Selasa, 02 Agustus 2011

Dengan Cinta, Semua Menjadi Indah

PDF Print E-mail

Bila rasa cinta telah terpatri dalam diri, niscaya tidak akan ada perpecahan, apalagi konflik yang berkepanjangan. Perbedaan itu akan disikapi dengan santun.




Selepas shalat Isya, Sabtu (18/6), ratusan jama’ah dari berbagai daerah terlihat memadati Masjid Arridwan, yang terletak di sebelah kediaman Pemimpin Majelis Ta’lim Arridwan, Habib Ali bin Sholeh Alatas.
Selain masyarakat sekitar, juga tampak hadir beberapa aparat pemerintah. Di antarannya Kapolres Metro Bekasi Kota, Komisaris Besar Imam Sugianto, Dandim Bekasi, Dedi Nurhadiman, Kepala Kementerian Agama Bekasi, K.H. Abdul Rasyid, M.A., salah satu staf Kementerian Agama Bekasi, K.H. Abdul Syakur S.Ag. Juga hadir Wakil Ketua NU Bekasi, K.H. Jamalulail, Lc., dan Ketua Idarah Syu’biyyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah, Bekasi, Arie Rekso.
Malam itu, Majelis Ta’lim Arridwan bekerja sama dengan Idarah Syu’biyyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah, Bekasi, menggelar perayaan Isra Mi’raj. Perjalanan Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam dari Makkah ke Baitul Maqdis, kemudian ke Sidratul Muntaha menghadap Sang Pencipta alam semesta.

Dalam taushiyahnya, Rais ‘Am Idarah ‘Aliyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah, Habib Lutfi Bin Yahya, yang datang dari Pekalongan, Jawa Tengah, menegaskan, seharusnya umat Islam tidak terjebak pada perbedaan apakah merayakan Isra Mi’raj sunnah atau bid’ah. Habib yang memiliki pembawaan tenang ini lebih tertarik menanamkan rasa cinta dalam diri umat Islam kepada Allah SWT, Rasulullah, para sahabat, waliyullah, dan habaib. “Apabila kita, umat Islam, masih berkutat pada perdebatan antara perkara bid’ah dan bukan bid’ah, kita akan semakin jauh tertinggal dengan bangsa lain,” kata Habib Lutfi.
“Mari kita tanamkan rasa cinta yang mendalam kepada Sang Pencipta dan kekasih-Nya, Rasulullah. Allah saja memanggil Baginda Nabi dengan sebutan terhormat dan mulia: Yaa Nabiyallah, Yaa Habiballah. Bukan sekadar nama, Ahmad atau Muhammad.
Bila rasa cinta telah terpatri dalam diri, niscaya tidak akan ada perpecahan, apalagi konflik yang berkepanjangan. Perbedaan itu akan disikapi dengan santun. Mukmin yang satu dengan mukmin yang lainnya itu bersaudara.”
Kalau umat Islam terlalu sibuk dengan perpecahan, selain akan menyebabkan mereka lemah, mereka justru akan lupa bahwa sesungguhnya Islam itu kaya akan ilmu pengetahuan, yang akan membuat mereka lebih maju atau minimal setara dengan bangsa lain.
Bacalah surah Ath-Thaariq, yang begitu indah menjelaskan ihwal ciptaan Allah SWT yang ada di langit. “Demi langit dan yang datang pada malam hari. Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? Yaitu bintang, yang cahayanya menembus. Tidak ada suatu jiwa pun (diri) melainkan ada penjaganya. Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar. Yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati). Pada hari ditampakkan segala rahasia. Maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong. Demi langit yang mengandung hujan. Dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan. Sesungguhnya Al-Qur'an itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang haq dan yang bathil....”
Apabila surah ini dikaji secara mendalam, begitu banyak ilmu yang bisa diambil dari surah ini, seperi astronomi, anatomi, biologi, dan vulkanologi. Sayangnya, tampaknya hingga kini umat Islam belum mengkaji secara mendalam ayat-ayat yang telah Allah turunkan.
Tepat pukul 23.30, Habib Lutfi mengakhiri mau’izhah hasanah dengan doa.
Kehadiran mursyid Thariqh Syadziliyyah ini begitu dimanfaatkan jama’ah. Mereka langsung bergegas menemui Habib Lutfi untuk konsultasi atau meminta doa dan berkah.
Di samping merayakanh Isra miraj, Majelis Ta’lim Arridwan bersama Idarah Syu’biyyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah, Bekasi, juga mengadakan silaturahim dengan para habib dan awliya’ di Bekasi. Mempererat hubungan dan mencegah konflik atas nama agama.
Belakangan, Bekasi begitu rawan konflik antar-etnis dan agama. Maka di sinilah peran pemuka agama untuk memberikan upaya pencegahan, selain aparat keamanan tentunya.

Siti Eliza

Tidak ada komentar:

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"









"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog