Kamis, 17 Maret 2011

Kisah Pilu, Astronom dari Medan Perang Gaza


(wartaislam.com) Kisah perjalanan Baraka Suleiman, seorang astrofisikawan ini sungguh mengharukan. Dilahirkan sebagai anak tertua dari 14 bersaudara dari seorang tukang daging yang miskin di sebuah medan pertempuran yang ganas di Gaza, ia bangkit menjadi seorang astrofisikawan yang sempat bekerja di NASA, badan antariksa Amerika Serikat.

Sekarang, pada usia 45 tahun, ia pulang kampung dengan misi baru. Dari kawasan yang diblokade Israel, ia akan mengajar anak-anak untuk melihat keindahan alam semesta yang tidak terbatas.

Dia telah memperoleh teleskop pertama di Gaza, sumbangan dari Persatuan Astronomi Internasional. Dia berencana memperkenalkan ilmu astronomi ke tiga universitas di Gaza. Bahkan, dia juga bermimpi membangun sebuah observatorium dan stasiun penelitian geomagnetik.

Mungkin itu impian yang sangat ambisius untuk sebuah wilayah yang terkekang antara Israel dan Mesir selama hampir empat tahun. Tapi Baraka yang keras kepala tetap optimistis. Di wilayah yang terjebak konflik agama dan politik sekalipun, ia masih melihat ada sisi kesamaan, bukan perbedaan mereka.

"Ada alam semesta yang indah untuk semua orang - tanpa batas, tanpa pagar, dan tidak ada dinding," katanya dalam sebuah wawancara.

Baraka kehilangan anaknya, Ibrahim, 11 tahun, selama perang Israel versus Hamas lebih dari setahun lalu.

Pada saat itu, Baraka tengah berada di Virginia Tech, guna mengikuti program penelitian dari NASA dan National Science Foundation. Sementara istri dan empat anak tetap tinggal di kota kelahirannya, Khan Younis di bagian selatan Gaza.

Pada 29 Desember 2008, sebuah pesawat perang Israel mengebom rumah keluarga Baraka. Ibrahim menjadi korban dan dirawat di rumah sakit di Mesir karena kepalanya patah. Baraka pun segera terbang dari AS ke Mesir. Dia berdoa dan menangis di samping tempat tidur anaknya. Namun, Ibrahim tidak pernah sadarkan diri dan meninggal seminggu setelah pemboman.

Ibrahim adalah salah satu dari sekitar 1.400 orang Palestina yang tewas dalam tiga minggu serangan ofensif Israel untuk mengakhiri tembakan roket dari Gaza ke kota-kota Israel.

Selain itu, Baraka dilarang memasuki Gaza saat perang sedang terjadi. Karenanya, dia terbang kembali ke Amerika Serikat guna menyelesaikan risetnya setahun.

Pada Oktober 2009, ia kembali ke Gaza dengan misi baru. Dia akan mengajak anak-anak bergembira ria melihat ruang angkasa.

Sebuah malam pada 12 Maret 2010, ia menggelar pesta "Bintang" pertama. Mengenakan topi NASA, ia mendirikan teleskop di halaman sekolah anaknya di Khan Younis. Dia mengajar tiga lusin murid, sebagian besar anak-anak, beberapa diantaranya gadis berjilbab, sejumlah orangtua dan guru.

Beberapa orang dewasa mempertanyakan apakah ilmu ruang angkasa sesuai dengan ajaran Islam. Namun, Baraka berhasil memenangkan keyakinan mereka dengan mengutip ayat-ayat Quran.
Kemudian anak-anak rame-rame mencoba teleskop. "Ini adalah sesuatu yang sungguh indah," kata Abdullah Majaideh, 14, setelah menatap langit. "Tadinya, aku tidak pernah berharap bisa melihat dengan teleskop dan melihat dunia luar."

Baraka berbalik, kemudian meneteskan air mata.

Menjelajah luasnya ruang angkasa adalah hal yang benar-benar sangat langka bagi warga Gaza yang terisolasi. Dengan luas 360 kilometer persegi, Gaza adalah salah satu kota paling padat dengan 1,5 juta orang penduduk yang dikekang dengan pagar, dinding tinggi, hingga dijaga ketat tentara Angkatan Laut Israel. Kontak dengan dunia luar sangat sporadis.

Baraka sesungguhnya pernah mengundang seorang pensiunan astronot NASA, Jeffrey Hoffman, dan ketua Persatuan Astronomi Internasional, Bob Williams berkunjung ke Gaza. Namun, karena ketidakpastian memasuki wilayah pada akhir Januari, kunjungan dialihkan ke Tepi Barat, wilayah Palestina lainnya.

Baraka mulai tertarik dengan ruang angkasa saat sekolah menengah. Ia mengaku dibesarkan di sebuah keluarga yang menghargai pendidikan, meskipun orang tuanya sosok sederhana dan hanya sedikit mengenyam pendidikan formal. Dari semua saudaranya, cuma dua yang melanjutkan ke perguruan tinggi.

Setelah mempelajari fisika, ia masuk ke politik, menghabiskan dua tahun di sebuah penjara Israel karena ikut organisasi Fatah yang kemudian memegang posisi pemerintah Palestina. Tapi setelah upaya perdamaian runtuh pada 2000, ia kembali ke dunia akademis.

Ia memperoleh gelar master di bidang fisika dari Universitas Islam Gaza, gelar doktor dari Institut Astrofisika Paris. Setelah sempat kembali ke Gaza, dia kemudian dipekerjakan oleh Virginia Tech lewat program hibah setahun penuh.

Baraka, istri dan tiga anak yang bertahan hidup kini tinggal di sebuah apartemen dengan perabotan penuh tumpukan buku. Di seberangnya masih terlihat bekas rumah mereka yang hancur, sudah rata dengan tanah karena dibom Israel. "Saat itu, Ibrahim dan neneknya berada di dekat rumah ketika bom menghantam," katanya.

Kini, ia tengah mencoba mengejar ketertinggalan penelitian, serta menghadapi masalah listrik yang sering padam. Bagi Baraka, kepuasan terbesar adalah menginspirasi anak-anak muda, termasuk mahasiswa astronomi untuk menjelajah ruang angkasa.

"Aku akan menunjukkan kepada mereka jalan," katanya, "seperti aku tunjukkan jalan kepada mereka sebelumnya."
Sumber : vivanews
foto : AP

Tidak ada komentar:

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"









"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog