Kamis, 02 September 2010

Habib 'Abdur Rahman bin Musthofa al-'Aydrus

Di Kota Kaherah, tepatnya pinggir jalan di sisi maqam Sayyidah Zainab binti Imam 'Ali radhiyAllahu 'anhuma, cucunda Nabi SAW, bersemadinya seorang ulama dan wali besar keturunan Ba 'Alawi. Dalam gambar di sebelah kanan, boleh dilihat kubah kecil yang menaungi maqamnya Habib 'Abdur Rahman bin Musthofa al-'Aydrus. Ilmu dan kewalian beliau telah masyhur, jika tidak masakan setelah wafat beliau dikebumikan di sisi manusia agung dan mulia, anakanda Sayyidah Fathimah az-Zahra, RA Sayyidah Zainab RA. Banyak kisah-kisah yang menarik mengenai Habib 'Abdur Rahman al-'Aydrus ini, antaranya, diceritakan bahawa satu ketika tatkala berada di Kota Madinah al-Munawwarah, Habib 'Abdul Rahman bin Musthofa al-'Aydrus, Habib Abu Bakar bin Husain BilFaqih dan Habib Syaikh bin Muhammad al-Jufri rahimahumUllah saling berjanji sesama mereka untuk mengamalkan semua yang terkandung dalam kitab "Bidayatul Hidayah " karya Imam
Hujjatul Islam al-Ghazali rahimahUllah. Atas istiqamah dan kesungguhan serta keikhlasan mereka mengota perjanjian mereka tersebut, maka mereka berhasil bertemu dengan Junjungan Nabi SAW. Baginda Nabi SAW telah memberi sebuah kitab putih kepada Habib Abdul Rahman dan menyuruh beliau pergi ke Mesir. Habib Abu Bakar BilFaqih diberi sebuah pinggan dan disuruh pergi ke Asia, manakala Habib Syaikh al-Jufri diberikan tongkat dan tasbih lalu disuruh pergi ke Malabar.

Dipendekkan cerita, Habib 'Abdur Rahman bin Musthofa al-'Aydrus pun segera pergi ke Mesir. Beliau sampai di negara itu pada waktu malam dan kebetulan di rumah seorang syaikh dari para ahli fiqih sedang dilangsungkan pesta perkawinan. Tatkala tiba waktu shalat, diserukan iqomah. Sang Syaikh berkata:- "Yang paling faqih di antara kalian hendaknya maju untuk menjadi imam." "Siapa yang paling faqih di antara kami?" tanya seorang ahli fikih."Yang paling faqih adalah orang yang dapat menyebutkan 400 sunah dalam shalat sunnah fajar. Siapa pun yang dapat menyebutkannya, maka dia layak menjadi imam kita." Mereka semua menyerah. Habib 'Abdur Rahman bin Musthofa maju, kemudian menyebutkan 400 sunah salat sunah fajar, dan menambah beberapa lagi. Sang Syaikh berkata, "Kaulah yang layak menjadi imam kami." Beliau kemudian maju mengimami shalat. Penduduk Mesir kagum dengan kedalaman ilmu Habib 'Abdur Rahman.

Suatu hari beberapa ulama Mesir datang menemui beliau dengan sejumlah persoalan bahasa yang telah mereka persiapkan lebih dahulu. Padahal Habib 'Abdur Rahman kurang begitu menguasai ilmu nahwu. "Berilah kami jawaban atas persoalan- persoalan ini," kata mereka setelah bertemu Habib 'Abdur Rahman. Beliau membuka buku putih itu dan menemukan semua jawaban atas persoalan tersebut. Beliau lalu menukil dan menjelaskannya. Begitu seterusnya. Setiap kali ada yang bertanya, beliau selalu mendapati jawabannya telah tertulis di buku tersebut.

[Saduran dari "Jawahirul Anfas fi ma yurdhi Rabban Naas" jilid1 halaman 208 - 209 karya Habib Umar MawlaKhela.]

Tidak ada komentar:

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog

Memuat...