Selasa, 02 November 2010

Keluarga Sebagai Pondasi Pendidikan

 























“Sejak anak lahir ke dunia, ia memiliki banyak potensi dan harapan untuk berhasil di kemudian hari. Pendidikanlah yang menjadi jembatan penghubung anak dengan masa depannya itu”
Perpecahan dalam rumah tangga seperti perceraian, akhir-akhir ini sering kita dengar dan lihat di media. Perpecahan itu menimbulkan banyak masalah di masyarakat, karena anak-anak yang menjadi korban perceraian menjadi terlantar terutama pendidikannya. Di sekolah akan timbul masalah. Si anak menjadi malas belajar dan sering melakukan hal-hal yang tidak terpuji seperti perkelahian, kebut-kebutan di jalan raya, dan sering meninggalkan pelajaran. Banyak kasus kenakalan remaja yang menjadi salah satu penyebabnya adalah perceraian orang tua. Mengapa? Karena keluarga adalah pondasi pendidikan yang paling utama; ketika pondasi rusak maka rusak pula yang dibangun.

Dalam proses pendidikan seorang manusia, ada sebuah tempat belajar terindah yang setiap orang memilikinya. Tempat di mana ruang-ruang kelasnya hanya terdiri dari beberapa orang, dan tentunya tidak sebesar kelas-kelas formal di sekolah. Di dalamnya tidak ada rapor, yang ada hanya kasih sayang dan kesabaran dua orang, pria dan wanita. Buku-bukunya tidak wajib ada, yang ada hanya konsistensi luar biasa untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Kurikulumnya pun cenderung tidak sistematis tetapi abstrak dan tidak berbentuk. Tempat terindah yang dimiliki oleh seorang manusia dari pertama kali dia menghirup udara dunia sampai akhir hayatnya, yaitu keluarga.

Rasulullah mencontohkan sebuah teladan yang luar biasa mengenai utamanya sebuah keluarga. Hal ini dikuatkan oleh sebuah hadits yang menceritakan bahwa Aisyah menangis ketika beliau menceritakan kisah hidup Rasulullah dalam keluarganya. Beliau menangis karena tidak sanggup mengingat kenangan indah seorang suami yang baik hati seperti Rasulullah. Rasulullah menambal sendiri sepatu yang bolong, menjahit sendiri baju yang robek, ikut membersihkan rumah bersama-sama istrinya, bahkan membantu memasak untuk keluarganya.

Keluarga memang memiliki peran yang sangat vital dalam perkembangan kehidupan masyarakat muslim. Penyebabnya karena keluarga menjadi bekal pendidikan  pertama seorang muslim sebelum dia terjun ke dalam realita masyarakat yang lebih kompleks. Jika pembekalan yang dilakukan oleh keluarga baik, maka begitu pula yang akan dia lakukan kepada dan dalam masyarakat, begitu juga sebaliknya.
Dalam masyarakat, analogi sel bisa diterapkan dalam logika keluarga. Keluarga dalam kehidupan masyarakat muslim seperti sebuah sel, satuan kehidupan terkecil. Keluarga ibarat beberapa sel yang menjadi sebuah jaringan, berkembang menjadi sebuah organ, dan terus terkait satu sama lain membentuk sebuah sistem yang kompleks. Makin kuat sel-sel yang ada, akan makin kuat pula jaringan, organ dan sistem yang tercipta. Analogi seperti itu bisa digunakan dalam logika keluarga. Keluarga muslim, akan membentuk jaringan keluarga muslim, berkembang menjadi organisasi muslim, dan terkait satu sama lain membentuk sistem kehidupan muslim dalam masyarakat.

Dengan penjelasan seperti ini jelas bahwa pendidikan dalam  keluarga muslim secara kuat akan membentuk dan berdampak pada pendidikan anak-anaknya dan membawa keberhasilan di masa depannya, dan akan membentuk keluarga muslim yang kuat di masa depan.

Pendidikan Anak Usia Dini, Pondasi Bagi Masa Depan Anak
Pendidikan merupakan investasi terpenting yang dilakukan orang tua bagi masa depan anaknya. Sejak anak lahir ke dunia, ia memiliki banyak potensi dan harapan untuk berhasil di kemudian hari. Pendidikanlah yang menjadi jembatan penghubung anak dengan masa depannya itu. Pendidikan dalam keluarga merupakan salah satu pembentuk pondasi bagi tumbuh dan berkembangnya pendidikan seorang anak untuk memperoleh masa depan yang lebih baik melalui jenjang pendidikan lain di sekolah maupun pendidikan tambahan di luar sekolah, seperti keterampilan, kejuruan dan sebagainya. Dan pendidikan anak usia dini ini harus diawali dari rumah

Dunia pendidikan memang sangat diperlukan untuk membentuk generasi seperti itu. Akan tetapi, pendidikan sebagai proses berkelanjutan tidak semata diarahkan kepada hal yang bersifat “reaktif” atau untuk kepentingan jangka pendek, ia juga harus bersifat “proaktif” yang artinya pendidikan juga harus berorientasi kepada kemampuan untuk mengantisipasi permasalahan yang lebih luas dan mampu menjawab tantangan yang lebih kompleks di masa yang akan datang.

Untuk membentuk generasi yang demikian itu, maka calon-calon generasi mendatang itu harus dipersiapkan pertumbuhan dan perkembangannya sedini mungkin, yakni sejak mereka lahir sampai berusia enam tahun, sehingga mereka memiliki akar yang kuat sebagai pondasi untuk memasuki pendidikan yang lebih tinggi. Dan semua jenjang pendidikan itu di mulai dari rumah.

Peranan Orang Tua
Di samping guru di sekolah, orang tua memegang peranan sentral dalam pedidikan anak usia dini (PAUD). Pendidikan dalam keluarga yang disampaikan orang tua sering kali lebih mendalam. Pada saat anak baru dilahirkan dan ketika mereka berada di rumah, orang tualah yang berperan penting dalam pendidikan.

Dalam hal ini, penting bagi orang tua untuk tetap memperhatikan perkembangan anaknya, meski anaknya telah memasuki lembaga PAUD. Banyak orang tua setelah anaknya memasuki Taman Kanak-Kanak, mengendurkan upayanya dalam mendidik anaknya, karena adanya anggapan bahwa tugasnya telah dilimpahkan kepada para guru. Padahal untuk membentuk anak yang cerdas dan tangguh di masa depan, diperlukan pendidikan ganda, yakni dari orang tua dan sekolah.

Banyak yang dapat dilakukan orang tua ketika anaknya telah memasuki PAUD, misalnya dengan menyelaraskan suasana dan alat permainan yang ada di rumah dengan yang ada di sekolah. Keuntungannya adalah orang tua akan mendapatkan mainan anak di rumah yang sesuai dengan kondisi dan kurikulum yang mereka temui di sekolah, seperti alat peraga atau alat bantu pendidikan.

Bagaimana melakukan pendidikan di rumah? Dalam dunia psikologi anak terkenal adanya sebuah nasihat yang dapat dijadikan inspirasi bagi setiap orang tua dalam mendidik anaknya. Nasihat itu berbunyi: Jika anak hidup dengan kritikan ia akan belajar untuk mengutuk. Jika anak hidup dengan kekerasan ia akan belajar untuk melawan. Jika anak hidup dengan ejekan-ejekan ia akan belajar menjadi pemalu. Jika anak hidup dengan dipermalukan ia akan belajar merasa bersalah. Jika anak hidup dengan toleransi ia akan belajar bersabar. Jika anak hidup dengan dorongan ia akan percaya diri. Jika anak hidup dengan pujian ia akan belajar menghargai. Jika anak hidup dengan tindakan yang jujur ia akan belajar akan keadilan. Jika anak hidup dengan rasa aman ia akan belajar untuk mempercayai. Jika anak hidup dengan persetujuan ia akan belajar untuk menghargai dirinya. Jika anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan ia akan belajar untuk menemukan cinta di muka bumi ini.

Nasihat di atas ditunjukkan bagaimana ucapan, sikap dan tingkah laku orang tua dalam mendidik anak-anaknya di rumah, agar anaknya berhasil dalam pendidikan formalnya. Dan berhasil mengarungi hidupnya dengan baik. Rumah tangga adalah pondasi pendidikan anak-anak kita, karena itu mari kita lakukan pendidikan di rumah dengan sebaik-baiknya. (As)

Tidak ada komentar:

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"









"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog