Tampilkan postingan dengan label Tokoh Islam Sedunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Islam Sedunia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 November 2012

Nasiruddin Al-Tusi, Ilmuwan Persia yang Serba Bisa

Ilmuwan serba bisa. Julukan itu rasanya amat pantas disandang Nasiruddin Al-Tusi. Sumbangannya bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern sungguh tak ternilai besarnya.
Selama hidupnya, ilmuwan Muslim dari Persia itu mendedikasikan diri untuk mengembangkan beragam ilmu seperti, astronomi, biologi, kimia, matematika, filsafat, kedokteran, hingga ilmu agama Islam.
Sarjana Muslim yang kemasyhurannya setara dengan teolog dan filsuf besar sejarah gereja, Thomas Aquinas, itu memiliki nama lengkap Abu Ja'far Muhammad ibn Muhammad ibn Al-Hasan Nasiruddin Al-Tusi.
Ia lahir pada 18 Februari 1201 M di Kota Tus yang terletak di dekat Meshed, sebelah timur laut Iran. Sebagai seorang ilmuwan yang amat kondang di zamannya, Nasiruddin memiliki banyak nama. Antara lain Muhaqqiq Al-Tusi, Khuwaja Tusi, dan Khuwaja Nasir.
Nasiruddin lahir di awal abad ke-13 M, ketika dunia Islam tengah mengalami masa-masa sulit. Pada era itu, kekuatan militer Mongol yang begitu kuat menginvasi wilayah kekuasaan Islam yang amat luas. Kota-kota Islam dihancurkan dan penduduknya dibantai habis tentara Mongol dengan sangat kejam.
Menurut JJ O'Connor dan EF Robertson, pada masa itu dunia diliputi kecemasan. Hilangnya rasa aman dan ketenangan itu membuat banyak ilmuwan sulit untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
Nasiruddin pun tak dapat mengelak dari konflik yang melanda negerinya. Sejak kecil, Nasiruddin digembleng ilmu agama oleh ayahnya yang berprofesi sebagai seorang ahli hukum di Sekolah Imam Keduabelas.
Selain digembleng ilmu agama di sekolah itu, Nasiruddin juga mempelajari beragam topik ilmu pengetahuan lainnya dari sang paman. Menurut O'Connor dan Robertson, pengetahuan tambahan yang diperoleh dari pamannya itu begitu berpengaruh pada perkembangan intelektual Nasiruddin.
Pengetahuan pertama yang diperolehnya dari sang paman antara lain logika, fisika, dan metafisika. Selain itu, Nasiruddin juga mempelajari matematika pada guru lainnya. Ia begitu tertarik pada aljabar dan geometri.
Ketika menginjak usia 13 tahun, kondisi keamanan kian tak menentu. Pasukan Mongol di bawah pimpinan Jengis Khan yang berutal dan sadis mulai bergerak cepat dari Cina ke wilayah barat. Sebelum tentara Mongol menghancurkan kota kelahirannya, dia sudah mempelajari dan menguasai beragam ilmu pengetahuan.
Untuk menimba ilmu lebih banyak lagi, Nasiruddin hijrah dari kota kelahirannya ke Nishapur—sebuah kota yang berjarak 75 kilometer di sebelah barat Tus.
Di kota itulah, Nasiruddin menyelesaikan pendidikan filsafat, kedokteran, dan matematika. Dia sungguh beruntung, karena bisa belajar matematika dari Kamaluddin ibn Yunus. Kariernya mulai melejit di Nishapur. Nasiruddin pun mulai dikenal sebagai seorang sarjana yang hebat.
Pada tahun 1220 M, invasi militer Mongol telah mencapai Tus dan kota kelahiran Nasiruddin pun dihancurkan. Ketika situasi keamanan tak menentu, penguasa Ismailiyah Nasiruddin 'Abdurrahim mengajak sang ilmuwan itu untuk bergabung.
Tawaran itu tak disia-siakannya. Nasiruddin pun bergabung menjadi salah seorang pejabat di Istana Ismailiyah. Selama mengabdi di istana itu, Nasiruddin mengisi waktunya untuk menulis beragam karya yang penting tentang logika, filsafat, matematika, serta astronomi. Karya pertamanya adalah kitab Akhlag-i Nasiri yang ditulisnya pada 1232 M.
Pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan—cucu Jengis Khan—pada tahun 1251 M akhirnya menguasai Istana Alamut dan meluluh-lantakannya. Nyawa Nasiruddin selamat, karena Hulagu ternyata sangat menaruh minat terhadap ilmu pengetahuan.
Hulagu yang dikenal bengis dan kejam memperlakukan Nasiruddin dengan penuh hormat. Dia pun diangkat Hulagu menjadi penasihat di bidang ilmu pengetahuan.
Meski telah menjadi penasihat pasukan Mongol, sayangnya Nasiruddin tak mampu menghentikan ulah dan kebiadaban Hulagu Khan yang membumihanguskan kota metropolis intelektual dunia, Baghdad, pada tahun 1258 M.
Terlebih, saat itu Dinasti Abbasiyah berada dalam kekuasaan Khalifah Al-Musta'sim yang lemah. Terbukti, militer Abbasiyah tak mampu membendung gempuran pasukan Mongol.

Meski tak mampu mencegah terjadinya serangan bangsa Mongol, paling tidak Nasiruddin bisa menyelamatkan dirinya dan masih berkesempatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
"Hulagu sangat bangga karena berhasil menaklukkan Baghdad dan lebih bangga lagi karena ilmuwan terkemuka seperti Al-Tusi bisa bergabung bersamanya,'' papar O'Connor dan Robertson dalam tulisannya tentang sejarah Nasiruddin.
Hulagu juga amat senang, ketika Nasirrudin mengungkapan rencananya untuk membangun Observatorium di Maragha.
Saat itu, Hulagu telah menjadikan Maragha yang berada di wilayah Azerbaijan sebagai ibu kota pemerintahannya.
Pada tahun 1259 M, Nasiruddin pun mulai membangun observatorium yang megah. Jejak dan bekas bangunan observatorium itu masih ada hingga sekarang.
Observatorium Maragha mulai beroperasi pada tahun 1262 M. Pembangunan dan operasional observatorium itu melibatkan sarjana dari Persia dibantu astronom dari Cina.
Teknologi yang digunakan di observatorium itu terbilang canggih pada zamannya. Beberapa peralatan dan teknologi penguak luar angkasa yang digunakan di observatorium itu ternyata merupakan penemuan Nasiruddin, salah satunya adalah 'kuadran azimuth'.
Selain itu, dia juga membangun perpustakaan di observatorium itu. Koleksi bukunya tebilang lengkap, terdiri dari beragam ilmu pengetahuan. Di tempat itu, Nasiruddin tak cuma mengembangkan bidang astronomi saja. Dia pun turut mengembangkan matematika dan filsafat.
Di observatorium yang dipimpinnya itu, Nasiruddin Al-Tusi berhasil membuat tabel pergerakan planet yang sangat akurat. Kontribusi lainnya yang amat penting bagi perkembangan astronomi adalah kitab Zij-i Ilkhani yang ditulis dalam bahasa Persia dan lalu diterjemahkan dalam bahasa Arab. Kitab itu disusun setelah 12 tahun memimpin Observatorium Maragha.
Selain itu, Nasiruddin juga berhasil menulis kitab terkemuka lainnya berjudul Al-Tadhkira fi'ilm Al-Hay'a (Memoar Astronomi). Nasiruddin mampu memodifikasi model semesta episiklus Ptolomeus dengan prinsip-prinsip mekanika untuk menjaga keseragaman rotasi benda-benda langit.
Nasiruddin meninggal dunia pada 26 Juni 1274 M di Baghdad. Meski begitu, jasa dan kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan masih tetap dikenang. Namanya, dibadikan mejadi salah satu nama kawah di bulan./ROL

Badshah Khan: Tokoh Antikekerasan yang Terlupakan


Judul buku itu adalah Non Violent Soldier of Islam. Judul yang menyiratkan sebuah kenyataan getir bahwa seolah predikat "Non Violent" adalah berita besar kalau terkait dengan Islam. Buku yang saya dapat dari dosen saya ketika berkuliah di Kanada itu mengisahkan tentang sosok luar biasa asal India/Pakistan, Badshah Khan. Disayangkan, memang, di tengah hiruk pikuk gerakan Ahimsa yang dipilih Gandhi dan dikenal luas di dunia, nyaris tidak banyak yang diketahui orang tentang Badshah Khan.
Siapa sebenarnya Badshah Khan? Pria tinggi besar menjulang ini terlahir dari kalangan suku Pashtun, sebuah suku di perbatasan Afghanistan dan Pakistan yang terkenal gemar berperang. Mata dibalas mata seakan melengkapi rumus balas dendam turun temurun di antara suku Pashtun, atau Pashto. Jika nama Pashtun dan Badshah Khan relatif tidak dikenal, tetapi nama Taliban pastilah familiar. Hakikatnya Taliban juga berasal dari suku yang sama.
Namun Badshah Khan adalah sebuah anomali. Ke dalam suku yang memiliki karakter keras dan tak segan membalas dendam ini Khan malah memperkenalkan gagasan perdamaian dan antikekerasan. Bahkan, Khan dan Gandhi adalah kawan sejalan yang sama-sama berjuang untuk kaumnya, untuk kemerdekaan negaranya dari penjajahan kolonial Inggris ketika itu. India belum lagi lahir sebagai sebuah negara.
Di antara gagasan Khan yang luar biasa sekaligus dianggap tidak masuk akal oleh banyak orang di sukunya pada saat itu adalah pembentukan Khudai Khidmat Gar--Pasukan Pelayan Tuhan. Sekelompok orang yang dibentuk bukan untuk berperang bahkan ketika terpaksa harus berhadapan langsung dengan pasukan Inggris, mereka tidak boleh menyandang sebilah senjata pun! Orang-orang gila, begitu komentar banyak orang ketika itu.
Namun memang itulah prinsip Khan yang tidak segera dipahami orang: kekerasan hanya akan menghasilkan kekerasan yang sama. Jadi, dengan cara bagaimana Inggris bisa dihalau jika bukan melalui angkat senjata seperti perjuangan kemerdekaan yang terjadi di banyak tempat? Gerakan tanpa kekerasan adalah satu-satunya jawaban. Prinsip ini sejalan dengan Gandhi yang mempromosikan Ahimsa untuk menghentikan aksi brutal pemerintah kolonial Inggris.
Pelan-pelan gagasan yang semula tampak aneh ini malah mulai menunjukkan hasil. Menghadapi orang-orang yang tidak mau membalas dan mengangkat senjata rupanya membingungkan pihak penjajah. Tentu saja banyak korban jatuh di pihak Khan dengan Khudai Khidmat Gar-nya. Namun, sehebat apa pun tekanan yang diterima, tak satu pun dibalas kembali dengan penyerbuan dan pengerahan pasukan besar-besaran. Seiring waktu Inggris pun mundur dari negeri sari. Kelembutan ternyata memenangkan pertempuran.
Namun, konflik tidak lalu mereda. Daratan besar di Asia Selatan yang luas itu tercabik-cabik di antara kepentingan agama. Peristiwa yang terkenal dengan Partition ini menimbulkan luka sejarah yang luar biasa besar. Migrasi penduduk yang semula bersatu di bawah penjajahan Inggris tercerai-berai di antara kepentingan politik dan pada akhirnya membagi wilayah berdasarkan agama. Umat Hindu membentuk negara India, dan Muslim India pindah ke wilayah di seberangnya dan lalu mendirikan Pakistan.
Bagaimana nasib Gandhi dan Khan? Sesungguhnya kedua tokoh luar biasa yang dengan gerakannya berhasil mengusir koloni penjajah yang bersumpah setia kepada Ratu Inggris ini akhirnya menderita didera kepicikan berpikir kaumnya sendiri. Gandhi tewas oleh pengikut ekstremis Hindu yang tidak sepakat dengan Ahimsa-nya, sementara Khan dipenjarakan oleh para pemimpin Pakistan, republik baru yang ikut dia dirikan dengan menyumbangkan gagasan tanpa kekerasan.
Perjuangan Khan memberi mata baru bagi saya bahwa dunia ini seringkali memang membutuhkan orang-orang gila. Orang-orang dengan gagasan radikal tapi membumi–dapat dipraktikkan. Khan mengajarkan kita dan dengan sangat sukses memberikan contoh bahwa kelembutan mengatasi kekasaran dan kekerasan. Dalam kung fu, ilmu Tai-Chi yang berurat berakar pada gerakan-gerakan yang lembut terbukti mampu menghadapi jurus-jurus keras.
Sebagai seorang Muslim saya sering kali tidak paham dengan banyak pihak lainnya yang mengaku Islam tapi malah berbuat onar bahkan melukai kemanusiaan. Islam sangat menjunjung tinggi martabat manusia dan bahkan penghilangan jiwa itu termasuk dosa kemanusiaan yang luar biasa besar: terhadap siapa pun dan pengikut keyakinan mana pun! Jadi, atas dasar apa tindakan kekerasan itu dilakukan?
Dalam perjalanan pulang ke tanah air saya bertemu seorang mahasiswa teologi yang kuliah di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Bersama kami berdiskusi bahwa yang diperlukan umat beriman saat ini bukanlah lagi soal dominasi-subordinasi. Bukanlah bahwa agama yang satu lebih baik dibandingkan yang lain. Doktrin ini harus secara sadar kita kesampingkan agar bisa bersama-sama mewujudkan gagasan kemanusiaan yang universal. Bukankah sebenarnya hidup yang teramat singkat ini akan lebih baik diisi dengan kenikmatan persaudaraan, kasih sayang dan kerukunan? Sebagaimana pesan Khan, “Dunia saat ini semakin aneh. Anda menyaksikan begitu banyak perusakan dan kekerasan. Sementara kekerasan selalu menciptakan kebencian dan ketakutan.  Saya percaya pada perjuangan tanpa kekerasan dan saya katakan bahwa tak akan pernah ada perdamaian serta ketenangan di dunia ini sebelum prinsip non-kekerasan ini terwujud, karena non-kekerasan itulah cinta yang membangkitkan jiwa manusia."
Persis sebagaimana disampaikan Gandhi, jalan non-kekerasan itu bukan salah satu jalan mewujudkan perdamaian, tapi satu-satunya jalan. (***)
Oleh: Salman Faridi,
Alumni Program Master Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga-McGill University, Kanada,
saat ini adalah CEO Bentang Pustaka Yogyakarta.

Selasa, 24 April 2012

Manaqib Kyai Utsman Al-Ishaqi Surabaya

Kyai Ustman sby
AL-LU’LU’U WAL-MARJAN

Dengan pertolongan Alloh swt. ada barokah Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqi R.A. kami berusaha untuk menerbitkan Manaqib Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqi untuk pertama kali dengan bahasa Indonesia, dengan harapan akan mudah difahami oleh kaum muslimin yang mencintai beliau khususnya para muridin dan muridat beliau untuk lebih memantapkan Robithoh kepada beliau sewaktu akan melakukan dzikir serta agar selalu mendapatkan barokah apa saja dari beliau baik di dunia maupun di akhirat nanti khususnya dalam menghadapi sakarotul maut.
Karena dengan selalu dekat kepada guru rahmat Alloh akan selalu mengalir terus kepada murid yang selalu dekat kepada guru tersebut.
Manaqib ini kami bagi menjadi tiga Bab dengan Penjelasan sebagai berikut :
BAB I : Menceritakan tentang biografi beliau sejak di dalam rahim ibu sampai beliau menetap kembali di Surabaya untuk membuka Pesantren dan memimpin Thoriqoh QODIRIYYAH dan NAQSYABANDIYYAH.
BAB II : Menjelaskan tentang keistimewaan dan keluhuran beliau disisi Alloh seperti yang diungkap¬kan oleh para Habaib dan para Auliya’ yang sudah terkenal akan kewaliannya.
BAB III : Membicarakan tentang kekeramatan beliau yang tiada habis-habisnya sampai beliau pulang ke Rahmatulloh.
Demikian manaqib ringkas ini kami sampaikan mudah-madahan ada guna dan manfaatnya untuk kita semua Amin.
Gresik, 20 Syawal 1404 H
Penyusun
H. ABDUL GHOFFAR UMAR
BAB I
Dibawah ini kami murid Hadrotus-Syaikh Al-Arif Billah K.H. MUHAMMAD UTSMAN AL-ISHAQI R.A. bernama H. ABDUL GHOFFAR UMAR Tenger Manyar Gresik, dengan rendah hati menyampaikan sekelumit Manaqib (Biografi) Hadrotus-Syaikh guru Toriqoh AL-QODIRIYYAH WAN NAQSYABANDIYYAH.
Manaqib ini dikumpulkan dari pengakuan dan pernyataan para Habib serta para Ulama yang mengenal Hadrotus-Syaikh baik secara lahir maupun secara batin. Diantaranya pengakuan dan pernyataan dari Habib Alie bin Abdurrohman Al-Habsyi Kwitang Jakarta, Habib Ali bin Husain bin Muhammad Al-Atthos Bungur Besar Jakarta. Habib Abdul Qodir Bilfaqih Malang, Habib Abdulloh Al-Haddad, Habib Zasssin Al-Jufri. Kyai Hamid Karang Binangun Lamongan, Kyai Abdul Hamid Pasuruan, Nyai Khodijah dan lain lain. Juga dari Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman r.a. sendiri sebagai Attahaddus bin-Ni’mah atas dasar Firman Allah :
واما بنعمة ربك فحدث
Juga untuk menjaga jangan sampai ada orang yang mengingkari atau menentangnya atau mencelanya. Juga terhadap Masyayikh yang lain, menyebut manaqib sendiri semacam ini pernah dilakukan oleh Ulama’ terdahulu untuk memperkenalkan hal ihwal mereka kepada orang lain agar ditiru seperti Syaikh Abdul Ghofir Al-Farisi Syaikh Al Asfahany, Syaikh Yaqut Al-Hamawy, Syaikh Abu Al-Robi’ Al-¬Maliki, Syaikh Shofiyuddin Al-Manshur serta Syaikh Jala¬luddin Al-Suyuti, Imam Suyuti umpamanya telah menyebut¬kan Manaqib dirinya dalam kita-kitab Thobaqoh yaitu Thobaqoh Al-Fuqoha’ Thobaqoh Al-Muhadditsin Thobaqoh Al-¬Mufassirin Thobaqoh Al-Nuhaat, Thobaqoh Al-Sufiyah dan Thobaqah Al-Muqriin.
Kata Imam Suyuti : Saya menyebutkan manaqib saya hanyalah mengikuti perbuatan orang-orang salaf yang sholeh-sholeh, dan untuk memperkenalkan hal ihwal saya dalam bidang ilmu agar orang lain menirunya, juga untuk Attahadduts bin ni’mah.
Adapun manaqib Hadrotus-Syaikh yang terperinci dan mendetail ada di dalam kitab “SYIFAUL QULUB LIQOUL MAHBUB” yang disusun oleh Kyai Haji Abdulloh Faqih suci Gresik. dan kemudian kami susun kembali kedalam bahasa Arab secara sistematis dan praktis dalam kitab “AL-LU’LU’ WALMARJAN FI MANIQIBI SYAIKH MUHAMMAD UTSMAN R.A.
Dengan membaca Bismillahirrohmanirrohim kami mulai menyampaikan manaqib (biografi) Hadrotus-Syaikh sebagai berikut :
Menurut nasab yang sudah tersusun rapi di dalam keluarga, Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman adalah seorang sayyid dan seorang habib, sebab itu yang mengandung beliau adalah keturunan Maulana Muhammad Ainul Yaqin Al-mulaqqob bi Sunan Giri bin Maulana Ishaq Al-Husaini dan ayah beliau adalah keturunan Sunan Gunung Jati juga Al-husaini. dengan demikian hadrotus-syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqi anak cucu Rosululloh saw.
Hadrotus-Syaikh dilahirkan di Jatipurwo Surabaya pada hari Rabu bulan Jumadil Akhiroh tahun 1334 H. setelah beliau bertapa selama 16 bulan di dalam rahim ibu beliau dan selama di dalam rahim ibu beliau sering bersin, di dalam bahasa Arab di sebut Al-Atthos, dan sejak kecil keistimewaan dan kekeramatan beliau sudah nampak setelah Hadrotus-Syaikh sudah bisa berjalan. Beliau selalu tidak ada dirumah setelah Maghrib, dan baru pulang setelah jam 11 malam badan beliau penuh dengan lumpur. Ternyata setelah diselidiki, beliau berada di sungai didekap oleh seekor Buaya Putih.
Setiap malam Hadrotus-Syaikh selalu tidur di surau (langgar) bersama nenek beliau Kyai Abdulloh, selain nenek beliau tidak ada seorangpun yang berani mendapingi sewaktu beliau tidur, karena dari mata beliau memancarkan sinar terang seakan-akan mau menembus Iangit bagaikan lampu sorot (battery).
Ketika beliau berumur 6 sampai 7 tahun, pada suatu malam nampak bulan-bulan yang banyak turun dari langit seraya memancarkan sinarnya menuju Hadrotus-Syaikh dan mengitari beliau dari segala arah.
Sejak beliau berumur 4 tahun setiap pagi pada Jam 3.00. Istiwa’ beliau keluar rumah menuju Masjid Jami’ Ampel Surabaya diantar oleh kakak perempuan beliau Nyai Khodijah untuk membaca tarhim (memanggil-manggil sholat fajar) sampai datang waktu Shubuh di menara Masjid.
Setiap kali beliau sampai dipintu gerbang Ampel beliau selalu disambut anak-anak kecil yang banyak se¬kali memakai kopyah putih semua, setelah beliau sampai di masjid anak-anak kecil tersebut hilang entah kemana. Dan baru muncul kembali sewaktu beliau hendak pulang dari masjid pada jam 7.00 pagi untuk mengantarkan beliau ke pintu gerbang. Dan setelah itu mereka menghilang kembali, demikian cerita Nyai Khodijah dan Kyai Anwar.
Ketika beliau umur 7 tahun, beliau sudah mengkhatamkan Al-Qur’an 3 kali dibawah asuhan nenek beliau Kyai Abdullah. Kemudian beliau di khitan (sunat). Barulah beliau berpindah mengaiji ke Kyai Adro’i Nyamplungan, sejak itu sepulangnya beliau dari Ampel, beliau terus menuju ke Nyamplungan untuk mengaji Al-Qur’an, setelah itu beliau menuju ke madrosah Tashwirul Afkar di Gubbah untuk mengaji agama, dan baru pulang setelah jam 10.0 pagi. Seharinya beliau hanya mendapatkan sangu 5 Sen yang berlobang tengah yang beliau tempelkan di kancing baju.
Pernah selama 4 talaun Hadrotus-Syaikh tidak makan kecuali daun-daunan dan buah-buahan dan hanya minum air masak saja. Pada waktu itu beliau tentukan belanja beliau hanya 1/2 Sen. Beliau mengatakan, pada waktu saya masih kecil pada suatu hari saya bernafsu sekali ingin makan, maka sayapun makan sekenyang kenyangnya, tetapi sebagai dendanya Saya harus mengkhatamkan Al-Qur’an satu kali duduk. Dan beliau mengatakan : Pada suatu hari saya menangisi diri saya karena ketika saya sholat saya ingat layang-layang, padahal saya sudah berumur 12 tahun, berarti 3 tahun lagi saya sudah baligh dan Mukallaf, bagaimana kalau saya masih ingat pada layang-layang pada waktu sholat ?!
Kyai Ahmad Asrori Kholifatus Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqi mengatakan kepada kami, bahwa ayah beliau pernah mengatakan : Ketika saya menginjak umur 13 tahun, mata saya melihat Ka’bah di Makkah secara rel dan nyata. Maka mata sayapun saya usap berkali-kali (saya ucek-ucek), tetapi tetap saja yang nampak hanyalah Ka’bah di Makkah. Kemudian saya berpikir, mungkin mata saya sudah rusak, dan saya minta dibelikan kaca mata khusus untuk melihat, akan tetapi hasilnya sama saja. Ka’bah di Makkah tetap nampak di pelupuk mata saya, Kata Kyai Asrori : Itulah awal kasyaf yang dialami oleh Hadrotus-Syaikh, dan sejak itu kata Hadrotus-Syaikh saya melihat orang dengan segala kepribadiannya, ada yang menyerupai Srigala ada yang seperti Truwelu, ada yang seperti Babi, seperti Ayam, Kucing dan lain sebagainya menurut pembawaan nafsunya masing-masing, tetapi saya tidak berani berkata terus terang, sebab itu adalah rahasia seseorang.
Pada suatu hari Hadrotus-Syaikh sampai larut malam tidak pulang dari Madrasah seperti biasanya pada jam 10.00 pagi, maka ributlah orang-orang tua mengkhawatir¬kan beliau. Maka imam Roudloh Kyai Nur atas izin orang tua beliau berangkat mencari beliau, dan oleh karena diberitakan bahwa Hadrotus-Syaikh berada di pondok Kyai Khozin Panji, maka Kyai Nur pun berangkat ke sana. Tetapi sesampai Kyai Nur di Siwalan Panji, Hadrotus-Syaikh sudah Pindah ke pondok Kyai Munir Jambu Madura.
Setelah orang tua beliau mendengar demikian itu, beliau mengatakan : tidak usah mencari Utsman, yang penting dia sehat. Setelah beberapa lama tinggal di pondok, beliau sakit keras, maka terpaksa beliau pulang kerumah. Dan setelah berobat Al-hamdulillah beliau sembuh kembali. Kemudian Hadrotus-Syaikh dipondokkan ke Kyai Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng, selanjutnya beliau dipondokkan ke Kyai Romli Peterongan Jombang. Pada waktu itu Hadrotus-Syaikh benar-benar terikat, beliau mengatakan : sewaktu saya dikirim oleh orang tua saya kepondok, sarung saya hanya satu lembar, apabila najis maka saya memakai tikar sebagai gantinya untuk sholat. Dan selama saya di pondok, saya tidak pernah pulang ke rumah kecuali badan saya sudah kurus benar. Sebab apabila saya pulang dan badan saya gemuk, saya di marahi oleh orang tua dan nenek. Pernah pada suatu hari saya pulang badan saya gemuk, spontan nenek saya mengatakan : Kalau kau tinggal dipondok. untuk makan dan mimurn. Lebih baik tinggal dirumah saja.
Ketika Hadrotus-Syaikh pulang dari pondok, pada suatu hari beliau menyaksikan adanya hubungan-hubungan khusus yang diselenggarakan oleh tujuh orang pemuda dan tujuh orang pemudi setiap hari disamping musholla di muka rumah beliau, maka beliau melihat hal yang tidak senonoh ini akhirnya beliau adukan kepada Kyai Romli dengan mengatakan : yai ! saya melihat ada mutiara di dalam air yang keruh dan najis, apakah saya harus mengentasnya (menyelamatkanya) ? Kyai Romli menjawab : Entaslah wahai Utsman ! dengan syarat hatimu tidak berpaling kepadanya, kalau hatimu berpaling kepadanya, maka kau tidak akan berjumpa denganku besok di Mahsyar. Maka beliaupun mengumpulkan pemuda dan pemudi yang 14 orang itu dirumah beliau setiap malam, beliau ikuti pembicaraan-pembicaraan mereka yang intim itu sambil beliau masuk-masukkan (sesel-seselkan) urusan keagamaan mereka, dan beliau peringatkan tentang siksa Alloh ta’ala. sampai akhirnya taubat dengan taubat nasuha (taubat yang pokok).
Hadrotus-Syaikh pernah diadukan oleh seorang ulama kepada Kyai Romli karena beliau mengadu ayam, Kyai Romli menjawab : Saya tidak berani melarangnya dan Kyai tidak usah meniru mengadu ayam. Kawan dekat Hadrotus-Syaikh bernama Kyai Haji Hasyim Bawean menceritakan kepada kami bahwa Hadrotus-Syaikh dibai’at oleh Kyai Romli pada hari Rabu 16 Sya’ban tahun 1361 H atau 1941 M. Setelah beliau dibai’at selama satu minggu heliau menyusun silsilah Thoriqoh Qodiriyah dan Naqsyabandiyyah atas perintah Kyai Romli di namakan “TSAMROTUL FIKRIYYAH” .
Hadrotus-Syaikh mengatakan : saya dibai’at oleh Kyai Romli atas permintaan Kyai Romli sendiri. Pada waktu itu saya dimasukkan kekamar Kyai dan didudukkan di atas Burdah yang putih bersih di atas tempat tidur Kyai dan dipinjami Tasbih. padahal waktu itu kaki saya berlumpur karena hujan, karena sudah menjadi Tradisi, setiap kali saya masuk kerumah Kyai, kaki saya pasti telanjang tanpa alas kaki. Dengan demkian, sebelum saya jadi murid saya adalah Murod dan sebelum saya menjadi tholib saya adalah Mathlub. Dalam kesempatan lain Hadrotus-Syaikh mengatakan untuk menghadiri Majlis Khusus atau wirid Khataman selama 4 tahun saya terus menerus berjalan kaki memakai klompen dari Surabaya. ke Paterongan, barulah kadang-kadang saya naik kendaraan setelah ketahuan Kyai Hasyim Asy’ari di Mojoagung dan beliau mengatakan : jangan jalan kaki terus-menerus Utsman. Selanjutnya Kyai Hasyim Bawean mengatakan pada adik waktu terjadi Perang Dunia II tahun 1942 M Hadrotus-Syaikh sekeluarga pindah sementara ke Peterongan, kalau siang hari berada di dalam pondok.
Pada suatu hari, hari Selasa beliau disuruh menghadap Kyai Romli pada jam 2.00 malam untuk diangkat menjadi mursyid Thoriqoh Al-Qodiriyah Wan Naqsyabandiyyah, Hadrotus-Syaikh waktu itu mengatakan “tidak kuat Kyai” tetapi Kyai Romli tet’ap melaksanakan perintah Alloh kemudian mengusapkan tangannya diatas kepala Kyai Utsman r.a. seketika itu pula Hadrotus-Syaikh jatuh tidak sadarkan diri dan langsung jadzab Selama satu minggu Hadrotus-Syaikh mengalami jadzab beliau tidak makan, tidak minum, tidak tidur, tidak buang air besar maupun kecil dan tidak sholat, wajah beliau cantik sekali bagaikan Bulan Purnama, tidak seorang pun yang berani melihat wajah beliau yang Cantik itu.
Setelah Hadrotus-Syaikh mengalami jadzab satu minggu, beliau berkata kepada Kyai Hasir Bawean : nanti malam akan datang tamu-tamu banyak sekali tidak perlu suguhan makanan atau minuman, maka pada jam 8.00 kurang sepuluh menit malam Hadrotus-Syaikh sudah siap menerima tamu dikamar, dan menghadap kepintu, tidah lama kemudian beliau mengucapkan : Waalaikumussalam, Walaikumussalam. selama kurang lebih lima menit, dan nampak seakan-akan.
Hadrotus-Syaikh menjabat tangan orang-orang sambil menundukkan kepala, kemudian beliau mengatakan : Mulai hari ini saya ditetapkan sebagai mursyid langsung oleh Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani dan Nabiyulloh Khidir r.a. Serta oleh sejumlah Masyayikh Al-Qodiriyah Wan Naqsyabandiyyah, dan sejak sekarang saya di izinkan untuk membai’at. sambil menyerahkan sepucuk kertas kepada Kyai Hasyim.
Kemudian Hadrotus-Syaikh menghadap kebarat sekali lagi dan mengucapkan na’am na’am tepat pada jam 8.00 lebih 5 menit malam itu Hadrotus-Syaikh berdiri menuju kepintu, setelah diam sejenak beliau mengucapkan wa’alaikumussalan, wa’alaiku¬mussalam, kemudian oleh Kyai Hasyim, Khadrottus Syaikh disuruh mandi setelah satu minggu tidak mandi dan ketika itulah Kyai Hasyim cepat-cepat pergi ke Kyai Romli untuk mengantarkan sepucuk kertas tadi, dan Kyai Romli spontan menemuinya di luar rumah seraya mengatakan : Ada apa ? ada apa ? ada apa ? Ketika Kyai Romli membaca sepucuk kertas itu spontan Kyai mengatakan dengan bahasa Madura yang maksudnya : Alhamdulillah sekarang saya punya anak yang bisa menggantikan saya (sampai 3 kali).
Orang tua Hadrotus-Syaikh juga pernah menyatakan hal-hal kepada salah seorang habib bahwa Hadrotus-Syaikh telah mendapatkan ijazah dari Syaikh Abdul Qodir Jailanil r.a, untuk berdakwah dan diangkat sebagai kholifahnya tanpa perantara, pernyataan ini disampaikan pada tahun 1947 M.
Pada waktu Hadrotus-Syaikh tinggal di Rejoso ada seorang tukang adu ayam kawa’an yang sangat populer di Jombang bernama Wak Sud dia memiliki jago-jago yang khusus untuk di adu, Hadrotus-Syaikh tertarik untuk menundukkan orang ini melalui adu ayam, maka beliau membawa ayam beliau ke Wak Sud dan dia menjawab ajakan Hadrotus-Syaikh dengan mengatakan : Apa bila jagomu menang melawan jagoku maka semua kekayaanku adalah milikmu, sebaliknya apa bila jagomu kalah saya tidak menuntut apa-apa darimu, maka Hadrotus-Syaikh menjawab : Apa bila jagomu menang kemudian kau ambil kekayaanku memang saya tidak mempunyai sesuatu yang patut disebut, dan apabila sebaliknya jagoku yang menang maka saya sama sekali tidak butuh kepada kekayaanmu sama sekali, Pokoknya begini Apabila jagoku menang kamu harus tunduk dan patuh dibawah perintahku, dan wak Sud setuju.
Dengan kekuasaan Alloh swt. menanglah jago Hadrotus-Syaikh sekalipun kurus kecil dan lemah sekali sangat kontras dengan jagonya wak Sud yang kekar dan gagah itu, maka waktu Kyai Romli melihat wak Sud melakuka’n sholat. Kyai Romli memegang pundak Hadrotus-Syaikh dari belakang seraya mengatakan : Apa yang kamu lakukan terhadap wak Sud wahai Utsman sehingga dia mendatangi sholat Jum’at, pada hal saya tidak mampu menundukkannya ? .
Dipeterongan Hadrotus-Syaikh tinggal di desa Nge¬lunggih tidak jauh dari Rejoso atas saran Kyai Romli dengan maksud agar beliau menjadi Imam di Ngelunggih, akibatnya murid-murid Kyai Romli banyak yang pindah he Ngelunggih untuk mendapatkan barokah dari Hadrotus-Syaikh serta ilmu beliau.
Akhirnya Hadrotus-Syaikh disuruh pindah oleh Kyai Romli ke salah satu desa dekat Gunung Lawu di Ngawi. Ketika Hadrotus-Syaikh sampai dilereng Gunung Lawu sangu beliau tinggal Rp. 1.70 (satu rupiah tujuh puluh sen) tidak cukup untuk membeli beras 1 liter, maka untuk mendapatkan rizqi yang samar, beliau Setiap hari : mengunjungi pesarean yang paling di kenal oleh orang di desa itu. Karena beliau cinta dan hobby melakukan ziarah akhirnya atas kemurahan Alloh beliau sekeluarga mendapatkan rizgi yang tidak diduga sebelumnya, diantara orang kampung ada yang mengundang beliau untuk mengikuti tahlilan ada yang minta barokah do’a, ada yang minta fatwa, sampai akhirnya Hadrotus-Syaikh menjadi populer di desa itu dan kemudian menjadi imam di desa itu.
Diantara kekeramatan Hadrotus-Syaikh di desa tersebut, beliau bermimpi berjumpa dengan Hadrotus-Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari Tebu Ireng berpamitan kepada beliau dengan mengatakan : Saya duluan Utsman. tahu-tahu pada esok harinya beliau mendengar berita bahwa Kyai Hasyim Asy’ari meninggal dunia (pulang kerahmatullah) .
Menjelang meletusnya Madiun Effer (peristiwa Madiun pada tahun 1948 M Hadrotus-Syaikh berkali-kali menerima surat serta saran agar beliau pulang saja ke Surabaya karena situasinya tidak mungkin aman di daerah itu. Mendengar pulangnya Hadrotus-Syaikh ini, sebagian besar penduduk di lereng Gunung Lawu itu keberatan ditinggalkan Hadrotus-Syaikh ; karena mereka memerlukan do’a, ilmu, serta barokah dari beliau bahkan ada yang berjanji memberikan 20 hektar kebun kepada Hadrotus-Syaikh agar beliau sudi tetap tinggal di desa itu. Tetapi setelah beliau melakukan istikhoroh akhirnya beliau menetapkan kembali ke Surabaya.
BAB II
Ketika Hadrotus-Syaikh menjadi santri di pondok Rejoso beliau masih muda belia, sering di jumpai oleh Nabi Khidir a.s. sehingga beliau laporkan kepada Kyai Romly dan dijawab oleh Kyai : Mengapa tidak kau minta datang kemari wahai Utsman.
Hadrotus-Syaikh sejak kecil sampai akan pulang kerahmatulloh selalu istiqomah dalam segala prilaku, perbuatan, serta ucapan yang beliau tiru dari Rosululloh saw. Kita tidak pernah melihat beliau hadats dan kita semua menyaksikan bahwa keseluruhan waktunya hanyalah untuk mnemgabdi kepada Alloh swt. maka pantaslah kalau beliau dipilih oleh Kyai Romly sebagai Kholifahnya. Dalam hubungan ini Kyai Romly pernah bermimpi bahwa di Surabaya terdapat sebuah pabrik besar yang terus mene¬rus berproduksi di bawah pimpinan Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman r.a. Itulah Thoriqoh Al-Qodiriyah Wan Naqsyabandiyyah yang beliau asuh.
Sebelumnya Kyai Romly sering menampakkan dan melahirkan ridlonya kepada Hadrotus-Syaikh, sampai beliau mengatakan : Alangkah besar ridlo saya kepadamu wahai Utsman. Dan Hadrotus-Syaikh meminta pendapat tentang Kholifah Syaikh Abdul Qodir Jailani r.a. Kyai Romly tersenyum-senyum sambil melihat dan menunjuk pada Hadrotus-Syaikh. sebaliknya Hadrotus-Syaikh kepada Kyai Romly juga fanatik dan sering merindukannya apabila berpisah agak lama.
Pada suatu hari putra beliau Abu Luqmanul Hakim sewaktu masih kecil jatuh dan terbentur pada tepi meja di rumahnya sehingga dari kepalanya mengalir darah yang banyak sekali yang cukup meributkan keluarga beliau. Maka oleh keluarga beliau supaya beliau mengantarkan putranya ke rumah sakit Karang Tembok dan kalau tidak berhasil terus ke Simpang, padahal Hadrotus-Syaikh ketika itu akan pergi ke Rejoso karena sangat rindu kepada Kyai Romly, maka beliau berkata dalam hatinya : saya harus pergi ke Rejoso, tentang nasib anak saya, saya pasrahkan kepada Alloh.
Ketika beliau berjumpa dengan Kyai Romly di Rejoso, guru beliau mengatakan : Anakmu tidak apa-apa. Dan benar kata kyai romly bahwa Abu Luqmanul Hakim dalam keadaan sehat wal afiyat, bahkan sedang memakan nasi goreng sekembalinya Hadrotus-Syaikh dari Rejoso berkat ketaatan serta kecintaan beliau kepada guru beliau Kyai Romly Attamimy r.a. juga pada suatu hari ketika akan menyelenggarakan walimah dirumah setelah maghrib, beliau terlebih dahulu meminta izin kepada Kyai Romly dan sampai di Rejoso tepat pada waktu sholat Dzuhur, sesudah sholat berjama’ah di masjid guru beliau Kyai Romly mengatakan kepada beliau : sekiranya kau tinggal di pondok seperti yang lalu, maka malam ini saya ajak memenuhi undangan Manaqiban di Jombang.
Maka Hadrotus-Syaikh bimbang antara mendampingi gurunya memenuhi undangan Manaqiban di Jombang dan pulang kerumah untuk mengharapkan tamu-tamu yang beliau undang Kerumah beliau pada malam itu juga. Akhirnya beliau memantapkan pendirian beliau pada alternatilf pertama dan berkata dalam diri sendiri : saya pasrah kepada Alloh toh nasi-nasi yang telah masak di rumah ada orang-orang yang memakannya, sedang menyertai guru adalah lebih utama. ketika Kyai Romly mengetahui beliau masih ada di masjid setelah sholat Asar berkatalah beliau kepada Hadrotus-syaikh : murid yang terdekat kepada gurunya adalah murid yang tahu akan rahasia-rahasia gurunya.
Kegemaran Hadrotus-Syaikh adalah berziaroh kepada wali-wali Alloh baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, dan beliau mengenal mereka secara dekat. Bukan hanya nama-nama mereka bahkan nasab mereka dan hubungan mereka satu sama lain. Sampai-sampai beliau hidup-hidupkan dan beliau semarakkan peringatan hari wafat mereka, terutama wafatnya Syaikh Abdul Qodir Jailani r.a. sehingga hampir tiada hari yang lewat di kota maupun desa terutama di Jawa Timur, kecuali terdapat disitu majlis manaqib.
Dalam hubungannya ini Hadrotus-Syaikh mentafsirkan qolbunsalim dalam ayat :
يوم لاينفع مال ولابنون الا من اتى الله بقلب سليم
Sebagai hati yang selamat dari penyakit batin dan penuh rasa cinta kepada Alloh, Rosulnya, dan para wali-walinya. sebab kata beliau tanpa wali-wali kita tidak mungkin dapat mengabdi kepada Alloh s.w.t dengan benar, maka banyak-banyaklah tawasul kepada Auliya’ insya Alloh hati kita akan menjadi khusu’. Yang mula pertama kali menyelenggarakan Managib adalah Hadrotus-Syaikh dan kemudian direstui oleh Kyai Romly At-tamimi dengan menyatakan : “baik Man, teruskan Man !”
Mula-mula yang hadir pada majlisan Managib di Jatipurwo selama 4 tahun hanyalah 7 orang 3 orang diantaranya pada musim panas udzur karna mengidap penyakit paru-paru. Pada suatu hari ditengah-tengah Hadrotus-Syaikh memimpin Istighotsah, datanglah orang yang tidak dikenal secara tiba-tiba dan langsung menelentangkan beliau dan melingkarkan pedangnya pada leher beliau yang terlentang dibawah itu. Peristiwa yang tragis ini diceritakan kepada Kyai Romly, dan beliau hanya menjawab : Teruskan apa yang telah kamu amalkan, orang tersebut tidak berani menancapkan pedangnya pada lehermu, bahkan dalam waktu dekat ini tidak akan berpisah denganmu sejengkalpun.
Dan kenyataannya seperti apa yang dinyatakan oleh Kyai Romly. Tentang keutamaan menaqiban ini Hadrotus-Syaikh mengatakan : Tidak ada ibadah kepada Alloh dimuka bumi ini yang lebih utama dari pada mencintai wali-wali Alloh, dan beliau mengatakan pula : mencintai para wali termasuk ketaatan yang terbesar, dan mereka yang menghadiri majlis managib adalah orang-orang yang cinta kepada mereka dan mencintai mereka adalah bukti akan adanya rasa cinta kepada Alloh s.w.t.
Berkah cintanya Hadrotus-Syaikh kepada para Auliya’ maka beliau sangat dicintai oleh para habaib dan para ‘Ulama’ akhirat, diantaranya Habib Ali bin Abdurrohman Al-Habsyi, Habib Ali bin Husain bin Muhammad Al-Atthos, Habib Abu Bakar Muhammad Al-Segaf dan Hadrotus-Syaikh sering berziaroh kepada mereka dan menghadiri haul mereka. Pada suatu hari Hadrotus-Syaikh bermaksud untuk berziaroh ke Habib Abu Bakar Muhammad Al-Segaf di Gresik sewaktu Habib masih hidup, beliau berjalan kaki dari Surabaya ke Gresik di tengah-tengah hujan lebat ditambah suara petir dan guruh yang saling sambar menyambar di tengah malam yang gelap gempita, ditambah angin kencang yang dapat menerbangkan atap rumah, sehingga Hadrotus-Syaikh sewaktu sampai di Gresik waktu sudah larut malam dan dalam keadaan basah kuyup tetapi Habib Abu Bakar nampak masih membuka pintunya lebar-lebar dan penjaga pintu masih berdiri.
Ketika Hadrotus-Syaikh melewati pintu pagar, penjaga pintu mengatakan bahwa sejak tadi sore Habib menunggu kedatangan Hadrotus-Syaikh dengan penuh kegelisahan dan kekhawatiran. Ketika beliau menghadap habib semua jama’ahnya yang mengelilingi habib semua ta’zhim kepada beliau dan mengeluh-eluhkan kehadiran beliau. Akhirnya Habib Abu Bakar bertanya tentang apa yang beliau mohon kepada Alloh dengan perantara Habib, yang kemudian dijawab oleh Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman Nadil Ishaqi r.a “Minta Khusnul Khotimah” habib termenung lama memikirkan betapa luhurnya permohonan Hadrotus-Syaikh.
Sebelumnya, Hadrotus-Syaikh sudah mempunyai hubungan khusus dengan Habib Ali bin Abdurrohman Al-Habsyi Kwitang Jakarta, seperti pernyataan habib Hasyim bin Sholeh bin Abdurrohman Al-Habsyi bahwa Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman r.a. telah mendapatkan futuh melalui Habib Ali bin Abdurrohman Al-Habsyi r.a. pada suatu hari Kamis tahun 1964. Dan pernyataan Kyai Hasyim Bawean bahwa dia pernah mengantarkan Hadrotus-Syaikh Utsman r.a. ke Habib Ali bin Abdurrohman Al-Habsyi di Jakarta ditengah-tengah hidup yang mengelilingi beliau, Habib Ali menjabat tangan Hadrotus-Syaikh seraya mengatakan : Kunci kutup saya serahkan kepadamu wahai Syaikh Utsman.
Dan pernyataan putra Habib Ali sendiri yaitu Habi Muhammad bin Ali bin Abdurrohman Al-Habsy pada waktu memberikan sambutan atas wafatnva Hadrotus-Syaikh yang ke 40 harinya bahwa setiap kali Hadrotus-Syaikh menemui kesulitan apa saja beliau selalu pergi ke Jakarta untuk menjumpai Habib Ali Al-Habsy untuk kemudian dapat her¬hubungan dengan Rosulullah s.a.w akan tetapi karena jarak Jakarta Surabaya begitu jauh maka akhirnya hahib Ali Al-Habsy menyuruh menjumpai Habib Abu Bakar Muhammad Assagaf di Gresik saja, sama-sama Wali Kutup.
Selanjutnya Habib Muhammad bin Ali Habsyi menyatakan dalam sambutannya bahwa Hadrotus-Syaikh akhirnya berhubungan langsung sendiri dengan Rosulullah saw tanpa perantara sewaktu mengalami kesulitan.
Hadrotus-Syaikh juga sangat dekat dengan Habib Ali bin Husain bin Muhammad Al-Atthos Bungur Besar Jakarta sehingga waktu beliau membaca Khususiyyah Wakalimatul Akha’ Syaikh Utsman yang disusun oleh Habib Hasan Al-Jufri Bangil beliau menangis terisak-isak, kemudian beliau gantungkan di atas pintu rumah seraya mengatan : Saya letakkan nadzoman ini di sini agar saya dapat melihat Syaikh Utsman setiap saat Kemudian beliau mendoakan Hadrotus-Syaikh semoga panjang umur, kalau tidak (kata habib Ali Al-Atthos) siapakah yang menggantikan kedudukannya ? demikian pernyataan menantu Hadrotus-Syaikh Abu Lu’lu’ sekembalinya dari Jakarta dan habib Ali bin Husain bin Muhammad Al-Atthos pernah menyatakan dimuka kami sesungguhnya Syaikh Utsman tiada duanya pada masa sekarang dan pada waktu Hadrotus-Syaikh berziarah kesana dihadapan para hadirin beliau menyatakan wahai Syaikh Utsman engkau dari keluarga Nabi. Kekholifahan Syaikh Abdul Qadir Jailani ditanganmu wahai Utsman. dan dalam kesempatan lain, beliau menyatakan : Saya mendengar dengan kedua telinga saya Paman saya Ali bin Abdur Rohman Al-Habsyi mengatakan : sungguh Utsman di Mahsyar nanti sangat dekat dengan Nabi Muhammad s.a.w. seperti dikemukakan pada Bab I yang lalu bahwa Hadrotus-Syaikh mempunyai hubungan istimewa dengan Syaikh Abdul Qodir Jailani r.a. bahkan dengan Rosulullah s.a.w seperti dikemukakan diatas dan seperti pernyataan Habib Muhammad Al-Habsy pada 40 hari wafatnya Hadrotus-Syaikh bahwa Habib Ali Al-Habsy, Habib Ahmad bin Kholid Al-Hamid, Habib Umar Al-Idrus dan lain-lainnya, menyatakan bahwa Hadrotus-Syaikh Utsman adalah tergolong Ahlul bait Rosulillah s.a.w.
Habib Ahmad bin Hamid Al-Habsyi pernah bertanya pada Habib Salim bin Jundan waktu beliau masih hidup, apa yang menyebabkan para Habib senang pada Kyai Utsman ? Habib Salim bin Jundan menjawab : Syaikh Utsman termasuk keluarga Rosulullah s.a.w, darahnya adalah darah saya ini maka ciumlah tangannya apabila kau ketemu dengannya walaupun banyak orang mendengkinya toh dia tidak pernah susah akibat didengki orang, mereka yang mendengkinya hanyalah rumput-rumput sedangkan Syaikh Utsman adalah pohon besar yang rindang.
Ketika Kyai Ahmad Asrori kholifatus Syaikh Muhammad Utsman masih kecil, pernah diajak oleh pengasuhnya yang bernama Abdul Hakim Bawean untuk berkunjung ke Habib Alie bin Muhummad bin Alwi As-shodiq Al-Habsyi cucunya habib Syaikh Bafaqih Boto Putih Surabaya bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, Dalam kesempatan itu Habib mengatakan kepadanya : jangan kau risaukan haliyah orang tuamu, beliau bagaikan Matahari, apabila sangat dekat dengan kita manusia banyak yang tidak tahan karena saking panasnya, tetapi ketika jauh dari kita sinarnya akan membahagiakan kita semua. Demikianlah keadaan orang tuammu Syaikh Utsman r.a. Seorang Kyai belum dinamakan Kyai sempurna sehelum ia diingkari oleh orang-orang yang dekat kepadanya dan sebaliknya dia dicintai oleh orang-orang yang jauh dari padanya.
Tentang hubungan Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman r.a dengan Kyai Hamid Pasuruan, Hadrotus-Syaikh pernah bercerita setelah walimatul haul Habib Syaikh Bafagih Boto Putih Surabaya : saya keluar ke teras cungkup di dampingi oleh Kyai Abdul Hamid Pasuruan duduk ditangga cungkup. Pada waktu itu Kyai Abdul Hamid bercerita : tadi sebelum kesini saya tidur dirumah salah seorang teman di Surabaya. Ketika saya bangun, dihadapan saya terlihat foto Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman, oleh karena saya tahu bahwa yang meletakkan adalah Agus Mas’ud Kedung Cangkring Sidoarjo, maka saya bertanya kepadanya tentang maksudnya, jawabannya hanya Wallohu A’lam. Kata Hadrotus-Syaikh : Saya pun diam mendengar cerita itu karera menyangkut masalah maqom (martabat). Tiba-tiba Kyai Hamid menjawab sendiri : untuk kepentingan hubungan di Mahsyar nanti. itulah sebabnya, maka dalam suatu walimah Kyai Abdul Hamid Pasuruan mengharap kepada Hadrotus-Syaikh agar ada hubungan yang dekat antara keduanya di Mahsyar nanti, dan Hadrotus-Syaikh menjawab : Kyai nanti bersama kami disisi Alloh Yang Maha Kuasa.
Dan didalam walimah yang lalu ada orang meminta, barokah do’a kepada Kyai Hamid, sedangkan disisi beliau adalah Hadrotus-Syaikh. akhirnya Kyai Hamid memegang lutut Hadrotus-Syaikh Utsman dengan tangan kiri dan berdo’a untuk orang yang meminta doa tadi dengan tangan kanan. Adik kami Asfahani putra Kyai Abdullah Faqih yang mengaji di pondok Kyai Hamid Pasuruan mengatakan pada suatu ketika kami duduk bersama-sama Kyai Hamid di ruang tamu, tiba-tiba Kyai Hamid mengatakan kepada kami : di Pasuruan ini hanya ada kayu Garu, alangkah ni’matnya kalau ada pohonnya Asfahani ! tiba-tiba Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman datang bertamu ke ruang tamu dan spontan Kyai Hamid merangkulnya dan mergatakan : ini apa pohon garunya!
Inilah sebagian kecil yang nampak tentang kedudukan dan Manzilah Hadrotus-Syaikh Utsman Nadil Ishaqi r.a.
BAB III
Ketika haul akbar Syaikh Abdul Qodir Jailani r.a. tahun 1389 H. dalam sambutannya habib Muhammad bin Ali bin Abdurrohman AI-Habsyi menceritakan tentang perjalanan orang tuanya ketanah suci dan bertemu dengan Syaikh Abdul Qadir Jailani r.a. yang menyatakan pada Habib : Kholifah saya adalah Utsman Surabaya.
Di antara kekeramatan Hadrotus-Syaikh yang lain : kyai Muhammad Fagih Langitan berkata bahwa Kyai Maimun sarang diceritakan oleh bapaknya yang bernama kyai Zubair bahwa habib Abd Qodir Bilfaqih bermimpi berjumpa dengan Rosulullah s.a.w yang sedang menemui 2 orang lelaki dan Rosulullah menyatakan kepadanya : Keluargaku banyak tersebar di tanah Jawa. Diantaranya adalah dua orang ini yaitu Romly dan Utsman.
Kekeramatan Hadrotus-Syaikh yang lain adalah dari Kyai Faqih Amin Praban Surabaya (pernah menjadi guru dan kawan Hadrotus-Syaikh) beliau mengatakan pada pada suatu hari saya berkunjung kepada Kyai Utsman, dan dia meminta saya untuk menjadi muridnya dibawah naungan Thoriqoh Qodiriyyah Wan Naqsyabandiyyah setelah bertukar pikiran tentang thoriqoh sampai jam 2 malam. Saya kalah dan mau menyerah kepada ajakannya dengan syarat : tiga burung perkutut yang didalam sangkar masing-masing berkicau secara berturut-turut dengan komandonya, setelah dia komando, tiba-tiba tiga ekor burung itu berkicau berturut-turut dengan izin Alloh, maka terasalah dalam diri saya akan kebesaran Hadrotus-Syaikh, dan sejak itu saya memakai bahasa Jawa halus (Kromo) sebagai ganti bahasa Jawa kasar (ngoko), dan setelah tiga bulan minta di bai’at.
Di antara kekeramatan beliau, ketika pada suatu hari kami akan menghadap Hadrotus-Syaikh, berkata dalam diri sendiri : mengapa jauh-jauh kulangkahkan kakiku kepondok anu. Kemudian keperguruan tinggi anu, sampai akhirnya keluar negeri untuk mencari kebenaran dan keyakinan. padahal di Surabaya sini terdapat seorang Mursyid yang membimbing saya menempuh jalan akhirat dengan selamat. maka ketika kami duduk diruang tamu keluarlah Hadrotus-Syaikh dari dalam sambil meletakkan tangan kanannya di atas dada (sanubari) seraya mengatakan : diantara guru saya juga ada yang bukan dari jam’iyyah kita. Tetapi Alhamdulillah saya belum pernah mengingkarinya sama sekali. Maka kami pun merasa malu dan menundukkan kepala.
Di antara kekeramatan beliau, pada tanggal 11 Syawal 1392 H. Hadrotus-Syaikh menjamu para tamu yang menghadiri majlis Manaqib di pondok Jatipurwo. Beliau mengatakan kepada kami : Wahai Abdul Ghoffar ! ketika kau tinggal di Mesir apakah kau pernah ketemu dengan Syaikh Hasan Ridwan seorang wali di Mesir yang dimintai barokah oleh orang Islam Mesir ? Ya, kami pernah menjumpainya pada suatu hari dalam rangka kuliah umum Tasawuf oleh Ir. Abdul Halim Mahmud yang dihadiri oleh para sufi dibalai pertemuan Al-Azhar. Selanjutnya Hadrotus-Syaikh berkata kepada para hadirin : Ketika salah seorang Habib Ampel berkunjung ke Mesir, dia menjumpai Syaikh Hasan Ridwan, dia ditanya tentang negerinya. Ketika ia menjawab dari Indonesia dari Ampel, maka Syaikh Hasan Ridwan mengatakan : Jadi rumahmu dekat dengan Syaikh Utsman Al-Ishaqi ? Habib menjawab : Ya, akhirnya Syaikh Hasan Ridwan mengatakan kepadanya : Apabila kamu sampai di rumah, berkunjunglah ke Syaikh Utsman, dan sampaikanlah salamku kepadanya, ketahuilah bahwa saya sering berkunjung ke rumahnya.
Diantara kekeramatan beliau, pada suatu hari dibulan Maulid, Hadrotus-Syaikh pergi ke Jakarta naik kereta api untuk menghadiri Maulid Nabi Muhammad s.a.w dan haulnya Habib Alie Al-Habsyi di Kwitang Jakarta, ketika kereta api berada diantara Cirebon-Jakarta karcis Hadrotus-Syaikh diperiksa Polisi KA dengan ketat sekali termasuk kartu tanda pengenal beliau yang akhirnya polisi memaksa Hadrotus-Syaikh untuk menemuinya di restorasi, sehingga menimbulkan kemarahan beliau, maka seketika itu pula datanglah hal beliau dan mengatakan : Perbuatan ini menunda sampainya kereta api di Jakarta.
Spontan kereta api itu berhenti tanpa sebab yang nyata, anehnya semua hubungan interlokal maupun bukan interlokal terputus sama sekali dengan Stasiun, kebetulan dibelakang gerbong Hadrotus-Syaikh terdapat Habib Abd Hadi bin Abdulloh Al-Haddar dari Banyuwangi. Maka setelah kereta api macet selama 1 jam dia mengirim utusan ke Hadrotus-Syaikh seraya menga¬takan : jam berapa sekarang ! pergilah ke Kyai Utsman, dan mintalah barokah Fatihah kepadanya agar kita tidak terlambat. Akhirnya setelah beliau membaca Al-Fatihah barulah beliau sadar akan diri beliau, dan spontan kereta api berjalan kembali seusai pembacaan Al-Fatihah, demikian pula hubungan yang menyangkut perkerata apian sambung kembali.
Kyai Masduri Ngroto menceritakan kepada kami sejarah masuknya Thoriqoh Qodiriyyah Wan Naqsyabandiyyah di Ngroto dan sekitarnya sebagai berikut : Sejak tahun 1936/1937 M banyak guru-guru Thoriqoh yang berusaha memasukkan Thoriqoh ke Ngroto bahkan ada kyai yang sampai kawin di Ngroto kemudian terpaksa firoq karena tidak berhasil memasukkan Thoriqoh.
Pada bulan Muharram tahun 1964 M Hadrotus-Syaikh mulai pertama datang ke Ngroto bersama Kyai Muslih bertepatan dengan Haulnya Kyai Sirojuddin. Itulah mula pertama datang ke Ngroto bersama Hadrotus-Syaikh. Kemudian untuk kedua kalinya datang pada tahun 1966 M saya di panggil ke rumah paman, dan Hadrotus-Syaikh menangis dan saya dirangkul seraya mengatakan : Sabarlah ! sejak sekarang Masduri menjadi Kyai di desa sini maka do’akanlah semoga panjang umur. Sepulangnya Hadrotus-Syaikh dapat 15 hari paman saya meninggal, dan atas saran beliau saya kirim surat kepada beliau tentang wafatnya paman. Dan saya mendapatkan balasan agar saya datang kesurabaya di Surabaya saya dibai’at dan diberi ijazah Manaqib secara mutlaq. Setelah itu banyak para ikhwan yang menjadi murid Hadrotus-Syaikh maka tersebarlah Thoriqoh di Ngroto.
Pada suatu hari di bulan Muharram Hadrotus-Syaikh pergi ke Ngroto menghadiri acara Haul, tetapi kendaraan beliau terhalang lumpur di Kemiri 4 km dari Ngroto, kalau mobil beliau diarahkan ke Ngroto mogok, kalau diarahkan ke Surabaya mobil beliau bisa berjalan, maka Hadrotus-Syaikh menetapkan untuk kembali ke Surabaya, yang menolong mengentas mobil beliau dari lumpur adalah masyarakat Kemiri maka Hadrotus-Syaikh mengatakan : saya tidak dapat membalas sama sekali. hanya saya do’akan mudah-mudahan masyarakat disini selamat semua, maka barokah doa beliau setiap kampung dari Kemiri sampai Ngroto pasti ada Manaqiban dan ada murid-murid beliau, diantaranya desa Tembelingan yang asalnya tidak ada yang sholat bahkan tidak ada masjid dan musholla, tetapi berkat dilewati oleh Hadrotus-Syaikh, Islam tersebar di Tembelingan dan sekitarnya ada masjid dan banyak musholla dan Imammuddin serta sebagian kaum musimin disitu sudah menjadi murid beliau, sehingga Kyai Muslih Mranggen mengatakan : masuknya Hadrotus-Syaikh ke Ngroto sudah pas karena masyarakat Ngroto adalah masyarakat Madura, cocok dengan kata-kata Syaikh Utsman : Ngroto adalah bau Madura. dan Hadrotus-Syaikh pernah mengatakan : saya bermimpi di sebelah timur Semarang ada cahaya. apakah ada Waliyyulloh di sana ? ternyata benar itulah Kyai Sirojuddin.
Selanjutnya Kyai Masduri mengatakan : sekembalinya saya dari Surabaya pada suatu hari saya sakit mata, walaupun sudah berobat tetap tidak mau sembuh kecuali hari Kamis dan Jum’at saja. Maka pada suatu malam Jum’at saya membaca Al-Fatihah kemudian membaca sil¬silah maka malam itu juga saya bermimpi berjumpa dengan Hadrotus-Syaikh, beliau menanyakan kepada saya : apakah matamu sakit ? Apakah yang sakit sebelah kanan? maka mata diobati oleh Hadrotus-Syaikh dengan jari-jarinya dan ternyata Alhamdulillah sembuh betul-betul, maka esok harinya hari Sabtu saya pergi ke Surabaya untuk menjumpai beliau. Beliau bertanya : Apakah matamu sudah sembuh ? saya menjawab : Ya. kemudian beliau menyatakan : Ya saya obati dari sini.
Selanjutnya Kyai Masduri menceritakan lagi : pada suatu hari sewaktu saya berkunjung ke Hadrotus-Syaikh saya disuruh ke Ampel seraya mengatakan : Pergilah ke Ampel, saya rindu Agus Mas’ud.
Sesampai saya di lawang Agung saya bertemu dengan Agus Mas’ud, cepat-cepat turun dan minta gendong saya. Kyai Masduri menceritakan lagi bahwa Hadrotus-Syaikh menceritakan kepadanya sebagai berikut : Pada suatu hari Jum’at ada orang hendak menunaikan sholat Jum’at di masjid Ampel, kemudian saya panggil, saya ajak sholat Jum’at di Baitul Ma’mur. Setelah kita melangkah tiga langkah kita sudah sampai di Baitul Ma’mur, ini boleh kau ceritakan setelah saya meninggal.
Cerita lain dari Kyai Masduri adalah sebaga berikut : saya bermimpi sholat di musholla yang penuh dengan mushollun, karena mereka sholat semuanya saja, maka saya mengingkarinya dan Hadrotus-Syaikh menjadi ma’mum tidak tahu siapa yang menjadi imam dan beliau mengatakan kepada Saya : mereka adalah Wali-wali Alloh, dan saya bermimpi berjumpa dengan Nabi Khidir a.s. beliau mengajak saya ketepi sungai disana ada musholla yang bersinar terang, tahu-tahu disitu ada Hadrotus-Syaikh dan kita bertiga menjadi ma’mum tetapi saya tidak tahu siapa imamnya.
Habib Abdulloh bin Umar Al-Haddar mengatakan kepada kami : pada suatu hari Kamis dibulan Syawal Habib Abdul Hadi bin Abdulloh Al-Haddar ingin berjumpa dengan Hadrotus-Syaikh Utsman sesudah masuk waktu sholat Ashar tetapi sesampai di pondok Jatipurwo beliau tidak menjumpai Hadrotus-Syaikh. Setelah lama menunggu di pondok dan waktu sudah menjelang Maghrib maka Habib Abdul Hadi pun cepat-cepat meninggalkan pondok untuk menuju ke Ketapang karena setelah sholat Maghrib ada acara pembacaan burdah di Ketapang, ketika sampai di Karang Tembok becak beliau berpapasan dengan mobil Hadrotus-Syaikh, maka beliau pun kembali lagi ke pondok Jatipurwo untuk menemui Hadrotus-Syaikh. Sesampai di Pondok Hadrotus-Syaikh sedang mengimami sholat Ashar dalam waktu Ashar yang paling akhir bahkan setelah Ashar sempat membaca semua wirid seperti biasanya sampai tuntas, kemudian Hadrotus-Syaikh menjumpai Habib Abdul Hadi bersama saya (Habib Abdullah bin Umar Al-Haddar) diruang tamu. Diruang tamu Habib Abdul Hadi membaca Allohu Hu Iiy. Allohu Hu liy Fani’mal Wali, setelah dijamu secukupnya Habib Abdul Hadi mohon pamit kepada Hadrotus-Syaikh untuk pergi ke Ketapang, dalam hatinya waktu telah berlalu untuk mengikuti pembacaan burdah di Ketapang, tetapi kenyataannya tidak demikian. Kami sampai di Ketapang orang-orang masih melakukan sholat Maghrib
Diantara kekeramatan Hadrotus-Syaikh sopir Hadrotus-Syaikh, meski mengatakan kepada kami : pada suatu hari sepulangnya Hadrotus-Syaikh dari Rejoso, mobil di istirahatkan di Jombang agar kami makan minum dulu. Sedangkan Hadrotus-Syaikh menunggu disalah satu rumah dekat warung tersebut. Seusai makan minum kami menyatakan kepada Hadrotus-Syaikh bahwa bensin telah habis. Beliaupun terkejut dan menanyakan mengapa tidak bilang dari tadi sebelum semua uang yang ada di tangan beliau diserahkan ke pondok Rejoso dan beliau menanyakan sisa uang kami. Kami menjawab hanya tinggal beberapa puluh rupiah saja. Secara spontan beliau menegaskan : kalau memang demikian baiklah isilah tangki mobil itu dengan air teh tanpa gula semampu uang yang ada padamu ! Kamipun percaya sepenuhnya kepada beliau dan membeli teh tawar beberapa ceret dari warung dan langsung kami isikan ke tangki mobil. Setelah itu kami melapor untuk pulang ke Surabaya. Beliau bertanya : sudah kau isi bensin ? Kami menjawab mobil kami isi dengan sesuai perintah Hadrotus-Syaikh dan karena terlanjur beliau pun akhirnya menyatakan : baiklah ! mari pulang ke Surabaya. Teh-teh juga bisa menjadi bensin. akhirnya betul, mobil berjalan terus sampai ke Surabaya memakai bahan bakar teh.
Sopir Hadrotus-Syaikh yang terakhir yaitu Abd Syakur juga mengalami peristiwa serupa yaitu dalam perjalanan antara Pasuruan Probolinggo mobil Khadrotus-Syaikh kehabisan bensin di tengah malam dan dia disuruh mencari warung untuk mendapatkan teh satu gelas, setelah di dapatkan tehpun di do’ai oleh Hadrotus-Syaikh dan menyatakan : sudahlah isilah dengan teh sama saja. Akhirnya mobil sampai di Probolinggo persis di garasi mobil bensin yang dari teh tadi habis sama sekali.
Cerita semacam ini terjadi pula pada waktu Hadrotus-Syaikh pulang dari Ngroto Semarang, di tengah perjalanan yang jauh dari keramaian Pir mobil putus tinggal satu Pir saja dan sekaligus Oli mobil habis kering sama sekali. Ini terjadi disekitar Caruban menuju Surabaya. Dan Hadrotus-Syaikh menyuruh mencari teh untuk mengantikan Oli yang sudah habis. Setelah diisi dengan teh mobilpun dapat di stater dengan hanya satu Pir saja dapat berjalan terus sampai diSurabaya dengan selamat bi iznillah.
Diantara kekeramatan Hadrotus-Syaikh, beliau menceritakan pengalaman beliau sewaktu ke Singapura. Melihat banyaknya orang-orang yang menjemput beliau di Airport. Ketua security seorang wanita berusaha ingin menyelamatkan beliau dari intervio para Inteljen yang lain. Maka dia pura-pura mengaku sebagai orang tuanya yang ada di Pontianak. Dan langsung di gandeng dari Airport menuju mobil dan diantar sekali menuju ketempat tujuan. Besoknya dia kembali lagi membawa 2 handuk mandi Hadrotus-Syaikh, tetapi setelah satu hari dipakai mandi dia minta kembali, demikian pula handuk yang satu lagi dan menyatakan bahwa handuk yang untuk dia pakai mandi sehari-hari, sedang yang satu lagi untuk dia pakai kain kafan waktu dia meninggal nanti dan seketika itu dia minta di bai’at oleh Hadrotus-Syaikh sebagai murid Thoriqoh Qodriyah Wan Nangsabandiyyah. Sejak itu Hadrotus-Syaikh selalu di kawal oleh ketua security perempuan itu pulang pergi ke singapura. Beliau menyatakan : Inilah berkat saya tidak pernah menyakitkan hati Ibu saya selama hidup beliau.
Inilah sekelumit biografi Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqi r.a.

Rabu, 05 Oktober 2011

Al-Biruni, Matematikawan Penemu Trigonometri Modern


 


Oleh: Kholili Hasib

NAMA lengkap al-Biruni adalah Abu al-Raihan Muhammad bin Ahmad al-Khawarizmi al-Biruni. Saintis ensiklopedis abad ke-9 ini dilahirkan di kota Khawarizmi, salah satu kota di wilayah Uzbekistan pada tahun 362 H (973 M). Adapun nama Al-Biruni berasal dari kata Birun dalam bahasa Persia yang berarti kota pinggiran. Dinamakan demikian karena tanah kelahirannya terletak di pinggiran kota Kats yang merupakan pusat kota Khwarizm. Kota tersebut memang dahulu dikenal termasuk wilayah Persia. Sehingga, al-Biruni biasanya dikenal ilmuan dari Persia Timur.

Tradisi dan lingkungan di negeri al-Biruni mempengaruhi karakter dan keilmuannya. Pada waktu itu, merupakan masa-masa emas bidang sains Islam di wilayah Asia Tengah.
Ia hidup sezaman dengan Abu Nashr Manshur, astronom kenamaan asal Khurasan yang menguasai karya-karya klasik Yunani seperti Ptolomeus dan Menelaus. Al-Biruni bahkan pernah belajar langsung ilmu astronomi kepadanya. Gurunya Abu Nashr Manshur meskipun seorang pengkaji filsafat Yunani, akan tetapi framework pemikirannya tidak terpengaruh oleh filsafat paripatetik Yunani.

Frame ini diajarkannya kepada al-Biruni. Makanya al-Biruni dikenal cukup keras dan lugas menyikapi fenomena filsafat paripatetik Yunani. Dengan ajaran Gurunya itu, al-Biruni tampil sebagai kritikus yang keras terhadap filsafat Yunani. Ia pernah berkorespondensi dengan Ibn Sina, mendiskusikan tentang filsafat dan pengaruhnya terhadap cendekiawan muslim waktu itu (Sains dan Peradaban di Dalam Islam, halaman 115). Selain sezaman dengan dua ilmuan tersebut, al-Biruni juga semasa dengan al-Haitsam, seorang ilmuan muslim ahli fisika.

Ia termasuk ilmuan yang memiliki modal kecerdasan matematis. Al-Biruni senantiasa menolak segala asumsi yang lahir dari khayalan. Pemikirannya logis, tapi tidak pernah menafikan teologi. Al-Biruni adalah pelopor metode eksperimental ilmiah dalam bidang mekanika, astronomi, bahkan psikologi. Ia menghendaki agar setiap teori dilahirkan dari eksperimen dan bukan sebaliknya.

Al-Biruni termasuk saintis esiklopedis, karena pakar dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Memang tradisi para cendekiawan muslim dahulu adalah mereka tidak cukup puas menguasai dalam satu bidang ilmu saja. Al-Biruni selain dikenal sebagai seorang ahli matematika, juga menguasai bidang-bidang sains lainnya.

Sepanjang hidupnya, al-Biruni telah menghasilkan karya tidak kurang dari 146 buku (sebagian ahli bahkan mengatakan bahwa al-Biruni telah menulis 180 buku). Kebanyakan merupakan karya bidang astronomi yakni ada sekitar 35. Sisanya buku tentang astrologi, geografi, farmakologi, matematika, filsafat, agama, dan sejarah.

Bidang sains yang dikuasainya adalah astronomi, geodesi, fisika, kimia, biologi, dan farmakologi. Selain itu ia juga terkenal sebagai peneliti bidang filsafat, sejarah, sosiologi dan ilmu perbandingan agama. Tentang bidang sosial ini al-Biruni mendapat gelar seorang antropolog, karena penelitiannya yang serius tentang kehidupan keagamaan orang India.
Hasil risetnya dibukukan dengan judul Tahqiq maa lii al-Hindi min Maqulah Maqbulah fi Al-‘Aqli aw Mardzwilah dan Tarikh al-Hindi.

Di antara pencapaian intelektualnya tersebut, peletakan dasaar-dasar trigonometri merupakan prestasi besar al-Biruni di bidang matematika. Trigonometri adalah cabang ilmu matematika yang membahas tentang sudut segitiga.

Di dalamnya terdapat istilah-istilah trigonometrik, yaitu sinus, cosinus, dan tangen. Dasar-dasar dari teori trigonometrik ini ternyata telah lama dikenal oleh ilmuan muslim terdahulu abad kesembilan Masehi. Al-Biruni dikenal sebagai matematikawan pertama di dunia yang membangun dasar-dasar trigonometri.

Landasan-landasan trigonometrik tersebut kemudian dikembangkan ilmuan Barat. Dan diaplikasikan ke dalam beberapa cabang ilmu, seperti astronomi, arsitektur, dan fisika. Al-Biruni sendiri pernah mengaplikasikannya secara matematik untuk membolehkan arah kiblat ditentukan dari mana-mana tempat di dunia.

Meskipun ilmu trigonometri telah dikenal di Yunani, akan tetapi pematangannya ada di tangan al-Biruni. Ia mengembangkan teori trigonometri berdasarkan pada teori Ptolemeus. Hukum Sinus (The Sine Law) adalah temuannya yang memperbaiki teori Ptolemeus.

Hukum ini merupakan teori yang melampaui zamannya. Seperti yang popular dalam trigonometri modern terdapat hukum sinus. Hukum sinus ialah pernyataan tentang sudut segitiga. Rumus ini berguna menghitung sisi yang tersisa dari segitiga dari 2 sudut dan 1 sisinya diketahui.

Prestasi al-Biruni lebih diakui daripada Ptolemeus karena dua alasan:
Pertama, teorinya telah memakai sinus sedangkan Ptolemeus masih sederhana, yaitu menggunakan tali atau penghubung dua titik di lingkaran (chord).
Kedua, teori trigonometri al-Biruni dan para saintis muslim penerusnya itu menggunakan bentuk aljabar sebagai pengganti bentuk geometris.

Rumus sinus dinyatakan rumus praktis dan lebih cainggih. Menggunakan logika matematika modern dan sangat dibutuhkan dalam perhitungan-perhitungan rumit tentang sebuah bangunan. Dunia arsitektur sangat memanfaatkannya untuk mengukur sudut-sudut bangunan. Ilmu astronomi juga diuntungkan. Dalam tradisi Islam, dimanfaatkan dalam ilmu falak, penghitungan bulan dan hari.

Penggunaan aljabar dalam teori trigonometri al-Biruni sangat dimungkinkan menggunakan teori aljabar Al-Khawrizmi, seorang matematikawan muslim asal Khawarizm. Ia merupakan generasi matematikawan asal Khurasan sebelum al-Biruni.
Menurut Raghib al-Sirjani, ilmu aljabar Al-Khawarizmi tidak hanya menginspirasi matematikawan Khurasan dan sekitarnya, seperti Abu Kamil Syuja al-Mishri, al-Khurakhi dan Umar Khayyam saja, akan tetapi karya agungnya Al-Jabar wa Muqabalah menjadi buku induk di universitas Eropa. Dan al-Biruni termasuk saintis pengkaji temuan Al-Khawarizmi tersebut.

Makanya, teori trigonometri modern al-Biruni sesungguhnya sangat berjasa terhadap ilmu aljabar Al-Khawarizmi. Sebab, berkat temuan al-Khawarizmi terutama temuannya tentang angka nol, al-Biruni mampu mengangkat ilmu trigonometri Ptolemeus menjadi teori yang berpengaruh hingga era matematika modern saat ini.

Al-Biruni juga menjelaskan sudut-sudut istimewa dalam segitiga, seperti 0, 30, 45, 60, 90. Penemuan ini tentu sangat memberi kontribusi terhadap ilmu-ilmu lainnya. Seperti ilmu fisika, astronomi dan geografi. Karena memang ilmu matematika merupakan dasar dari ilmu-ilmu astronomi dan fisika.

Oleh sebab itu, teori Ptolemeus sesunggunya masih sederhana dan belum bisa dikatakan sebagai trigonometri dalam ilmu matematika modern. Hukum sinus itulah merupakan hukum matematika penting dalam ilmu trigonometri.

Teori ini memberi kontribusi yang cukup besar terhadap pengembangan ilmu yang lain. Ia telah menggunakan kaedah penetapan longtitude untuk membolehkan arah kiblat ditentukan dari mana-mana tempat di dunia.

Di saat ia mencapai kematangan intelektual, al-Biruni banyak didukung oleh para sultan dan penguasa untuk mengembangkan keilmuannya untuk bidang astronomi dan fisika.
Ia pernah menulis al-Qanun al-Mas’udi, karya tentang planet-planet atas dukungan Sultan Mas ’ud dan dihadiahkan kepadanya. Buku ini merupakan ensiklopedi astronomi yang paling besar, tebalnya lebih dari 1.500 halaman. Di dalamnya ia menentukan puncak gerakan matahari, memperbaiki temuan Ptolemeus.

Al-Biruni juga pernah tinggal dan bekerja untuk sebagian besar hidupnya di istana Sultan Mahmud, dan putranya, Mas’ud. Selama bergaul itulah al-Biruni banyak menghasilkan karya-karya astronomi dan matematika.

Al-Biruni telah memberikan sumbangan multidimensi terhadap dunia sains. Karya-karya peninggalannya adalah bukti keluasan ilmunya terhadap berbagai disiplin sekaligus.
Selain mendapat pujian dari ummat Islam, al-Biruni juga mendapatkan penghargaan yang tinggi dari bangsa-bangsa Barat. Karya-karyanya melampaui Copernicus, Isaac Newton, dan para ahli Indologi yang berada ratusan tahun di depannya. Baik ulama maupun orientalis sama-sama memujinya.

Salah satu bentuk apresiasi ilmuan dunia hingga saat ini adalah pada tahun 1970, International Astronomical Union (IAU) menyematkan nama al-Biruni kepada salah satu kawah di bulan. Kawah yang memiliki diameter 77,05 km itu diberi nama Kawah Al-Biruni (The Al-Biruni Crater).*
Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana Istitut Studi Islam Darussalam Gontor Ponorogo

Ibnu Miskawaih, Mendorong Pendidikan Sejak Dini



Wartaislam.com - Pendidikan sejak dini bagi seorang anak akan membuat mereka kelak menjadi manusia yang baik.
Pendidikan bukanlah ranah asing bagi Ibnu Miskawaih. Ia telah lama bergelut di bidang tersebut walaupun lebih dikenal sebagai filsuf dan lekat dengan bidang etika. Maka, berserak pula uraian konsep-konsepnya tentang pendidikan.
Dalam salah satu karyanya, Tahdhib al-Akhlaq , cendekiawan Muslim asal Ray, Persia, ini menyatakan, pendidikan menunjukkan tugas dan kewajiban yang harus dilakukan orang dewasa, terutama orang tua kepada anak-anaknya.
Menurut Miskawaih, orang tua wajib memberikan pendidikan kepada anak-anaknya, yang berisi pengetahuan, moralitas, adat istiadat, dan perilaku yang baik. Langkah ini untuk mempersiapkan mereka agar menjadi manusia yang baik.
Kelak, bila anak-anak itu menjelma menjadi manusia dewasa yang baik, akan memberikan manfaat bagi masyarakatnya. Mereka pun akan diterima secara baik oleh masyarakatnya. Miskawaih menambahkan, pendidikan memang bertujuan menyempurnakan karakter manusia.
Dalam pandangan Miskawaih, layaknya kebaikan yang bisa ditularkan melalui pendidikan, demikian pula dengan kejahatan. Maka, ia mengingatkan orang tua untuk secara berulang, mengingatkan dan mendidik anak-anak mereka tentang kebaikan dan kesalehan.
Selain memberikan pendidikan mengenai kebaikan, Miskawaih menekankan pula agar sejak dini orang tua mengarahkan buah hatinya berada dalam lingkungan yang baik. Orang tua harus membiasakan anak-anaknya bergaul dan berteman dengan orang-orang berperilaku baik.
Miskawaih memberikan alasan mengapa ia menekankan pentingnya lingkungan yang baik. Menurut dia, tak semua orang dapat dengan cepat menerima kebaikan yang diajarkan kepadanya. Lingkungan yang baik akan mencegah mereka yang lamban, bisa terhindar dari kejahatan.
Mereka yang lamban, harus terus-menerus mendapatkan pendidikan tentang kebaikan. Miskawaih menyatakan pula, setiap orang dapat berubah asalkan mendapatkan pendidikan secara terus-menerus tentang kebaikan.
Tak heran jika Miskawaih kemudian menyimpulkan, hal-hal yang telah terbiasa dilakukan oleh anak-anak sejak kecil, akan memengaruhinya ketika menjadi orang dewasa. Dengan demikian, anak laki-laki ataupun perempuan harus sejak dini dididik tentang kebaikan.
Pemikiran Miskawaih itu tersurat dalam bagian kedua bukunya yang berjudul,  Tahdhib al-Akhlaq . Miskawaih mengatakan, pendidikan sejak dini terhadap anak-anak memiliki arti penting. Selain menanamkan kebaikan sejak dini, juga bisa sebagai sarana pembentuk karakter.
Menurut Miskawaih, tidak mudah bagi seseorang yang telah dewasa untuk mengubah karakternya. Kecuali, dalam kondisi tertentu. Misalnya, orang tersebut sadar dan menyesal atas perilaku dan moralnya yang buruk selama ini.
Lalu, orang tersebut bertekad untuk memperbaiki diri dan meninggalkan perilakunya yang buruk itu. Miskawaih mengatakan, orang semacam ini, yang memiliki kesadaran dari lubuk hatinya untuk melakukan perubahan diri, biasanya akan terus menjauhkan diri dari kejahatan moral.
Bahkan, jelas Miskawaih, orang itu biasanya akan secara sadar meminta orang lain membimbingnya ke jalan yang benar. Pun, meminta orang lain untuk selalu mengingatkannya saat ia berkecenderungan melakukan hal yang tidak baik.
Di sisi lain, Miskawaih mengungkapkan, adanya seseorang yang berusaha  memperbaiki karakternya, memurnikan jiwanya yang kotor, dan membebaskan dirinya dari kebiasaan jahat, karena pada dasarnya semua orang itu baik.
Miskawaih menegaskan pula, mereka akan tetap menjadi baik karena adanya hukum dan pendidikan. Juga, ada pelatihan dan pembiasaan terhadap mereka sejak kanak-kanak, agar mereka selalu menjalankan kebaikan sesuai fitrahnya.
Bila hal ini diabaikan, ungkap Miskawaih, mereka akan jatuh dalam perangkap keburukan. Dan, tentunya hubungan spiritual dengan Allah SWT akan mengalami gangguan akibat perilaku yang buruk itu. Jadi, pendidikan menjadi hal yang sangat berperan penting.
Karakteristik buruk
Dalam pandangan Miskawaih, ada empat karakteristik buruk yang harus dihilangkan sejak anak-anak supaya mereka tidak menderita ketika dewasa. Pertama, malas, menganggur, menyiakan hidup tanpa kerja apa pun. Intinya, manusia tanpa manfaat.
Kedua, kebodohan dan ketidaktahuan yang disebabkan oleh kegagalan untuk mempelajari dan melatih diri dengan ajaran-ajaran yang diucapkan oleh orang-orang bijak. Ketiga, bersikap kurang ajar dan tak tahu sopan santun.
Hal itu terjadi karena seseorang mengejar keinginan yang tak terkendali dan berusaha melakukan perbuatan dosa dan jahat. Sedangkan keempat, adalah rasa asyik dan keadaan terbiasa dengan perbuatan buruk karena seringnya melakukan perbuatan tersebut.
Miskawaih mengatakan, untuk menghilangkan setiap karakteristik buruk di atas, dibutuhkan pendidikan ataupun pelatihan yang dilakukan secara terus-menerus. Hanya orang cerdas, kata dia, yang dapat menyembuhkan dirinya sendiri dari karakter buruk tersebut.
Sekali lagi, Miskawaih menegaskan, persoalan itu bisa diatasi melalui pendidikan dan pelatihan. Keduanya bisa dilakukan oleh orang tua terhadap anak-anaknya. Ia menyatakan, pendidikan bisa menjadi sarana untuk mewujudkan hal-hal yang baik itu.
Miskawaih mengatakan, pendidikan ini selain berguna bagi anak-anak, juga bermanfaat bagi orang tua. Sebab, saat memberikan pengajaran dan contoh kepada anak-anaknya, mereka akan terus ingat untuk selalu menjalankan perbuatan yang baik.
Pada akhirnya, pendidikan ini akan mengarahkan anak-anak saat menjadi dewasa, untuk menjalankan kebaikan dan menghindari perbuatan jahat dengan mudah. Pun, tentunya mudah mengikuti semua ajaran yang ada di dalam Alquran dan sunah.
Mereka, jelas Miskawaih, juga akan menjadi terbiasa menjaga diri dari godaan kesenangan yang menjerumuskan kepada keburukan. Tak hanya itu, mereka juga akhirnya tak terbiasa memanjakan dirinya dalam kesenangan yang melalaikan.
Pada akhirnya, mereka lebih menginginkan untuk memiliki kemampuan yang tinggi dalam filsafat, dan mencari kedekatan diri dengan Allah. Lalu, jelas Miskawaih, mereka akan menuai persahabatan yang hangat dari orang-orang yang saleh.
Miskawaih dan Metode Pendidikan
Ibnu Miskawaih juga mengenalkan sejumlah langkah yang akan melahirkan aspek positif dalam mendidik. Ia, misalnya, memandang penting pemberian pujian. Pujian, kata dia, bisa dilakukan oleh orang tua atau pendidik ketika anak-anak melakukan hal-hal baik.
Menurut Miskawaih, patut pula memberikan pujian kepada orang dewasa yang melakukan perbuatan baik di hadapan anak-anak. Tujuannya, anak-anak bisa mencontoh sikap terpuji yang dilakukan oleh orang dewasa tersebut.
Miskawaih mengingatkan, pujian harus dilakukan untuk menekankan pentingnya tindakan-tindakan yang baik dan harus diberikan untuk tindakan yang baik-baik saja. Selain pujian, ia juga memberi saran untuk mendorong anak menyukai makanan, minuman, dan pakaian yang baik.
Namun, perlu diingatkan pula agar seorang anak atau siapa pun yang telah dewasa untuk tak makan, minum, dan berpakaian secara berlebihan. Dalam aturan makan, anak harus diberi tahu bahwa makan itu suatu keharusan dan penting bagi kesehatan tubuh.
Makan, jelas Miskawaih, bukan sebagai alat kesenangan indra. Perlu diketahui pula bahwa makanan merupakan obat bagi tubuh, yakni obat untuk rasa lapar dan mencegah timbulnya penyakit. Orang tua atau pendidik harus mengingatkan anak didiknya agar tak makan berlebihan.
Dalam cara berpakaian, Miskawaih menyatakan, saat anak telah beranjak dewasa, khususnya laki-laki, sebaiknya mereka mengenakan pakaian putih-putih dan menghindari pakaian berpola. Sebab, menurut dia, pakaian berwarna dan berpola lebih layak untuk perempuan.
Selain itu, Miskawaih mendorong laki-laki untuk tak menghiasai dirinya dengan perhiasan perempuan, seperti memakai cincin dan mempunyai rambut panjang. Mereka tidak boleh mengenakan emas dan perak dalam bentuk apa pun.
Anak-anak, jelas Miskawaih, pun harus dilatih untuk mengagumi sifat-sifat murah hati. Misalnya, berbagi makanan. Selain pujian, anak juga perlu mendapatkan peringatan bila melakukan hal tak baik. Jika anak berbuat buruk, perbuatan itu juga perlu dikecam.
Langkah ini bertujuan agar si anak tak lagi melakukan hal buruk. Jika kecaman tak membuat si anak menghentikan perbuatan buruknya, Miskawaih menyarankan tindakan terakhir, yaitu hukuman fisik. Namun, hukuman ini tak dilakukan secara berlebihan.***(republika/WI-001)

Abu'l-Barakat al-Baghdadi, Ilmuwan Besar dari Baghdad


Wartaislam.com - Kitab al-Mu'tabar menjadi karya fenomenal Barakat yang berisi esai-esai tentang filsafat dan sains.
Abu'l-Barakat al-Baghdadi dikenal sebagai seorang dokter dan filsuf. Ia dikenal pula sebagai seorang saintis. Nama lengkapnya, Hibat-Allah ibn Ali ibn Malka Abu'l-Barakat al-Baghdadi. Ia pun memiliki nama julukan, Awhad al-Zaman atau orang ternama pada zamannya.
Julukan ini diyakini terkait dengan profesi Barakat sebagai seorang dokter. Sebab, ia merupakan dokternya para khalifah Baghdad, tempat ia tinggal. Ia juga dokter langganan para sultan dari Dinasti Seljuk. Selain melakukan praktik kedokteran, ia juga mengajar tentang kedokteran.
Barakat memiliki sejumlah murid kedokteran. Ia tak hanya dikenal dengan julukannya Awhad al-Zaman, tapi juga memiliki reputasi luas karena karya fenomenalnya yang berjudul Al Kitab al Mu'tabar.
Karya ini berisi esai-esai Barakat tentang filsafat. Dalam esainya itu, ia menguraikan konsep-konsep dasar tentang filsafat alam dengan analisis yang tajam. Kitab ini disusun saat ia mencapai usianya yang matang.
Kitab al-Mu'tabar berisi refleksi-refleksi filosofis Barakat yang dilakukannya dari waktu ke waktu. Terutama, mengenai logika, fisika, ilmu pengetahuan alam, dan metafisika. Ia mengutip pula Kitab al-Shifa yang ditulis cendekiawan Muslim ternama, Ibnu Sina.
Bahkan, dalam beberapa bagian bukunya, Barakat mengutip sepenuhnya kalimat Ibnu Sina. Namun, ia pun menyanggah pemikiran Ibnu Sina dan menguraikan alasan tak sependapat pemikirannya dengan Ibnu Sina tersebut.
Barakat mengenalkan ide-ide alternatif yang menarik. Dan, ide tersebut mengantarkan gaungnya pada perkembangan fisika modern. Seperti, idenya mengenai gerak dan konsep tentang waktu. Pada 1938, seorang ilmuwan, Shlomo Pines, menaruh perhatian besar pada ide inovatif Barakat itu.
Pemikiran Barakat tentang gerak, di antaranya mengenai gerakan proyektil, yang memiliki kaitan dengan perkembangan teknologi pada beberapa abad kemudian. Ini bermula dari perbincangan mengenai bubuk mesiu yang ditemukan di Cina.
Bubuk mesiu tersebut menjadi sangat populer dalam perang Eropa pada abad ke-15. Bubuk ini digunakan pihak-pihak yang bertikai dalam peperangan untuk mendorong proyektil besar, guna menghantam tembok-tembok pertahanan kota yang mereka serang.
Pada pertengahan abad ke-16, para pakar senjata di Eropa mulai mencari cara lain untuk meningkatkan daya jangkau kekuatan artileri mereka. Ada sisi lain dari perkembangan itu yang menjadi sebuah polemik dalam bidang sains.
Sebab, ternyata gerak proyektil yang didorong bubuk mesiu itu tak sesuai dengan konteks doktrin gerak yang diusung oleh Aristoteles. Dalam konteks ini, berdasarkan hukum gerak Aristoteles mestinya proyektil yang dilontarkan jatuh langsung ke tanah.
Pada kenyataannya, proyektil itu justru tak langsung jatuh ke tanah saat terlontar dari selongsong meriam. Sebaliknya, benda tersebut bergerak mengikuti sebuah lintasan melengkung. Bahkan, para pendukung Aristoteles yang paling setia pun melihat cacat doktrin itu.
Kritik terhadap konsep gerak yang diusung Aristoteles, sebenarnya bermunculan sebelum abad ke-15. Banyak cendekiawan termasuk cendekiawan  Muslim melontarkan kritik terhadap doktrin gerak Aristoteles.
Misalnya, Joannes Philoponus yang lebih dikenal sebagai John the Grammarian. Kritik itu lalu dikembangkan lebih jauh oleh cendekiawan Muslim Ibnu Sina, Barakat, dan Ibnu Bajja dari Andalusia pada abad ke-12.
Dalam konteks ini, Barakat menyatakan ada tenaga dorong dari meriam untuk melontarkan proyektil. Hingga proyektil itu terdorong dan mencapai jarak tertentu. Bukan seperti yang dilontarkan oleh Aristoteles bahwa proyektil akan langsung jatuh ke bumi.
Hal itu tak akan terjadi, kata Aristoteles, jika ada penggerak yang berhubungan dengan objek yang sedang bergerak. Saat penggerak tak ada, objek itu akan langsung jatuh ke bumi. Pada kenyataannya, proyektil itu tak langsung jatuh, tapi bergerak meniti garis lengkung.
Konsep yang diajukan oleh Barakat dan Ibnu Sina mengenai gerakan proyektil ini, kemudian menjadi acuan pula bagi pengembangan konsep dorongan dan momentum. Terutama, pada pemikiran yang dikembangkan Galileo Galilei pada abad ke-17.
Pemikiran lain Barakat adalah mengenai akselerasi atau percepatan. Ia mengatakan, percepatan gerak benda jatuh disebabkan adanya gaya gravitasi yang menghasilkan kecenderungan alami benda tersebut untuk jatuh.
Konsep pemikiran Barakat digunakan untuk mengantisipasi hukum dasar mekanika klasik. Ia juga menjelaskan, percepatan yang dialami benda berat yang jatuh merupakan kecenderungan alami. Pemikiran dia ini mendorong lahirnya hukum dasar dinamika modern.
Paling tidak melalui pemikiran-pemikiran itu, Barakat telah menyumbangkan banyak ide baru mengenai fisika yang berkaitan dengan gerak. Selain mengemukakan hukum percepatan, dia juga menyatakan gerak itu relatif.
Dalam Kitab al-Mu'tabar, Barakat memberi perhatian atas kondisi yang saling memengaruhi antara kata-kata dan konsep. Misalnya, ia mengembangkan teori inovatifnya tentang waktu. Ini terlontar setelah ia menemukan sebuah kesimpulan.
Menurut Barakat, kata waktu yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari merupakan sebuah konsep fundamental. Ia mengatakan, waktu merupakan sebuah entitas. Ia menegaskan pula bahwa waktu adalah ukuran sesuatu yang terjadi bukan ukuran gerak seperti kata Aristoteles.
Barakat memiliki pula kontribusi pemikiran dalam bidang psikologi. Ia membahas tentang kesadaran diri. Hal ini pernah pula diangkat oleh Ibnu Sina, terutama yang berkaitan dengan kegiatan ini. Namun, Barakat melakukan kajian lebih dalam.
Kehidupan Barakat
Barakat hidup di abad ke-11 hingga abad ke-12. Ia lahir di Balad, sebuah kota di wilayah Tigris, dekat Mosul, Irak. Ia dilahirkan di sebuah keluarga Yahudi. Laman Muslimheritage dan Wikipedia, mengungkapkan, akhirnya Barakat memutuskan untuk memeluk Islam.
Saat menjalani profesinya sebagai seorang dokter, Barakat memiliki saingan berat, yaitu seorang dokter Kristen bernama Ibn al-Tilmidh. Di sisi lain, ia pun memiliki teman karib bernama Ishaq bin Ibrahim bin Erza yang menulis sebuah buku berisi kata-kata sanjungan terhadapnya.
Ibn Abi-Usyabi'a in juga menulis sebuah karya yang berisi sejumlah anekdot dan ungkapan, serta daftar sejumlah karya Barakat dalam bidang kedokteran. Ini dianggap sebagai sebuah karya biografi tentang Barakat yang lengkap.
Setumpuk Karya Barakat
Harus diakui, karya fenomenal Abu'l-Barakat al-Baghdadi adalah Kitab al-Mu'tabar. Karya ini berisikan beragam pemikiran Barakat dalam sejumlah bidang, terutama filsafat dan sains. Namun, ada sejumlah karya lain yang ditulis Barakat.
Di antaranya adalah karya dalam bidang kedokteran. Barakat memang dikenal pula sebagai seorang dokter. Karyanya dalam bidang kedokteran adalah risalah mengenai farmakologi yang berjudul Sifat Barsha'tha, dan berisi resep obat-obatan dari India.
Terdapat tiga salinan karya tersebut yang tersimpan di perpustakaan Turki. Selain itu, ada risalah lain tentang farmakologi yang ditulis oleh Barakat, yaitu risalah yang ia beri judul Tiryaq Amir al-Arwah.
Salinan karya tersebut tersimpan di Perpustakaan Kitapsaraydi Manisa, Turki. Ada pula risalah lain mengenai pemikiran intelektual yang berjudul Maqala fi'l-'Aql. Karya tersebut disimpan di perpustakaan di Iran dan Leipzig, Jerman.
Ada pula risalah Barakat yang diberi judul Risala fi Sabab Zuhur al-Kawa-kib Laylan wa Khafa'iha Naharan. Dalam risalahnya ini, ia menjelaskan mengapa bintang bisa terlihat di langit pada malam hari. Karya ini ditulis untuk menjawab pertanyaan Sultan Muhammad Tapar.
Manuskrip tentang karyanya itu disimpan di perpustakaan di Berlin, Jerman, dan Hiderabad, Pakistan. Juga, ada risalah mengenai kajian astronomi soal piring universal. Risalah ini berjudul Risala fi al-Amal bi al-Safiha al-Afaqiyyah.
Naskah risalah itu tersimpan di perpustakaan di Nidge, Turki. ***(WI-001)

Selasa, 02 Agustus 2011

Wanita-Wanita Teladan: Zainab binti Ali, Sang Pembela Saudara

Wanita-Wanita Teladan: Zainab binti Ali, Sang Pembela Saudara
Ilustrasi

Ia adalah eorang wanita mulia yang mempunyai logika berpikir yang jernih, banyak ide, fasih dan juga menguasai ilmu bahasa.

Zainab binti Ali bin Abi Thalib adalah cucu pertama Rasulullah SAW dari putrinya, Fatimah Az-Zahra. Dia terkenal karena keberanian dan dukungannya terhadap Husain, kakaknya yang syahid di medan Karbala. Ia juga melindungi seluruh keluarga Husain beberapa bulan setelahnya, ketika mereka dipenjara oleh dinasti Umayyah.

Zainab dilahirkan sebelum kakeknya, Rasulullah SAW wafat. Sekitar lima tahun sebelum Rasulullah menghadap Ilahi.

Dia adalah anak ketiga pasangan Ali dan Fatimah—setelah Hasan dan Husain—dengan jarak kelahiran sekitar satu tahun antara setiap anak. Kelahirannya diikuti oleh saudara perempuannya, Ummu Kultsum.

Zainab menikah dengan anak pamannya atau sepupunya, Abdullah bin Ja’far.  Dia melahirkan beberapa orang anak seperti Muhammad, Ali, Abbas, Ummi Kultsum dan ‘Aunal Akbar. Dia juga sering menceritakan tentang ibunya, Fatimah binti Muhammad SAW dan Asma binti Umais.

Zainab juga meriwayatkan beberapa hadits. Beberapa orang juga meriwayatkan hadits yang berasal darinya, seperti Muhammad bin Amru, Atha bin As-saib, dan Fathimah binti Husain bin Ali.

Di antara beberapa perkataan Zainab yang dikenal adalah, "Barangsiapa yang menginginkan makhluk menjadi syafaat (mediator) baginya menuju keridhaan Allah, maka hendaklah dia sering-sering memuji Allah (dengan ucapan alhamdulillah). Tidakkah kau mendengar perkataan mereka 'sami'a Allahu liman hamidah' (Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya) kemudian Allah meringankan qudrah-Nya yang akan menimpamu. dan merasa malu untuk menurunkan cobaan lebih besar karena kedekatan-Nya padamu."

Zainab meninggal dunia pada tahun 65 Hijriyah, dan dikuburkan di Qanathir As-Siba’, Mesir. Kini makamnya banyak dikunjungi peziarah. Bahkan namanya dijadikan nama sebuah masjid di Mesir, Masjid Sayyidah Zainab. Pada tahun 1173 H bangunan masjid tersebut direnovasi.




Redaktur: cr01
Sumber: A'lamu An-Nisa dan sumber lain

Sabtu, 09 April 2011

Jamshid Al-Kashi, Saintis Termahsyur Abad Ke-14M

Jamshid Al-Kashi merupakan ilmuawan yang sangat hebat, dan salah seorang yang paling terkenal di dunia.
Jamshid al-Kashi merupakan salah seorang matematikus masyhur di dunia Islam. Ia adalah seorang saintis yang mengembangkan matematika dan astronomi pada zaman kejayaan Dinasti Timurid, di Samarkand abad ke-14 M. Ia berjasa mengembangkan ilmu matematika dan astronomi dengan sederet penemuannya.

Al-Kashi terlahir pada 1380 di Kashan, sebuah padang pasir di sebelah utara wilayah Iran Tengah. Ia hidup pada era kekuasaan Timur Lenk, pendiri Dinasti Timurid, yang memenangkan sederet pertempuran. Timur Lenk memproklamirkan dirinya sebagai penguasa dan tokoh restorasi Kekaisaran Mongol di Samarkand pada 1370.
Sumbangan Al-Kashi bagi Ilmu Pengetahuan

Selama hidupnya, al-Kashi telah menyumbangkan dan mewariskan sederet penemuan penting bagi astronomi dan matematika.

* Bidang Astronomi
Buku tabel astronomi Khaqani Zij
Dalam buku tersebut terdapat tabel trigonometri yang berisi fungsi sinus, tabel gerakan longitudinal matahari, bulan, juga planet-planet. Al-Kashi juga membuat tabel garis bujur dan garis lintang yang paralaks dengan garis lintang, tabel gerhana, juga tabel saat bulan dapat dilihat.

Risalah Instrumen observasi astronomi
Pada 1416, al-Kashi menulis buku berjudul Risalah Instrumen Observasi Astronomi. Dalam buku tersebut, al-Kashi menggambarkan berbagai macam instrumen yang berbeda untuk observasi astronomi seperti triquetrum, bola armillary , equinoctial armillary juga solsticial armillary, sinus, sextant , Fakhri sextant di tempat observatorium Samarkand.

Plate of Conjunctions
Al-Kashi menemukan Plate of Conjunctions semacam alat analog perhitungan yang digunakan untuk menentukan waktu dan hari kapan konjungsi planet akan terjadi.

Computer Planet
Al-Kashi juga menemukan computer planet yang dia sebut sebagai Plate of Zones yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah tentang planet seperti prediksi posisi yang benar antara matahari dan bulan dalam garis bujur, garis lintang matahari, bulan, dan planet-planet. Instrumen tersebut juga digunkan untuk mengukur ekliptika matahari.

* Bidang Matematika
Hukum Cosinus
Di Prancis, Hukum Cosinus dikenal sebagai Theoreme d'Al-Kashi (Teorema Al-Kashi). Sebab Al-Kashi merupakan orang yang pertama yang menemukan hukum tersebut. Dia juga memberikan sejumlah alasan mengapa Hukum Cosinus bisa digunakan untuk memecahkan masalah-masalah yang berhubungan dengan segitiga.

Risalah Kord dan Sinus
Dalam bukunya yang berjudul Risalah Kord dan Sinus, dia menghitung nilai sin 1° dengan sangat akurat. Dari semua ilmuwan matematika pada masanya, hanya Al Kashi yang bisa menilai sin 1° dengan akurat hingga muncullah seorang ahli matematika pada abad ke-16 yakni Taqi al-Din.
Al-Kashi juga mengembangkan berbagai macam metode untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan persamaan kubik yang baru dipelajari di Eropa beberapa abad setelah penemuannya. Untuk menghitung nilai sin 1° dengan tepat, Al-Kashi menemukan rumus matematika yang sering disebut sebagai persembahan kepada Francois Viete.

Pecahan desimal
ecahan desimal yang digunakan oleh orang-orang Cina pada zaman kuno selama berabad-abad, sebenarnya merupakan pecahan desimal yang diciptakan oleh al-Kashi. Pecahan desimal ini merupakan salah satu karya besarnya yang memudahkan untuk menghitung aritmatika yang dia bahas dalam karyanya yang berjudul Kunci Aritmatika yang diterbitkan pada awal abad ke-15 di Samarkand.

Segitiga Khayyam
Untuk menandingi kebesaran segitiga Pascal, di Persia dikenal Segitiga Khayyam dari nama Omar Khayyam. Segitiga Pascal pertama kali diketahui dari sebuah buku karya Yang Hui yang ditulis pada tahun 1261, salah seorang ahli matematika Dinasti Sung yang termasyhur.
Namun, sebenarnya segitiga tersebut telah dibahas dalam buku karya Al Kashi yang disebut dengan Segitiga Khayyam. Dan kita semua tahu bahwa ilmu di Cina dan Persia itu sudah tua. Sedangkan segitiga Pascal yang dibahas oleh Peter Apian, seorang ahli Aritmatika dari Jerman baru diterbitkan pada 1527. Sehingga bisa disimpulkan bahwa Segitiga Khayyam muncul terlebih dulu sebelum segitiga Pascal./suaramedia.

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"









"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog