Tampilkan postingan dengan label Sejarah dan Asal Usul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah dan Asal Usul. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 November 2012

Baitul Hikmah dan Peranannya Terhadap Peradaban Islam



 
Baitul Hikmah hancur diratakan dengan tanah, dan buku-bukunya dibuang sungai oleh tentara Mongol

Oleh: Jauhar Ridloni Marzuk

KEMAJUAN
sebuah peradaban biasanya berbanding lurus dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Mesir Kuno pada abad ke-5 sebelum Masehi, mampu memimpin dunia dengan penguasaan ilmu pengetahuan yang tidak dimiliki oleh bangsa lainnya. Di masa ketika manusia masih masih primitif, Mesir telah mampu membangun irigasi secara teratur, menguasai ilmu seni pahat dengan lukisan dan patung-patung dewa yang mempesona, ilmu astronomi hingga arsitektur. Bahkan menurut sebagian sejarawan, huruf hyeroglif yang dipakai saat itu adalah sususan huruf pertama yang digunakan oleh manusia.

Faktor seperti ini juga yang menjadi sebab gemilangnya peradaban–peradaban setelahnya, seperti Yunani; Persia, Romawi hingga Islam.
Peradaban Islam mencapai puncak kejayaanya pada masa Dinasti Abbasiyah. Di masa ini, Islam menjadi kiblat peradaban dunia. Ketika Barat dan belahan dunia lainnya masih dirundung konflik dan penderitaan yang tidak kunjung berakhir, Baghdad telah menjelma menjadi kota paling metropiltan di dunia. Taman-taman indah menghiasi setiap sudut kota, lampu penerang bertebaran, bangunan-bangunan cantik dengan arsitektur mengagumkan berdiri di sekeliling kota.

Penyebabnya bukan karena luas wilayah kerajaan yang mencapai 2/3 dunia, tapi karena penguasaan ilmu pengetahuan yang tidak ada tandingannya.
Pada masa ini seniman, teknokrat, ilmuwan, pujangga, filsuf, dan saudagar berkontribusi terhadap perkembangan di bidangnya masing-masing. Ilmu agama, kesenian, industri, hukum, literatur, navigasi, filsafat, sains, sosiologi, dan teknik mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pada masa ini juga lahir sebuah institusi keilmuan modern pertama di dunia yang menjadi cikal bakal perkembangan ilmu pengetahuan ini; Baitul Hikmah.
Nama Baitul Hikmah diambil dari kata ha-ka-ma- yang artinya bijaksana. Dari kata ini juga keluar isitlah Hakim (orang yang bijaksana). Hal ini bukan tanpa alasan, menurut Prof. Dr. Nazeer Ahmed, ini dikarenakan dalam Islam, seorang ilmuan bukan hanya orang yang melihat alam dari luar, tetapi dia adalah orang bijak (man of wisdom) yang melihat alam dari dalam dan menyatukan antara ilmu pengetahuan yang dia dapat ke dalam pokok-pokok dasar segala sesuatu.
Jadi inti dari seorang ilmuan bukanlah terpaku pada pengetahuan untuk mencari ilmu pengetahuan, tetapi realisasi dari dasar-dasar pokok itu untuk menyerap ciptaan Tuhan dan keteraturan alam yang menunjukkan kebijaksanaan Tuhan.
Baitul Hikmah didirikan oleh Khalifah Harun Ar Rashid pada tahun 813 M dan terletak di jantung kota Bahgdad. Walaupun pada awalnya hanya sebuah perpustakaan, tetapi Baitul Hikmah bukanlah perpustakaan seperti yang kita kenal saat ini. Baitul Hikmah bahkan lebih menyerupai universitas. Di sini adalah tempat pertemuan para intelektual, pusat kajian dan diskusi, sanggar terjemah, laboratorium penelitian, dan tempat penerbitan buku.
Baitul Hikmah menjadi pusat pertemuan ilmu-ilmu pengetahuan dari Barat (Yunani) dan dari Timur (India, Persia dan China) yang selanjutnya dikembangkan oleh para cendekiawan Islam menjadi berbagai ilmu pengetahuan, seperti matematika, filsafat, astronomi, kedokteran, fisika bahkan juga metafisika.
Di tempat ini, buku-buku dari Barat dan Timur dikaji, didiskusikan, dikritisi, diterjemakan dan dan kemudian ditulis ulang.
Dari India misalnya, berhasil diterjemahkan buku-buku Kalilah dan Dimnah maupun berbagai cerita Fabel yang bersifat anonim. Berbagai dalil dan dasar matematika juga diperoleh dari terjemahan yang berasal dari India. Selain itu juga diterjemahkan buku-buku filsafat dari Yunani, terutama filsafat etika dan logika. Sedangkan karya-karya satra diambil dari Persia.
Kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya pada bidang ilmu eksakta saja, ilmu-ilmu Naqli seperti Tafsir, Teologi, Hadits, Fiqih, Ushul Fiqh dan lain-lain juga mengalami perkembangan signifikan. Perkembangan ini memunculkan tokoh-tokoh besar dalam sejarah ilmu pengetahuan, seperti; Al-Kindi, Al-Khwarizmi, Muhammad Jakfar bin Musa, Ahmad bin Musa, Abu Tammam, Al-Jahiz, Ibnu Malik At-Thai, Abul Faraj, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Biruni, Ibnu Misykawaih, hingga sejarawan besar Ibnu Khaldun sebagian ulama yang belajar di Baitul Hikmah. Mereka lah yang berpengaruh besar terhadap perkembagan ilmu pengetahuan selanjutnya, bukan hanya untuk Islam tapi juga Barat dan Eropa.
Setelah meninggalnya Harus Ar-Rashid, pemeliharan Baitul Hikmah kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Al-Ma’mun.
Tidak kalah dengan pendahulunya, di masa Al-Makmun, Baitul Hikmah terus mengalami kemajuan. Al-Makmun mengundang para ilmuwan di seluruh dunia Islam untuk berbagi ide, informasi, dan pengetahuan di perpustakaan ini. Ketertarikannya terhadap filsafat juga mendorongnya melakukan terjemah besar-besaran terhadap karya-karya dari Yunani.
Baitul Hikmah terus mengalami perkembangan di masa setelah Makmun, Al-Mu’tashim dan Al-Watsiq, namun mengalami kemerosotan di masa Al-Mutawakkil, dan kemudian musnah pada masa Al-Musta’shim akibat serangan tentara Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan, cucu Genghis Khan, pada tahun 1258.
Namun Baitul Hikmah hancur diratakan dengan tanah, dan buku-bukunya dibuang sungai. Konon, warna air Sungai Tigris yang melalui Bagdad, berubah menjadi merah dan hitam selama seminggu. Merah dari darah para ilmuwan dan filsuf yang terbunuh, sedangkan hitam dari tinta buku-buku berharga koleksi Baitul Hikmah yang luntur setelah dibuang ke sungai itu.*
Penulis sedang kuliah di Al Azhar, Mesir. Aktif di Pusat Kajian Pemikiran dan Peradaban Islam, Nun Centre

Red: Cholis Akbar

Menengok Kejayaan Islam di Andalusia: Mungkinkah Kembali?



 
Perkembangan khasanah ilmu di Cordova


Oleh: Nuim Hidayat
KEJAYAN Andalusia tidak bisa dilepaskan dari peranan besar Khalifah Bani Umayah yang pertama di sana. Abdul Rahman I (756-788M) adalah seorang pemimpin yang terpelajar, berwibawa dan amat meminati bidang kesusasteraan. Karena begitu cintanya pada bidang ini, ia mendirikan satu tempat khusus di dalam istananya yang diberi gelar "Darul Madaniyat" untuk kegiatan kesusasteraan kalangan wanita Andalus.
Pada zaman Abdul Rahman I, golongan cerdik pandai dan alim-ulama begitu dihormati dan dipandang tinggi oleh pemerintah, para pembesar dan masyarakat Andalus. Pemerintah telah memberi penghormatan yang tinggi kepada ulama dari Timur seperti al-Ghazi Ibn Qais dan Abu Musa al Hawari untuk menyampaikan ilmu agama di sana.
Dr Salmah Omar dalam disertasinya tentang "Andalus Semarak Tamadun di Eropah" menyatakan: “Pengganti Abdul Rahman I (788-796M) juga seorang pemerintah yang menitikberatkan kegiatan keilmuan. Pada zaman pemerintahannya, beliau telah membina beberapa buah sekolah untuk mempelajari bahasa Arab yang juga bahasa rasmi Andalus pada waktu itu. Jasa beliau yang paling besar dalam perkembangan keilmuan ialah perluasan penggunaan bahasa Arab dalam kehidupan seharian termasuklah urusan keagamaan di gereja, sekaligus melemahkan penggunaan bahasa Latin di seluruh semenanjung Iberia. Beliau juga Berjaya menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa lingua franca dalam hubungan antarbangsa pada zamannya dan zaman berikutnya." (Joesoef Sou’yb, 1972:47)”

Pada zaman pemerintahan Abdul Rahman II (822-852M), kemajuan dan perubahan banyak dilakukan pula. Ia membangun banyak gedung sekolah dan institusi-institusi keilmuan bagi orang yang tidak mampu. Institusi ini dibangun di kota-kota penting dan ditanggung sepenuhnya biayanya oleh pemerintah. Ia kemudian membina Cordova sebagai tempat keilmuan dan prasananya. Iamembangun tempat untuk cendekiawan berdiskusi, masjid, jembatan dan taman yang indah serta perpustakaan yang bagus di kota tersebut.
Hal itu terus dikembangkan pemerintah berikutnya. Dr Salmah, mengutip FO Callaghan menceritakan: “Semasa abad pemerintahan khalifah, Cordova menjadi saingan sebenar kepada Baghad sebagai pusat kebudayaan dunia Islam. Khalifah Abdul Rahman III dan al Hakam II adalah dua ilmuan yang menyambut mesra sarjana dari Eropa, Afrika dan Asia.”
Usaha-usaha penerjemahan buku juga aktif dilakukan pemerintah. “Abdul Rahman III telah meneruskan usaha-usaha menaungi kegiatan penerjemahan yang telah dimulakan oleh Abdul Rahman II. Ramai sarjana yang berbakat di Andalus dan Timur berkumpul di istana beliau dan mereka diberi ganjaran yang lumayan. Sebagai contoh. Beliau bermurah hati member kurniaan kepada para sarjana Yunani dan Yahudi seperti Nicolas dan Hasdai. Pada zaman pemerintahan beliau, banyak hasil karya Yunani telah diterjemah ke dalam bahasa Arab dan ada juga beberapa buah karya asal dalam bahasa Arab meliputi pelbagai bidang ilmu pengetahuan.” (Salmah Omar, 2009:16).
Pada masa pemerintahannya ini, penduduk Cordova telah meningkat menjadi lebih 500 ribu orang dan dengan terbangunnya universitas-universitas, penerbitan buku-buku, industri kertas dan berbagai kegiatan intelektual, maka ia menjadi  kota yang maju berbanding kota lain di Asia dan Eropa.
Dr Salmah, dosen di UPM Serawak Malaysia ini melanjutkan: “Pada zamannya Universiti Cordova telah diperbesar dan dipertingkatkan peranannya sehingga muncul sebagai universiti yang terbaik dan terbesar di dunia. Universiti Cordova ini telah berupaya menandingi Universiti Al Azhar di Kaherah (Kairo) dan Nizamiyah di Baghdad. Ia telah Berjaya menarik ramai pelajar sama ada Kristian, Yahudi dan Islam, bukan sahaja dari Andalus tetapi juga dari Negara-negara di Eropa, Afrika dan Asia.”

Begitu juga khalifah al Hakam II sangat cintakan ilmu pengetahuan dan buku-buku. Di perpustakaan miliknya terdapat lebh dari 400ribu buah buku dan 44 katalog yang kebanyakan sudah dibacanya.  Ia juga senang memberi catatan terhadap buku-buku itu.

Pemerintah al Muwahiddun yang meneruskan kekuasaan setelah Bani Umayah jatuh pada 1031M, juga melanjutkan aktivitas keilmuan di sana. Mereka turut serta dalam memperkenalkan pemikiran Asyariyah dan Imam Ghazali. Pemerintah saat itu berusaha gigih mengumpulkan para cendekiawan dari seluruh dunia untuk mengisi tenaga-tenaga pengajar pada universitas-universitas yang mereka dirikan.

Khasanah Ilmu
Universitas Cordova yang letaknya di Masjid Cordova adalah tempat yang paling baik untuk belajar pada saat itu. Saat itu telah ada jurusan astronomi, matematika, kedokteran, teologi dan undang-undang/hukum. Amir Hasan Siddiqi sebagaimana dikutip Salmah menyatakan: “Pada abad ke-10 M Apabila Cordova (ibu Negara kerajaan Umaiyah Spanyol) mula menyaingi Baghdad, pasang surut aliran budaya  dan pembelajaran yang bertimbal balik. Semasa abad yang berikutnya, bertambah ramai lagi pelajar dari wilayah Islam Timur dan Kristian Eropah berduyun-duyun datang ke Universiti Cordova, Toledo, Granada dan Seville untuk menimba ilmu dari perigi ilmu pengetahuan yang mengalir ke sana dengan banyak sekali.”

Granada muncul sebagai pusat pemerintahan Islam dan perkembangan keilmuan yang terpenting di sebelah barat Andalusia. Universitas Granada dibangun oleh Sultan Yusuf I pada tahun 1349M. Universitas itu terkenal dengan panggilan Darul Ilm atau al Madrasah an Nasriyyah.  Ia mempunyai beberapa jurusan seperti undang-undang/hukum, kedokteran, kimia, falsafah dan astronomi.

Buku adalah satu hal yang terpenting dalam menunjang keberadaan universitas, Saat itu, menurut Dr Salmah, Andalus menjadi pusat penerbitan buku yang terbesar di Eropa. Dari Andalus, perusahaan membuat kertas tersebar ke Italia dan Prancis serta kemudian ke seluruh Eropa. Sebelum terjadi Perang Salib, buku dan kertas menjadi warisan Islam Andalus kepada Eropa Barat.

Philip K Hitti seperti dikutip Salmah menggambarkan kejayaan Andalusia ini : “Sambil sains Arab merosot di bumi Islam Timur, ia berkembang maju di Baratnya. Bandar raya Cordova mengambil alih tempat Baghdad sebagai pusat pembelajaran, sementara Toledo dan Seville pula berkongsi dalam keintelektualan. Sarjana Arab Sepanyol membangun di atas asas yang disediakan oleh rekan seagama mereka di Iraq, Syria, Mesir dan Parsi. Zaman keemasan mereka meliputi secara kasarnya dari abad ke-11 hingga 12.”

Mengutip Anwar G Chejne, Salmah menggambarkan keindahan Cordova: “Pada abad ke-10 M, Cordova mengatasi keindahan Constantinople, dengan hospital, university, masjid dan istana yang sungguh cantik, perpustakaan awam, kolam mandi awam dan taman dengan persiaran yang sangat indah. Semua kemudahan itu ada di Bandar raya utama Negara Sepanyol Islam, dan ia membantu mewujudkan persekitaran intelektual yang melahirkan bijak pandai agung Andalusia.”
Perpustakaan umum dibangun di setiap wilayah Andalusia. Di kota Cordova saja terdapat sebanyak 70 buah perpustakaan umum yang bisa digunakan oleh seluruh masyarakat di situ.
Tokoh ulama yang terkenal di Andalusia, saat itu antara lain: Ibnu Rush, Ibnu Hazm, Ibnu Abdil Barr dan Qadi Iyad.  Ibnu Rush (1126-1198M) seorang dokter dan ahli hukum yang terkenal di masanya. Ia telah mengumpulkan ensiklopedia perobatan dan beberapa komentarnya tentang Aristotle, ringkasan dan resumenya menjadi buku teks selama beratus-ratus tahun. Karyanya yang terkenal Bidayatul Mujtahid; dan Tahafut al Tahafut yang menjawab Tahafut al Falasifah karya Imam Ghazali.
Ibnu Hazm (994-1064M) terkenal dengan karyanya al Muhalla, al Fasl fil Milal wan Nihal, Risalah fi Ushululil Fiqh dan al Ahkam fi Ushulil Ahkam. Ibnu Abdil Barr (978-1070M) dengan karya agungnya al Isti’ab lis Shahabah dan al Humaydi. Sedangkan Qadhi Iyad yang terkenal pada abad ke-12, adalah seorang ulama pakar dalam bidang hadits, fiqh dan sejarah. Ia telah menghasilkan kitab sedikitnya 20 buku tentang hal tersebut. Ia merupakan tokoh dalam mazhab Maliki dan pernah bertugas sebagai penasihat kerajaan al Murabitun.
Kapankah tradisi dan khasanah ilmu itu kembali lagi?*
Penulis buku "Imperialisme Baru"(GIP)
Rep: Administrator
Red: Cholis Akbar

Umar bin Abdul Aziz: Umara yang Ulama



 
Foto Ilustrasi

Oleh: Nuim Hidayat
SUATU ketika sahabat Abdullah bin Zubair berkata, “Suatu malam aku sedang menemani Umar bin Khattab berpatroli di Madinah. Ketika ia merasa lelah, ia bersandar ke sebuah dinding di malam gelap buta, Ia mendengar suara seorang wanita berkata kepada putrinya, ‘Wahai putriku, campurlah susu itu dengan air.’ Maka putrinya menjawab, ‘Wahai ibunda, apakah engkau tidak mendengar maklumat Amirul Mukminin?’ Ibunya bertanya, ‘Wahai putriku, apa maklumatnya?’ Putrinya menjawab, ‘Dia memerintahkan petugas untuk mengumumkan, hendaknya susu tidak dicampur dengan air.’ Ibunya berkata, ‘Putriku, lakukan saja, campur susu itu dengan air, kita di tempat yang tidak dilihat oleh Umar dan petugas Umar.’ Maka gadis itu menjawab, ‘Ibu, Amriul Mukminin memang tidak melihat kita. Tapi Rabb Amirul Mukminin melihatnya.“
Umar mendengar perbincangan ibu dan anak itu. Maka ia menugaskan pengawalnya untuk menandai rumah itu dan mencari informasi lebih lanjut tentang anak gadis itu. Setelah itu, Umar kemudian memanggil putra-putranya dan mengumpulkan mereka, Umar berkata, ‘Adakah di antara kalian yang ingin menikah?’ Ashim menjawab, ‘Ayah, aku belum beristri, nikahkanlah aku.’ Maka Umar meminang gadis itu dan menikahkannya dengan Ashim. Dari pernikahan inilah lahir seorang putri yang di kemudian hari menjadi ibu bagi Umar bin Abdul Aziz. Sedangkan ayahnya adalah Abdul Aziz bin Marwan, salah seorang gubernur yang shaleh dari Bani Umayah.
Umar bin Abdul Aziz terkenal dengan kezuhudannya, kealimannya dan kepeduliannya yang tinggi terhadap urusan rakyat. Suatu ketika seorang penduduk mengadukan kepada Umar tentang nasibnya. Ia melaporkan bahwa ada pejabatnya yang telah merampas toko-tokonya. Pejabat itu lantas dipanggil Umar dan kemudian ia memerintahkan pejabat itu untuk mengembalikan toko itu kepada penduduk yang memilikinya. Tapi pejabat itu bandel, ia tidak menaati perintah Umar.
Khalifah Umar kemudian memanggil polisinya dan mengatakan, ”Jika dia mengembalikan toko itu kepada pemiliknya, maka tinggalkanlah dia. Tetapi bila orang itu (pejabat) masih membangkang juga, maka pancunglah kepalanya.” Karena ancaman yang keras itu, akhirnya pejabat itu mengembalikan toko itu kepada pemiliknya.
Kiai Firdaus AN dalam bukunya "Kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz" menceritakan, di masa Umar bin Abdul Aziz, terjadi fitnah adanya ‘saling mencaci’ antara pengikut Sayidina Ali dan Bani Umayah. Pencacian itu kadang-kadang dilakukan di mimbar-mimbar. Umar bersedih, karena ia mengetahui kehebatan dan kealiman Sayidina Ali. Maka kemudian ia memerintahkan kepada rakyatnya untuk menghentikan pengutukan terhadap Sayidina Ali dan menyuruh para khatib untuk menggantinya dengan membaca surah an Nahl ayat 90 dan atau surah al Hasyr ayat 10.
“Sesungguhnya Allah menyuruh berbuat adil dan berbuat kebajikan (ihsan), member kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia member pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS: an Nahl 90)
“Ya Tuhan kami beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan Kami sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS: al Hasyr 10)
Untuk menjaga keadilan dan kelancaran administrasi Negara, maka Umar bin Abdul Aziz melarang para gubernur dan pejabat-pejabat berdagang untuk kepentingan pribadi, keluarga maupun familinya.
Umar menulis surat berikut: “Kami berpendapat, bahwa seorang Imam (pemimpin Negara) tidak pantas untuk berdagang. Begitu pula tidak halal bagi seorang gubernur untuk berdagang di dalam wilayah kekuasannya. Karena seorang Amir bila ia berdagang ia akan mudah melakukan monopoli dan membenarkan perbuatan yang merusak Negara, sekalipun ia berusaha keras untuk tidak berbuat demikian.”
Untuk itu, agar para pejabatnya tidak berbisnis dan tidak menyelewengkan uang negara, maka Umar memberikan gaji yang cukup tinggi kepada para pejabatnya. Karena begitu makmurnya Negara saat itu, hingga gaji para pejabat itu sampai ada yang berjumlah tiga ratus Dinar.
Memang kemakmuran dan keadilan mewarnai Negara pada saat itu. Yahya Ibnu Said berkata, ”Umar bin Abdul Aziz telah mengutus aku ke Afrika Utara untuk membagi-bagikan zakat penduduk di sana. Maka aku laksanakanlah perintah itu. Lalu aku cari orang-orang fakir untuk kuberikan zakat itu pada mereka. Tetapi kami tidak mendapatkan seorangpun juga dan kami tidak menemukan orang-orang yang menerimanya. Umar betul-betul telah menjadikan rakyatnya kaya. Akhirnya kubeli dengan zakat itu beberapa orang hamba sahaya yang kemudian kumerdekakan.”
Meski rakyatnya kaya, Umar hidup sederhana. Kezuhudannya terkenal di seluruh penjuru wilayahnya. Ia memberi anak-anaknya pakaian dan makanan yang sederhana. Sering anak-anak perempuannya disuguhi dengan makanan kacang dan bawang merah, sambil dia menangis dan berkata, ”Apa gunanya wahai anak-anakku. Kalian hidup dengan mengecap bermacam-macam makanan yang lezat, tetapi yang mempersiapkan itu karenanya pergi masuk neraka.”
Umar memang umara yang sekaligus ulama. Pendalamannya yang mendalam terhadap agama, menjadikannya pemimpin yang adil, bijaksana dan menjadikan Islam bersinar terang karena pemimpin dan masyarakat menerapkannya bersama. Ia bukan pemimpin yang zalim yang menyebabkan agama menjadi rusak. Dalam Mukhtarul Haditsun Nabawiyyah, Sayyid Ahmad Hasyimi mengutip hadits Rasulullah saw: “Pernyakit agama ada tiga: orang yang faqih tapi fajir (suka berbuat dosa besar), imam yang jair (suka berbuat zalim) dan mujtahid yang jahil (bodoh).” (HR Ad Dailami dari Ibnu Abbas).
Karena itu, kakeknya Umar bin Khattab pernah memberi nasehat kepada rakyatnya. ”Perdalamlah ilmu agama, sebelum kamu menjadi pemimpin.” (tafaqqahu qabla an tusawwadu).
Dan Umar bin Abdul Aziz pernah memberi kepada gubernur-gubernurnya: “Adapun kemudian daripada itu, Allah Azza Wajalla telah memuliakan pemeluk-pemeluknya dengan agama Islam, menjunjung tinggi mereka serta menghormatinya. Sebaliknya mengecilkan dan merendahkan martabat orang-orang yang menentang mereka itu. Dan Allah telah menjadikan mereka sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk kepentingan umat manusia. Dari itu janganlah sekali-kali kalian menyerahkan kepemimpinan mereka kepada orang-orang dzimmi. Karena nanti mereka membelenggu tangan dan mengunci lisan orang Islam, yang dengan begitu kalian berarti merendahkan mereka setelah Allah memuliakan mereka dan menghinakan mereka setelah Allah meninggikan martabat mereka…”
Khalifah yang mulia ini lahir pada 63H (682M) dan hanya memerintah selama dua setengah tahun saja (717-720M). Ia meninggal pada usia 38 tahun, karena diracun oleh sekawanan orang yang dendam dengannya. Pembunuhnya berhasil ditangkap dan mengaku mendapat bayaran seribu Dinar. Uang itu akhirnya dimintanya dan dimasukkan ke Baitul Mal.*
Nuim Hidayat adalah penulis Buku ‘Imperialisme Baru

Red: Cholis Akbar

“Si Pengganggu” dari Timur dan Penggagas Pan-Islamisme



SEORANG manusia langka yang mampu menggelegarkan dunia Timur agar bangun dari tidurnya yang panjang, dialah Djamalauddin al-Afghani. Seorang yang gigih mengembara ke berbagai belahan dunia, hanya untuk mengobarkan bibit persatuan Islam, yang bagi sebagian orang hal ini menjadi sebuah ancaman. Tak jarang, semasa hidupnya, ia diperlakukan bak hama dan penyakit, baik oleh penjajah kolonial ataupun penguasa muslim sendiri. Ia dianggap pengganggu dan pembuat onar.
Djamaluddin tumbuh di masa keputusasaan yang amat menyedihkan. Saat itu dinasti Islam secara keseluruhan tampak seperti orang yang berpenyakit akut. Kemunduran, stagnansi, dan penjajahan beserta belenggu yang ada di dalamnya telah membelit setiap orang. Penjajah kolonial, dengan bermodalkan senjata dan keilmuan modern telah bertindak sewenang-wenang dalam menebarkan kejahatan, maksiat dan eksploitasi. Bukan hanya sumber daya alam yang diperas, akan tetapi ajaran Islam itu sendiri yang jadi sasaran.
Islam dipojokkan sebagai ajaran yang konservatif, beku dan sempit. Ajaran ini dituding sebagai akar kemunduran dan degradasi. Mereka kemudian menawarkan sebuah terobosan dengan nama westernisasi berikut gaya hidup yang tercipta di era Renaisscance, serta memperkenalkan teknologi-teknologi yang telah dijangkau oleh ilmuwan-ilmuwan di Barat.
Kebodohan yang menggurita menjadikan kaum muslimin semakin putus asa. Akibatnya, kaum muslimin kian ragu hatinya terhadap ajaran Islam itu sendiri. Di masa yang penuh keputusasaan inilah seorang Djamaluddin lahir. Namun ia tidak mau bersikap membebek menurut kepada kebanyakan kaum muslimin saat itu. Ia pelajari pelan-pelan seluk beluk zamannya. Ia lalu berpendapat bahwa Islam bebas dari tuduhan-tuduhan yang disematkan oleh Barat.
“Sangat memalukan saat mereka (kaum Muslimin.red) menyatakan diri sebagai pemeluk ajaran Islam namun mengkhianati semua perintah dan larangan-Nya,” ujarnya.
Djamaluddin al-Afghani hadir di tengah rimba kegelapan, ia meneguhkan tekad untuk berjuang keras menghidupkan negeri yang mati dan menyuburkan tanah yang kering kerontang. Ia adalah manusia langka. Segenap penjuru alam, berbagai belahan dunia yang mengenal dirinya, akan merasakan pancaran jiwa seorang Djamaluddin. Timur dan Barat, tanpa lelah ia jelajahi satu per satu.
Persatuan Haji
Haji merupakan fenomena yang membuktikan kebenaran dari Al-Qur’an itu sendiri. Allah menegaskan bahwa bangunan sederhana yang ada di Makkah akan mampu menarik jutaan hati manusia untuk berduyun-duyun mendatanginya. Sebagaimana dalam firman-Nya:
"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh." (QS. 22:27)
Segenap kaum muslimin pun tergerak dan berdatangan ke tanah Makkah itu. Tak terkecuali sosok Djamaluddin al-Afghani. Momentum haji inilah yang menjadi sarana bertemunya segala jenis manusia tanpa melihat perbedaan yang melekat pada dirinya. Semua bersatu pada kesatuan harmoni ritual ibadah, dalam balutan pakaian yang sama, mengitari Ka’bah yang satu. Semua dilakukan dengan ikhlas dan suci hati, lillahi ta’ala.
Ibadah Haji dengan segala keutamaan di dalamnya akhirnya dipilih oleh Djamaluddin untuk membangkitkan spirit perjuangan mengembalikan kejayaan Islam ke segenap penjuru. Ia mulai membangun komunitas persatuan haji. Ide-idenya tentang pembaharuan Islam mulai tersebar saat itu. Agaknya ia tahu bahwa ketika kaum muslimin ini betul-betul menjalankan ibadah haji dengan keimanan yang mendalam, mereka akan lebih mudah tersadarkan dan tersentuh hatinya. Di sinilah Djamaluddin menggambarkan keadaan dan kondisi umat Islam yang tampak begitu menyedihkan, terbelakang dan terpuruk.
Semangat dari haji ini kemudian mendorong pemikiran Djamaluddin ke arah yang lebih jauh, yakni politik dan kekuasaan Islam. Menurutnya Islam dan politik memiliki keterkaitan erat sebagai bagian dari kewajiban seorang Muslim dalam menjalankan syari’atnya secara kaffah. Penjajahan di dunia Islam begitu menyita perhatiannya. Ia menilai institusi kekhilafahan (Turki-Utsmani) telah jauh mengalami kemunduran secara perlahan namun pasti.
Ia berpendapat bahwa yang menjadi persoalan saat ini adalah konsep pemerintahan absolut yang diusung kekhilafahan. Konsep monarki absolut betul-betul rapuh kenyataannya. Ia mudah terbelenggu politik, terprovokasi lalu terpecah belah. Djamaluddin menawarkan sesuatu yang cukup revolusioner bagi sultan Utsmani saat itu, konsep Jumhuriyah, atau secara istilah dekat dengan istilah “Republik”. Tentu saja Republik yang dimaksud berbeda dengan yang dibawa oleh filsuf bernama Plato.
Di dalam “Republik” versi Djamaluddin, seseorang dapat menyalurkan pendapatnya dengan jaminan kesamaan statusnya di hadapan hukum dan pemerintahan. Apa yang hendak diagendakan seorang Djamaluddin adalah prinsip syura dan ijma’. Dua padanan kata yang nantinya ia sempurnakan ketika merambah ke berbagai belahan dunia.
India
India sebenarnya bukanlah tempat yang asing bagi Djamaluddin. Ia pernah belajar di sini sewaktu kanak-kanak. Dan ketika ia kembali untuk menyusun rencana strategi anti-Barat, ia lucuti satu per satu “pakaian” para penjajah yang menyembunyikan kehinaan. Langkah-langkah politiknya membuat orang-orang Inggris di India gerah. Mereka ingin segera mengusir singa itu, si pembuat onar, Djamaluddin.
Suatu saat Djamaluddin berbicara kepada seorang wakil negara Inggris, “Sungguh, tindakan intimidasi pemerintah Inggris terhadap turis yang terusir seperti aku ini menggambarkan rendahnya cita-cita mereka, lemahnya kekuatan mereka, minimnya rasa keadilan mereka, dan tidak amannya posisi mereka. Meskipun kenyataannya mereka berkuasa atas negeri ini, namun mereka justru lebih lemah daripada negeri-negeri yang mereka kuasai.”
Djamaluddin kemudian mengeraskan suaranya dengan lebih lantang, “Wahai penduduk India! Demi kebenaran yang mulia dan keadilan yang luhur, seandainya kalian semua dianggap oleh mereka sebagai ratusan juta lalat, niscaya dengungan kalian dapat memekakkan telinga orang-orang Inggris Raya. Seandainya kalian berjumlah ratusan juta. Lalu Allah salin rupa kalian semua dan masing-masingnya Allah jadikan kura-kura, kemudian kalian berenang di lautan dan kalian rambah semua kepulauan Inggris, niscaya kalian mampu menarik kepulauan itu ke dasar lautan dan kalian pulang ke negeri kalian dalam keadaan merdeka!”
Ia lalu meninggalkan bara api yang berkobar yang akhirnya menjadi terusir dari India.
Afghanistan dan Asia Kecil
Di sini mulanya Djamaluddin diupah untuk mengajar putra sulung Raja Afghanistan. Kesempatan ini ia manfaatkan untuk merumuskan konsep revolusioner tentang reformasi dan modernisasi Islam sebagai cara untuk menghimpun kekuatan kaum Muslimin.
Namun sayangnya, sepupu anak Raja dengan dukungan Inggris menggulingkan pemerintahan di Afghanistan. Lagi-lagi, Djamaluddin harus angkat kaki. Ia adalah sosok pengganggu bagi Inggris.
Suatu saat, Djamaluddin mulai menyampaikan pidato di Universitas Konstantinopel. Ia menyatakan bahwa Umat Islam perlu belajar tentang semua ilmu pengetahuan modern, tetapi pada saat yang sama, mendidik anak-anak mereka secara lebih tegas dalam nilai-nilai, tradisi dan sejarah Islam. Modernisasi dalam pandangan Djamaluddin tidak harus berarti westernisasi. Kaum muslimin bisa mencari bahan modernisasi yang khas dalam Islam itu sendiri, tidak harus berbau barat. Pesan ini diterima baik oleh hampir seluruh kalangan. Ia kini memiliki reputasi dan jabatan yang cukup berkelas di Turki Utsmani.
Namun, usahanya di sini tidak mendapatkan tanggapan positif dari ulama-ulama ortodoks di sana. Tindakan Djamaluddin dianggap merendahkan martabat mereka. Dan lagi-lagi, Djamaluddin harus angkat kaki.
Menuju Mesir
Di sini Djamaluddin mengajar di kelas-kelas, memberikan kuliah di Universitas al-Azhar. Tetap, ia bersikukuh dengan visinya tentang modernisasi Islam. Ia pun tak segan mengkritik rezim di sana, ia mengatakan bahwa, penguasa negara itu haruslah hidup dalam kesederhanaan, hidup di tengah-tengah rakyat, sebagaimana yang dilakukan khulafaurrasyidin. Di sini pula ia menyempurnakan konsep Jumhuriyah dengan dua padanan Syura dan Ijma.
Syura yang Djamaluddin maksud artinya adalah semacam mekanisme yang melaluinya pemimpin muslim meminta saran dan persetujuan dari masyarakat. Sementara Ijma berarti “konsensus”. Konsep ini bersumber dari perkataan Nabi: “Umatku tidak akan pernah bersepakat pada suatu kesalahan.” Para ulama menggunakan ucapan ini sebagai pembenaran untuk menyatakan bahwa ketika mereka sepakat tentang sesuatu yang fundamental, hal itu tidak perlu dipertanyakan lagi.
Dari syura dan Ijma ini, Djamaluddin mengemukakan bahwa para penguasa tidak akan memiliki legitimasi tanpa dukungan rakyat mereka. Dan hal ini tentu saja membuat penguasa setempat gerah. Ia dicekal secara perlahan dan pada tahun 1879 ia benar-benar terusir. Lagi, ia harus pergi, dan kali ini tujuannya eropa.
Paris
Di kota inilah mulai disematkan istilah Pan-Islamisme oleh Barat ke dalam diri Djamaluddin al-Afghani. Di sini ia banyak menulis berbagai artikel yang terpublikasi dalam bahasa Inggris, Persia, Arab, Urdu dan Perancis. Salah satu jurnal yang cukup menjadi fenomenal adalah al-Urwah al-Wutsqa, yang dikelola oleh murid Djamaluddin yakni Muhammad Abduh.
Di dalam jurnal itu, Djamaluddin menyatakan bahwa semua yang tampak sebagai beragam perjuangan lokal antara muslim dan negara-negara Eropa atas berbagai persoalan yang khusus: antara Iran dan Rusia mengenai Azerbaijan, antara Yunani dan Utsmani, antara Inggris dan Mesir mengenai pinjaman Bank, dll., sebenarnya bukanlah peperangan yang berbeda-beda mengenai masalah yang berbeda melainkan gambaran satu perjuangan besar antara dua entitas: Islam dan Barat.
Setelah jurnalnya ditutup, ia sempat mampir di Amerika, kemudian London, saat ia berdebat dengan ayah dari Winston Churchil tentang kebijakan Inggris di Mesir. Uzbekistan, tempat ia mulai menerjemahkan al-Qur‟an atas izin Tsar yang kemudian malah membangkitkan semangat Islam, kemudian Iran, tempat dia mereformasi peradilan dan menyerukan pemboikotan tembakau yang jelas ini membawanya kembali berurusan dengan ulama dan penguasa setempat, dan terakhir adalah Utsmani.
Istanbul
Sultan Hamid berpandangan bahwa ide Djamaluddin tentu akan memberinya semacam dividen politik. Ia kembali mengajar, menulis, berpidato. Ia mengatakan kepada orang-orang yang berdatangan kepadanya dalam rangka mencari ilmu: bahwa “ijtihad” adalah prinsip utama Islam; akan tetapi berijtihad harus berangkat dari prinsip-prinsip yang mengakar pada al-Qur‟an dan hadits. Setiap muslim memiliki hak atas interpretasinya sendiri terhadap kitab suci dan wahyu, TAPI Umat Islam sebagai sebuah komunitas harus melatih diri mereka sendiri untuk memahami prinsip-prinsip pertama yang tertanam dalam wahyu itu.
Kesalahan besar Umat Islam, kata Djamaluddin, adalah karena mereka berpaling dari ilmu pengetahuan Barat sembari merangkul pendidikan dan adat istiadatnya. Yang seharusnya mereka lakukan adalah mereka harus merangkul sains Barat tetapi menutup gerbang mereka bagi adat istiadat sosial dan sistem pendidikan Barat.
Sultan Hamid tahu apa yang merisaukan Djamaluddin. Ia sediakan banyak fasilitas bagi seorang singa yang sedang kelaparan itu. Dengan tegas Djamaluddin mengatakan bahwa pemerintahan haruslah diubah dan konsep syura harus dijadikan dasar.
Sultan pun naik pitam. Ia menyampaikan sebuah pesan, “Penghormatan sultan kepadamu belum pernah ada tandingannya. Namun hari ini kami melihatmu menceramahinya dengan logat bahasa yang asing, sementara kamu sendiri memain-mainkan tasbih di depannya.”
Dengan tutur kata tajam, Djamaluddin menjawab, “Subhanallah!! Sungguh, sultan bisa memainkan peran menundukkan jutaan rakyat untuk mengikuti kehendaknya tanpa ada satu orang pun di antara mereka yang berani menyanggah perintahnya. Lalu apakah Djamaluddin tidak berhak untuk memainkan tasbihnya kapanpun dia mau?”
Dialog itu pun berakhir dengan kematian Djamaluddin. Penyakit kanker mulut mendera dirinya. Ia pun pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Auman singa yang senantiasa kelaparan itu tak terdengar lagi, namun ide dan spirit pan-Islamis tetap terasa membara hingga hari ini.
Bahkan hingga melahirkan generasi-generasi berikutnya, seperti Hasan al-Bana yang mendirikan Al Ikhwan al Muslimun di Mesir.*/Iman Adipurnama,  sedang melanjutkan studi S2 di Taipei. Penulis adalah peminat topik keislaman

Red: Cholis Akbar

Minggu, 23 September 2012

"Mengenal perjalanan hidup para sholihin"

"Mengenal perjalanan hidup para sholihin"
Kalam Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Abubakar Bin Sumaith

Sesungguhnya dari yang paling bermanfaatnya ilmu dan yang paling membekasnya ilmu di hati adalah mengenal perjalanan hidup dari para auliya, kaum sholihin dan para ulama yang mengamalkan ilmunya, agar supaya seseorang itu dapat mensuri-tauladani mereka bagaimana mereka dapat membagi waktu-waktunya dengan berbagai macam ibadah, dan bagaimana dapat berakhlak dengan akhlak-akhlak mereka yang mulia sesuai dengan sunnah karena mereka itu adalah penyeru kepada Allah dengan perkataan dan perbuatan mereka. Selain itu pula supaya dengan itu semua dapat menumbuhkan sikap berbaik sangka kepada mereka dan rasa cinta yang dapat mengantarkan kepada keutamaan yang agung.

Di dalam hadits Rasulullah saw yang berbunyi, “Seseorang itu bersama dengan orang yang ia cintai,” dan di dalam sikap untuk mencontoh apa yang ada pada mereka dari ilmu, amal dan keadaan, terdapat targhib (rasa senang menggebu-gebu) dan tasywiq (rasa cinta) untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan. Sesungguhnya seorang mukmin itu sangat berminat untuk mendapatkan kesempurnaan. Ketika ini sudah menguat, maka seseorang itu akan menyibukkan diri dengan membaca perjalanan hidup orang-orang yang terdahulu, dan menaruh perhatian kepada orang-orang yang menjaga agama dan para ulama yang ‘arif, serta mengetahui keutamaan-keutamaan mereka. Bahkan, mengingat mereka itu termasuk suatu usaha untuk memenuhi hak-hak mereka, dan hal itu termasuk perbuatan berbakti (kepada mereka) sesuai dengan apa yang diniatkan. Sebagaimana dikatakan (di dalam hadits, pent.),

“Setiap orang itu sesuai dengan apa yang diniatkan.”

Dan sungguh Allah itu mewajibkan atas hamba-hambaNya yang mukmin untuk meminta di dalam shalat yang merupakan tiang agama agar dapat menunjukkan mereka kepada jalan orang-orang yang diberikan kenikmatan kepada mereka dari para Nabi, shiddiqin, syuhada’ dan sholihin. Maka dari hal itu, sesungguhnya meminta petunjuk itu kepada jalan para ulama dan auliya yang mana mereka menyeru kepada Allah dengan perkataan dan perbuatan mereka, adalah termasuk tanda kebahagiaan dunia dan ahirat. Ini dikarenakan mereka itu adalah para kepercayaan Allah di muka bumi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala kepada NabiNya saw,

“Dan semua kisah dari para rasul Kami kisahkan kepadamu apa-apa yang dengannya Kami dapat meneguhkan hatimu, dan telah datang kepadamu dalam hal ini kebenaran, nasehat dan peringatan kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Hud: 120)

Ini merupakan suatu isyarat untuk mengetahui kabar-kabar dari orang-orang yang terdahulu, terutama dari segolongan manusia dari umat ini yang diberikan kekhususan kepada mereka dengan hikmah dan mutiara kalam. Dengan demikian seseorang itu dapat mengambil nasehat-nasehat mereka, hal-hal yang dapat menambah keyakinan dan ketenangan hati, ketetapan jiwa untuk sabar menjalankan ketaatan dan perbuatan baik, berpegang teguh pada ahli agama, penerangan pandangan dan melihat apa yang tampak pada mereka dari makna dan rahasia kalam Allah Ta’ala dan NabiNya al-mukhtar. Berkata pemuka sufi Al-Junaid rhm,

“Cerita-cerita (tentang para sholihin) itu adalah pasukan dari pasukan-pasukan Allah Ta’ala yang dengannya hati para muriidin (orang-orang ingin mengambil manfaat) itu dapat menjadi teguh.”

Epistemologi Asy-Syahadatain


Kesaksian yang dalam bahasa arab adalah asy-Syahâdah secara etimologi berasal dari kata syahida-yasyhadu-syahadah yang berarti bersaksi. Menurut Muḥammad bin Muḥammad bin Abd ar-Razzâq al-Ḥusainî dalam Tâj al-‘Arûs min Jawâhir al-Qamûs juz 8 halaman  252: “Arti syahadat adalah informasi yang pasti baik secara lisan maupun prinsip.” Artinya, informasi tersebut dinyatakan pasti dan otentik secara lisan yang biasanya menggunakan media dari mulut ke mulut, maupun secara prinsip yang biasanya terekam oleh catatan yang otentik.
Dalam al-Quran kalimat yang berhubungan syahadat seringkali diulang-ulang. Setidaknya ada beberapa pengertian dengan konteks yang berbeda-beda. Sebagaimana contoh QS. al-Baqarah ayat 185 disebutkan bahwa konteks syahadat pada ayat tersebut adalah kesaksian tentang munculnya hilal sebagai pertanda masuknya bulan puasa. Konteks yang berbeda adalah QS. Ali ‘Imran ayat 18 yang berbunyi:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Imam az-Zamakhsyari dalam kitabnya al-Kasysyaf juz 1 halaman 260 mengartikan syahida dalam ayat tersebut sebagai penyaksian yang bertujuan untuk memberikan informasi pasti dan menunjukkan kepada yang lain. Maka tidak salah kalau Ibnu Katsir memberikan predikat bahwa penyaksian model ini adalah penyaksian yang paling benar dan paling adil, karena yang bersaksi adalah Allah, para Malaikat dan para ulama. (Lihat Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim juz 2 halaman 24). Senada dengan az-Zamakhsyari, al-Alusi juga mengartikan syahida penjelasan. Menurut al-Alusi syahida adalah majas yang diserupakan kepada kalimat bayyana (menjelaskan). (Lihat Syihabuddin Mahmud bin Abdullah al-Alusi dalam Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim wa as-Sab’ al-Matsani juz 2 halaman  453).
Masih banyak lagi konteks pemahaman yang berbeda dari kalimat syahadat. Penulis bisa menyimpulkan bahwa substansi makna syahadat adalah berhubungan dengan lahiriyah dan batiniyah. Artinya, ada penyaksian yang diartikan cukup melihat karena berhubungan dengan suatu hal yang bersifat lahiriyah seperti melihat hilal. Ada penyaksian yang bersifat batin seperti yang digambarkan pada QS. Fushshilat ayat 20, yang menjelaskan tentang ahli neraka yang apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Ada pula penyaksian yang bersifat lahir batin sebagai gambaran QS. Ali ‘Imran ayat 18 yang telah dijelaskan di atas.
Syahadat merupakan suatu bacaan yang familier yang seringkali diucapkan dalam setiap ritual keagamaan umum. Seperti di dalam shalat yang dibaca di dalam bacaan tasyahud, di dalam kalimat adzan, di dalam khotbah dan masih banyak lagi. Dalam konteks yang berbeda-beda tersebut hampir menunjukkan arti yang sama.
Abû Bakr al-Anbârî mengartikan syahadat pada konteks kalimat adzan sebagai mengetahui dan menjelaskan. Sehingga apabila diucapkan asyhadu an lailaha illa Allah mempunyai arti aku mengetahui dan menjelaskan kepada orang lain bahwa tiada tuhan selain Allah. Sedangkan asyhadu anna Muhammadan Rasul Allah berarti aku mengetahui dan menjelaskan kepada orang lain bahwa Muhammad adalah utusan Allah. (Lihat Muḥammad bin Mukarram bin Manẓûr al-‘Afriqî dalam Lisân al-’Arab juz 3 halaman 238). Begitu pula syahadat yang dibaca di dalam shalat, khotbah, doa tertentu dan lain-lain mempunyai pemahaman arti yang hampir sama.
Dengan demikian maka bisa disimpulkan bahwa syahadat secara terminologi adalah sebuah penyaksian yang di dalamnya mengandung arti mengetahui, meyakini dan menjelaskan kepada orang lain bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

ASY-SYAHADATAIN

“Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan Nabi Muhammad beserta keluarganya serta sahabat-sahabatnya begitu juga keselamatan”…3x
Asy-Syahadatain, kita semua tahu artinya adalah “Dua Kalimah Syahadat”. Sudah diketahui secara umum asy-Syahadatain itu dipergunakan untuk nama Jama’ah Pimpinan Almaghfurlah al-Habib Umar bin Ismail bin Yahya atau akrab dipanggil Abah Umar di daerah Panguragan Cirebon.
Mengapa nama itu diambil?
Karena nama itu cukup sederhana dan mengandung latar belakang yang dapat kami terangkan antara lain sebagai berikut:
Umat sedunia pada umumnya sudah mengetahui tentang Lima Rukun Islam, yaitu:
1.    Mengucapkan 2 (dua) kalimah syahadat
2.    Menjalankan shalat lima waktu
3.    Melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan
4.    Mengeluarkan zakat
5.    Menunaikan ibadah haji (bagi yang mampu)
Dan untuk melaksanakan kelima Rukun Islam itu diperlukan mengetahui semua syarat rukunnya, tapi sayang sebagai salah satu akibat dari 350 tahun penjajahan di Indonesia ini (untuk tidak mengkambinghitamkan Bangsa sendiri/Islam) sesungguhnya yang sudah banyak diketahui kaum Islam awam itu hanya syarat rukunnya shalat, puasa, zakat dan haji saja. Sedangkan syarat rukunnya syahadat banyak dilupakan atau kurang perduli. Hal itu dapat terjadi karena mungkin kebanyakan umat Islam di Indonesia ini kesadaran beragamanya berdasarkan keturunan. Akan tetapi lain bagi orang atau dari agama lain yang baru masuk Islam, Dua Kalimah Syahadat itu jelas merupakan pintu gerbang pertama sebelum memasuki pintu rukun Islam yang lain.
Apa bedanya Rukun dan Syarat?
Rukun, adalah tiang utama dalam suatu pengamalan ibadah yang wajib dikerjakan karena jika ditinggalkan maka amalan tersebut kurang/seluruhnya menjadi tidak diterima. Boleh juga disebut sebagai tiang dari suatu bangunan.
Syarat, adalah cara, jenis atau perbuatan yang menentukan sah atau tidaknya pengamalan rukun itu.
Bila diumpamakan tiang suatu bangunan itu sah menjadi Rukun Bangunan tersebut bilamana tiang itu memenuhi syarat, antara lain harus kuat atau terdiri dari jenis kayu apa, atau bagaimana cara membuatnya supaya kuat dan agar menjadi rukun yang sah dari bangunan tersebut.
Menelusuri Syahadat sebenarnya sangat dalam dan luas, pembagian Syahadat dapat dilihat dari:
·         Ditinjau dari Isi Bentuknya yaitu: Syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul.
·         Ditinjau dari Pengamalannya yaitu: Syahadat Thariqat dan Syahadat Haqiqat.
·         Ditinjau dari Hasilnya yaitu: Syahadat Sirri, Syahadat Sejati, dan Sejatinya Syahadat.
·         Ditinjau dari Macamnya: Syahadat Sholawat, Syahadat Payung, Syahadat Ulul ‘Azmi, Syahadat Nuril Mubin, dan Syahadat Mahdi
Pembahasan Bai’at/Stempel dapat diambil titik terang dari pembagian Syahadat ditinjau dari Prakteknya: Syahadat Syari’at, Thariqat dan Syahadat Haqiqat. Jalan Syahadat Syari’at secara istilah juga disebut dengan Syahadat Bai’at. Untuk mengamalkan bentuk Syahadat yang satu ini yakni harus meyakinkan sifat ketuhanan dan sifat kerasulan seorang Nabi dengan bukti diucapkan dengan lisan seperti yang kita ketahui bahwa Rukun Syahadat ada enam.
Rukun Syahadat inilah yang sering dilupakan oleh banyak kalangan Islam lainnya, padahal apabila tidak dikerjakan salah satu Rukun Syahadat tersebut maka batallah Syahadatnya/keislamannya, sedangkan Syahadat termasuk dalam Rukun Islam yang pertama.
Rukun Syahadat diambil dari Tanqih al-Qaul:
1.    Niat: guna menguatkan akidah
2.    Syahid: orang yang menyaksikan
3.    Masyhud Lahu: meyakini Allah dan RasulNya
4.    Masyhud Bih: menyaksikan sifat ketuhanan Allah Swt. dan kerasulan Nabi Muhammad Saw.
5.    Masyhud ‘Alaih: yaitu orang yang membaca Syahadat (orang yang disaksikan)
6.    Sighat: Lafadz Kalimat Syahadat
Pelaksanaan Rukun Syahadat di atas dilakukan seseorang bersama orang lain dengan mengucapkan Dua Kalimat Syahadat dengan lisan dan disaksikan oleh seseorang dan hal seperti itulah yang ada pada tuntunan Syekhunal Mukarrom dengan istilah Bai’at atau Stempel. “Wasyuruthuhumaa tsalaatsatun: Al-awwal al-ilmu bima’aaniihimaa. Wa ats-Taaanii almuwaalaat. Wa ats-Tsaalits, lafdzu asyhadu.” (Dikutip dari Kitab Tanqiihul Qaul). Artinya:  Syarat sahnya mengucapkan Dua Kalimah Syahadat itu ada tiga:
1.    Mengetahui arti kedua Kalimah Syahadat itu
2.    Beruntun pengucapannya.
3.    Pakai kata Aku Bersaksi (Asyhadu)
Stempel/Bai’at merupakan pengucapan ikrar atas keislaman seseorang dalam menjalankan Rukun Islam pertama agar menjadi seorang muslim yang benar-benar Islam. Seorang muslim dapat dibedakan menjadi 4, diantaranya:
1.    Islam Tansibi yaitu seorang muslim karena asal mula keturunan orang tuanya yang beragama Islam dan ini termasuk Islam yang lemah.
2.    Islam Tasbih yaitu keislaman seseorang ataupun ibadahnya itu karena terbawa oleh lingkungan yang sarat akan agama. Maka ia sibuk beribadah dan begitu pula sebaliknya.
3.    Islam Tahqiri yaitu orang yang mengaku islam dan apabila ia diperintahkan untuk melakukan hukum islam ia meremehkannya, bentuk islam seperti inilah yang membahayakan.
4.    Islam Tahqiqi yaitu keislaman seseorang karena keyakinannya yang tinggi pada Allah dan RasulNya, sehingga ia selalu mengamalkan perintah Allah dan RasulNya. Bentuk Islam seperti inilah yang dibenarkan.
Ditinjau dari bentuknya Islam tersebut untuk mencapai bentuk Islam yang ke 4 (empat) harus melakukan beberapa hal yang dapat menjadi Islam Tahqiqi diantaranya:
a.   Tajdidul Islam (merehabilitasi Iman dan Islam dengan Syahadat Syari’at/Bai’at)
b.   Mengamalkan perintah Allah dan RasulNya serta berusaha untuk selalu ingat Allah sebagaimana yang dinadzomkan oleh Syekhuna:
Eling Allah kang gumantil # Demen Rasul ayo ngintil
Eling Allah kang sempurna # Ora bisa akalana
Amal eling kang digawa # Barang akeh ora digawa
c.    Selalu banyak berdzikir dan membiasakan membaca Syahadat setiap waktu sesuai yang didawuhkan oleh Syekhunal Mukarrom sebagai berikut:
Syahadat Tauhid Anjingena # Syahadat Rasul Lakonana
Ngaji Syahadat aja telat # Yen wis waktu gage mangkat
Ngaji Syahadat kudu sabar lan Tawakkal # Lan nerima syukurane aja gagal
Ngaji Syahadat kudu sabar lan Tafakkur # Supaya cangkem ati dadi akur
Ayu batur dirubah kita pikire # Eling Allah kang akeh muji dzikire
Saban dina karo ALLAH ora parek # Saban dina kang di pikir ya brekepek
Begitulah Syekhunal Mukarrom dalam pendapat/tuntunan yang disyairkan dengan Nadzom, dimana dapat disimpulkan bahwa Bai’at Syahadat itu tidak lain agar kita selamat baik di dunia maupun di akherat sebagai seorang Muslim dan Mu’min. Hal ini dijelaskan dalam kitab Habl al-Matin halaman 8 mengenai Bai’at islam.
Allah berfirman dalam QS. Fushsilat ayat 30: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.
Allah berfirman dalam QS. al-Ahzab (golongan-golongan) ayat 45-46: “Hai Nabi, Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk Jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan, dan untuk Jadi penyeru kepada agama Allah dengan izinNya dan untuk Jadi cahaya yang menerangi.”
Allah berfirman dalam QS. Thaha ayat 14: “Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku.”
Allah berfirman dalam QS. al-Baqarah (sapi betina) ayat 222: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"









"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog