Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 November 2012

Syaikh Yusuf Qaradhawi, Kaum Muslimin Harus Mengontrol Kemarahannya

"Reaksi atas penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW SAH (legal) dan hal yang kita kehendaki. Ini adalah KEWAJIBAN IMAN. Membela Nabi SAW adalah AMAL ISLAMI. Namun, seorang Muslim harus bertindak sesuai HUKUM ISLAM dan TELADAN dari NABI SAW. Kita tidak boleh BERBUAT yang bertentangan dengan ajaran Nabi SAW, padahal kita menganggap sedang membela-Nya.
Kaum Muslimin harus mengontrol kemarahannya. Kita harus fokus kepada tujuan kita. Kita harus menghentikan PENGHINAAN ini dan MENGHUKUM mereka yang bertanggung jawab. Dalam menjalankan tujuan ini, kita harus menghindari tindakan yang justru mengundang penghinaan yang sama, dan alih-alih hanya akan melindungi mereka yang melakukan penghinaan dengan dalih KEBEBASAN BEREKSPRESI.
Penghinaan atas keyakinan tidak memiliki tujuan lain kecuali menciptakan kekacauan. Dan menjawab provokasi ini dengan kekerasan hanya akan MEWUJUDKAN apa yang menjadi keinginan mereka (Kekacauan).
Kewajiban Muslim tidak hanya merespon penghinaan itu, namun juga memperkenalkan kehidupan, pesan moral dan nilai akhlak mulia Nabi kepada dunia.
Serangan barbar atas kedutaan AS BUKAN MERUPAKAN AJARAN ISLAM. Menurut hukum dan moralitas Islam yang kita wajib pegang teguh adalaah bahwa DUTABESAR, PARA PEDAGANG atau INDIVIDU DALAM IKATAN PERJANJIAN yang masuk ke negara Muslim harus DIJAGA KESELAMATANNYA. Nabi SAW telah melarang membunuh UTUSAN (duta besar)."
Nasihat ULAMA' Dunia DR. Yusuf Qardhawi

Minggu, 23 September 2012

"Mengenal perjalanan hidup para sholihin"

"Mengenal perjalanan hidup para sholihin"
Kalam Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Abubakar Bin Sumaith

Sesungguhnya dari yang paling bermanfaatnya ilmu dan yang paling membekasnya ilmu di hati adalah mengenal perjalanan hidup dari para auliya, kaum sholihin dan para ulama yang mengamalkan ilmunya, agar supaya seseorang itu dapat mensuri-tauladani mereka bagaimana mereka dapat membagi waktu-waktunya dengan berbagai macam ibadah, dan bagaimana dapat berakhlak dengan akhlak-akhlak mereka yang mulia sesuai dengan sunnah karena mereka itu adalah penyeru kepada Allah dengan perkataan dan perbuatan mereka. Selain itu pula supaya dengan itu semua dapat menumbuhkan sikap berbaik sangka kepada mereka dan rasa cinta yang dapat mengantarkan kepada keutamaan yang agung.

Di dalam hadits Rasulullah saw yang berbunyi, “Seseorang itu bersama dengan orang yang ia cintai,” dan di dalam sikap untuk mencontoh apa yang ada pada mereka dari ilmu, amal dan keadaan, terdapat targhib (rasa senang menggebu-gebu) dan tasywiq (rasa cinta) untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan. Sesungguhnya seorang mukmin itu sangat berminat untuk mendapatkan kesempurnaan. Ketika ini sudah menguat, maka seseorang itu akan menyibukkan diri dengan membaca perjalanan hidup orang-orang yang terdahulu, dan menaruh perhatian kepada orang-orang yang menjaga agama dan para ulama yang ‘arif, serta mengetahui keutamaan-keutamaan mereka. Bahkan, mengingat mereka itu termasuk suatu usaha untuk memenuhi hak-hak mereka, dan hal itu termasuk perbuatan berbakti (kepada mereka) sesuai dengan apa yang diniatkan. Sebagaimana dikatakan (di dalam hadits, pent.),

“Setiap orang itu sesuai dengan apa yang diniatkan.”

Dan sungguh Allah itu mewajibkan atas hamba-hambaNya yang mukmin untuk meminta di dalam shalat yang merupakan tiang agama agar dapat menunjukkan mereka kepada jalan orang-orang yang diberikan kenikmatan kepada mereka dari para Nabi, shiddiqin, syuhada’ dan sholihin. Maka dari hal itu, sesungguhnya meminta petunjuk itu kepada jalan para ulama dan auliya yang mana mereka menyeru kepada Allah dengan perkataan dan perbuatan mereka, adalah termasuk tanda kebahagiaan dunia dan ahirat. Ini dikarenakan mereka itu adalah para kepercayaan Allah di muka bumi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala kepada NabiNya saw,

“Dan semua kisah dari para rasul Kami kisahkan kepadamu apa-apa yang dengannya Kami dapat meneguhkan hatimu, dan telah datang kepadamu dalam hal ini kebenaran, nasehat dan peringatan kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Hud: 120)

Ini merupakan suatu isyarat untuk mengetahui kabar-kabar dari orang-orang yang terdahulu, terutama dari segolongan manusia dari umat ini yang diberikan kekhususan kepada mereka dengan hikmah dan mutiara kalam. Dengan demikian seseorang itu dapat mengambil nasehat-nasehat mereka, hal-hal yang dapat menambah keyakinan dan ketenangan hati, ketetapan jiwa untuk sabar menjalankan ketaatan dan perbuatan baik, berpegang teguh pada ahli agama, penerangan pandangan dan melihat apa yang tampak pada mereka dari makna dan rahasia kalam Allah Ta’ala dan NabiNya al-mukhtar. Berkata pemuka sufi Al-Junaid rhm,

“Cerita-cerita (tentang para sholihin) itu adalah pasukan dari pasukan-pasukan Allah Ta’ala yang dengannya hati para muriidin (orang-orang ingin mengambil manfaat) itu dapat menjadi teguh.”

"Sifat-sifat aslafuna as-sholihin" .

"Sifat-sifat aslafuna as-sholihin" .
Kalam Al-Habib Muhammad bin Husin Ba’abud


Barang siapa yang meneliti di dalam siroh perjalanan aslafuna as-sholihin (para pendahulu kita yang sholeh), maka dia akan mendapatkan bahwa mereka itu berusaha menuju kesempurnaan ketakwaan kepada Allah, istiqomah di jalan-Nya, giat menuntut ilmu dan mengamalkannya, zuhud di dunia ini, selalu menghiasi diri dengan sifat-sifat mulia dan menjauhi sifat-sifat yang buruk sesuai dengan jalan thariqah tasawuf yang jernih. Mereka juga selalu bersifat dermawan, memberikan makan bagi yang membutuhkan, dan selalu membuat kemaslahatan di antara manusia. Disamping itu mereka hidup sebagaimana kebanyakan orang yang hidup mencari nafkah, terutama mereka melakukan bertani, berladang, bercocok tanam supaya mereka hidup tidak atas belas kasih orang lain.

Banyak kami menjumpai di dalam siroh-siroh perjalanan mereka suatu highlight tentang mereka yaitu:

“Mereka dilahirkan di kota Tarim, mereka hafal Al-Qur’an dan mereka mendapat pendidikan langsung dari orangtuanya”



Aduhai, sungguh indahnya kalimat tersebut!

Cukuplah padamu untuk mendengar cerita tentang perjalanan seorang maghroby (berasal dari Maghrib, Maroko) yaitu Yahya bin Isa bin Makhluf Al-Hudaisy yang berkunjung ke kota Tarim pada tahun 865 H dimana ayahnya juga pernah berkunjung ke kota itu sebelumnya. Dia berkata,

“Saya teringat cerita ayahku pada saat berkunjung ke Tarim tentang Ahlul Bait Rasulullah disana.”

Pada saat itu ayahku mensifatkan mereka,

“Sesungguhnya mereka itu perilakunya menyerupai Malaikat.”

Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad shohibur rotib telah membuat ringkasan tentang siroh mereka dalam 2 bait syairnya yang terkenal dengan Al-’Ainiyyah:

“Mereka mengikuti jejak Rasulullah dan para sahabatnya
serta para tabi’in maka berjalanlah kamu dan ikutilah mereka
Mereka berjalan menuju suatu jalan kemuliaan
generasi demi generasi dengan begitu kokohnya”

Semoga Allah meridhoi mereka dan berkat mereka semoga Allah juga meridhoi kita semua. Amin…

Rabu, 23 Mei 2012

Anak Sholih Sholihah Karunia Alloh

Pada edisi yang lalu telah dibahas bahwa keluarga akan merasa sakinah dan mawaddah bila punya anak yang sholih dan sholihah. Sebaliknya, alangkah sedih dan ruginya bila anak durhaka kepada Alloh Subhaanahu wa ta’aala, Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan durhaka kepada kedua orang tuanya, na’udzubillahi min dzalik. Lalu bagaimanakah upaya kita agar anak menjadi sholih dan sholihah, bahagia dunia dan akhirat?

Sholih dan sholihah adalah takdir Alloh ‘Azza wa Jalla
Di antara hal yang harus kita imani ialah, baik dan buruknya anak sudah ditentukan oleh Alloh ‘Azza wa Jalla sejak dia di rahim ibu. Hanya Alloh-lah yang menjadikan sesuatu dan yang menentukan semua urusan. Perkara ini harus kita yakini agar kita tidak sombong dan membanggakan diri bila berhasil mendidik anak, dan tidak putus asa bila kita sudah berusaha mendidik semaksimal mungkin namun anak belum menjadi baik. Misalnya anak Nabi Nuh ‘Alaihissalam yang durhaka padahal orang tuanya sudah mendidiknya.
Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu (berada di tempat yang terpencil): “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” (QS. Hud [11]: 42-43)
Dalam ayat ini terdapat teladan agar kita tidak putus asa ketika belum berhasil mendidik anak.
Adapun dalil wajibnya kita mengimani takdir ialah hadits Abdulloh bin Mas’ud Radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita kepada kami—dan beliau adalah orang yang jujur dan bisa dipercaya:
“Sesungguhnya setiap kalian telah mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nuthfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Alloh mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintah untuk menulis empat perkara, yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta sengsara atau bahagianya. Demi Dzat yang tiada sembahan selain Dia, sesungguhnya ada salah seorang di antara kalian yang telah melakukan amalan penghuni surga sampai jaraknya dengan surga hanya tinggal sehasta, namun karena sudah didahului takdir, maka ia pun melakukan perbuatan ahli neraka, lalu masuklah ia ke dalam neraka. Dan sungguh ada pula salah seorang di antara kalian yang telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai jaraknya dengan neraka hanya tinggal sehasta, namun karena sudah didahului takdir, maka ia pun melakukan perbuatan ahli surga, dan masuklah ia ke dalam surga.” (Shohih Muslim 4781)

Orang tua wajib berikhtiar
Orang yang beriman kepada takdir bukan berarti meninggalkan usaha, karena Alloh ‘Azza wa Jalla memerintah kita agar berilmu lalu beramal. Bukankah Alloh ‘Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk mengerjakan sholat? Bukankah kita disuruh menikah agar punya anak? Bukankah kita diperintah untuk menuntut ilmu agar menjadi orang yang berilmu dan beramal? Bukankah anak yang pandai membaca al-Qur’an karena dia belajar? Bukankah Alloh melarang kita mengikuti jalan menuju neraka? Baca surat at-Tahrim ayat no. 6.
Dari Abu Huroiroh Radhiyallaahu ‘anhu bahwa Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) :
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Lalu kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana seekor hewan yang melahirkan anak tanpa cacat, apakah kamu merasakan hidungnya ada yang terpotong?” (Shohih Muslim 4803)
Hadits ini menerangkan bahwa kita tidak cukup bergantung pada takdir, namun kita wajib berusaha. Sebagaimana orang yang sakit, dia tidak hanya bergantung pada takdir, tapi pergi ke dokter untuk berobat. Orang tua yang menginginkan anaknya sholih pun hendaknya berusaha pula.
Imam Badruddin berkata: Kedua orang tualah yang mengajarinya beragama Yahudi atau Nasrani dan yang memalingkan dari fitrahnya sehingga dia mengikuti agama orang tuanya. (Umdatul Qori’ Syarah Bukhori 13/39)
Oleh karena itu, kami berwasiat kepada diri kami sendiri dan kepada pembaca seluruhnya, hendaknya kita berhati-hati ketika memutuskan ke mana kita akan menyekolahkan anak, mulai dari taman kanak-kanak sampai sekolah lanjutan. Mengapa? Karena guru, teman bergaul dan pelajaran sekolah akan sangat mempengaruhi pendidikan anak. Bukankah anak yang diajari menyanyi dia pun akan menyanyi, dan yang diajari membaca al-Qur’an dia pun membaca al-Qur’an? Tentunya ini semua bila kita ingin memiliki anak yang sholih dan sholihah.
Dari Abul Abbas Abdulloh bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata: Suatu hari aku berada di belakang Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau bersabda (yang artinya):
“Wahai Anak, aku akan ajarkan kepadamu beberapa patah kata: Jagalah Alloh, niscaya Dia akan senantiasa menjagamu. Bila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Alloh, dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Alloh. Ketahuilah, jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali bila sesuatu itu telah ditulis oleh Alloh bagimu. Dan jika semua umat manusia bersatu padu untuk mencelakaimu, niscaya mereka tidak dapat mencelakaimu kecuali bila sesuatu itu telah ditulis oleh Alloh bagimu. Pena telah diangkat dan catatan-catatan (amal) telah mengering.” (HR. at-Tirmidzi, hadits shohih, Silsilah ash-Shohihah 5/381)
Adapun maksud menjaga Alloh ‘Azza wa Jalla adalah dengan cara menjaga hak-Nya, yaitu menjalankan yang wajib dan sunnah dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan yang dimaksud dengan penjagaan Alloh ‘Azza wa Jalla terhadap manusia ada dua bentuk: Alloh menjaga urusan dunianya dengan menyehatkan badannya, melapangkan rezekinya, menjaga anak dan istrinya, dan lain-lain. (Tuhfatul Ahwadzi 6/308)
Ini adalah satu contoh pendidikan anak yang dicontohkan oleh Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yaitu hendaknya ketika anak masih kecil diajari tauhid sehingga ia mengenal Robbnya.

Hubungan antara takdir dengan ikhtiar (usaha)
Mungkin kita bertanya: Bagaimana kita menghubungkan antara takdir dengan usaha? Karena ayat atau hadits tidak mungkin bertentangan satu sama lain, karena keduanya merupakan wahyu Alloh yang diturunkan kepada Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullaah berkata: Sebagian ulama berkata: “Takdir adalah rahasia Alloh ‘Azza wa Jalla kepada makhluknya. Kita tidak mungkin mengetahuinya melainkan setelah peristiwa itu terjadi, yang baik atau yang buruk.” (al-Qoulul mufid ala kitabit tauhid 2/396)
Ali bin Abu Tholib Radhiyallaahu ‘anhu berkata: Ketika kami sedang mengiring jenazah di Baqi’ Ghorqod (sebuah tempat pemakaman di Madinah), datanglah Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu, kemudian beliau bersabda: “Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Alloh tentukan kedudukannya, di surga ataukah di neraka, serta apakah ia akan sengsara ataukah bahagia.”
Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rosululloh, kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang telah ditentukan sebagai orang yang bahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barangsiapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara.” Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: “Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang yang bahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara.”
Kemudian beliau membacakan surat al-Lail ayat 5-10 berikut (yang artinya): Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Alloh dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shohih Muslim 4786)
Inilah hubungan antara takdir dan usaha. Akhirnya, semoga Alloh ‘Azza wa Jalla memberi kemampuan kepada kita semuanya untuk bersungguh-sungguh dan bersabar mendidik anak menuju jalan yang diridhoi-Nya, amin.
[ Oleh: Ust. Aunur Rofiq bin Ghufron ]

Dr. Arif Zamhari: Ilmuwan yang tetap Santri


“Kalau kamu ingin besar, jangan terus di sini. Harus hijrah. Kalau hanya di kampung, tidak bisa besar.”




Di antara ilmuwan dan aktivis muda NU potensial yang aktif dalam berbagai kegiatan berbobot namun tetap berada dalam jalur para pendahulunya dan tidak tergoda dengan pemikiran liberal adalah Dr. Arif Zamhari, yang meraih gelar doktor dari The Australian National University (ANU), Canberra, Australia. Ia memegang berbagai jabatan yang diamanahkan kepadanya di berbagai lembaga keislaman dan keilmuan.

Salah satu amanah yang diembannya kini adalah menjadi direktur Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an (STKQ), yang berlokasi di Jln. H. Amat, Kukusan, Beji, Depok, Jawa Barat.   Lembaga pendidikan tinggi yang hanya menerima santri yang telah hafal Al-Qur’an ini didirikan dan diasuh oleh tokoh terkemuka NU, K.H. Dr. Hasyim Muzadi, yang juga mertuanya.

Di tengah kesibukannya mengemban amanah yang mulia itu, ia juga dipercaya menjadi pengajar di berbagai perguruan tinggi. Di antaranya di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Psikologi UIN Jakarta, juga di Fakultas Psikologi Universitas Paramadina, Jakarta. Juga pada Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Malang, Jawa Timur.

Dr. Arif Zamhari termasuk ilmuwan muda NU yang sering terlibat dalam kegiatan berskala internasional. Ia di antaranya pernah menjadi ketua penyelenggara pertemuan para ulama dan cendekiawan muslim dunia di Jakarta pada 19-20 Desember 2009, yang membicarakan berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam. Konferensi ini membahas berbagai persoalan penting yang menyangkut umat Islam, tanpa membedakan madzab.

Penghargaan Internasional
Keseriusan dan keaktifannya dalam mengikuti berbagai kegiatan keagamaan ternyata mendapat perhatian dari dunia internasional. Pada tahun 2010 ia memperoleh penghargaan bergengsi di luar negeri, yakni diangkat sebagai Tokoh Dunia Yale 2010.
Program Tokoh Dunia Yale diselenggarakan oleh Universitas Yale, New Haven, Amerika Serikat, sebagai upaya pengembangan kepemimpinan global. Program tersebut berlangsung setiap tahun sejak 2002 dan telah mengangkat 155 tokoh dari 74 negara.

Dr. Arif Zamhari adalah salah satu dari 15 Tokoh Dunia Yale untuk tahun 2010 itu. Mereka terpilih dari 1.500 orang peserta yang diseleksi. Ia dinilai sebagai aktivis yang telah menunjang Islam moderat dan progresif. Ketua Tanfidziah PCI NU Australia dan New Zeland tahun 2007 itu juga dianggap berkomitmen menjalankan masyarakat beradab dalam menghadapi terorisme dan mendukung toleransi melalui dialog dan pendidikan.

Dr. Arif Zamhari sesungguhnya berasal dari keluarga biasa, tidak kaya dan tidak pula terlalu sederhana. Ia putra pertama dari empat bersaudara pasangan H. Abdurrahman dan Hj. Ummu Sulfa, yang berasal dari keluarga pedagang dan petani.

Ia, yang kini usianya belum genap 40 tahun, lahir di Lamongan, Jawa Timur, pada 15 Juli 1972, di Desa Tanggung Prigel, Glaga, Lamongan, daerah terpencil yang jauh dari kota.

Pendidikan awalnya dilaluinya di Madrasah Bustanul Ulum, yang lokasinya tak jauh dari tempat tinggalnya. Sejak Ibtidaiyah hingga Aliyah ia belajar di lembaga ini. Di waktu kecil itu, ia juga mengikuti sekolah diniyah, lembaga pendidikan yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama. 

Saat mulai duduk di tingkat aliyah, lembaran baru dalam kegiatan pendidikannya pun dimulai. Di sinilah ia mulai tinggal di pondok, meskipun untuk makan ia tetap pulang ke rumah. Maklum, lokasi pondok sangat berdekatan dengan rumahnya. Tetapi setelah itu ia langsung kembali ke pondok. Jadi, pulang hanya untuk mengisi perut.

Gurunya saat di pesantren banyak, bukan hanya satu. Di antara mereka, K.H. Ahmad Hanbali, yang juga pengasuh pesantren itu, adalah seorang yang sangat memberikan pengaruh terhadap dirinya. Ia seorang yang sangat disiplin dan menginginkan santrinya berkiprah lebih jauh, tidak hanya di daerah situ. “Kalau kamu ingin besar, jangan terus di sini. Harus hijrah. Kalau hanya di kampung, tidak bisa besar.”

Kata-kata sang kiai sangat mempengaruhi dirinya. Ia benar-benar terinpirasi oleh kata-kata itu.

Maka, sejak lulus aliyah, ia tak pernah tinggal di kampung lagi. Tak lain karena ingin besar, sebagaimana pesan gurunya itu. Ia hanya pulang kampung untuk menjenguk orangtua dan silaturahim dengan saudara-saudaranya.

Setelah menyelesaikan aliyah pada tahun 1990, ia segera hijrah ke Malang untuk kuliah di Fakultas Tarbiyah Sunan Ampel Malang, yang dirampungkannya pada tahun 1995. Setelah itu ia hijrah lagi ke tempat yang baginya saat itu sangat jauh dan asing, yaitu Padang, Sumatera Barat, untuk mengikuti pendidikan pascasarjana dengan mengambil konsentrasi Pemikiran Islam, di IAIN Imam Bonjol.

Saat itu, Padang benar-benar jauh baginya, karena Jakarta saja belum pernah dimasukinya. Namun sosok yang tetap berpenampilan santri, rendah hati, dan sederhana ini cepat dapat beradaptasi, baik dengan lingkungan kuliah maupun lingkungan masyarakat tempatnya tinggal. Malah ia lebih senang bergaul dengan masyarakat setempat dibandingkan hanya membatasi diri dengan teman-teman sedaerah. "Karena itu, saya cepat bisa berbahasa Minang. Sampai sekarang pun masih lancar."

Tanpa banyak mengalami kesulitan, ia dapat menyelesaikan S-2 nya ini pada tahun 1998 dengan judul tesis Konsep Iman Menurut Imam Abu Hanifah.

Pengembaraannya dalam menimba ilmu semakin jauh ketika ia mengikuti kuliah S3-nya pada Asian Pacific College, ANU, Canberra, Australia, yang dimulainya sejak tahun 2003 dan dapat diselesaikannya pada tahun 2007. Ia menulis disertasi dengan judul Rituals of Islamic Spirituality: A Study of Majlis Dhikr Groups in East Java.

Di samping tesis dan disertasi, ia juga telah banyak menghasilkan banyak karya ilmiah, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, baik yang telah maupun yang belum dipublikasikan.

Selain itu, berbagai konferensi internasional pun telah diikutinya. Lebih dari 25 konferensi internasional, baik di Indonesia maupun di luar negeri, telah diikutinya.

Meskipun telah menyelesaikan jenjang pendidikan tertinggi dan telah pula memiliki pengalaman yang luas di dalam maupun di luar negeri, pembawaan dan penampilan Dr. Arif Zamhari tetaplah sebagaimana santri pada umumnya: rendah hati dan sederhana. Tidak pernah berpenampilan berlebihan, apalagi aneh-aneh. Apalagi ia merasa masih terus harus banyak belajar dari siapa saja yang patut diambil ilmunya.   

Ya, bertahun-tahun ia terus merantau dari satu kota ke kota lain hingga akhirnya kini “terdampar” di bilangan Depok.

Mutiara Terpendam
Amanah yang diembannya sebagai direktur STKQ adalah hal yang sangat mulia dan sangat penting, karena menyangkut kepentingan umat secara luas. Sebab di Indonesia sangat banyak penghafal Al-Qur’an, potensi yang sangat besar. Muslim yang mampu menghafal Al-Qur’an ribuan jumlahnya, yang tersebar di seluruh negeri, mulai dari yang masih kanak-kanak sampai yang sudah tua renta.

Namun demikian, potensi tersebut tak termanfaatkan secara optimal. Kenyataan ini menunjukkan bahwa masih banyak potensi lain yang belum dikembangkan, yang bermanfaat bagi masyarakat. “Mereka sebatas menghafal, belum memahami kandungan Al-Qur’an.”

Sebenarnya, kualitas dan kemampuan mereka masih bisa lebih ditingkatkan. Yakni, dari sosok yang hafal Al-Qur’an menjadi pribadi yang paham dan berakhlaq Al-Qur’an, serta mampu menjawab tantangan zaman yang semakin meningkat di tengah-tengah masyarakat. Justru itulah yang terpenting dari aktivitas para penghafal Al-Qur’an. “Tujuan kami meningkatkan dan mencetak para hafizh menjadi ulama,” jelas Arif.

Dengan demikian, hafal saja tidak cukup. Perlu ditambah dengan pemahaman. Secara sadar, mereka telah gigih dan bersungguh-sungguh menghafal al-Qur’an. Tentu semangat itu bisa diarahkan ke tingkat yang lebih tinggi. “Di STKQ Al-Hikam ini, kita hanya menerima  hafizh yang lulusan SLTA,” katanya.

Kenyataan lain yang kita temukan, kebanyakan hafizh berasal dari keluarga serba kekurangan, sehingga mereka tidak mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

SDM yang sangat potensial ini tentu tak boleh disia-siakan. Mereka adalah anak muda, cerdas, dan shalih. Sebagaimana kita tahu, masa-masa remaja adalah masa-masa yang paling efektif untuk menanamkan ilmu dan membentuk kepribadian mereka. Harus ada yang menampung dan mengarahkan. Karena mereka adalah aset bangsa yang tak ternilai harganya.

Selain itu, mereka sering kali hanya dilibatkan untuk kegiatan seremonial, seperti tujuh bulan, pindah rumah, khataman, pernikahan. K.H. Hasyim Muzadi bermaksud memoles mutiara yang terpendam ini. Atas dasar itulah, STKQ Al-Hikam ini didirikan.

Selama proses pendidikan di sini, seluruh biaya perkuliahan hingga lulus digratiskan.

Metode pembelajaran di STKQ Al-Hikam  menggabungkan tiga aspek secara bersamaan, yaitu muraja’ah (mengulang hafalan), dirasah (belajar memahami), dan tanmiyah (pengembangan, berupa kursus-kursus dengan beragam materi wawasan kebangsaan, teknologi informasi, dan kewirausahaan).

Harapannya, mereka tetap bisa menjaga hafalannya, namun juga mampu memahami dan mengaitkan Al-Qur’an dengan konteks kekinian. Setelah kembali ke masyarakat, diharapkan mereka mampu menyampaikan kandungan Al-Qur’an, sesuai dengan konteks dan kebutuhan mereka, baik secara sosiologis maupun secara keilmuan.

Komodifikasi Agama
Meskipun sering berkiprah di dunia internasional, Dr. Arif Zamhari juga cermat mengamati perkembangan kehidupan umat di tanah air. Di antara yang disorotinya adalah masalah tayangan televisi yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kaum muslimin tentu tak ingin hanya menikmati hiburan dari tayangan-tayangan di layar kaca. Mereka juga berharap mendapatkan hal-hal yang bermanfaat, termasuk yang menyajikan materi-materi keagamaan. Sayangnya, acara-acara yang bernuansa keislaman di televisi masih jauh dari harapan. Komersialisasi agama, atau agama diperjualbelikan untuk keuntungan semata, tercermin pada tayangan-tayangan televisi. “Fenomena komersialisasi agama tercermin pada tayangan-tayangan televisi seperti sinetron religius,” katanya.

Aktivis Nahdlatul Ulama ini mengakui bahwa dampak negatif secara langsung yang dirasakan masyarakat secara luas belum menonjol, namun itu tak boleh dibiarkan. Ia juga mengatakan, komersialisasi agama kemudian melebur menjadi komodifikasi agama, yakni komersialisasi Islam atau mengubah keimanan dan simbol-simbolnya menjadi komoditas yang dapat diperjualbelikan untuk mendapat keuntungan.

Dalam tayangan pada media elektronik saat bulan puasa, misalnya, nilai keberagamaannya kurang begitu mendalam.

Masalah keteladanan juga menjadi salah satu aspek yang diperhatikannya. Ia mengingatkan, dalam konsep pendidikan Islam seorang pengajar juga harus menjadi teladan yang baik. Padahal masyarakat luas mengetahui bagaimana kehidupan seorang artis dalam kesehariannya. ”Para pemian sinetron tersebut sebaiknya juga menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.”

Tayangan acara di televisi menjelang berbuka puasa atau sahur, menurutnya, juga hanya bersifat hura-hura. Kalau ini dibiarkan, bisa terjadi degradasi keluhuran nilai-nilai agama. 

Dr. Arif juga mengingatkan hal yang sangat mendasar, yaitu penguasaan dan pemahaman orang yang menyampaikan materi-materi keagamaan. Dalam penyampaian materi-materi agama, seperti ceramah agama, perlu ada kualifikasi dari lembaga khusus dai, karena tidak sedikit orang yang kurang paham agama Islam sudah memberikan materi di hadapan publik, dan ini seharusnya tidak terjadi. Menurutnya, mereka itu kurang credible, dan harus ada proses kualifikasi dari lembaga khusus yang menanganinya. “Mereka tentunya dijadikan panutan umat, karena itu harus benar-benar memahami agama.”

Radikalisasi masih Terjadi
Masalah penanganan teroris, yang sejak beberapa waktu yang lalu sering menyita perhatian publik, juga tak lepas dari sorotannya. “Selama ini, dalam penanganan para aksi teroris pemerintah memang telah melakukan penangkapan terhadap pelaku dan pemimpin gerakan radikal. Tapi hal itu belumlah cukup.”
Menurut Arif, dalam menjalankan program deradikalisasi harus sampai pada tingkat bawah atau akar rumput. Sehingga, benih-benih teror baru dapat teridentifikasi sejak dini. Masyarakat pun dapat berpartisipasi menghilangkan bibit terorisme.

Wakil ketua International Conference of Islamic Scholars (ICIS) ini mengungkapkan, aksi radikalisasi di tengah masyarakat masih terus terjadi. Ia mengaku kerap menemui penceramah yang menyampaikan kekerasan, menyudutkan kelompok lain yang tidak sesuai dengan pemahamannya.

“Kita masih banyak menemui seorang dai dalam mimbar Jum’at yang mengajarkan kekerasan dan menghujat kelompok lain.”

Arif mengatakan, ia juga masih menemukan adanya siaran radio yang setiap harinya sengaja menyiarkan ceramah menghujat dan mengkafirkan kelompok lain yang tidak sepaham dengannya. Menurutnya, keadaan tersebut justru memupuk dan menumbuhkan gerakan radikal pada masyarakat di tingkatan yang paling bawah.

Naluri Kemanusiaan
Masalah-masalah yang tampaknya sederhana tetapi menjadi kepentingan dan kebutuhan masyarakat juga tak lepas dari perhatiannya. Dan pandangannya selalu berbasiskan ajaran-ajaran agama, tak terlepas darinya. Misalnya dalam memandang masalah mudik, yang menjadi hajatan tahunan sebagian masyarakat kita.

“Meskipun dalam arus mudik terdapat sisi positif dan negatif, lebih banyak memberikan dampak yang lebih baik bagi masyarakat itu sendiri. Menurutnya, dengan mudik, dalam perspektif psikologis manusia akan kembali ke asal. Untuk itu mereka sangat memperhatikan agar bisa pulang ke kampung halaman.
Fenomena tersebut merupakan naluri kemanusiaan atau sebagai fitrah manusia. Dalam  agama Islam dikenal dengan istilah silaturahim, atau mempererat tali persaudaraan. Bahkan, upaya tersebut sangat dianjurkan, karena mengandung nilai yang sangat baik.

Dari pernikahannya dengan Hj. Yuni Arova, putri K.H. Dr. Hasyim Muzadi, ia telah dikaruniai tiga buah hati: Balya Muhammad Izzat, Takiah Aqilah Farnaz, dan Haikal Makarim. Kini ia bersama istri dan putra-putrinya ini tinggal di lingkungan Pesantren Al-Hikam II Kukusan, Beji, Depok, yang menaungi STKQ, yang dipimpinannya.    

AY

Selasa, 24 April 2012

Pekerjaan & Makanan Halal Sebagai Obat

gus shampton

Seusai melakukan kajian ihya’ ulumuddin, salah seorang teman mendekati Guru Mulia al Habib Muhammad Ibn Idrus al Haddad.  Teman ngaji itu mengadu kepada al Habib, bahwa dia sudah bertahun-tahun menderita sakit yang tak juga sembuh.
Habib Muhammad kemudian bertanya: “apa pekerjaanmu?”
Teman menjawab: “perusahaan sekuritas!”
Habib : “bergerak dibidang apa?”
Teman : “perusahaan yang bergerak dibidang jual beli saham, reksadana, valuta asing dll bib!”
Habib : “kamu berhenti dari pekerjaanmu, nanti kamu sembuh”
Teman : “kenapa bib?”
Habib:”ibumu adalah seorang muhibbin, selalu semangat mengikuti majelis ta’lim meski sudah sepuh, berarti kamu ini orang baik”
Teman :”saya belum jelas bib”
Habib:”ibarat kata mobil yang termewah seperti limosin, upama diberi bahan bakar minyak tanah, bisa tidak? kuat tidak?”
Teman: “ya mesinnya rusak bib, karena bahan bakarnya tidak baik”
Habib : “begitu pulalah manusia, bila manusia itu tergolong orang baik, dia akan senantiasa sakit sakitan bila dia diberi makan-makanan haram maka jasadnya tidak akan kuat dan cenderung rusak. tetapi bila dia orang yang tidak baik, maka dia akan sehat-sehat saja dengan makanan haram karena ibarat kompor, dia akan baik-baik saja meski diberi minyak tanah, karena memang bahan bakarnya minyak tanah, sangat beda dengan mobil limosin yang butuh bahan bakar baik untuk menjadikan mesinnya baik-baik saja.”
Teman saya itupun mafhum dan menuruti perintah guru, shubhanaLLah setelah berhenti dari pekerjaannya, teman itu tidak lagi sakit-sakitan hingga bertahun-tahun. dan sekarang cukup sukses dengan usaha barunya.
Dari kisah nyata ini, kita bisa mengambil hikmah bahwa kalaupun seorang yang curang, yang korup, yang hobi ngutil harta orang lain, yang kecintaan dunianya melebihi rasa malunya itu sehat-sehat saja, bukan berarti sehatnya karena nikmat dan ridla Allah, tetapi bisa jadi hal itu menjadi justifikasi bahwa dia ahlunnaar, orang yang tidak baik, ahlusshar.
JADI, BILA KITA MERASA TIDAK YAKIN SERATUS PERSEN HARTA YANG KITA KONSUMSI HALALAN THAYYIBAN, SEMENTARA KITA SENANTIASA SEHAT-SEHAT SAJA TANPA PERNAH SAKIT, MUNGKIN KITA BUTUH SEDIKIT CURIGA, JANGAN-JANGAN KITA INI TERMASUK AHLUSSHAR?
KALAUPUN KITA SENANTIASA MENDAPAT COBA, SAKIT-SAKITAN, JANGAN TERGESA BERBURUK SANGKA PADA ALLAH, KARENA JANGAN-JANGAN KITA INI ORANG BAIK YANG SEDANG DIPERINGATKAN OLEH ALLAH UNTUK MEMPERBAIKI MUTU MAKANAN KITA YANG KURANG HALAL ATAU TERCAMPUR HARTA HARAM. Wallahu a’lam.
(Kang Shampton Canggahe Mbahdakimin)

Sekilas Perkembangan Tasawuf dan Tarekat di Indonesia

tasawuf
Bismillâh ar-Rahman al-Rahîm.

Segala puji Allah Tuhan sekalian alam. Dia tidak menyerupai apapun dari makhluk-Nya. Dia tidak membutuhkan apapun dari makhluk-Nya. Dan siapapun dari makhluk-Nya selalu membutuhkan kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad, Nabi pembawa wahyu dan kebenaran.
Dalam peta Indonesia, paling tidak ada tiga hal yang membuat penyebaran agama Islam cukup unik untuk dikaji.
Pertama; Secara geografis wilayah nusantara sangat jauh dari negara-negara Arab sebagai pusat munculnya dakwah Islam. Jaringan informasi dari satu wilayah ke wilayah lain saat itu sangat membutuhkan waktu dan tenaga. Namun demikian perkembangan Islam di Nusantara pada awal kedatangannya sangat pesat, mungkin melebihi penyebaran ke wilayah barat dari bumi ini. Metodologi dakwah, kondisi wilayah dan masyarakat Indonesia, materi-materi dakwah dan berbagai aspek lainnya dalam dakwah itu sendiri adalah di antara hal yang perlu kita pelajari.

Kedua; “Tangan-tangan ahli” dalam membawa misi dakwah Islam saat itu sangat terampil dan pleksibel. Padahal sejarah mencatat bahwa wilayah Nusantara ketika itu diduduki berbagai kerajaan yang dianggap cukup kuat memegang ortodoksi ajaran leluhur mereka. Dominasi ajaran Hindu dan Budha saat itu, hingga keyakinan-keyakinan animisme cukup mengakar di berbagai tingkatan masyarakat. Bagaimanakah olahan tangan-tangan terampil tersebut hingga membuahkan hasil yang sangat menakjubkan?!
Ketiga; Persentuhan budaya yang sama sekali berbeda antara budaya orang-orang wilayah Nusantara (Melayu) dengan umunya orang-orang timur tengah menghasilkan semacam budaya baru. Budaya baru ini tidak sangat cenderung ke timur tengah juga tidak sangat cenderung kepada ortodoksi wilayah setempat. Namun kelebihan yang ada pada budaya baru ini ialah bahwa nilai-nilai –terutama akidah– ajaran Islam telah benar-benar berhasil ditanamkan oleh para pendakwahnya.
• • •
Di wilayah Aceh, pada sekitar permulaan abad sebelas hijriah datang salah seorang keturunan Rasulullah, yang sekarang nama beliau diabadikan dengan sebuah Institut Agam Islam Negeri (IAIN), Syaikh Nuruddin ar-Raniri. Beliau bernama Muhammad ibn ‘Ali ibn Hasan ibn Muhammad al-Raniri al-Qurasyi al-Syafi’i. Sebelum ke nusantara beliau pernah belajar di Tarim Hadramaut Yaman kepada para ulama terkemuka di sana. Salah satunya kepada al-Imam Abu Hafsh ‘Umar ibn ‘Abdullah Ba Syaiban al-Hadlrami. Ditangan ulama besar ini, al-Raniri masuk ke wilayah tasawuf melalui tarekat al-Rifa’iyyah, hingga menjadi khalifah dalam tarekat ini.
Tarekat al-Rifa’iyyah dikenal sebagai tarekat yang kuat memegang teguh akidah Ahlussunnah. Para pemeluknya di dalam fikih dikenal sebagai orang-orang yang konsisten memegang teguh madzhab asy-Syafi’i. Sementara dalam akidah sangat kuat memegang teguh akidah Asy’ariyyah. Terhadap akidah hulûl dan wahdah al-wujûd tarekat ini sama sekali tidak memberi ruang sedikitpun. Hampir seluruh orang yang berada dalam tarekat al-Rifa’iyyah memerangi dua akidah ini. Konsistensi ini mereka warisi dari perintis tarekat al-Rifa’iyyah sendiri; yaitu al-Hasîb al-Nasîb as-Sayyid al-Imam Ahmad al-Rifa’i.
Ketika kesultanan Aceh dipegang oleh Iskandar Tsani, al-Raniri diangkat menjadi “Syaikh al-Islâm” bagi kesultanan tersebut. Ajaran Ahlussunnah yang sebelumnya sudah memiliki tempat di hati orang-orang Aceh menjadi bertambah kuat dan sangat dominan dalam perkembangan Islam di wilayah tersebut, juga wilayah Sumatera pada umumnya. Faham-faham akidah Syi’ah, terutama akidah hulûl dan ittihâd, yang sebelumnya sempat menyebar di wilayah tersebut menjadi semakin diasingkan. Beberapa karya yang mengandung faham dua akidah tersebut, juga para pemeluknya saat itu sudah tidak memiliki tempat. Bahkan beberapa kitab aliran hulûl dan ittihâd sempat dibakar di depan Majid Baiturrahman.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa di bagian ujung sebelah barat Indonesia faham akidah Ahlussunnah dengan salah satu tarekat mu’tabarah sudah memiliki dominasi yang cukup besar dalam kaitannya dengan penyebaran Islam di wilayah Nusantara.
• • •
Di Palembang Sumatera juga pernah muncul seorang tokoh besar. Tokoh ini cukup melegenda dan cukup dikenal di hampir seluruh daratan Melayu. Dari tangannya lahir sebuah karya besar dalam bidang tasawuf berjudul Siyar al-Sâlikîn Ilâ ‘Ibâdah Rabb al-‘Âlamîn. Kitab dalam bahasa Melayu ini memberikan kontribusi yang cukup besar dalam perkembangan tasawuf di wilayah Nusantara. Dalam pembukaan kitab yang tersusun dari empat jilid tersebut penulisnya mengatakan bahwa tujuan ditulisnya kitab dengan bahasa Melayu ini agar orang-orang yang tidak dapat memahami bahasa Arab di wilayah Nusantara dan sekitarnya dapat mengerti tasawuf, serta dapat mempraktekan ajaran-ajarannya secara keseluruhan. Tokoh kita ini adalah Syaikh ‘Abd ash-Shamad al-Jawi al-Palimbani yang hidup di sekitar akhir abad dua belas hijriah. Beliau adalah murid dari Syaikh Muhammad Samman al-Madani; yang dikenal sebagai penjaga pintu makam Rasulullah.
Kitab Siyar al-Sâlikin sebenarnya merupakan “terjemahan” dari kitab Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn, dengan beberapa penyesuaian penjelasan. Hal ini menunjukan bahwa tasawuf yang diemban oleh Syaikh ‘Abd ash-Shamad adalah tasawuf yang telah dirumuskan oleh Imam al-Ghazali. Dan ini berarti bahwa orientasi tasawuf Syaikh ‘Abd al-Shamad yang diajarkannya tersebut benar-benar berlandaskan akidah Ahlussunnah. Karena, seperti yang sudah kita kenal, Imam al-Ghazali adalah sosok yang sangat erat memegang teguh ajaran Asy’ariyyah Syafi’iyyah.
Tentang sosok al-Ghazali, sudah lebih dari cukup untuk mengenal kapasitasnya dengan hanya melihat karya-karya agungnya yang tersebar di hampir seluruh lembaga pendidikan Islam, baik formal maupun non formal di berbagai pelosok Indonesia. Terutama bagi kalangan Nahdliyyin, al-Ghazali dengan karyanya Ihyâ’ Ulûm al-Dîn adalah rujukan standar dalam menyelami tasawuf dan tarekat. Secara “yuridis” hampir seluruh ajaran tasawuf terepresentasikan dalam karya al-Ghazali ini. Bagi kalangan pondok pesantren, terutama pondok-pondok yang mengajarkan kitab-kitab klasik (Salafiyyah), bila seorang santri sudah masuk dalam mengkaji Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn berarti ia sudah berada di “kelas tinggi”. Karena sebenarnya di lingkungan pesantren kitab-kitab yang dikaji memiliki hirarki tersendiri. Dan untuk menaiki hirarki-hirarki tersebut membutuhkan proses waktu yang cukup panjang, terlebih bila ditambah dengan usaha mengaplikasikannya dalam tindakan-tindakan. Materi kitab yang dikaji dan sejauh mana aplikasi hasil kajian tersebut dalam prilaku keseharian biasanya menjadi tolak ukur untuk melihat “kelas-kelas” para santri tersebut.
• • •
Wali songo yang tidak pernah kita lupakan; Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Gresik, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati adalah sebagai tokoh-tokoh terkemuka dalam sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara. Tokoh-tokoh melegenda ini hidup di sekitar pertengahan abad sembilan hijriah. Artinya Islam sudah bercokol di wilyah Nusantara ini sejak sekitar 600 tahun lalu, bahkan mungkin sebelum itu. Sejarah mencatat bahwa para pendakwah yang datang ke Indonesia berasal dari Gujarat India yang kebanyakan nenek moyang mereka adalah berasal dari Hadlramaut Yaman. Negara Yaman saat itu, bahkan hingga sekarang, adalah “gudang” al-Asyrâf atau al-Habâ’ib; ialah orang-orang yang memiliki garis keturunan dari Rasulullah. Karena itu pula para wali songo yang tersebar di wilayah Nusantara memiliki garis keturunan yang bersambung hingga Rasulullah.
Yaman adalah pusat kegiatan ilmiah yang telah melahirkan ratusan bahkan ribuan ulama sebagai pewaris peninggalan Rasulullah. Kegiatan ilmiah di Yaman memusat di Hadlramaut. Berbeda dengan Iran, Libanon, Siria, Yordania, dan beberapa wilayah di daratan Syam, negara Yaman dianggap memiliki tradisi kuat dalam memegang teguh ajaran Ahlussunnah. Mayoritas orang-orang Islam di negara ini dalam fikih bermadzhab Syafi’i dan dalam akidah bermadzhab Asy’ari. Bahkan hal ini diungkapkan dengan jelas oleh para para tokoh terkemuka Hadlramaut sendiri dalam karya-karya mereka. Salah satunya as-Sayyid al-Imam ‘Abdullah ibn ‘Alawi al-Haddad, penulis ratib al-Haddad, dalam Risâlah al-Mu’âwanah mengatakan bahwa seluruh keturunan as-Sâdah al-Husainiyyîn atau yang dikenal dengan Al Abi ‘Alawi adalah orang-orang Asy’ariyyah dalam akidah dan Syafi’iyyah dalam fikih. Dan ajaran Asy’ariyyah Syafi’iyyah inilah yang disebarluaskan oleh moyang keturunan Al Abi ‘Alawi tersebut, yaitu al-Imâm al-Muhâjir as-Sayyid Ahmad ibn ‘Isa ibn Muhammad ibn ‘Ali ibn al-Imâm Ja’far ash-Shadiq. Dan ajaran Asy’ariyyah Syafi’iyyah ini pula yang di kemudian hari di warisi dan ditanamkan oleh wali songo di tanah Nusantara.
• • •
Suatu hari wali songo berkumpul membahas hukuman yang pantas untuk dijatuhkan kepada Syaikh Siti Jenar. Orang terakhir disebut ini adalah orang yang dianggap merusak tatanan akidah dan syari’ah. Ia membawa dan menyebarkan akidah hulûl dan ittihâd dengan konsepnya yang dikenal dengan “Manunggaling kawula gusti”. Konsep ajaran al-Hallaj tentang ittihâd dan hulûl hendak dihidupkan oleh Syaikh Siti Jenar di kepulauan Jawa. Al-Hallaj dahulu di Baghdad dihukum pancung dengan kesepakatan dan persetujuan para ulama, termasuk dengan rekomendasi al-Muqtadir Billah; sebagai khalifah ketika itu. Kita tidak perlu mendiskusikan adakah unsur politis yang melatarbelakangi hukuman pancung terhadap al-Hallaj ini atau tidak?! Secara sederhana saja, sejarah telah mencatatkan bahwa yang membawa al-Hallaj ke hadapan pedang kematian adalah karena akidah hulûl dan ittihâd yang dituduhkan kepadanya.
Setelah perundingan yang cukup panjang, wali songo memutuskan bahwa tidak ada hukuman yang setimpal bagi kesesatan Syaikh Siti Jenar kecuali hukum bunuh, persis seperti yang telah dilakukan oleh para ulama di Baghdad terhadap al-Hallaj. Di sini kita juga tidak perlu repot memperdebatkan apakah latar belakang politis yang membawa Syaikh Siti Jenar kepada kematian?! Terlebih dengan mencari kambing hitam dari para penguasa saat itu atau dari para wali songo sendiri yang “katanya” merasa dikalahkan pengaruhnya oleh Syaikh Siti Jenar. Pernyataan semacam ini jelas terlalu dibuat-buat, karena sama dengan berarti menyampingkan nilai-nilai yang telah diajarkan dan diperjuangkan wali songo itu sendiri. Juga dapat pula berarti menilai bahwa keikhlasan-keikhlasan para wali songo tersebut sebagai sesuatu yang tidak memiliki arti, atau istilah lain melihat mereka dengan pandangan su’uzhan (berburuk sangka). Tentunya, jangan sampai kita terjebak di sini.
• • •
Pasca wali songo, pada permulaan abad ke tiga belas hijriah, di salah satu kepulauan di wilayah Nusantara lahir sosok ulama besar. Di kemudian hari tokoh kita ini sangat dihormati tidak hanya oleh orang-orang Indonesia dan sekitarnya, tapi juga oleh orang-orang timur tengah, bahkan oleh dunia Islam secara keseluruhan. Beliau menjadi guru besar di Masjid al-Haram dengan gelar “Sayyid ‘Ulamâ’ al-Hijâz”, juga dengan gelar “Imâm ‘Ulamâ’ al-Haramain”. Berbagai hasil karya yang lahir dari tangannya sangat populer, terutama di kalangan pondok pesantren di Indonesia. Beberapa judul kitab, seperti Kâsyifah al-Sajâ, Qâmi’ al-Thughyân, Nûr al-Zhalâm, Bahjah al-Wasâ’il, Mirqât Shu’ûd al-Tashdîq, Nashâ’ih al-‘Ibâd, dan Kitab Tafsir al-Qur’an Marâh Labîd adalah sebagian kecil dari hasil karyanya. Kitab-kitab ini dapat kita pastikan sangat akrab di lingkungan pondok pesantren. Santri yang tidak mengenal kitab-kitab tersebut patut dipertanyakan “kesantriannya”.
Tokoh kita ini tidak lain adalah Syaikh Nawawi al-Bantani. Kampung Tanara, daerah pesisir pantai yang cukup gersang di sebelah barat pulau Jawa adalah tanah kelahirannya. Beliau adalah keturunan ke-12 dari garis keturunan yang bersambung kepada Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) Cirebon. Dengan demikian dari silsilah ayahnya, garis keturunan Syaikh Nawawi bersambung hingga Rasulullah.
Perjalanan ilmiah yang beliau lakukan telah menempanya menjadi seorang ulama besar. Di Mekah beliau berkumpul di “kampung Jawa” bersama para ulama besar yang juga berasal dari Nusantara, dan belajar kepada yang lebih senior di antara mereka. Di antaranya kepada Syaikh Khathib Sambas (dari Kalimantan) dan Syaikh ‘Abd al-Ghani (dari Bima NTB). Kepada para ulama Mekah terkemuka saat itu, Syaikh Nawawi belajar di antaranya kepada as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (mufti madzhab Syafi’i), as-Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi, Syaikh ‘Abd al-Hamid ad-Dagestani, dan lainnya.
Dari didikan tangan Syaikh Nawawi di kemudian hari bermunculan syaikh-syaikh lain yang sangat populer di Indonesia. Mereka tidak hanya sebagai tokoh ulama yang “pekerjaannya” bergelut dengan pengajian saja, tapi juga merupakan tokoh-tokoh terdepan bagi perjuangan kemerdekaan RI. Di antara mereka adalah; KH. Kholil Bangkalan (Madura), KH. Hasyim Asy’ari (pencetus gerakan sosial NU), KH. Asnawi (Caringin Banten), KH. Tubagus Ahmad Bakri (Purwakarta Jawa Barat), KH. Najihun (Tangerang), KH. Asnawi (Kudus) dan tokoh-tokoh lainnya.
Pada periode ini, ajaran Ahlussunnah; Asy’ariyyah Syafi’iyyah di Indonesia menjadi sangat kuat. Demikian pula dengan penyebaran tasawuf yang secara praktis berafiliasi kepada Imam al-Ghazali dan Imam al-Junaid al-Baghdadi, saat itu sangat populer dan mengakar di masyarakat Indonesia. Penyebaran tasawuf pada periode ini diwarnai dengan banyaknya tarekat-tarekat yang “diburu” oleh berbagai lapisan masyarakat. Dominasi murid-murid Syaikh Nawawi yang tersebar dari sebelah barat hingga sebelah timur pulau Jawa memberikan pengaruh besar dalam penyebaran ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah. Ajaran-ajaran di luar Ahlussunnah, seperti faham “non madzhab” (al-Lâ Madzhabiyyah) dan akidah hulûl atau ittihâd serta keyakinan sekte-sekte sempalan Islam lainnya, memiliki ruang gerak yang sangat sempit sekali.
• • •
Di wilayah timur Nusantara ada kisah melegenda tentang seorang ulama besar, tepatnya dari wilayah Makasar Sulawesi. Sosok ulama besar tersebut tidak lain adalah Syaikh Yusuf al-Makasari. Agama Islam masuk ke wilayah ini pada sekitar permulaan abad sebelas hijriah. Dua kerajaan kembar; kerajaan Goa dan kerajaan Talo yang dipimpin oleh dua orang kakak adik memiliki andil besar dalam penyebaran dakwah Islam di wilayah tersebut. Saat itu banyak kerajaan-kerajaan kecil yang menerima dengan lapang dada akan kebenaran ajaran-ajaran Islam. Tentu perkembangan dakwah ini juga didukung oleh kondisi geografis wilayah Sulawesi yang sangat strategis. Di samping sebagai tempat persinggahan para pedagang yang mengarungi lautan, daerah Sulawesi sendiri saat itu sebagai penghasil berbagai komuditas, terutama rempah-rempah dan hasil bumi lainnya.
Di kemudian hari kelahiran Syaikh Yusuf menambah semarak keilmuan, terutama ajaran tasawuf praktis yang cukup menjadi primadona masyarakat Sulawesi saat itu. Syaikh Yusuf sendiri di samping seorang sufi terkemuka, juga seorang alim besar multi disipliner yang menguasai berbagai macam disiplin ilmu agama. Latar belakang pendidikan Syaikh Yusuf menjadikannya sebagai sosok yang sangat kompeten dalam berbagai bidang. Tercatat bahwa beliau tidak hanya belajar di daerahnya sendiri, tapi juga banyak melakukan perjalanan (rihlah ‘ilmiyyah) ke berbagai kepulauan Nusantara, dan bahkan sempat beberapa tahun tinggal di negara timur tengah hanya untuk memperdalam ilmu agama.
Perjalanan ilmiah Syaikh Yusuf di kepulauan Nusantara di antaranya ke Banten dan bertemu dengan Sultan ‘Abd al-Fattah (Sultan Ageng Tirtayasa), yang merupakan putra mahkota kerajaan Banten saat itu. Dengan orang terakhir ini Syaikh Yusuf cukup akrab, bahkan dengannya bersama-sama memperdalam ilmu agama. Selain ke Banten, Syaikh Yusuf juga berkunjung ke Aceh dan bertemu dengan Syaikh Nuruddin ar-Raniri. Darinya, Syaikh Yusuf mendapatkan ijazah beberapa tarekat, di antaranya tarekat al-Qadiriyyah. Walaupun sebagian ahli sejarah mempertanyakan kebenaran adanya pertemuan antara Syaikh Yusuf dengan Syaikh Nuruddin ar-Raniri, namun hal penting yang dapat kita tarik sebagai benang merah ialah bahwa jaringan tarekat saat itu sudah benar-benar merambah ke berbagai kepulauan Nusantara. Dan bila benar bahwa Syaikh Yusuf pernah bertemu dengan Syaikh Nuruddin al-Raniri serta mengambil tarekat darinya, maka dapat dipastikan bahwa ajaran-ajaran yang disebarkan Syaikh Yusuf di bagian timur Nusantara adalah ajaran Ahlussunnah; dalam akidah madzhab Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan dalam fikih madzhab Imam Muhammad ibn Idris as-Syafi’i.
Kepastian bahwa Syaikh Yusuf seorang Sunni tulen juga dapat dilihat dari perjalanan ilmiah beliau yang dilakukan ke Negara Yaman. Di negara ini Syaikh Yusuf belajar kepada tokoh-tokoh terkemuka saat itu. Di negara ini pula Syaikh Yusuf mendapatkan berbagai ijazah tarekat mu’tabarah. Di antaranya tarekat al-Naqsyabandiyyah, tarekat al-Syatariyyah, tarekat al-Sadah al-Ba’alawiyyah, tarekat al-Khalwatiyyah dan lainnya.
Latar belakang keilmuan Syaikh Yusuf ini menjadikan penyebaran tasawuf di di wilayah Sulawesi benar-benar dilandaskan kepada akidah Ahlussunnah. Ini dikuatkan pula dengan karya-karya yang ditulis Syaikh Yusuf sendiri, bahwa orientasi karya-karya tersebut tidak lain adalah Syafi’iyyah Asy’ariyyah. Kondisi ini sama sekali tidak memberikan ruang kepada akidah hulûl atau ittihâd untuk masuk ke wilayah “kekuasaan” Syaikh Yusuf al-Makasari.

Aqidah Leluhur Bani ‘Alawi adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah

jalan-nan-lurus1

Sabda Nabi : ” setiap sabab (penyebab pertalian keturunan) dan nasab (pengikat garis keturunan) akan terputus pada hari kiamat, kecuali sabab dan nasabku (HR Baihaqi).
Bani Alawi atau dalam litelatur disebut Baalwi mempunya dua arti, secara umum Bani Alawi adalah mereka keturunan Ali bin Abi Thalib, di dalam Kamus Lisanul Arab, AL Allamah Ibnu Mundzir mengatakan “idza nusiba Arrajul ila Ali bin Abi Thalib, qoluu Alawi, ketika ada seorang lelaki di nisbatkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib, orang Arab mengatakan Alawi, sedangkan secara khusus Bani Alawi adalah mereka keturunan imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad Almuhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al Uraidhi bin Ja’far Ashadiq bin Muhammad Al Baqir bin Imam Assajad Ali Zainal Abidin bin Imam Husain bin Fatimah binti Muhammad Rasulullah.
Para Leluhur Bani Alawi mencintai para sahabat Rasulullah, di dalam kitab Al Iqdun Nabawi, Alhabib Syekh bin Abdullah bin Syekh bin Abdullah bin Abu Bakar Al Aidrus ( 919-990 H. beliau berguru kepada Al Imam Ahmad bin Hajar Al Haitami ) menuliskan Pernyataan Imam Assajad Ali Zainal Abidin Bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, dikisahkan sejumlah warga irak mendatangi Imam Ali bin Husain. Mereka mencela sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman. Setelah mereka selesai berbicara, Imam Assajad Ali Zainal Abidin Bin Husain balik bertanya kepada mereka : “Maukah kalian menerangkan kepadaku, apakah kalian termasuk orang-orang yang melakukan hijrah pada tahap awal, sebagaimana tersebut dalama wahyu Allah berikut : Orang-orang yang diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka karena mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar (Al- Hasyr, 59:8). ?” Mereka warga irak menjawab : “Bukan”.
Imam Assajad Ali Zainal Abidin Bin Husain selanjutnya berkata “Apakah kalian termasuk orang-orang yang tersebut dalam wahyu Allah berikut: Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (sahabat Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (sahabat Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang-orang Muhajirin) dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). (al Hasyr 59:9) ?” . “Bukan” jawab mereka, Imam Assajad Ali Zainal Abidin Bin Husain pun berkata : ” Kalian telah mengakui bahwa kalian bukan bagian dari kedua kelompok yang tersebut dalam ayat di atas, dan kini aku bersaksi bahwa kalian juga bukan dari kelompok orang-orang yang tersebut dalam ayat berikut ini : Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa : Duhai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Duhai tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (Al-Hasyr, 59:10). Imam Assajad Ali Zainal Abidin Bin Husain selanjutnya berkata : “0leh karena itu, pergilah (enyahlah) kalian dari sisiku”.
Pernyataan Imam Muhammad Al Baqir bin Imam Assajad Ali Zainal Abidin Bin Husain.
Dalam kitab Iqdun Nabawi Alhabib Syekh bin Abdullah bin Syekh bin Abdullah bin Abu Bakar Al Aidrus menuliskan : Bahwa Imam Ja’far Asshadiq bin Imam Muhammad Al Baqir berkata bahwa ayahnya, yaitu Imam Muhammad Al Baqir bin Imam Assajad Ali Zainal Abidin Bin Husain bercerita : ” Pada suatu hari seseorang datang menemui ayahku, Ali Zainal Abidin bin Husain dan berkata : “Ceritakan padaku perihal Abu Bakar.” “Abu Bakar Ash Shiddiq kah yang kau maksud?” Tanya ayahku. “Semoga Allah merahmatimu, engkau menyebutnya Ash Shiddiq?” tanya orang itu keheranan. ” Lalu Ayahku berkata kepada orang tadi : “Celaka dirimu. Gelar Ash Shiddiq itu telah diberikan oleh seseorang yang lebih baik dariku dan darimu, yaitu Rasulullah, begitu pula kaum Muhajirin dan Anshar. Maka, barangsiapa tidak mau menyebut Abu Bakar dengan sebutan Ash Shiddiq, dia tidak akan dibenarkan Allah azza wa jalla”.
Pernyataan Imam Ja’far Ash Shadiq.
Imam ja’far Ash Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Fathimah binti Muhammad Rasulullah, lahir pada tahun 80 H atau 83 H dan wafat tahun 148 H. Dari garis ayahnya, beliau adalah cicit Rasulullah, dari garis ibunya, beliau adalah cicit Khalifah Abu Bakar Ash Siddiq. Ibu beliau adalah Farwah binti Alqasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash Siddiq. Sedangkan ibunya Farwah bernama Asma binti Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq. Karena itulah Imam Ja’far berkata, “Aku dilahirkan oleh Abu Bakar dua kali”. (Syarhul Ainiyyah, Ahmad Bin Zain Al Habsyi, hal 22.)
Zuhair bin Muawiyah menceritakan bahwa ayahnya Muawiyah pernah berkata kepada Imam Ja’far Ash Shadiq sebagai berikut : “Tetanggaku mengatakan bahwa engkau berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar, benarkah itu?”  beliau menjawab, “Allah berlepas diri dari tetanggamu. Demi Allah, sesungguhnya aku berharap Allah memberiku manfaat berkat hubungan kekerabatanku dengan Abu Bakas Ash Shiddiq.
Imam Ja’far berkata kepada Salim bin Abu Hafshah: “Hai Salim, akankah seorang cucu mencaci kakeknya?” “Tidak,” jawab Salim. “Abu Bakar adalah kakekku. Jika aku tidak mengangkat Abu Bakar dan Umar sebagai pemimpin dan tidak berlepas diri dari musuh keduanya, maka kelak di hari kiamat aku tidak akan mendapatkan syafaat Nabi Muhammad” ujar Imam Ja’far. Ketika menjenguk Imam Ja’far yang sedang sakit, Salim bin Abu Hafshah mendengar beliau berkata : “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai Abu Bakar dan Umar serta mengakui keduanya sebagai pemimpin (khalifah). Jika di hatiku tersimpan keyakinan yang berlainan dengan ucapanku (taqiyah) ini, maka jangan Engkau beri aku syafaat Nabi Muhammad “  (Al Iqdun Nabawi juz 1 hal 230, Syekh bin Abdullah bin Syekh bin Abdullah bin Abu bakar Al Aidrus).
Pernyataan Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad.
Dalam sebuah syairnya, ketika menceritakan kemuliaan para sahabat, Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad RA berkata :
Para Sahabat Nabi adalah imam-imam yang mulia. Baik kaum Muhajirin maupun Anshar para pembela. Merekalah bintang-bintang hidayah, orang-orang yang mulia dan suka berderma. Mereka emban amanah dengan baik. Begitu pula pengikut mereka yang mendekatkan diri kepada Allah dengan baik. Serta mencontohkan dan meneladani mereka. Mereka adalah kaum yang telah memperoleh hidayah Allah. Maka ikuti mereka selalu. Jangan sekali-kali melepaskan diri dan berpaling dari mereka. Sesungguhnya, mereka adalah tempat terbitnya hidayah dan mereka telah menyampaikan ilmu Quran dan Sunnah, Maka, barang siapa mencaci mereka, berarti ia telah menghancurkan pondasi agamanya Dan menceburkan diri dalam (ganasnya) bid’ah dan kesesatan. Ketahuilah, setelah petunjuk Al-Mushtafa dan sahabatnya Tiada petunjuk lain. Setelah kebenaran, yang ada hanyalah kesesatan. ( Addurul Mandzum Li Dzawil Uqul Wal Fuhum, lil Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad , hal 113-114 ).
Data-data diatas menunjukkan bahwa sikap Bani Alawi dan segenap leluhurnya hingga Nabi Muhammad, bersebrangan dengan aliran Syi’ah. Kesimpulan ini didukung oleh berbagai data yang terdapat dalam buku maupun nasihat mereka. Dalam bukunya Albarqah Almasyiqah, Habib Ali bin Abu Bakar As Sakran menulis : Adapun anak cucu Imam Ahmad Al Muhajir bin Isa yang tiba di Hadhramaut dan kemudian tinggal di Tarim, mereka adalah Asyraf yang sunni.
Dalam kitabnya Tatsbitul Fuad juz II hal 226, Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad bercerita : Seorang penganut syiah di Madinah bertanya kepada salah seorang sadah dari keluarga Ba Alawi, “Apa pendapatmu tentang Syiah dan Ibadhiah?” Ia menjawab “Seperti kotoran hewan di belah dua”. Dalam kesempatan lain, beliau Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad berkata : “Ahlul Rifd (rafidhah, syiah) adalah orang-orang yang batil. Dalam segala hal, mereka tidak disebut dan tidak dianggap”.
Al Habib Alwi bin Ahmad, cicit Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad, dalam bukunya Syarhu Ratibil Haddad menyebutkan alasan mengapa kakeknya menyusun Ratibil Haddad : Ratib yang mulia ini disusun oleh Sayyiduna Shahibur Ratib Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad ketika beliau mendengar masuknya paham syiah zaidiyah ke Hadhramaut. Beliau khawatir syi’ah zaidiyah ini akan merubah akidah kaum awam. Maka, pada malam 17 ramadhan 1071 H beliau susun ratib ini. Malam itu adalah malam lailatur qadar, sebagaimana disebutkan oleh murid beliau Al Ahsai. Dalam Ratib ini Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad menyebutkan Bahwa “Alkhoiru Was Syarru Bi Masyi’atillah” kebaikan dan keburukan itu terjadi atas kehendak Allah. Kalimat ini sengaja beliau cantumkan dalam ratibnya untuk menolak paham qadariah yang dianut oleh orang-orang yang suka berbuat bid’ah (dalam akidah) dan semua kaum syiah zaidiyah. Qadariah adalah aliran yang tidak mempercayai takdir. Keyakinan ini dianut oleh mu’tazilah dan syi’ah.
Data diatas cukup membuktikan bahwa Bani Alawi bersebrangan dengan syiah manapun.
Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah.
Sejak awal Bani Alawi berakidah Ahlussunnah wal jamaah sebagaimana disampaikan oleh tokoh-tokoh mereka dari generasi ke generasi hingga saat ini.
Habib Abdullah Al Aidrus Al Akbar (orang yang pertama bergelar Al Aidrus) bin Abu Bakar Assakran bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladawilah (w 865) dalam bukunya Al Kibritul Ahmar yang tidak lebih dari 23 halaman menuliskan : Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah adalah sebagaimana terdapat dalam syair Syekh Abdullah bin As’ad Al Yafi’i. Berikut beberapa bait syai Al Yafi’i yang disebutkan oleh Habib Abdullah Al Aidrus : Sebaik-baik masa adalah masa sahabat, urutan yang terbaik diantara mereka adalah tepat seperti yang telah mereka tetapkan, mereka semua bintang-bintang yang membawa petunjuk semuanya adil dan murah hati, kemuliaan mereka telah dikenal dan tak dapat dipungkiri dari mereka semu As Shiddiq lah yang paling utama Beliau seorang yang mulia, sedangkan posisi ke empat dalam kemuliaan di pegang oleh Haidar ( sayidina Ali bin Abi Thalib ) yang memiliki kemulian.  Jejak Al Habib Abdullah Al Aidrus di ikuti oleh adik beliau, Habib Ali bin Abu Bakar As Sakran, setelah mencantumkan bait-bait diatas secara lengkap, Habib Ali pun menyatakan : Inilah bait-bait syair agung, mulia, penuh berkah serta mengandung banyak manfaat dan faedah. Guru-guru kami seperti Syeikh Abdullah Al Aidrus bin Abu Bakar As Sakran, serta guru-guru lain dari golongan sadah (bentuk jama’ dari sayyid), senantiasa mewasiatkan kami untuk menghapalkan dan memahami isinya dengan baik. (Ma’arijul Hidayah, lil Habib Ali bin Abu Bakar As Sakran, hal 29).
Habib Ali bin Abu Bakar As Sakran juga menuliskan : Duhai Saudaraku, Jauhilah bid’ah (dalam aqidah) dan para pelakunya. Tinggalkan dan singkirkan segala bid’ah. Berpalinglah dari para pelakunya dan jangan bergaul dengan mereka. Ketahuilah, sumber bid’ah di dalam ushul (akidah) ada tujuh, sebagaimana disebutkan oleh para ulama, yaitu : Pertama, Al Mu’tazilah yang menyatakan bahwa Hambalah yang menciptakan amal-amal mereka. Kelompok ini meyaqini bahwa Allah tidak mungkin dapat dilihat (di dunia maupun di akhirat) serta Allah wajib memberikan pahala kepada orang yang berbuat kebaikan dan wajib menyiksa orang yang berbuat maksiat. Mu’tazilah terbagi menjadi dua puluh aliran. Kedua, Syi’ah, yaitu orang-orang yang melampui batas di dalam mencintai Ali, mereka terbagi menjadi dua puluh aliran. Ketiga, Khawarij, mereka terlalu berlebihan dalam membenci Ali. Dalam pandangan mereka, Ali dan orang-orang yang memiliki dosa besar adalah kafir. Mereka ini pecah menjadi dua puluh aliran. Keempat, Murji’ah, mereka berpendapat bahwa jika seseorang telah beriman, maka maksiat tidak akan membawa keburukan baginya dan jika seseorang kafir, maka taat tidak bermanfaat untuknya. Mereka pecah menjadi lima aliran. Kelima, Najjariyah, pendapat mereka di dalam masalah penciptaan amal sama dengan Ahlussunnah sedangkan dalam masalah peniadaan sifat-sifat Allah dan bahwasanya Kalamullah itu bersifat baru, mereka sama dengan Mu’tazilah. Mereka pecah menjadi tiga aliran. Keenam, Jabariyah, yang berpendapat bahwa manusia sama sekali tidak memiliki ikhtiar. Mereka hanya satu aliran. Ketujuh, Musyabbihah, mereka menyatakan bahwa Allah memiliki tubuh dan sifat yang sama dengan makhluk Nya, Allah punya dua mata, dua tangan, dua kaki, Allah sakit, tertawa dan juga Allah dapat menitis (hulul) kepada makhluk-Nya. Mereka hanya satu aliran. Itulah tujuh puluh dua golongan yang akan masuk neraka terlebih dahulu. Adapun golongan yang selamat adalah Ahlussunnah. ( Ma’arijul Hidayah, lil Habib Ali bin Abu Bakar As Sakran hal 29 ).

Sejarah Para Pejuang Hadits Rasul SAW

ahli-hadits

Dalam kesempatan ini, kami akan kembali mengulas lagi sedikit tentang bagaimana sejarah pejuang para ahlul hadits yang meneruskan hadits – hadits Rasul Saw dari para ulama. Bahwa kita semua Ahlussunnah wal jamaah adalah mengambil dalam satu sanad walaupun dalam madzhab yang berbeda. Madzhabnya yang ada pada ahlussunnah wal jamaah yang masih ada hingga saat ini adalah 4 Madzhab besar, yaitu Madzhab Imam Malik, Madzhab Imam Hanafi, Madzhab Imam Syafi’i dan Madzhab Imam Hambali.

Dan keempatnya ini bukan terpecah – belah sanadnya tapi merupakan satu sanad. Sanad adalah mata rantai guru atau rantai periwayat. Al Imam Ahmad bin Hanbal adalah murid Imam Syafi’i dan Imam Syafi’i adalah murid Imam Malik dan Imam Malik hidup satu zaman dengan Imam Hanafi. Dan Imam Hanafi ini adalah tabi’in bersama Imam Malik yang berguru kepada para Sahabat Rasulullah Muhammad Saw. Jadi keempat Imam Madzhab ini adalah satu rumpun bukannya berpecah pecah dari sanad yang berbeda. Sama rumpunnya walaupun fatwa mereka berbeda.
Oleh sebab itu berbeda dengan mereka yang diluar ahlussunnah wal jamaah karena rumpunnya berbeda. Entah mengambil jalur guru dari mana, karena keempat madzhab ini berasal dari satu rumpun, karena mengambil dari satu rumpun dari tabi’in dari sahabat Rasul dari Rasulullah Muhammad Saw. Di dalam ilmu hadits kita mengenal derajat ahli hadits yang diantaranya di sebut Al Hafidh, Hujjatul Islam, Al Hakim. Dan kita perlu menjabarkan sebagaimana diperjelas oleh Al Imam Ibn Hajar Asqalani di dalam kitabnya Nukhfathul Fiikar bi Syarah Nukhfathul Fiikar beliau menjelaskan bahwa derajat para pakar hadits terendah adalah Al-Hafidh.
Al-Hafidh adalah orang yang telah menghafal 100.000 hadits beserta sanad dan hukum matannya. Mereka yang sudah hafal 100.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya maka mereka sudah mencapai gelar Al-Hafidh. Al-Hafidh di dalam ilmu hadits bukan seorang yang hafal alqur’an, kalau Al Hafidh di dalam ilmu hadits adalah yang hafal 100.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya. Padahal kalau haditnya panjangnya 1 baris, kalau disertakan dengan sanad dan hukum matannya bisa menjadi 2 halaman panjangnya. Mereka inilah orang – orang jenius yang dipilih oleh Allah Swt untuk menjaga syariatul muthaharoh (syariah yang suci) sebagaimana mereka – mereka itu tidak bisa percaya kalau ada jutaan hadits atau jutaan kalimat masuk ke dalam microchip yang kecil seperti ujung ibu jari maka di masa sekarang kita sulit percaya pada orang yang hafal 100.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya.
Akan tetapi Allah Swt menjaga syariah ini dengan keberadaan mereka dan jumlah mereka bukan hanya 1 atau 2 tapi ribuan para huffadh dimasa itu, masa kejayaan para tabi’in, para tabiut tabi’in dan orang sesudahnya. Kita mengenal 7 nama dari periwayat hadits terbesar, karena para muhaddits itu banyak orangnya, banyak ahli hadits yang mengumpulkan hadits dan mencatatnya tapi diantaranya terdapat 7 Imam Besar yang terkuat riwayatnya diantara lainnya, yaitu Al Imam Ahmad bin Hambal, Al Imam Nasa’i, Al Imam Tirmidzi, Al Imam Ibn Majah, Al Imam Abi Dawud, Al Imam Muslim dan Al Imam Bukhari. Ketujuh imam ini lebih kuat riwayatnya daripada yang lainnya. Yang lainnya masih banyak, ada Imam Daruquthni, Imam Hakim dan lainnya. Yang ketujuh ini diklasifikasikan lagi yaitu menjadi “Imam Kutubussithah” yaitu 6 Imam Besar yang tadi disebutkan terkecuali Imam Ahmad bin Hambal.
Imam Ahmad bin Hambal peringkat yang nomor 7 dan yang terakhir. Ia pun tidak termasuk dalam klasifikasi 6 imam besar. Yang terbawah Imam Ahmad bin Hambal dari 7 periwayat hadits terbesar, beliau ini hafal 1 juta hadits beserta sanad dan hukum matannya. Dan Imam Ahmad bin Hambal terkenal dengan gelar “Sayyidul Huffadh“, salah seorang dari yang paling banyak hafalan haditsnya. Ini derajat yang ketujuh, bagaimana dengan imam – imam besar yang diatas beliau?. Subhanallah.
Dan Imam Ahmad bin Hambal ini adalah murid Imam Syafi’I, Oleh sebab itu jika di masa sekarang muncul orang yang menghina, meremehkan fatwa Imam Syafi’i, semata karena ia tidak mengerti siapa Imam Syafi’i. imam Syafi’i mempunyai murid yang banyak diantaranya Imam Ahmad bin Hambal dan beliau hafal 1 juta hadits beserta sanad dan hukum matannya.
Ketika salah seorang datang kepada Imam Ahmad bin Hambal bahwa ia ingin menjadi muridnya, Imam Ahmad bin Hambal memberikan 1 tumpukan hadits seraya berkata “ini ada 10.000 hadits, kau hafalkan dulu kalau sudah hafal baru bisa jadi muridku“. Demikian syaratnya menjadi murid seorang imam besar, seorang muhaddits besar dan orang semacam Imam Ahmad bin Hambal tidak akan menerima seorang murid terkecuali ia telah menghafal lebih dari 10.00 hadits.maka orang tersebut menghafal hadits – hadits tersebut, ketika ia lulus dan mampu ia datang kepada Imam Ahmad bin Hambal seraya berkata “aku sudah hafal wahai imam, 10.000 hadits yang kau berikan“. Imam Ahmad bin Hambal berkata, “itu 10.000 hadits adalah hadits palsu, bukan hadits yang shahih, bukan pula hadits hasan bukan pula hadits dhaif derajatnya tapi terkecuali itu adalah hadits palsu“. Maka berkata muridnya “wahai imam, kau beri aku 10.000 hadits palsu?“, dan Imam Ahmad menjawab “itu untuk memperkuat hafalanmu“.
Demikianlah cara mereka menjaga ilmu hadits, kenapa? Jika kau menghafal hadits shahih dan salah, kau akan menipu umat hingga akhir zaman. Oleh sebab itu diberi hadits palsu, kalau salah tidak berdosa, tidak menipu umat. Jika kuat hafalannya baru diberikan hadits – hadits shahih dan dimasa itu hadits tidak ditulis tapi dihafal. Berbeda dengan masa sekarang, di masa itu sangat sedikit sekali hadits yang ditulis, semacam Imam Ahmad bin Hambal yang hafal 1 juta hadits beserta sanad dan hukum matannya dan beliau hanya sempat menuliskan 20.000 hadits saja di dalam Musnadnya. Dan 980.000 hadits itu sirna dengan wafatnya beliau dan wafatnya murid – muridnya. Ada yang terjaga pada murid – muridnya jika murid – muridnya tiada menulisnya maka akan sirna. 980.000 hadits dari sanubari Imam Ahmad bin Hambal (hanya 20.000 hadits yg tertulis).
Inilah derajat yang ketujuh, diatasnya ada lagi derajat klasifikasi 6 imam besar. Dari 6 Imam besar ini diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu “Shaikhain yakni Imam Bukhari dan Imam Muslim”. Dan sisanya yang 4 adalah imam lainnya yaitu Imam Nasa’i, Imam Tirmidzi, Imam Abi Dawud dan Imam Ibn Majah. 4 imam besar ini dikalahkan oleh mereka tertinggi yaitu Imam Muslim dan Imam Bukhari. Dan daripada yang tertinggi dari 7 periwayat hadits adalah Imam Bukhari dan kedua adalah Imam Muslim.
Oleh sebab itu Imam Bukhari paling dipegang riwayat haditsnya, kalau sudah diriwayatkan oleh Imam Bukhari tidak ada lagi ahli hadits yang mempermasalahkannya. Hadits riwayat Imam Muslim masih banyak dipermasalahkan kalau Imam Bukhari tidak ada lagi yang mempermasalahkannya. Beliau adalah seorang pemuda jenius, beliau itu bernama Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Bardizbah Al Bukhari, beliau adalah seorang yang sangat mencintai Sayyidina Muhammad Saw.
Imam Bukhari di dalam Tadzkhiratul Huffadh dan Siyar A’lamunnubala dijelaskan saat usianya 17 tahun beliau sudah hafal 200.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya. Di usia 17 tahun, seorang yang sangat jenius yaitu Imam Bukhari sehingga imam – imam lainnya di masa itu melihat bocah kecil ini sudah hafal puluhan ribu bahkan ratusan ribu hadits, mengungguli mereka, diantara yang mengaguminya adalah Imam Muhammad bin Salam, salah seorang senior ahli hadits di masa itu, ia berkata “aku kalau meriwayatkan hadits tidak pernah gemetar kecuali jika ada bocah ini yaitu Imam Bukhari, kalau ia ada disini aku gemetar karena ia lebih tinggi hafalannya dari aku”. Demikianlah Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Bardizbah Al Bukhari.
Derajat yang kedua adalah Imam Muslim. Al-Imam Muslim suatu waktu mendapatkan permasalahan dalam hadits dan ia tidak mampu menjawabnya. Mencari jawaban tidak jumpa dan tidak ketemu akhirnya ia mendatangi Imam Bukhari dan ketika ia menyampaikan permasalah haditsnya maka Imam Bukhari menjawabnya seperti membaca surat al ikhlas, dengan gampangnya dan mudahnya Imam Bukahri menjawab, demikian diriwayatkan di dalam tadzkiratul huffadh. Maka berkata Imam Muslim “ijinkan aku mencium kedua kakimu wahai raja ahli hadits“.
Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Bardizbah Al Bukhari. Beliau lahir tahun 194 H, jauh setelah lahirnya Imam Syafi’i, setelah Imam Syafi’i jadi Imam baru lahir Imam Bukhari. Oleh sebab itu bukan levelnya kalau Imam Bukhari dibandingkan dengan Imam Syafi’i, karena jauh sebelum Imam Bukhari, Imam Syafi’i sudah jadi imam besar dan Imam Bukhari baru lahir ke muka bumi. Akan tetapi Imam Bukhari adalah orang tertinggi yang diakui ilmunya di dalam hadits.
Imam Bukhari adalah orang yang sangat mencintai Rasul Saw seraya menulis Shahih Bukhari sebanyak kurang lebih 7000 hadits, yang beliau tulis diantara makamnya Rasulullah Saw dan mimbarnya Rasulullah Saw di Masjid Nabawiy. Beliau berwudhu lalu shalat sunnah 2 rakaat kemudian menulis 1 hadits, dan kembali berwudhu lalu shalat sunnah 2 rakaat dan kembali menulis hadits sampai mencapai lebih dari 7000 hadits yang sampai saat ini dikenal dengan “Shahih Bukhari“. Dan inilah Asshahhul Kitab, kitab yang paling shahih dari semua hadits – hadits yang shahih.
Dan hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, Ketika Imam Bukhari ditimpa banyak fitnah maka para murid – muridnya berkata, “wahai imam, kenapa tidak kau jawab dengan fatwa – fatwamu, mereka – mereka yang memfitnahmu?”. Imam Bukhari menjawab “aku teringat hadits Rasul Saw, akan kalian lihat hal – hal yang tidak kalian sukai daripada fitnah dan permasalahan kelak dan bersabarlah kalian sampai kalian berjumpa dengan aku di telaga haudku”.
Demikian Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Bardizbah Al Bukhari dan juga imam – imam besar lainnya, mereka para pecinta Rasulullah Saw dan sangat memuliakan Rasul Saw, sebagaimana Imam Ahmad bin Hambal diriwayatkan di dalam Tadzkiratul Huffadh dan Siyar A’lamunnubala, ketika Imam Ahmad bin Hambal ini wafat maka jenazahnya dishalatkan lebih dari 800.000 muslimin – muslimat dan ia pun berwasiat pada putranya, jika aku wafat aku menyimpan 3 helai rambutnya Rasulullah Saw, maka 1 helai rambut taruh dibibirku, yang 2 helai taruh di kedua mataku dan makamkan aku dengan itu. Demikian cintanya Imam Ahmad bin Hambal sehingga ia tidak ingin dikebumikan kecuali dengan terus mencium rambutnya Rasulullah Saw. Demikianlah Mahabbah, demikianlah cinta sang Imam kepada Nabi Muhammad Saw.
Demikian pula Imam Syafi’i, Imam Malik bin Anas bin Malik, seorang yang sangat mencintai Rasul Saw. Imam Malik ini kalau ditanya, maka ia berkata “Kau mau tanya soal hadits atau soal hukum. Kalau bicara hukum, aku jawab. Kalau Tanya soal hadits, tunggu dulu”. Jika orang bertanya hadits, beliau berwudhu, setelah berwudhu lalu memakai minyak wangi, memakai siwaknya, memakai sipat matanya lantas memakai jubahnya baru berkata “Qaala Rasulullah Saw“. Demikian Imam Malik bin Anas bin Malik Alaihi Rahmatullah, beliau adalah seorang Imam di Madinah Al Munawarrah dan menjadi pemimpin para ahli hadits di zamannya seraya menulis kitab hadits yang dinamakan : Almuwatta’, (yg menginjak). Kenapa kitab haditnya ini dinamakan kitab yang menginjak? Karena menundukkan seluruh kitab hadits di masanya, demikian Imam Malik bin Anas bin Malik.
Ketika generasi mereka semakin sirna, Al-Imam Ibn Hajar mengklasifikasikan bahwa derajat ahli hadits yang pertama Al-Hafidh yaitu yang hafal 100.000 hadits beserta sanad dan hukum matannya dan diatasnya terdapat lagi Hujjatul Islam yaitu yang hafal lebih dari 300.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya. Maka kita mengenal Hujjatul Islam Al-Imam Ghazali, beliau ini telah sampai derajat haditsnya melebihi 300.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya. Jika orang di masa sekarang meremehkan fatwa Imam Ghazali, hati – hati beliau itu hafal lebih dari 300.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya. Demikian juga Hujjatul Islam Al-Imam Nawawi dan masih banyak lagi para perawi hadits dan para muhadditsin dari masa ke masa. Tinggallah kita di masa kini yang mesti harus terus membangun generasi para ulama.
Allah Swt terus memuliakan umat ini dari zaman ke zaman, walaupun mereka sudah semakin hari semakin kekurangan ilmu tapi mereka masih mempunyai sanad, mereka masih mempunyai pertalian guru, mereka berguru pada gurunya, gurunya berguru pada gurunya sampai kepada ahli hadits sampai kepada Rasulullah Saw.
Hingga masa kini sangat berharga kita mencari guru yang mempunyai sanad, yang mempunyai hubungan pertalian dengan guru – guru para ahli hadits, para ahli alqur’an, para ahli fiqh dan para ahli syariatul muthaharoh sehingga ilmu kita jelas mengikuti guru yang mempunyai guru yang jelas sanadnya. Berbeda dengan orang yang sembarang mengambil guru, tidak mengetahui gurunya hanya mempunyai buku dan setelah itu fatwanya hanyalah terikat pada huruf – huruf di bukunya. Ketika dimintai pertanggungjawaban di yaumal qiyamah, ia tidak bisa membawa pertanggungjawabnnya karena sanadnya bersambung kepada hal yang terputus.
Oleh sebab itu mari kita benahi umat, kita benahi diri kita kalau seandainya kita sibuk dengan pekerjaan, niatkan keturunan kita kelak menjadi ulama, menjadi pewaris para Nabi, menjadi pejuang syariatul muthaharoh.
(Disadur dari isi ceramah al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa)

Sabtu, 17 Maret 2012

Subhanallah, Kakek 160 Tahun Rajin Baca Al Quran Tanpa Kaca Mata

 

Subhanallah, itulah kata yang tepat  ketika bertemu Muin. Bagaimana tidak, di usia yang sudah menginjak 160 tahun, Muin masih piawai membaca ayat suci Al quran tanpa menggunakan kacamata setiap usai menunaikan ibadah salat lima waktu. Bahkan, pria berusia uzur ini juga masih sanggup mencangkul empat jam dalam sehari.

Lelaki kelahiran Rangkasbitung, Banten, tahun 1850 ini, dikenal sebagai sosok yang suka humor. Aki Muin, biasa ia dipanggil, menuturkan bahwa hidup itu indah kalau sehat, kalau sakit jadi tidak indah, namun ada hikmah yang tetap harus disyukuri.
“Saya makan seperti “kambing” alias makan sayuran dari hasil berkebun saja, tidak pernah membeli. Dan makanan yang berasal dari makhluk hidup seperti daging atau telur saya hindari. Barangkali itu yang membuat mata masih awas untuk membaca Al Quran setelah kegiatan salat wajib,” ujarnya, di Blambanganumpu, Waykanan, Lampung, Jumat (8/10/2010).
Ia mengatakan, dalam mengolah komoditas perkebunan dan pertanian miliknya seperti kopi, terong, kacang panjang, cabai dan padi, sama sekali dia tidak menggunakan pupuk kimia.
“Saya tidak pernah menggunakan pupuk kimia, memanfaatkan yang alami saja, seperti daun atau jerami padi. Saya biasa mulai ke kebun jam 6 pagi, dan biasa mencangkul sekitar 4 jam dalam sehari, maklum sudah ‘kolot’ jadi banyak lelahnya,” katanya seraya memamerkan giginya yang sudah habis.
Ia juga mengaku, tahun 2008 lalu, dia bahkan masih sanggup memanjat pohon aren setinggi kurang lebih 10 meter yang dimilikinya untuk menyadap nira. “Sebelum jatuh dua tahun lalu, saya masih sanggup memanjat pohon aren, tapi sekarang tidak bisa lagi, punggung saya sudah patah, jadi bengkok seperti ini,” katanya.
Terkait sejarah penjajahan Belanda dan Jepang ia mengatakan, hidup di zaman pendudukan negeri Sakura lebih sulit dibandingkan saat tentara Negeri Kincir Angin menguasai Indonesia. “Zaman Jepang pakaian itu susah, saya saja menggunakan kulit dari pohon benda sebagai penutup aurat, seperti sarung atau kebaya, namun lumayan hangat. Tapi saat zaman penjajahan Belanda lumayan mudah, harga rokok 3 sen dapat 20 batang,” ujarnya.
Aki Muin ternyata pernah ikut menjadi tentara sukarela dan digaji 25 perak setiap bulan, namun setelah perang kemerdekaan ia memilih menjadi orang biasa karena ingin bebas.
[via-islam/mt]

Jumat, 09 Maret 2012

Perayaan Maulid Nabi dan Kontroversi Ma'na Bid’ah

Perayaan Maulid Nabi dan Kontroversi Ma'na Bid’ah Peryataan bahwa perayaan maulid Nabi adalah amalan bid'ah adalah peryataan sangat tidak tepat, karena bid'ah adalah sesuatu yang baru atau diada-adakan dalam Islam yang tidak ada landasan sama sekali dari dari Al-Qur'an dan as-Sunah. Adapun maulid  walaupun suatu yang baru di dalam Islam akan tetapi memiliki landasan dari Al-Qur'an dan as-Sunah.

Pada maulid Nabi di dalamya banyak sekali nilai ketaatan, seperti: sikap syukur, membaca dan mendengarkan bacaan Al-Quran, bersodaqoh, mendengarkan mauidhoh hasanah atau menuntut ilmu, mendengarkan kembali sejarah dan keteladanan Nabi, dan membaca sholawat yang kesemuanya telah dimaklumi bersama bahwa hal tersebut sangat dianjurkan oleh agama dan ada dalilnya di dalam Al-Qur'an dan as-Sunah.

Pengukhususan Waktu

Ada yang menyatakan bahwa menjadikan maulid dikatakan bid'ah adalah adanya pengkhususan (takhsis) dalam pelakanaan di dalam waktu tertentu, yaitu bulan Rabiul Awal yang hal itu tidak dikhususkan oleh syariat. Pernyataan ini sebenarnaya perlu di tinjau kembali, karena takhsis yang dilarang di dalam Islam ialah takhsis dengan cara meyakini atau menetapkan hukum suatu amal bahwa amal tersebut tidak boleh diamalkan kecuali hari-hari khusus dan pengkhususan tersebut tidak ada landasan dari syar'i sendiri(Dr Alawy bin Shihab, Intabih Dinuka fi Khotir: hal.27).

Hal ini berbeda dengan penempatan waktu perayaan maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal, karena orang yang melaksanakan maulid Nabi sama sekali tidak meyakini, apalagi menetapkan hukum bahwa maulid Nabi tidak boleh dilakukan kecuali bulan Robiul Awal, maulid Nabi bisa diadakan kapan saja, dengan bentuk acara yang berbeda selama ada nilai ketaatan dan tidak bercampur dengan maksiat.

Pengkhususan waktu maulid disini bukan kategori takhsis yang di larang syar'i tersebut, akan tetapi masuk kategori tartib (penertiban).

Pengkhususan waktu tertentu dalam beramal sholihah adalah diperbolehkan, Nabi Muhammad sendiri mengkhusukan hari tertentu untuk beribadah dan berziaroh ke masjid kuba, seperti diriwatkan Ibnu Umar bahwa Nabi Muhammad mendatangi masjid Kuba setiap hari Sabtu dengan jalan kaki atau dengan kendaraan dan sholat sholat dua rekaat di sana (HR Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar mengomentari hadis ini mengatakan: "Bahwa hadis ini disertai banyaknya riwayatnya menunjukan diperbolehkan mengkhususan sebagian hari-hari tertentu dengan amal-amal salihah dan dilakukan terus-menerus".(Fathul Bari 3: hal. 84)

Imam Nawawi juga berkata senada di dalam kitab Syarah Sahih Muslim. Para sahabat Anshor juga menghususkan waktu tertentu untuk berkumpul untuk bersama-sama mengingat nikmat Allah,( yaitu datangnya Nabi SAW) pada hari Jumat atau mereka menyebutnya Yaumul 'Urubah dan direstui Nabi.

Jadi dapat difahami, bahwa pengkhususan dalam jadwal Maulid, Isro' Mi'roj dan yang lainya hanyalah untuk penertiban acara-acara dengan memanfaatkan momen yang sesui, tanpa ada keyakinan apapun, hal ini seperti halnya penertiban atau pengkhususan waktu sekolah, penghususan kelas dan tingkatan sekolah yang kesemuanya tidak pernah dikhususkan oleh syariat, tapi hal ini diperbolehkan untuk ketertiban, dan umumnya tabiat manusia apabila kegiatan tidak terjadwal maka kegiatan tersebut akan mudah diremehkan dan akhirnya dilupakan atau ditinggalkan.

Acara maulid di luar bulan Rabiul Awal sebenarnya telah ada dari dahulu, seperti acara pembacaan kitab Dibagh wal Barjanji atau kitab-kitab yang berisi sholawat-sholawat yang lain yang diadakan satu minggu sekali di desa-desa dan pesantren, hal itu sebenarnya adalah kategori maulid, walaupun di Indonesia masyarakat tidak menyebutnya dengan maulid, dan jika kita berkeliling di negara-negara Islam maka kita akan menemukan bentuk acara dan waktu yang berbeda-beda dalam acara maulid Nabi, karena ekpresi syukur tidak hanya dalam satu waktu tapi harus terus menerus dan dapat berganti-ganti cara, selama ada nilai ketaatan dan tidak dengan jalan maksiat.

Semisal di Yaman, maulid diadakan setiap malam jumat yang berisi bacaan sholawat-sholawat Nabi dan ceramah agama dari para ulama untuk selalu meneladani Nabi. Penjadwalan maulid di bulan Rabiul Awal hanyalah murni budaya manusia, tidak ada kaitanya dengan syariat dan barang siapa yang meyakini bahwa acara maulid tidak boleh diadakan oleh syariat selain bulan Rabiul Awal maka kami sepakat keyakinan ini adalah bid'ah dholalah.

Tak Pernah Dilakukan Zaman Nabi dan Sohabat

Di antara orang yang mengatakan maulid adalah bid'ah adalah karena acara maulid tidak pernah ada di zaman Nabi, sahabat atau kurun salaf. Pendapat ini muncul dari orang yang tidak faham bagaimana cara mengeluarkan hukum(istimbat) dari Al-Quran dan as-Sunah. Sesuatu yang tidak dilakukan Nabi atau Sahabat –dalam term ulama usul fiqih disebut at-tark – dan tidak ada keterangan apakah hal tersebut diperintah atau dilarang maka menurut ulama ushul fiqih hal tersebut tidak bisa dijadikan dalil, baik untuk melarang atau mewajibkan.

Sebagaimana diketahui pengertian as-Sunah adalah perkatakaan, perbuatan dan persetujuan beliau. Adapun at-tark tidak masuk di dalamnya. Sesuatu yang ditinggalkan Nabi atau sohabat mempunyai banyak kemungkinan, sehingga tidak bisa langsung diputuskan hal itu adalah haram atau wajib. Disini akan saya sebutkan alasan-alasan kenapa Nabi meninggalkan sesuatu:

1. Nabi meniggalkan sesuatu karena hal tersebut sudah masuk di dalam ayat atau hadis yang maknanya umum, seperti sudah masuk dalam makna ayat: "Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.''(QS Al-Haj: 77). Kebajikan maknanya adalah umum dan Nabi tidak menjelaskan semua secara rinci.

2. Nabi meninggalkan sesutu karena takut jika hal itu belai lakukan akan dikira umatnya bahwa hal itu adalah wajib dan akan memberatkan umatnya, seperti Nabi meninggalkan sholat tarawih berjamaah bersama sahabat karena khawatir akan dikira sholat terawih adalah wajib.

3. Nabi meninggalkan sesuatu karena takut akan merubah perasaan sahabat, seperti apa yang beliau katakan pada siti Aisyah: "Seaindainya bukan karena kaummu baru masuk Islam sungguh akan aku robohkan Ka'bah dan kemudian saya bangun kembali dengan asas Ibrahim as. Sungguh Quraiys telah membuat bangunan ka'bah menjadi pendek." (HR. Bukhori dan Muslim) Nabi meninggalkan untuk merekontrusi ka'bah karena menjaga hati mualaf ahli Mekah agar tidak terganggu.

4. Nabi meninggalkan sesuatu karena telah menjadi adatnya, seperti di dalam hadis: Nabi disuguhi biawak panggang kemudian Nabi mengulurkan tangannya untuk memakannya, maka ada yang berkata: "itu biawak!", maka Nabi menarik tangannya kembali, dan beliu ditanya: "apakah biawak itu haram? Nabi menjawab: "Tidak, saya belum pernah menemukannya di bumi kaumku, saya merasa jijik!" (QS. Bukhori dan Muslim) hadis ini menunjukan bahwa apa yang ditinggalkan Nabi setelah sebelumnya beliu terima hal itu tidak berarti hal itu adalah haram atau dilarang.

5. Nabi atau sahabat meninggalkan sesuatu karena melakukan yang lebih afdhol. Dan adanya yang lebih utama tidak menunjukan yang diutamai (mafdhul) adalah haram.dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang lain (untuk lebih luas lih. Syekh Abdullah al Ghomariy. Husnu Tafahum wad Dark limasalatit tark)

Dan Nabi bersabda:" Apa yang dihalalakan Allah di dalam kitab-Nya maka itu adalah halal, dan apa yang diharamkan adalah haram dan apa yang didiamkan maka itu adalah ampunan maka terimalah dari Allah ampunan-Nya dan Allah tidak pernah melupakan sesuatu, kemudian Nabi membaca:" dan tidaklah Tuhanmu lupa".(HR. Abu Dawud, Bazar dll.) dan Nabi juga bersabda: "Sesungguhnya Allah menetapkan kewajiban maka jangan enkau sia-siakan dan menetapkan batasan-batasan maka jangan kau melewatinya dan mengharamkan sesuatu maka jangan kau melanggarnya, dan dia mendiamkan sesuatu karena untuk menjadi rahmat bagi kamu tanpa melupakannya maka janganlah membahasnya".(HR.Daruqutnhi)

Dan Allah berfirman:"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya."(QS.Al Hasr:7) dan Allah tidak berfirman  dan apa yang ditinggalknya maka tinggalkanlah.

Maka dapat disimpulkan bahwa "at-Tark" tidak memberi faidah hukum haram, dan alasan pengharaman maulid dengan alasan karena tidak dilakukan Nabi dan sahabat sama dengan berdalil dengan sesuatu yang tidak bisa dijadikan dalil!

Imam Suyuti menjawab peryataan orang yang mengatakan: "Saya tidak tahu bahwa maulid ada asalnya di Kitab dan Sunah" dengan jawaban: "Tidak mengetahui dalil bukan berarti dalil itu tidak ada", peryataannya Imam Suyutiy ini didasarkan karena beliau sendiri dan Ibnu Hajar al-Asqolaniy telah mampu mengeluarkan dalil-dalil maulid dari as-Sunah. (Syekh Ali Jum'ah. Al-Bayanul  Qowim, hal.28)


Zarnuzi Ghufron
Ketua LMI-PCINU Yaman dan sekarang sedang belajar di Fakultas Syariah wal Qonun  Univ Al-Ahgoff, Hadramaut, Yaman

Mahallul Qiyam

Mahallul Qiyam Warga Nahdliyyin sudah akrab dengan istilah mahallul qiyam, saatnya berdiri, yakni saat dibacakan shalawat:


يَا نَبِي سَلَامْ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلْ سَلَامْ عَلَيْكَ

Wahai Nabi salam kepadamu, Wahai Rasul salam kepadamu

Berdiri untuk menghormati sesuatu sesunguhnya sudah menjadi tradisi kita. Bahkan tidak jarang, orang berdiri untuk menghormati benda mati. Misalnya, setiap kali upacara bendera dilaksanakan pada hari Senin, setiap tanggal 17 Agustus, maupun pada waktu yang lain ketika bendera bendera merah putih dinaikkan dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan maka seluruh peserta upacara diharuskan berdiri. Tujuannya tidak lain hanya untuk menghormati bendera Merah Putih dan untuk menghormati para pejuang bangsa.

Demikian pula dengan berdiri ketika membaca shalawat. Itu adalah salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai hamba Allah yang paling mulia. Nabi Muhammad SAW bersabda,

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُذْرِيّ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْأَنْصَارِ: قُوْمُوْا إلَى سَيِّدِكُمْ أوْ خَيْرِكُمْ. رواه مسلم

Dari Abi Said Al-Khudri, beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda kepda para sahabat Ansor,” Berdirilah kalian untuk tuan kalian atau orang yang paling baik di antara kalian.” (HR Muslim)

Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki menyatakan bahwa Imam Al-Barzanji di dalam kitab Maulid-nya yang berbentuk prosa menyatakan, ”Sebagian para imam hadits yang mulia itu menganggap baik (istihsan) berdiri ketika disebutkan sejarah Nabi Muhammad SAW. Betapa beruntungnya orang yang mengagungkan Nabi dan menjadikan hal itu sebagai puncak tujuan hidupnya. (Al-Bayan wat Ta’rif fi Dzikral Maulid an-Nabawi, hal 29-30)


KH Muhyiddin Abdusshomad
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam, Ketua PCNU Jember

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"









"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog