tayangan televisi yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kaum muslimin tentu tak ingin hanya menikmati hiburan dari tayangan-tayangan di layar kaca. Mereka juga berharap mendapatkan hal-hal yang bermanfaat, termasuk yang menyajikan materi-materi keagamaan. Sayangnya, acara-acara yang bernuansa keislaman di televisi masih jauh dari harapan. Komersialisasi agama, atau agama diperjualbelikan untuk keuntungan semata, tercermin pada tayangan-tayangan televisi. “Fenomena komersialisasi agama tercermin pada tayangan-tayangan televisi seperti sinetron religius,” katanya.

Aktivis Nahdlatul Ulama ini mengakui bahwa dampak negatif secara langsung yang dirasakan masyarakat secara luas belum menonjol, namun itu tak boleh dibiarkan. Ia juga mengatakan, komersialisasi agama kemudian melebur menjadi komodifikasi agama, yakni komersialisasi Islam atau mengubah keimanan dan simbol-simbolnya menjadi komoditas yang dapat diperjualbelikan untuk mendapat keuntungan.

Dalam tayangan pada media elektronik saat bulan puasa, misalnya, nilai keberagamaannya kurang begitu mendalam.

Masalah keteladanan juga menjadi salah satu aspek yang diperhatikannya. Ia mengingatkan, dalam konsep pendidikan Islam seorang pengajar juga harus menjadi teladan yang baik. Padahal masyarakat luas mengetahui bagaimana kehidupan seorang artis dalam kesehariannya. ”Para pemian sinetron tersebut sebaiknya juga menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.”

Tayangan acara di televisi menjelang berbuka puasa atau sahur, menurutnya, juga hanya bersifat hura-hura. Kalau ini dibiarkan, bisa terjadi degradasi keluhuran nilai-nilai agama. 

Dr. Arif juga mengingatkan hal yang sangat mendasar, yaitu penguasaan dan pemahaman orang yang menyampaikan materi-materi keagamaan. Dalam penyampaian materi-materi agama, seperti ceramah agama, perlu ada kualifikasi dari lembaga khusus dai, karena tidak sedikit orang yang kurang paham agama Islam sudah memberikan materi di hadapan publik, dan ini seharusnya tidak terjadi. Menurutnya, mereka itu kurang credible, dan harus ada proses kualifikasi dari lembaga khusus yang menanganinya. “Mereka tentunya dijadikan panutan umat, karena itu harus benar-benar memahami agama.”

Radikalisasi masih Terjadi
Masalah penanganan teroris, yang sejak beberapa waktu yang lalu sering menyita perhatian publik, juga tak lepas dari sorotannya. “Selama ini, dalam penanganan para aksi teroris pemerintah memang telah melakukan penangkapan terhadap pelaku dan pemimpin gerakan radikal. Tapi hal itu belumlah cukup.”
Menurut Arif, dalam menjalankan program deradikalisasi harus sampai pada tingkat bawah atau akar rumput. Sehingga, benih-benih teror baru dapat teridentifikasi sejak dini. Masyarakat pun dapat berpartisipasi menghilangkan bibit terorisme.

Wakil ketua International Conference of Islamic Scholars (ICIS) ini mengungkapkan, aksi radikalisasi di tengah masyarakat masih terus terjadi. Ia mengaku kerap menemui penceramah yang menyampaikan kekerasan, menyudutkan kelompok lain yang tidak sesuai dengan pemahamannya.

“Kita masih banyak menemui seorang dai dalam mimbar Jum’at yang mengajarkan kekerasan dan menghujat kelompok lain.”

Arif mengatakan, ia juga masih menemukan adanya siaran radio yang setiap harinya sengaja menyiarkan ceramah menghujat dan mengkafirkan kelompok lain yang tidak sepaham dengannya. Menurutnya, keadaan tersebut justru memupuk dan menumbuhkan gerakan radikal pada masyarakat di tingkatan yang paling bawah.

Naluri Kemanusiaan
Masalah-masalah yang tampaknya sederhana tetapi menjadi kepentingan dan kebutuhan masyarakat juga tak lepas dari perhatiannya. Dan pandangannya selalu berbasiskan ajaran-ajaran agama, tak terlepas darinya. Misalnya dalam memandang masalah mudik, yang menjadi hajatan tahunan sebagian masyarakat kita.

“Meskipun dalam arus mudik terdapat sisi positif dan negatif, lebih banyak memberikan dampak yang lebih baik bagi masyarakat itu sendiri. Menurutnya, dengan mudik, dalam perspektif psikologis manusia akan kembali ke asal. Untuk itu mereka sangat memperhatikan agar bisa pulang ke kampung halaman.
Fenomena tersebut merupakan naluri kemanusiaan atau sebagai fitrah manusia. Dalam  agama Islam dikenal dengan istilah silaturahim, atau mempererat tali persaudaraan. Bahkan, upaya tersebut sangat dianjurkan, karena mengandung nilai yang sangat baik.

Dari pernikahannya dengan Hj. Yuni Arova, putri K.H. Dr. Hasyim Muzadi, ia telah dikaruniai tiga buah hati: Balya Muhammad Izzat, Takiah Aqilah Farnaz, dan Haikal Makarim. Kini ia bersama istri dan putra-putrinya ini tinggal di lingkungan Pesantren Al-Hikam II Kukusan, Beji, Depok, yang menaungi STKQ, yang dipimpinannya.    

AY

Selasa, 24 April 2012

Manaqib Kyai Utsman Al-Ishaqi Surabaya

Kyai Ustman sby
AL-LU’LU’U WAL-MARJAN

Dengan pertolongan Alloh swt. ada barokah Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqi R.A. kami berusaha untuk menerbitkan Manaqib Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqi untuk pertama kali dengan bahasa Indonesia, dengan harapan akan mudah difahami oleh kaum muslimin yang mencintai beliau khususnya para muridin dan muridat beliau untuk lebih memantapkan Robithoh kepada beliau sewaktu akan melakukan dzikir serta agar selalu mendapatkan barokah apa saja dari beliau baik di dunia maupun di akhirat nanti khususnya dalam menghadapi sakarotul maut.
Karena dengan selalu dekat kepada guru rahmat Alloh akan selalu mengalir terus kepada murid yang selalu dekat kepada guru tersebut.
Manaqib ini kami bagi menjadi tiga Bab dengan Penjelasan sebagai berikut :
BAB I : Menceritakan tentang biografi beliau sejak di dalam rahim ibu sampai beliau menetap kembali di Surabaya untuk membuka Pesantren dan memimpin Thoriqoh QODIRIYYAH dan NAQSYABANDIYYAH.
BAB II : Menjelaskan tentang keistimewaan dan keluhuran beliau disisi Alloh seperti yang diungkap¬kan oleh para Habaib dan para Auliya’ yang sudah terkenal akan kewaliannya.
BAB III : Membicarakan tentang kekeramatan beliau yang tiada habis-habisnya sampai beliau pulang ke Rahmatulloh.
Demikian manaqib ringkas ini kami sampaikan mudah-madahan ada guna dan manfaatnya untuk kita semua Amin.
Gresik, 20 Syawal 1404 H
Penyusun
H. ABDUL GHOFFAR UMAR
BAB I
Dibawah ini kami murid Hadrotus-Syaikh Al-Arif Billah K.H. MUHAMMAD UTSMAN AL-ISHAQI R.A. bernama H. ABDUL GHOFFAR UMAR Tenger Manyar Gresik, dengan rendah hati menyampaikan sekelumit Manaqib (Biografi) Hadrotus-Syaikh guru Toriqoh AL-QODIRIYYAH WAN NAQSYABANDIYYAH.
Manaqib ini dikumpulkan dari pengakuan dan pernyataan para Habib serta para Ulama yang mengenal Hadrotus-Syaikh baik secara lahir maupun secara batin. Diantaranya pengakuan dan pernyataan dari Habib Alie bin Abdurrohman Al-Habsyi Kwitang Jakarta, Habib Ali bin Husain bin Muhammad Al-Atthos Bungur Besar Jakarta. Habib Abdul Qodir Bilfaqih Malang, Habib Abdulloh Al-Haddad, Habib Zasssin Al-Jufri. Kyai Hamid Karang Binangun Lamongan, Kyai Abdul Hamid Pasuruan, Nyai Khodijah dan lain lain. Juga dari Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman r.a. sendiri sebagai Attahaddus bin-Ni’mah atas dasar Firman Allah :
واما بنعمة ربك فحدث
Juga untuk menjaga jangan sampai ada orang yang mengingkari atau menentangnya atau mencelanya. Juga terhadap Masyayikh yang lain, menyebut manaqib sendiri semacam ini pernah dilakukan oleh Ulama’ terdahulu untuk memperkenalkan hal ihwal mereka kepada orang lain agar ditiru seperti Syaikh Abdul Ghofir Al-Farisi Syaikh Al Asfahany, Syaikh Yaqut Al-Hamawy, Syaikh Abu Al-Robi’ Al-¬Maliki, Syaikh Shofiyuddin Al-Manshur serta Syaikh Jala¬luddin Al-Suyuti, Imam Suyuti umpamanya telah menyebut¬kan Manaqib dirinya dalam kita-kitab Thobaqoh yaitu Thobaqoh Al-Fuqoha’ Thobaqoh Al-Muhadditsin Thobaqoh Al-¬Mufassirin Thobaqoh Al-Nuhaat, Thobaqoh Al-Sufiyah dan Thobaqah Al-Muqriin.
Kata Imam Suyuti : Saya menyebutkan manaqib saya hanyalah mengikuti perbuatan orang-orang salaf yang sholeh-sholeh, dan untuk memperkenalkan hal ihwal saya dalam bidang ilmu agar orang lain menirunya, juga untuk Attahadduts bin ni’mah.
Adapun manaqib Hadrotus-Syaikh yang terperinci dan mendetail ada di dalam kitab “SYIFAUL QULUB LIQOUL MAHBUB” yang disusun oleh Kyai Haji Abdulloh Faqih suci Gresik. dan kemudian kami susun kembali kedalam bahasa Arab secara sistematis dan praktis dalam kitab “AL-LU’LU’ WALMARJAN FI MANIQIBI SYAIKH MUHAMMAD UTSMAN R.A.
Dengan membaca Bismillahirrohmanirrohim kami mulai menyampaikan manaqib (biografi) Hadrotus-Syaikh sebagai berikut :
Menurut nasab yang sudah tersusun rapi di dalam keluarga, Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman adalah seorang sayyid dan seorang habib, sebab itu yang mengandung beliau adalah keturunan Maulana Muhammad Ainul Yaqin Al-mulaqqob bi Sunan Giri bin Maulana Ishaq Al-Husaini dan ayah beliau adalah keturunan Sunan Gunung Jati juga Al-husaini. dengan demikian hadrotus-syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqi anak cucu Rosululloh saw.
Hadrotus-Syaikh dilahirkan di Jatipurwo Surabaya pada hari Rabu bulan Jumadil Akhiroh tahun 1334 H. setelah beliau bertapa selama 16 bulan di dalam rahim ibu beliau dan selama di dalam rahim ibu beliau sering bersin, di dalam bahasa Arab di sebut Al-Atthos, dan sejak kecil keistimewaan dan kekeramatan beliau sudah nampak setelah Hadrotus-Syaikh sudah bisa berjalan. Beliau selalu tidak ada dirumah setelah Maghrib, dan baru pulang setelah jam 11 malam badan beliau penuh dengan lumpur. Ternyata setelah diselidiki, beliau berada di sungai didekap oleh seekor Buaya Putih.
Setiap malam Hadrotus-Syaikh selalu tidur di surau (langgar) bersama nenek beliau Kyai Abdulloh, selain nenek beliau tidak ada seorangpun yang berani mendapingi sewaktu beliau tidur, karena dari mata beliau memancarkan sinar terang seakan-akan mau menembus Iangit bagaikan lampu sorot (battery).
Ketika beliau berumur 6 sampai 7 tahun, pada suatu malam nampak bulan-bulan yang banyak turun dari langit seraya memancarkan sinarnya menuju Hadrotus-Syaikh dan mengitari beliau dari segala arah.
Sejak beliau berumur 4 tahun setiap pagi pada Jam 3.00. Istiwa’ beliau keluar rumah menuju Masjid Jami’ Ampel Surabaya diantar oleh kakak perempuan beliau Nyai Khodijah untuk membaca tarhim (memanggil-manggil sholat fajar) sampai datang waktu Shubuh di menara Masjid.
Setiap kali beliau sampai dipintu gerbang Ampel beliau selalu disambut anak-anak kecil yang banyak se¬kali memakai kopyah putih semua, setelah beliau sampai di masjid anak-anak kecil tersebut hilang entah kemana. Dan baru muncul kembali sewaktu beliau hendak pulang dari masjid pada jam 7.00 pagi untuk mengantarkan beliau ke pintu gerbang. Dan setelah itu mereka menghilang kembali, demikian cerita Nyai Khodijah dan Kyai Anwar.
Ketika beliau umur 7 tahun, beliau sudah mengkhatamkan Al-Qur’an 3 kali dibawah asuhan nenek beliau Kyai Abdullah. Kemudian beliau di khitan (sunat). Barulah beliau berpindah mengaiji ke Kyai Adro’i Nyamplungan, sejak itu sepulangnya beliau dari Ampel, beliau terus menuju ke Nyamplungan untuk mengaji Al-Qur’an, setelah itu beliau menuju ke madrosah Tashwirul Afkar di Gubbah untuk mengaji agama, dan baru pulang setelah jam 10.0 pagi. Seharinya beliau hanya mendapatkan sangu 5 Sen yang berlobang tengah yang beliau tempelkan di kancing baju.
Pernah selama 4 talaun Hadrotus-Syaikh tidak makan kecuali daun-daunan dan buah-buahan dan hanya minum air masak saja. Pada waktu itu beliau tentukan belanja beliau hanya 1/2 Sen. Beliau mengatakan, pada waktu saya masih kecil pada suatu hari saya bernafsu sekali ingin makan, maka sayapun makan sekenyang kenyangnya, tetapi sebagai dendanya Saya harus mengkhatamkan Al-Qur’an satu kali duduk. Dan beliau mengatakan : Pada suatu hari saya menangisi diri saya karena ketika saya sholat saya ingat layang-layang, padahal saya sudah berumur 12 tahun, berarti 3 tahun lagi saya sudah baligh dan Mukallaf, bagaimana kalau saya masih ingat pada layang-layang pada waktu sholat ?!
Kyai Ahmad Asrori Kholifatus Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqi mengatakan kepada kami, bahwa ayah beliau pernah mengatakan : Ketika saya menginjak umur 13 tahun, mata saya melihat Ka’bah di Makkah secara rel dan nyata. Maka mata sayapun saya usap berkali-kali (saya ucek-ucek), tetapi tetap saja yang nampak hanyalah Ka’bah di Makkah. Kemudian saya berpikir, mungkin mata saya sudah rusak, dan saya minta dibelikan kaca mata khusus untuk melihat, akan tetapi hasilnya sama saja. Ka’bah di Makkah tetap nampak di pelupuk mata saya, Kata Kyai Asrori : Itulah awal kasyaf yang dialami oleh Hadrotus-Syaikh, dan sejak itu kata Hadrotus-Syaikh saya melihat orang dengan segala kepribadiannya, ada yang menyerupai Srigala ada yang seperti Truwelu, ada yang seperti Babi, seperti Ayam, Kucing dan lain sebagainya menurut pembawaan nafsunya masing-masing, tetapi saya tidak berani berkata terus terang, sebab itu adalah rahasia seseorang.
Pada suatu hari Hadrotus-Syaikh sampai larut malam tidak pulang dari Madrasah seperti biasanya pada jam 10.00 pagi, maka ributlah orang-orang tua mengkhawatir¬kan beliau. Maka imam Roudloh Kyai Nur atas izin orang tua beliau berangkat mencari beliau, dan oleh karena diberitakan bahwa Hadrotus-Syaikh berada di pondok Kyai Khozin Panji, maka Kyai Nur pun berangkat ke sana. Tetapi sesampai Kyai Nur di Siwalan Panji, Hadrotus-Syaikh sudah Pindah ke pondok Kyai Munir Jambu Madura.
Setelah orang tua beliau mendengar demikian itu, beliau mengatakan : tidak usah mencari Utsman, yang penting dia sehat. Setelah beberapa lama tinggal di pondok, beliau sakit keras, maka terpaksa beliau pulang kerumah. Dan setelah berobat Al-hamdulillah beliau sembuh kembali. Kemudian Hadrotus-Syaikh dipondokkan ke Kyai Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng, selanjutnya beliau dipondokkan ke Kyai Romli Peterongan Jombang. Pada waktu itu Hadrotus-Syaikh benar-benar terikat, beliau mengatakan : sewaktu saya dikirim oleh orang tua saya kepondok, sarung saya hanya satu lembar, apabila najis maka saya memakai tikar sebagai gantinya untuk sholat. Dan selama saya di pondok, saya tidak pernah pulang ke rumah kecuali badan saya sudah kurus benar. Sebab apabila saya pulang dan badan saya gemuk, saya di marahi oleh orang tua dan nenek. Pernah pada suatu hari saya pulang badan saya gemuk, spontan nenek saya mengatakan : Kalau kau tinggal dipondok. untuk makan dan mimurn. Lebih baik tinggal dirumah saja.
Ketika Hadrotus-Syaikh pulang dari pondok, pada suatu hari beliau menyaksikan adanya hubungan-hubungan khusus yang diselenggarakan oleh tujuh orang pemuda dan tujuh orang pemudi setiap hari disamping musholla di muka rumah beliau, maka beliau melihat hal yang tidak senonoh ini akhirnya beliau adukan kepada Kyai Romli dengan mengatakan : yai ! saya melihat ada mutiara di dalam air yang keruh dan najis, apakah saya harus mengentasnya (menyelamatkanya) ? Kyai Romli menjawab : Entaslah wahai Utsman ! dengan syarat hatimu tidak berpaling kepadanya, kalau hatimu berpaling kepadanya, maka kau tidak akan berjumpa denganku besok di Mahsyar. Maka beliaupun mengumpulkan pemuda dan pemudi yang 14 orang itu dirumah beliau setiap malam, beliau ikuti pembicaraan-pembicaraan mereka yang intim itu sambil beliau masuk-masukkan (sesel-seselkan) urusan keagamaan mereka, dan beliau peringatkan tentang siksa Alloh ta’ala. sampai akhirnya taubat dengan taubat nasuha (taubat yang pokok).
Hadrotus-Syaikh pernah diadukan oleh seorang ulama kepada Kyai Romli karena beliau mengadu ayam, Kyai Romli menjawab : Saya tidak berani melarangnya dan Kyai tidak usah meniru mengadu ayam. Kawan dekat Hadrotus-Syaikh bernama Kyai Haji Hasyim Bawean menceritakan kepada kami bahwa Hadrotus-Syaikh dibai’at oleh Kyai Romli pada hari Rabu 16 Sya’ban tahun 1361 H atau 1941 M. Setelah beliau dibai’at selama satu minggu heliau menyusun silsilah Thoriqoh Qodiriyah dan Naqsyabandiyyah atas perintah Kyai Romli di namakan “TSAMROTUL FIKRIYYAH” .
Hadrotus-Syaikh mengatakan : saya dibai’at oleh Kyai Romli atas permintaan Kyai Romli sendiri. Pada waktu itu saya dimasukkan kekamar Kyai dan didudukkan di atas Burdah yang putih bersih di atas tempat tidur Kyai dan dipinjami Tasbih. padahal waktu itu kaki saya berlumpur karena hujan, karena sudah menjadi Tradisi, setiap kali saya masuk kerumah Kyai, kaki saya pasti telanjang tanpa alas kaki. Dengan demkian, sebelum saya jadi murid saya adalah Murod dan sebelum saya menjadi tholib saya adalah Mathlub. Dalam kesempatan lain Hadrotus-Syaikh mengatakan untuk menghadiri Majlis Khusus atau wirid Khataman selama 4 tahun saya terus menerus berjalan kaki memakai klompen dari Surabaya. ke Paterongan, barulah kadang-kadang saya naik kendaraan setelah ketahuan Kyai Hasyim Asy’ari di Mojoagung dan beliau mengatakan : jangan jalan kaki terus-menerus Utsman. Selanjutnya Kyai Hasyim Bawean mengatakan pada adik waktu terjadi Perang Dunia II tahun 1942 M Hadrotus-Syaikh sekeluarga pindah sementara ke Peterongan, kalau siang hari berada di dalam pondok.
Pada suatu hari, hari Selasa beliau disuruh menghadap Kyai Romli pada jam 2.00 malam untuk diangkat menjadi mursyid Thoriqoh Al-Qodiriyah Wan Naqsyabandiyyah, Hadrotus-Syaikh waktu itu mengatakan “tidak kuat Kyai” tetapi Kyai Romli tet’ap melaksanakan perintah Alloh kemudian mengusapkan tangannya diatas kepala Kyai Utsman r.a. seketika itu pula Hadrotus-Syaikh jatuh tidak sadarkan diri dan langsung jadzab Selama satu minggu Hadrotus-Syaikh mengalami jadzab beliau tidak makan, tidak minum, tidak tidur, tidak buang air besar maupun kecil dan tidak sholat, wajah beliau cantik sekali bagaikan Bulan Purnama, tidak seorang pun yang berani melihat wajah beliau yang Cantik itu.
Setelah Hadrotus-Syaikh mengalami jadzab satu minggu, beliau berkata kepada Kyai Hasir Bawean : nanti malam akan datang tamu-tamu banyak sekali tidak perlu suguhan makanan atau minuman, maka pada jam 8.00 kurang sepuluh menit malam Hadrotus-Syaikh sudah siap menerima tamu dikamar, dan menghadap kepintu, tidah lama kemudian beliau mengucapkan : Waalaikumussalam, Walaikumussalam. selama kurang lebih lima menit, dan nampak seakan-akan.
Hadrotus-Syaikh menjabat tangan orang-orang sambil menundukkan kepala, kemudian beliau mengatakan : Mulai hari ini saya ditetapkan sebagai mursyid langsung oleh Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani dan Nabiyulloh Khidir r.a. Serta oleh sejumlah Masyayikh Al-Qodiriyah Wan Naqsyabandiyyah, dan sejak sekarang saya di izinkan untuk membai’at. sambil menyerahkan sepucuk kertas kepada Kyai Hasyim.
Kemudian Hadrotus-Syaikh menghadap kebarat sekali lagi dan mengucapkan na’am na’am tepat pada jam 8.00 lebih 5 menit malam itu Hadrotus-Syaikh berdiri menuju kepintu, setelah diam sejenak beliau mengucapkan wa’alaikumussalan, wa’alaiku¬mussalam, kemudian oleh Kyai Hasyim, Khadrottus Syaikh disuruh mandi setelah satu minggu tidak mandi dan ketika itulah Kyai Hasyim cepat-cepat pergi ke Kyai Romli untuk mengantarkan sepucuk kertas tadi, dan Kyai Romli spontan menemuinya di luar rumah seraya mengatakan : Ada apa ? ada apa ? ada apa ? Ketika Kyai Romli membaca sepucuk kertas itu spontan Kyai mengatakan dengan bahasa Madura yang maksudnya : Alhamdulillah sekarang saya punya anak yang bisa menggantikan saya (sampai 3 kali).
Orang tua Hadrotus-Syaikh juga pernah menyatakan hal-hal kepada salah seorang habib bahwa Hadrotus-Syaikh telah mendapatkan ijazah dari Syaikh Abdul Qodir Jailanil r.a, untuk berdakwah dan diangkat sebagai kholifahnya tanpa perantara, pernyataan ini disampaikan pada tahun 1947 M.
Pada waktu Hadrotus-Syaikh tinggal di Rejoso ada seorang tukang adu ayam kawa’an yang sangat populer di Jombang bernama Wak Sud dia memiliki jago-jago yang khusus untuk di adu, Hadrotus-Syaikh tertarik untuk menundukkan orang ini melalui adu ayam, maka beliau membawa ayam beliau ke Wak Sud dan dia menjawab ajakan Hadrotus-Syaikh dengan mengatakan : Apa bila jagomu menang melawan jagoku maka semua kekayaanku adalah milikmu, sebaliknya apa bila jagomu kalah saya tidak menuntut apa-apa darimu, maka Hadrotus-Syaikh menjawab : Apa bila jagomu menang kemudian kau ambil kekayaanku memang saya tidak mempunyai sesuatu yang patut disebut, dan apabila sebaliknya jagoku yang menang maka saya sama sekali tidak butuh kepada kekayaanmu sama sekali, Pokoknya begini Apabila jagoku menang kamu harus tunduk dan patuh dibawah perintahku, dan wak Sud setuju.
Dengan kekuasaan Alloh swt. menanglah jago Hadrotus-Syaikh sekalipun kurus kecil dan lemah sekali sangat kontras dengan jagonya wak Sud yang kekar dan gagah itu, maka waktu Kyai Romli melihat wak Sud melakuka’n sholat. Kyai Romli memegang pundak Hadrotus-Syaikh dari belakang seraya mengatakan : Apa yang kamu lakukan terhadap wak Sud wahai Utsman sehingga dia mendatangi sholat Jum’at, pada hal saya tidak mampu menundukkannya ? .
Dipeterongan Hadrotus-Syaikh tinggal di desa Nge¬lunggih tidak jauh dari Rejoso atas saran Kyai Romli dengan maksud agar beliau menjadi Imam di Ngelunggih, akibatnya murid-murid Kyai Romli banyak yang pindah he Ngelunggih untuk mendapatkan barokah dari Hadrotus-Syaikh serta ilmu beliau.
Akhirnya Hadrotus-Syaikh disuruh pindah oleh Kyai Romli ke salah satu desa dekat Gunung Lawu di Ngawi. Ketika Hadrotus-Syaikh sampai dilereng Gunung Lawu sangu beliau tinggal Rp. 1.70 (satu rupiah tujuh puluh sen) tidak cukup untuk membeli beras 1 liter, maka untuk mendapatkan rizqi yang samar, beliau Setiap hari : mengunjungi pesarean yang paling di kenal oleh orang di desa itu. Karena beliau cinta dan hobby melakukan ziarah akhirnya atas kemurahan Alloh beliau sekeluarga mendapatkan rizgi yang tidak diduga sebelumnya, diantara orang kampung ada yang mengundang beliau untuk mengikuti tahlilan ada yang minta barokah do’a, ada yang minta fatwa, sampai akhirnya Hadrotus-Syaikh menjadi populer di desa itu dan kemudian menjadi imam di desa itu.
Diantara kekeramatan Hadrotus-Syaikh di desa tersebut, beliau bermimpi berjumpa dengan Hadrotus-Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari Tebu Ireng berpamitan kepada beliau dengan mengatakan : Saya duluan Utsman. tahu-tahu pada esok harinya beliau mendengar berita bahwa Kyai Hasyim Asy’ari meninggal dunia (pulang kerahmatullah) .
Menjelang meletusnya Madiun Effer (peristiwa Madiun pada tahun 1948 M Hadrotus-Syaikh berkali-kali menerima surat serta saran agar beliau pulang saja ke Surabaya karena situasinya tidak mungkin aman di daerah itu. Mendengar pulangnya Hadrotus-Syaikh ini, sebagian besar penduduk di lereng Gunung Lawu itu keberatan ditinggalkan Hadrotus-Syaikh ; karena mereka memerlukan do’a, ilmu, serta barokah dari beliau bahkan ada yang berjanji memberikan 20 hektar kebun kepada Hadrotus-Syaikh agar beliau sudi tetap tinggal di desa itu. Tetapi setelah beliau melakukan istikhoroh akhirnya beliau menetapkan kembali ke Surabaya.
BAB II
Ketika Hadrotus-Syaikh menjadi santri di pondok Rejoso beliau masih muda belia, sering di jumpai oleh Nabi Khidir a.s. sehingga beliau laporkan kepada Kyai Romly dan dijawab oleh Kyai : Mengapa tidak kau minta datang kemari wahai Utsman.
Hadrotus-Syaikh sejak kecil sampai akan pulang kerahmatulloh selalu istiqomah dalam segala prilaku, perbuatan, serta ucapan yang beliau tiru dari Rosululloh saw. Kita tidak pernah melihat beliau hadats dan kita semua menyaksikan bahwa keseluruhan waktunya hanyalah untuk mnemgabdi kepada Alloh swt. maka pantaslah kalau beliau dipilih oleh Kyai Romly sebagai Kholifahnya. Dalam hubungan ini Kyai Romly pernah bermimpi bahwa di Surabaya terdapat sebuah pabrik besar yang terus mene¬rus berproduksi di bawah pimpinan Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman r.a. Itulah Thoriqoh Al-Qodiriyah Wan Naqsyabandiyyah yang beliau asuh.
Sebelumnya Kyai Romly sering menampakkan dan melahirkan ridlonya kepada Hadrotus-Syaikh, sampai beliau mengatakan : Alangkah besar ridlo saya kepadamu wahai Utsman. Dan Hadrotus-Syaikh meminta pendapat tentang Kholifah Syaikh Abdul Qodir Jailani r.a. Kyai Romly tersenyum-senyum sambil melihat dan menunjuk pada Hadrotus-Syaikh. sebaliknya Hadrotus-Syaikh kepada Kyai Romly juga fanatik dan sering merindukannya apabila berpisah agak lama.
Pada suatu hari putra beliau Abu Luqmanul Hakim sewaktu masih kecil jatuh dan terbentur pada tepi meja di rumahnya sehingga dari kepalanya mengalir darah yang banyak sekali yang cukup meributkan keluarga beliau. Maka oleh keluarga beliau supaya beliau mengantarkan putranya ke rumah sakit Karang Tembok dan kalau tidak berhasil terus ke Simpang, padahal Hadrotus-Syaikh ketika itu akan pergi ke Rejoso karena sangat rindu kepada Kyai Romly, maka beliau berkata dalam hatinya : saya harus pergi ke Rejoso, tentang nasib anak saya, saya pasrahkan kepada Alloh.
Ketika beliau berjumpa dengan Kyai Romly di Rejoso, guru beliau mengatakan : Anakmu tidak apa-apa. Dan benar kata kyai romly bahwa Abu Luqmanul Hakim dalam keadaan sehat wal afiyat, bahkan sedang memakan nasi goreng sekembalinya Hadrotus-Syaikh dari Rejoso berkat ketaatan serta kecintaan beliau kepada guru beliau Kyai Romly Attamimy r.a. juga pada suatu hari ketika akan menyelenggarakan walimah dirumah setelah maghrib, beliau terlebih dahulu meminta izin kepada Kyai Romly dan sampai di Rejoso tepat pada waktu sholat Dzuhur, sesudah sholat berjama’ah di masjid guru beliau Kyai Romly mengatakan kepada beliau : sekiranya kau tinggal di pondok seperti yang lalu, maka malam ini saya ajak memenuhi undangan Manaqiban di Jombang.
Maka Hadrotus-Syaikh bimbang antara mendampingi gurunya memenuhi undangan Manaqiban di Jombang dan pulang kerumah untuk mengharapkan tamu-tamu yang beliau undang Kerumah beliau pada malam itu juga. Akhirnya beliau memantapkan pendirian beliau pada alternatilf pertama dan berkata dalam diri sendiri : saya pasrah kepada Alloh toh nasi-nasi yang telah masak di rumah ada orang-orang yang memakannya, sedang menyertai guru adalah lebih utama. ketika Kyai Romly mengetahui beliau masih ada di masjid setelah sholat Asar berkatalah beliau kepada Hadrotus-syaikh : murid yang terdekat kepada gurunya adalah murid yang tahu akan rahasia-rahasia gurunya.
Kegemaran Hadrotus-Syaikh adalah berziaroh kepada wali-wali Alloh baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, dan beliau mengenal mereka secara dekat. Bukan hanya nama-nama mereka bahkan nasab mereka dan hubungan mereka satu sama lain. Sampai-sampai beliau hidup-hidupkan dan beliau semarakkan peringatan hari wafat mereka, terutama wafatnya Syaikh Abdul Qodir Jailani r.a. sehingga hampir tiada hari yang lewat di kota maupun desa terutama di Jawa Timur, kecuali terdapat disitu majlis manaqib.
Dalam hubungannya ini Hadrotus-Syaikh mentafsirkan qolbunsalim dalam ayat :
يوم لاينفع مال ولابنون الا من اتى الله بقلب سليم
Sebagai hati yang selamat dari penyakit batin dan penuh rasa cinta kepada Alloh, Rosulnya, dan para wali-walinya. sebab kata beliau tanpa wali-wali kita tidak mungkin dapat mengabdi kepada Alloh s.w.t dengan benar, maka banyak-banyaklah tawasul kepada Auliya’ insya Alloh hati kita akan menjadi khusu’. Yang mula pertama kali menyelenggarakan Managib adalah Hadrotus-Syaikh dan kemudian direstui oleh Kyai Romly At-tamimi dengan menyatakan : “baik Man, teruskan Man !”
Mula-mula yang hadir pada majlisan Managib di Jatipurwo selama 4 tahun hanyalah 7 orang 3 orang diantaranya pada musim panas udzur karna mengidap penyakit paru-paru. Pada suatu hari ditengah-tengah Hadrotus-Syaikh memimpin Istighotsah, datanglah orang yang tidak dikenal secara tiba-tiba dan langsung menelentangkan beliau dan melingkarkan pedangnya pada leher beliau yang terlentang dibawah itu. Peristiwa yang tragis ini diceritakan kepada Kyai Romly, dan beliau hanya menjawab : Teruskan apa yang telah kamu amalkan, orang tersebut tidak berani menancapkan pedangnya pada lehermu, bahkan dalam waktu dekat ini tidak akan berpisah denganmu sejengkalpun.
Dan kenyataannya seperti apa yang dinyatakan oleh Kyai Romly. Tentang keutamaan menaqiban ini Hadrotus-Syaikh mengatakan : Tidak ada ibadah kepada Alloh dimuka bumi ini yang lebih utama dari pada mencintai wali-wali Alloh, dan beliau mengatakan pula : mencintai para wali termasuk ketaatan yang terbesar, dan mereka yang menghadiri majlis managib adalah orang-orang yang cinta kepada mereka dan mencintai mereka adalah bukti akan adanya rasa cinta kepada Alloh s.w.t.
Berkah cintanya Hadrotus-Syaikh kepada para Auliya’ maka beliau sangat dicintai oleh para habaib dan para ‘Ulama’ akhirat, diantaranya Habib Ali bin Abdurrohman Al-Habsyi, Habib Ali bin Husain bin Muhammad Al-Atthos, Habib Abu Bakar Muhammad Al-Segaf dan Hadrotus-Syaikh sering berziaroh kepada mereka dan menghadiri haul mereka. Pada suatu hari Hadrotus-Syaikh bermaksud untuk berziaroh ke Habib Abu Bakar Muhammad Al-Segaf di Gresik sewaktu Habib masih hidup, beliau berjalan kaki dari Surabaya ke Gresik di tengah-tengah hujan lebat ditambah suara petir dan guruh yang saling sambar menyambar di tengah malam yang gelap gempita, ditambah angin kencang yang dapat menerbangkan atap rumah, sehingga Hadrotus-Syaikh sewaktu sampai di Gresik waktu sudah larut malam dan dalam keadaan basah kuyup tetapi Habib Abu Bakar nampak masih membuka pintunya lebar-lebar dan penjaga pintu masih berdiri.
Ketika Hadrotus-Syaikh melewati pintu pagar, penjaga pintu mengatakan bahwa sejak tadi sore Habib menunggu kedatangan Hadrotus-Syaikh dengan penuh kegelisahan dan kekhawatiran. Ketika beliau menghadap habib semua jama’ahnya yang mengelilingi habib semua ta’zhim kepada beliau dan mengeluh-eluhkan kehadiran beliau. Akhirnya Habib Abu Bakar bertanya tentang apa yang beliau mohon kepada Alloh dengan perantara Habib, yang kemudian dijawab oleh Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman Nadil Ishaqi r.a “Minta Khusnul Khotimah” habib termenung lama memikirkan betapa luhurnya permohonan Hadrotus-Syaikh.
Sebelumnya, Hadrotus-Syaikh sudah mempunyai hubungan khusus dengan Habib Ali bin Abdurrohman Al-Habsyi Kwitang Jakarta, seperti pernyataan habib Hasyim bin Sholeh bin Abdurrohman Al-Habsyi bahwa Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman r.a. telah mendapatkan futuh melalui Habib Ali bin Abdurrohman Al-Habsyi r.a. pada suatu hari Kamis tahun 1964. Dan pernyataan Kyai Hasyim Bawean bahwa dia pernah mengantarkan Hadrotus-Syaikh Utsman r.a. ke Habib Ali bin Abdurrohman Al-Habsyi di Jakarta ditengah-tengah hidup yang mengelilingi beliau, Habib Ali menjabat tangan Hadrotus-Syaikh seraya mengatakan : Kunci kutup saya serahkan kepadamu wahai Syaikh Utsman.
Dan pernyataan putra Habib Ali sendiri yaitu Habi Muhammad bin Ali bin Abdurrohman Al-Habsy pada waktu memberikan sambutan atas wafatnva Hadrotus-Syaikh yang ke 40 harinya bahwa setiap kali Hadrotus-Syaikh menemui kesulitan apa saja beliau selalu pergi ke Jakarta untuk menjumpai Habib Ali Al-Habsy untuk kemudian dapat her¬hubungan dengan Rosulullah s.a.w akan tetapi karena jarak Jakarta Surabaya begitu jauh maka akhirnya hahib Ali Al-Habsy menyuruh menjumpai Habib Abu Bakar Muhammad Assagaf di Gresik saja, sama-sama Wali Kutup.
Selanjutnya Habib Muhammad bin Ali Habsyi menyatakan dalam sambutannya bahwa Hadrotus-Syaikh akhirnya berhubungan langsung sendiri dengan Rosulullah saw tanpa perantara sewaktu mengalami kesulitan.
Hadrotus-Syaikh juga sangat dekat dengan Habib Ali bin Husain bin Muhammad Al-Atthos Bungur Besar Jakarta sehingga waktu beliau membaca Khususiyyah Wakalimatul Akha’ Syaikh Utsman yang disusun oleh Habib Hasan Al-Jufri Bangil beliau menangis terisak-isak, kemudian beliau gantungkan di atas pintu rumah seraya mengatan : Saya letakkan nadzoman ini di sini agar saya dapat melihat Syaikh Utsman setiap saat Kemudian beliau mendoakan Hadrotus-Syaikh semoga panjang umur, kalau tidak (kata habib Ali Al-Atthos) siapakah yang menggantikan kedudukannya ? demikian pernyataan menantu Hadrotus-Syaikh Abu Lu’lu’ sekembalinya dari Jakarta dan habib Ali bin Husain bin Muhammad Al-Atthos pernah menyatakan dimuka kami sesungguhnya Syaikh Utsman tiada duanya pada masa sekarang dan pada waktu Hadrotus-Syaikh berziarah kesana dihadapan para hadirin beliau menyatakan wahai Syaikh Utsman engkau dari keluarga Nabi. Kekholifahan Syaikh Abdul Qadir Jailani ditanganmu wahai Utsman. dan dalam kesempatan lain, beliau menyatakan : Saya mendengar dengan kedua telinga saya Paman saya Ali bin Abdur Rohman Al-Habsyi mengatakan : sungguh Utsman di Mahsyar nanti sangat dekat dengan Nabi Muhammad s.a.w. seperti dikemukakan pada Bab I yang lalu bahwa Hadrotus-Syaikh mempunyai hubungan istimewa dengan Syaikh Abdul Qodir Jailani r.a. bahkan dengan Rosulullah s.a.w seperti dikemukakan diatas dan seperti pernyataan Habib Muhammad Al-Habsy pada 40 hari wafatnya Hadrotus-Syaikh bahwa Habib Ali Al-Habsy, Habib Ahmad bin Kholid Al-Hamid, Habib Umar Al-Idrus dan lain-lainnya, menyatakan bahwa Hadrotus-Syaikh Utsman adalah tergolong Ahlul bait Rosulillah s.a.w.
Habib Ahmad bin Hamid Al-Habsyi pernah bertanya pada Habib Salim bin Jundan waktu beliau masih hidup, apa yang menyebabkan para Habib senang pada Kyai Utsman ? Habib Salim bin Jundan menjawab : Syaikh Utsman termasuk keluarga Rosulullah s.a.w, darahnya adalah darah saya ini maka ciumlah tangannya apabila kau ketemu dengannya walaupun banyak orang mendengkinya toh dia tidak pernah susah akibat didengki orang, mereka yang mendengkinya hanyalah rumput-rumput sedangkan Syaikh Utsman adalah pohon besar yang rindang.
Ketika Kyai Ahmad Asrori kholifatus Syaikh Muhammad Utsman masih kecil, pernah diajak oleh pengasuhnya yang bernama Abdul Hakim Bawean untuk berkunjung ke Habib Alie bin Muhummad bin Alwi As-shodiq Al-Habsyi cucunya habib Syaikh Bafaqih Boto Putih Surabaya bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, Dalam kesempatan itu Habib mengatakan kepadanya : jangan kau risaukan haliyah orang tuamu, beliau bagaikan Matahari, apabila sangat dekat dengan kita manusia banyak yang tidak tahan karena saking panasnya, tetapi ketika jauh dari kita sinarnya akan membahagiakan kita semua. Demikianlah keadaan orang tuammu Syaikh Utsman r.a. Seorang Kyai belum dinamakan Kyai sempurna sehelum ia diingkari oleh orang-orang yang dekat kepadanya dan sebaliknya dia dicintai oleh orang-orang yang jauh dari padanya.
Tentang hubungan Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman r.a dengan Kyai Hamid Pasuruan, Hadrotus-Syaikh pernah bercerita setelah walimatul haul Habib Syaikh Bafagih Boto Putih Surabaya : saya keluar ke teras cungkup di dampingi oleh Kyai Abdul Hamid Pasuruan duduk ditangga cungkup. Pada waktu itu Kyai Abdul Hamid bercerita : tadi sebelum kesini saya tidur dirumah salah seorang teman di Surabaya. Ketika saya bangun, dihadapan saya terlihat foto Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman, oleh karena saya tahu bahwa yang meletakkan adalah Agus Mas’ud Kedung Cangkring Sidoarjo, maka saya bertanya kepadanya tentang maksudnya, jawabannya hanya Wallohu A’lam. Kata Hadrotus-Syaikh : Saya pun diam mendengar cerita itu karera menyangkut masalah maqom (martabat). Tiba-tiba Kyai Hamid menjawab sendiri : untuk kepentingan hubungan di Mahsyar nanti. itulah sebabnya, maka dalam suatu walimah Kyai Abdul Hamid Pasuruan mengharap kepada Hadrotus-Syaikh agar ada hubungan yang dekat antara keduanya di Mahsyar nanti, dan Hadrotus-Syaikh menjawab : Kyai nanti bersama kami disisi Alloh Yang Maha Kuasa.
Dan didalam walimah yang lalu ada orang meminta, barokah do’a kepada Kyai Hamid, sedangkan disisi beliau adalah Hadrotus-Syaikh. akhirnya Kyai Hamid memegang lutut Hadrotus-Syaikh Utsman dengan tangan kiri dan berdo’a untuk orang yang meminta doa tadi dengan tangan kanan. Adik kami Asfahani putra Kyai Abdullah Faqih yang mengaji di pondok Kyai Hamid Pasuruan mengatakan pada suatu ketika kami duduk bersama-sama Kyai Hamid di ruang tamu, tiba-tiba Kyai Hamid mengatakan kepada kami : di Pasuruan ini hanya ada kayu Garu, alangkah ni’matnya kalau ada pohonnya Asfahani ! tiba-tiba Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman datang bertamu ke ruang tamu dan spontan Kyai Hamid merangkulnya dan mergatakan : ini apa pohon garunya!
Inilah sebagian kecil yang nampak tentang kedudukan dan Manzilah Hadrotus-Syaikh Utsman Nadil Ishaqi r.a.
BAB III
Ketika haul akbar Syaikh Abdul Qodir Jailani r.a. tahun 1389 H. dalam sambutannya habib Muhammad bin Ali bin Abdurrohman AI-Habsyi menceritakan tentang perjalanan orang tuanya ketanah suci dan bertemu dengan Syaikh Abdul Qadir Jailani r.a. yang menyatakan pada Habib : Kholifah saya adalah Utsman Surabaya.
Di antara kekeramatan Hadrotus-Syaikh yang lain : kyai Muhammad Fagih Langitan berkata bahwa Kyai Maimun sarang diceritakan oleh bapaknya yang bernama kyai Zubair bahwa habib Abd Qodir Bilfaqih bermimpi berjumpa dengan Rosulullah s.a.w yang sedang menemui 2 orang lelaki dan Rosulullah menyatakan kepadanya : Keluargaku banyak tersebar di tanah Jawa. Diantaranya adalah dua orang ini yaitu Romly dan Utsman.
Kekeramatan Hadrotus-Syaikh yang lain adalah dari Kyai Faqih Amin Praban Surabaya (pernah menjadi guru dan kawan Hadrotus-Syaikh) beliau mengatakan pada pada suatu hari saya berkunjung kepada Kyai Utsman, dan dia meminta saya untuk menjadi muridnya dibawah naungan Thoriqoh Qodiriyyah Wan Naqsyabandiyyah setelah bertukar pikiran tentang thoriqoh sampai jam 2 malam. Saya kalah dan mau menyerah kepada ajakannya dengan syarat : tiga burung perkutut yang didalam sangkar masing-masing berkicau secara berturut-turut dengan komandonya, setelah dia komando, tiba-tiba tiga ekor burung itu berkicau berturut-turut dengan izin Alloh, maka terasalah dalam diri saya akan kebesaran Hadrotus-Syaikh, dan sejak itu saya memakai bahasa Jawa halus (Kromo) sebagai ganti bahasa Jawa kasar (ngoko), dan setelah tiga bulan minta di bai’at.
Di antara kekeramatan beliau, ketika pada suatu hari kami akan menghadap Hadrotus-Syaikh, berkata dalam diri sendiri : mengapa jauh-jauh kulangkahkan kakiku kepondok anu. Kemudian keperguruan tinggi anu, sampai akhirnya keluar negeri untuk mencari kebenaran dan keyakinan. padahal di Surabaya sini terdapat seorang Mursyid yang membimbing saya menempuh jalan akhirat dengan selamat. maka ketika kami duduk diruang tamu keluarlah Hadrotus-Syaikh dari dalam sambil meletakkan tangan kanannya di atas dada (sanubari) seraya mengatakan : diantara guru saya juga ada yang bukan dari jam’iyyah kita. Tetapi Alhamdulillah saya belum pernah mengingkarinya sama sekali. Maka kami pun merasa malu dan menundukkan kepala.
Di antara kekeramatan beliau, pada tanggal 11 Syawal 1392 H. Hadrotus-Syaikh menjamu para tamu yang menghadiri majlis Manaqib di pondok Jatipurwo. Beliau mengatakan kepada kami : Wahai Abdul Ghoffar ! ketika kau tinggal di Mesir apakah kau pernah ketemu dengan Syaikh Hasan Ridwan seorang wali di Mesir yang dimintai barokah oleh orang Islam Mesir ? Ya, kami pernah menjumpainya pada suatu hari dalam rangka kuliah umum Tasawuf oleh Ir. Abdul Halim Mahmud yang dihadiri oleh para sufi dibalai pertemuan Al-Azhar. Selanjutnya Hadrotus-Syaikh berkata kepada para hadirin : Ketika salah seorang Habib Ampel berkunjung ke Mesir, dia menjumpai Syaikh Hasan Ridwan, dia ditanya tentang negerinya. Ketika ia menjawab dari Indonesia dari Ampel, maka Syaikh Hasan Ridwan mengatakan : Jadi rumahmu dekat dengan Syaikh Utsman Al-Ishaqi ? Habib menjawab : Ya, akhirnya Syaikh Hasan Ridwan mengatakan kepadanya : Apabila kamu sampai di rumah, berkunjunglah ke Syaikh Utsman, dan sampaikanlah salamku kepadanya, ketahuilah bahwa saya sering berkunjung ke rumahnya.
Diantara kekeramatan beliau, pada suatu hari dibulan Maulid, Hadrotus-Syaikh pergi ke Jakarta naik kereta api untuk menghadiri Maulid Nabi Muhammad s.a.w dan haulnya Habib Alie Al-Habsyi di Kwitang Jakarta, ketika kereta api berada diantara Cirebon-Jakarta karcis Hadrotus-Syaikh diperiksa Polisi KA dengan ketat sekali termasuk kartu tanda pengenal beliau yang akhirnya polisi memaksa Hadrotus-Syaikh untuk menemuinya di restorasi, sehingga menimbulkan kemarahan beliau, maka seketika itu pula datanglah hal beliau dan mengatakan : Perbuatan ini menunda sampainya kereta api di Jakarta.
Spontan kereta api itu berhenti tanpa sebab yang nyata, anehnya semua hubungan interlokal maupun bukan interlokal terputus sama sekali dengan Stasiun, kebetulan dibelakang gerbong Hadrotus-Syaikh terdapat Habib Abd Hadi bin Abdulloh Al-Haddar dari Banyuwangi. Maka setelah kereta api macet selama 1 jam dia mengirim utusan ke Hadrotus-Syaikh seraya menga¬takan : jam berapa sekarang ! pergilah ke Kyai Utsman, dan mintalah barokah Fatihah kepadanya agar kita tidak terlambat. Akhirnya setelah beliau membaca Al-Fatihah barulah beliau sadar akan diri beliau, dan spontan kereta api berjalan kembali seusai pembacaan Al-Fatihah, demikian pula hubungan yang menyangkut perkerata apian sambung kembali.
Kyai Masduri Ngroto menceritakan kepada kami sejarah masuknya Thoriqoh Qodiriyyah Wan Naqsyabandiyyah di Ngroto dan sekitarnya sebagai berikut : Sejak tahun 1936/1937 M banyak guru-guru Thoriqoh yang berusaha memasukkan Thoriqoh ke Ngroto bahkan ada kyai yang sampai kawin di Ngroto kemudian terpaksa firoq karena tidak berhasil memasukkan Thoriqoh.
Pada bulan Muharram tahun 1964 M Hadrotus-Syaikh mulai pertama datang ke Ngroto bersama Kyai Muslih bertepatan dengan Haulnya Kyai Sirojuddin. Itulah mula pertama datang ke Ngroto bersama Hadrotus-Syaikh. Kemudian untuk kedua kalinya datang pada tahun 1966 M saya di panggil ke rumah paman, dan Hadrotus-Syaikh menangis dan saya dirangkul seraya mengatakan : Sabarlah ! sejak sekarang Masduri menjadi Kyai di desa sini maka do’akanlah semoga panjang umur. Sepulangnya Hadrotus-Syaikh dapat 15 hari paman saya meninggal, dan atas saran beliau saya kirim surat kepada beliau tentang wafatnya paman. Dan saya mendapatkan balasan agar saya datang kesurabaya di Surabaya saya dibai’at dan diberi ijazah Manaqib secara mutlaq. Setelah itu banyak para ikhwan yang menjadi murid Hadrotus-Syaikh maka tersebarlah Thoriqoh di Ngroto.
Pada suatu hari di bulan Muharram Hadrotus-Syaikh pergi ke Ngroto menghadiri acara Haul, tetapi kendaraan beliau terhalang lumpur di Kemiri 4 km dari Ngroto, kalau mobil beliau diarahkan ke Ngroto mogok, kalau diarahkan ke Surabaya mobil beliau bisa berjalan, maka Hadrotus-Syaikh menetapkan untuk kembali ke Surabaya, yang menolong mengentas mobil beliau dari lumpur adalah masyarakat Kemiri maka Hadrotus-Syaikh mengatakan : saya tidak dapat membalas sama sekali. hanya saya do’akan mudah-mudahan masyarakat disini selamat semua, maka barokah doa beliau setiap kampung dari Kemiri sampai Ngroto pasti ada Manaqiban dan ada murid-murid beliau, diantaranya desa Tembelingan yang asalnya tidak ada yang sholat bahkan tidak ada masjid dan musholla, tetapi berkat dilewati oleh Hadrotus-Syaikh, Islam tersebar di Tembelingan dan sekitarnya ada masjid dan banyak musholla dan Imammuddin serta sebagian kaum musimin disitu sudah menjadi murid beliau, sehingga Kyai Muslih Mranggen mengatakan : masuknya Hadrotus-Syaikh ke Ngroto sudah pas karena masyarakat Ngroto adalah masyarakat Madura, cocok dengan kata-kata Syaikh Utsman : Ngroto adalah bau Madura. dan Hadrotus-Syaikh pernah mengatakan : saya bermimpi di sebelah timur Semarang ada cahaya. apakah ada Waliyyulloh di sana ? ternyata benar itulah Kyai Sirojuddin.
Selanjutnya Kyai Masduri mengatakan : sekembalinya saya dari Surabaya pada suatu hari saya sakit mata, walaupun sudah berobat tetap tidak mau sembuh kecuali hari Kamis dan Jum’at saja. Maka pada suatu malam Jum’at saya membaca Al-Fatihah kemudian membaca sil¬silah maka malam itu juga saya bermimpi berjumpa dengan Hadrotus-Syaikh, beliau menanyakan kepada saya : apakah matamu sakit ? Apakah yang sakit sebelah kanan? maka mata diobati oleh Hadrotus-Syaikh dengan jari-jarinya dan ternyata Alhamdulillah sembuh betul-betul, maka esok harinya hari Sabtu saya pergi ke Surabaya untuk menjumpai beliau. Beliau bertanya : Apakah matamu sudah sembuh ? saya menjawab : Ya. kemudian beliau menyatakan : Ya saya obati dari sini.
Selanjutnya Kyai Masduri menceritakan lagi : pada suatu hari sewaktu saya berkunjung ke Hadrotus-Syaikh saya disuruh ke Ampel seraya mengatakan : Pergilah ke Ampel, saya rindu Agus Mas’ud.
Sesampai saya di lawang Agung saya bertemu dengan Agus Mas’ud, cepat-cepat turun dan minta gendong saya. Kyai Masduri menceritakan lagi bahwa Hadrotus-Syaikh menceritakan kepadanya sebagai berikut : Pada suatu hari Jum’at ada orang hendak menunaikan sholat Jum’at di masjid Ampel, kemudian saya panggil, saya ajak sholat Jum’at di Baitul Ma’mur. Setelah kita melangkah tiga langkah kita sudah sampai di Baitul Ma’mur, ini boleh kau ceritakan setelah saya meninggal.
Cerita lain dari Kyai Masduri adalah sebaga berikut : saya bermimpi sholat di musholla yang penuh dengan mushollun, karena mereka sholat semuanya saja, maka saya mengingkarinya dan Hadrotus-Syaikh menjadi ma’mum tidak tahu siapa yang menjadi imam dan beliau mengatakan kepada Saya : mereka adalah Wali-wali Alloh, dan saya bermimpi berjumpa dengan Nabi Khidir a.s. beliau mengajak saya ketepi sungai disana ada musholla yang bersinar terang, tahu-tahu disitu ada Hadrotus-Syaikh dan kita bertiga menjadi ma’mum tetapi saya tidak tahu siapa imamnya.
Habib Abdulloh bin Umar Al-Haddar mengatakan kepada kami : pada suatu hari Kamis dibulan Syawal Habib Abdul Hadi bin Abdulloh Al-Haddar ingin berjumpa dengan Hadrotus-Syaikh Utsman sesudah masuk waktu sholat Ashar tetapi sesampai di pondok Jatipurwo beliau tidak menjumpai Hadrotus-Syaikh. Setelah lama menunggu di pondok dan waktu sudah menjelang Maghrib maka Habib Abdul Hadi pun cepat-cepat meninggalkan pondok untuk menuju ke Ketapang karena setelah sholat Maghrib ada acara pembacaan burdah di Ketapang, ketika sampai di Karang Tembok becak beliau berpapasan dengan mobil Hadrotus-Syaikh, maka beliau pun kembali lagi ke pondok Jatipurwo untuk menemui Hadrotus-Syaikh. Sesampai di Pondok Hadrotus-Syaikh sedang mengimami sholat Ashar dalam waktu Ashar yang paling akhir bahkan setelah Ashar sempat membaca semua wirid seperti biasanya sampai tuntas, kemudian Hadrotus-Syaikh menjumpai Habib Abdul Hadi bersama saya (Habib Abdullah bin Umar Al-Haddar) diruang tamu. Diruang tamu Habib Abdul Hadi membaca Allohu Hu Iiy. Allohu Hu liy Fani’mal Wali, setelah dijamu secukupnya Habib Abdul Hadi mohon pamit kepada Hadrotus-Syaikh untuk pergi ke Ketapang, dalam hatinya waktu telah berlalu untuk mengikuti pembacaan burdah di Ketapang, tetapi kenyataannya tidak demikian. Kami sampai di Ketapang orang-orang masih melakukan sholat Maghrib
Diantara kekeramatan Hadrotus-Syaikh sopir Hadrotus-Syaikh, meski mengatakan kepada kami : pada suatu hari sepulangnya Hadrotus-Syaikh dari Rejoso, mobil di istirahatkan di Jombang agar kami makan minum dulu. Sedangkan Hadrotus-Syaikh menunggu disalah satu rumah dekat warung tersebut. Seusai makan minum kami menyatakan kepada Hadrotus-Syaikh bahwa bensin telah habis. Beliaupun terkejut dan menanyakan mengapa tidak bilang dari tadi sebelum semua uang yang ada di tangan beliau diserahkan ke pondok Rejoso dan beliau menanyakan sisa uang kami. Kami menjawab hanya tinggal beberapa puluh rupiah saja. Secara spontan beliau menegaskan : kalau memang demikian baiklah isilah tangki mobil itu dengan air teh tanpa gula semampu uang yang ada padamu ! Kamipun percaya sepenuhnya kepada beliau dan membeli teh tawar beberapa ceret dari warung dan langsung kami isikan ke tangki mobil. Setelah itu kami melapor untuk pulang ke Surabaya. Beliau bertanya : sudah kau isi bensin ? Kami menjawab mobil kami isi dengan sesuai perintah Hadrotus-Syaikh dan karena terlanjur beliau pun akhirnya menyatakan : baiklah ! mari pulang ke Surabaya. Teh-teh juga bisa menjadi bensin. akhirnya betul, mobil berjalan terus sampai ke Surabaya memakai bahan bakar teh.
Sopir Hadrotus-Syaikh yang terakhir yaitu Abd Syakur juga mengalami peristiwa serupa yaitu dalam perjalanan antara Pasuruan Probolinggo mobil Khadrotus-Syaikh kehabisan bensin di tengah malam dan dia disuruh mencari warung untuk mendapatkan teh satu gelas, setelah di dapatkan tehpun di do’ai oleh Hadrotus-Syaikh dan menyatakan : sudahlah isilah dengan teh sama saja. Akhirnya mobil sampai di Probolinggo persis di garasi mobil bensin yang dari teh tadi habis sama sekali.
Cerita semacam ini terjadi pula pada waktu Hadrotus-Syaikh pulang dari Ngroto Semarang, di tengah perjalanan yang jauh dari keramaian Pir mobil putus tinggal satu Pir saja dan sekaligus Oli mobil habis kering sama sekali. Ini terjadi disekitar Caruban menuju Surabaya. Dan Hadrotus-Syaikh menyuruh mencari teh untuk mengantikan Oli yang sudah habis. Setelah diisi dengan teh mobilpun dapat di stater dengan hanya satu Pir saja dapat berjalan terus sampai diSurabaya dengan selamat bi iznillah.
Diantara kekeramatan Hadrotus-Syaikh, beliau menceritakan pengalaman beliau sewaktu ke Singapura. Melihat banyaknya orang-orang yang menjemput beliau di Airport. Ketua security seorang wanita berusaha ingin menyelamatkan beliau dari intervio para Inteljen yang lain. Maka dia pura-pura mengaku sebagai orang tuanya yang ada di Pontianak. Dan langsung di gandeng dari Airport menuju mobil dan diantar sekali menuju ketempat tujuan. Besoknya dia kembali lagi membawa 2 handuk mandi Hadrotus-Syaikh, tetapi setelah satu hari dipakai mandi dia minta kembali, demikian pula handuk yang satu lagi dan menyatakan bahwa handuk yang untuk dia pakai mandi sehari-hari, sedang yang satu lagi untuk dia pakai kain kafan waktu dia meninggal nanti dan seketika itu dia minta di bai’at oleh Hadrotus-Syaikh sebagai murid Thoriqoh Qodriyah Wan Nangsabandiyyah. Sejak itu Hadrotus-Syaikh selalu di kawal oleh ketua security perempuan itu pulang pergi ke singapura. Beliau menyatakan : Inilah berkat saya tidak pernah menyakitkan hati Ibu saya selama hidup beliau.
Inilah sekelumit biografi Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqi r.a.

Rabu, 05 Oktober 2011

Abu'l-Barakat al-Baghdadi, Ilmuwan Besar dari Baghdad


Wartaislam.com - Kitab al-Mu'tabar menjadi karya fenomenal Barakat yang berisi esai-esai tentang filsafat dan sains.
Abu'l-Barakat al-Baghdadi dikenal sebagai seorang dokter dan filsuf. Ia dikenal pula sebagai seorang saintis. Nama lengkapnya, Hibat-Allah ibn Ali ibn Malka Abu'l-Barakat al-Baghdadi. Ia pun memiliki nama julukan, Awhad al-Zaman atau orang ternama pada zamannya.
Julukan ini diyakini terkait dengan profesi Barakat sebagai seorang dokter. Sebab, ia merupakan dokternya para khalifah Baghdad, tempat ia tinggal. Ia juga dokter langganan para sultan dari Dinasti Seljuk. Selain melakukan praktik kedokteran, ia juga mengajar tentang kedokteran.
Barakat memiliki sejumlah murid kedokteran. Ia tak hanya dikenal dengan julukannya Awhad al-Zaman, tapi juga memiliki reputasi luas karena karya fenomenalnya yang berjudul Al Kitab al Mu'tabar.
Karya ini berisi esai-esai Barakat tentang filsafat. Dalam esainya itu, ia menguraikan konsep-konsep dasar tentang filsafat alam dengan analisis yang tajam. Kitab ini disusun saat ia mencapai usianya yang matang.
Kitab al-Mu'tabar berisi refleksi-refleksi filosofis Barakat yang dilakukannya dari waktu ke waktu. Terutama, mengenai logika, fisika, ilmu pengetahuan alam, dan metafisika. Ia mengutip pula Kitab al-Shifa yang ditulis cendekiawan Muslim ternama, Ibnu Sina.
Bahkan, dalam beberapa bagian bukunya, Barakat mengutip sepenuhnya kalimat Ibnu Sina. Namun, ia pun menyanggah pemikiran Ibnu Sina dan menguraikan alasan tak sependapat pemikirannya dengan Ibnu Sina tersebut.
Barakat mengenalkan ide-ide alternatif yang menarik. Dan, ide tersebut mengantarkan gaungnya pada perkembangan fisika modern. Seperti, idenya mengenai gerak dan konsep tentang waktu. Pada 1938, seorang ilmuwan, Shlomo Pines, menaruh perhatian besar pada ide inovatif Barakat itu.
Pemikiran Barakat tentang gerak, di antaranya mengenai gerakan proyektil, yang memiliki kaitan dengan perkembangan teknologi pada beberapa abad kemudian. Ini bermula dari perbincangan mengenai bubuk mesiu yang ditemukan di Cina.
Bubuk mesiu tersebut menjadi sangat populer dalam perang Eropa pada abad ke-15. Bubuk ini digunakan pihak-pihak yang bertikai dalam peperangan untuk mendorong proyektil besar, guna menghantam tembok-tembok pertahanan kota yang mereka serang.
Pada pertengahan abad ke-16, para pakar senjata di Eropa mulai mencari cara lain untuk meningkatkan daya jangkau kekuatan artileri mereka. Ada sisi lain dari perkembangan itu yang menjadi sebuah polemik dalam bidang sains.
Sebab, ternyata gerak proyektil yang didorong bubuk mesiu itu tak sesuai dengan konteks doktrin gerak yang diusung oleh Aristoteles. Dalam konteks ini, berdasarkan hukum gerak Aristoteles mestinya proyektil yang dilontarkan jatuh langsung ke tanah.
Pada kenyataannya, proyektil itu justru tak langsung jatuh ke tanah saat terlontar dari selongsong meriam. Sebaliknya, benda tersebut bergerak mengikuti sebuah lintasan melengkung. Bahkan, para pendukung Aristoteles yang paling setia pun melihat cacat doktrin itu.
Kritik terhadap konsep gerak yang diusung Aristoteles, sebenarnya bermunculan sebelum abad ke-15. Banyak cendekiawan termasuk cendekiawan  Muslim melontarkan kritik terhadap doktrin gerak Aristoteles.
Misalnya, Joannes Philoponus yang lebih dikenal sebagai John the Grammarian. Kritik itu lalu dikembangkan lebih jauh oleh cendekiawan Muslim Ibnu Sina, Barakat, dan Ibnu Bajja dari Andalusia pada abad ke-12.
Dalam konteks ini, Barakat menyatakan ada tenaga dorong dari meriam untuk melontarkan proyektil. Hingga proyektil itu terdorong dan mencapai jarak tertentu. Bukan seperti yang dilontarkan oleh Aristoteles bahwa proyektil akan langsung jatuh ke bumi.
Hal itu tak akan terjadi, kata Aristoteles, jika ada penggerak yang berhubungan dengan objek yang sedang bergerak. Saat penggerak tak ada, objek itu akan langsung jatuh ke bumi. Pada kenyataannya, proyektil itu tak langsung jatuh, tapi bergerak meniti garis lengkung.
Konsep yang diajukan oleh Barakat dan Ibnu Sina mengenai gerakan proyektil ini, kemudian menjadi acuan pula bagi pengembangan konsep dorongan dan momentum. Terutama, pada pemikiran yang dikembangkan Galileo Galilei pada abad ke-17.
Pemikiran lain Barakat adalah mengenai akselerasi atau percepatan. Ia mengatakan, percepatan gerak benda jatuh disebabkan adanya gaya gravitasi yang menghasilkan kecenderungan alami benda tersebut untuk jatuh.
Konsep pemikiran Barakat digunakan untuk mengantisipasi hukum dasar mekanika klasik. Ia juga menjelaskan, percepatan yang dialami benda berat yang jatuh merupakan kecenderungan alami. Pemikiran dia ini mendorong lahirnya hukum dasar dinamika modern.
Paling tidak melalui pemikiran-pemikiran itu, Barakat telah menyumbangkan banyak ide baru mengenai fisika yang berkaitan dengan gerak. Selain mengemukakan hukum percepatan, dia juga menyatakan gerak itu relatif.
Dalam Kitab al-Mu'tabar, Barakat memberi perhatian atas kondisi yang saling memengaruhi antara kata-kata dan konsep. Misalnya, ia mengembangkan teori inovatifnya tentang waktu. Ini terlontar setelah ia menemukan sebuah kesimpulan.
Menurut Barakat, kata waktu yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari merupakan sebuah konsep fundamental. Ia mengatakan, waktu merupakan sebuah entitas. Ia menegaskan pula bahwa waktu adalah ukuran sesuatu yang terjadi bukan ukuran gerak seperti kata Aristoteles.
Barakat memiliki pula kontribusi pemikiran dalam bidang psikologi. Ia membahas tentang kesadaran diri. Hal ini pernah pula diangkat oleh Ibnu Sina, terutama yang berkaitan dengan kegiatan ini. Namun, Barakat melakukan kajian lebih dalam.
Kehidupan Barakat
Barakat hidup di abad ke-11 hingga abad ke-12. Ia lahir di Balad, sebuah kota di wilayah Tigris, dekat Mosul, Irak. Ia dilahirkan di sebuah keluarga Yahudi. Laman Muslimheritage dan Wikipedia, mengungkapkan, akhirnya Barakat memutuskan untuk memeluk Islam.
Saat menjalani profesinya sebagai seorang dokter, Barakat memiliki saingan berat, yaitu seorang dokter Kristen bernama Ibn al-Tilmidh. Di sisi lain, ia pun memiliki teman karib bernama Ishaq bin Ibrahim bin Erza yang menulis sebuah buku berisi kata-kata sanjungan terhadapnya.
Ibn Abi-Usyabi'a in juga menulis sebuah karya yang berisi sejumlah anekdot dan ungkapan, serta daftar sejumlah karya Barakat dalam bidang kedokteran. Ini dianggap sebagai sebuah karya biografi tentang Barakat yang lengkap.
Setumpuk Karya Barakat
Harus diakui, karya fenomenal Abu'l-Barakat al-Baghdadi adalah Kitab al-Mu'tabar. Karya ini berisikan beragam pemikiran Barakat dalam sejumlah bidang, terutama filsafat dan sains. Namun, ada sejumlah karya lain yang ditulis Barakat.
Di antaranya adalah karya dalam bidang kedokteran. Barakat memang dikenal pula sebagai seorang dokter. Karyanya dalam bidang kedokteran adalah risalah mengenai farmakologi yang berjudul Sifat Barsha'tha, dan berisi resep obat-obatan dari India.
Terdapat tiga salinan karya tersebut yang tersimpan di perpustakaan Turki. Selain itu, ada risalah lain tentang farmakologi yang ditulis oleh Barakat, yaitu risalah yang ia beri judul Tiryaq Amir al-Arwah.
Salinan karya tersebut tersimpan di Perpustakaan Kitapsaraydi Manisa, Turki. Ada pula risalah lain mengenai pemikiran intelektual yang berjudul Maqala fi'l-'Aql. Karya tersebut disimpan di perpustakaan di Iran dan Leipzig, Jerman.
Ada pula risalah Barakat yang diberi judul Risala fi Sabab Zuhur al-Kawa-kib Laylan wa Khafa'iha Naharan. Dalam risalahnya ini, ia menjelaskan mengapa bintang bisa terlihat di langit pada malam hari. Karya ini ditulis untuk menjawab pertanyaan Sultan Muhammad Tapar.
Manuskrip tentang karyanya itu disimpan di perpustakaan di Berlin, Jerman, dan Hiderabad, Pakistan. Juga, ada risalah mengenai kajian astronomi soal piring universal. Risalah ini berjudul Risala fi al-Amal bi al-Safiha al-Afaqiyyah.
Naskah risalah itu tersimpan di perpustakaan di Nidge, Turki. ***(WI-001)

Selasa, 02 Agustus 2011

Arwani Syaerozi, Doktor Indonesia Termuda di Maroko


Arwani Syaerozi (ppi)Wartaislam.com - Prestasi pria yang satu ini luar biasa. Dia meraih gelar doktor dalam usia 29 tahun. Gelar tersebut diraih Arwani Syaerozi, mahasiswa program doktor pada Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Muhammad V Rabat. Dia menuntut ilmu di universitas ternama di Maroko tersebut sejak tahun ajaran 2007-2008. Tidak hanya meraih gelar doktor termuda dari Indonesia, Kang Wawan, demikian dia biasa disapa, juga menyelesaikan pendidikan doktornya tepat waktu.
Disertasinya yang berjudul Konsep Maqashid Syari'ah dalam Pengembangan Hukum Fikih; Prespektif AlKiya Harrasi, berhasil dipertahankannya pada sidang yang dihadiri Dubes RI untuk Kerajaan Maroko, Tosari Widjaja beserta Ibu Mahjsusoh Ujiati, Staf KBRI Rabat, Pengurus Harian, dan Anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko, serta Dosen utusan dari Ma'had Atiq Imam Nafi'-Tanger, dosen, dan mahasiswa Maroko.
Dalam disertasinya, pria lajang yang lahir dan besar di lingkungan Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat ini menulis, Al Kiya Harrasi (Wafat 1110 M/504 H) sebagai ulama tafsir bermadzhab Syafi'i memiliki konsep-konsep maqashid syari'ah dalam buku tafsirnya yang berjudul Ahkamul Qur'an.
"Dia juga dianggap sebagai salah seorang ulama yang menjadi motor kajian maqashid syari'ah. Dan Harrasi sebagai ulama Syafi'iyah, pemikiran-pemikirannya sangat tepat untuk diaplikasikan di Indonesia yang mayoritas masyarakat muslimnya bermadzhab Syafi'i," kata Kang Wawan seperti dikutip dari situs PPI Maroko, Jumat (10/6/2011).
Ketika itu, dewan penguji yang terdiri dari Dr. Abder Razak Eljay, Dr. Mohammed Qajwi, Dr. Ahmad Amharazy 'alawi, dan Dr. Abdel Karim 'Akiwi, menganugerahi Arwani gelar Doktor dengan predikat SUMMA CUMLAUDE (Musyarraf Jiddan).
Pendidikan dasar hingga menengah ditempuh Kang Wawan di kampung halamannya. Dia melanjutkan pendidikan sarjana di fakultas Syari'ah dan Hukum Universitas al Ahgaff Yaman (2000-2004), kemudian menempuh studi master kajian Maqasid Syari'ah di Universitas Ezzitouna Tunisia (2005-2007).****

(okez/WI-001)

Wanita-Wanita Teladan: Zainab binti Ali, Sang Pembela Saudara

Wanita-Wanita Teladan: Zainab binti Ali, Sang Pembela Saudara
Ilustrasi

Ia adalah eorang wanita mulia yang mempunyai logika berpikir yang jernih, banyak ide, fasih dan juga menguasai ilmu bahasa.

Zainab binti Ali bin Abi Thalib adalah cucu pertama Rasulullah SAW dari putrinya, Fatimah Az-Zahra. Dia terkenal karena keberanian dan dukungannya terhadap Husain, kakaknya yang syahid di medan Karbala. Ia juga melindungi seluruh keluarga Husain beberapa bulan setelahnya, ketika mereka dipenjara oleh dinasti Umayyah.

Zainab dilahirkan sebelum kakeknya, Rasulullah SAW wafat. Sekitar lima tahun sebelum Rasulullah menghadap Ilahi.

Dia adalah anak ketiga pasangan Ali dan Fatimah—setelah Hasan dan Husain—dengan jarak kelahiran sekitar satu tahun antara setiap anak. Kelahirannya diikuti oleh saudara perempuannya, Ummu Kultsum.

Zainab menikah dengan anak pamannya atau sepupunya, Abdullah bin Ja’far.  Dia melahirkan beberapa orang anak seperti Muhammad, Ali, Abbas, Ummi Kultsum dan ‘Aunal Akbar. Dia juga sering menceritakan tentang ibunya, Fatimah binti Muhammad SAW dan Asma binti Umais.

Zainab juga meriwayatkan beberapa hadits. Beberapa orang juga meriwayatkan hadits yang berasal darinya, seperti Muhammad bin Amru, Atha bin As-saib, dan Fathimah binti Husain bin Ali.

Di antara beberapa perkataan Zainab yang dikenal adalah, "Barangsiapa yang menginginkan makhluk menjadi syafaat (mediator) baginya menuju keridhaan Allah, maka hendaklah dia sering-sering memuji Allah (dengan ucapan alhamdulillah). Tidakkah kau mendengar perkataan mereka 'sami'a Allahu liman hamidah' (Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya) kemudian Allah meringankan qudrah-Nya yang akan menimpamu. dan merasa malu untuk menurunkan cobaan lebih besar karena kedekatan-Nya padamu."

Zainab meninggal dunia pada tahun 65 Hijriyah, dan dikuburkan di Qanathir As-Siba’, Mesir. Kini makamnya banyak dikunjungi peziarah. Bahkan namanya dijadikan nama sebuah masjid di Mesir, Masjid Sayyidah Zainab. Pada tahun 1173 H bangunan masjid tersebut direnovasi.




Redaktur: cr01
Sumber: A'lamu An-Nisa dan sumber lain

Senin, 06 Juni 2011

Mustafa Abdul Jalil, Sang Hakim Pemberontak

Mustafa Abdul Jalil, Sang Hakim Pemberontak
Ketua Dewan Transisi Nasional Libya (NTC), Mustafa Abdul Jalil.

REPUBLIKA.CO.ID, TRIPOLI – Seiring dengan berkelanjutannya perang saudara di Libya, seruan bantuan militer kian intensif dilakukan oleh Dewan Transisi Nasional anti-Qaddafi (NTC). Sang pemimpin dewan pemberontak ini adalah Mustafa Abdul Jalil, seorang hakim terhormat yang hingga kini masih menjabat sebagai Menteri Kehakiman di bawah rezim Qaddafi.

Pembelotannya ke Timur Libya (Benghazi) merupakan landmark dalam pemberontakan Libya, tetapi apakah Abdul Jalil ternoda oleh kedekatannya dengan rezim Qaddafi?

Situs resmi Dewan Transisi Nasional Libya (NTC) adalah sebuah langkah kecil dalam menghilangkan mitos yang mengkhawatirkan dan samar-samar bahwa "tidak ada yang tahu tentang ini pemberontak". Diakui bahwa situs ini menjalankan agenda partisan yang dapat dimengerti dan kontennya jauh dari kekerasan. Tampilan online mereka yang dapat dilihat siapa saja yang terkoneksi internet, merupakan gambaran komprehensif tentang siapa—yang disebut—pemberontak ini dan apa yang mereka inginkan.

Jika dilirik sepintas, halaman situs ini menunjukkan bahwa dari 13 anggotanya yang terdaftar, beberapa diantaranya memperoleh gelar doktor (PhD) dari luar Libya dan sebagian besar berlatar belakang hukum. Oleh sebab itu, tak mengherankan jika ketua dewannya (Mustafa Abdul Jalil), seorang hakim tinggi Libya yang sebagian besar tugasnya diabdikan di kampung halamannya, di Bayda, Timur Libya.

Jalil bertugas di Bayda sejak 1978 hingga akhirnya ditunjuk sebagai Menteri Kehakiman pada 2007—sebuah langkah yang jelas-jelas membawanya ke bawah kepak sayap rezim Kolonel Qaddafi, yang berbasis di bagian barat Libya. Tentu saja, hal ini bukanlah semata-mata penyebab resmi Abdul Jalil ditempatkan dalam posisi tertinggi di NTC.

Abdul Jalil secara luas dikenal di timur Libya—dan di kalangan media asing—berkat pemberontakannya yang menakjubkan melawan rezim Qaddafi. Ia dikirim ke Benghazi untuk menenangkan pemberontakan yang meletus pada Februari lalu, namun setelah melakukan negosiasi dengan pihak pemberontak, menteri berusia 59 tahun ini malah mengumumkan pengunduran dirinya sebagai protes atas kekerasan yang dilakukan terhadap demonstran.

Tindakan dramatis Jalil ini menandai gelombang pemberontakan yang kian menyesakkan nafas Libya. Abdul Jalil adalah anggota pertama rezim Qaddafi yang berbalik arah melawan pemimpin Libya. Namun tindakan itu bukannya tanpa sebab. Setahun sebelumnya, pada Januari 2010, Abdul Jalil telah berupaya mengundurkan diri, menentang rezim Qaddafi dalam masalah tahanan-tahanan politik.

Upaya pengunduran diri pertamanya dinyatakan di hadapan publik—di televisi negara—dan merupakan tantangan paling berani terhadap otoritas Qaddafi dari salah seorang anggota rezimnya yang terkemuka. Namun pengunduran dirinya waktu itu ditolak, kemungkinan besar karena tekanan putra Qaddafi, Saif Al-Islam, yang berusaha mengecat pernis reformasi pada kulit pemerintahan ayahnya yang lapuk.

Memang, Abdul Jalil memiliki reputasi sebagai pembaharu, yang tak diragukan lagi menjadi penyebab pengangkatannya sebagai menteri dan semakin meningkatkan pengaruh Saif Al-Islam. Bocoran kabel diplomatik Amerika menunjukkan bahwa Jalil bersedia bekerjasama dengan AS, dan bahkan ia sangat disukai oleh para stafnya di kementerian kehakiman. Sebuah anomali luar biasa di kantor kementerian mana pun di dunia.

Kelompok HAM internasional, Human Rights Watch (HRW), kerap memuji Abdul Jalil karena tindakannya yang membongkar praktek-praktek kotor rezim Qaddafi menarik perhatian dan secara umum menimbulkan pencerahan. "Saya belum pernah melihat seorang Menteri Kehakiman Arab yang secara terbuka mengkritik lembaga keamanan paling berkuasa di negerinya," kata Heba Morayef, seorang pejabat HRW, Kamis (2/6).

Dan sebuah gambar pun muncul, tentang tokoh yang hampir suci, dan dengan berani berjuang bagi kebebasan HAM di Libya dalam lingkaran Qaddafi. Namun siapa yang akan begitu polos menganggap bahwa setiap operator politik di arena yang demikian bisa membawa salinan buku yang tidak sepenuhnya bisa dihapuskan?

Secara tersirat, adalah masuk akal bahwa Abdul Jalil, setelah mendapatkan sedikit porsi dukungan oposisi sebagai hakim yang adil di kawasan timur yang bergolak, akan terkooptasi ke kantor kehakiman untuk memberikan ilusi reformasi. Kritik mungkin berpendapat, inilah yang membuatnya terlibat dalam rezim Qaddafi sebagai siapa saja. Para pembelanya seharusnya menyarankan, dia punya banyak pilihan selain menerima pengangkatan 2007 dan berusaha meraih apa yang bisa dilakukannya.

Satu contoh yang merusak klaim bahwa Abdul Jalil adalah pembawa obor keadilan melawan Qaddafi adalah laporan koran Prancis L'Express, tentang kasus lima perawat Bulgaria yang dihukum mati di Libya karena dituduh sengaja menginfeksi anak dengan virus HIV berdasarkan perintah dari Amerika Serikat. Bukti-bukti keterlibatan para wanita ini sangat kecil, namun demikian Abdul Jalil dua kali memerintahkan eksekusi mereka. Wanita-wanita tersebut kini telah dibebaskan, tetapi banyak suara di Bulgaria menentang NTC, seraya menyebut-nyebut penyiksaan terhadap warga mereka yang menjadi korban otoritas Abdul Jalil.

Dalam keruhnya dunia politik, seseorang takkan pernah benar-benar yakin akan motif dan aspirasi para pemainnya. Dalam kasus Mustafa Abdul Jalil, orang harus mengakui bahwa saat ini ia jelas-jelas lawan Qaddafi, dan seorang pria yang membela keadilan sepanjang karirnya. Perwujudan pasti keadilan tersebut mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan cita-cita kekuatan asing Barat yang saat ini menjagokan dia dan dewannya. Artinya, pemerintah Barat telah menemukan sekutu yang nyaman dalam misi mereka mendongkel Qaddafi, namun tak ada pemberitaan di titik mana NTC kemungkinan akan menyimpang dari target ideal Barat.

Kekuatan asing hanya bisa berharap bahwa sentimen Abdul Jalil masih murni ketika ia berkata tegas. "Kami sama dengan orang-orang di negara lain, dan mencari hal yang sama. Kami ingin pemerintahan yang demokratis, konstitusi yang adil, dan kami tidak ingin terisolasi dari dunia lagi. "

Sabtu, 09 April 2011

Mr. Syafruddin Prawiranegara, Pemimpin Yang Terlupakan

Syafruddin Prawiranegara, atau juga ditulis Sjafruddin Prawiranegara lahir di Banten, 28 Februari 1911. Beliau adalah pejuang pada masa kemerdekaan Republik Indonesia yang juga pernah menjabat sebagai Presiden/Ketua PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) ketika pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda saat Agresi Militer Belanda II 19 Desember 1948.
Di masa kecilnya akrab dengan panggilan "Kuding", dalam tubuh Syafruddin mengalir darah campuran Banten dan Minang. Buyutnya, Sutan Alam Intan, masih keturunan Raja Pagaruyung di Sumatera Barat, yang dibuang ke Banten karena terlibat Perang Padri. Menikah dengan putri bangsawan Banten, lahirlah kakeknya yang kemudian memiliki anak bernama R. Arsyad Prawiraatmadja. Itulah ayah Kuding yang, walaupun bekerja sebagai jaksa, cukup dekat dengan rakyat, dan karenanya dibuang Belanda ke Jawa Timur.

Kuding, yang gemar membaca kisah petualangan sejenis Robinson Crusoe, memiliki cita-cita tinggi -- "Ingin menjadi orang besar," katanya. Itulah sebabnya ia masuk Sekolah Tinggi Hukum (sekarang Fakultas Hukum Universitas Indonesia) di Jakarta (Batavia).

Pemerintahan Darurat Republik Indonesia.
kami menguasakan kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra
Ketika Belanda melakukan agresi militernya yang kedua di Indonesia pada tanggal 19 Desember 1949, Soekarno-Hatta sempat mengirimkan telegram yang berbunyi, "Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah mulai serangannja atas Ibu-Kota Jogyakarta. Djika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat mendjalankan kewadjibannja lagi, kami menguasakan kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra".

Telegram tersebut tidak sampai ke Bukittinggi di karenakan sulitnya sistem komunikasi pada saat itu, namun ternyata pada saat bersamaan ketika mendengar berita bahwa tentara Belanda telah menduduki Ibukota Yogyakarta dan menangkap sebagian besar pimpinan Pemerintahan Republik Indonesia, tanggal 19 Desember sore hari, Sjafruddin Prawiranegara segera mengambil inisiatif yang senada. Dalam rapat di sebuah rumah dekat Ngarai Sianok, Bukittinggi, 19 Desember 1948, ia mengusulkan pembentukan suatu pemerintah darurat (emergency government). Gubernur Sumatra Mr TM Hasan menyetujui usul itu "demi menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang berada dalam bahaya, artinya kekosongan kepala pemerintahan, yang menjadi syarat internasional untuk diakui sebagai negara".

Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dijuluki "penyelamat Republik". Dengan mengambil lokasi di suatu tempat di daerah Sumatera Barat, pemerintahan Republik Indonesia masih tetap eksis meskipun para pemimpin Indonesia seperti Soekarno-Hatta telah ditangkap Belanda di Yogyakarta. Sjafruddin Prawiranegara menjadi Ketua PDRI dan kabinetnya yang terdiri dari beberapa orang menteri. Meskipun istilah yang digunakan waktu itu "ketua", namun kedudukannya sama dengan presiden.

Sjafruddin menyerahkan mandatnya kemudian kepada Presiden Soekarno pada tanggal 13 Juli 1949 di Yogyakarta. Dengan demikian, berakhirlah riwayat PDRI yang selama kurang lebih delapan bulan melanjutkan eksistensi Republik Indonesia sebagai negara bangsa yang sedang mempertaankan kemerdekaan dari agresor Belanda yang ingin kembali berkuasa.

Setelah menyerahkan mandatnya kembali kepada presiden Soekarno, Syafruddin Prawiranegara tetap terlibat dalam pemerintahan dengan menjadi menteri keuangan. Pada Maret 1950, selaku Menteri Keuangan dalam Kabinet Hatta, ia melaksanakan pengguntingan uang dari nilai Rp 5 ke atas, sehingga nilainya tinggal separuh. Kebijaksanaan moneter yang banyak dikritik itu dikenal dengan julukan Gunting Syafruddin.

PRRI
Akibat ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat karena ketimpangan-ketimpangan sosial yang terjadi dan juga pengaruh komunis (terutama PKI) yang semakin menguat, pada awal tahun 1958, Syafruddin Prawiranegara dan beberapa tokoh lainnya mendirikan PRRI yang berbasis di sumatera tengah dan ia di tunjuk sebagai Presidennya.

Dakwah
Setelah bertahun-tahun berkarir di dunia politik, Syafrudin Prawiranegara akhirnya memilih lapangan dakwah sebagai kesibukan masa tuanya. Dan, ternyata, tidak mudah. Berkali-kali bekas tokoh Partai Masyumi ini dilarang naik mimbar. Juni 1985, ia diperiksa lagi sehubungan dengan isi khotbahnya pada hari raya Idul Fitri 1404 H di masjid Al-A'raf, Tanjung Priok, Jakarta.

"Saya ingin mati di dalam Islam. Dan ingin menyadarkan, bahwa kita tidak perlu takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada Allah," ujar ketua Korp Mubalig Indonesia (KMI) itu tentang aktivitasnya itu.

Di tengah kesibukannya sebagai mubalig, bekas gubernur Bank Sentral 1951 ini masih sempat menyusun buku Sejarah Moneter, dengan bantuan Oei Beng To, direktur utama Lembaga Keuangan Indonesia.
Syafruddin Prawiranegara meninggal pada 15 Februari 1989 di makamkan di Tanah Kusir Jakarta Selatan.
Biodata
Syafruddin Prawiranegara
Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia
Masa jabatan : 19 Desember 1948 – 13 Juli 1949
Pendahulu : Soekarno
Pengganti : Soekarno

Lahir : 28 Februari 1911
Meninggal : 15 Februari 1989 (umur 77)
Istri : T. Halimah Syehabuddin Prawiranegara
Agama : Islam
Pendidikan:
ELS (1925)
MULO,Madiun (1928)
AMS, Bandung (1931)
Rechtshogeschool, Jakarta (1939)

Karir:
Pegawai Siaran Radio Swasta (1939-1940)
Petugas Departemen Keuangan Belanda (1940-1942)
Pegawai Departemen Keuangan Jepang
Anggota Badan Pekerja KNIP (1945)
Wakil Menteri Keuangan (1946)
Menteri Keuangan (1946)
Menteri Kemakmuran (1947)
Perdana Menteri RI (1948)
Presiden Pemerintah Darurat RI (1948)
Wakil Perdana Menteri RI (1949)
Menteri Keuangan (1949-1950)
Gubernur Bank Sentral/Bank Indonesia (1951)
Anggota Dewan Pengawas Yayasan Pendidikan & Pembangunan Manajemen (PPM) (1958)
Pimpinan Masyumi (1960)
Anggota Pengurus Yayasan Al Azhar/Yayasan Pesantren Islam (1978)
Ketua Korps Mubalig Indonesia (1984 - 1989 )./voa-islam.

Kamis, 17 Maret 2011

Hedley Churchward, Orang Inggris Pertama yang Naik Haji


Pada tahun 1910 telah ada Muslim asli Inggris yang telah menunaikan ibadah haji, yaitu Hedley Churchward yang sejak masuk Islam berganti nama menjadi Mahmoud Mobarek, telah menjadi orang Inggris pertama yang tercatat dalam sejarah yang menunaikan rukun Islam yang kelima yaitu naik Haji.

Abdulhakim Murad, seorang dosen dari Universitas Cambridge departemen Studi Islam, menceritakan kisah menarik peristiwa masuk Islamnya Hedley Churchward yang tercatat sebagai muslim pertama kelahiran Inggris yang melakukan ibadah haji dengan menempuh perjalanan selama lima bulan ke Ka'bah.

Hedley Churchward (Mahmoud Mobarek) lahir menjadi salah satu dari keluarga yang paling terkenal di Inggris, keluarganya memiliki rumah paling tua kedua (berusia lebih dari 700 tahun) di Inggris. Hedley Churchward juga memiliki bakat seni yang diakui orang sejak dirinya berusia dini. Bidang spesialisasi nya adalah melukis pemandangan untuk pentas teater dan di tahun 1880-an, ia menjadi terkenal dengan lukisannya.

Pada perjalanannya yang penuh inspirasi dengan melewati Spanyol, Churchward sangat terkagum-kagum untuk pertama kalinya melihat keindahan arsitektur Islam sisa-sisa peninggalan kebesaran Islam Andalusia dan dari Spanyol ia kemudian melanjutkan perjalanan menyeberang ke Maroko di mana disana ia terkesan dengan kemurnian dan kelembutan gaya hidup Islam masyarakat Maroko. Setelah beberapa saat perjalanannya di Maroko, Hedley Churchward membuat kepetusan yang sangat mengejutkan bagi keluarganya: Ia memutuskan untuk bersyahadat dan menyatakan diri masuk Islam.

Bagi seorang mualaf - Churchward memiliki prestasi besar dalam bidang studi Islam. Dirinya belajar di universitas Al-Azhar selama bertahun-tahun dan menjadi seorang pendakwah dan dosen terkemuka dalam mata kuliah Sirah di Qadi Akademi.

Sewaktu di Kairo, Mahmoud Churchward yang mempunyai bakat seni melukis - ditugaskan untuk menghiasi salah satu masjid di kota itu. Atas banyak jasanya, Presiden Afrika Selatan pada waktu itu - Paul Kruger - sebagai tanda terima kasih kepada Churchward - dirinya memberikan izin untuk pembangunan masjid pertama di Witwatersrand, Afrika Selatan. Churchward menikah dengan seorang wanita Mesir, yang merupakan putri dari salah satu ahli hukum Syariah terkemuka Al-Azhar.

Sejak dirinya masuk Islam, ia telah berpikir dan merasa bahwa ia belum sepenuhnya terintegrasi dengan Islam. Hingga akhirnya Churchward memutuskan untuk pergi ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah Haji dalam upaya untuk melengkapi Rukun Islam.

Abdulhakim Murad menceritakan pikiran dan perasaan yang mendalam Churhward atas perjalanannya ke Mekkah melalui pernyataan Churchward sendiri: "Suatu malam, ketika aku berjalan di sepanjang Piramida yang menjulang di waktu matahari terbenam,dan melihat kaki langit di belakang kota Kairo yang menerawangi senja wilayah Afrika, aku memutuskan untuk melaksanakan niatku yang seharusnya aku lakukan sejak aku menjadi seorang Muslim - aku akan pergi ke Ka'bah di Mekah. "

Pada tahun 1910 dalam situasi sosial politik yang kurang menguntungkan, niat tulusnya untuk melaksanakan ibadah haji harus melalui pembuktikan, karena secara syariah non-muslim dilarang untuk masuk ke perbatasan Mekkah. Churchward harus menjalani ujian soal pengetahuan Islam selama tiga jam yang dilakukan oleh seorang Qadhi Mesir untuk mengetahui pemahaman keIslamannya.

Setelah berhasil ujian, ia mendapatkan 'paspor keagamaan' yang didukung oleh Qadhi seorang pimpinan ulama dari kekhalifahan Utsmaniyah waktu itu dan banyak ulama terkemuka dan para imam yang membantu dirinya untuk mengatasi kemungkinan hambatan birokrasi selama perjalanannya menuju Baitullah.

Churchward berangkat dari Afrika Selatan (Johannesburg) menuju Mekkah pada tahun 1910. Dia menjalani perjalanan yang sangat melelahkan dengan menaiki kapal uap melalui Bombay.

Di pelabuhan Sudan Suakin, ia berkunjung ke kedutaan Inggris dan diberitahu bahwa ia tidak akan diizinkan untuk turun di Jeddah. Namun, ia mampu menyelesaikan persoalan itu, di mana ia menghubungi pejabat Utsmani dan tidak mengalami masalah sedikitpun. Di sana ia juga berkomunikasi dengan biro panduan haji dan mereka berangkat ke Kota Suci dengan dua keledai di malam berikutnya.

Abdulhakim Murad juga menceritakan banyak rintangan yang dilalui oleh Churchward dalam melakukan perjalanan menuju Mekkah. Dalam perjalanannya melintasi gurun pasir, ia sempat diserang oleh sekelompok Arab baduy yang ingin merampok kafilahnya, namun Churcward mampu melewati situasi yang berbahaya tersebut di tengah panas terik gurun pasir dan perjalanan yang melelahkan dengan sukses.

Meyakini bahwa Allah akan mengatur segalanya yang terbaik untuknya, akhirnya ia dan rombongannya tiba di Tanah Suci. Perjalanan selama lima bulan Churchward menuju ke Tanah Suci selesai sewaktui Churchward dan rombongannya menginjakkan kaki di Ka'bah, Rumah Allah.

Dan Mahmoud (Churchward) Mobarek adalah Muslim Inggris pertama yang naik haji dan melihat Ka'bah pada tahun 1910 dan sangat dihormati karena menjadi orang Inggris pertama yang menjadi tamu Allah./eramuslim.

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"









"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog