Sabtu, 10 Oktober 2009

kunci menggapai kemuliaan

Manusia yang mulia adalah yang menyadari dengan sepenuh hati bahwa ia
hanyalah hamba, benar-benar hamba, dalam pengertian hamba yang
sebenar-benarnya, baik secara teori maupun pengejawantahannya. Segala yang
ada, segala yang ada ditangannya, segala atribut yang disandangnya, semua
adalah milik Allah. Pun dirinya sendiri, jasadnya, jiwanya, segala
pembentuk diri ini adalah milik Allah. Semua milik Allah, maka
dileburkannya dirinya ke dalam qudrah kekuasaan Allah. Ia tidak banyak
angan-angan, ia tidak banyak memikirkan secara berlebihan tentang hari
esok, tentang bayangan dirinya esok hari. Ia hanya berfikir bagaimana
memberikan yang terbaik bagi kehidupan ini, semata-mata mengharap cinta
kasih-Nya, keridlaan-Nya, dan lebih dari itu karena mencintai Allah,
terpesona kepada keindahan Allah, mabuk kepayang dengan "kecantikan"
Allah. Di atas muka bumi ini, di dunia ini, ia serahkan semua perannya
kepada Allah. Mau jadi apa silahkan, terserah Allah. Ia siap menjalankan
segala perannya. Jadi apapun ia besok, terserah Allah. Ia hanya bisa
merencanakan, mengekspresikan apa yang diinginkannya, tetapi keinginannya
telah berlebur dengan keinginan Allah, dalam irodah Allah. Kalau ternyata
keinginannya tidak sama dengan keinginan Allah, ternyata apa yang
diharapkannya esok hari tidak terjadi, malah yang terjadi adalah
sebaliknya, malah yang terjadi adalah sesuatu yang sebelumnya tidak
kehendakinya, maka kita tetap ikhlas. Kita menerima semuanya dengan senyum
yang mengembang. Tidak ada yang buruk dengan apa yang terjadi. Yang buruk
adalah ketika kita mangkel, protes, berkeluh kesah atas ketentuan-Nya.
Sedang yang baik, yang mulia, yang tinggi derajatnya, yang memuncak
maqom-nya, adalah mereka yang ikhlas, yang bersyukur dikala susah maupun
senang, senang dalam kesusahan, senang dan bahagia dengan segala kehendak
Allah. Hidupnya hanya untuk Allah. Allahlah tujuan hidup, sebaik-baik
tujuan hidup. Sedang segalanya adalah wasilah, alat, sarana, bekal, modal
untuk mencapai tujuan hakiki, mencapai Allah.


Tidak ada komentar:

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog

Memuat...