Senin, 19 Desember 2011

Road to Mecca: iritualitas yang Mencerahkan



PDF Print E-mail


Sekali lagi seruan Labbaik Allahumma labbaik terdengar, teriakan gembira penyerahan diri kaum peziarah berselubung putih di perahu yang menuju dataran tempat harapan-harapan luhur sedang memanggil....

Perjalanan menuju Tanah Suci adalah perjalanan spiritual yang penuh dengan pengalaman mencengangkan. Demikian banyak inspirasi, introspeksi, dan renungan kritis yang dihasilkan dalam perjalanan dari Barat (Jerman) menuju Makkah oleh ilmuwan terkemuka Leopold Weiss yang kemudian setelah masuk Islam terkenal dengan nama Muhammad Asad.

Buku yang merupakan karya agungnya berjudul Road to Mecca kami cuplikkan untuk menjadi renungan bagi kita, umat Islam. Dengan gaya bahasa yang sangat indah, tergambar bagaimana perjalanannya ke Makkah dari Eropa menghasilkan suatu perubahan yang radikal bagi Weiss pribadi.

Islamlah Yang Menjayakan Kita
Saya mengikuti gang berkelok-kelok di bagian tertua kota Madinah, dinding-dinding rumah batu yang tegak dalam keremangan, jendela-jendela lipat dan balkon-balkon bergantungan di atas lorong-lorong yang mengingatkan kita akan terowongan-terowongan yang demikian sempitnya sehingga dua orang hampir tak dapat saling berpapasan, kemudian tiba di depan gapura batu kelabu yang merupakan sebuah perpustakaan yang dibangun kira-kira seratus tahun silam oleh seorang sarjana Turki.

Di pekarangannya, di balik kisi-kisi tembaga tempaan yang membentuk gerbang itu, terasa keheningan memanggil-manggil. Saya menyeberangi halaman berbatu ubin, melewati sebatang pohon yang tegak di tengah-tengahnya dengan cabang-cabangnya tak bergerak, lalu melangkah ke dalam ruangan berkubah yang dibatasi oleh rak-rak buku bertutupkan kaca, beribu-ribu buku tulisan tangan, di antaranya terdapat beberapa naskah paling langka yang pernah dikenal dunia Islam. Buku-buku semacam inilah yang membuktikan keunggulan kebudayaan Islam, kemenangan yang telah pudar bagai angin kemarin.

Saya memperhatikan sejenak buku-buku bersampul kulit keras ini, pertentangan antara muslimin masa lalu dan muslimin masa kini, bagaikan diiris sembilu.

“Sakit apakah Anda, Nak? Mengapa wajah Anda tampak kecut?”

Saya berpaling ke arah datangnya suara, dan tampaklah sosok kecil tubuh sahabat saya di atas permadani, di antara salah satu jendela lipat, dengan sejilid buku terbuka pada kedua lututnya, itulah Syaikh Abdullah ibnu Bulayhid. Matanya yang tajam menatap hangat ketika saya mencium dahinya dan duduk berdampingan.

Dia adalah seorang ulama Nejed yang terbesar dan terpandang. Dia adalah salah seorang berpikiran paling cerdas yang pernah saya jumpai di negeri-negeri kaum muslimin. Persahabatannya membuat hidup saya di Arab menjadi mudah dan menyenangkan. Ditutupnya bukunya dengan bunyi keras lalu ia menarik saya ke dekatnya, sembari memandang mengamat-amati saya.

“Saya sedang berpikir-pikir, wahai Syaikh, telah berapa jauhkah kita, kaum muslimin, berjalan dari sini?” Dan saya menunjuk ke arah buku di atas rak. “Menuju kesengsaraan dan kemunduran kita sekarang?”

“Anakku, kita tinggal menuai apa yang telah kita semaikan. Sekali waktu kita unggul, dan Islam-lah yang menyebabkan kejayaan kita. Kitalah pembela-pembela amanat. Selama kita jujur pada amanat itu, qalbu kita diilhami dan pikiran kita diterangi. Namun segera setelah kita melupakan untuk apa kita dipilih oleh Yang Mahakuasa, kita jatuh. Kita telah banyak menyeleweng dari sini, karena kita telah jauh  berpaling dari apa yang diajarkan Nabi, semoga Allah SWT memberi shalawat dan salam kepadanya, kepada kita,” ujar orangtua itu.

“Dan bagaimana jalannya pekerjaan Anda?” tanyanya menyelidiki setelah berhenti sesaat, karena ia tahu bahwa saya sedang mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan sejarah permulaan Islam.

“Saya harus mengakui, Syaikh, bahwa keadaan tidak begitu menyenangkan. Saya tidak mendapat ketenteraman hati dan tidak tahu entah mengapa.”

Perpustakaan itu hening, hanya syaikh tua bersama saya yang ada dalam ruangan berkubah itu.

Dari sebuah masjid kecil tak jauh dari situ, kami mendengar seruan shalat Maghrib, dan sesaat kemudian panggilan yang sama terdengar berkumandang dari kelima menara masjid Nabi yang sekarang terlihat oleh kami, terasa sedemikian nikmat dan penuh kebanggaan, terpancar dari menara berkubah hijau.

Muadzin dari salah sebuah menara memulai panggilannya, Allahu Akbar... dengan suara nyaring, halus mendayu, perlahan nadanya naik-turun dan mengalun dalam suara panjang. Menjelang berakhirnya ucapan pertama, muadzin dari menara yang terdekat dengan kami menyambung dengan nada suara yang agak lebih tinggi.

Sementara itu terdengar pula suara menanjak perlahan dari menara ketiga. Muadzin pertama telah selesai dengan bait pertama dan memulai lagi, kemudian diiringi dengan suara sayu di kejauhan dengan bait pertama dari menara keempat dan kelima, bait kedua.... Sementara suara-suara yang datang dari menara kedua dan kemudian menyusul dari yang ketiga mengalun bertalu.

Setiap ayat diulangi dengan cara yang sama oleh kelima muadzin, kemudian dilanjutkan. Setiap suara itu rasanya membangkitkan yang lain dan menariknya bersama-sama lebih dekat untuk kemudian lenyap mengalun dan mengambil ayat lain lagi, jadi beriring bersama sama dalam ayat penutup.

Bunyi indah mengalun dan khidmat serta perpaduan suara tidaklah sama dengan nyanyian biasa. Dan ketika hati serasa terlonjak terharu dengan cinta akan kata dan suara tersebut, mulailah terasa bahwa segala pengembaraan saya selalu hanya punya satu arti, untuk menjangkau makna panggilan itu.

“Marilah,” kata Syaikh Ibnu Mulayhid, “marilah kita ke masjid untuk shalat Maghrib.”  

Masjid Nabi memperoleh bentuknya seperti sekarang dalam pertengahan abad lampau, akan tetapi bagian lainnya jauh lebih tua. Sebagian berasal dari zaman Dinasti Mamluk Mesir, sedang yang lainnya lebih tua lagi. Ruang tengahnya, yang terdapat pusara Rasulullah SAW, tepat meliputi luas tanah yang sama yang dibangun oleh sahabat Utsman, khalifah ketiga.

Batu nisan Rasulullah SAW sendiri tidak tampak, karena ditutupi oleh lusinan emas dan perak yang bergantungan dan diselimuti kisi-kisi perunggu, persembahan Sultan Mamluk, Mesir, pada abad ke-lima belas. Kenyataannya tidak ada susunan batu nisan seperti itu, karena Rasulullah SAW dimakamkan di bawah lantai tanah, satu-satunya ruangan dalam sebuah rumah kecil tempat beliau hidup dan meninggal.

Pada waktu sesudahnya, ruangan sebelah dinding tak berpintu dibangun sekitar rumah itu, sehingga menutupinya dari dunia luar. Selama waktu hidup Rasulullah SAW masjid itu jelas terpisah dari rumah tersebut. Akan tetapi dalam perjalanan waktu berabad-abad, masjid itu telah diperluas ke atas dan ke sebelah menyebelah makam beliau.

Berderat-deret permadani dihamparkan pada persegi empat terbuka dalam masjid itu, bershaf-shaf manusia ada di sana, membaca Al-Qur’an dan bertafakkur. Ibnu Bulayhid tampaknya tenggelam dalam kekhidmatan shalat. Dari kejauhan terdengar suara orang mengaji, yang selalu dilakukan menjelang shalat Maghrib. Hari itu yang dibaca adalah surah kesembilan puluh enam, yang pertama diwahyukan kepada Rasulullah SAW, yang dimulai dengan kata-kata “Bacalah atas nama Penciptamu”. Dalam bentuk kata-kata inilah  panggilan Tuhan untuk pertama kalinya diterima Rasulullah SAW di Gua Hira’, dekat Makkah.

Antara Sedih dan Bahagia
Sebelumnya, ini terjadi pada suatu hari di musim dingin di Afghanistan, tatkala kuda saya kehilangan salah satu tapalnya dan saya harus mencari seorang pandai besi di sebuah desa yang terletak dalam lintasan jalan raya, dan di sana seorang lelaki mengatakan kepada saya, “Akan tetapi Anda adalah seorang muslim, hanya saja Anda tak mengetahuinya”, ini terjadi kira-kira delapan bulan menjelang saya memeluk agama Islam, saya sedang dalam perjalanan dari Barat ke Kabul dan sedang berkendara ditemani oleh Ibrahim dan seorang lasykar Afghanistan, melalui lembah-lembah bertutup salju serta celah-celah Hindu-Kush di daerah Afghanistan tengah. Udara dingin, salju berkilau-kilauan.

Hari itu saya dirundung sedih, tapi pada saat yang sama pula merasakan bahagia. Saya sedih karena dalam pengamatan saya beberapa bulan terakhir tampaknya sebagian besar penduduk tempat saya bermukim pemahaman keagamannya tertutup tabir suram, sedang saya merasa bahagia karena selain mereka sudah ada kelompok yang pemahaman keagamannya telah memancarkan kecerahan.

Kuda saya mulai berjalan pincang dan sesuatu terdengar menggeluntang dari kukunya. Sebuah tapal besi telah copot tergantung-gantung hanya dengan dua batang paku.

“Adakah desa di dekat sini tempat seorang pandai besi?” tanya saya kepada teman Afghanistan itu.

“Desa Deh-Zangi, letaknya kurang dari lima kilometer dari sini. Ada seorang pandai besi di sana. Di desa itu, selain pandai besi, juga ada hakim yang bernama Hazarayat, dengan istananya di sana.”

Saya pergi ke Desa Deh-Zangi. Hakim Hazarayat adalah seorang pemuda berperawakan pendek dengan air muka periang, seorang peramah yang gembira menjamu seorang tamu asing dalam kesepian istananya yang sederhana. Meskipun seorang anggota keluarga dekat Raja Amanullah, dia adalah salah seorang paling rendah hati yang saya temui di Afghanistan. Ia memaksa saya tinggal bersamanya selama dua hari.

Pada malam hari kedua, sebagaimana biasa, kami duduk menghadapi hidangan makanan malam yang lumayan dan sesudah itu seorang lelaki desa menjamu kami dengan suatu balada yang dinyanyikan dalam bahasa Persia. Saya ingat, ia menyanyikan ihwal pertarungan Daud dengan Goliath.

Tatkala nyanyian itu berakhir, Hakim Hazarayat berkata, “Daud kecil, namun imannya besar....”

Saya tak dapat menahan diri dan menambahkan, “Dan kalian banyak, akan tetapi imannya sedikit.”

Tuan rumah memandang saya keheranan dan merasa terganggu kata-kata saya, namun saya segera menerangkan kepadanya dengan lancar. Penjelasan saya ini berupa serangkaian pertanyaan bertubi-tubi:

“Bagaimana sampai kalian, kaum muslimin, kehilangan kepercayaan diri, keyakinan diri, yang pada suatu waktu telah menyebabkan kalian mampu mensyiarkan kepercayaan kalian, dalam waktu kurang dari seratus tahun, dari Arab ke arah barat, sampai ke Atlantik, ke timur sampai ke Cina, sedangkan kini dengan mudah menyerahkan diri, lemah, kepada pikiran dan kebiasaan Barat?

Mengapa kalian, yang punya nenek moyang yang pada suatu saat menjadi penerang dunia dengan ilmu pengetahuan dan kesenian tatkala Eropa sedang tenggelam dalam kebiadaban dan kebodohan, tidak mengerahkan kembali keberanian untuk kembali kepada kemajuan kalian serta kecemerlangan kepercayaan kalian sendiri.”

Tuan rumah bungkam.

Di luar salju mulai turun. Sekali lagi saya merasakan gelombang suka bercampur duka, sama seperti ketika hendak mendekati Deh-Zangi. Saya merasakan kemenangan, tapi pada saat yang sama rasa malu menyelubungi keturunan dari suatu peradaban yang unggul ini.

“Ceritakanlah bagaimana sampai iman nabi kalian dan kejernihan serta kesederhanaannya dikubur dalam reruntuhan sepekulasi yang mandul dan ajaran yang berbelit-belit? Bagaimana sampai terjadi pangeran-pangeran dan tuan tanah memperoleh kemakmuran dan kemewahan sedang demikian banyak saudara mereka, kaum muslimin, tenggelam dalam kemiskinan dan kegembelan yang tak terlukiskan, kendatipun nabi kalian berkata, ‘Tak seorang pun boleh menamakan dirinya beriman apabila dia makan sampai kenyang padahal tetangganya kelaparan’?

Dapatkah kalian menerangkan kepada saya mengapa kalian telah memencilkan kaum wanita di belakang layar kehidupan, padahal wanita di sekitar nabi dan para sahabatnya memegang peranan agung dalam kehidupan suami mereka? Mengapa kalian, kaum muslimin, banyak diliputi kebodohan dan segelintir saja yang menulis dan membaca, meskipun nabi kalian menyatakan, ‘Menuntut ilmu adalah kewajiban suci bagi setiap muslim, pria dan wanita’ dan ‘Kelebihan orang yang berpengetahuan atas ahli ibadah bagaikan kelebihan bulan purnama dibandingkan dengan bintang?’.”

Masih saja tuan rumah menatap tak berkata-kata, dan saya mulai berpikir bahwa saya melukai perasaannya. Dia menarik baju kulitnya yang berwarna kuning dan mengetatkan pada badannya lalu berbisik, “Tetapi Anda adalah seorang muslim....”

Saya tertawa dan menjawab, “Tidak, saya bukan seorang muslim. Akan tetapi saya mulai melihat kebesaran Islam yang menyebabkan saya kadang-kadang merasa geram memperhatikan kalian menyia-nyiakannya, maaf  kalau saya berbicara terlalu pedas. Saya tidak berbicara sebagai seorang musuh.”

Namun sang tuan rumah menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak, seperti telah saya katakan, Anda adalah seorang muslim, hanya saja Anda tidak menyadarinya.”

Ucapannya itu selalu terngiang-ngiang di telinga saya selama berbulan-bulan, dalam perjalanan saya melintasi berbagai negara dan sampai akhirnya saya mengucapkan syahadat.

Berhenti Berpikir
Menurut  Al-Qur’an, Tuhan tidaklah menghendaki penyerahan diri manusia secara membabi buta, melainkan lebih menitikberatkan pada akalnya.

Agama tak menarik garis pembatas antara tabiat sosial dan iman. Dan yang teramat penting, agama tidak memulai dengan suatu dalil bahwa hidup dibebani dengan bentrokan antara badan dan jiwa. Setiap bentuk pengingkaran hidup dan penyiksaan diri dikutuk oleh Tuhan. Kehendak hidup manusia bukan hanya ingin diakui, sebagai naluri yang pasti dan utuh, melainkan dianugerahi dengan kesucian terhadap tuntunan kesusilaan pula.

Di depan saya melihat sesuatu bagaikan karya seni bangunan sempurna dengan segala unsur yang diterima secara harmonis untuk melengkapi dan menopang satu sama lain, tanpa ada sesuatu yang berlebihan atau kekurangan, suatu keseimbangan dan kedamaian yang memberikan kita perasaan bahwa segala sesuatu dalam pandangan dan tuntunan Islam adalah pada tempatnya yang alami.

Empat belas abad yang silam, seorang lelaki berdiri tegak dan berkata, “Aku hanyalah insan yang fana, tetapi Dia yang menciptakan jagat menunjukku menyampaikan amanah-Nya kepada kalian, ‘Hendaknya engkau dapat hidup menurut rencana penciptaan-Nya.’ Dia telah memerintahkanku supaya memperingatkan kalain akan wujud-Nya, Yang Mahakuasa dan Mahatahu, serta mengajarkan kepada kalian tuntunan kehidupan. Bila kalian menerima kerasulanku dan ajaran-ajaran-Nya, turutilah aku.” Inilah inti pengutusan Nabi Muhammad SAW.

Bagan sosial yang diutarakannya adalah kesederhanaan yang hanya sejalan dengan keluhuran sejati. Dimulai dari pangkal bahwa manusia adalah makhluk biologis dengan kebutuhan-kebutuhan biologis serta dikondisikan begitu rupa oleh penciptaan sehingga harus hidup dalam kelompok-kelompok agar dapat memuaskan rangkaian kebutuhan fisik, moral, dan intelektual. Pendek kata, mereka saling bergantung.

Semua syarat hukum Islam dipancarkan bagi kemanfaatan bersama anggota-anggota masyarakat tanpa mempedulikan perbedaan kelahiran, ras, jenis kelamin, ataupun persekutuan sosial sebelumnya. Tak ada keuntungan-keuntungan istimewa yang dicadangkan bagi pembangunan masyarakat ataupun keturunan-keturunannya. Tinggi rendah dalam pengertian sosial adalah istilah-istilah yang tidak dikenal, sedang konsep kelas tak ada dalam kamus Islam.

Segala hak, kewajiban, dan kesempatan dibagi sama di antara semua yang beriman dalam Islam.

Tak ada ketaatan yang diakui melebihi kepatuhan terhadap Tuhan, kepada nabi-nabi-Nya, dan orangtua....

Tak ada fanatisme kesukuan. Dan untuk hal itu Rasulullah SAW menegaskan berkali-kali, “Mereka yang membangkitkan permusuhan kesukuan bukanlah dari golongan kami, dan bukanlah dari pihak kami yang berperang karena pertikaian kesukuan, dan bukanlah dari golongan kami mereka yang mati karena peperangan kesukuan.”

Kurang dari satu abad sejak wafatnya Rasulullah SAW bentuk politik asli Islam mulai runtuh dan pada abad-abad sesudahnya program-program asli itu berangsur-angsur didesak ke sudut.

Selama suatu waktu pemikir-pemikir Islam berusaha menjaga ideologinya yang sejati agar tetap luhur dan murni, akan tetapi yang bermunculan sesudah mereka adalah manusia-manusia yang lebih rendah kemampuannya. Dan setelah perjalanan waktu dua-tiga abad, mereka berhenti berpikir, merasa puas dengan mengkaji ulang ungkapan-ungkapan dari generasi sebelumnya, melupakan bahwa setiap opini manusia memerlukan pembaharuan terus-menerus.

Dorongan-dorongan sejati Islam pada mulanya sangat dahsyat dan dalam beberapa masa cukup untuk membawa kesejahteraan bagi kaum muslimin ke puncak kejayaan kebudayaan ke arah pandangan ilmiah, hasil kesusastraan dan kesenian yang oleh ahli sejarah dinamakan zaman keemasan Islam. Namun dalam beberapa abad saja sesudahnya rangsangan untuk hal ini mati karena ketiadaan usaha spiritual dan peradaban kaum muslimin, yang semakin lama semakin lemah dan kehilangan tenaga kreatifnya.

Tak ada ilusi dalam diri saya tentang keadaan sekarang di kalangan dunia kaum muslimin. Empat tahun yang saya lewatkan di negeri-negeri itu memperlihatkan kepada saya bahwa, sementara Islam masih hidup, dan dapat diamati melalui penganut-penganutnya, tampak pula bahwa mereka bagaikan telah dilumpuhkan, sehingga tak menerapkan kepercayaan mereka menjadi tindakan yang dapat membuahkan hasil.

Akan tetapi yang lebih banyak menggelisahkan saya dibandingkan dengan kegagalan kaum muslimin sekarang dalam melaksanakan bagan Islam adalah potensialitas bagan itu sendiri. Cukup bagi saya untuk mengetahui bahwa dalam jangka waktu pendek tepat pada permulaan sejarah Islam, suatu percobaan yang berhasil telah diselenggarakan untuk menerapkan bagan itu ke dalam praktek, dan apa yang diterapkan pada suatu masa mungkin bisa diterapkan di lain masa. Saya bertanya kepada diri sendiri, apa gerangan sebabnya sehingga kaum muslimin menyeleweng dari ajaran sebenarnya dan tenggelam dalam kemalasan dan kebodohan?

Pintu sedang Menutup Perlahan-lahan
Labbaik Allahumma labbaik. Betapa seringnya saya mendengar seruan itu selama lima kali berziarah ke Makkah, dan saya mendengar kembali sekarang. Saya memejamkan mata, dan lenyaplah bulan dan bintang-bintang. Segala bunyi di padang pasir lenyap dan tak terdengar apa pun kecuali suara labbaik serta dengungan dan denyutan darah di telinga saya, menderu, mendenyut, dan mendebur bagaikan empasan-empasan ombak-ombak laut memukul di lambung kapal dan bagaikan deru mesin. Saya mendengar mesin menderu, merasakan getaran lambung kapal itu, dan mendegar seruan Labbaik Allahumma labbaik yang berasal dari orang-orang yang berada di atas kapal yang membawa saya ke perjalanan ziarah yang pertama hampir enam tahun yang lewat dari dari Mesir ke Arab.

Di atas kapal hanya ada jama’ah peziarah, demikian banyaknya sehingga hampir tidak  tertampung kapal itu. Perusahaan perkapalan, yang tamak akan keuntungan-keuntungan musim haji yang pendek, benar-benar mengangkut penumpang berlebih sampai para penumpang berdesak-desakan di pinggir kapal. Di geladak, kamar, dan lintasan-lintasan, di atas anak tangga, di ruang-ruang makan kelas satu dan dua, di gudang-gudang yang telah dikosongkan untuk maksud itu dan diperlengkapi loteng-loteng darurat, dalam setiap pojok dan tempat mana saja, manusia berimpit berdesak-desakan. Menyedihkan benar kelihatannya.

Betapa mereka berada di lantai-lantai geladak dalam kelompok-kelompok padat, laki-laki, perempuan, dan kanak-kanak, dengan sangat sukarnya mempersiapkan urusan kerumahtanggaan mereka, karena memang tidak  disediakan. Juga untuk kepentingan ibadah. Mereka melaksanakan ibadah shalat lima kali sehari dengan wudhu yang kekurangan air.

Betapa menderitanya mereka menahan udara di lambung kapal dua geladak di bawahnya, yang pada perjalanan lain hanya dipergunakan untuk muatan karung dan peti barang.

Siapa pun yang melihat akan mengakui betapa teguhnya iman mereka yang melakukan perjalanan haji itu. Mereka seolah tak merasakan penderitaan itu, terpukau oleh pikiran-pikiran tentang Makkah, hanya membicarakan perihal haji mereka. Mereka selalu mengucapkan Labbaik Allahumma labbaik.

Kira-kira pada tengah hari kedua, peluit kapal berbunyi. Ini adalah tanda yang mengisyaratkan bahwa kami telah sampai di garis lintang Rabigh, sebuah pelabuhan di utara Jeddah. Kaum peziarah yang datang harus menanggalkan pakaian mereka sehari-hari dan mengenakan pakaian ihram.

Baju itu terdiri dari dua helai kain katun putih yang tidak dijahit dan salah satunya harus dililitkan pada pinggang, mencapai bawah lutut, sedang yang lain disandang bebas pada pundak dan kepala, dibiarkan tak tertutup.

Tak ada perbedaan ras dan bangsa, kaya dan miskin, tinggi dan rendah. Mereka merasa sebagai sesama saudara, sama di hadapan Tuhan. Maka lenyaplah segala pakaian warna-warni dari kapal kami.

Di waktu fajar menyingsing pada hari ketiga, kapal melabuhkan sauh di pantai Arab. Kebanyakan kami berdiri di pinggiran dan memandang daratan yang perlahan-lahan muncul tersembul di balik kabut pagi.

Sekali lagi seruan Labbaik Allahumma labbaik terdengar, teriakan gembira penyerahan diri kaum peziarah berselubung putih di perahu yang menuju dataran tempat harapan-harapan luhur sedang memanggil.... Harapan mereka dan harapan saya, karena bagi saya terlihatnya pantai Arab merupakan puncak dari masa-masa pencarian saya.

Kemudian kami melihat tuan rumah bersayap putih meluncur ke arah kami dari daratan, itulah perahu-perahu pantai Arab. Dengan layar merentang kencang, mereka meluncur di atas laut yang licin dengan lembut tanpa bersuara, membelit-belitkan jalannya di sela-sela batu karang. Utusan pertama dari Arab siap menerima kami.

Mereka semakin mendekat, dan akhirnya kumpul bersama tiang-tiang yang berayun-ayun di lambung kapal. Dan setelah sesaat, terdengar gaduh teriakan-teriakan di tengah-tengah mereka, teriakan awak perahu yang membanjiri lambung kapal untuk mengangkut muatan para peziarah dan penumpang-penumpang itu, yang diselimuti perasaan suka cita melihat Tanah Suci.

Bagi diri saya, saya sadar telah meninggalkan Barat dan hidup di kalangan kaum muslimin, akan tetapi saya tidak tahu bahwa saya sedang meninggalkan seluruh masa lampau saya di belakang. Tanpa suatu peringatan, dunia lama saya telah berakhir. Dunia ide, perasaan, usaha, dan bayangan Barat. Sebuah pintu sedang menutup perlahan-lahan di belakang saya, demikian perlahannya sehingga saya tak sadar, saya mengira ini hanyalah seperti semua perjalanan sebelumnya, manakala kita mengembara di negeri-negeri asing, selalu akan kembali ke masa lampau kita, namun ternyata itu semua harus diubah seluruhnya sekaligus.

Ihsan M. Rusli

Tidak ada komentar:

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog

Memuat...