اَلْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ
يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ بِالْهُدَى
وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ
الْمُشْرِكُوْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى أَحَلَّ النِّكَاحَ وَنَدَبَ إِلَيْهِ وَحَرَّمَ
السِّفَاحَ وَأَوْعَدَ الْعَذَابَ الْأَلِيْمَ عَلَيْهِ فَقَالَ تَعَالَى:
وَلاَ تَقْرَبُوْا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيْلاً
وَقَالَ تَعَالَى: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَقَالَ تَعَالَى: يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي
خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ
مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي
تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
وَقَالَ تَعَالَى: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا-- يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيمًا
وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَحَبَّ
فِطْرَتِيْ فَلْيَسْتَنَّ بِسُنَّتِيْ وَمِنْ سُنَّتِيْ النِّكَاحُ.
وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَنَاكَحُوْا تَكْثُرُوْا
فَإِنِّيْ أُبَاهِيْ بِكُمُ الْأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. وَقَالَ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا
الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ. وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
تَزَوَّجُوْا الْوَلُوْدَ الْوَدُوْدَ فَإِنِّيْ مُكَاثِرٌ بِكُمُ
الْأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
ثُمَّ أَنَّ النِّكَاحَ سُنَّةُ الْأَنْبِيَاءِ وَشِعَارُ الْأَوْلِيَاءِ وَجُنَّةُ الْأَتْقِيَاءِ.
قُوْلُوْا جَمِيْعًا: أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنْ تَرْكِ الصَّلاَةِ وَمِنَ
التَّقْصِيْرِ فِيْهَا وَفِي الزَّكَاةِ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنْ ظُلْمِ
الْعِبَادِ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنْ جَمِيْعِ الْمَعَاصِى وَالذُّنُوْبِ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
رَسُوْلُ اللهِ. آمَنَّا بِاللهِ وَبِمَا جَاءَ عَنِ اللهِ عَلَى مُرَادِ
اللهِ. آمَنَّا بِرَسُوْلِ اللهِ وَبِمَا جَاءَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ
وَتَبَرَّأْنَا مِنْ كُلِّ دِيْنٍ يُخَالِفُ دِيْنَ الإِسْلاَمِ
| ||||
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Senin, 04 Februari 2013
Jumat, 09 Maret 2012
Negeri Yang Berkah
HM. Khoiril Anam
(Ketua PC LDNU Jombang)
(Ketua PC LDNU Jombang)
الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِى وَفَّقَ عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِيْنَ لِاَدَاءِ الْاَعْمَالِ الصَّالِحَاتِ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً اَرْجُو بِهَا رَفِيعَ الدَّرَجَات. وَاَشْهَدُ اَنّ سَيِّدَ نَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الْمُعْجِزَاتِ. اَللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَاَصْحَابِهِ اُولِى الْفَضَائِل وَالْكَرَامَاتِ.
اَمَّا بَعْدُ , فَيَا اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ. اِتَّقُوا اللهَ بِامْتِثَالِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَاجْتِنَابِ الْمَنْهِيَّاتِ. وَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُوْنَ .
Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullah
Mari kita tak henti-hentinya untuk senantiasa meningkatkan kwalitas ketakwaan kita pada Allah SWT, yang tidak lain adalah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya, karena dengan takwallah itulah manusia akan memperoleh kebahagian dan kemuliaan yang hakiki serta derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.Hadirin jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah
Siapapun pasti mendambakan terwujudnya masyarakat atau negeri yang berkah, yaitu negeri yang aman, nyaman, tenang dan rizkinya melimpah. Sudah barang pasti dambaan itu tidak akan terwujud tanpa adanya tindakan yang nyata. Bagaimana mungkin orang akan menjadi dokter kalau dia tidak pernah sekolah di kedokteran dan bagaimana mungkin orang akan menjadi hakim kalau tidak pernah menempuh pendidikan di bidang hukum. Orang menjadi dokter atau hakim tidak dengan tiba-tiba tetapi harus melewati suatu proses. Demikian juga dengan negeri ini, tidak akan bisa aman, nyaman, tenang, makmur dan rizkinya melimpah dengan tiba-tiba, melainkan harus melewati suatu proses. Proses itu tidak lain adalah bahwa penduduk ini harus benar-benar melaksanakan konsep taqwa, kapanpun dan di manapun mereka berada, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an
Mari kita tak henti-hentinya untuk senantiasa meningkatkan kwalitas ketakwaan kita pada Allah SWT, yang tidak lain adalah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya, karena dengan takwallah itulah manusia akan memperoleh kebahagian dan kemuliaan yang hakiki serta derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.Hadirin jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah
Siapapun pasti mendambakan terwujudnya masyarakat atau negeri yang berkah, yaitu negeri yang aman, nyaman, tenang dan rizkinya melimpah. Sudah barang pasti dambaan itu tidak akan terwujud tanpa adanya tindakan yang nyata. Bagaimana mungkin orang akan menjadi dokter kalau dia tidak pernah sekolah di kedokteran dan bagaimana mungkin orang akan menjadi hakim kalau tidak pernah menempuh pendidikan di bidang hukum. Orang menjadi dokter atau hakim tidak dengan tiba-tiba tetapi harus melewati suatu proses. Demikian juga dengan negeri ini, tidak akan bisa aman, nyaman, tenang, makmur dan rizkinya melimpah dengan tiba-tiba, melainkan harus melewati suatu proses. Proses itu tidak lain adalah bahwa penduduk ini harus benar-benar melaksanakan konsep taqwa, kapanpun dan di manapun mereka berada, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an
وَلَوْ
أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ
بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ
بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (الأعراف96
Jikalau sekiranya penduduk
negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan
kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan
ayat-ayat kami , maka kami siksa mereka sebab perbuatan mereka sendiri
(QS. Al-A’raf 97)
Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullah
Kalau melihat kondisi negeri ini, sebenarnya sangat memprehatinkan, kemaksiatan merajalela dan kemungkaran terjadi di mana-mana. Ini merupakan indikasi bahwa penduduk negeri ini belum maksimal dalam melaksanakan konsep taqwa. Dan rupa-rupanya kemaksiatan itu semakin lama semaki meningkat bukan berkurang. Kalau ini tidak segera diakhiri, maka keberkahan yang Allah tumpahkan di negeri ini sehingga menjadi negeri yang subur makmur gemah ripah loh jinawi dikhawatirkan akan dicabut dan dibalik menjadi negeri yang hancur sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an
Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullah
Kalau melihat kondisi negeri ini, sebenarnya sangat memprehatinkan, kemaksiatan merajalela dan kemungkaran terjadi di mana-mana. Ini merupakan indikasi bahwa penduduk negeri ini belum maksimal dalam melaksanakan konsep taqwa. Dan rupa-rupanya kemaksiatan itu semakin lama semaki meningkat bukan berkurang. Kalau ini tidak segera diakhiri, maka keberkahan yang Allah tumpahkan di negeri ini sehingga menjadi negeri yang subur makmur gemah ripah loh jinawi dikhawatirkan akan dicabut dan dibalik menjadi negeri yang hancur sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an
وَضَرَبَ
اللهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ اَمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيْهَا
رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْكُلّش مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِاَنْعُمِ اللهِ
فَاَذَاقَهَا اللهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوْا
يَصْنَعُوْنَ (النحل 112
Dan Allah telah membuat
perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman, tentram, rizkinya dating
melimpah ruah dari setiap tempat, tetapi karena penduduknya mengingkari
nikmat-nikmat Allah, maka allah merasakan bencana kelaparan dan
ketakutan sebab ulah prilaku mereka sendiri (QS. An-Nahl 112)
Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullah
Penduduk yang mengingkari nikmat-nikmat Allah itu adalah penduduk yang tidak mau mensyukuri nikmat. Karena yang namanya mensyukuri nikmat itu tidak hanya sekedar mengucapkan Alhamdulillah, tetapi juga harus diwujudkan dalam bentuk tindakan amal yang nyata, yang tidak lain adalah menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Dengan demikian mereka yang menerjang larangan Allah dan terus menerus melakukan kemaksiatan itu sama saja dengan mengkufuri atau mengingkari nikmat Allah.
Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullah
Penduduk yang mengingkari nikmat-nikmat Allah itu adalah penduduk yang tidak mau mensyukuri nikmat. Karena yang namanya mensyukuri nikmat itu tidak hanya sekedar mengucapkan Alhamdulillah, tetapi juga harus diwujudkan dalam bentuk tindakan amal yang nyata, yang tidak lain adalah menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Dengan demikian mereka yang menerjang larangan Allah dan terus menerus melakukan kemaksiatan itu sama saja dengan mengkufuri atau mengingkari nikmat Allah.
Oleh karena itu, agar negeri ini
aman dari ancaman bencana dan menjadi negeri yang berkah, hendaknya kita
mulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu dan keluarga kita sendiri
sebagaimana firman Allah
يَا
اَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا قُوْا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلاَئِكَةٌ غِلاَظٌ
شِدَادٌ لاَ يَعْصُوْنَ اللهَ مَا اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا
يُؤْمَرُوْنَ ( التحريم 6
Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu , penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang
keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintah-Nya
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS.
At-Tahrim 6)
Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullah
Betapa Allah telah memberikan langkah-angkah praktis bagaimana menuju masyarakat yang baik dan negeri yang berkah, yaitu dimulai dari diri sendiri dan keluarga, sebab hanya kedua unsur inilah pilar pokok sebuah masyarakat dan negara. Kalau masing-masing dari kita sebagai warga negara bisa menjaga diri dan keluarga dari perbuatan-perbuatan yang menyesatkan maka dengan sendirinya juga akan terbentuk negeri yang berkah. Tetapi kalu masing-masing dari kita dan keluarga penuh dengan dosa-dosa dan kemaksiatan maka akan tebentuk negeri yang rentan, ibarat tubuh penuh dengan penyakit dan kotoran yang menjijikkan, maka tidak akan produktif bahkan tidak bisa diharapkan kebaikannya.
Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullah
Lebih lanjut Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah menyebutkan tentang bahaya dari dosa yang dilakukan oleh manusia di antaranya adalah :
1. Dosa akan memperlemah kesadaran akan kegagunggan Allah dalam hati. Artinya orang yang sering melakukan perbuatan dosa tidak akan bersungguh-sungguh mengagungkan Allah, kaki terasa berat untuk melangkah ke masjid, badan terasa sulit untuk bangun di waktu fajar untuk melakukan sholat shubuh, telinga tidak suka lagi mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an, akhirnya lama-kelamaan hati menjadi keras seperti batu bahkan lebih keras lagi sebagaimana firman Allah
Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullah
Betapa Allah telah memberikan langkah-angkah praktis bagaimana menuju masyarakat yang baik dan negeri yang berkah, yaitu dimulai dari diri sendiri dan keluarga, sebab hanya kedua unsur inilah pilar pokok sebuah masyarakat dan negara. Kalau masing-masing dari kita sebagai warga negara bisa menjaga diri dan keluarga dari perbuatan-perbuatan yang menyesatkan maka dengan sendirinya juga akan terbentuk negeri yang berkah. Tetapi kalu masing-masing dari kita dan keluarga penuh dengan dosa-dosa dan kemaksiatan maka akan tebentuk negeri yang rentan, ibarat tubuh penuh dengan penyakit dan kotoran yang menjijikkan, maka tidak akan produktif bahkan tidak bisa diharapkan kebaikannya.
Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullah
Lebih lanjut Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah menyebutkan tentang bahaya dari dosa yang dilakukan oleh manusia di antaranya adalah :
1. Dosa akan memperlemah kesadaran akan kegagunggan Allah dalam hati. Artinya orang yang sering melakukan perbuatan dosa tidak akan bersungguh-sungguh mengagungkan Allah, kaki terasa berat untuk melangkah ke masjid, badan terasa sulit untuk bangun di waktu fajar untuk melakukan sholat shubuh, telinga tidak suka lagi mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an, akhirnya lama-kelamaan hati menjadi keras seperti batu bahkan lebih keras lagi sebagaimana firman Allah
ثُمَّ
قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ
أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ
الْاَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ
وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ
بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (البقرة 74 )
Kemudian setelah itu hatimu
menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara
batu-batu itu ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya, dan di
antranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya,
dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh karena takut pada
Allah, dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al-Baqarah 74)
2. Dosa akan menghilangkan ruh cemburu. Orang yang sering melakukan dosatidak akan sensitive bila melihat orang-orang berbuat dosa, ia tidak tersinggung dengan isterinya yang auratnya dilihat banyak orang, bahkan ia sengaja mengijinkan untuk mempertontonkan auratnya di depan banyak orang. Ia tidak merasa tersinggung dengan anaknya yang berbuat dosa di depan matanya, anaknya yang sering teler, mabuk tidak pernah diperingatkan dibiarkan begitu saja.
3. Dosa membuat orang tidak mempunyai rasa malu. Rasa malu inilah yang membedakan antara manusia dengan binatang. Kalu rasa malu itu sudah tidak ada pada diri manusia, maka tak ubahnya seperti binatang yang semaunya melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan apakah itu haram apa tidak, ada manfaatnya pa tidak. Akibatnya tidak merasa berdosa ketika melakukan penyelewengan, tidak mempunyai rasa iba dan kasihan ketika melakukan penganiayaan, tidak merasa bersalah ketika melakukan sesuatu yang merugikan orang lain dan tidak malu lagi ketika melakukan perzinaan tetapi malah bangga dan ditunjukkan pada orang lain. Masyarakat yang seperti ini adalah masyarakat yang jauh dari kemanusiaandan penuh dengan nuansa kekejaman, kedzaliman dan kebinatangan.
4. Dosa membuat orang semain jauh dari ihsan yaitu sikap di mana seseorang meninggalkan perbuatan dosa. Dari kesadaran ihsan inilah orang akan benar-benar menjaga dirinya dari melanggar aturan-aturan Allah. Dalam sebuah hadits, Nabi menyatakan
2. Dosa akan menghilangkan ruh cemburu. Orang yang sering melakukan dosatidak akan sensitive bila melihat orang-orang berbuat dosa, ia tidak tersinggung dengan isterinya yang auratnya dilihat banyak orang, bahkan ia sengaja mengijinkan untuk mempertontonkan auratnya di depan banyak orang. Ia tidak merasa tersinggung dengan anaknya yang berbuat dosa di depan matanya, anaknya yang sering teler, mabuk tidak pernah diperingatkan dibiarkan begitu saja.
3. Dosa membuat orang tidak mempunyai rasa malu. Rasa malu inilah yang membedakan antara manusia dengan binatang. Kalu rasa malu itu sudah tidak ada pada diri manusia, maka tak ubahnya seperti binatang yang semaunya melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan apakah itu haram apa tidak, ada manfaatnya pa tidak. Akibatnya tidak merasa berdosa ketika melakukan penyelewengan, tidak mempunyai rasa iba dan kasihan ketika melakukan penganiayaan, tidak merasa bersalah ketika melakukan sesuatu yang merugikan orang lain dan tidak malu lagi ketika melakukan perzinaan tetapi malah bangga dan ditunjukkan pada orang lain. Masyarakat yang seperti ini adalah masyarakat yang jauh dari kemanusiaandan penuh dengan nuansa kekejaman, kedzaliman dan kebinatangan.
4. Dosa membuat orang semain jauh dari ihsan yaitu sikap di mana seseorang meninggalkan perbuatan dosa. Dari kesadaran ihsan inilah orang akan benar-benar menjaga dirinya dari melanggar aturan-aturan Allah. Dalam sebuah hadits, Nabi menyatakan
اَلاِحْسَانُ اَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَاَنَّكَ تَرَاهُ فَاِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَاِنَّهُ يَرَاكَ
Ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat Allah dan bila tidak bisa melihat Allah maka allah melihat kamu.
Dengan berbekal ihsan inilah orang tidak akan mudah melakukan perbuatan dosa, sebab setiap kali akan melakukan maksiat selalu ingat bahwa apa yang dilakukan dilihat leh Allah, demikian juga ketika melakukan kewajibanapa itu tugas di lingkungan kerja, mengajar, melayani masyarakat atau yang lain, pasti akan melakukan dengan sepenuh hati dan sebaik-baiknya, sebab apa yang dilakukan dilihat oleh Allah dan dimintai pertanggung jawabannya kelak di akherat. Kalau orang terbiasa berbuat dosa, secara otomatis ia telah menghancurkan kesadaran ihsannya. Hilangnya kesadaran ihsan adalah malapetaka bagi manusia. Bila suatu masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang tidak mempunyai kesadaran ihsan, maka tidak mustahil masyarakat tersebut akan selalu dihantui berbagai tindakan kedzaliman dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang mulia.
5. Dosa menghilangkan nikmat dan menggantikannya dengan bencana. Allah selalu menceritakan bahwa diadzabnya umat-umat terdahulu adalah karena mereka selalu berbuat dosa, sebagaimana firman-Nya
Dengan berbekal ihsan inilah orang tidak akan mudah melakukan perbuatan dosa, sebab setiap kali akan melakukan maksiat selalu ingat bahwa apa yang dilakukan dilihat leh Allah, demikian juga ketika melakukan kewajibanapa itu tugas di lingkungan kerja, mengajar, melayani masyarakat atau yang lain, pasti akan melakukan dengan sepenuh hati dan sebaik-baiknya, sebab apa yang dilakukan dilihat oleh Allah dan dimintai pertanggung jawabannya kelak di akherat. Kalau orang terbiasa berbuat dosa, secara otomatis ia telah menghancurkan kesadaran ihsannya. Hilangnya kesadaran ihsan adalah malapetaka bagi manusia. Bila suatu masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang tidak mempunyai kesadaran ihsan, maka tidak mustahil masyarakat tersebut akan selalu dihantui berbagai tindakan kedzaliman dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang mulia.
5. Dosa menghilangkan nikmat dan menggantikannya dengan bencana. Allah selalu menceritakan bahwa diadzabnya umat-umat terdahulu adalah karena mereka selalu berbuat dosa, sebagaimana firman-Nya
فَكُلًّا
أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا
وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ
الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ
وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ ( العنكبوت 40 )
Maka masing-masing mereka itu
kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang kami
timpakan kepadanya hujan batu keriki, ada yang ditimpa suara keras yang
mengguntur, ada yang kami benamkan ke dalam bumi, ada yang kami
tenggelamkan dan Allah sekali-kali tidak menganiaya mereka akan tetapi
merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri (QS. Al-Ankabut 40)
اِنَّ
اَحْسَنَ الْكَلَامِ كَلَامُ اللهِ الْمَلِكِ الْعَلَّامِ , وَاللهُ
سُبْحَانَه وَتَعَالَى يَقُوْلُ , وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدى الْمُهْتَدُوْنَ .
وَاِذَا قُرِءَ الْقُرْأَنَ فَاسْتَمِعُوْا لَهُ وَاَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ
تُرْحَمُوْنَ . اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ
اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحيْمِ . يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا قُوْا
اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
عَلَيْهَا مَلاَئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَ يَعْصُوْنَ اللهَ مَا
اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ .
بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْأَنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْايَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْأَنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْايَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Memperingati Kelahiran Nabi Muhammad Saw
ان
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور انفسنا ومن سيأت
أعمالنا من يهده الله فلامضل له ومن يضلله فلاهادي له, أشهد ان لا اله الا
الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده و رسوله. اللهم صل وسلم وبارك
على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين, أما بعد. فياعباد الله أوصيكم ونفسى
بتقوى الله…وقد قال الله تعالى فى القرأن الكريم قُلْ إِن كُنتُمْ
تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Pada kesempatan yang mulia, melalui mimbar khotbah ini, saya berpesan pada diri saya sendiri khususnya dan kepada para jamaah sekalian, marilah kita terus-menerus meningkatkan taqwa kepada Allah Swt. Taqwa dalam arti yang sebenarnya, yaitu dengan melaksanakan perintah Allah serta meningkatkan semua larangan-larangan-nya. Juga taqwa dalam arti taat serta patuh terhadap semua ketentuan yang telah diisyaratkan Allah Swt. Dalam agama islam. Dengan begitu, mudah-mudahan kita mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, amin.Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Nabi Muhammad Saw. Merupakan utusan Allah terkhir dengan membawa agama Islam, sebagai agama yang sempurna kebenarannya, yang membenarkan dan menyempurnakan agama-agama yang di bawah oleh utusan Allah sebelumnya, agar dijadikan pegangan oleh para hamba-Nya dalam perjalanan hidup menuju keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Pada kesempatan yang mulia, melalui mimbar khotbah ini, saya berpesan pada diri saya sendiri khususnya dan kepada para jamaah sekalian, marilah kita terus-menerus meningkatkan taqwa kepada Allah Swt. Taqwa dalam arti yang sebenarnya, yaitu dengan melaksanakan perintah Allah serta meningkatkan semua larangan-larangan-nya. Juga taqwa dalam arti taat serta patuh terhadap semua ketentuan yang telah diisyaratkan Allah Swt. Dalam agama islam. Dengan begitu, mudah-mudahan kita mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, amin.Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Nabi Muhammad Saw. Merupakan utusan Allah terkhir dengan membawa agama Islam, sebagai agama yang sempurna kebenarannya, yang membenarkan dan menyempurnakan agama-agama yang di bawah oleh utusan Allah sebelumnya, agar dijadikan pegangan oleh para hamba-Nya dalam perjalanan hidup menuju keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Muhammad Saw. Sebagai utusan
Allah yang terkhir, mengemban amanah suci, sebagai wujud nyata dari
sifat Rahman dan Rahim Allah terhadap para hamba-Nya. Bahkan merupakan
penyempurna dari semua kenikmatan yang telah diberikan-Nya kepada
sekalian penghuni alam.
Allah Swt. Berfirman:
Allah Swt. Berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Artinya:
“dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’:107)
“dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’:107)
Dari ayat diatas kita dapat
mengambil pengertian dari ayat tersebut bahwa Muhammad Saw. Adalah insan
kamil (manusia sempurna) yang pada dirinya terletak untaian mutiara
hikmah sebagai obor penerang dalam hidup dan kehidupan sekalian penghuni
alam, yang mengeluarkan manusia dari gelap gulita kekafiran menuju
cahaya kebenaran, yaitu dinul islam yang diridai Allah Swt.kehadiran
beliau adalah sebagai juru selamat yang mengantar kepada kebahagiaan
yang lahir dan batin, dunia akhirat.
Oleh sebab itu, menyebut dan memperingati kehadiran beliau menjadi sebuah keniscayaan bagi orang tau terimakasih dan berbelas budi. Hari dan bulan kelahiran baliau harus kita peringati sebagai titik awal bagi peningkatan pengabdian kepada Allah sebagai Dzat yang telah menyempurnakan semua kenikmatan-Nya.
Oleh sebab itu, menyebut dan memperingati kehadiran beliau menjadi sebuah keniscayaan bagi orang tau terimakasih dan berbelas budi. Hari dan bulan kelahiran baliau harus kita peringati sebagai titik awal bagi peningkatan pengabdian kepada Allah sebagai Dzat yang telah menyempurnakan semua kenikmatan-Nya.
Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Saat ini kita telah kembali memasuki bulan Rabiul Awal, bulan dimana ummat Islam diseluruh penjuru dunia merayakan hari kelahiran atau Maulid Nabi besar Muhammad Saw. Yang tepat jatuhnya pada tanggal 12 Robiul Awal tahun 53 sebelum hijrah. Disamping sebagai hari kelahiran Rasulullah, tanggal 12 Rabiul Awal sebenarnya juga mempunyai nilai sejarah lain yang juga patut diperingati oleh ummat Islam. Pada tanggal tersebut Rasulullah melakukan hijrahnya dari Mekkah ke Madinah, dan pada tanggal itu pula,Rasulullah tutup usia (wafat) untuk menghadap kehadiranAllah Saw.
Saat ini kita telah kembali memasuki bulan Rabiul Awal, bulan dimana ummat Islam diseluruh penjuru dunia merayakan hari kelahiran atau Maulid Nabi besar Muhammad Saw. Yang tepat jatuhnya pada tanggal 12 Robiul Awal tahun 53 sebelum hijrah. Disamping sebagai hari kelahiran Rasulullah, tanggal 12 Rabiul Awal sebenarnya juga mempunyai nilai sejarah lain yang juga patut diperingati oleh ummat Islam. Pada tanggal tersebut Rasulullah melakukan hijrahnya dari Mekkah ke Madinah, dan pada tanggal itu pula,Rasulullah tutup usia (wafat) untuk menghadap kehadiranAllah Saw.
Banyak nilai sejarah yang
terkandung dalam 12 Rabiul Awal yang patut diperingati, hanya saja,
diantara beberapa peristiwa besar itu yang biasa diperingati kaum
muslimin adalah hari kelahiran Rasulullah yang terkenal dngan istilah
peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, dan telah menjadi tradisi Umat
Islam sejak dulu hingga sekarang, walaupun dengan cara dan bentuk yang
berbeda-beda, namun tetap dalam konteks dan semangat yang sama yaitu
mencintai dan meneladani Rasulullah Saw.
Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Pada dasarnya, tidak ada nash atau ayat Al-Qur’an maupun hadis yang nyata-nyata memerintahkan atau melarang diadakannya peringatan terhadap hari-hari besar tersebut, maka penyelenggaraan peringatan tersebut sifatnya sangat cultural dan hukumnya boleh, sebab tidak termasuk menyalahi aturan syariat yang ditetapkan oleh Islam.
Bertolak dari pengertian tentang penyelenggaraan peringatan di atas, maka muatan atau bentuk panyelenggaraannyalah yang dapat mengubah atau mempengaruhi hukum asalnya. Adapun bentuk penyelenggaraan peringatan maulid yang disukai dan biasa diselenggarakan oleh para ulama dahulu adalah sebagaimana yiang disebutkan dalam kitab “At-Tanbihatul Waajibat” karya seorang ulama besar, K.H. Hasyim Asy’ari, Tebuireng, Jombang, JawaTimur.
Pada dasarnya, tidak ada nash atau ayat Al-Qur’an maupun hadis yang nyata-nyata memerintahkan atau melarang diadakannya peringatan terhadap hari-hari besar tersebut, maka penyelenggaraan peringatan tersebut sifatnya sangat cultural dan hukumnya boleh, sebab tidak termasuk menyalahi aturan syariat yang ditetapkan oleh Islam.
Bertolak dari pengertian tentang penyelenggaraan peringatan di atas, maka muatan atau bentuk panyelenggaraannyalah yang dapat mengubah atau mempengaruhi hukum asalnya. Adapun bentuk penyelenggaraan peringatan maulid yang disukai dan biasa diselenggarakan oleh para ulama dahulu adalah sebagaimana yiang disebutkan dalam kitab “At-Tanbihatul Waajibat” karya seorang ulama besar, K.H. Hasyim Asy’ari, Tebuireng, Jombang, JawaTimur.
Dalam kitab itu dijelaskan bahwa
bentuk peringatan Maulid nabi berupa perkumpulan banyak manusia, yang
disitu dibaca ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis yang mengisahkan
tentang peristiwa dan kelebihan-kelebihan Rasulullah semasa dalam
kandungan, saat kelahiran maupan pasca kelahiran beliau. Demikian juga
budi pekerti dan akhlak beliau yang mulia. Setelah itu, dibagikan kepada
mereka sekedar makanansebagai jamuan. Adakalanya dalam peringatan itu
disertai memukul rebana namun tetap dalam konteks seni yang bernuansa
Islami.
Sedangkan peringatan maulid
Rasulullah Saw. Yang dilakukan oleh Syaikh Umar bin Muhammad Al-Mulla,
salah seorang saleh yang ternama dikota Irbil dan banyak diikuti oleh
masyarakat sekitarnya adalah dengan bersedekah, bakti sosial, berbuat
kebajikan dan melahirkan rasa suka dan gembira atas kelahiran
beliau.bentuk peringatan seperti itu menunjukkan rasa kecintaan
pengagungan dan pemuliaan terhadap baginda Rasulullah Saw. Serta
ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt. Atas nikmat dan anugrah-Nya yang
besar berupa kedatanganya dan pembawa hidayah, kebenaran serta kasih
sayang untuk seluruh alam.
Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Nabi Muhammad Saw. Dilahirkan di kota Mekkah dari seorang ibu yang bernama Aminah dan seorang ayah yang bernama Abdullah yang telah meninggal dunia sebelum kelahiran beliau. Masa kecilnya, beliau disusui oleh Tsuwaibah, seorang budak perempua milik Abu Lahab yang lantas memerdekakan lantaran memberi kabar gembira kepadanya atas kelahiran beliau. Menurut suatu kisah, Abu Lahab pernah ditanya, “Bagaimana keadaanmu?” ia menjawab, “aku di neraka , hanya saja aku diberi keringanan siksa setiap malam senin dan aku bisa menghisap air dari ujung kedua jariku. Semua ini berkat aku memerdekakan Tsuwaibah budakku saat ia memberiku kabar gembira atas kelahiran Nabi dan lantaran susuannya kepada beliau.”
Nabi Muhammad Saw. Dilahirkan di kota Mekkah dari seorang ibu yang bernama Aminah dan seorang ayah yang bernama Abdullah yang telah meninggal dunia sebelum kelahiran beliau. Masa kecilnya, beliau disusui oleh Tsuwaibah, seorang budak perempua milik Abu Lahab yang lantas memerdekakan lantaran memberi kabar gembira kepadanya atas kelahiran beliau. Menurut suatu kisah, Abu Lahab pernah ditanya, “Bagaimana keadaanmu?” ia menjawab, “aku di neraka , hanya saja aku diberi keringanan siksa setiap malam senin dan aku bisa menghisap air dari ujung kedua jariku. Semua ini berkat aku memerdekakan Tsuwaibah budakku saat ia memberiku kabar gembira atas kelahiran Nabi dan lantaran susuannya kepada beliau.”
Berpijak dari kisah diatas, Ibnu
Jauzari berpendapat bawa jika Abu Lahab yang nyata-nyat telah kafir,
bahkan Al-Qur’an telah menetapkan sebagai orang yang celaka, masih
diberi balasan berupa keringanan siksa setiap malam senin lantaran
kegembiraannya atas kelahirannya Rasulullah, lalu bagaimana dengan orang
islam yang tidak menyekutukan Allah dan merasa gembira atas
kelahirannya Rasulullah dan mau menyerahkan apa yang dimilikinya demi
kecintaan kepada Rasul? Kiranya, balasan Allah Swt. Lebih patut ialah
surga, tempat kenikmatan yang abadi. Itulah diantara keagungan dari
memperngati Maulid Nabi Muhammad Saw.
Pringatan maulid Nabi Saw. Akan
menjadi lebih baik bila kita mau mencontoh peringatan yang diadakan oleh
para ulama terdahulu, yaitu dengan menyelenggarakan suatu acara yang
islami, bersedekah menyantuni fakir miskin dan anak-anak yatim, serta
menampakkan perasaan bahagia atas kelahiran beliau dan mengikuti segala
ajarannya, menyelenggarakan pengajian dan ceramah-ceramah agama.
Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Bentuk-bentuk lain yang berupa kemaksiatan dan kemungkaran dalam memperingati maulid Nabi Saw. Harus dijauhi dan ditinggalkan. Karena peringatan dalam bentuk itu tidak lagi di perbolehkan dan haram hukumnya. Seperti misalnya pentas music yang tidak islami, berjoget yang membangkitkan nafsu, mabuk-mabukan, bercampurnya laki-aki dan perempuan yang bukan hak dan mahramnya, berjudi dan lain-lin. Semua itu merupakan bentuk kemungkaran dan kemaksiatan yang dilarang oleh agama. Menyumbangkan dana untuk keperluan kegiatan tersebut juga dilarang, sebab hal itu termasuk membantu terselenggaranya kemaksiatan.
Allah Swt berfirman:
Bentuk-bentuk lain yang berupa kemaksiatan dan kemungkaran dalam memperingati maulid Nabi Saw. Harus dijauhi dan ditinggalkan. Karena peringatan dalam bentuk itu tidak lagi di perbolehkan dan haram hukumnya. Seperti misalnya pentas music yang tidak islami, berjoget yang membangkitkan nafsu, mabuk-mabukan, bercampurnya laki-aki dan perempuan yang bukan hak dan mahramnya, berjudi dan lain-lin. Semua itu merupakan bentuk kemungkaran dan kemaksiatan yang dilarang oleh agama. Menyumbangkan dana untuk keperluan kegiatan tersebut juga dilarang, sebab hal itu termasuk membantu terselenggaranya kemaksiatan.
Allah Swt berfirman:
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Artinya:
“Dan janganlah kalian tolong-menolong atas perbuatan dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah:2)
“Dan janganlah kalian tolong-menolong atas perbuatan dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah:2)
Memperingati maulid Nabi Saw.
Dengan disertai kemaksiatan dan kemngkaran merupakan sebuah kenifakan
yang sangat kontradiktif dengan tujuan asalnya. Hal itu sama dengan
menampakkan sesuatu yang tidak sesuai dengan isinya, lahirnya
memperingati kelahian Rasulullah dengan rasa cinta dan pengagungan
beliau, namun isinya berbentuk perbuatan yang dibenci dan dilarang oleh
beliau. Maka, hal ini dapat pula disebut sebagai menyalahi etika atau
su’ul adab terhadap Rasul atau bahkan termasuk bentuk penghinaan yang
menyakiti beliau. Karena penghinaan bukan hanya berupa ucapan, namun
juga bisa ber bentuk perbuatan yang tidak sesuai atau berlawanan dengan
ajaran islam yang dibawa beliau. Bagi yang melakukan deikian,
mendapatkan laknat Allah Swt dan diancam dengan siksaan yang
menghinakan. Pehatikanlah firman Allah Swt. berikut ini:
إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِينًا
Artinya:
“sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan melaknati mereka dan menyediakan bagi mereka siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab:57)
“sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan melaknati mereka dan menyediakan bagi mereka siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab:57)
Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Apabila kita mengakui banar-benar sebagai umat Muhammad Saw. Senantiasa taat dan tunduk akan syariat dan ajarannya, maka dalam kesempatan memperingati hari-hari bersejarah bagi beiau lebih dahulu hendaklah kita niatkan sebagai bukti syukur atas anugrah Allah yang telah menunjukkan jalan keselamatan melalui utusan-Nya; juga hendaklah kita niatkan sebagai penghormatan atas kecintaan kepada beliau, dengan tujuan agar lebih benyak lagi memperoleh suri teladan dari kisah perjuangan beliau untuk kita terapkan dalam perjalanan hidup kita sehari-hari dan agar mendapatkan syafa’at beliau.
Apabila kita mengakui banar-benar sebagai umat Muhammad Saw. Senantiasa taat dan tunduk akan syariat dan ajarannya, maka dalam kesempatan memperingati hari-hari bersejarah bagi beiau lebih dahulu hendaklah kita niatkan sebagai bukti syukur atas anugrah Allah yang telah menunjukkan jalan keselamatan melalui utusan-Nya; juga hendaklah kita niatkan sebagai penghormatan atas kecintaan kepada beliau, dengan tujuan agar lebih benyak lagi memperoleh suri teladan dari kisah perjuangan beliau untuk kita terapkan dalam perjalanan hidup kita sehari-hari dan agar mendapatkan syafa’at beliau.
Marilah kita jadikan bulan
kelahiran nabi Muhammad Saw. Ini sebagai tolak peningkatan aktivitas
kesalehan dan pengabdian yang benar kepada Allah Swt. Dengan cara inilah
kita akan memperoleh janji Allah yang berupa kebahagiaan dunia akhirat
dan terhindar dari ancaman siksa-Nya yang amat pedih.
Akhirnya, sebagai penutup khotbah ini kami mengajak saudara-saudara untuk senatiasa menaati Nabi Muhammad Saw. Sebagai utusan Allah yang terakhir yang ajaran dan syariatnya berlaku sampai akhir zaman.
Akhirnya, sebagai penutup khotbah ini kami mengajak saudara-saudara untuk senatiasa menaati Nabi Muhammad Saw. Sebagai utusan Allah yang terakhir yang ajaran dan syariatnya berlaku sampai akhir zaman.
Degan menaati ajaran Nabi
Muhammad Saw. Berarti kita telah menaati Allah dan Rasul-Nya dan
terpelihara diri kita dari kesesatan. Allah Swt. berfirman:
مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّهَ وَمَن تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
Artinya:
“Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling dari (ketentuan itu), maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pelihara bagi mereka.” (QS. An-Nisa’:80)
“Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling dari (ketentuan itu), maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pelihara bagi mereka.” (QS. An-Nisa’:80)
Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Barbahagialah orang-orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan mengikuti beliau, sehingga Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa mereka, dan kelak bisa berkmpul bersama beliau di surga. Amin.
Barbahagialah orang-orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan mengikuti beliau, sehingga Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa mereka, dan kelak bisa berkmpul bersama beliau di surga. Amin.
KHUTBAH KEDUA:
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ
Bukti-Bukti Cinta kepada Sang Nabi
ان
الحمد لله الذى أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله. أرسله
بشيرا ونذيرا وداعيا الى الله باذنه وسراجا منيرا. أشهد ان لا اله الا الله
وحده لا شريك له. شهادة اعدها للقائه ذخرأ. واشهد ان محمدا عبده و رسوله.
ارفع البرية قدرا. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه
وسلم تسليما كثيرا. أما بعد. فياأيها الناس اتقوالله حق تقاته ولاتموتن الا
وأنتم مسلمون.
Hadirin Jamaah Jum’at RahimakumullahDalam kesempatan yang mulia ini, marilah kita terus-menerus meningkatakan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt., dengan melaksanakan segala perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya, sebab hanya degan iman dan taqwa yang sesungguhnya, kebahagiaan dan keselamatan dunia sampai akhirat akan kita miliki. Mudah-mudahan kita termasuk dalam golongan hamba Allah yang mendapat rida-Nya dan senantiasa dalam rahmat sertalindungan-Nya, bahagia dunia dan akhirat, amin.Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Kita telah memasuki bulan yang bersejarah yakni bulan dimana Rasulullah Saw. Dilahirkan, Rasul pembawa ajaran terkhir, yang mengeluarkan manusia dari gelap gulita kekafiran dan menyelamatkannya dari tepi jurang neraka. Unuk itu sudah seharusnya kita tergugah untuk memperingatinya dengan bentuk amal saleh sebagai ungkapan cinta kita kepada Rasulullah Saw.
Sebagai umat Muhammad Saw. yang mencintai beliau, sudah sepantasnya jika hari kelahiran baginda Nabi Saw. Ini, kita merayakan dan memperingatinya dengan kegiatan yang sesuai dengan anjuran syariat Islam sebagai bukti cinta kita kepada beliau. Dan bukan sebalaiknya, memperingati maulid dengan kemaksiatan dan kemungkaran yang bertolak belakang, kata cinta kepada beliau. Peringatan malid Nabi hendaklah dijadikan momentum penyelenggaraan kecintaan dan ketaatan pada ajaran yang di bawa oleh beliau. Allah Swt. Berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُوني يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَ اللهُ غَفُورٌ رَحيمٌ قُلْ أَطيعُوا اللهَ وَ الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لا يُحِبُّ الْكافِرينَ
Artinya: “katakanlah, ‘jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir.” (QS. Ali-Imron: 31-32)
Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Manifestasi cinta kepada Rasulullah Saw. Agaknya memerlukan penyelenggaraan kembali pada akhir-akhir ini, sebab merupakan tuntunan ajaran agama yang harus dijaga kemurniannya, jangan sampai diarahkan kepada hal-hal yang menyimpang. Hal ini penting untuk diingat, sebab pada akhir-akhir ini terliahat gejala-gejala yang perlu mendapat perhatian dan pelurusan, diantarnya, bentuk kegiatan peringatan maulid yang hanya sekedar kegiatan rutinitas untuk menghabiskan anggaran biaya yang sangat besar tanpa disemangati kecintaan kepada Rasulullah,sehingga bentuk-bentuk peringatannya terkadang menyimpang jauh, bahkan bertentangan dengan logika kecintaan kepada beliau.
Ketika kita mengadakan peringatan mauid Nabi Muhammad Saw. Untuk itu, nilai ritual yang ada didalamnya harus mencerminkan logika kecintaan kepada beliau, bukan yang kontradiktif dengan logika cinta. Perhatikan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Anas r.a. berikut ini:
عن أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: من أحب سنتى فقد أحبنى ومن أحبنى كان معى فى الجنة.
Artinya: “Diriwayatkan dari Anas r.a., dari Rasulullah Saw., bahwa beliau bersabda, barang siapa mencintai sunnahku maka sungguh ia telah mencintai aku, maka ia bersamaku di surga”
Di dalam kitab durrotun Nasihin di jelaskan:
فمن
أحب أن ينال رؤية النبي عليه الصلاة والسلام فليحبه حبا شديدا وعلامة الحب
الاطاعة فى السنته السنية واكثار الصلاة عليه لأن النبي صلى الله عليه
وسلم قال من أحب شيئا اكثر من ذكره
Artinya: “Maka barang siapa menginginkan dapat melihat Rasulullah Saw., hendaklah ia mencintai beliau dengan kecintaan yang sungguh. Adapun tanda-tanda cinta Rasul itu adalah mengikuti Sunnah beliau yang mulia dan memperbanyak berselawat untuk beliau, sebab Rasulullah Saw, telah bersabda, ‘barang siapa mencintai sesuatu, maka ia tentu banyak menyebutnya,”
Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Mecermati hadis di atas, dapatlah kita ketahui bahwa inti dari cinta kepada Rasulullah Saw. Adalah mengikuti dan meneladani sunnah-sunnah beliau dan memperbanyak membaca selawat kepada beliau. Dengan kata lain, ungkapan rasa cinta kepada beliau harus diaktualisasikan dalam bentuk sikap dan perbuatan yang berorientasi kepada nilai religi, bukan sebatas formalitas belaka. Karena ujung dari rasa cinta itu adalah peningkatan kualitas diri dalam pengamalan ajaran agama yang dibawa oleh beliau.
Pengakuan cinta kepada beliau haruslah disertai perbuatan yang mencerminkan kecintaan kepada beliau,bila tidak, maka sama saja cinta itu bohong adanya. Perhatikan pernyataan salah seorang waliyullah Hatim Az Zahid berikut ini:
من ادعى حب النبي صلى الله عليه وسلم من غير اتباع السنة فهو كذاب
Artinya: “Barang siapa mengaku cinta Rasulullah Saw.tanpa mau mengikuti perilaku beliau, maka ia adalah seorang pembohong.”
Hadrin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Oleh karena itu, bulan Rabiul Awal ini kita jadikan momentum untuk menyegarkan kecintaan kita kepada beliau, sekaligus mentaati dan mengikuti sunnah-sunnah beliau. Hal ini sangat refleksi dari cinta Rasul yang sesungguhnya, agar kelak kita memperoleh syafaat beliau yang artinya:
“diriwayatkan dari Aisyah.r.a., dia berkata, ‘barang siapa mencintai Rasulullah Saw., maka ia memperbanyak membaca selawat untuk belaiu. Adapun buahnya adalah memperoleh syafaat beliau dan dapat dan dapat menyertai beliau di surga’”
Allah Swt. Berfirman:
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
Artinya:
“Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang sia yang berpaling dari (ketaatan itu), maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS. An-Nisa’: 80)
Hadrin Jamaah Jum’at Rahimakumullah“Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang sia yang berpaling dari (ketaatan itu), maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS. An-Nisa’: 80)
Semoga peringatan demi peringatan maulid Nabi Saw. Yang diselenggarakan oleh kaum muslimin, benar-benar merupakan ekspresi kecitaan kepada beliau, dengan kesediaan penuh untuk menaati dan mengikuti sunnah-sunnah beliau, sehingga kita akan mendapatkan syafa’at beliau, dan dapat bersama orang yang kita cintai itu di dalam surga, amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ
فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ
اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ
Khotbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ
اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ.
وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ
Delapan Wasiat Rasulullah saw
ان
الحمد لله الذى أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله. أرسله
بشيرا ونذيرا وداعيا الى الله باذنه وسراجا منيرا. أشهد ان لا اله الا الله
وحده لا شريك له. شهادة اعدها للقائه ذخرأ. واشهد ان محمدا عبده و رسوله.
ارفع البرية قدرا. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه
وسلم تسليما كثيرا. أما بعد. فياأيها الناس اتقوالله حق تقاته ولاتموتن الا
وأنتم مسلمون.
Ma’asyiral Musilimin RahimakumullahAl-Hamdulillah, segala puji bagi Allah Yang Maha Indah yang ke-indahannya tak pernah menyusut walau dibagi kepada seluruh warga jagad raya. Keindahan inilah yang membuat manusia betah berada di dunia dan enggan meninggalkannya. Semoga kita semua senantiasa diberi kesadaran bahwa keindahan di dunia ini hanyalah sementara. Dan tidak menjadikanya sebagai orientasi dan tujuan dalam hidup ini اللهم لا تجعل الدنيا أكبر همي ولا مبلغ علمي
Hadirin Jamaa’ah Jum’ah yang dirahmati Allah
Potongan do’a di atas nampaknya sangat relevan dalam kehidupan kita sekarang ini. Do’a pengharapan kepada-Nya agar senantiasa memberikan petunjuk kepada kita, supaya tidak menjadikan dunia se-isinya sebagai cita-cita dalam kehidupan dan orientasi dalam ilmu pengetahuan. Karena cita-cita dan ilmu pengetahuan hendaknya digunakan untuk meniti jalan menuju kepada-Nya, bukan mengabdi kepada dunia.
Namun, realita sungguh berbeda. Kehidupan di sekitar kita akhir-akhir ini menunjukkan arah yang berlawanan. Lihatlah telah muncul istilah Orang Kaya Baru di sekitar kita. Manusia-manusia luar biasa yang dengan bersusah payah dan penuh perjuangan, sampai pada taraf hidup yang menakjubkan. Mereka telah meninggalkan garis kemiskinan untuk beranjak pada tingkat kehidupan dengan penuh kemewahan.
Tidak, khutbah ini tidak untuk membincang mereka atau menyirami penyakit hasud dalam hati, sehingga menjadi lebih subur. Namun, hendak mengingatkan bagaimanakah sebaiknya kita menyikapi perubahan itu. Karena dunia dan seisinya adalah cobaan bagi manusia.
Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Di suatu waktu Rasulullah saw. berbincang dengan hangat bersama Abu Dzar al-Ghifari. Hingga pada suatu saat, al-Ghifari berkata kepada Nabi S.a.w, "Ya Rasulullah, berwasiatlah kepadaku." Beliau bersabda, "Aku wasiatkan kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah, karena ia adalah pokok segala urusan."
Memang benar taqwa adalah pangkal segalanya. Seperti firman-Nya: إن أكرمكم عند الله اتقاكم
Namun taqwa itu bagaikan konsep teoritis yang harus diterjemahkan biar mudah untuk diraih. Bagi kaum awam, taqwa itu cukup sulit untuk diaplikasikan dalam kehidupan. Bagaimanakah caranya mengikat hati dalam ketaqwaan kepada Allah swt? Sedangkan hati kita sering tersangkut dalam kepentingan-kepentingan duniawi? Bagaimanakah caranya? Rasulullah tidak menerangkan tentang hal ini, dan Abu Dzarpun tidak menanyakannya. Mungkin bagi dia taqwa adalah perkara yang jelas. Namun marilah kita ikuti percakapan beliau selanjutnya.
Lalu Abu Dzar pun kembali bertanya kepada Rasulullah "Ya Rasulallah, tambahkanlah wasiat apalagi yang penting setelah taqwa.".
Rasulullah saw menjawab "Hendaklah engkau senantiasa membaca Al Qur`an dan berdzikir kepada Allah azza wa jalla, karena hal itu merupakan cahaya bagimu dibumi dan simpananmu dilangit."
Ingatlah kita pada do’a khatmil Qur’an yang sangat masyhur
اللَّهُمَّ ارْحَمْنَا
بِالْقُرْآنِ, وَاجْعَلْهُ لَنَا إِمَامًا وَنُوْرًا وَهُدًى وَرَحْمَةً,
اللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نَسِيْنَا, وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا
جَهِلْنَا, وَارْزُقْنَا تِلاَوَتَهُ آنَآءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ
النَّهَارِ, وَاجْعَلْهُ لَنَا حُجَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Keduanya bagaikan deposito bagi diri kita, bunganya dapat
dipergunakan untuk menerangi perjalanan kita di dunia, sedangkan
tabungannya adalah kekayaan yang dapat mengamankan kehidupan di akhirat
nanti.Abu Dzar merasa masih ada hal lain yang hendak disampaikan Nabi Muhammad saw. iapun berkata meminta "Ya Rasulullah, tambahkanlah.".
Rasulullah menjawab "Janganlah engkau banyak tertawa, karena banyak tawa itu akan mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah."
Tertawa adalah hal yang kelihatan sangat sepele, tetapi Rasulullah saw melihat itu sebagai sesuatu yang memiliki dampak psikologis dalam jiwa manusia. Karena kebanyakan manusia ketika tertawa akan melupakan segala kewajiban sebagai seorang hamba. Hal ini berbeda dengan model tertawa Rasulullah saw seperti yang diterangkan dalam sebuah hadits Abdullah bin al Harits yang mengatakan, ”Tertawanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hanya sekedar senyum." (HR. Tirmidzi) Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah.” (HR. Tirmidzi)
Kalau demikian, apa maksud stasiun televise berbondong-bondong menghadirkan acara humor, lawak ataupun dagelan? Bukankah itu sama artinya sebuah usaha pembodohan? Ataukah hanya sekedar relaksasi dari kejenuhan hidup ini? Entahlah, yang Jelas Rasulullah telah berwasiat demikian. Saya rasa kepercayaan kita kepada Nabi Muhammad saw, jauh mengatasi dari pada berbagai produser acara di televise.
Sebagai muslim yang penuh kehati-hatian dan ingin tahu Abu Dzar pun melanjutkan pertanyaanya kembali "lalu apa lagi ya Rasulullah.?"
Rasulullah saw pun menjawab "Hendaklah engkau pergi berjihad karena jihad adalah kependetaan ummatku."
Bagaimanakah maksud jihad sebagai kependetaan? Bukankah jihad itu kepahlawanan? Inilah yang perlu pemahaman mendalam. Kalimat ini sangat padu dengan apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah saw bahwa jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu "Kita baru saja kembali dari jihad kecil menuju jihad yang besar. Para sahabat bertanya, "Apa jihad besar itu?, Nabi SAW menjawab, "Jihaad al-qalbi (jihad hati).' Di dalam riwayat lain disebutkan jihaad al-nafs". (lihat Kanz al-'Ummaal, juz 4/616; Hasyiyyah al-Baajuriy, juz 2/265).
Masih ada lagi selain itu, karena Abu Dzar kembali meminta "Lagi ya Rasulullah?"
rasulpun menjawab "Cintailah orang-orang miskin dan bergaullah dengan mereka."
jikalau keempat hal yang telah lalu seolah sangat bersifat pribadi, maka kali ini mencintai dan menggauli orang miskin membuktikan adanya unsure sosialis yang tinggi dalam ajaran Rasulullah saw. mencintai dan bergaul dengan orang miskin merupakan manifestasi dari kemanusiaan seorang manusia. Dari berbagai ayat dalam al-Qur’an, kesemuanya menunjukkan bahwa hubungan itu selalu dihiasi dengan pemberian dan pembagian. Sebagaimana dalam surat An-Nisa’ 36.
Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh {294}, dan teman sejawat, ibnu sabil {295} dan hamba sahayamu.
Lalu Abu Dzar meminta lagi kepada Rasulullah saw dengan berkata "Tambahilah lagi."
Rasulullah saw menjawab "Katakanlah yang benar walaupun pahit akibatnya."
Qulil haqqa walau kana murran, قل الحق ولو كان مرا karena memang kebenaran bagi sebagian keadaan adalah kepahitan itu sendiri. Inilah yang sedang terjadi di sekitar kita kali ini. Ketika kebohongan sudah mengurat-nadi, seolah kebenaran enggan menunjukkan diri. Bukan karena malu atau terdesak dengan kebohogan, namun karena keduanya tak mungkin ada berdampingan dengan bersamaan.
Abu Dzar masih saja bertanya dan meminta, “tambahlah lagi untukku!."
Rasulullah pun menjawab "Hendaklah engkau sampaikan kepada manusia apa yang telah engkau ketahui dan mereka belum mendapatkan apa yang engkau sampaikan. Cukup sebagai kekurangan bagimu jika engkau tidak mengetahui apa yang telah diketahui manusia dan engkau membawa sesuatu yang telah mereka dapati (ketahui)."
Kemudian beliau memukulkan tangannya kedadaku seraya bersabda,"Wahai Abu Dzar, Tidaklah ada orang yang berakal sebagaimana orang yang mau bertadabbur (berfikir), tidak ada wara` sebagaimana orang yang menahan diri (dari meminta), tidaklah disebut menghitung diri sebagaimana orang yang baik akhlaqnya."
Itulah beberapa wasiat emas yang disampaikan Rasulullah S.a.w kepada salah seorang sahabat terdekatnya. Semoga kita dapat meresapi dan mengamalkan wasiat beliau.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ
ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي
وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ
للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ
سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ
رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ
وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا
اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى
بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ
وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى
بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ
اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ
Senin, 19 Desember 2011
KHUTBAH IDUL ADHA Ketauhidan Mengangkat Derajat Umat Manusia
Khutbah pertama:
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (×3) اللهُ اَكبَرْ (×3
اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ
اللهُ اَكْبَرْ ماتحرك متحرك وارتـج. ولبى محرم وعـج. وقصد الحرم من كل فـج. وأقيمت فى هذا الأيام مناسك الحج. اللهُ اَكْبَرْ (3×)
اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ ومن تبع دين محمد. وسلم تسليما كثيرا. فياايها المسلمون الكرام. اوصيكم ونفسى بتقوى الله. واعلموا أن هذا الشهر شهر عظيم. وأن هذاليوم يوم عيد المؤمين. يوم خليل الله إبراهيم أبو ألانبياء والمرسلين. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Hadirin Jama’ah Idul Adha Rahimakumullah,
Alhamdulillah pagi ini kita dapat berkumpul menikmati indahnya matahari, sejuknya hawa pagi sembari mengumandangkan takbir mengagungkan Ilahi Rabbi dirangkai dengan dua raka’at Idul Adha sebagai upaya mendekatkan diri kepada Yang Maha Suci. Marilah kita bersama-sama meningkatkan taqwa kita kepada Allah swt dengan sepenuh hati. Kita niatkan hari ini sebagai langkah awal memulai perjalanan diri mengarungi kehidupan seperti yang tercermin dalam keta’atan dan ketabahan Nabi Allah Ibrahim as menjalani cobaan dari Allah Yang Maha Tinggi.
Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah
Hari ini ini adalah hari yang penuh berkah, hari yang sangat bersejarah bagi umat beragama di seluruh penjuru dunia, dan bagi umat muslim pada khususnya. Karena hari ini merupakan hari kemenangan seorang Nabi penemu konsep ke-tuhidan dalam berketuhanan. Sebuah penemuan maha penting dijagad raya, tak tertandingi nilainya dibandingkan dengan penemuan para santis dan ilmuan. Karena berkat konsep ke-tauhidan yang ditemukan Nabi Allah Ibrahim, manusia dapat menguasai alam dengan menjadi khalifah alal ardh. Setelah Nabi Allah Ibrahim as menyadari bahwa Allah swt adalah The Absolute One, Dzat yang paling Esa, maka semenjak itu juga umat manusia tidak dibenarkan menyembah matahari, menyembah bintang, menyembah binatang, menyembah batu dan alam. Ini artinya manusia telah memposisikan dirinya di atas alam. Ajaran ke-Esa-an yang diprakarsai oleh Nabi Allah Ibrahim telah mengangkat derajat manusia atas alam se-isinya.Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Sesungguhnya tidak berlebihan jika hari ini kita jadikan sebagai salah satu hari besar kemanusiaan internasional yang harus diperingati oleh manusia se-jagad raya. Oleh karena itu hari ini adalah momen yang tepat untuk mengenang perjuangan Nabi Allah Ibrahim as dan upayanya menemukan Allah swt. Bagaimana beliau bersusah payah melatih alam kebathinannya untuk mengenal Tuhan Allah Yang Paling Berkuasa. Bukankah itu hal yang amat sangat rumit? Apalagi jika kita membandingkan posisi manusia sebagai makhluk yang hidup dalam dunia kebendaan, sedangkan Allah Tuhan Yang Maha Sirr berada ditempat yang tidak dapat dicapai dengan indera? Bagaimana Nabi Allah Ibrahim bisa menemukan-Nya? Tentunya melalui berbagai jalan thariqah yang panjang. Melalui latihan dan penempaan jiwa yang berat. Untuk itulah mari kita lihat rekaman tersebut dalam surat Al-An’am ayat 75-79
وَكَذَلِكَ
نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ
الْمُوقِنِينَ(75) فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا
قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ
(76)فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ
قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ
الضَّالِّينَ (77)فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي
هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا
تُشْرِكُونَ(78) إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (79)
Dan
demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami
yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia
termasuk orang yang yakin. (75)
Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam “ (76)
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat." (77)
Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (78)
Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam “ (76)
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat." (77)
Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (78)
Sesungguhnya
aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi,
dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk
orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (79)
Para Hadirin yang dimuliakan Allah
Jika kita lihat dokumen sejarah yang termaktub dalam al-Qur’an di atas, hal ini menunjukkan betapa proses pencarian yang dilakukan Nabi Allah Ibrahim as sangatlah berat. Meskipun pada akhirnya Nabi Ibrahim berhasil menemukan Tuhan Allah Rabbil Alamin, bukan tuhan suku dan bangsa tertentu, tapi Tuhan seru sekalian alam. Tuhan yang senantiasa berada sangat dekat dengan manusia baik ketika terpejam maupun ketika terjaga. Itulah sejarah terbesar yang dipahatkan oleh Nabi Allah Ibrahim di sepanjang relief kehidupan umat manusia yang seharusnya selalu dikenang oleh umat beragama.
Jika kita lihat dokumen sejarah yang termaktub dalam al-Qur’an di atas, hal ini menunjukkan betapa proses pencarian yang dilakukan Nabi Allah Ibrahim as sangatlah berat. Meskipun pada akhirnya Nabi Ibrahim berhasil menemukan Tuhan Allah Rabbil Alamin, bukan tuhan suku dan bangsa tertentu, tapi Tuhan seru sekalian alam. Tuhan yang senantiasa berada sangat dekat dengan manusia baik ketika terpejam maupun ketika terjaga. Itulah sejarah terbesar yang dipahatkan oleh Nabi Allah Ibrahim di sepanjang relief kehidupan umat manusia yang seharusnya selalu dikenang oleh umat beragama.
Selain sebagai orang yang
menemukan konsep Ketuhaan. Beliau juga salah satu hamba tersukses di
dunia yang mampu menaklukkan nafsu dunyawi demi memenangkan kecintaannya
kepada Allah Sang Maha Suci. Fragmen ketaatan dan keikhlasannya untuk
menyembelih Ismail sebagai anak tercinta yang diidam-idamkannya, adalah
bukti kepasrahan total kepada Allah swt. Bayangkan saudara-saudara,
Ismail adalah anak yang telah lama dinanti dan diidamkan, Ismail adalah
anak tercintanya namun demikian semua itu ditundukkan oleh Nabi Ibrahim
as demi memenangkan cintanya kepada Allah swt.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Dua hal di atas yaitu penemuan Ibrahim atas ke-Esaan Allah dan perintah penyembelihan terhadap anak tercinta merupakan satu perlambang bahwa ruang di mana Nabi Allah Ibrahim as. hidup adalah garis batas yang memisahkan antara kehidupan brutal dan kehidupan berpri-kemanusiaan. Penyembelihan terhadap Ismail yang kemudian diganti dengan kambing merupakan tanda bahwa semenjak itu tidak ada lagi proses penyembahan dengan cara pengorbanan manusia (sesajen). Karena manusia adalah makhluk mulia yang tak pantas dikorbankan secara cuma-cuma, meskipun dilakukan dengan suka rela. Allah swt sendiri yang tidak memperbolehkannya, dengan Kuasa-Nya ia ganti Ismail dengan seekor kambing.
Itulah beberapa hal yang harus dikenang dari Nabi Allah Ibrahim as. Sebagai umat manusia yang beriman dan beragama sudah sewajibnya kita mengenang dan menteladani apa yang dilakukan Nabi Allah Ibahim as seperti yang diterangkan dalam al-Baqarah 127:
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Dua hal di atas yaitu penemuan Ibrahim atas ke-Esaan Allah dan perintah penyembelihan terhadap anak tercinta merupakan satu perlambang bahwa ruang di mana Nabi Allah Ibrahim as. hidup adalah garis batas yang memisahkan antara kehidupan brutal dan kehidupan berpri-kemanusiaan. Penyembelihan terhadap Ismail yang kemudian diganti dengan kambing merupakan tanda bahwa semenjak itu tidak ada lagi proses penyembahan dengan cara pengorbanan manusia (sesajen). Karena manusia adalah makhluk mulia yang tak pantas dikorbankan secara cuma-cuma, meskipun dilakukan dengan suka rela. Allah swt sendiri yang tidak memperbolehkannya, dengan Kuasa-Nya ia ganti Ismail dengan seekor kambing.
Itulah beberapa hal yang harus dikenang dari Nabi Allah Ibrahim as. Sebagai umat manusia yang beriman dan beragama sudah sewajibnya kita mengenang dan menteladani apa yang dilakukan Nabi Allah Ibahim as seperti yang diterangkan dalam al-Baqarah 127:
Dan (ingatlah), ketika
Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail
(seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami),
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
Dengan kata lain Allah swt
menganjurkan manusia untuk mengingat dan meneladai kehidupan Ibrahim
terutama ketika Nabi Allah Ibrahim as merawat dan merekontruksi ka’bah
sebagai baitullah. Sehingga berbagai ibadah dan ritual peyembahan kepada
Allah swt menjadi kewajiban bagi umat muslim sedunia yang mampu
menjalankannya. Itulah ibadah Haji.
Para Jama’ah idhul adha yang berbahagia
Haji meupakan salah satu ibadah yang sarat dengan simbol dan perlambang. Oleh karena itu, jikalau ibadah haji dilaksanakan tanpa mengerti makna yang tersimpan didalamnya sangatlah percuma, karena yang demikian itu hanya menyisakan kelelahan belaka. Kelelahan yang kerontang tanpa kesadaran.
Haji meupakan salah satu ibadah yang sarat dengan simbol dan perlambang. Oleh karena itu, jikalau ibadah haji dilaksanakan tanpa mengerti makna yang tersimpan didalamnya sangatlah percuma, karena yang demikian itu hanya menyisakan kelelahan belaka. Kelelahan yang kerontang tanpa kesadaran.
Kaum muslimin dan muslimat,
meskipun saat ini kita berada di sini, jauh dari tanah Haram, tidak
berarti kita tidak bisa meneladani Nabi Ibrahim. Karena keteladanan itu
tidaklah bersifat fisik. Namun sejatinya keteladanan itu berada dalam
semangat yang tidak mengenal batas ruang dan waktu. Keteladanan atas
ibadah haji dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari ketika kita
berinteraksi dengan tetangga, teman, saudara dan umat manusia pada
umumnya.
Saudara-saudaraku seiman dan setaqwa
Saudara-saudaraku seiman dan setaqwa
Bila kita tengok bahwa haji
dimulai dengan niat yang dibarengi dengan menanggalkan pakaian
sehari-hari untuk digantikan dengan dua helai kain putih yang disebut
dengan busana ihram. Maka ketahuilah dibalik keseragaman ini tersimpan
beragam makna. Pertama bahawa pakaian yang selama ini kita pakai
sehari-hari sangat menunjukkan derajat dan status sosil manusia. Oleh
karena itu, ketika seorang muslim telah berniat untuk haji dan berniat
menghadap-Nya maka segeralah tanggalkan pakaian itu dan gantilah dengan
busana Ihram yang serba putih, karena manusia di hadapan Ilahi Rabbi
sejatinya tidak berbeda.
Kedua, Pakaian itu tidak hanya
apa yang kita pakai namun juga identitas yang menyelimuti diri manusia
hendaknya segera diluluhkan ketika menghadap-Nya. Allah tidak akan
pernah membedakan antara peabat dan rakyat, antar penguasa dan hamba,
antara pedagang dan nelayan. Semua itu dimata Allah swt adalah sama.
Seperti putihnya seragam yang membalut raga.
المسلمون إخوة لافضل لأحد على أحد إلابالتقوى (رواه الطبرانى)
Artinya, orang-orang Islam
itu satu sama lain bersaudara, tiada yang lebih utama seorangpun dari
seorang yang lain, melainkan karena taqwanya (HR. Tabhrani)
Ketiga, Pakaian itu adalah sifat
manusia. Ketika seorang muslim telah berniat menghadap Allah Sang Maha
Kuasa, hendaklah ia mencopot segala identitasnya. Baik identitas sebagai
tikus, buaya, serigala ataupun identitas sebagai kupu-kupu, merpati
ataupu kasuwari. Artinya, segala macam sifat yang melekat baik negative
maupun positif sebaiknya dihilangkan. Jangan pernah merasa sebagai
apa-apa jikalau engkau menghadap-Nya.
Keempat, pakaian itu mengingatkan
manusia akan ketakberdayaannya. Nanti ketika menghadap Ilahi Rabbi
manusia tidak membawa apa-apa kecuali kain putih yang menemaninya.
Sebagai pertanda bahwa sebaiknya manusia hidup dengan sederhana, karena
semua akan ditinggalkannya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Selanjutnya Thowaf mengelilingi ka’bah tujuh kali putaran adalah perlambang kedekatan manusia dengan Sang Khaliq. Begitu harunya jiwa manusia ketika lebur mendekatkan diri pada Baitullah, seolah ke-dirian manusia hilang ditelan kebesaran-Nya. Thowaf dapat diartikan hilangnya diri terhanyut dalam pusaran Energi keilahiyan yang tak terkira. Thowaf adalah simbol hablum minallah yang hakiki, bahkan lebih dari itu. Tidak ada lagi habl penghubung antara manusia dan Sang Khaliq. Karena keduanya telah menyatu.
Kemudian sa’i berlari kecil dari shofa ke marwah. Ini merupakan rangkaian setelah Thowaf yang dapat diartikan sesuai perspketif sejarah. Ketika Siti Hajar Ibunda Nabi Ismail ditinggal oleh Nabi Allah Ibrahim as. Maka ia pun harus bertarung mempertahankan hidup ini dengan mencari air dari bukit Shofa ke Marwa. Kehidupan sarat dengan perjuangan. Usaha menjadi suatu kewajiban bagi manusia. Tiada air yang turun dari langit, namun air itu harus dicari sumbernya. Begitulah kehidupan di dunia ini. Hidup itu suci dan harus dijaga seperti makna hafiah kata Shofa yaitu kemurnian dan kesucian sedangkan. Namun hidup itu juga cita-cita yang jumawa dan penuh idealism seperti makna kata marwa yaitu kemurahan, memaafkan dan menghargai.
Selanjutnya Thowaf mengelilingi ka’bah tujuh kali putaran adalah perlambang kedekatan manusia dengan Sang Khaliq. Begitu harunya jiwa manusia ketika lebur mendekatkan diri pada Baitullah, seolah ke-dirian manusia hilang ditelan kebesaran-Nya. Thowaf dapat diartikan hilangnya diri terhanyut dalam pusaran Energi keilahiyan yang tak terkira. Thowaf adalah simbol hablum minallah yang hakiki, bahkan lebih dari itu. Tidak ada lagi habl penghubung antara manusia dan Sang Khaliq. Karena keduanya telah menyatu.
Kemudian sa’i berlari kecil dari shofa ke marwah. Ini merupakan rangkaian setelah Thowaf yang dapat diartikan sesuai perspketif sejarah. Ketika Siti Hajar Ibunda Nabi Ismail ditinggal oleh Nabi Allah Ibrahim as. Maka ia pun harus bertarung mempertahankan hidup ini dengan mencari air dari bukit Shofa ke Marwa. Kehidupan sarat dengan perjuangan. Usaha menjadi suatu kewajiban bagi manusia. Tiada air yang turun dari langit, namun air itu harus dicari sumbernya. Begitulah kehidupan di dunia ini. Hidup itu suci dan harus dijaga seperti makna hafiah kata Shofa yaitu kemurnian dan kesucian sedangkan. Namun hidup itu juga cita-cita yang jumawa dan penuh idealism seperti makna kata marwa yaitu kemurahan, memaafkan dan menghargai.
Jika thowaf menggambarkan
hubungan dan kemanunggalan manusia dengan Sang Khaliq, maka sa’i
menunjukkan bahwa kehidupan haruslah dijalani sesuai dengan hukum
kemanusiaan. Berinteraksi, berhubungan dan berkomunikasi dengan sesame.
Maka kehidupan ini haruslah menyeimbangkan antara keilahiyahan dan
keinsaniyahan.
Ma’asyiral Muslimin yang berbahagia
Selain itu simbolisme dalam ibadah haji juga melekat pada Ka’bah Baitullah. Di sana ada hijir Ismail yang berarti ‘pangkuan Ismail’. Di sanalah seorang Ismail putera Ibrahim yang membangun Ka’bah pernah berada dalam pangkuan sang Ibu Hajar, seorang wanita hitam yang miskin juga seorang budak. Dengan ini Allah swt membuktikan bahwa seorang hamba pun dapat dimuliakanya dengan memposisikan kuburnya disamping ka’bah baitullah. Itu semua karena ketaqwaannya. Ketaqwaan Ibu Hajar yang mampu berhijrah menuju kebaikan dan kemuliaan.
Selain itu simbolisme dalam ibadah haji juga melekat pada Ka’bah Baitullah. Di sana ada hijir Ismail yang berarti ‘pangkuan Ismail’. Di sanalah seorang Ismail putera Ibrahim yang membangun Ka’bah pernah berada dalam pangkuan sang Ibu Hajar, seorang wanita hitam yang miskin juga seorang budak. Dengan ini Allah swt membuktikan bahwa seorang hamba pun dapat dimuliakanya dengan memposisikan kuburnya disamping ka’bah baitullah. Itu semua karena ketaqwaannya. Ketaqwaan Ibu Hajar yang mampu berhijrah menuju kebaikan dan kemuliaan.
Sedangkan padang Arafah sebagai
tempat para haji menunaikan wuquf merupakan ruang luas yang terhampar
untuk memasak diri seorang muslim hingga ia mengenal siapa jati dirinya
sebagai manusia. Arafah adalah ruang berintrospeksi diri, siapa, dari
mana sosok diri itu dan hendak kemana nantinya. Oleh karena itu ruang
ini dinamakan arafah yang mempunyai satu asal kata yang sama dengan
ma’rifat yaitu mengeatuhi dan mengerti hakikat diri. Diharapkan setelah
diramu dalam padang arafah ini seorang diri bisa menjadi lebih arif
(bijaksana) dalam mengarungi kehidupan dan mempertimbangkan antara
kepentingan dunia dan akhirat seperti yang disimbolkan dalam thowaf dan
sa’i.
Dari Arafah menuju Muzdalifah
guna mempersiapkan diri dan mempersenjatainya melawan syaithan yang akan
dihadapi nanti di Mina. Manusia haruslah selalu waspada bahwa syaitan
ada dimana-mana. Karena itulah senjata pemusnahnya tidaklah sesuatu yang
besar dan menakutkan. Tetapi cukup dengan kerikil yang kecil sebagai
simbol atas kesabaran dan keteguhan hati.
Ma’asyiral Muslimin
Demikianlah uraian dalam khutbah ini semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Dan amrilah kita berdoa kepada Allah swt semoga amal ibadah kita diterima. Semoga kita yang disini diberikan kesempatan mengunjungi tanah haram di lain waktu, seperti cita-cita kita semua. Dan semoga mereka yang berada di sana diberi keselamatan semua. Amien
Demikianlah uraian dalam khutbah ini semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Dan amrilah kita berdoa kepada Allah swt semoga amal ibadah kita diterima. Semoga kita yang disini diberikan kesempatan mengunjungi tanah haram di lain waktu, seperti cita-cita kita semua. Dan semoga mereka yang berada di sana diberi keselamatan semua. Amien
أعُوْذُ
بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ
الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua:
اللهُ
اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ
كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ
اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ
ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا
صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ
اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ
اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ
اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ
وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ
وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ
وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا
اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً
يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ
وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ
Hari Perjuangan dan Hari Pengorbanan
ان الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور انفسنا ومن سيأت أعمالنا من يهده الله فلامضل له ومن يضلله فلاهادي له, أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده و رسوله. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين, أما بعد. فياعباد الله أوصيكم ونفسى بتقوى الله..
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Marilah bersama-sama kita saling berwasiat untuk meningkatkan taqwa kita semua. Sudah tak terhitung ni’mat dan rahmat yang diberikan oleh Allah swt kepada kita. Hingga kita masih bisa berkumpul bersama melaksanakan ibadah kepada-Nya dengan mengagungkan nama-Nya, Alhamdulillah.
Jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah,
Pada bulan ini kehidupan kita sebagai umat muslim Indonesia sungguh berada dalam hari-hari bersejarah. Setelah bersama-sama kita melalui hari raya qurban, kita berjumpa dengan hari pahlawan. Keduanya adalah adalah momen yang sarat dengan nilai kesejarahan. Ketahuilah bahwa kedua momentum itu menuntun adanya pengorbanan. Karena pengorbanan merupakan syarat wajib sebuah keberhasilan.
Jama’ah Jum’ah yang dimuliakan Allah
Kesuksesan Nabi Ibrahim as. sebagai hamba yang paling dicintai Allah –khalilullah- telah terbukti dengan ketaatan beliau melaksanakan segala perintah-Nya. Bahkan demi menemukan petunjuk ke-tuhanan dan ke-tauhidan, Nabi Ibrahim as harus melawan arus. Melawan penguasa dan kehendak orang tua. Dalam ruang pemujaan, nabi Ibrahim beraksi, beliau hancurkan semua berhala, kemudian ia kalungkan kapak dipundak berhala yang tersisa. Maka merekapun bertanya siapa yang melakukan pengrusakan ini? siapa yang berani menghancurkan tuhan-tuhan kami? Ibrahimpun berargumen “bahwa pelaku itu meninggalkan bukti, lihat saja kapak alat pengrusak itu masih ada dipundak, berarti ialah yang melakukannya”. Dengan berkata demikian, Nabi Ibrahim as dianggap menghina. “Bukankah itu berhala yang tak kuasa berbuat apa-apa? bagaimana kamu bisa menuduhnya menghancurkan segalanya?” Nabi Ibrahim pun menjawabnya “jika memang ia tak punya kuasa mengapa engkau mengbdian diri dan menyembah pada-nya?” Singkat cerita, disiapkanlah untuk Nabi Ibrahim kayu bakar dan tungku perapian, sebagai ganjaran dari sebuah pembangkangan. Tapi Allah yang Maha Kuasa berkehendak lain, energi panas yang terkandung dalam api diganti dengan dingin yang menyelimuti. Sehingga Ibrahim bisa menyelamatkan diri. Allah swt bersabda:
Wahai Api, jadilah engkau dingin yang menyelamatkan Ibrahim
Ini adalah pengorbanan pertama kali yang dilakukan Nabi Ibrahim. Ia harus rela kehilangan orang tua yang selama ini menyayanginya. Ia juga kehilangan komunitas masyarakatnya. Kemana kira-kira Ibrahim ketika itu pergi setelah pembakaran terhadap dirinya gagal? Itulah pengorbanan.
Hadirin Jama’ah Jum’ah yang Berbahagia
Andai manusia tahu, bahwa pengorbanan itu sebuah ujian dari Allah Yang Maha Kuasa yang harus dijalani dan dilewati semua hambanya. Begitu beratnya pengorbanan Nabi Ibrahim as yang dilakukannya demi kebahagiaan anak cucu dan umat manusia setelahnya. Ia harus rela mengorbankan Ismail sang anak kesayangan, untuk disembelih oleh tangannya sendiri. Ini adalah cobaan terbesar sepanjang sejarah manusia. Dan Nabi Ibrahimpun menta’atinya. Karena ini adalah perintah dari Yang Maha Kuasa. Begitu tulusnya hati Nabi Ibrahim merelakan Ismail sehingga Allah swt menyiapkan seekor kambing sebagai gantinya. Kepasrahan dan keikhlasan Nabi Ibrahim itu dilakukannya sebagai cara mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Mendekat dalam bahasa arab adalah qaruba karena itu usaha mendekatkan diri disebut dengan qurban. Sungguh hidup adalah pengorbanan. Semakin besar pengorbanan, semakin besar pula anugrahnya. Semakin tulus berkorban semakin besar nilainya.
Jama’ah Jum’ah yang dimuliakan Allah
Pengorbanan Nabi Ibrahim as itulah yang menjadi teladan para pejuang. Mereka tidak punya motif dan kepentingan. Dengan tulus ikhlas berjuang mengusir penjajahan lillahi ta’ala. Niatnya adalah menegakkan hak-hak adami yang harus dipenuhi, demi terselenggaranya hak-hak Allah dalam menjalankan ibadah. Kemerdekaan yang telah diplokamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan. Apapun yang terjadi. Oleh karenanya ketika, sekutu dan bala tentaranya berniat menguasai kembali Indonesia, maka pada saat itu pula tanggal 22 Oktober 1945 Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari beserta segenap ulama lainnya mewajibkan jihad melawan sekutu. Inilah yang kemudian terkenal dengan sebutan resolusi Jihad.
Selang beberapa minggu, ternyata sekutu dan Belanda benar-benar tidak merelakan Indonesia merdeka. Karena itu pada tanggal 10 Nopember 1945, ia menggempur Surabaya sebagai salah satu kota besar di Indonesia. Dengan adanya maklumat yang telah tersebar sebelumnya tentang wajibnya membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan, maka segenap bangsa Indoneisa, santri dan kyia tukang becak dan para kuli dari berbagai pelosok daerah bergabung datang berhamburan mempertahankan kemerdekaan di Surabaya.
Dengan berkoordinasi dengan para kyai, Bung Tomo dan segenap elemen bangsa bahu membahu mengangkat senjata mempertahankan kemerdekaan bangsa. Meskipun senjata yang digunakan oleh bangsa Indonesia, tidaklah secanggih senjata tentara Belanda. Hanya saja semangat juang yang tinggi, dan motifasi yang luhur disertai tulusnya niat dan ikhlas, merubah senjata sederhana itu menjadi sangat luar biasa. Bambu Runcing, Menjalin, Keris, Golok, Pedang, Celurit, Kelewang, dan apapun jenisnya menjadi sangat berbahaya bila disertai keikhlasan.
Spirit melawan penindasan inilah yang telah diajarkan oleh Al-Qur’an kepada umat manusia. Dalam al-Baqarah ayat 190 diterangkan
Kesuksesan Nabi Ibrahim as. sebagai hamba yang paling dicintai Allah –khalilullah- telah terbukti dengan ketaatan beliau melaksanakan segala perintah-Nya. Bahkan demi menemukan petunjuk ke-tuhanan dan ke-tauhidan, Nabi Ibrahim as harus melawan arus. Melawan penguasa dan kehendak orang tua. Dalam ruang pemujaan, nabi Ibrahim beraksi, beliau hancurkan semua berhala, kemudian ia kalungkan kapak dipundak berhala yang tersisa. Maka merekapun bertanya siapa yang melakukan pengrusakan ini? siapa yang berani menghancurkan tuhan-tuhan kami? Ibrahimpun berargumen “bahwa pelaku itu meninggalkan bukti, lihat saja kapak alat pengrusak itu masih ada dipundak, berarti ialah yang melakukannya”. Dengan berkata demikian, Nabi Ibrahim as dianggap menghina. “Bukankah itu berhala yang tak kuasa berbuat apa-apa? bagaimana kamu bisa menuduhnya menghancurkan segalanya?” Nabi Ibrahim pun menjawabnya “jika memang ia tak punya kuasa mengapa engkau mengbdian diri dan menyembah pada-nya?” Singkat cerita, disiapkanlah untuk Nabi Ibrahim kayu bakar dan tungku perapian, sebagai ganjaran dari sebuah pembangkangan. Tapi Allah yang Maha Kuasa berkehendak lain, energi panas yang terkandung dalam api diganti dengan dingin yang menyelimuti. Sehingga Ibrahim bisa menyelamatkan diri. Allah swt bersabda:
Wahai Api, jadilah engkau dingin yang menyelamatkan Ibrahim
Ini adalah pengorbanan pertama kali yang dilakukan Nabi Ibrahim. Ia harus rela kehilangan orang tua yang selama ini menyayanginya. Ia juga kehilangan komunitas masyarakatnya. Kemana kira-kira Ibrahim ketika itu pergi setelah pembakaran terhadap dirinya gagal? Itulah pengorbanan.
Hadirin Jama’ah Jum’ah yang Berbahagia
Andai manusia tahu, bahwa pengorbanan itu sebuah ujian dari Allah Yang Maha Kuasa yang harus dijalani dan dilewati semua hambanya. Begitu beratnya pengorbanan Nabi Ibrahim as yang dilakukannya demi kebahagiaan anak cucu dan umat manusia setelahnya. Ia harus rela mengorbankan Ismail sang anak kesayangan, untuk disembelih oleh tangannya sendiri. Ini adalah cobaan terbesar sepanjang sejarah manusia. Dan Nabi Ibrahimpun menta’atinya. Karena ini adalah perintah dari Yang Maha Kuasa. Begitu tulusnya hati Nabi Ibrahim merelakan Ismail sehingga Allah swt menyiapkan seekor kambing sebagai gantinya. Kepasrahan dan keikhlasan Nabi Ibrahim itu dilakukannya sebagai cara mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Mendekat dalam bahasa arab adalah qaruba karena itu usaha mendekatkan diri disebut dengan qurban. Sungguh hidup adalah pengorbanan. Semakin besar pengorbanan, semakin besar pula anugrahnya. Semakin tulus berkorban semakin besar nilainya.
Jama’ah Jum’ah yang dimuliakan Allah
Pengorbanan Nabi Ibrahim as itulah yang menjadi teladan para pejuang. Mereka tidak punya motif dan kepentingan. Dengan tulus ikhlas berjuang mengusir penjajahan lillahi ta’ala. Niatnya adalah menegakkan hak-hak adami yang harus dipenuhi, demi terselenggaranya hak-hak Allah dalam menjalankan ibadah. Kemerdekaan yang telah diplokamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan. Apapun yang terjadi. Oleh karenanya ketika, sekutu dan bala tentaranya berniat menguasai kembali Indonesia, maka pada saat itu pula tanggal 22 Oktober 1945 Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari beserta segenap ulama lainnya mewajibkan jihad melawan sekutu. Inilah yang kemudian terkenal dengan sebutan resolusi Jihad.
Selang beberapa minggu, ternyata sekutu dan Belanda benar-benar tidak merelakan Indonesia merdeka. Karena itu pada tanggal 10 Nopember 1945, ia menggempur Surabaya sebagai salah satu kota besar di Indonesia. Dengan adanya maklumat yang telah tersebar sebelumnya tentang wajibnya membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan, maka segenap bangsa Indoneisa, santri dan kyia tukang becak dan para kuli dari berbagai pelosok daerah bergabung datang berhamburan mempertahankan kemerdekaan di Surabaya.
Dengan berkoordinasi dengan para kyai, Bung Tomo dan segenap elemen bangsa bahu membahu mengangkat senjata mempertahankan kemerdekaan bangsa. Meskipun senjata yang digunakan oleh bangsa Indonesia, tidaklah secanggih senjata tentara Belanda. Hanya saja semangat juang yang tinggi, dan motifasi yang luhur disertai tulusnya niat dan ikhlas, merubah senjata sederhana itu menjadi sangat luar biasa. Bambu Runcing, Menjalin, Keris, Golok, Pedang, Celurit, Kelewang, dan apapun jenisnya menjadi sangat berbahaya bila disertai keikhlasan.
Spirit melawan penindasan inilah yang telah diajarkan oleh Al-Qur’an kepada umat manusia. Dalam al-Baqarah ayat 190 diterangkan
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Dan perangilah di jalan Allah
orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui
batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
melampaui batas
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Pejuangan ini bukanlah tanpa pengorbanan. Banyak sahabat, saudara, anak, kakak, adik, pak-dhe, paman, bapak dan kakek yang kehilangan nyawa, gugur sebagai bunga bangsa. mengorbankan diri demi kemerdekaan negeri. Pengorbanan menjadi syarat wajib sebuah keberhasilan. Semoga saja tulus-ikhlasnya niat mereka mendapatkan keistimewaan dari Yang Maha Kuasa. Seperti janji Allah kepada mara Mujahidin. Dan semoga kita yang ditinggalkan dan menikmati kemerdekaan ini tidak mengecewakan pengorbanan mereka. amien
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Pejuangan ini bukanlah tanpa pengorbanan. Banyak sahabat, saudara, anak, kakak, adik, pak-dhe, paman, bapak dan kakek yang kehilangan nyawa, gugur sebagai bunga bangsa. mengorbankan diri demi kemerdekaan negeri. Pengorbanan menjadi syarat wajib sebuah keberhasilan. Semoga saja tulus-ikhlasnya niat mereka mendapatkan keistimewaan dari Yang Maha Kuasa. Seperti janji Allah kepada mara Mujahidin. Dan semoga kita yang ditinggalkan dan menikmati kemerdekaan ini tidak mengecewakan pengorbanan mereka. amien
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Cobaan: Tanda Cinta Dari Tuhan
اَلْحَمْدُ
ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلَّذِى خَلَقَ اْلإِنْسَانَ خَلِيْفَةً فِي
اْلأَرْضِ وَالَّذِى جَعَلَ كُلَّ شَيْئٍ إِعْتِبَارًا لِّلْمُتَّقِيْنَ
وَجَعَلَ فِى قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ بَهْجَةًوَّسُرُوْرًا. اَشْهَدُ
اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحـْدَهُ لاَشـَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ
وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَعَلَى كُلِّ شَيْئ ٍقَدِيْرٌ.
وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعََبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنَبِيَّ بَعْدَهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ
وَاَفَْضلِ اْلاَنْبِيَاءِ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَاِبه اَجْمَعِيْنَ اَمَّا
بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه
وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَاَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ
تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ
لاُِّوْلِى ٱلأَلْبَـٰبِ
Hadirin Jama’ah Jum’ah RahimakumullahMarilah bersama-sama kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt. Ketaqwaan itu merupakan satu kunci untuk dua pintu. Pintu kehidupan dunia dan kehidupan diakhirat. Barang siapa menghendaki kesuksesan hdiup di dunia janganlah pernah memalingkan diri dari taqwa Ilahi. Dan barang siapa yang menginginkan kebahagiaan di akhirat nanti juga taqwalah yang menjadi modal utamanya.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Tidak selamanya kehidupan di dunia berjalan seperti yang diinginkan manusia. Terkadang terasa berat cobaan yang menghadang, terkadang pula kehidupan berjalan lancar seperti yang diharapkan. Seringkali manusia berbeda dalam menghadapi kedua keadaan tersebut. Lumrahnya, manusia akan mengingat Allah swt sewaktu cobaan mendera dan mengabaikan-Nya ketika hidup dalam bahagia. Akan tetapi ketika cobaan itu beruntun dan lama kelonggaran tak kunjung datang, maka manusia akan mulai bertanya dan ragu, apakah ia harus bersabar dan tetap bertahan menyandarkan diri kepada Ilhi? Ataukah segera berpaling muka melarikan diri dari Allah swt dan mencari perlindungan kepada dunia beserta segala kecantikannya mulaid dari kekuasaan, kekayaan dan juga kenikmatan lainnya?Hadirin yang Berbahagia
Inilah yang jarang kita fahami, sesungguhnya cobaan hidup di dunia itu merupakan petanda bahwa Allah sangat memperhatikan dan mencintai kita. Sebuah hadits berbunyi "Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Dia menyegerakan hukuman di dunia. Jika Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, maka Dia menahan hukuman kesalahannya sampai disempurnakannya pada hari kiamat." (HR. Imam Ahmad, At-Turmidzi, Al-hakim, Ath-Thabrani, dan Al-Baihaqi). Jadi berbagai cobaan yang menghadang dalam kehidupan ini adalah sebuah ujian dari-Nya. sebagaimana layaknya ujian, maka jika manusia berhasil melaluinya dan di nilai lulus, maka Allah swt akan memberikan balasan yang tak ternilai harganya. Namun sebaliknya, jika manusia gagal melalui cobaan itu, maka Allah akan membiarkannya, hingga ia berusaha belajar kembali menghadapi kehidupan.
Diriwayatkan sebuah cerita bahwa salah seorang lelaki telah bertemu dengan seorang wanita yang disangkanya pelacur. Lelaki itu menggoda sampai-sampai tangannya menyentuh tubuhnya. Atas perlakuan itu, sang wanita berkata, "Cukup!" Lantaran terkejut, lelaki ini menoleh ke belakang, namun terbentur tembok dan terluka. Lelaki usil itu pergi menemui Rasulullah dan menceritakan pengalaman yang baru saja dialaminya. Komentar Rasulullah? "Engkau seorang yang masih dikehendaki oleh Allah menjadi baik." Selanjutnya beliau bersabda, Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Dia menyegerakan hukuman di dunia. Jika Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, maka Dia menahan hukuman kesalahannya sampai disempurnakannya pada hari kiamat”
Kecintaan Allah kepada hamba-Nya di dunia tidak selalu diwujudkan dalam bentuk pemberian materi atau kenikmatan lainnya. Tidak juga dalam bentuk peng-kabulan doa secara spontanitas. Akan tetapi kecintaan itu justru sering berbentuk cobaan di mana berat atau ringannya ujian itu tergantung kepada kadar keimanan seseorang.
Para hadirin yang dimuliakan Allah
Marilah kita Simak kembali cerita kehidupa para Rasul dan Nabi. Sebagai oang yang paling disayangi dan dikasihi Allah, justru mereka adalah orang yang paling berat menerima ujian semasa hidupnya di dunia. Ujian mereka sangat berat melebihi ujian yang diberikan kepada siapapun juga. Demikian secara berurutan, para syuhada' dan kemudian shalihin. Yang jelas bahwa setelah orang menyatakan. "Kami beriman", Allah langsung menyiapkan ujian baginya.
Allah berfirman:
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ * وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَـٰذِبِينَ *
Selain ujian demi ujian diberikan kepada orang yang beriman, maka teguran demi teguran juga diberikan kepadanya. Teguran itu kadang halus, tapi sering-sering kasar. Bagi yang kepekaan imannya tinggi, teguran halus saja sudah cukup untuk menyadarkannya. Akan tetapi bagi mereka yang telah hilang kepekaannya, teguran yang keras sekalipun tak bisa menyadarkannya.
Apa yang dialami oleh lelaki yang datang kepada Rasulullah sebagaimana hadits di atas merupakan teguran Allah secara langsung agar ia sadar atas kekeliruannya, dan tidak mengulang kesalahannya. Lelaki itu sangat bersyukur atas kecelakaan yang menimpa dirinya. Wajah yang benjol dan darah yang mengalir di wajahnya tidak seberapa dibandingkan dengan nilai kesadaran yang baru dirasakannya.
Kecelakaan itu semakin tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan siksa yang bakal diterimanya di akhirat kelak. Bukankah setiap dosa akan ditimbang dan dibalas sesuai dengan bobotnya? Dengan kecelakaan itu ia bertobat. Dengan bertobat, maka terhapuslah dosanya. Tentang hal ini Rasulullah bersabda, "Tiada suatupun yang menimpa seorang mukmin, baik berupa kepayahan, sakit, sedih, susah, atau perasaan murung, bahkan duri yang mengenai dirinya, kecuali Allah akan melebur kesalahan-kesalahannya lantaran kesusahan-kesusahan tersebut." (HR Bukhari dan Muslim)
Karena itu para hadirin Rahimakumullah
Jika kita mendapatkan sebuah musibah, segeralah kita bermuhasabah, mengingat-ingat kesalahan apa yang telah kita lakukan? Dosa apa yang telah kita kerjakan? Janganlah cepat berburuk sangka kepada Allah swt. Karena bisa saja musibah tersebut merupakan teguran dari-Nya atas berbagai tingkah laku kita selama ini. Jika demikian kita akan sadar dan banyak-banyaklah minta pengampunan kepada-Nya dan berdoa agar senantiasa diberi kemampuan menghadapi cobaan tersebut.
Dengan demikian Kasih sayang Allah tidak selalu berbentuk kesenangan, melimpahnya harta kekayaan, tercapainya segala cita, dan jauh dari berbagai musibah. Justru bisa jadi sebaliknya. Orang yang mendapatkan berbagai kesenangan itulah yang tidak dicintai-Nya. Orang tersebut dibiarkan tenggelam dalam kesenangan dunia sampai tiba ajalnya. Pada saat itu semua kesenangan dicabut dan diganti dengan berbagai siksa yang mengerikan, baik ketika di kubur, di padang mahsyar, maupun di neraka.
Para Hadirin jama'ah Jum'ah yang berbahagia
pada akhirnya khutbah ini sebagai pengingat, agar kita senantiasa berbaik sangka kepada Allah swt. Dan bahwa semua yang terjadi dalam kehidupan kita ini, sesungguhnya Allah telah menyiapkan hikmahnya. Semoga kita semua senantiasa diberi petunjuk oleh-Nya dalam mengarungi sisa umur kita. amien
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ
Muharram Bulan Mulia, Asyuro Hari Istimewa
الحمد
لله الذى جعل شهر المحرم أول السنين والشهور, أحمده سبحانه وتعالى حمد عبد
شكور , وأشهد أن لااله الاالله وحده لاشريك له شهادة تكون لنا ذخرا عند
عزيز الغفور, وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أرسله رحمة للعالمين. اللهم صل
وسلم وبارك على عبدك ورسولك النبي الأمي سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وعلى
جميع الانبياء والمرسلين واتبعهم اجمعين عدد ما بين السموات والأرضين – أما
بعد
Ma’asyiral Muslimin RahimakumullahMarilah kita bersama-sama tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah. Bersyukurlah bahwa kita semua masih diberi umur panjang menikmati tahun baru Islam. Tak terasa tahun telah berganti, umur telah bertambah, sudahkah semua it kita sertai dengan tambahnya iman dan taqwa? Bukankah Allah telah menambahkan umur dalam hidup kita? Mengapa kita tidak menambah keta’atan kepadanya?Jama’ah Jum'ah yang berbahagia
Ingatkah kita pada suatu hari di Empat Belas Abad yang lalu ketika Rasulullah saw melakukan perjalanan berat dari Makkah menuju Madinah. Di atas punggung onta, mendaki gunung berbatu, menuruni lembah dipanggang di bawah ganasnya terik matahari padang pasir. Medan yang berat menjadi tambah berat ketika harus menghindar kejaran kaum kafir Quraisy. Berjalan dengan penuh kewaspadaan dan kehati-hatian. Hanya dengan niat dan keyakinan yang teguhlah Rasulullah saw berhasil akhirnya sampai pula di kota Madinah. Madinah menjadi pelabuhan dakwah Rasulullah saw yang menghantarkan kejayaan Islam. Dari Madinahlah Islam melebarkan sayapnya hingga ke pelosok-penjuru bumi. Ke Asia menembus lautan, mengarungi benua dan menaklukkan Alam. Semua itu Rasulullah saw lakukan demi syiar Islam, hingga kita manusia Nusantara dapat menikmati manisnya iman kepad-Nya. itulah salah satu hikmah hijrahnya Rasulullah saw. Begitu agungnya hikmah di balik hijrah Rasulullah saw, sehingga Umar bin Khattab ra. bersama-bersepakat dengan para sahabat me’monumen’kan hijirah Rasulullah saw dalam bentuk penanggalan dalam Islam.
Jama’ah yang dimulikan Allah
Marilah kita bersama-sama berhijrah, berpindah dan berusaha berubah menuju kebaikan, atau menuju yang lebih baik.. Karena sesungguhnya umur kita semakin menipis, jatah umur kita semakin menyempit. Alangkah baiknya jika kita segera melangkah meninggalkan segala yang buruk dan menggantinya dengan hal yang lebih bermakna. Sudahkah kita memenuhi tabungan amal kita dengan amal yang shaleh. Padahal umur kita semakin hari semakin berkurang. Seperti yang termaktub dalam hadits:
طوبى لمن طال عمره وحسن عمله (رواه الطبرانى عن عبدالله بن يسر)
Artinya: Sungguh berbahagia bagi orang yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya (HR. Thabrani)Memang dalam sejarah tercatat bahwa secara fisik Rasulullah saw hanya sekali melaksanakan hijrah. Akan tetapi hijrah itu harus kita maknai secara dinamis. Bahwa pergerakan dan perubahan tidak cukup dilaksanakan sekali seumur hidup. Jikalau dalam taraf tertentu kita telah merasa sudah baik, maka hendaklah terus berubah menuju ke yang lebih baik. Dan begitulah seterusnya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Bulan Muharram dalam tradisi Islam memiliki makna yang dalam dan sejarah yang panjang. Diantara kelebihan bulam Muharram terletak pada hari ‘asyura’ atau hari kesepuluh pada bulan Muharram. Karena pada hari ‘asyura’ itulah (seperti yang termaktub dalam I’anatut Thalibin) Allah untuk pertama kali menciptakan dunia, dan pada hari yang sama pula Allah akan mengakhiri kehidupan di dunia (qiyamat). Pada hari ‘asyura’ pula Allah mencipta Lauh Mahfudh dan Qalam, menurunkan hujan untuk pertama kalinya, menurunkan rahmat di atas bumi. Dan pada hari ‘asyura’ itu Allah mengangkat Nabi Isa as. ke atas langit. Dan pada hari ‘asyura’ itulah Nabi Nuh as. turun dari kapal setelah berlayar karena banjir bandang. Sesampainya di daratan Nabi Nuh as. bertanya kepada pada umatnya “masihkah ada bekal pelayaran yang tersisa untuk dimakan?” kemudian mereka menjawab “masih ya Nabi” Kemudian Nabi Nuh memerintahkan untuk mengaduk sisa-sisa makanan itu menjadi adonan bubur, dan disedekahkan ke semua orang. Karena itulah kita mengenal bubur suro. Yaitu bubur yang dibikin untuk menghormati hari ‘asyuro’ yang diterjemahkan dalam bahasa kita menjadi bubur untuk selametan.
Bubur suro merupakan pengejawentahan rasa syukur manusia atas keselamatan yang Selma ini diberikan oleh Allah swt. Namun dibalik itu bubur suro (jawa) selain simbol dari keselamatan juga pengabadian atas kemenangan Nabi Musa as, dan hancurnya bala Fir’aun. Oleh karena itu barang siapa berpuasa dihari ‘asyura’ seperti berpuasa selama satu tahun penuh, karena puasa di hari ‘asyura’ seperti puasanya para Nabi. Intinya hari ‘syura’ adalah hari istimewa. Banyak keistimewaan yang diberikan oleh Allah pada hari ini diantaranya adalah pelipat gandaan pahala bagi yang melaksanakan ibadah pada hari itu. Hari ini adalah hari kasih sayang, dianjurkan oleh semua muslim untuk melaksanakan kebaikan, menambah pundi-pundi pahala dengan bersilaturrahim, beribadah, dan banyak sedekah terutama bersedekah kepada anak yatim-piatu.
Hadirin Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Bubur suro, baik yang dituangkan oleh Nabi Nuh as. maupun yang dimasak oleh para nenek dan ibu kita, bukanlah satu-satunya bentuk sedekah yang harus kita laksanakan pada bulan ini. Bubur itu hanyalah perlambang bahwa bulan Muharram, awal tahun baru Hijrah merupakan momentum untuk memperkokoh persaudaraan. Karena sejatinya bubur suro yang telah dimasak tak mungkin disembunyikan, pastilah untuk dihidangkan. Ada baiknya hidangan itu kita bagikan kepada tetangga dan sanak keluarga. Sebagai tanda syukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya. Nikmat umur terutama. Jika demikian logikanya, maka bubur itu bisa diganti dengan parcel berisi buah-buahan, atau serantang maknan, atau beberapa tusuk sate maupun iga bakar. Karena subtansinya adalah bersilaturrahmi membagi rasa sukur kepada sesama. Bukan bersilaturrahmi melalui pesan singkat yang dikirim dengan menebus pulsa. Bukan itu…!
Akhirnya, saya ucapkan selamat tahun baru, semoga hari ini lebih baik dari hari kemaren, dan pastikanlah esok lebih baik dari hari ini…amien
جعلنا
الله واياكم من الفائزين الامنين, وأدخلناواياكم فى عباده الصالحين. أعوذ
بالله من الشيطان الرجيم. وإذ أخذنا ميثاق بني إسرائيل لا تعبدون إلا الله
وبالوالدين إحسانا وذي القربى واليتامى والمساكين وقولوا للناس حسنا
وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة ثم توليتم إلا قليلا منكم وأنتم معرضون.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Mencontoh Sahabat Ali Memahami Rizqi
الحمد
لله الذى جعل شهر المحرم أول السنين والشهور, أحمده سبحانه وتعالى حمد عبد
شكور , وأشهد أن لااله الاالله وحده لاشريك له شهادة تكون لنا ذخرا عند
عزيز الغفور, وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أرسله رحمة للعالمين. اللهم صل
وسلم وبارك على عبدك ورسولك النبي الأمي سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وعلى
جميع الانبياء والمرسلين واتبعهم اجمعين عدد ما بين السموات والأرضين – أما
بعد
Jama’ah Jum’ah RahimakumullahHidup, mati, jodoh dan rizqi ada di tangan Allah swt, manusia hanya memiliki hak berikhtiar atasnya. Namun segala keputusan ada di tangan-Nya. Dari keempat hal tersebut (hidup, mati, jodoh dan rizqi) manusia seringkali lebih disibukkan dengan urusan rizqi. Dibandingkan tiga hal yang lainnya. Maklumlah hidup masih dinikmati, udara masih bisa disedot kedalam rongga dada lalu dikeluarkan kembali tanpa harus membeli. Mati terasa berada jauh sekali, hamper tiada yang tahu pasti kapan ia akan tiba. Sedangkan jodoh tinggal menjalani.
Oleh karena itulah kebanyakan manusia akan merasa sedih jika dijauhi rizqi dan merasa senang jika dihibur dengan rizqi. Banyak orang yang berubah menjadi manusia religius ketika berada dalam kesusahan. Rajin berdo’a, beribadah, tawakkal dan rajin bersedekah meskipun sedikit. Namun sebaliknya, ketika manusia berada dalam kelonggaran, ia akan mengurangi keintimannya dengan Yang Maha Kuasa, bahkan seringkali lupa dengan doa yang sering dibaca ketika kesusahan menimpanya. Jika dimasa susah sholat berjamaah menjadi kebutuhan, maka ketika longgar sholat berjamaah menjadi gangguan. Ketika dimasa susah sholat maghrib begitu khusuknya, dan ketika longgar sholat magrib sesempatnya. Naudzubillah min dzalik. Seoah-olah harta benda dan duniawi adalah segalanya.
Jama’ah yang dimuliakan Allah
Dengan demikian perlu kiranya kita mengkaji ulang. Benarkah dunia itu harus selalu dikejar? Padahal dunia semakin dikejar semakin akan menjauhi kita. Ketika seorang mempunyai rumah, maka ingin ia lengkapi dengan mobil mewah. Ketika keduanya telah serasi, manusia inginkan renovasi. Ketika renovasi usai maka perlu tambah mobil lagi dan seterusnya.
Seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih sore menjelang asar. Fatimah binti Rasulullah menyambut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah makin besar.
Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. "Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun."Fatimah menyahut sambil tersenyum, "Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta'ala." "Terima kasih," jawab Ali. Matanya memberat lantaran istrinya begitu tawakal. Padahal persediaan dapur sudah ludes sama sekali. Toh Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih.
Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan salat berjama'ah. Sepulang dari sholat, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua. "Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?" Áli menjawab heran. "Ya betul. Ada apa, Tuan?''
Orang tua itu merogoh kantungnya seraya menjawab, "Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar ongkosnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya." Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.
Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak di sangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari.
Ali pun bergegas berangkat ke pasar. Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, "Siapakah yang mau menghutangkan hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan." Tanpa pikir panjang lebar, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu.
Pada waktu ia pulang dan Fatimah keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya. Fatimah, masih dalam senyum, berkata, "Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan menutup pintu surga buat kita."
Jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah
Fragmen di atas menunjukkan bahwa manusia sebagai penerima rizqi dituntut untuk mampu memahami cara kerja atau karakteristik rizqi sebagai pemberian Allah swt. Ia bisa datang tanpa diundang juga dapat pergi tanpa diusir. Oleh karena itu kita hendaknya tidaklah terlalu gusar memikirkan rizqi, cobalah kita berkerja dengan hati tenang. Insyallah rizqi itu akan menemui kita. Kerja dengan penuh semangat, keluar dari rumah dengan motor dipacu kencang berbalapan dengan matahri terbit, pulang kerumah dengan gonta menyongsong matahri terbenam. Itu semua bisa lebih bermakna jika kita lakukan ikhlasan hati dan ketetapan jiwa bahwa Allah swt telah mengatur rizqi kita
Allah memiliki berbagai hikmah dalam pemberian rizki. Ada yang Allah jadikan kaya dengan banyaknya rizki dan harta. Ada pula yang dijadikan miskin. Ada hikmah berharga di balik itu semua. Allah Ta’ala berfirman,
وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ
Dalam ayat lain disebutkan,
إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا
Di tempat lain, Ibnu Katsir menerangkan firman Allah,
وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ
“Dan jikalau Allah melapangkan rezki
kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka
bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran.
Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha
Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)
Beliau rahimahullah lantas menjelaskan,“Seandainya Allah memberi
hamba tersebut rizki lebih dari yang mereka butuh, tentu mereka akan
melampaui batas, berlaku kurang ajar satu dan lainnya, serta akan
bertingkah sombong.” Selanjutnya Ibnu Katsir menjelaskan lagi, “Akan
tetapi Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan
Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu
yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang
memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan
Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas
menerimanya.”Dalam sebuah hadits disebutkan,
إن من عبادى من لا يصلح إيمانه إلا بالغنى ولو أفقرته لكفر، وإن من عبادى من لا يصلح إيمانه إلا الفقر ولو أغنيته لكفر
“Sesungguhnya di antara hamba-Ku,
keimanan barulah menjadi baik jika Allah memberikan kekayaan padanya.
Seandainya Allah membuat ia miskin, tentu ia akan kufur. Dan di antara
hamba-Ku, keimanan barulah baik jika Allah memberikan kemiskinan
padanya. Seandainya Allah membuat ia kaya, tentu ia akan kufur”.
Maka apa yang telah kita terima dari-Nya dalam kehidupan ini tidak lain merupakan ketetapan. Adapun ikhtiyar manusia adalah kewajiban.
Maka apa yang telah kita terima dari-Nya dalam kehidupan ini tidak lain merupakan ketetapan. Adapun ikhtiyar manusia adalah kewajiban.
جعلنا الله واياكم من الفائزين الامنين, وأدخلناواياكم فى عباده الصالحين. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. وإذ أخذنا ميثاق بني إسرائيل لا تعبدون إلا الله وبالوالدين إحسانا وذي القربى واليتامى والمساكين وقولوا للناس حسنا وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة ثم توليتم إلا قليلا منكم وأنتم معرضون.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Langganan:
Postingan (Atom)
"MAJELIS RASULULLAH SAW"