Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Oktober 2010

Tawassul - Bicara Habib Munzir

Memang banyak pemahaman saudara-saudara kita muslimin yang perlu diluruskan tentang tawassul, tawassul adalah berdoa kepada Allah dengan perantara amal shalih, orang shalih, malaikat, atau orang-orang mukmin. Tawassul merupakan hal yang sunnah, dan tak pernah ditentang oleh Rasul saw, tak pula oleh Ijma Sahabat radhiyallahuanhum, tak pula oleh Tabiin, dan bahkan para Ulama dan Imam-Imam besar Muhadditsin, mereka berdoa tanpa perantara atau dengan perantara, dan tak ada yang menentangnya, apalagi mengharamkannya, atau bahkan memusyrikkan orang yang mengamalkannya.
Pengingkaran hanya muncul pada abad ke 19-20 ini, dengan munculnya sekte sesat yang memusyrikkan orang-orang yang bertawassul, padahal Tawassul adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits shahih di bawah ini : Wahai Allah, Demi orang-orang yang berdoa kepada Mu, demi orang-orang yang bersemangat menuju (keridhoan)Mu, dan Demi langkah-langkahku ini kepada (keridhoan)Mu, maka aku tak keluar dengan niat berbuat jahat, dan tidak pula berniat membuat kerusuhan, tak pula keluarku ini karena riya atau sumah....... hingga akhir hadits. (HR Imam Ahmad, Imam Ibn Khuzaimah, Imam Abu Naiem, Imam Baihaqy, Imam Thabrani, Imam Ibn Sunni, Imam Ibn Majah dengan sanad Shahih). Hadits ini kemudian hingga kini digunakan oleh seluruh muslimin untuk doa menuju masjid dan doa safar. Tujuh Imam Muhaddits meriwayatkan hadits ini, bahwa Rasul saw berdoa dengan Tawassul kepada orang-orang yang berdoa kepada Allah, lalu kepada orang-orang yang bersemangat kepada keridhoan Allah, dan barulah bertawassul kepada Amal shalih beliau saw (demi langkah2ku ini kepada keridhoanMu).

Siapakah Muhaddits?, Muhaddits adalah seorang ahli hadits yang sudah hafal 10.000 (sepuluh ribu) hadits beserta hukum sanad dan hukum matannya, betapa jenius dan briliannya mereka ini dan betapa Luasnya pemahaman mereka tentang hadist Rasul saw, sedangkan satu hadits pendek, bisa menjadi dua halaman bila disertai hukum sanad dan hukum matannya. Lalu hadits di atas diriwayatkan oleh tujuh Muhaddits, apakah kiranya kita masih memilih pendapat madzhab sesat yang baru muncul di abad ke 20 ini, dengan ucapan orang-orang yang dianggap muhaddits padahal tak satupun dari mereka mencapai kategori Muhaddits, dan kategori ulama atau apalagi Imam Madzhab, mereka bukanlah pencaci, apalagi memusyrikkan orang-orang yang beramal dengan landasan hadits shahih.

Masih banyak hadits lain yang menjadi dalil tawassul adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Abu Nu'aim, Thabrani dan Ibn Hibban dalam shahihnya, bahwa ketika wafatnya Fathimah binti Asad (Bunda dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, dalam hadits itu disebutkan Rasul saw rebah/bersandar dikuburnya dan berdoa : Allah Yang Menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup tak akan mati, ampunilah dosa Ibuku Fathimah binti Asad, dan bimbinglah hujjah nya (pertanyaan di kubur), dan luaskanlah atasnya kuburnya, Demi Nabi Mu dan Demi para Nabi sebelum ku, Sungguh Engkau Maha Pengasih dari semua pemilik sifat kasih sayang., jelas sudah dengan hadits ini pula bahwa Rasul saw bertawassul di kubur, kepada para Nabi yang telah wafat, untuk mendoakan Bibi beliau saw (Istri Abu Thalib).

Demikian pula tawassul Sayyidina Umar bin Khattab ra. Beliau berdoa meminta hujan kepada Allah : "Wahai Allah, kami telah bertawassul dengan Nabi kami (saw) dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawassul dengan Paman beliau (saw) yang melihat beliau (saw), maka turunkanlah hujan..”. maka hujanpun turun. (Shahih Bukhari hadits no.963 dan hadits yang sama pada Shahih Bukhari hadits no.3508). Umar bin Khattab ra melakukannya, para sahabat tak menentangnya, demikian pula para Imam-Imam besar itu tak satupun mengharamkannya, apalagi mengatakan musyrik bagi yang mengamalkannya, hanyalah pendapat sekte sesat ini yang memusyrikkan orang yang bertawassul, padahal Rasul saw sendiri bertawassul. Apakah mereka memusyrikkan Rasul saw ? Dan Sayyidina Umar bin Khattab ra bertawassul, apakah mereka memusyrikkan Umar ?, Naudzubillah dari pemahaman sesat ini.

Mengenai pendapat sebagian dari mereka yang mengatakan bahwa tawassul hanya boleh pada orang yang masih hidup, maka entah dari mana pula mereka mengarang persyaratan tawassul itu, dan mereka mengatakan bahwa orang yang sudah mati tak akan dapat memberi manfaat lagi, pendapat yang jelas-jelas datang dari pemahaman yang sangat dangkal, dan pemikiran yang sangat buta terhadap kesucian tauhid.

Jelas dan tanpa syak bahwa tak ada satu makhlukpun dapat memberi manfaat dan mudharrat terkecuali dengan izin Allah, lalu mereka mengatakan bahwa makhluk hidup bisa memberi manfaat, dan yang mati mustahil. Lalu di mana kesucian tauhid dalam keimanan mereka ? Tak ada perbedaan dari yang hidup dan yang mati dalam memberi manfaat kecuali dengan izin Allah, yang hidup tak akan mampu berbuat terkecuali dengan izin Allah, dan yang mati pun bukan mustahil memberi manfaat bila dikehendaki Allah. karena penafian kekuasaan Allah atas orang yang mati adalah kekufuran yang jelas.

Ketahuilah bahwa tawassul bukanlah meminta kekuatan orang mati atau yang hidup, tetapi berperantara kepada keshalihan seseorang, atau kedekatan derajatnya kepada Allah swt, sesekali bukanlah manfaat dari manusia, tetapi dari Allah, yang telah memilih orang tersebut hingga ia menjadi shalih, hidup atau mati tak membedakan Kudrat Ilahi atau membatasi kemampuan Allah, karena ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah tetap abadi walau mereka telah wafat.

Contoh lebih mudah, anda ingin melamar pekerjaan, atau mengemis, lalu anda mendatangi seorang saudagar kaya, dan kebetulan mendiang tetangga anda yang telah wafat adalah abdi setianya yang selalu dipuji oleh si saudagar, lalu anda saat melamar pekerjaan atau mungkin mengemis pada saudagar itu, anda berkata : "Berilah saya tuan (atau) terimalah lamaran saya tuan, saya mohon, saya adalah tetangga dekat fulan, nah bukankah ini mengambil manfaat dari orang yang telah mati? Bagaimana dengan pandangan bodoh yang mengatakan orang mati tak bisa memberi manfaat? Jelas-jelas saudagar akan sangat menghormati atau menerima lamaran pekerjaan anda, atau memberi anda uang lebih, karena anda menyebut nama orang yang ia cintai, walau sudah wafat, tapi kecintaan si saudagar akan terus selama saudagar itu masih hidup, pun seandainya ia tak memberi, namun harapan untuk dikabulkan akan lebih besar, lalu bagaimana dengan ar-Rahmaan ar-Rahiim, Yang Maha Pemurah dan Maha Menyantuni? Dan tetangga anda yang telah wafat tak bangkit dari kubur dan tak tahu menahu tentang lamaran anda pada si saudagar, NAMUN ANDA MENDAPAT MANFAAT BESAR DARI ORANG YANG TELAH WAFAT.

Aduh...aduh... entah apa yang membuat pemikiran mereka sempit hingga tak mampu mengambil permisalan mudah seperti ini. Firman Allah : "MEREKA ITU TULI, BISU DAN BUTA DAN TAK MAU KEMBALI PADA KEBENARAN" (QS Albaqarah-18). Wahai Allah beri hidayah pada kaumku, sungguh mereka tak mengetahui.Wassalam.

Kamis, 02 September 2010

Kisah Akhlak Para Solihin

Allah swt. berfirman:"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berakhlak yang agung." (Q.s. A-Qalam: 4).

Diriwayatkan oleh Anas bahwa seseorang bertanya kepada Nabi saw : "Wahai Rasulullah, siapakah di antara orang-orang beriman yang paling utama imannya?" Beliau menjawab:"Yaitu mereka yang paling baik akhlaknya." (H.r. Ibnu Majah)

Akhlak yang baik adalah keutamaan sejarah hidup hamba, sehingga mutiara-mutiara seseorang dapat tampak. Manusia itu terlapisi oleh fisiknya, namun terungkap oleh akhlaknya.Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq juga berkata, "Allah swt. menganugerahi Nabi-Nya saw. dengan keistimewaan sifat beliau, dengan pujian yang sama sekali tidak pernah dipujikan kepada makhluk lain. Karena itu Allah swt. berfirman, 'Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur'.

Muhammad al-Wasithy mengatakan, "Allah swt. memberi predikat beliau dengan akhlak yang agung, karena beliau merelakan diri dari dunia dan akhiratnya, dan merasa puas hanya dengan Allah swt. semata." Al-Wasithy juga mengatakan, "Akhlak yang mulia berarti orang tidak bertengkar dengan orang lain, tidak memusuhi oleh mereka, karena hamba itu diluapi kedahsyatan ma'rifat kepada Allah swt."Al-Husain bin Manshur menjelaskan, "Akhlak mulia adalah, bahwa engkau tidak terpengaruh kekasaran orang banyak, setelah engkau memperhatikan Al-Haq."Abu Sa'id al-Kharraz mengatakan, "Akhlak mulia berarti engkau tidak mempunyai cita-cita selain Allah swt."Al-Kattany menegaskan, "Tasawuf adalah akhlak. Barangsiapa bertambah dalam akhlak berarti bertambah pula dalam tasawuf."

Riwayat dari Ibnu Umar r.a. yang mengatakan, "Jika engkau mendengar aku mengatakan kepada seorang budak, 'Semoga Allah melaknatimu,' maka saksikanlah bahwa aku telah memerdekakannya."Al-Fudhail bin `Iyadh mengatakan, "Jika seseorang bertindak dengan akhlak mulia dalam segala hal, tapi ia memperlakukan ayamnya dengan buruk, maka tidak dapat dianggap berakhlak baik."Dikatakan, "Apabila Ibnu Umar melihat salah seorang budaknya melaksanakan shalat dengan baik, beliau akan memerdekakannya.

Budak-budaknya semua tahu akan hal itu, dan mereka mengerjakan shalat dengan baik hanya semata agar dilihat olehnya. Sekalipun demikian, Ibnu Umar masih tetap memerdekakan mereka. Ketika seseorang hendak menipu kami demi Allah, maka kami akan membiarkan diri kami ditipu demi Dia."Al-Harits al-Muhasiby mengatakan, "Kita akan merasa rugi jika kehilangan tiga hal: Wajah cerah disertai dengan kesantunan, kata-kata yang diucapkan dengan baik dan disertai kejujuran, serta persaudaraan yang kuat dipadu dengan kesetiaan." .Abdullah bin Muhammad ar-Razy mengatakan, "Akhlak berarti memandang rendah apa pun yang datang darimu, dan mengagungkan yang datang dari Allah swt."Al-Ahnaf bin Qays ditanya, "Siapa yang mengajarkan akhlak kepadamu?" Ia menjawab, "Qays bin Ashim al-Munaqqary." Orang itu bertanya lagi, "Bagaimana akhlaknya?" Al-Ahnaf menuturkan, "

Suatu ketika ia sedang duduk-duduk di rumahnya ketika seorang budak wanita masuk dengan membawa tusuk daging yang membara. Benda itu jatuh menimpa salah seorang anaknya, yang kemudian meninggal dunia. Budak itu sangat berduka. Qays mengatakan kepadanya, `Jangan khawatir. Engkau kumerdekakan, karenaAllah'."Syah al-Kirmany menuturkan, "Satu tanda akhlak yang baik adalah, bahwa engkau mencegah bahaya, dan secara rela menanggung kerugian yang mereka timpakan kepadamu."Rasulullah saw bersabda :"Engkau tidak akan dapat memberikan kebahagiaan orang lain dengan hartamu, karenanya berilah kebahagiaan dengan wajah yang manis dan akhlak yang baik." (H.r. Al-Bazzar dan Hakim).

Seseorang bertanya kepada Dzun Nuun al-Mishry,. "Siapakah orang yang paling banyak cemas?" Ia menjawab, "Orang yang paling buruk akhlaknya."Wahb menegaskan, "Jika seorang hamba memperaktikkan akhlak mulia selama empatpuluh hari; Allah akan menjadikan akhlak mulia sebagai sifat bawaan baginya."Ketika menafsirkan firman Allah swt. : "Dan pakaianmu, hendaklah engkau bersihkan." (Q.s. AI-Muddatstsir: 4).

Hasan al-Bashry menjelaskan bahwa ayat ini berarti, "Dan akhlakmu itu, perindahlah."Seorang Sufi memiliki seekor domba betina. Ketika ia menemukan salah satu kakinya terpotong, ia bertanya, "Siapa yang melakukan ini?" Salah seorang budaknya menjawab, "Saya." Ketika ditanya mengapa ia melakukan hal itu, si budak menjawab, "Untuk membuat tuan bersedih karenanya." Sufi itu menjawab, "Itu tidak terjadi, tapi aku merasa sakit dengan tindakanmu itu. Pergilah, engkau kumerdekakan."Ibrahim bin Adham ditanya, "

Apakah Anda pernah senang di dunia ini?" Ia menjawab, "Ya, dua kali. Yang pertama, ketika aku sedang duduk-duduk dan seorang laki-laki datang mengencingiku. Yang kedua, ketika aku sedang duduk-duduk dan seorang laki-laki datang menempelengku."Dikatakan bahwa manakala anak-anak melihat Uways al-Qarany mereka selalu melemparinya dengan batu. Karena itu Ia mengatakan kepada mereka, "Jika kalian memang harus melempariku, gunakanlah batu yang kecil agar kakiku tidak terluka, yang membuatku terhalang shalat."Suatu ketika seorang laki-laki memaki Ahnaf bin Qays dan menghinanya. Orang itu mengikuti di belakangnya.

Ketika al-Ahnaf sampai di dekat lingkungan kediamannya sendiri, ia berhenti dan menasihati orang itu, "Wahai anak muda, jika engkau masih punya kata-kata untuk diucapkan, katakanlah sekarang, sebelum salah seorang tetangga dekat yang bodoh mendengar, dan menjawab kata-katamu!"Hatim al-Asham ditanya, "Haruskah seseorang menanggung beban dari setiap orang?" Ia menjawab, "Ya, kecuali dari dirinya sendiri."Diceritakan bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib r.a. suatu ketika memanggil salah seorang budaknya, tapi si budak tidak menjawab. Beliau mengulangi panggilannnya dua hingga tiga kali, tapi si budak masih tetap tidak menjawab.

Ketika beliau datang melihat budak itu dan menemukannya sedang tidur-tiduran, Ali bertanya, 'Apakah engkau tidak mendengar panggilanku?" Ia menjawab, "Ya, saya mendengar." Beliau bertanya, "Lantas mengapa engkau tidak datang?" Si budak menjawab, "Saya merasa aman dari hukuman tuan, jadi saya malas." Ali berkata kepadanya, "Pergilah, engkau merdeka karena Allah swt."Diceritakan bahwa ketika Ma'ruf al-Karkhy pergi berwudhu, ia meletakkan Al-Qur'an dan jubahnya. Seorang wanita datang dan membawanya. Ma'ruf mengikutinya dari belakang.

Wahai saudaraku, aku adalah Ma'ruf al-Karkhy, engkau tidak apa-apa atas perbuatanmu ini. Apakah engkau punya seorang anak laki-laki yang dapat membaca Al-Qur'an?" Wanita itu menjawab, "Tidak." Ma'ruf bertanya, "Seorang suami?" "Tidak," jawab wanita itu. Ma'ruf lalu berkata, "Kalau begitu, berikanlah Al-Qur'an itu kembali kepadaku dan ambillah jubah itu!"Para pencuri memasuki rumah Syeikh Abu Abdurrahman as-Sulamy dan mencuri segala sesuatu yang berharga. Salah seorang sahabat kami mendengar syeikh tersebut menuturkan, "Suatu hari, aku melewati pasar dan kulihat jubahnya sedang dilelang, tapi aku berpaling menjauh tanpa menaruh perhatian sedikit pun padanya.

Al-Jurairy mengabarkan, "Aku baru saja pulang dari Mekkah, dan hal pertama yang kulakukan adalah mengunjungi al-Junayd agar tidak mengangan-angan diriku. Aku memberi salam kepadanya dan pulang ke runlah. Keesokan harinya ketika aku shalat subuh di masjid, aku melihatnya berdiri pada shaf di belakangku. Aku berkata, Aku mendatangimu kemarin hanya supaya engkau tidak mengharap-harap diriku.' Ia menjawab, 'Itulah keutamaanmu. Dan itulah hakmu'."Ketika Abu Hafs ditanya tentang akhlak, ia mengatakan, "Akhlak adalah pilihan Allah swt. untuk Nabi-Nya saw. dalam firman-Nya, 'Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf!' (Q.s. Al-A'raf :199)."Dikatakan, "Akhlak berarti engkau dekat orang banyak, tapi asing terhadap urusan-urusan mereka."

Dikatakan pula, "Akhlak yang baik adalah bagaimana menerima perlakuan kasar manusia dan ketentuan Al-Haq tanpa merasa sedih dan cemas."Dikatakan bahwa Abu Dzar memberi minum untanya di sebuah bak kolam air. Tiba-tiba ada sebagian orang yang menabraknya. Bak air itu pecah. Abu Dzar duduk, kemudian berbaring. Seseorang bertanya kepadanya mengapa berbuat begitu, ia menjawab, "Rasulullah saw memerintahkan kita, bahwa jika seseorang merasa marah, hendaklah ia duduk sampai marahnya reda. Jika tidak reda juga, hendaklah ia berbaring."Tertulis dalam kitab Injil, "Hamba-Ku, ingatlah kepada-Ku ketika engkau sedang marah, maka Aku akan mengingatkanmu ketika Aku marah."Luqman berkata kepada anaknya,

Ada tiga macam orang yang tidak dikenali kecuali pada tiga perkara, `Seorang murah hati ketika marah, seorang pemberani di saat perang, dan seorang saudara saat dibutuhkan'."Musa as. berkata, "Tuhanku, aku memohon kepada-Mu agar tidak dikatakan kepadaku, hal-hal yang bukan diriku."Allah mewahyukan kepadanya, 'Aku tidak pernah melakukan hal itu untuk Diri-Ku. Bagaimana Aku bisa melakukannya untukmu?"Yahya bin Ziyad al-Haritsy ditanya, berkaitan dengan seorang budak yang buruk perilakunya. "Mengapa engkau masih tetap memeliharanya?" Ia menjawab. "Agar aku dapat belajar bermuruh hati."Tentang firman Allah swt. "... dan (Dia) menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin" (Q.s. Luqman: 20) mempunyai makna bahwa "lahir" berarti pembentukan fisik manusia, dan "batin" adalah penyucian akhlak.Al-Fudhail bin Iyadh berkata. 'Aku lebih suka berteman seorang penjahat penuh dosa, tetapi akhlaknya baik daripada seorang saleh yang akhlaknya buruk.Dikatakan. "Akhlak yang baik berarti menanggung penderitaan dengan penuh kegembiraan.

Diceritakan. bahwa Ibralrim bin Adham pergi ke salah satu padang pasir yang luas. Tiba-tiba seorang tentara muncul di hadapanya dan bertanya. "Di mana kampung paling ramai?" Ibrahim menunjuk ke kuburan. Tentara itu lalu memukul kepala Ibrahim bin Adham. Ketika akhirnya ia melepaskan Ibrahim, seseorang mengatakan kepadanya, "Itu tadi Ibrahim bin Adham. Sufi dari Khurasan." Tentara itu lalu meminta maaf kepada Ibrahim. Ibrahim berkata. "Ketika engkau memukulku, aku berdoa kepada Allah swt. agar memasukkanmu ke dalam surga." Tentara itu bertanya, ":Mengapa?" Ibrahim menjawab, "Sebab aku tahu bahwa aku akan memperoleh pahala karena pukulan-pukulanmu itu. Aku tidak ingin nasibku menjadi baik dengan kerugianmu, dan perhitungan amalmu menjadi buruk karena diriku."Diriwayatkan, ada seoraog laki-laki mengundang Sa'id bin Ismall al-Hiry ke rumahnya.

Ketika Sa'id muncul di muka pintu rumah orang im, orang itu mengatakan kepadanya. "Wahai Syeikh, ini bukan waktu yang baik bagi Tuan untuk masuk ke dalam rumahku. Aku benar-benar menyesal. Maaf, silahkan pergi." Ketika Sa'id datang lagi ke rumahnya, orang itu menyuruhnya pergi lagi seraya mengatakan, "Maaf Tuan." Ia meminta maaf kepada Sa'id dan menyuruhnya supaya datang lagi pada suatu waktu tertentu. Sa'id pun pergi. Ketika datang lagi, orang itu mengatakan hal yang sama. (Peristiwa itu sempai berulang empat kali). Akhirnya orang itu menjelaskan, "Wahai Syeikh, aku hanya ingin menguji Anda." Ia lalu meminta maaf kepadn Sa'id dan memuji-mujinya. Sa'id menjawab, "Jangan memujiku karena sifat yang juga dimiliki oleh seekor anjing: jika anjing dipanggil, ia datang; jika diusir, ia pergi."

Dikisahkan bahwa Sa'id al-Hiry sedang melewati jalan menjelang tengah hari ketika seseorang di atas atap menumpahkan seember abu ke atas kepalanya. Kawan-kawannya menjadi marah dan mulai meneriaki orang yang menumpahkan abu itu. Sa'id berkata, "Jangan mengatakan apa-apa! Orang yang layak memperoleh neraka, tapi hanya dikenai abu saja tidak berhak untuk marah." Dikatakan, salah seorang dari para fakir sedang menjadi tamu di rumah Ja'far bin Handzalah, yang melayaninya sebaik mungkin. Fakir itu berkata, "Anda betul-betul orang yang baik. Sayang Anda seorangYahudi." Ja'far menjawab, "Agamaku tidak mempengaruhi caraku melayani kebutuhanmu. Berdoalah agar jiwamu disembuhkan dan aku memperoleh hidayatnya!"

Diceritakan bahwa Abdullah al-Khayyath mempunyai pelanggan jahitan baju seorang Majusi. Orang itu biasa membayarnya dengan uang dirham palsu dan Abdullah menerima saja uang palsu itu. Suatu hari ketika Abdullah sedang sibuk di suraunya, orang Majusi itu datang untuk mengambil pakaian pesanannya dan mencoba membayarnya dengan dirham-dirham palsu, yang diberikan kepada muridnya, namun oleh murid itu ditolaknya. Akhirnya si orang Majusi itu membayar dengan uang dirham asli. Ketika Abdullah kembali, ia bertanya kepada muridnya, "Di mana pakaian pesanan orang Majusi itu?" Si pembantu menceritakan apa yang telah terjadi. Abdullah memarahinya. Katanya, "Engkau telah melakukan kesalahan. Selama beberapa waktu, kami telah melakukan bisnis dengan caranya itu, dan aku bersabar saja. Dirham-dirham palsu itu biasanya kulemparkan ke dalam sumur agar ia tidak menipu orang lain, selain diriku."Rasulullah saw ditanya, "Apakah yang disebut celaka itu?" Beliau menjawab. "Akhlak yang buruk."Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a, bahwa seseorang memohon kepada Rasulullah saw.:"Wahai Rasulullah! Mohonlah kepada Allah swt. agar membinasakan orang-orang musyrik itu!" Beliau menjawab, 'Aku diutus sebagai rahmat, bukan sebagai penyiksa." (H.r. Muslim).Dikatakan, "Akhlak yang buruk menyempitkan hati pelakunya. Sebab ia tidak memberikan ruang bagi apa pun selain hawa nafsunya sendiri, dan hati menjadi seperti sebuah ruangan sempit yang hanya cukup bagi pemiliknya."Dikatakan pula, "Akhlak yang baik berarti bahwa engkau tidak peduli siapa pun yang berdiri di sebelahmu dalam shaf ketika shalat."Dikatakan juga, "Satu tanda keburukan akhlak Anda, manakala Anda hanya tertuju pada keburukan akhlak orang lain."

Permainan Nafsu Dan Syaitan

"Dalam diri anak Adam ada seketul daging, jika ia baik, baiklah seluruhnya dan jika ia jahat , jahatlah seluruh anggotanya , ketahuilah ia adalah hati." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Wahai Para Ikhwanku

Hati ibarat sumber segala sesuatu, kebaikannya akan membawa kebaikan kepada segala yang dilakukannya, keburukannya memberi keburukan juga kepada apa yang dilakukan. Ia adalah tempat yang akan dinilai oleh Allah SWT disebalik amal-amal kebaikkan atau keburukan seseorang hamba. Allah mencintai hati yang bersih, hati yang sentiasa merendah diri, hati yang ikhlas, hati yang gementar, hati yang cinta, hati yang sentiasa mengharapkan keampunan dan pengharapan.

Nilai manusia terletak pada apa yang dilakukannya tetapi nilai Allah apa yang tersembunyi dalam hatinya. Ada manusia yang melakukan amal begitu hebat di sisi manusia, kemana ia pergi, nama dan amalnya atau kejayaannya sentiasa menjadi sebutan tetapi disisi Allah SWT, ia tiada nilai malah lebih hina dari seekor anjing kerana tiada keikhlasan. Ada manusia yang amalnya sedikit atau kecil, tiada manusia yang memandangnya tetapi nilainya tinggi di sisi Allah SWT disebabkan keikhlasannya.

Di akhirat nanti, seluruh manusia akan berhadapan dengan Allah SWT samaada ia ulama, para syahid, para hafiz, para ahli ibadah, para ahli dermawan dan sebagainya untuk diperiksa hati mereka. Demi Allah , amat jahil dan butalah seseorang itu jika ia menganggap persoalan hati adalah kecil sedangkan di akhirat nanti ia adalah perkara yang utama yang menjadi nilaian Allah SWT.

Imam Nawawi dalam menyusun hadis 40 telah meletakkan hadis yang berkaitan dengan niat sebagai hadis yang utama. Syirik atau menduakan Allah SWT dalam amal adalah melambangkan tiada adab ia dengan Allah SWT, melambangkan tiada bersih hatinya. Mereka yang tiada ilmu dalam perjalanan nafsunya amat mudah tertipu. Ramai manusia yang beribadah menyebabkan ia jauh dari Tuhan apabila ibadahnya dimasuki penyakit 'ujub, takabbur atau riak.

Ramai yang menasihati manusia kepada kebaikan tetapi malangnya ia menjadi manusia yang amat dimurkai Tuhan apabila ia sendiri tidak melakukan apa yang dia cakap. Ramai orang yang diberi kekayaan dan menyangka ia adalah nikmat padahal ia adalah istidraj untuk memusnahkan dirinya apabila harta tadi melalaikan ia dengan Allah SWT. Banyaknya ibadah dan amal bukannya menjadi nilai lagi di sisi Allah, keikhlasan adalah menjadi ukurannya.

Awasilah syaitan dan nafsu

Wahai ikhwanku

Demi Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kehidupan yang panjang ini, amat bahaya dalam mengabdikan diri pada Allah SWT. Syaitan sebagai musuh utama tidak akan membiarkan manusia dalam kebaikan, tidak akan membiarkan ibadah sampai ke langit. Syaitan tidak menyerang manusia pada mata, telinga, kaki atau tangan tetapi ia melakukan serangan di tempat yang utama iaitu hati. Serangan yang dilakukan amat halus dengan pelbagai tipu daya sehingga ramai yang tidak menyedarinya. Ia mempunyai penolong yang setia yang berada dalam diri anak adam iaitu nafsu ammarah.

Perjalanan yang panjang inilah yang memberi peluang bagi syaitan utuk menghilangkan kebaikan yang kita lakukan. Ia mahu segala amal soleh menjadi hancur. Kalau kita perhatikan bagaimana bijak dan busuknya syaitan dalam membawa manusia bersamanya ke neraka. Ramai mereka yang dahulunya hebat dengan dakwah sama ada di Universiti atau ketika muda, apabila kahwin hilang entah ke mana. Ada yang kuat ibadahnya tetapi apabila kerja, menjadi manusia yang lalai, ramai yang ikhlas berniaga, diniatkan jika berjaya mahu membantu agama dan membantu orang-orang miskin, namun apabila berjaya mereka lupa malah menjadi orang yang sombong. Ramai yang begitu tingginya ukhuwwah, makan bersama, apabila bertemu berpelukan tetapi akhirnya menjadi musuh yang ketat.

Syaitan menggunakan senjata yang paling ampuh iaitu elemen keluarga, harta, pangkat, wanita dan senjata dalam diri manusia seperti sifat ego, dengki, cinta dunia, marah, dendam, taksub, suka berdebat, suka berehat, jemu dan sebagainya untuk melalaikan manusia dari Allah SWT. Apa yang malangnya banyak amal yang dilakukan menjadi hancur apabila syaitan berjaya memasukkan jarum ujub, riak dan sombong.

Begitu juga mereka yang separuh abad usianya mengabdikan diri pada dakwah, namun apabila usia dihujung senja, ia menjadi manusia biasa, ruhnya menghadap Tuhan bukan sebagai seorang fisabilillah tetapi sebagai seorang doktor atau usahawan atau guru atau pegawai kerajaan.

Alangkah ruginya kehidupan, alangkah rugi nya usia dan masa. Ada mereka yang bila perniagaannya menghadapi masalah, dia mengundurkan diri lupakan Tuhan, meninggalkan amal dan dakwah. Kalau kita bertanya Kenapa ianya berlaku, tidakkah mereka merasa rugi sedangkan ganjaran dan kemuliaan mereka yang berada di medan dakwah adalah tinggi di sisi Allah SWT. Mereka juga mempunyai ilmu, Ayat Al Quran dan Hadis yang menerangkan kelebihan dakwah, mereka hafal dan begitu fasih dilisan mereka, mereka juga sentiasa memperingatkan diri mereka dengan tipu daya syaitan dan nafsu tetapi persoalannya apa lagi yang tiada pada mereka sehingga mereka hanyut, syaitan yang mereka musuhi menjadi teman sejati, budaya hidup yang lalai menjadi keseronokan, dakwah yang menjadi agenda utama menjadi perkara yang membosankan, sahabat yang dicintai kerana Allah menjadi sahabat yang ingin dijauhinya.

Jangan lalai dari Syaitan dan Nafsu

Wahai ikhwan yang dikasihi

Kalau kita mengadakan diagnosis perkara ini, ia memberi beberapa jawapan dan jawapan yang utama adalah Syaitan serta nafsu. Ramai terkena serangan syaitan dan mereka tidak sedar dan tidak mampu menahannya. Demi Allah, syaitan tidak pernah berputus asa dan ia tidak pernah tidur atau berehat untuk merosakkan anak adam. Dengan penuh kesabaran ia sentiasa menunggu peluang untuk ia bertindak di mana ketika itu kita lupa dan lalai. Orang yang tenang adalah musuh syaitan, ketenangan menyebabkan seseorang itu dapat berfikiran waras dalam setiap tindakan.

Justeru itu syaitan akan mengugat ketenangan diri manusia itu dahulu. Ia menggunakan isteri atau anak-anak atau ibubapa atau saudara mara atau perniagaan atau harta atau jawatan atau musibah atau penyakit. Ia akan menggunakan semaksima segala apa yang ada di sekeliling atau sifat dalam diri untuk mengoncangkan ketenangan Mereka boleh menjadi sahabat yang baik sebagai musuh, anak buah sebagai penderhaka, orang yang dibantu menfitnah dan pelbagai lagi. Ia juga mendatangkan perasaan ketakutan terhadap masa depannya dengan pelbagai ancaman seperti dibuang kerja, penjara atau pelbagai tekanan yang akan dihadapi.

Hari ini syaitan bertepuk tangan, mereka telah berjaya menyelinap dalam hati umat Islam sehingga berjaya mengugat dan memecahkan keharmonian kasih sayang. Mereka yang dahulu kelihatan kuat, hebat apabila berpidato, kasihsayang yang erat, tapi hanya masalah khilafiah ,ada yang berpecah belah sehingga bermusuhan bagaikan orang jahil, caci mencaci, fitnah menfitnah, pulau memulau mula berlaku, segala permusuhan mereka adalah atas jalan yang syaitan, ia langsung tidak dibenarkan oleh syara', dan yang paling sedih segala bangunan kebaikan yang mereka dirikan bersama hancur begitu sahaja.

Ramai yang gugur tetapi bukannya gugur dimedan jihad tetapi gugur dilembah nafsu. Mereka semua terkena bom yang dilontarkan oleh syaitan, keilmuan, keimanan dan kasihsayang mereka tidak begitu kebal untuk menjadi benteng mempertahankan diri. Mengutuk dan memarahi syaitan sebagai penyebab adalah menutup kelemahan diri, sebagai musuh ia sudah menyatakan bahawa ia melakukan serangan kepada kita, ia akan bersabar sehingga ke tika menghadapi sakaratulmaut pun ia akan terus mengumpul bala tenteranya untuk merosakkan kita. Yang penting bagi kita ialah menyiapkan pertahanan agar serangan yang dilemparkan tidak memberi kesan. Memandang rendah pada keupayaan musuh biasanya membawa akibat yang buruk.

Persoalannya bagaimanakah kita mudah terkena permainan syaitan?
Kita perlu memberi jawapan yang jujur, demi Allah sesungguhnya tipudaya syaitan amat hebat, hanya mereka yang diselamatkan oleh Allah SWT yang akan selamat. Persoalannya Kenapa ramai diantara mereka tidak diselamatkan oleh Allah SWT? Kalau kita melihat secara mendalam sebab-sebab iblis tidak selamat dari kekufuran walau banyak ibadahnya ialah penyakit merasa sempurna diri atau ego. Ia merasakan dirinya tak mungkin akan derhaka pada Allah SWT.

Penyakit ini menyebabkan ia kurang bergantung hati pada Allah, merasa aman dari murka Allah. Apabila datangnya ujian supaya sujud pada adam, ia tersungkur tewas dalam lembah ketakburan. Ia mengatakan ia lebih baik dari adam, Kenapa ia mahu sujud? Inilah perasaan yang bahaya yang tersembunyi dalam jiwa. Penyakit ini akan keluar apabila datangnya ujian. Ibadah yang dijadikan oleh Allah SWT sebagai ubat, tidak berjaya menghapuskan kesombongan dalam hati.

Awasilah nafsu yang tersembunyi dalam hatimu, ia adalah musuh yang tersembunyi dalam dirimu sendiri. Perasaan ke sombongan inilah yang boleh menyebabkan kita juga akan dimurkai Tuhan, perasaan ini jugalah yang menjauhkan kita dari mendapat pertolongan Allah SWT. Bahayanya jika kita tidak mempunyai hubungan yang rapat dan mesra dengan Allah SWT. Inilah penyakit kebanyakkan yang perlu diubati. Kita lemah dan lalai dalam ibadah, dalam tawakkal, rasa hebat dengan ilmu, dengan perancangan, dengan idealisma. Demi Allah , inilah dilema yang sebenarnya kita hadapi.

Umat Islam hari ini tidak mempunyai kekuatan akidah, pendidikan yang kita lalui hari ini hanya memberi tumpuan kepada kekuatan akal, kekuatan kerohanian menjadi sampingan. Kekuatan akal hanyalah sebagai bergerak atas landasan logik sedangkan kekuatan kerohanian adalah penghubung ia dengan Tuhan. Kerohanian adalah sumber kekuatan kerana ia melihat, mendengar dan merasai dilautan kerohanian yang dalam. "Tidak sama orang jahil dengan orang yang berilmu" berilmu disini ialah makrifatullah. Inilah ilmu yang paling utama dan penyelamat manusia. Mengenal Allah secara ilmu dzahiri adalah sebagai pengenalan awal kepada diriNya sedangkan pengenalan melalui cahaya hati adalah pengenalan yang hakiki.

Hati yang bersih , tersingkap baginya rahsia ketuhanan, semakin ia bersih semakin memancarlah makrifat pada hatinya. Hati yang memancar ini adalah hati yang melalui proses ilmu, ibadah dan mujahadah yang istiqomah. Mereka yang tersingkap kepadanya rahsia ihsan (sentiasa melihat Allah atau Allah melihatnya) imannya tidak perlu kepada dalil atau bukti untuk membuktikan wujud Tuhan, ini kerana hatinya sentiasa melihat Allah di dalam pandangan dan pendengarannya dimana ia berada. " Dimana kamu hadap disitulah wajah Allah SWT".

Hati yang bersih dari segala hijab keduniaan dan nafsu akan melihat dan merasai ayat-ayat Allah dengan pandangan hakikat. Inilah kasyaf yang hakiki di mana hatinya dapat menangkap rahsia ayat-ayat Allah dengan penglihatan yang haq. "Sesungguhnya tidaklah menyentuh Al Quran itu melainkan mereka yang suci," ditafsir oleh ulama tasauf bahawa ayat-ayat Allah tidak akan berada dalam jiwa yang kotor, bacaan mereka hanyalah dilidah bukannya di hati. Ilmu mereka hanyalah di akal tidak di hati. Tanyalah diri sendiri, bagaimanakah perasaan kamu apabila membaca ayat " Sesungguhnya Ia berada dimana kamu berada." Kalau hati kamu keras, ayat ini sekadar maklumat pada akal sedangkan apabila hal keTuhanan berada pada akal, ia akan hilang apabila kamu berfikir yang lain.

Tetapi apabila hati kamu bersih, ayat ini dapat dirasai dan dan dilihat dengan pandangan cahaya hati sehingga ia merasai kebersamaan dengan Allah dimana ia berada. Mereka yang mengingati Allah dalam penghayatan dan penglihatan akan merasai kelazatan iman dan makrifat yang tidak terhingga. Allah adalah kekasihnya dan ia meninggalkan apa jua yang boleh melalaikan ia dengan Allah, Allah adalah yang dirindui dan ia menjadi perindu, Allah menjadi pujaan dan ia sebagai pemuja. Sesiapa yang mengenal Tuhan , ia akan mencintai Tuhan dan fanalah segala keindahan yang lain. Sesiapa yang mengenal Tuhan, tiadalah ia resah geli sah dengan apa jua yang menimpanya.

Memancar pada hatinya sifat kecintaan, keyakinan, ketakwaan, kerinduan dan ia mendapat perlindungan dari Allah SWT. Ini disebabkan hatinya sentiasa bercahaya dengan zikirullah dan Allah memberi pengakuan dengan firmanNya " Sesiapa yang mengingati Allah, Allah akan mengingatinya". Apabila Allah mengingatinya, nescaya hatinya dipenuhi dengan cahaya kebenaran dan terhapuslah cahaya kebatilan yang datang dari syaitan. Firmannya "Apabila datangnya kebenaran akan terhapuslah kebatilan". Ada juga yang mentafsirkan mengingati Allah dengan melakukan kebaikan sedangkan pentafsiran seperti ini adalah berbentuk umum dan tidak muafakat dikalangan oleh tafsir yang muktabar apalagi pentafsiran yang dihurai oleh ulama- ulama tasauf yang pakar dalam bidang kejiwaan manusia.

Kesan dari hati yang lemah

Apabila hati lemah hubungan dengan Allah SWT, ia amatlah mudah dihinggapi penyakit apalagi mereka kebanyakkan juga jahil dalam masalah ilmu hati, mereka tidak mengenal sifat-sifat mazmumah dan tipudayanya, mereka tidak menghalusi perjalanan tasauf yang benar. Hati mudah diserang penyakit 'ujub, riak, takabbur, apabila berada dimedan amal. Semakin banyak amalan dilakukan, semakin terasa sempurna diri dan menghitung amal. Kesempurnaan diri menyebabkan hati tidak merintih dan merasa fakir dengan Allah.

Tidak berhajat dengan Allah untuk keselamatan dirinya dalam menghadapi tipudaya syaitan, merasa diri selamat, inilah jua penyakit iblis yang ia merasa tak mungkin akan derhaka pada Allah lantaran banyaknya ibadah dan pangkatnya sebagai ketua malaikat. Tertipu dengan amal, pangkat, keturunan, keilmuan, kekayaan dan kesibukan dakwah sehingga timbulnya takabbur, merasa diri aman dari murka Allah SWT. Inilah hijab atau penyakit yang menyebabkan mereka tidak akan ditolong oleh Allah SWT apabila diserang syaitan. Sejarah takbur ada dalam dada diharamkan syurga dan takbur juga menyebabkan seseorang diharamkan mendapat kasihsayang Allah SWT dan perlindunganNya..

Hati yang baik ialah hati yang sentiasa bimbang dengan Allah dan mengharapkan keampunan Allah, hati sentiasa merintih pada Allah agar menerima amal, mengharap Allah menyelamatkan mereka dari gangguan syaitan dan nafsu. Mereka tidak pernah menghitung amal mereka melainkan sentiasa melihat keaiban mereka. Inilah rintihan Aisyah r.a. " Alangkah baiknya jika saya menjadi pohon kayu" Alangkah baiknya jika saya dijadikan seekor biri-biri yang dilampah kulitnya tanpa dipertanggungjawab diakhirat nanti."

Berkata Abu Darda " Sesiapa yang tidak pernah bimbang ia mati kafir atau beriman, ia akan mati dalam kekafiran". Hati yang baik adalah hati yang sentiasa ada takut dan harap kepada Allah SWT. Justeru perhatikan diri kita, adakah ibadah kita selama ini telah meleburkan keegoan kita. Jika tidak, berhati-hatilah dengan fitnah keegoan kerana ia senjata syaitan yang ampuh untuk merosakkan kita. Hati yang takabur tidak akan sepenuhnya bergantung pada Allah, ia sentiasa melihat kekuatan dirinya, ilmunya, amalnya, kekayaannya, pangkatnya, manusia sekelilingnya sebagai penolongnya.

Sikap yang tidak bulat penyerahan diri pada Allah dan merasa fakir dan berhajat padaNya pada setiap saat menyebabkan ia tiada perlindungan apabila datangnya hembusan syaitan dan akhirnya tersungkur pada tipudayanya.

"Sesungguhnya syaitan tidak berkuasa terhadap orang-orang yang beriman dan orang-orang yang bertawakal kepada Tuhan. Tetapi syaitan hanya berkuasa terhadap orang yang mengambilnya sebagai pemimpin dan orang yang menyekutukan Tuhan."

Wallahu'alam

5 Perkara Elok Disebut

1) Perbanyakkan menyebut Allah daripada menyebut makhluk.

Sudah menjadi kebiasaan bagi kita menyebut atau memuji-muji orang yang berbuat baik kepada kita sehingga kadang-kadang kita terlupa hakikat bahawa terlampau banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Lantaran itu, kita terlupa memuji dan menyebut-nyebut nama Allah. Makhluk yang berbuat baik sedikit kita puji habisan tapi nikmat yang terlalu banyak Allah berikan kita langsung tak ingat. Sebaik-baiknya elok dibasahi lidah kita dengan memuji Allah setiap ketika, bukan ucapan Al-hamdulillah hanya apabila sudah kekenyangan hingga sedawa. Pujian begini hanya di lidah saja tak menyelera hingga ke hati.


2) Perbanyakkan menyebut akhirat daripada menyebut urusan dunia.

Dunia terlalu sedikit dibandingkan dengan akhirat. 1000 tahun di dunia setimpal dengan ukuran masa sehari di akhirat. Betapa kecilnya nisbah umur di dunia ini berbanding akhirat. Nikmat dunia juga 1/100 daripada nikmat akhirat. Begitu juga seksa dan kepayahan hidup di dunia hanya 1/100 daripada akhirat. Hanya orang yang senteng fikiran sibuk memikirkan Wawasan Dunia hingga terlupa Wawasan Akhirat. Manusia yang paling cerdik ialah mereka yang sibuk merancang Wawasan Akhiratnya. Saham Amanah Dunia tak penting, tapi yang paling penting ialah Saham Amanah Akhirat yang tak pernah rugi dan merudum malahan sentiasa naik berlipat kali ganda. Oleh itu perbanyakkanlah menyebut-nyebut perihal akhirat supaya timbul keghairahan menanam dan melabur saham akhirat.


3) Perbanyakkan menyebut dan mengingat hal-hal kematian daripada hal-hal kehidupan.

Kita sering memikirkan bekalan hidup ketika tua dan bersara tapi jarang memikirkan bekalan hidup semasa mati. Memikirkan mati adalah sunat kerana dengan berbuat demikian kita akan menginsafi diri dan kekurangan amalan yang perlu dibawa ke sana. Perjalanan yang jauh ke akhirat sudah tentu memerlukan bekalan yang amat banyak. Bekalan itu hendaklah dikumpulkan semasa hidup di dunia ini. Dunia ibarat kebun akhirat. Kalau tak usahakan kebun dunia ini masakan dapat mengutip hasilnya di akhirat? Dalam hubungan ini eloklah sikap Saidina Alli dicontohi. Meskipun sudah terjamin akan syurga, Saidina Ali masih mengeluh dengan hebat sekali tentang kurangnya amalan untuk dibawa ke akhirat yang jauh perjalanannya. Betapa pula dengan diri kita yang kerdil dan bergelumang dengan dosa?



4) Jangan menyebut-nyebut kebaikan diri dan keluarga.

Syaitan memang sentiasa hendak memerangkap diri kita dengan menyuruh atau membisikkan kepada diri kita supaya sentiasa mengingat atau menyebut-nyebut tentang kebaikan yang kita lakukan sama ada kepada diri sendiri, keluarga atau masyarakat amnya. Satu kebaikan yang kita buat, kita sebut-sebut selalu macam rasmi ayam 'bertelur sebiji riuh sekampung'. Kita terlupa bahawa dengan menyebut dan mengingat kebaikan kita itu sudah menimbulkan satu penyakit hati iaitu ujub. Penyakit ujub ini ibarat api dalam sekam boleh merosakkan pahala kebajikan yang kita buat. Lebih dahsyat lagi jika menimbulkan ria' atau bangga diri yang mana Allah telah memberi amaran sesiapa yang memakai sifatNya (ria') tidak akan mencium bau syurga. Ria' adalah satu unsur dari syirik (khafi). Oleh itu eloklah kita berhati-hati supaya menghindarkan diri daripada mengingat kebaikan diri kita kepada orang lain. Kita perlu sedar bahawa perbuatan buat baik yang ada pada diri kita itu sebenarnya datang dari Allah. Allah yang menyuruh kita buat baik. Jadi kita patut bersyukur kepada Allah kerana menjadikan kita orang baik, bukannya mendabik dada mengatakan kita orang baik. Kita terlupa kepda Allah yang mengurniakan kebaikan itu.


5) Jangan sebut-sebut dan nampak-nampakkan keaiban atau keburukan diri orang lain. 

Kegelapan hati ditokok dengan rangsangan syaitan selalu menyebabkan diri kita menyebut-nyebut kesalahan dan kekurangan orang lain. Kita terdorong melihat keaiban orang sehingga terlupa melihat keaiban dan kekurangan diri kita sendiri. Bak kata orang tua-tua 'kuman seberang lautan nampak, tapi gajah di depan mata tak kelihatan'. Islam menuntut kita melihat kekurangan diri supaya dengan cara itu kita dapat memperbaiki kekurangan diri kita. Menuding jari mengatakan orang lain tak betul sebenarnya memberikan isyarat bahawa diri kita sendiri tidak betul. Ibarat menunjuk jari telunjuk kepada orang; satu jari arah ke orang itu tapi 4 lagi jari menuding ke arah diri kita. Bermakna bukan orang itu yang buruk, malahan diri kita lebih buruk daripadanya. Oleh sebab itu, biasakan diri kita melihat keburukan diri kita bukannya keburukan orang lain. Jangan menjaga tepi kain orang sedangkan tepi kain kita koyak rabak. Dalam Islam ada digariskan sikap positif yang perlu dihayati dalam hubungan sesama manusia iaitu lihatlah satu kebaikan yang ada pada diri seseorang, meskipun ada banyak kejahatan yang ada pada dirinya. Apabila melihat diri kita pula, lihatkan kejahatan yang ada pada diri kita walaupun kita pernah berbuat baik. Hanya dengan cara ini kita terselamat dari bisikan syaitan yang memang sentiasa mengatur perangkap untuk menjerumuskan kita ke dalam api neraka.


Semoga 5 perkara yang disebutkan di atas dapat kita hayati dan diterapkan dalam kehidupan kita seharian. Sama-sama beroda semoga terselamat dari kemurkaan Allah semasa di dunia hingga ke akhirat. Amin...

Cara Tuhan Membalas Kasih Terhadap Kekasih-Nya

Cara Tuhan membalas kasih terhadap kekasih-Nya tidak seperti manusia,
Kalau manusia membalas kasih terhadap kekasihnya
diberi sesuatu yang menghiburkan atau menyukakan,
Kalau berlaku disebalik itu, bukan membalas kasih namanya,
Berlainan sekali Tuhan terhadap kekasih-Nya,
Memberi kasih sungguh anih, tidak serupa dengan manusia,
Tuhan memberi kasih terhadap cinta-Nya,
disusah-susahkan-Nya dengan bermacam-macam penderitaan,
Kekasih-kekasih Tuhan ialah para Rasul dan Ambiya dan
juga orang yang soleh dan bertaqwa sepanjang zaman,
Kasih Tuhan terhadap mereka dimiskinkan, dibenci
orang, disakitkan, dihalang perjuangannya dan
diperangi, diburu oleh musuh-musuhnya,
Meraka dibuang dan terbuang di negeri orang di dalam
kehidupan yang menyusahkan, mereka faham kasih Tuhan
terhadap mereka,
Kerana itulah mereka redha, mereka boleh sabar di
dalam penderitaan,
Bahkan rasa terhibur kerana Tuhannnya,
Kerana itulah Nabi pernah bersabda: "Bala yang paling
dahsyat ditimpakan adalah kepada para Rasul dan Ambiya
dan Auliya"
Kemudian mereka selepas itu mengikut peringkat yang
diberikan iman kepada mereka,
Semakin tinggi iman mereka, semakin berat bala
ditimpakan kepadanya,
Kalau kurang iman mereka, kurang pula bala,
Bala yang ditimpa kepada orang beriman mengikut tinggi
rendah imannya,
Ada juga orang tidak beriman, fasik dan zalim,
Diberatkan ujian kepada mereka itu adalah kutukan
Tuhan kepada mereka,
Yang saya ceritakan ini hanya orang beriman sahaja,
Kalau seorang Islam tidak pernah dibala atau balanya
ringan sahaja janganlah bergembira,
Jangan-jangan mereka sudah tidak ada perhatian lagi
dari Tuhannya,
Kerana itu takutlah dengan Tuhannya,
Kerana kasih Tuhan kepada hamba-Nya bukan macam
manusia,
Kasih Tuhan kepada hamba-Nya tersendiri caranya,
Orang bertaqwa sahaja yang faham tentang Tuhannya.

Hiburan Orang Mukmin

Hiburan orang mukmin itu adalah beribadah
Mengingat Tuhan dan mengagungkan-Nya
Berkhidmat dengan manusia
Memberi, bersedekah, menolong dan membantu hamba-hamba Allah
Mengagih-agihkan harta di kalangan yang patut menerimanya
Kalau dia tidak dapat menolong orang, hatinya susah
Kerana menolong orang itu adalah hiburannya
Mendamaikan orang yang berbalah, hobinya
Dia terhibur dengan mendamaikan orang yang bermusuhan
Kalau ada orang yang memberi nasihat
Atau ada orang mengingatkannya, suka sungguh hatinya
Lantas dia sayang kepada orang itu
Kalau dia tidak boleh berkhidmat dengan orang
Lebih-lebih lagi di waktu orang perlukan khidmatnya, susah hatinya
Dia terasa sangat bersalah dan berdosa
Kerana hiburan terputus atau tidak bersambung
Kalau didapati ada orang lain mendapat nikmat
Dia pula yang terhibur
Jika ada orang yang mendapat kesusahan
Hatinya susah, jiwanya derita dan gelisah
Dia bersungguh-sungguh cuba mengatasinya
Dia merasa penderitaan orang lain itu adalah penderitaannya
Kesenangan orang lain adalah kesenangannya
Begitulah hati orang mukmin terhibur dengan berkhidmat kepada orang lain

Qiyamullail - Keutamaan Sholat Malam

"Malam itu gelap gelita tetapi ia amat indah. Di muka langit bertaburan bintang-bintang yang berkelipan, disisi bulan yang terang benderang. Untuk apakah Allah s.w.t jadikan malam? Ada waktu malam yang dihiasi dengan munajat kepada Allah s.w.t dan ada malam yang dihiasi dengan derhaka kepada Allah s.w.t. Jadi malam itu tidak sentiasa indah dan permai kerana ia bergantung kepada penghuni-penghuninya.

Bagi orang-orang yang soleh merindui malam ibarat pengantin menanti malam pertama. Kerana pada waktu malam untuk mereka bermesra-mesra dengan Tuhannya. Pada waktu malam tiada kebisingan kecuali mereka mengadu dan bermunajat kepada Tuhannya.

Kalau sepasang kekasih mencari waktu malam untuk memadu kasih, maka tidak hairan kalau orang-orang yang soleh juga menggunakan waktu malam untuk memadu cinta sejati dengan Allah s.w.t. Berkata Al Fudhail bin Iyadh, “Apabila terbenam matahari maka saya gembira dengan gelap. Dan apabila terbitnya matahari maka saya berdukacita kerana datangnya manusia kepadaku!” Abu Sulaiman pula berkata, “Jikalau tidaklah kerana malam nescaya saya tidaklah menyukai tinggal di dunia ini.”

Satu cara paling ideal bagi seorang Muslim untuk berhubungan dengan Allah ialah mengerjakan ibadat pada waktu tengah malam, ketika suasana sunyi sepi dengan kebanyakan makhluk nyenyak tidur dan penuh kesejukan. Pada waktu itu seorang Muslim boleh beristighfar, memuji, mensuci dan membesarkan Allah, malah mengerjakan solat sunat tahajud serta solat taubat. Bagaimanapun, bukan satu perkara mudah untuk bangun dari tidur sedang orang lain lena dibuai mimpi. Bukan mudah untuk berwuduk dalam kedinginan malam yang mencengkam tulang dan bukan sesuatu yang mudah untuk mengangkat takbir menghadap Allah dalam keadaan mata terkebil-kebil. Justeru, tidak ramai yang boleh bangun bertahajud, walaupun mengetahui banyak kelebihannya kecuali mereka yang benar-benar tertarik dengan keindahan Allah, berbanding keindahan mimpi di dalam tidurnya. Ia memerlukan kegigihan pada hati serta hidup cintanya dengan Tuhan. Sebab itu Allah menyediakan sebuah syurga bagi hamba-hambaNya yang menghidupkan malam.

Meskipun itu adalah janji dari Allah s.w.t. kepada kita namun kepayahan untuk menghidupkan malam lebih ketara lagi kerana syaitan turut memainkan peranan dengan bersungguh-sungguh menghalang manusia melakukannya.

Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya: “Diikat oleh syaitan di atas seseorang kamu dengan tiga ikatan apabila ia sedang tidur. Maka syaitan memukul tiap-tiap tempat ikatan tersebut sepanjang malam sehingga tertidurlah kamu. Kalau kamu terbangun dan berzikir kepada Allah s.w.t nescaya terbukalah satu ikatan. Kalau berwuduk nescaya terbukalah satu ikatan lagi dan kalau bersolat nescaya terbukalah semuanya. Sehingga kamu menjadi rajin dan baik jiwanya. Kalau tidak yang demikian nescaya menjadi keji jiwa dan malas.”

"Ibnu Mas'ud ra berkata : Telah disebutkan seseorang lelaki di sisi Rasulullah saw yang sentiasa tidur sahaja sampai waktu subuh sehingga tidak pernah mendirikan solat malam. Maka Rasulullah saw telah bersabda : Bahawa lelaki itu telah dikencingi syaitan di telinganya.." (Riwayat Bukhari, Muslim, An-Nasa'i)

Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: “Haruslah kamu bangun malam kerana itu adalah kebiasaan orang-orang soleh sebelum kamu. Sesungguhnya bangun malam adalah mendekatkan diri kepada Allah Azzawajalla, menutup segala dosa, menghilangkan segala penyakit pada tubuh dan mencegah daripada dosa.”

Pada waktu malam juga akan ada satu detik di mana barangsiapa yang berdoa ketika itu akan dikabulkan segala hajatnya. Solat yang didirikan pada waktu malam juga lebih banyak manfaat dan lebih pahalanya. Sabda Rasulullah bermaksud: “Dua rakaat yang dikerjakan oleh hamba pada waktu tengah malam adalah lebih baik baginya dari dunia dan isinya. Dan kalaulah tidak memberi kesukaran kepada umatku, nescaya saya wajibkan kedua rakaat itu atas mereka.”

Sholat malam adalah sholat terbaik yang dapat kita lakukan setelah sholat fardhu. Rasulullah SAW melalui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, bersabda: "Sebaik-baik sholat setelah fardhu adalah sholat malam." Bahkan pada awalnya sholat malam merupakan ibadah wajib. Rasulullah SAW dan para sahabatnya diwajibkan melakukan sholat malam ini di masa-masa awal perjuangan menegakkan Al Islam ini. Salah satu rahasianya adalah karena ia merupakan bekal terbaik dalam perjuangan yang maha berat itu, seperti tertera pada QS.Al-Muzzammil :1-7. Sholat malam kemudian dijadikan ibadah sunnah dengan turunnya ayat terakhir surat tersebut.

Sabda Baginda, "Hendaklah kamu beribadat di waktu malam, meskipun setakat satu rakaat sahaja."

Sabda Rasulullah lagi yang bermaksud: “Kerjakan solat dua rakaat dalam kegelapan malam untuk kesuraman kubur.”

Sabdanya lagi, "Wahai sekalian manusia! Sebarkan keamanan, berikanlah makan (kepada orang yang susah), hubungkanlah silatur-rahim kepada kaum kerabat, dan jangan lupa solat di tengah malam ketika manusia sedang tidur nyenyak, nescaya kamu akan memasuki syurga dengan penuh kesejahteraan.

Di rangkaian ayat tersebut juga disebutkan bahwa kelebihan sholat malam dibanding sholat di waktu lainnya. Di tengah malam kita bisa lebih khusyu', bisa lebih konsentrasi dalam membaca Al Qur'an dan relatif bersih dari sifat riya' karena tidak ada orang lain yang melihat kita. "Sesungguhnya bangun di waktu malam itu lebih tepat dan bacaan waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang mempunyai urusan yang panjang." (QS.73:6-7)

Keutamaan selanjutnya adalah bahwa mengerjakan sholat malam disebutkan Allah sebagai salah satu ciri orang yang beriman dan bertakwa. Ia juga merupakan sifat hamba Allah yang baik dan yang mendapat kemuliaan.

"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (maksudnya mereka tidak tidur di waktu biasanya orang tidur, untuk mengerjakan shalat malam), sedang mereka berdo'a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. "( QS As-Sajdah:16).

"Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka momohon ampun (kepada Allah)." (QS. Adz-Dzaariyaat : 17-18).

"Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka." (Al-Furqaan: 64).

Rasulullah SAW telah memberi teladan kepada kita dalam mengerjakan sholat malam, yaitu untuk mensyukuri ni'mat yang telah diberikan oleh Allah. Dari 'Aisyah RA, ia berkata: "Nabi saw berdiri sholat malam, hingga pecah-pecah kedua telapak kaki beliau. Saya bertanya kepada beliau; 'Untuk apakah engkau berbuat ini, wahai Rasulullah, sedangkan engkau telah benar-benar diampuni dosa-dosamu yang telah lewat dan yang akan datang?' Rasulullah bersabda: "Tak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Kemudian bagi orang-orang yang istiqomah dalam mengerjakan sholat malam Allah menjanjikan syurga dan pahala yang tersembunyi.

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (syurga) dan di mata-mata air" (QS.51:15)

Bila dilihat dari segi halangan-halangan yang terpaksa ditempuhi oleh seseorang yang mahu menghidupkan malam dengan ibadah, maka tidak salah kalau diletakkan mereka dealam golongan mnusia yang berjiwa gigih dan hidup cintanya dengan Allah s.w.t. Golongan ini juga telah mewarisi pekerjaan orang-orang soleh.

Dari Abdullah bin Salam ra, Rasulullah saw bersabda: Rasulullah bersabda, "Hendaklah kamu membiasakan diri bangun di tengah malam kerana yang demikian itu adalah amalan yang dibiasakan oleh orang-orang saleh sebelum kamu. Ia juga sebagai suatu cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, menebus kesalahan, menjauhkan diri dari dosa dan menyingkirkan penyakit dari tubuh." (HR.Tirmidzi)

"Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam ni'mat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan." (QS.32:17).

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda: "Allah Ta'ala berfirman, 'Aku menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terbetik dalam kalbu manusia." (HR.Bukhari dan Muslim)

Seorang pekerja biasanya berusaha menambah penghasilannya dengan bekerja lembur. Begitu juga dengan kita, bila ingin menambah pahala maka sholat malam adalah salah satu jalan yang bisa kita kerjakan untuk mendapat "bonus" dari Allah.

"Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji."
(QS.Al Israa',17:79)

Mengerjakan sholat malam, insya Allah juga akan memasukkan kita ke golongan orang-orang yang dikasihi oleh Allah. Apalagi apabila kita juga mengajak suami/istri dan anggota keluarga lainnya.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: "Allah sangat mengasihi orang laki-laki yang bangun pada waktu malam, kemudian mengerjakan sholat dan mau membangunkan istrinya. Apabila istrinya enggan bangun, maka ia menyiramkan air pada muka istrinya itu. Allah sangat mengasihi seorang perempuan yang bangun pada waktu malam, kemudian mengerjakan sholat dan mau membangunkan suaminya. Apabila suaminya enggan bangun, maka ia menyiramkan air pada muka suaminya itu." (Riwayat Abu Dawud).

Selain dari keheningan malam yang ada pada waktu malam, Allah juga menurunkan malaikat-malaikat pada malam hari untuk memberi rahmat kepada hamba-hambaNya yang sedang beribadah. Malaikat akan turun ke bumi mencari manusia-manusia yang menghidupkan malam dengan ibadah untuk diberi rahmat dan diaminkan doanya.

Dan terakhir, tentunya kita tidak ingin kehilangan kesempatan diberi ampunan dan pengabulan permintaan, yang dibuka seluas-luasnya oleh Allah pada setiap sepertiga malam. Telah ditetapkan di dalam hadits-hadits shahih dan selainnya yang diriwayatkan oleh jamaah dari sahabat Nabi SAW yang menyatakan bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah SWT turun di setiap malam menuju langit dunia pada saat malam tinggal sepertiga lagi, kemudian Dia berfirman:
"Adakah siapa yang mahu memohon supaya Aku mengabulkannya. Adakah siapa yang mahu meminta supaya Aku memberi kepadanya. Adakah siapa yang mahu meminta keampunan supaya Aku mengampuninya. Sampai waktu subuh tiba."

Memanglah bangun di tengah malam itu merupakan seperkara yang berat sekali ke atas diri, teutama sekali sesudah tidur nyenyak. Akan tetapi ia bisa menjadi ringan bila telah dilazim dan dibiasakan, serta bersabar atas kesukarannya dan memaksa diri pada permulaannya. Sesudah itu yakinlah bahawa hati akan merasa lapang untuk berhadapan dengan Allah Ta'ala, dan akan terasalah pula kelazatan munajat kepadaNya dan kemanisan khalwat denganNya. Ketika itu ia akan merasa tidak puas untuk bangun malam saja, apatah lagi perasaan malas dan bosan itu akan terletak jauh daripadanya. Perkara serupa ini sering berlaku kepada para salihin dan hamba-hamba Allah, hingga setengah mereka berkata: Seandainya ahli syurga itu sering melakukan seperti yang kami lakukan kini, tentulah mereka itu akan berada dalam kehidupan yang bahagia sekali. Yang lain pula berkata: Selama empat puluh tahun berlalu, tidak suatu pun yang mendukacitakan aku kecuali terbitnya fajar pagi.

Saidina Umar al-Khattab menyatakan kelebihan solat malam dengan berkata: "Sesiapa mengerjakan solat malam (tahajud) dengan khusyuk nescaya dianugerahkan Allah sembilan perkara, lima di dunia dan empat di akhirat." Kurniaan di dunia ialah:-

1) Jauh daripada segala penyakit
2) Lahir kesan takwa pada wajahnya
3) Dikasihi sekelian mukmin dan seluruh manusia
4) Percakapannya mengandungi hikmah (kebijaksanaan)
5) Dikurniakan kekuatan dan diberi rezeki dalam agama (halal dan diberkati)

Sementara empat perkara di akhirat ialah:-

1) Dibangkitkan dari kubur dengan wajah berseri-seri
2) Dipermudahkan hisab
3) Cepat melalui sirat al-Mustaqim seperti kilat
4) Diserahkan suratan amalan pada hari akhirat melalui tangan kanan.

Kelebihannya yang lain, antaranya:

- Jalan mendekatkan diri dengan Allah. Itulah peluang berbakti lebih masa untuk-Nya setelah siang hari berurusan sesama manusia.

- Dimuliakan Allah. Sabda Nabi SAW: "Telah datang Jibril kepadaku seraya berkata: `Ketahuilah bahawa kemuliaan seseorang Mukmin itu terletak pada mengerjakan ibadah qiamullail dan kehormatannya terletak pada keengganannya meminta-minta."

- Dimakbulkan doa. Sabda Nabi SAW: "Sesungguhnya dari sebahagian malam itu terdapat satu saat yang mempunyai kelebihan bagi seseorang Muslim untuk memohon sesuatu yang baik kepada Allah. Allah SWT pasti akan kabulkan doanya. Demikianlah itu ada pada setiap malam."

- Faktor pertolongan Tuhan. Inilah juga amalan untuk menguatkan jiwa para pejuang Kebenaran. Oleh sebab itulah dalam sejarah Sultan Salahuddin Al Ayubi dan Muhammad Al Fateh, tentera-tentera yang beribadah malam sahaja yang dibawa ke medan perang.

- Menjadi pelindung di Hari Qiamat. Sabda Rasul SAW: "Semua manusia akan dikumpulkan di hari Qiamat di satu tempat. Mereka akan mendengar satu seruan yang berbunyi: `Di manakah mereka yang meninggalkan tempat tidurnya dan menghabiskan malamnya dengan beribadah. Akan ada satu golongan yang bangkit dan masuk Syurga tanpa hisab.

Berqiamullail boleh dilakukan sama ada sepanjang malam, bermula lepas Isyak hingga Subuh, atau separuh malam, sepertiga malam, seperenam malam atau akhir malam. Bukan senang untuk bangun malam di kala kesejukan menggigit dan mimpi menggamit. Hanya orang yang dipermudahkan Tuhan, kuat azam dan kecintaan kepada-Nya yang mampu bersekang mata untuk-Nya.

Al Fudhail Ibnu 'Iyadh berkata: Sesungguhnya Allah telah berfirman:

Adalah dusta orang yang mendakwa cinta kepada-Ku tetapi dia tidur daripada-Ku, bukankah setiap orang yang sedang dilamun cinta sangat suka kalau sentiasa berkhalwat (bersunyi-sunyi) dengan kekasihnya? "Inilah Aku yang sentiasa memerhatikan kekasih-kekasih-Ku, sungguh mereka telah jelmakan Aku dalam pandangan mereka, berdialog dengan-Ku seolah-olah mereka menyaksikan Aku, bercakap dengan-Ku seolah-olah Aku hadir dihadapan mereka. Esok akan Aku senangkan hati kamu di dalam syurga-syurga-Ku. Perasaan ini sentiasa tersemat kukuh dihati mereka sehingga tidak ada didalam hati mereka kecuali Aku. Oleh itu tidak ada yang muncul dari anggota mereka melainkan selaras dan sesuai dengan apa yang ada di dalam hati mereka.

Akhlak Yang Sejati

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Tidak aku diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” Akhlak ialah tingkah laku, budi pekerti, pribadi, gerak-gerik dan cara bergaul. Akhlak juga berarti adab dan tata susila. Akhlak ada beberapa peringkat. Ada akhlak kepada Tuhan. Ada akhlak sesama manusia. Ada akhlak terhadap makhluk Tuhan yang lain. Akhlak kita kepada Tuhan antara lain kita yakin dan beriman kepada-Nya. Kita sabar dan redha di atas segala ketentuan-Nya. Kita menyembah dan bertawakal kepada-Nya dan lain-lain lagi.

Akhlak kita sesama manusia ada berbagai bentuk. Kita taat dan patuh pada guru dan ibu ayah kita. Kita cinta dan kasih kepada mereka. Kita rendahkan diri dan hati kita terhadap mereka. Begitu juga akhlak kita terhadap pemimpin. Sesama kawan, kita berlapang dada, saling bantu-membantu, nasihat-menasihati dan berkasih sayang. Kita hormati orang-orang tua dan kita berbelas kasihan kepada kanak-kanak dan orang-orang yang lebih muda dari kita. Kalau kita memelihara hewan maka kita perlu menyediakan tempatnya, makan dan minum secukupnya. Tidak boleh kita mendera atau menyakiti hewan tanpa sebab, kecuali hewan yang berbahaya, kita diperbolehkan untuk membunuhnya.

Akhlak seseorang itu terbentuk atau terbina disebabkan oleh tiga faktor, yaitu:

– Oleh tabiat semulajadinya. Begitu lahir, orang itu tabiatnya sudah lemah lembut, peramah, pemurah dan sebagainya.

– Oleh suasana, lingkungan, tempat dia dibesarkan dan oleh suku atau kaumnya. Kalau adat kaumnya suka dan pandai menerima tetamu maka dia pun jadi begitu.

– Yang ditunjang dan diteraskan oleh iman dan rasa takut serta cinta kepada Tuhan. Inilah akhlak yang sejati.

Akhlak yang bertunjangkan dan berteraskan iman ini tahan diuji dan tahan digugat. Ia kuat mencengkam pribadi dan jiwa seseorang itu karena akhlak seperti ini diperoleh melalui mujahadah dan perjuangan. Akhlak yang dihasilkan dari mujahadah dan yang bertunjangkan iman ini ada pahalanya. Adapun akhlak yang dihasilkan dari tabiat semula jadi atau dari suasana dan lingkungan adalah lemah dan tidak tahan digugat. Kalau digugat, ia akan terbarai dan musnah. Ia mudah berubah mengikut suasana dan pengaruh luar. Kalau dijemur dia kering, kalau direndam dia basah. Kalau bergaul orang yang malas, dia akan turut malas.

Sering kita lihat orang yang sewaktu remajanya di kampung, lemah lembut, pandai menghormati orang-orang tua dan selalu melaungkan azan di surau dan masjid. Tetapi sesudah dewasa dan bekerja di kota, dia tidak peduli pada orang dan suka menyanyi di disko. Ke masjid sudah tidak pernah lagi. Ada pula orang yang semasa remajanya liar dan tidak dapat dikawal tetapi berubah menjadi baik walaupun lingkungannya penuh dengan godaan dan pancaroba. Inilah bedanya akhlak yang diperoleh tanpa usaha dan yang diperoleh melalui mujahadah, keinsafan dan keimanan. Oleh karena itu, tidak cukup kalau kita lihat umat Islam itu berakhlak. Kita wajib membawa umat Islam itu kuat iman serta takut dan cinta kepada Tuhan. Barulah akhlak yang ada pada mereka itu mencengkam dan terpatri di dalam jiwa dan peribadi mereka. Barulah akhlak itu akhlak yang sejati yang menjadi darah daging dan tidak mudah luntur dan berubah dalam suasana apa pun juga.

Dalam senang mereka berakhlak. Dalam susah pun mereka berakhlak. Tidak ada kuasa mereka berakhlak. Bila ada kuasa pun mereka berakhlak. Bila miskin mereka berakhlak. Sudah kaya-raya pun mereka berakhlak. Di khalayak ramai mereka berakhlak, bila bersendiri pun mereka berakhlak. Di Malaysia mereka berakhlak, bila berada di London atau di Moscow pun mereka berakhlak. Karena berakhlak itu bukan mengikuti keadaan, tempat atau musim. Di mana pun dan dalam keadaan apa pun kita wajib berakhlak. Dengan kekuatan akhlak yang berteraskan iman ini, barulah akan terpancar akhlak Islamiah yang dapat dilihat oleh semua orang. Akhlak itu ibarat bunga. Semua manusia dan bangsa menyukainya. Ia bersifat sejagat. Tidak perlu banyak bicara, akhlak yang murni dan luhur itu adalah satu bentuk dakwah yang sangat berkesan.

Tidak banyak orang kafir memeluk agama Islam karena ilmu Islam itu sendiri atau karena sebab-sebab yang lain. Yang banyak memeluk Islam ialah karena melihat akhlak dan cara hidup umat Islam yang cantik, indah dan murni. Akhlak dan cara hidup umat Islam ialah dakwah yang paling berkesan. Pada zaman awal Islam ramai kaum musyrik dan Yahudi memeluk Islam hanya karena melihat akhlak Rasulullah SAW yang sangat mulia lagi terpuji. Benci dan buruk sangka orang kafir terhadap Islam dan enggannya mereka memeluk agama Islam banyak disebabkan oleh akhlak umat Islam yang buruk, kasar, ganas, kotor, jahat dan menjijikkan. Inilah umat Islam yang secara sadar atau tidak sadar, secara sengaja atau tidak sengaja yang mengkhianati agama Islam.

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"









"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog