Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Januari 2012

10 Tahayul Dalam Tradisi Imlek, Perayaan Tahun Baru China


Unikaja.com - Tahun baru China alias Imlek merupakan perayaan meriah yang didominasi warna merah. Namun, ada 10 tahayul seputar perayaan Imlek. Apa saja?

Berbicara tentang China, pasti ada kaitannya dengan mitos dan tahayul. Apalagi, budaya China telah ada lebih dari lima ribu tahun lalu. Dimanapun mereka berada, orang China takkan meninggalkan budayanya, termasuk merayakan imlek. Berikut 10 tahayul seputar tradisi imlek.

  1. Pertama, tak boleh bersih-bersih. Seluruh rumah harus sudah dibersihkan sebelum Tahun Baru, karena bersih-bersih itu dianggap membuang hal-hal buruk sepanjang tahun lalu. Alat bersih-bersih harus diletakkan pada hari H, agar tidak membuang hal baik yang diharapkan.
  2. Tak boleh ada cerita hantu, karena apapun yang dilakukan hal itu akan terbawa terus sepanjang tahun. Kata-kata buruk dan tak beruntung merupakan tabu di hari pertama tahun baru. Terutama, karena kisah seram biasanya terkait dengan kematian.
  3. Tak boleh mencuci rambut. Meski disarankan untuk memangkas rambut pada hari pertama, Anda tidak mencucinya untuk memastikan keberuntungan takkan ikut luntur.
  4. Tak boleh membeli buku. Sebab itulah toko buku tutup, karena dilarang membeli buku. Alasannya, buku merupakan homonim untuk ‘kehilangan’ dalam bahasa Kanton. Meski begitu, tak ada larangan untuk membaca buku.
  5. Tak boleh belanja sepatu. Berbelanja sepatu dibatasi pada hari pertama. Sebab, kata sepatu merupakan homonim untuk kata ‘sulit’ dalam bahasa Kanton.
  6. Tak boleh menangis. Menitikkan air mata dilarang pada hari tahun baru. Sebab itulah anak-anak diampuni dan tak diberi hukuman atas kesalahan yang mereka lakukan pada hari tersebut.
  7. Tak boleh duduk di kamar tidur. Menemui siapapun di kamar tidur pada hari tahun baru dianggap sebagai kesialan. Sebab itulah semua orang, bayi dan orang tua yang sakit sekalipun, didandani dan duduk di ruang tamu pada hari tersebut.
  8. Tak boleh ada benda tajam. Memegang benda tajam pada hari tahun baru dianggap sebagai hal buruk karena bisa ‘memotong’ hal-hal baik. Gunting dan pisau serta benda taham lainnya disarankan untuk disimpan pada hari sebelumnya.
  9. Merah warna yang baik. Pakaian, dekorasi dan ornamen berwarna cerah sangat direkomendasikan pada hari tersebut. Anak-anak menerima angpao/uang dalam amplop merah dari orangtuanya, ucapan semoga sehat dan bahagia. Rumah didekorasi dengan warna merah.
  10. Kicauan burung pertanda baik. Orang pertama yang anda temui pada hari tahun baru itu menentukan seberuntung apa anda sepanjang tahun. Mendengar kicauan atau melihat burung yang berkicau dianggap keberuntungan. Apalagi, burung berwarna merah atau burung walet.

Tradisi Mendonorkan Mata di Sri Lanka





Premathilake, 32, mendapatkan hadiah yang tidak ternilai harganya. Dia baru saja menjalani transplantasi mata di sebuah rumah sakit di Kolombo, Sri Lanka. Donornya adalah seorang yang baru saja meninggal lima jam sebelumnya.

Dengan mata kirinya yang baru, Premathilake tidak perlu lagi bergantung pada orangtuanya. Setelah matanya tersiram cairan asam di tempatnya bekerja, penglihatan Premathilake memudar. Beruntung, sebuah tradisi mulia di negara tersebut membuatnya dapat kembali melihat dunia, walaupun agak buram.

Sri Lanka tidak pernah kekurangan donor mata, pasalnya, banyak orang di negara tersebut bersedia mendonorkan mata mereka jika mereka mati nanti. Bahkan, mereka yang masih hidup juga ingin mendonorkan matanya dengan cuma-cuma.

"Mereka sering bertanya, 'Dapatkah kami menyumbangkan mata ketika kami masih hidup? Karena kami punya dua mata, bisa kami sumbang salah satunya?' Mereka bersedia mendonorkannya karena mereka ingin membantu sesama, mereka tidak mendapat apa-apa," kata Dr Sisira Liyanage, direktur Rumah Sakit Mata Nasional Sri Lanka, dilansir dari CBS News, Minggu 22 Januari 2012.

Aksi mulia rakyat Sri Lanka ini menjadi semacam simbol tidak tertulis tentang martabat dan budaya negara. Bantuan ini diberikan oleh seluruh lapisan rakyat Sri Lanka, baik yang kaya maupun yang miskin.

Rakyat Sri Lanka yang 67 persennya menganut agama Buddha yakin tindakan mereka ini akan memberikan penghidupan yang lebih baik di kehidupan mereka selanjutnya setelah reinkarnasi.

Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Dr Hudson Silva, tahun 50-an lalu di Sri Lanka. Kala itu, Hudson merasa frustasi akibat kekurangan kornea untuk didonorkan. Saat itu, mata hanya diperoleh dari tahanan yang dihukum gantung.

Akhirnya, Silva bersumpah akan menyumbangkan korneanya sendiri saat dia mati. Di sebuah koran, dia menuliskan artikel yang berjudul "Kehidupan untuk Mata yang Mati." Respon pembaca luar biasa, dia kebanjiran kornea mata setelah itu.

Dengan fasilitas seadanya, dia bersama dengan istrinya mulai mengambil kornea mata pendonor dan menyimpannya di kulkas rumahan. Lalu dia mendirikan Komunitas Donasi Mata yang pada 1964 untuk pertama kalinya mengirimkan kornea ke luar negeri menggunakan termos es sederhana. Sejak saat itu, sudah 60.000 kornea diterbangkan keluar Sri Lanka.

Saat ini, Rumah Sakit Mata Nasional Sri Lanka mencatat, sedikitnya 900.000 orang telah menandatangani perjanjian mendonorkan mata mereka setelah mati ke bank mata di rumah sakit ini. Setiap tahunnya, sebanyak 3.000 jaringan mata dikirimkan ke 57 negara di seluruh dunia dari rumah sakit ini.

Sumber : http://dunia.vivanews.com/news/read/282136-tradisi-mendonorkan-mata-di-sri-lanka

9 Gaya Busana Tahun 50-an yang Kembali Hits

Banyak tren gaya berbusana yang ditampilkan para desainer dunia dalam koleksi Spring/Summer 2012. Ada yang menonjol dan mudah diaplikasikan, salah satunya adalah gaya retro yang mudah dipadupadankan dengan busana lama di lemari Anda. Bedanya kali ini adalah sentuhan yang lebih romantis dengan aplikasi bulu unggas hingga potongan laser dan warna pastel. Simak sembilan brand yang bisa menjadi acuan tren Anda.


1. Prada

Desainer Miuccia Prada menawarkan coat (jaket panjang) polos yang ditempeli bahan lace warna pink pastel dan ditumpuk dengan sentuhan payet bebatuan. Dengan sentuhan ikat pinggang rantai dan bros, coat ini tampil mempesona.

2. Valentino

Duo desainer Pier Paolo Piccioli dan Maria Grazia Chiuri menawarkan gaun lace bunga tranparansi untuk menampilkan kesan seduktif yang romantis. Gunakan dengan kamisol warna nude, maka tubuhpun tertutup sempurna tanpa mengumbar vulgarisme.

3. Rochas

Kesan retro begitu kuat terasa saat kacamata kucing dan rok lebar rancangan Marco Zanini dipamerkan. Gaya retro ini terkesan modern dengan penambahan sentuhan glitter dan kontruksi ramping di bagian torso atas.

4. Louis Vuitton

Busana dengan detail potongan laser yang berhiaskan payet plastik, bulu unggas, kristal hingga bahan tweed merupakan kuncinya. Disajikan oleh desainer Marc Jacobs untuk wanita yang menyukai gaya retro yang super feminin.

5. Chanel

Masih dengan penggunaan bulu unggas dan lace, koleksi Chanel bermain di proporsi tubuh wanita. Penempatan detail di bahu dan bagian depan gaun menjadikan tampilan gaun semakin unik. Padanan sepatu ankle boots metalik memberikan sentuhan futuristik.

6. Nina Ricci


Desainer Peter Copping tidak ingin kesan retro berubah menjadi kuno. Ia pun membuat gaun lace pas badan yang berakhir di bawah lutut. Dengan warna yang cerah dan sentuhan ikat pinggang yang menyita atensi, wanita yang memakainya akan terlihat elegan.

7. Dolce & Gabbana


Duo desainer Italia, Domenico Dolce & Stefano Gabbana ingin busana lace yang dianggap tua menjadi terlihat lebih muda. Merekapun menambahkan aplikasi bebungaan warna senada yang cukup besar di sekujur gaun.

8. Jil Sander


Koleksi terbaru rancangan Raf Simons untuk Jil Sander menampilkan keragaman unsur minimalisme. Salah satunya adalah setelan atasan dan celana bermotif keramik khas Picasso. Sentuhan retro di sini tersirat lewat print dan siluet yang vintage.

9. Miu Miu


Miuccia Prada mengaku koleksi ini dibuatnya hanya dalam 15 hari. Maka bisa dibilang kesan retro yang ia tampilkan sangat sederhana. Cukup dengan kemeja putih bervolume yang dimasukkan rapi ke dalam rok detail kerut.

Tugu Perjuangan Bekasi Simbol Perlawanan dan Perdamaian

KINI, jika Anda melintas di jalan Djuanda, tepatnya di samping jembatan Kali Bekasi, sebuah monumen megah tegak berdiri, penanda bahwa ditempat tersebut ada sebuah peristiwa bersejarah. Dalam suasana panas revolusi, pada 18 Oktober 1945, Komandan Tentara Keamanan Rakyat Jatinegara, Sambas Atmadinata, menginformasikan kepada Zakaria, Komandan TKR di markas Bekasi (saat ini menjadi gedung PMI Kota Bekasi) bahwa akan ada serombongan pasukan Jepang berjumlah 90 orang melintas Bekasi mengunakan kereta api menuju Bandar Udara Kali Jati Subang.
Informasi tersebut seperti minyak yang menyiram bara dendam para tentara republik yang ada di Bekasi. Maklum, rakyat Bekasi sudah sangat lama menderita di bawah jajahan bangsa asing. Bersama pasukan, Zakaria bergegas menuju Stasiun, melakukan penyergapan. Zakaria memerintahkan Kepala Stasiun Bekasi (tidak terlacak namanya) untuk memindahkan jalur perlintasan kereta dari jalur dua ke jalur satu yang merupakan jalur buntu. Akibatnya, kereta api yang membawa pasukan Jepang berhenti tepat di tepi Kali Bekasi.
Ketika kereta sudah berhenti, Zakaria memerintahkan komandan pasukan Jepang untuk keluar dari dalam gerbong. Tak lama kemudian, sang komandan keluar dengan menggenggam sepucuk pistol dan mengarahkannya kepada Zakaria. Tak mau ambil risiko, Zakaria melepaskan tembakan ke arah komandan Jepang tersebut, disusul kemudian oleh suara-suara tembakan lain, perang pun pecah.
Pasukan Jepang berhamburan keluar dari tiga gerbong terdepan mencoba mengambil senjata yang disimpan di gerbong belakang. Namun, tentara republik tidak mau memberi kesempatan, pertempuran hebat terjadi. Posisi pasukan Jepang yang tanpa senjata membuat mereka kalang kabut, beberapa di antara mereka bahkan sempat melarikan diri ke arah Teluk Pucung. Namun, dalam sekejap 90 orang tentara Jepang berhasil ditumpas. Jasadnya dihanyutkan ke Kali Malang, sekejap air berubah menjadi merah darah.
Kejadian ini, membuat pihak Jepang marah besar karena dianggap menyalahi perjanjian damai antara pihak Indonesia dan Jepang. Untuk menghindari kesalahpahaman, Kapolri Laksamana Soekanto langsung menemui Laksamana Meida untuk menjelaskan duduk perkaranya.
Menurut Ali Anwar, sejarawan Bekasi, dalam dokumen notulensi percakapan antara R. Soekanto dan Laksaman Meida, pihak Indonesia menyampaikan permohonan maaf kepada Jepang.
"Bahkan, Presiden Soekarno menyempatkan diri untuk datang ke Bekasi guna menenangkan kondisi," ujar Ali Anwar . Peristiwa tersebut, selalu dikenang pihak Jepang. Setiap tahun ada ritual tabur bunga di tepi Kali Malang oleh warga Jepang.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, pembangunan monumen ini memang atas kerja sama Pemkot Bekasi dengan Pemerintah Jepang. Selain sebagai monumen sejarah, Tugu ini juga mengabarkan pesan perdamaian dan cinta kasih. (JU-16) ***
Catatan dari Ali Anwar, Bekasi Heritage: Peristiwa bukan tanggal 18 Oktober 1945, tetapi 19 Oktober 1945. Bukan Kali Malang, tetapi Kali Bekasi.

Ali Anwar, Penjaga Sejarah Bekasi

SEJARAH bagi sebagian orang membosankan. Namun untuk Ali Anwar, sejarah adalah mainan yang mengasyikkan. Ia menelusurinya ke ceruk terdalam, mengupas lapisan masa lalu dengan penuh kesabaran. Begitulah, Ali sudah kepincut cerita sejarah sejak remaja. Cerita tentang Bekasi tempo dulu yang dituturkan oleh orang-orang tua di kampungnya membangunkan imajinasi Ali. Ia hafal mulai dari kisah kejayaan Kerajaan Tarumanegara di masa Raja Purnawarman hingga heroisme perjuangan melawan kompeni Belanda.
Suatu ketika, Ali muda kecewa ketika mendapati kenyataan bahwa Bekasi kurang diakui dalam peta kebudayaan nusantara dan sejarah pergolakan kemerdekaan. Sejak itu, ia bertekad untuk mengabdikan diri, mengumpulkan serpihan sejarah Bekasi yang terserak. "Waktu itu, K.H. Noer Ali memberikan dorongan kepada saya untuk mendalami ilmu sejarah. Katanya, harus ada orang Bekasi yang menulis sejarah kampungnya sendiri," kata Ali mengenang wasiat K.H. Noer Ali, seorang tokoh masyarakat Bekasi.
Karya tulis sejarahnya yang pertama adalah "Bekasi Lautan Api", sebuah tulisan yang menggambarkan tentang pembumihangusan Bekasi oleh pasukan sekutu pada 13 Desember 1945. Tulisan ini berhasil menjadi juara lomba karya tulis tingkat pelajar dan mahasiswa yang diadakan oleh Kodam V/Jaya, Jakarta, pada tahun 1984. Ketika itu, Ali baru memasuki bangku kuliah di Universitas Indonesia pada Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya.
Tulisan tersebut bersumber dari cerita yang biasa didengar Ali dari orang-orang tua di kampungnya. Sejarah yang dianggap biasa saja oleh para pencerita itu ternyata menjadi sorotan media nasional dan internasional kala itu. Tulisan ini kemudian dikembangkan Ali selama dua puluh tahun dan diterbitkan menjadi buku berjudul Bekasi Dibom Sekutu : Pembumihangusan Kota dan Kampung-kampung di Bekasi oleh Tentara Sekutu-Inggris, 13 Desember 1945, Bekasi terbitan Komunitas Baca Bekasi, pada tahun 2006.
Proses penggalian sejarah ini tidak mudah. "Kesulitannya adalah pengumpulan data karena banyak yang tidak terdokumentasikan. Saksi sejarah pun rata-rata sudah meninggal," kata pria kelahiran Bekasi, 12 Januari 1965 ini.
Kelangkaan data tak membuat semangat Ali padam. Sebaliknya ia malah semakin bergairah. Ali melakukan pencarian dengan enjoy, meminjam istilah anak muda masa kini. Kegiatan pencarian data ia sebut sebagai tamasya ke masa lalu.
Berbagai buku sejarah telah lahir dari tangannya, antara lain, Seri Sejarah Peradaban Dunia, Gerakan Protes Petani Bekasi : Studi Kasus Awal Masuknya Sarekat Islam di Tanah Partikelir, Sejarah Bekasi Sejak Purnawarman sampai Orde Baru, Cuplikan Sejarah Patriotik Rakyat di Bekasi, Benda Cagar Budaya Kabupaten Bekasi, Konflik Sampah Kota, dan K.H. Noer Alie, Kemandirian Ulama Pejuang.
Bagi suami Lisnarti Wardah ini, sejarah harus ditulis agar tidak pupus ditempa waktu. Sejarah amat penting bagi generasi sesudahnya sebab ingatan orang sangat terbatas. Ali memandang, penulisan sejarah sama halnya dengan usaha mencari identitas kultural.
Bekasi, kata dia, sampai saat ini tidak memiliki akar budaya yang jelas. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu faktor karena Bekasi yang menjadi tempat berbaurnya berbagai macam kebudayaan di era kerajaan Tarumanegara. Selain itu mayarakat juga banyak terpengaruh kebudayaan asing akibat penjajahan. Ia mengusulkan perlu adanya rekonstruksi budaya untuk menciptakan kesatuan budaya dan kultur. "Ini adalah tugas kita bersama, terutama pemerintah daerah," kata pria yang sehari-hari bekerja sebagai wartawan Koran Tempo.
Selain sibuk mengeluti sejarah, Ali juga aktif di One Center Bekasi, Ketua Bekasi Heritage, Ketua Komunitas Budaya Pangkalan Bambu, dan pengurus Badan Kekeluargaan Masyarakat Bekasi (BKMB) Bhagasasi. (JU-16)***

Senin, 05 September 2011

TARI COKEK BETAWI (Dulu dibina oleh para cukong peranakan Cina)

 Dalam sejarah kesenian Betawi, Cokek merupakan salah satu hiburan unggulan. Selain luas penyebarannya juga dengan cepat banyak digemari masyarakat Betawi kota sampai warga Betawi pinggiran. Pada kurun waktu itu hampir tiap diselenggarakan pesta hiburan, baik perayaan perjamuan hajatan perkawinan hingga pesta pengantin sunat. Dan ragam acara yang bersifat pesta rakyat. Disanalah para penari Cokek mempertunjukan kepiawaiannya menari sambil menyanyi. Barangkali memang kurang afdol jika penari cokek sekadar menari. Karenanya dalam perkembangannya selain menari juga harus pintar olah vokal alias menyanyi dengan suara merdu diiringi alunan musik Gambang Kromong. Jadi temu antara lagu dan musik benar-benar tampil semarak alias ngejreng beeng. 


Sayang sekali dalam buku “Ikhtisar Kesenian Betawi” edisi Nopember 2003 terbitan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Propinsi DKI Jakarta, yang ditulis oleh H. Rachmat Ruchiyat, Drs. Singgih Wibisono dan Drs. H. Rachmat Syamsudin, tidak menyebutkan sejak kapan jenis tarian Cokek itu muncul ke permukaan. Tidak disebutkan pula secara jelas siapa tokoh atau pelaku pertama yang memperkenalkan tarian egal-egol sembari menggoyang-goyangkan pinggulnya yang kenes. Tentulah ada kegenitan lain yang dimunculkan oleh para penari tersebut untuk menarik lawan jenisnya, Ditambah kerlingan mata sang penari yang indah memikat para tamu lelaki untuk ikutan ngibing berpasangan di panggung atau pelataran rumah warga. Orang Betawi menyebut Tari Ngibing Cokek. Selama ngibing mereka disodori minuman tuak agar bersemangat. Mirip dengan Tari Tayub dari Jawa Tengah. 


cokek1.jpgtari_cokek2.jpg


Tamu terhormat

Begitu indah dan familiarnya jenis tarian ini. Para penari wanita yang berdandan dan bersolek menor, wajahnya diolesi bedak dan bibir bergincu, ditambah aroma wewangin minyak cap ikan duyung. Pada tarian pembukaan para penari berjoget dalam posisi berjajar ke samping, mirip posisi jejer panggung kesenian Ketoprak Jawa. Mereka merentangkan tangan setinggi bahu, sambil melangkahkan gerak kaki maju-mundur diiringi lagu-lagu khas Gambang Kromong. Kemudian mereka mengajak menari kepada para tamu yang hadir dengan mengalungkan selendang. Penyerahan selendang biasanya diberikan kepada tamu yang dianggap paling terhormat. Bila sang tamu bersedia menari maka mereka pun mulai menari berpasang-pasangan. Tiap pasang berhadapan pada jarak dekat tetapi tidak saling bersentuhan. Dalam beberapa lagu ada pasangan yang menari saling membelakangi. Kalau kebetulan tempatnya luas, ada beberapa penari berputar-putar membentuk lingkaran. Selesai menari, para tamu pengibing memberikan imbalan berupa uang kepada penari cokek yang melayani. Lumayan, dalam semalam tiap penari cokek bisa mengumpulkan uang yang cukup banyak jumlahnya. Bisa dibelanjakan barang-barang kebutuhan pribadi seperti pakaian, sepatu, sandal atau apa saja menurut kesenangan mereka.


Fungsi ekonomi

Dari sisi ini bisa ditafsirkan bahwa jenis tarian Cokek menyandang fungsi ekonomi. Para Wayang Cokek selain mendapat imbalan berupa uang dari penanggap juga mendapat tip dari para lelaki yang berhasil digaet ngibing bersama. Dulu boleh dibilang para seniwati Cokek mendapat penghasilan ajeg karena seringnya ditanggap. Beda dengan masa kini dimana jenis kesenian Cokek kurang mendapat pasaran. Di zaman teknologi modern, generasi baru Betawi di kota mau pun pinggiran merasa lebih senang menanggap musik Orgen tunggal yang menampilkan penyanyi dangdut berbusana seronok. Kemajuan dan pergeseran zaman memang sulit dicegah. Sekarang orang lebih suka memilih hiburan yang serba instan di depan layar televisi. Barangkali agar jenis kesenian Cokek tidak punah, hendaknya lembaga pemerintah daerah yang menangani jenis kesenian Betawi melakukan tindakan preventif pembinaan yang cukup gencar dan terus menerus.
Barangkali bisa menjadi contoh soal, sejak dahulu kala atau mungkin hingga sekarang penari Cokek tampil santun mengenakan busana yang menutup seluruh badan. Biasanya penari cokek memakai baju kurung dan celana panjang serta selendang melingkar dililitkan dibagian pinggang. Kedua ujung selendang yang panjang menjulur ke bawah. Fungsi selendang selain untuk menari juga bisa untuk menggaet tamu laki-laki untuk menari bersama. Keindahan busana itu pun tampak gemerlap terbuat dari kain sutera atau saten berwarna ngejreng banget, merah menyala, hijau, kuning dan ungu, temaram mengkilap berkilauan jika tertimpa cahaya lampu patromaks

Unsur hias pun terdapat di bagian kepala Wayang Cokek (sebutan bagi penari cokek). Dimaksud agar tampak lebih cantik dan indah jika kepala digoyang-goyangkan kekiri dan kekanan. Rambutnya tersisir rapi ke belakang. Ada lagi yang dikepang disanggulkan dengan tusuk konde jaran goyang seperti rias pengantin Jawa. Ditambah hiasan dari benang wol dikepang atau dirajut yang menurut istilah setempat disebut burung hong. 

Hidup enggan-mati ogah

Dari berbagai sumber yang dapat dipercaya, tari Cokek pada zaman dahulu dibina dan dikembangkan oleh tuan-tuan tanah Cina yang kaya rata. Jauh sebelum Perang Dunia ke II meletus tari Cokek dan musik Gambang Kromong dimiliki cukong-cukong golongan Cina peranakan. Bisa dilihat dari lagu yang iramanya mirip lagu dari negerinya konglomerat Liem Swi Liong. Cukong-cukong peranakan Cina itulah yang membiayai kehidupan para seniman penari Cokek dan Gambang Kromong. Bahkan ada pula yang menyediakan perumahan untuk tempat tinggal khusus mereka. Di zaman merdeka seperti sekarang ini, tidak ada lagi yang secara tetap menjamin kehidupan dan kesejahteraan mereka. Ibaratnya seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Walau pun sejak kurun waktu belakangan ini telah berdiri kantor Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Propinsi DKI Jakarta, namun cara pembinaannya masih belum maksimal. Sehingga kesenian Cokek sekarang sepertinya berada di ujung tanduk, hidup enggan mati pun ogah. (Tjok Hendro) www.tamanismailmarzuki.com

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"









"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog