Jumat, 04 Juni 2010

ISRA’ MI’RAJ SEBAGAI CERMINAN KEMULIAAN FIGUR NABI MUHAMMAD SAW

Oleh: Habib Mustafa Abudullah Alaydrus

Alhamdulillahi a’laa ni’matil islam wal iman wassholaatu wassalaamu a’laa habiibirrohman alladzi yasyfau’na fii yaumizzimam wa a’laa alihi wa ashabihi ajmai’n. amma ba’du, fa qoola Taa’la fil quranil azdhim: Subhaanaladzi asra bi a’bdihi lailaan minal masjidil harami ilal masjidil aqsa, alladzi baarakna haulahu linuriyahu min aayatina, Innahu huwassamiiu’l bashiir. fa qoola Taa’la aidlon: Wa huwa bil ufuqil a’la, Tsumma dana fa tadalla, Fa kaana qooba kausaini aw adna. Shodaqallahul a’liyyil azdhim.

Ma’asyirol muslimin wal muslimat rohimakumullah, peristiwa isra’ dan mi’raj adalah sebuah peristiwa spektakuler yang maha dahsyat yang tidak pernah didapatkan oleh satu makhluq apapun di dunia ini. Isra’ dan mi’raj juga tidak pernah diberikan kepada nabi dan rasul sebelumnya. Isra’ dan mi’raj hanya ditujukan kepada baginda nabi Muhammad SAW, sebagai mu’jizat terbesar dan tanda dari kerasulannya.

Isra’ adalah keberangkatan nabi SAW dari Masjidil Haram (Makkatul Mukarramah) menuju Masjidil Aqsa (Yerussalem) dalam malam yang penuh berkah di sekitarnya, yakni dari ujung Masjidil Haram (Makkatul Mukarramah) sampai Masjidil Aqsa di tanah yerussalem. Maksudnya adalah tempat-tempat yang dikunjungi dan dilalui nabi SAW adalah tempat-tempat yang penuh berkah, karena di situlah lahir para nabi-nabi sebelumnya yang membawa ayat-ayat Allah. Di tempat-tempat tersebut pula Allah menggambarkan kepada anak cucu adam tentang kebesarannya seperti musibah-musibah yang menimpa umat terdahulu atas ulah mereka yang ingkar kepada Allas SWT.

Dalam perjalanan isra’ tersebut, Allah juga menunjukkan kebesarannya, dengan me-rewind, memaparkan dan menunjukkan tempat-tempat nabi dan rasul sebelum nabi SAW. Allah juga menggambarkan keadaan dunia yang diibaratkan seperti nenek-nenek yang tua renta serta memperlihatkan kepada nabi SAW tentang keadaan umatnya kelak yang meremehkan syariat-syariat islam.

Kemudian yang juga tak kalah hebatnya adalah, Allah menunjukkan figur kekasihnya nabi SAW sebagai pemimpin dari para nabi dan rasul, yakni dengan mempertemukan nabi SAW kepada para nabi dan rasul terdahulu. Peristiwa ini terjadi ketika nabi SAW tiba di Masjidil Aqsa (Yerussalem) langsung disambut oleh para Rasul ulul a’zmi dan dilanjutkan dengan para nabi dan rasul lainnya. Puncaknya, Allah menyerukan agar nabi SAW memimpin/mengimami shalat jama’ah pada malam itu. Seluruh makmumnya adalah para nabi dan rasul terdahulu termasuk Rasul ulul a’zmi. Allahumma Sholli A’laa Sayyidina Muhammad..

Selesai isra’ nabi SAW melanjutkannya dengan mi’raj, yakni menaiki langit-langitnya Allah satu demi satu, seperti difirmankan dalam surat An-najm ayat 1-17, dengan sebuah penutupan ayat 17 yang sangat indah dan suci Laqod ro’aa min ayaatihilkubro. (Sesungguhnya dia (Muhammad) telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar). Di situlah nabi SAW kemudian naik dan naik hingga akhirnya sampai di sidratil muntaha. Di sinilah Jibril berkata, “Ya Rasulullah, hanya sampai di sini aku menemanimu, engkau akan naik sendiri kesana”. Hingga akhirnya Dalam surat An-najm di firmankan Wa huwa bil ufuqil a’la, Tsumma dana fa tadalla, Fa kaana qooba kausaini aw adna.
(sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi)).

Maha suci Allah dan betapa mulianya nabi SAW, yang memiliki kesempatan sedemikian maha besar, hingga diibaratkan pertemuan antara sang khaliq (pencipta) dengan nabi SAW laksana dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).

Ma’asyirol muslimin wal muslimat rohimakumullah, peristiwa isra’ dan mi’raj bukanlah hanya pesan sholat semata, namun di sini merupakan puncak dari penonjolan diri dan figur nabi SAW sebagai manusia terbaik sepanjang zaman, pemimpin umat dunia dan akhirat serta kekasih yang paling dikasihi dan dicintai Tuhan semesta alam Allah SAW. Ini merupakan sebuah cerminan bahwa kita sudah semestinya bangga telah menjadi sebagai umat nabi SAW dan kita harus mencintainya sebagaimana Allah begitu mencintai Nabi SAW hingga diberikan mu’jizat yang tidak pernah diberikan kepada nabi dan rasul sebelumnya. Semoga kita semua masuk dalam golongan orang-orang yang mencintai nabi SAW dan masuk dalam kelompok yang mendapatkan syafaatnya di hari kiamat kelak. Amin

Persitiwa pembedahan

Sebelum keberangkatan isra’nya, Rasulullah SAW memang mengalami peristiwa operasi yang dilakukan oleh makaikat Jibril dibantu oleh Mika’il. Peristiwa ini sesungguhnya bukanlah untuk membersihkan kotoran-kotoran. Tidak juga untuk mengeluarkan nafsu syaitan dalam hati dalam hati nabi SAW. Operasi ini dilakukan untuk memasukkan ilmu-ilmu khusus untuk nabi, seperti disitir oleh Habib Ali bin Muhammad Al-habsyi dalam kitabnya Shimtudduror dari hadits riwayat sayiidina Abbas RA.

Mengapa nabi SAW perlu dimasukkan ilmu-ilmu khusus?

Karena walau bagaimanapun nabi SAW adalah manusia dan beliau akan diberangkatkan dengan penuh kesadaran, jiwa dan raganya. Tidak dalam mimpi maupun khayal. Dalam perjalanannya, nabi SAW melaluinya dengan kecepatan yang maha tinggi, bertemu dan berbicara dengan para nabi dan rasul sebelumnya, melihat tanda-tanda dan kebesaran Allah, naik ke langit-langitnya Allah dan puncaknya sampai ke sidrotil muntaha lalu ke baitul ma’mur hingga rafrafah dan bertemu dengan Allah SAW.

Semua ini tidak mungkin dapat dilalui oleh manusia siapapun, karena kodrat manusia yang lemah. Maka dengan demikian, terjadilah operasi untuk memasukkan ilmu-ilmu khusus di dalam jiwa Rasulullah SAW.

Wallahu a’lam. if

Tidak ada komentar:

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog

Memuat...