Tampilkan postingan dengan label Habaib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habaib. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 November 2012

Alm. Ustadz Syegaf Al Jufri dan Wasiatnya

Sabtu lalu (23/7/2011), tepatnya pukul 07.20 WIB, Ustadz Syegaf bin Husein Al-Jufri, tokoh yang dituakan komunitas Ahlul Bait di nusantara, tutup usia pada umur 78 tahun. Pada tahun 1932, Ustadz Syegaf bin Husein Al-Jufri lahir di kota Solo. Beliau termasuk pengusaha batik sukses. Meski demikian, beliau tidak meninggalkan dunia pendidikan yang ditekuni semenjak muda, bahkan anak-anak.. Di dunia pendidikan, Almarhum Ustadz Syegaf bin Husein Al-Jufri berhutang budi pada sekolah Rabithoh Al Alawiyah dan seorang ulama, Habib Ahmad bin Abdullah Assegaf yang juga sastrawan Arab dan pengarang buku sastra "Fataat Garut." Di masa hidupnya, Ustadz Syegaf menunjukkan kecintaan luar biasa pada ilmu dan ulama. Hal itu tercermin pada rasa hormatnya yang luar biasa kepada Ustadz Husein Al-Habsyi. Beliau juga sangat dekat dengan Ustadz Husein Al-Habsyi. Karena kedekatannya, Ustadz Syegaf menyambungkan tali persahabatan ke ikatan persaudaraan dengan menikahkan putrinya dengan salah satu putra Ustadz Husein Al-Habsyi.
Semasa beliau hidup, Almarhum Ustadz Syegaf mempelajari dan memperdalam buku-buku Ahlul Bait seperti Nahjul Balaghah, Ghurarul Hikam dan Tafsir Mizan, karya Allamah Thathaba'i. Kecintaan Ustadz Syegaf pada ilmu dapat dilihat dari koleksi ribuan buku yang tersimpan di perpustakaan rumahnya. Perpustakaan itu terletak di latar rumahnya yang juga sering dijadikan sebagai pengajian dan diskusi ilmiah.
Di latar rumahnya, Almarhum Ustadz Syegaf seringkali mengadakan pengajian-pengajian umum yang dihadiri ribuan peserta. Selain itu, beliau juga seringkali melakukan diskusi-diskusi ilmiah dalam sekup terbatas untuk mengkaji berbagai topik yang lebih mendalam seperti kajian filsafat.
Selain itu, Ustadz Syegaf juga mempunyai jiwa seni yang luar biasa. Beliau mahir memainkan biola. Bahkan setelah diskusi, para peserta seringkali dihibur dengan kemahiran memainkan biolanya. Karena jiwa seni ini, Ustadz Syegaf tergolong sebagai tokoh yang unik.
Sosok Ustadz Syegaf Al Jufri
Almarhum Ustadz Syegaf Al Jufrie di kalangan komunitas Ahlul Bait lebih cenderung dikenal sebagai tokoh yang dituakan. Bahkan banyak orang yang lebih mengenal beliau dengan panggilan "Ami Syegaf." Ami dalam bahasa Arab berartikan paman. Istilah "Ami" juga seringkali digunakan untuk menghormati orang yang dituakan.
Di masa hidupnya, Ustadz Syegaf benar-benar mencerminkan sosok yang mulia dan sabar. Beliau juga dikenal dengan jiwa yang rendah diri kepada siapapun, khususnya masyarakat kecil. Mahasiswa yang datang bertemu dengan Ustadz Syegaf di rumahnya, selalu ditanya ongkos pulang.
Mengenai kesabaran Ustadz Syegaf, ada cerita menarik yang bisa menjadi tauladan bersama. Ketika salah satu anaknya yang bernama Haidar Al Jufri meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan, beliau berusaha tabah atas peristiwa tersebut. Bahkan beliau memaafkan supir bus yang menabrak mobil yang dikendarai anaknya, tanpa jaminan apapun.
Ketika melihat supir bus di pengadilan, Ustadz Syegaf kepada hakim, dengan tegas menyatakan memaafkan supir bus tersebut. Ketika ditanya anak-anaknya, mengapa harus memaafkan supir bus tersebut, Ustadz Syegaf menjawab, "Kecelakaan itu diluar kehendaknya. Supir itu juga punya keluarga yang harus dihidupi."
Mayor Husein Masyhur yang juga menjadi korban kecelakaan bersama anaknya, bahkan sempat koma hampir satu tahun lebih, melanjutkan ceritanya dan mengatakan, " Supir bus itu bahkan sempat disantuni oleh Ami Syegaf. Padahal Haidar adalah di antara anak kesayangannya dan paling dekat dengan ayahnya." Semua cerita ini menunjukkkan ketabahan, kedermawanan dan perhatian beliau kepada orang kecil seperti supir bus.
Selain itu, Ustadz Syegaf menaruh penghormatan yang luar biasa kepada orang tuanya, khususnya ibu. Di masa kecilnya, keluarga Ustadz Syegaf termasuk miskin. Karena kondisi ekonomi yang sulit saat itu, Ustadz Syegaf bahkan sempat membantu ekonomi keluarga dengan menjual telur asin yang dibuat oleh ibunya ke kampung-kampung. Selaku anak terbesar, Ustadz Syegaf menunjukkan perhatian yang besar kepada adik-adiknya. Di mata keluarganya, Ustadz Syegaf diakui sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, suami yang baik kepada istrinya dan ayah tauladan bagi anak-anaknya.
Di kalangan anak-anak muda, Ustadz Syegaf dikenal sebagai sosok motivator yang baik. Banyak mahasiswa dari Yogya berbondong-bondong mendatangi Ustadz Syegaf untuk mendapatkan motivasi dari beliau.
"Ketika mau berangkat melanjutkan pendidikan ke luar negeri, saya mendapat nasehat sidq al niyah atau ketulusan niat. Nasehat itu benar-benat terngiang hingga kini," kata Muhammad, seorang mahasiswa asal Yogya yang terkenang dengan nasehat Ustadz Syegaf.
Hisyam Suleiman ketika mengenang Ustadz Syegaf Al Jufrie,  mengatakan, "Almarhum Ustadz Segaf Al Jufrie selalu memanggil anak muda dengan panggilan Anakku. Ini menunjukkan rasa cinta yang dalam kepada anak-anak muda."
"Beliau adalah orang yang alim, tapi juga humoris. Anak-anak muda sangat mencintainya. " tambah Hisyam

Wasiat
Sebelum wafat, Ustadz Syegaf sebagai tokoh yang dituakan di kalangan komunitas Ahlul Bait di nusantara, meninggalkan wasiat-wasiat. Sebagaimana disampaikan anak-anaknya, Ustadz Syegaf sebelum meninggal, berpesan untuk menjauhi maksiat, bertakwa kepada Allah Swt, berbakti kepada orang tua serta memohon ampun dan mendoakan kedua orang tua.
Selain itu, Ustadz Syegaf juga berwasiat supaya memupuk belas kasih kepada sesama, tidak boleh merasa paling baik dan benar. Muhammad Adinegoro ketika menjelaskan pesan ayahnya, mengatakan, "Saat berhadapan dengan seseorang, anggaplah orang yang ada di depanmu lebih baik dari kamu."
Bagir Al Jufri dalam menjelaskan pesan ayahnya sebelum meninggal dunia, mengatakan, "Abah (baca; Ayah) selalu berpesan kepada keluarga, sahabat dan komunitas Ahlul Bait supaya selalu menjaga ukhuwah islamiyah dan menghindari segala hal yang bersifat sensitif."
"Jalinlah silaturahmi kepada orang-orang yang memusuhi kita, " jelas Husein Jufri , salah satu anak Ustadz Syegaf, ketika menjelaskan wasiat ayahnya.
Lebih lanjut Husin Al Jufri menjelaskan bahwa ayahnya selama hidupnya mempraktekkan apa yang disampaikannya dalam wasiatnya. Di bulan Ramadhan, Ustadz Syegaf selalu mengadakan acara buka bersama dengan mengundang berbagai kelompok aliran seperti NU, Muhammadiyah, LDII, Al-Irsyad, Majlis Tabligh, MTA, Pondok Ngruki dan berbagai tokoh masyarakat di kota Solo.
Nikmah, salah satu adik Ustadz Syegaf, menjelaskan, "Di hari-hari terakhir,  kakak saya berpesan supaya menjaga ukuwah di kalangan para pecinta Ahlul Bait dan sesama muslim, serta menghindari perpecahan sesama umat Islam dan mengalah kepada ahlul qiblat."
Dalam wasiatnya, Ustadz Syegaf menganjurkan supaya selalu bersemangat untuk mencari ilmu dan menghindari majelis yang sia-sia . Beliau juga menekankan menghindari fanatisme golongan. Bahkan menurut Ustadz Syegaf, fanatisme golongan yang diistilahkannya dengan ashobiah, termasuk perbuatan syirik.
Masih mengenai pesan-pesan beliau,  Damar S Mudrick, salah satu orang yang dekat dengan Ustadz Syegaf Al Jufri, mengatakan, "Ami Syegaf Al-Jufri secara khusus pernah menelpon saya dan menyampaikan wanti-wantinya supaya jangan berpihak ketika ada perselisihan di antara komunitas."
Lebih lanjut Damar mengatakan, "Saya ketika duduk berdua dengan Ami Syegaf pada suatu malam. Tiba-tiba, beliau berpesan bahwa dunia itu menipu. Pesan itu memang sederhana, tapi nasehat itu terus terngiang hingga kini."
Ustadz Syegaf pulang ke rahmatullah pada hari Sabtu, tanggal 23 Juli 2011. Pada hari itu juga, jenazah beliau dimakamkan di kota Solo. Seusai acara pemakaman, seorang ustadz mengenang perhatian besar Ustadz Syegaf atas Hari Al-Quds Sedunia yang diperingati setiap jumat terakhir pada bulan Ramadhan, dan mengatakan, "Meski sakit dalam kondisi infus, tolong bawa saya dalam acara Al-Quds." (IRIB/AR)

Ustadz Husein Al-Habsyi, Pejuang dan Guru Sejati


Ustadz Husein Al-Habsyi lahir di Surabaya pada tanggal, 21 April 1921 M. Pada usia yang masih belia  beliau sudah harus erjuang sendiri karena wafatnya orang tuanya. Adapun Ayah beliau, Sayid Abu Bakar Al-Habsyi yang mempunyai garis keturunan dengan Sayid Ali Al-‘Uraidy putra Imam Ja’far Shodiq a.s. Selanjutnya beliau  diasuh, dididik dan ditempa oleh pamannya yang ‘Alim dan wara’, yakni Ustadz Muhammad Baraja’. Dan dari sinilah kemudian ilmu dan wawasanya berkembang. Berawal dari pendidikan  dasar di Madrasah Al-Khairiyah; sebuah lembaga pendidikan  diniah tertua di Surabaya. Pada umurnya 10 tahun beliau sudah aktif
mengikuti pengajian rutin yang membahas masalah-masalah fiqih, tauhid dan lainnya. kemudian pada usia 12  tahun beliau sudah mampu membaca kitab-kitab Berbahasa Arab.
Setelah lulus akhirnya mengajar di madrasah Al-Khoiriyah, bersama kakaknya, Ustaz Ali Al-Habsyi yang kemudian bersama-sama hijrah ke Pinang Malaysia. Beliau juga pernah berguru kepada;Ustadz Abdul Qadir Balfaqih  (seorang ulama besar dan ahli hadis), Syeh Muhammad Robah Hassuna (seorang ulama dari Qolili, Palestina yang berkhidmat mengajar di madrasah Al Khairiyah), Al-Habib Alwi bin Thahir Al-Haddad (seorang ulama besar dan terkenal dengan analisa-analisa yang sangat dalam, beliau adalah mufti kerajaan Johor Baru, Malaysia dimasanya), Assayid Muhammad Muntasir Al-Kattani (Ulama’ Maghribi, Maroko) dll.
Di Johor  beliau juga mengajar di madrasah Al –Aththas dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga murid beliau banyak tarsebar di berbagai daerah di Malaysia, dan tidak sedikit pula yang di kemudian hari menjadi ulama dan tokoh penting negeri jiran tersebut .
Setelah beberapa lama tinggal di Malaysia beliau menikah dengan putri pamannya yang bernama Fatimah binti Abdurrahman Al-Habsyi , dan setelah dikaruniahi beberapa putra karena terjadi berbagai peristiwa politik semasa penjajahan Inggris atas semenanjung Malaysia akhirnya dengat sangat terpaksa beliau meninggalkan negeri tersebut dan kembali ke kampung halamannya di Surabaya .
Sepulang dari Malaysia, Ustadz Husein Al-Habsyi memulai aktifitas dakwah dan banyak berkecimpung di dunia politik. Dalam menapaki jenjang karirnya, beliau sempat menduduki kepengurusan teras bersama DR. M. Natsir dalam Partai Syuro Muslimin Indonesia. Bahkan beliau terpilih sebagai Ketua Komisi  Hak Asasi Manusia.
Sekian lama setelah beliau tidak aktif dalam partai, Ustadz Husein mulai berfikir bahwa perjuangan Islam lebih “absah” melalui pendidikan agama bukan “politik praktis”. Dalam pikirannya terbersit keinginan untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam.
Sikap beliau yang anti “Barat” dan “Sekularisme” mendorongnya untuk menerapkan sistem pendidikan  dan peraturan yang sangat ketat bagi santri. Ustadz Husein semakin mantap dengan metode pendidikan yang   diterapkan.
Pada tahun 1971 beliau mendirikan Pondok Pesantren di kota Bondowoso Jatim. Keberadaan beliau di Bondowoso sangat menguntungkan bagi perkembangan pendidikan masyarakat di sekitarnya, karena sebagai orator ulung dan ulama’, beliau mampu menjelaskan ajaran Islam dengan baik dan memikat pendengarnya.  Setelah dari Bondowoso, karena berbagai hal, akhirnya  beliau hijrah dan mendirikan  Yayasan Pesantren Islam ( YAPI ) Bangil. Kemudian perkembangan demi perkembangan - disamping karena bertambahnya murid yang cukup banyak - akhirmya  membuka Pesantren-Putra di Kenep-Beji, Pesantren-Putri dan TK di Kota Bangil.
Dari kehidupan beliau, hampir seluruh Waktu, tenaga dan pikirannya beliau tercurah untuk kemajuan para santri. Selain mengawasi jalannya seluruh perkembangan yang terjadi di Pesantren, beliau juga terjun langsung   ke bawah mengajar para santri dalam berbagai disiplin ilmu seperti; Bahasa Arab, Ushul Fiqh, Tafsir, Tauiyah dan lain-lain, sehingga metodenya mampu membuahkan hasil yang luar biasa bagi anak didiknya. Hal tersebut juga terlihat dari alumni-alumni yang mampu tampil sebagai tokoh masyarakat di daerahnya masing-masing.
Selain  mereka juga dapat dengan mudah melanjutkan pendidikan di berbagai pendidikan tinggi di luar negeri seperti; Mesir, Pakistan, India, Qatar, Saudi Arabiyah dan negara-negara timur tengah lainnya.
Dalam ceramahnya ustadz Husein Al-Habsyi; baik di hadapan santri maupun di hadapan kaum muslimin  dalam mimbar Jum’at, Idlul Fitri, Idul Adha dan kesempatan-kesempatan lain selalu menekankan akan pentingnya persatuan kaum muslimin, toleransi antar madzhab, memberikan kebebasan berfikir (khususnya bagi para santrinya), sehingga mereka tidak mudah dikotak-kotakkan oleh faham-faham/ aliran-aliran yang sempit.
Dengan aplikasi gagasan-gagasannya, beliau telah mampu menciptakan era baru dalam pemikiran kaum muslimin yang lebih mengedepankan kepentingan-kepentingan Islam di atas kepentingan-kepentingan madzhab atau kelompok. Hal ini terbukti sebagaimana buah hasil didikan beliau pada santri-santrinya yang sekarang tersebar di berbagai belahan bumi Nusantara. Di mana mereka menjadi motor keterbukaan pemikiran dan asatidzah lintas madzhab yang tidak dipersempit oleh pemikiran tertentu yang cupet.
Untuk tujuan yang sama juga, Ustadz Husein Al-Habsyi telah meluangkan waktu-waktunya yang sangat padat dan berharga, untuk mengadakan safari da’wah, menyisir daerah-daerah terpencil kaum muslimin seperti Sorong, pedalaman Ambon, beberapa daerah di Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera, bahkan di masa  akhir hayatnya beliau juga menyempatkan pergi ke  negeri Jiran demi meniupkan ruh keterbukaan dan semangat da’wah Islam.
Beliau juga seringkali menghadiri berbagai seminar dan konfrensi- baik di dalam maupun di luar negeri - membahas berbagai masalah fondamentaldan urgen umat Islam seperti seminar pendekatan Sunnah – Syi’ah di Kuala Lumpur Malaysia dll. Dan demi menegakkan dakwah Islam, tidak jarang beliau menghadapi berbagai gangguan, teror dan kesulitan-kesulitan yang dilakukan baik oleh kalangan ulama’ yang sempit wawasanya, kaum awam yang terprofokasi oleh isu-isu menyesatkan maupun oleh penguasa.
Fitnah demi fitnah dilontarkan oleh pihak-pihak yang tidak menyukai beliau dan misi Islam yang sedang beliau perjuangkan. Sehingga tidak jarang beliau harus berhadapan dengan penguasa pada zaman itu sampai dijebloskan ke dalam penjara. Namun semua itu beliau hadapi dengan penuh kesabaran, ketabahan dan ruh tawakkal yang luar biasa.
Bahkan dengan lapang dada dan hati yang tulus, beliau memaafkan mereka yang karena kejahilan dan ketidaktahuan akan misi Islam yang murni melah melakukan hal-hal yang menyulitkan dan menggangu beliau.
Pemakaman Ust. Husein Al-Habysi
Setelah beliau berpuluh-puluh tahun mengabdikan diri demi Islam dalam dunia pendidikan dan dakwah, beliau memenuhi panggilan Ilahi ke alam Baqa’ pada  hari Jum’at 2 Sya’ban 1414/ 14 Januari 1994  dirumah beliau Jl. Lumba-lumba Bangil.
Sementara itu ribuan para pentakziah larut dalam duka dan dengan khusyu’ turut mengiringi jenazah beliau   dari rumah duka ke Masjid Jamik Bangil untuk di shalatkan , kemudian menghantar ke pemakaman.
Dan beliau dimakamkan  pada hari Sabtu 3 Sya’ban 1414/15 Januari 1994 di belakang Masjid Tsaqalain yang terletak di komplek Pesantren Putra “Al-Ma’hadul Islami” YAPI, Desa Kenep Beji Pasuruan.
Semoga Allah merahmati dan mengumpulkan beliau bersama orang-orang suci yang beliau cintai, Amin

Minggu, 23 September 2012

Biografi Singkat as-Sayyid Ja'far al-Barzanji


Biografi Singkat as-Sayyid Ja'far al-Barzanji


As-Sayyid Ja’far bin Sayyid Hasan bin Sayyid Abdul Karim bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Rasul al-Barzanji adalah seorang ulama besar keturunan Nabi Muhammad Saw. dari keluarga Saadah al-Barzanji yang masyhur berasal dari Barzanj di Iraq. Beliau dilahirkan di Kota Madinah al-Munawwarah pada tahun 1126 H.
Leluhur Sayyid Ja'far semuanya merupakan ulama terkemuka yang terkenal dengan ilmu dan `amal, keutamaan dan kesholehan. Prof. Dr. al-Muhaddits al-‘Alim al-‘Allamah as-Sayyid Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Abbas al-Maliki dalam Haul Ihtifaal bi Dzikra al-Maulid an-Nabawiy asy-Syarif menulis pada halaman 99:
Al-‘Allaamah al-Muhaddits al-Musnid as-Sayyid Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim al-Barzanji adalah Mufti Syafi’iyyah di Kota Madinah al-Munawwarah. Terjadi perselisihan tentang tahun kewafatannya. Sebagian ulama menyebutkan bahwa Sayyid Ja’far meninggal pada tahun 1177 H.
Al-Imam az-Zubaidi dalam al-Mu'jam al-Mukhtash menuliskan bahwa beliau wafat tahun 1184 H, dimana Imam az-Zubaidi pernah berjumpa dengan beliau dan menghadiri majlis pengajiannya di Masjid Nabawi yang mulia.
Beliau adalah pengarang kitab maulid yang masyhur dan terkenal dengan nama Maulid al-Barzanji. Sebagian ulama mengatakan bahwa nama karangannya tersebut adalah ‘Iqd al-Jauhar fi Maulid an-Nabiyyi al-Azhar. Maulid karangan beliau ini adalah diantara kitab maulid yang paling populer dan paling luas tersebar ke pelosok negeri 'Arab dan Islam, baik di Timur maupun di Barat. Bahkan banyak dari mereka yang menghafalnya.
Kandungannya merupakan khulashah (ringkasan) Sirah Nabawiyyah yang meliputi kisah kelahiran Rasulullah Saw., diutusnya beliu Saw. sebagai Rasul, hijrah, akhlak, peperangan hingga kewafatan beliau Rasulullah Saw.
Kitab Maulid al-Barzanji ini telah disyarahi oleh al-‘Allamah al-Faqih asy-Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad yang terkenal dengan panggilan Ba’ilisy dengan kitab syarah yang dinamakan al-Qaul al-Munji 'ala Maulid al-Barzanji yang telah berulang kali dicetak di Mesir. (Beliau Syekh Ba`ilisy adalah seorang ulama besar jebolan al-Azhar asy-Syarif, bermazhab Maliki lagi Asy`ari dan menjalankan Thoriqah asy-Syadziliyyah. Beliau lahir pada tahun 1217 H/1802 M dan wafat pada tahun 1299 H/1882 M. Karyanya antara lain adalah; Hidayat al-Murid li 'Aqidat Ahl at-Tauhid, Syarh al-'Aqa’id al-Kubra li as-Sanusi, Hasyiyah 'ala Syarhi ash-Shoghir li ad-Dardir, Minhu al-Jalil 'ala Mukhtashar Khalil dan Hidayat as-Salik ila Aqrab al-Masalik fi Furu` al-Fiqh al-Maliki).
Selain Syekh Ba’ilisy, ulama kita kelahiran Banten Pulau Jawa, yang terkenal sebagai ulama dan penulis yang produktif dengan banyak karangannya yaitu Punggawa Ulama Hijaz, an-Nawawi ats-Tsani, Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani al-Jawi turut menulis syarah dari kitab Maulid al-Barzanji yang diberi judul Madarij ash-Shu’ud ila Iktisa’ al-Buruud.
Begitu juga dari salah satu cucu Sayyid Ja'far al-Barzanji yang bernama sama dengan kakeknya yaitu Sayyid Ja’far bin Sayyid Isma’il bin Sayyid Zainal ‘Abidin bin Sayyid Muhammad al-Hadi bin Sayyid Zain al-Barzanji, telah menulis syarah dari kitab Maulid al-Barzanji tersebut yang diberi judul al-Kaukab al-Anwar ‘ala ‘Iqd al-Jauhar fi Maulid an-Nabiy al-Azhar. Sayyid Ja'far ini juga adalah seorang ulama besar keluaran al-Azhar asy-Syarif. Beliau juga merupakan seorang Mufti Syafi`iyyah. Karangan-karangan beliau banyak, diantaranya; Syawahid al-Ghufran ‘ala Jaliy al-Ahzan fi Fadhail Ramadhan, Mashabih al-Ghurar ‘ala Jaliy al-Kadar dan Taj al-Ibtihaj ‘ala Dhau’ al-Wahhaj fi Isra’ wa al-Mi’raj. Beliau juga telah menulis sebuah manaqib yang menceritakan perjalanan hidup dan ketinggian kakeknya Sayyid Ja'far al-Barzanji dengan judul ar-Raudh al-‘Athar fi Manaqib as-Sayyid Ja’far.
Sayyid Ja'far al-Barzanji, selain dikenal sebagai mufti, beliau juga menjadi khatib di Masjid Nabawi dan mengajar di masjid yang mulia tersebut. Beliau terkenal bukan saja karena ilmu, akhlak dan takwanya, tapi juga dengan kekeramatan dan kemakbulan doanya. Penduduk Madinah sering meminta beliau berdoa untuk hujan pada musim-musim kemarau.
Diceritakan bahwa satu ketika di musim kemarau, di saat beliau sedang menyampaikan khutbah Jum’at, seseorang meminta beliau beristisqa’ (memohon hujan). Maka dalam khutbahnya itu, beliau pun berdoa memohon hujan, dengan serta merta doanya terkabul dan hujan terus turun dengan lebatnya hingga seminggu lamanya, persis sebagaimana yang pernah terjadi pada zaman Rasulullah Saw. Menyaksikan peristiwa tersebut, maka sebagian ulama pada zaman itu telah memuji beliau dengan bait-bait syair yang berbunyi:
“Dahulu al-Faruuq dengan al-‘Abbas beristisqa’ memohon hujan
Dan kami dengan Ja’far pula beristisqa’ memohon hujan
Maka yang demikian itu wasilah mereka kepada Tuhan
Dan ini wasilah kami seorang Imam yang ‘arif.”
Sayyid Ja'far al-Barzanji wafat di Kota Madinah dan dimakamkan di Jannatul Baqi’, tepatnya di sebelah bawah maqam nenek moyang beliau dari kalangan anak-anak perempuan Rasulullah Saw.
Sungguh karya-karya Sayyid Ja'far telah membawa umat untuk selalu mengingat Rasulullah Saw. Menjadikan umat lebih mencintai Rasulullah Saw. Menenggelamkan umat dalam lautan rindu kepada Rasulullah Saw. Setiap kali karangannya dibaca, sholawat dan salam selalu terlantunkan atas Baginda Nabi Agung Muhammad Saw.
Kegigihan Sayyid Ja’far dalam Menuntut Ilmu
Semasa kecilnya beliau telah belajar al-Quran dari Syeikh Ismail al-Yamani, dan belajar tajwid serta memperbaiki bacaan dengan Syeikh Yusof as-Su’idi dan Syeikh Syamsuddin al-Misri.
Diantara guru-guru beliau dalam ilmu agama dan syariat adalah:
·         Sayyid Abdul Karim Haidar al-Barzanji
·         Syeikh Yusuf al-Kurdi
·         Sayyid Athiyatullah al-Hindi.
Beliau kemudian berhijrah dan menetap di Makkah selama lima tahun. Di sana beliau belajar kepada para ulama besar, diantaranya:
·         Syeikh Athallah ibn Ahmad al-Azhari
·         Syeikh Abdul Wahab ath-Thanthowi al-Ahmadi
·         Syeikh Ahmad al-Asybuli
Beliau juga telah mendapatkan ijazah dari para ulama besar, diantaranya:
·         Syeikh Muhammad ath-Thoyib al-Fasi
·         Sayyid Muhammad ath-Thobari
·         Syeikh Muhammad ibn Hasan al-‘Ajimi
·         Sayyid Musthofa al-Bakri
·         Syeikh Abdullah asy-Syubrawi al-Misri
Penguasaannya dalam Ilmu Agama
Beliau banyak menguasai cabang-cabang ilmu agama diantaranya ialah Shorof, Nahwu, Manthiq, Ma’ani, Bayan, Adab, Fiqh, Ushul Fiqh, Faraidh, Hisab, Ushuluddin, Hadits, Ushul Hadits, Tafsir, Hikmah, Handasah, ‘Arudh, Kalam, Lughat, Sirah, Qiraat, Suluk, Tasawwuf, Kutub Ahkam, Rijal, Mustholahul Hadits.
Karya-karya Beliau
Karangan beliau cukup banyak diantaranya adalah:
·         Al-Birr al-‘Ajil bi Ijabat asy-Syeikh Muhammad al-Ghafil
·         Jaliyat al-Kadr bi Asmai Ashshab Sayyid al-Malaik wa al-Basyar
·         Jaliyat al-Kurb wa al-Ahadiyyin bi Asma’ Sayyid al-‘Ajam wa al-‘Arab fi Asma’ al-Badriyyin
·         Al-Lujjainiy ad-Daniy fi Manaqib asy-Syeikh Abdil Qadir al-Jailaniy
·         Ar-Raudh al-Mu’thar fi Maa Yuhaddi as-Sayyid Muhammad min al-Asy’al
·         Asy-Syiqaq al-Atrijiyyah fi Manaqib al-Asyraf al-Barzanjiyyah
·         Ath-Thawali’ al-As’adiyyah min al-Mathali’ al-Masyriqiyyah
·         Al-‘Ariyn li Asma’ ash-Shabat al-Badriyyin
·         Fath ar-Rahman ‘ala Ajwibat as-Sayyid Ramdhan
·         Al-Faidh al-Lathif bi Ijabat Naib as-Sar’ asy-Syarif
·         Nuhudh al-Laits li Jawab Abi al-Ghaits
·         ‘Iqd al-Jauhar fi Maulid an-Nabiyyi al-Azhar (Maulid al-Barzanji).
Kemasyhuran Beliau
Beliau telah diakui banyak kalangan dan mendapat kedudukan yang dekat di sisi pembesar Makkah dan Madinah, serta para menteri Kerajaan Utsmaniah. Kemasyhuran dan kehebatan beliau telah menyebar ke seluruh pelosok dunia Islam. Karangan-karangan beliau telah  diterima dan dipuji oleh para ulama yang sezaman denganya sehingga  tersebarlah tulisan-tulisan beliau di kalangan para penuntut ilmu.
Sifat-sifat Beliau
Beliau mempunyai akhlak yang terpuji, jiwa yang bersih, sangat pemaaf dan pengampun, zuhud, amat berpegang dengan al-Quran dan as-Sunnah, wara’, banyak berdzikir, senantiasa bertafakkur, mendahului dalam berbuat kebajikan, gemar bersedekah, dan sangat pemurah.
Penutup
Dari biografi singkat Sayyid Ja’far Al-Barzanji di atas, jelaslah bagi kita bahwa beliau bukanlah orang biasa. Bahkan beliau menjabat sebagai Mufti Madinah al-Munawwarah cukup lama yang mana hal ini menunjukkan akan ketinggian ilmu beliau dan kesalehan beliau.
Refferensi
- Al-Kawakib al-Anwar Syarh al-Maulid an-Nabawiy, karangan Sayyid Ja’far  ibn al-Barzanji (keturunan Sayyid Ja’far al-Barzanji) yang wafat pada tahun 1317 H/1899 M. Ditahqiq oleh Syeikh Nada Farj Darwisy, dan disimak oleh Institut Pengkajian Akademik Universitas  al-Azhar, cetakan Markaz ibn al-Athar li at-Turats, halaman 647-650.
- Kasyf az-Zunun ‘an Asam al-Kutub wa al-Funun, karangan Haji Khalifah, cetakan Dar al-Fikr, Beirut, tahun 1999 M, bab jim “Ja’far”, jilid 5, halaman 211.
- Al-Asybah wa an-Nadzair, karangan al-Imam Jalaluddin as-Suyuthiy, cetakan ketiga Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, tahun 2005 M, jilid 2, halaman 225.
- Haul Ihtifaal bi Dzikra al-Maulid an-Nabawiy asy-Syarif, karangan Prof. Dr. al-Muhaddits al-‘Alim al-‘Allamah as-Sayyid Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Abbas al-Maliki, cetakan al-Fithrah, Surabaya, halaman 99.

Selasa, 24 April 2012

al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawi, Perintis Thariqah Alawiyah

 

Yang pertama kali dan satu-satunya dijuluki ‘Al-Faqih Al-Muqaddam’ di kalangan Alawiyin adalah waliyullah Muhammad bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath. Soal gelar yang disandangnya, karena waliyullah Muhammad bin Ali seorang guru besar yang menguasai banyak sekali ilmu-ilmu agama diantaranya ilmu fiqih. Salah seorang guru beliau Ali Bamarwan mengatakan, bahwa beliau menguasai ilmu fiqih sebagaimana yang dikuasai seorang ulama besar yaitu al-Allamah Muhammad bin Hasan bin Furak al-Syafi’i', wafat tahun 406 Hijriah.
Sedangkan gelar al-Muqaddam di depan gelar al-Faqih yang berasal dari kata Qadam yang berarti lebih diutamakan, dalam hal ini waliyullah Muhammad bin Ali sewaktu hidupnya selalu diutamakan sampai setelah beliau wafat maqamnya yang berada di Zanbal Tarim sering diziarahi kaum muslimin sebelum menziarahi maqam waliyullah lainnya.Waliyullah Muhammad bin Ali dilahirkan di kota Tarim, beliau anak laki satu-satunya dari Imam Ali bin Muhammad Shahib Mirbath yang menurunkan 75 leluhur kaum Alawiyin, sedangkan Imam Alwi bin Muhammad Shahib Marbad menurunkan 16 leluhur Alawiyin, termasuk di antaranya yang dikenal sebagai walisongo, di tanah Jawa, Indonesia. Sayyid Muhammad bin Ali yang terkenal dengan nama al-Faqih al-Muqaddam ialah poros sesepuh semua kaum Alawiyin.
Selengkapnya nama beliau Sayyidina Al Faqihi Muqaddam Muhammad bin Ali bin Al Imam Muhammad Shahib Mirbath bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidullah (Abdullah) bin Imam Al Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad an Naqib bin Al Imam Ali Al Uraidhi bin Ja’far as Shadiq bin Al Imam Muhammad al Baqir bin Al Imam Ali Zainal Abidin binl Imam Hussein As Sibith bin Imam Ali bin Abi Thalib Suami Al Batul Fatimah az-Zahra binti Rasullullah Muhammad saw. Beliau dilahirkan pada tahun 574 H di Tarim.
Beliau seorang yang hafal al-quran serta menguasai makna yang tersurat dan tersirat dari Qur’an, dan selalu sibuk menuntut berbagai macam cabang ilmu pengetahuan agama, hingga di akui oleh Ulama Hadramaut saat itu bahwa beliau telah mencapai tingkat sebagai mujtahid mutlak. Beliau dikenal dengan gelar lain yakni ustadzul A’zham (Guru besar), beliau adalah bapak dari semua keluarga Alawiyin, keindahan kaum muslimin dan agama Islam. Dari keistimewaan yang ada pada Sayyidina Al-Faqihi Al muqaddam adalah tidak suka menonjolkan diri, lahir dan batinnya dalam kejernihan yang ma’qul (semua karya pemikiran) dan penghimpun kebenaran yang manqul (nash-nash Alquran dan Sunnah). Beliau adalah seorang Mustanbith al-furu’ min al-ushul (ahli merumuskan cabang-cabang hukum syara’ yang digali dari pokok-pokok ilmu fiqih. Ia adalah Syaikh Syuyukh al-syari’ah (mahaguru ilmu syari’ah) dan seorang Imamul Ahlil Hakikat (Imam ahli hakikat), Sayidul thaifah Ash-Shufiyah (Penghulu Kaum Sufi) Murakiz Dairah al-Wilayah al-Rabbaniyah, Qudwah al-’Ulama al-Muhaqqiqin (panutan para ulama ahli ilmu hakikat), Taj al-A’imah al-’Arifin (mahkota para Imam ahli ma’rifat), Jami’ul Kamalat (yang terhimpun padanya semua kesempurnaan), sedang dalam segala kesempurnaannya beliau berteladan kepada Amir al-Mukminin (Imam Ali bin Abi Thalib). Thariqahnya adalah kefakiran yang hakiki dan kema’rifatan yang fitrah. Beliau Imam Faqihi Muqadam adalah penutup Aulia-illah (para waliullah) yang mewarisi maqam Rasulullah saw, yaitu maqam Qutbiyah Al Kubra (Wali Quthub besar).
Imam Muhammad Bin Ali belajar fiqh Syafi’i kepada Syeikh Abdullah bin Abdurahman Ba’Abid dan Syeikh Ahmad Bin Muhammad Ba’Isa, belajar Ushul dan ilmu logika kepada Imam Ali Bin Ahmad Bamarwan dan Imam Muhammad Bin Ahmad Bin Abilhib, belajar ilmu Tafsir dan Hadits kepada seorang Mujtahid bernama Sayid Ali bin Muhammad Bajadid, belajar ilmu tasawuf dan hakikat kepada Imam salim Bashri, Syeikh Muhammad Ali Al Khatib dan pamannya Syeikh Alwi Bin Muhammad Shahib Mirbath serta Syeikh Sufyan Al Yamani yang berkunjung ke Hadramaut dan tinggal di kota Tarim.
Diantara karamah-karamah yang nampak pada diri beliau adalah ketika anak beliau Ahmad mengikuti beliau ke suatu wadi di pertengahan malam, maka sesampainya di wadi tersebut beliau berdzikir dengan mengeluarkan suara, maka batu dan pohon serta mahluq yang ada di sekeliling tempat itu semuanya ikut berdzikir. Beliau juga dapat melihat negeri akhirat dan segala kenikmatannya hanya dengan melihat di antara kedua tangannya, dan melihat dunia dengan segala tipu dayanya melalui ke dua matanya.
Di antara sikap tawadhunya, beliau tidak mengarang kitab-kitab yang besar, akan tetapi ia hanya mengarang dua buah kitab berisi uraian yang ringkas. Kitab tersebut berjudul : Bada’ia Ulum Al Muksysyafah dan Ghoroib Al Musyahadat wa Al Tajalliyat. Kedua kitab tersebut di kirimkan kepada salah satu gurunya Syeikh Sa’Adudin Bin Ali Al Zhufari yang wafat di Sihir tahun 607 H. Setelah melihat dan membacnya ia merasa takjub atas pemikiran dan kefasihan kalam Imam Muhammad Bin Ali. Kemudian surat tersebut di balas dengan menyebutkan di akhir tulisan suratnya : ‘’Engkau wahai Imam, adalah pemberi petunjuk bagi yang membutuhkannya’’. Imam Muhammad Bin Ali pernah ditanya tentang 300 macam masalah dari berbagai macam ilmu, maka beliau menjawab semua masalah tersebut dengan sebaik-baiknya jawaban.
Rumah beliau merupakan tempat berlindung bagi para anak yatim, kaum faqir dan para janda. Jika rumah beliau kedatangan tamu, maka ia menyambut dan menyediakan makanan yang banyak, dimana makanan tersebut tersedia hanya dengan mengangkat tangan beliau dan para tamu untuk berdoa dan memohon kepada Allah swt. Sebagaimana sabda rasulullah saw :”Sesungguhnya para saudaraku jika ia mengangkat tangannya untuk memohon makanan, maka akan tersedia makanan tersebut dalam jumlah yang banyak”.
AsSyeikh Abdurahman AsSeqaf berkata : ”Tidak aku lihat dan aku dengar suatu kalam yang melebihi kalam Imam Al faqihi Muqadam kecuali kalam para Nabi”. Sedang Imam Al faqihi Muqadam bernah berkata kepada kaumnya ’’Kedudukan ku terhadap kalian seperti kedudukan Nabi Muhammad kepada kaumnya’’. Didalam riwayat lain AsSyeikh Abdurahman AsSeqaf : berkata ’’Kedudukan ku terhadap kalian seperti kedudukan Nabi Isa kepada kaumnya’’. Berkata AsSyeikh Al Kabir Abu Al Ghaits Ibnul Jamil :’’Derajat kami tidak akan menyamai derajat Imam Al Faqihi Muqadam, terkecuali hanya setengahnya saja’’. Dalam salah satu kalimat yang ditulisnya kepada gurunya Syeikh Sa’aduddin, Imam Al Fiqihi Muqadam bekata ‘’Aku telah di Mi’rajkan ke Sidratul Muntaha sebanyak tujuh kali ( dilain riwayat dua puluh tujuh kali).
Disuatu saat Al Imam Faqihi Muqadam duduk bersama sahabatnya, ketika itu ada seseorang yang nampak seperti Badui datang mengunjunginya, dengan di atas kepalanya membawa keju. Maka berdiri Imam Faqihi Muqadam untuk mengambil keju tersebut lalau memakannya. Para sahabatnya yang hadir saat itu merasa heran dan bertanya : ‘’Siapa dia ? maka beliau menjawab : Khidir as. Kejadian tersebut menjelaskan bahwa : Allah telah mengangkat derajat Al Faqihi Muqadam sebagai seorang Ahli Hakikat dan Ahli Kasyaf. Ini terlihat dari isyarat keju yangdi makannya dari kepala Nabi Khidir as. Keju tersebut di ibaratkan sebuah buah dari sebuah dari hasil mujahadah para wali. Dan di jadikan Imam Al Faqihi Muqadam bagi para wali seperti kedudukan Malaikat Jibril terhadap para Nabi. Syeikh Fadhal bin Abdullah Bafadhal berkata : ‘’Banyak dari manusia yang mendapatkan anugrah dari imam Al Faqihi Muqadam lantaran didikan dan kebaikannya, khususnya dua orang Syeikh Kabir Abdullah bin Muhammad Abbad dan Syeikh Said Bin Umar Balhaf’’.
Imam Muhammad Bin Ali Al Faqihi Muqadam berdoa untuk para keturunannya agar selalu menempuh perjalanan yang baik, jiwanya tidak di kuasai oleh kedzaliman yang akan menghinakannya, serta tidak ada satupun dari anak cucunya yang meninggal kecuali dalam keadaan mastur ( Kewalian yang tersembunyi ).
Beliau seorang yang gemar bersedeqah sebanyak dua ribu ratl kurma kepada yang membutuhkannya, memberdayakan tanah pertaniannya untuk kemaslahatan umum. Beliau juga menjadikan isterinya Zainab Ummul Fuqara sebagai khalifah beliau.
Mengenai kesufian beliau. Adapun sumber penisbatan Al-Khirqah dan Silsilah Isnad Didalam Kesufian Beliau Al Faqihi Muqadam, diterangkan mengambil sanad Khirqah Kesufian berasal dua jalur, salah satu dari jalur ayah-kakek beliau ( Ahlulbait ), yakni beliau dididik dan menerimanya dari ayah beliau, Ali bin Muhammad dan dari paman beliau, Alwi bin Muhammad, keduanya menerima dari ayahnya Muhammad Syahib Mirbath, beliau menerimanya dari ayahnya, Ali Khali’ Qasam, beliau menerimanya dari ayahnya, Alwi Shahib Samal, beliau menerimanya dari ayahnya, Ubaidillah, beliau menerimanya dari ayahnya, al-Imam Muhajir Ahmad bin Isa, beliau menerimanya dari ayahnya, Isa an-Naqib, beliau menerimanya dari ayahnya, Muhammad, beliau menerimanya dari ayahnya, Ali al-Uraidhi, beliau menerimanya dari ayahnya, al-Imam Ja’far as-Shoddiq, beliau menerimanya dari ayahnya, al-Imam Muhammad al-Baqir, beliau menerimanya dari ayahnya, Ali Zainal Abidin, beliau menerimanya dari ayahnya, al-Imam al-Hussein dan dari pamannya al-Imam al-Hassan, keduanya menerima dari kakeknya Nabi Muhammad SAW, juga dari ayahnya al-Imam Ali bin Abi Thalib sedangkan Nabi SAW menerimanya dari Allah seperti yang beliau katakan:
“Aku dididik oleh Tuhanku dan ia mendidikku dengan sebaik-baik didikan”.
Sedang jalur yang ke dua, Beliau Al Faqihi Muqadam diterangkan mengambil sanad Khirqah Kesufian di bawah usia 20 tahun, dari seorang Sufi terkemuka yang berasal dari Maroko. Selengkapnya yakni; lewat Abu Madyan al-Maghribi (Syeikh Syu’aib bin Husain Al Anshari) yang wafat di tahun 594 H, dengan perantaraan Abdurrahman Al-Muq’ad dan Abdullah As-Shaleh. Sedangkan Syeikh Syu’aib Abu Madyan menerimanya dari Syeikh Abu Ya’za al-Maghribi, beliau menerimanya dari Syeikh Abul Hasan bin Hirzihim atau yang dikenal dengan nama Abu Harazim, beliau menerimanya dari Syeikh Abu Bakar bin Muhammad bin Abdillah ibnl Arabi dan Al-Ghadi Al-Mughafiri. Sedangkan ibnl Al-Arabi menerimanya dari Syeikh Al Imam Hujjatul Islam Al-Ghadzali, beliau menerimanya dari gurunya, iaitu Imam al-Haramain Abdul Malik bin Syeikh Abu Muhammad Al-Juwaini, beliau menerimanya dari ayahnya, Abu Muhammad bin Abdullah bin Yusuf, beliau menerimanya dari Syeikh Abu Thalib al-Makki, beliau menerimanya dari Syeikh Syibli, beliau menerimanya dari Syeikh Junaid Al Baghdadi, beliau menerimanya dari pamannya, yaitu As-Sirri As-Siqthi, beliau menerimanya dari Syeikh Ma’ruf al-Karkhi, beliau menerimanya dari gurunya, Syeikh Daud at-Tho’i, beliau menerimanya dari Syeikh Habib al-’Ajmi, beliau menerimanya dari Imam Hasan al-Basri, beliau menerimanya dari Imam Ali bin Abi Thalib, beliau menerimanya dari Rasulullah SAW, beliau menerimanya dari malaikat Jibril, dan beliau menerimanya dari Allah Ta’ala.
Imam al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali, wafat di kota Tarim tahun 653 hijriah dan di makamkan Di Zanbal, Tarim pada malam Jum’at akhir bulan Dzulhijah.
[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzam Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy] & Idrus Alwi Al Masyhur dalam Bukunya Menelusuri Silsilah Suci Bani Alawi (Yayasan Al Mustarsyidin : 2002, DLL)


Jumat, 09 Maret 2012

Habib Hamid bin Ja’far Al-Gadri: Membumikan Madrasah Hadhramaut


“Jadi, ada keseimbangan dakwah antara wa’tashimu dan kalimatun sawa. Inilah salah satu buah  manhajnya Madrasah Hadhramaut, yang dulu pernah ditebar dengan penuh hikmah lewat dakwah para wali di tanah Jawa, hingga berhasil mengislamkan hampir seluruh penduduk Nusantara.”

Habib Hamid bin Ja’far lahir di Bangkalan, Madura, pada 6 Desember 1981 M/11 Shafar 1402 H. Kakeknya, yaitu Habib Umar, memang lahir di Pontianak, namun kemudian hijrah ke Madura dan wafat di sana. Sang kakek adalah putra Pangeran Arya, yang menjadi semacam qadhi di Kesultanan Pontianak. Nama asli Pangeran Arya adalah Syarif Alwi bin Muhammad Al-Gadri (Tuan Mad Besar) bin Sulthan Utsman Al-Gadri, sultan Pontianak yang ketiga.
Habib Hamid menjalani pendidikan awalnya di Madrasah Al-Hamidiyah. Tahun 1992, saat ia memasuki kelas 3 ibtidaiyah, orangtuanya memasukkannya ke Pesantren Sidogiri.
Lulus tsanawiyah, tahun 1999, ia mendapat tugas mengajar di Pesantren Al-Ihsan, Leces, Probolinggo. Setelah itu ia mengajar di pesantren asuhan Habib Haidarah Al-Hinduan, sambil meneruskan pelajarannya kepada sang pengasuh pesantren, hingga 2004.
Sewaktu di Sidogiri, ia sudah aktif menulis dan berceramah, yaitu lewat Jam’iyyah Al-Muballighin, semacam lembaga untuk pelatihan para muballigh di Pesantren Sidogiri. Itu dijalaninya sejak kelas 6 ibtidaiyah. Sedang di tengah-tengah masyarakat, yakni sewaktu liburan pondok, ia mulai terjun ceramah sejak usia 16 tahun. Di Madura, saat usia 16 tahun itu, ia sempat membentuk Forma, Forum Remaja Madura, yang masih eksis hingga sekarang.
Tahun 2004, atas jasa Habib Haidarah Al-Hinduan, gurunya saat di Situbondo, ia pun berangkat ke Hadhramaut.

Sarat Aktivitas
Sesampainya di Hadhramaut, Habib Hamid ditempatkan di furu’ (cabang) Darul Musthafa, kota Syihr.
Belum sampai dua bulan, ia mengajukan diri untuk diuji pada semua displin mata pelajaran tingkat furu’, seperti nahwu, fiqih, tauhid. Alhamdulillah, ia lulus dan tak lama kemudian langsung dipindahkan ke Darul Musthafa, Tarim.
Di Tarim, di tahun kedua ia sudah membaca kitab Minhaj ath-Thalibin, di bawah bimbingan beberapa guru. Selain guru utamanya, Habib Umar Bin Hafidz, dan kakaknya, Habib Ali Masyhur Bin Hafidz, juga sejumlah guru Darul Musthafa lainnya.
Ketika bacaannya pada kitab Minhaj hampir khatam, yang ia tempuh selama sekitar dua tahun lebih, ia menikah dengan salah seorang santriwati Daruz Zahra, asuhan Hababah Nur binti Muhammad Al-Haddar, istri Habib Umar Bin Hafidz.
Setelah menikah, ia pulang ke Indonesia.
Selama di Hadhramaut, Habib Hamid aktif sebagai aktivis organisasi. Ia menjadi salah seorang ketua HIPMI (Himpunan Pelajar-Mahasiswa Indonesia) Yaman, yang sekarang berubah nama menjadi PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Yaman. Ia juga kemudian menjadi ketua pelajar Indonesia Darul Musthafa, tahun 2006-2007.
Selain tekun dalam mengikuti pelajaran dan aktif berorganisasi, ia pun meneruskan kesukaannya dalam menulis. Ia menulis, di antaranya, di An-Nadwah, terbitan HIPMI, dan di Anwar al-Ma’rifah, yang diterbitkan para pelajar Darul Musthafa, saat ia menjadi ketua pelajar Indonesia di Darul Musthafa Yaman.
Bukan hanya mengikuti pelajaran di Darul Musthafa, ia juga aktif mengikuti pelajaran-pelajaran para ulama lainnya di Hadhramaut, seperti Habib Hasan Asy-Syathiri, Habib Salim Asy-Syathiri, Habib Abdullah Bin Syihab, dan Habib Abubakar ‘Adni Al-Masyhur, yang tinggal di kota ‘Aden.
Dari Habib Abubakar, ia mendapat ijazah. Ceritanya, suatu saat ia mempunyai sejumlah pertanyaan, khususnya terkait Madrasah Hadhramaut. Dalam surat itu ia meminta ijazah kepada Habib Abubakar. Suratnya pun dibalas oleh Habib Abubakar. Dalam surat itu, Habib Abubakar sekaligus memberikan ijazah kepadanya.
Kalau Habib Abubakar datang ke Tarim, ia meminta izin kepada Habib Umar untuk mengikuti setiap kegiatan atau majelis yang diadakan Habib Abubakar secara penuh. Selama ia di Hadhramaut, Habib Abubakar Al-Masyhur beberapa kali datang ke Tarim, dan selama di Tarim rata-rata sekitar lima belas hari. Maka, selama sekitar dua pekan itu ia selalu hadir di majelis-majelis Habib Abubakar, rauhah, seminar, ceramah, dan sebagainya.
Kegemarannya dalam membaca membuatnya juga aktif mengikuti pemikiran sejumlah ulama Timur Tengah non-Hadhramaut lainnya. Selain sangat mengidolakan guru-gurunya saat di Hadhramaut, ia juga menggandrungi pemikiran-pemikiran Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi, Syria, Syaikh Abdullah bin Mahfudz Bin Bayyah, Mauritania, dan Syaikh Ali Jum’ah, Mesir.
Di matanya, para pemikir Ahlussunnah wal Jama’ah yang mempunyai sanad mata rantai keilmuan itu memiliki keselarasan pemikiran dengan ajaran kaum salafush shalih. Selain mengoleksi kitab-kitab karya mereka, terutama karya Al-Buthi, yang hampir lengkap ia miliki, ia juga aktif mengikuti pemikiran-pemikiran mereka hingga sekarang lewat media internet.
Sepulangnya di Indonesia, setahun pertama ia banyak bolak-balik Jakarta-Madura.
Setelah setahun, akhirnya ia memutuskan tinggal di Jakarta. Istrinya memang berasal dari keluarga Al-Haddad, Kalibata, Jakarta Selatan.
Di Jakarta, ayah Muhammad dan Umar ini kemudian mendirikan semacam institusi penelitian, yang ia namakan “Al-Ghanna Foundation”, yang bergerak di bidang keilmuan, ta’ziyah, dan dakwah.
Aktivitasnya dalam mengajar saat ini antara lain membuka majelis mingguan setiap malam Senin di rumahnya. Di antara kajiannya adalah tentang sirah shahabat, sejarah kehidupan para sahabat Nabi SAW. Di antara kitab yang ia gunakan adalah Tarikh al-Khulafa Ar-Rasyidin, karya As-Suyuthi. Setiap Rabu pagi ia membuka pelajaran bahasa Arab, fiqih, akhlaq, dan tafsir, juga di rumahnya. Dua minggu sekali ia mengajar di Masjid Al-Fudhala’, Tanjung Priok, bergantian setiap pekannya dengan K.H. Saifuddin Amsir.
Lewat Al-Ghanna pula ia membuat jaringan satri dan alumni pesantren salaf, misalnya, lewat penulisan buku-buku atau terjemah kitab-kitab, yang kemudian diterbitkan Nurani Publishing, yang juga ia dirikan untuk kebutuhan menerbitkan buku-buku keislaman.
Saat ini, ia juga aktif sebagai pembina keruhanian di Rijalul Anshar, sebuah lembaga otonom di bawah payung organisasi GP Ansor, organisasi pemuda NU. Selain itu ia pun menjadi pembina ubudiyah pada perguruan pencak silat Tiga Serangkai, yang anggotanya kini mencapai puluhan ribu orang, yang tersebar di seluruh Nusantara.

Madrasah Hadhramaut
Saat berangkat ke Hadhramaut, diakuinya, itu bukan hanya karena adanya hubungan emosional, lantaran ia berdarah Hadhramaut. Setidaknya, ada dua alasan hingga ia menempatkan Hadhramaut sebagai pilihan terbaik.
Pertama, adanya sanad yang dimiliki para ulama Hadhramaut. Sanad ulama Hadhramaut bukan hanya bersifat formal, tapi juga sanad bi ma’nal kalimah, sanad yang sesungguhnya, lewat pengajaran turun-temurun dari anak-ayah-kakek dan seterusnya, baik dalam pemikiran, suluk, tarbiyah, maupun dakwah.
Habib Hamid kemudian melanjutkan, “Kalau dalam hadits, itu dari segi riwayah. Dari segi dirayah, dan ini alasan kedua, dalam keilmuan, suluk, dan dakwah, Hadhramaut telah menjawab semua yang saya butuhkan : pemikiran, ruhiyah, dakwah, dan sebagainya. Manhaj mereka dapat mengikuti perkembangan zaman, yang dapat diterima secara sadar oleh akal yang sehat, yang hadir sebagai manhaj yang lurus, yang menjadi bukti bahwa ini adalah manhaj Nabawi.”
Benar yang dikatakannya. Tokoh-tokoh utama Hadhramaut yang kini ada di sana memang dapat disaksikan dengan mata kepala dan mata hati sebagai orang-orang yang kala kita memandangnya saja dapat mengingatkan kita kepada Allah SWT. Mereka benar-benar tampil di hadapan kita sebagai sosok-sosok yang memang berhak untuk kita cintai.
Syuyukh, tuan-tuan guru tanah Hadhramaut itu, melestarikan manhaj Nabawi dan manhaj para salafush shalih dalam sebuah tatanan yang dalam istilah yang sering dikatakan Habib Abubakar Adni Al-Masyhur, “Inilah Madrasah Hadhramaut.” Demikian Habib Hamid menjelaskan.

Bukan Menjahati Orang-orang Kafir
Sosok-sosok seperti Habib Umar Bin Hafidz, misalnya, menurut Habib Hamid, benar-benar hadir di tengah-tengah masyarakat dunia sebagai figur yang meneladani sosok rahmatan lil ‘alamin, Rasulullah SAW, yang tak lain datuk mereka sendiri.
Karenanya, Habib Umar Bin Hafidz, dalam salah satu ceramahnya di New York, menyatakan, makna asyidda’u ‘alal kuffar bukan berarti ketegasan kita dalam menghujat atau menjahati orang-orang kafir, tetapi kita tegas di depan mereka bahwa kita ini punya prinsip.
Kita tunjukkan kepada mereka, inilah akhlaq kita, inilah pemikiran kita, inilah jalan kita. Jangan sampai saat kita berbaur dan bermuamalah dengan mereka kemudian akhlaq kita meniru mereka. Di sini, tampak bahwa pemahaman beliau jauh dari pemahaman untuk bersikap frontal.
Itu pula sebabnya, Habib Umar menggagas sebuah pemikiran, yang kemudian diluncurkan secara institusional lewat muridnya, Habib Ali Al-Jufri, tentang kalimatun sawa, kesamaan kata atau platform, yaitu antara umat Islam dan Kristen.
Saat ide kalimatun sawa tersebut diluncurkan, tak kurang dari 300 tokoh Kristen dunia mendukungnya secara penuh.
Bagaimanapun, agama Nasrani, awalnya, diturunkan kepada Nabi Isa AS. Tentu, pasti saja masih terdapat hal-hal yang sama di antara kedua ajaran agama besar dunia itu. Dan pada hal-hal tersebut kedua umat beragama ini dapat bergandengan tangan.
Kalau Habib Umar dapat bergandengan tangan dengan kalangan non-muslim, bagaimana mungkin beliau tidak dapat bergandengan tangan dengan sesama muslim?
Karenanya, pada saat yang bersamaan, Habib Umar Bin Hafidz juga mengusung ide wa’tashimu di setiap tempat yang ia singgahi. Wa’tashimu adalah kata-kata yang dikutip dari sebuah ayat Al-Qur’an yang maknanya “bersatulah kalian”.
Lewat dakwahnya, Habib Umar tak henti berupaya mempererat ukhuwah sesama umat Islam, terutama di kalangan ulamanya, sebagai poros dakwah umat. Di Indonesia, kita mengenal Majelis Muwashalah bayna al-‘Ulama’ wal Muslimin (majelis penghubung antar sesama ulama dan umat Islam), yang juga didirikan Habib Umar. Institusi tersebut kini mendapat sambutan hangat hampir seluruh ulama Nusantara.
Sehingga, terhadap perbedaan pendapat sesama umat Islam, Habib Umar selalu berusaha menyikapinya dengan bijak. Sarat nuansa rahmatan lil ‘alamin. Terhadap paham-paham umat yang ekstrem, beliau selalu mengedepankan akhlaqul karimah.
Jadi, ada keseimbangan dakwah antara wa’tashimu dan kalimatun sawa. Inilah salah satu buah manhaj Madrasah Hadhramaut, yang dulu pernah ditebar dengan penuh hikmah lewat dakwah para wali di tanah Jawa, hingga berhasil mengislamkan hampir seluruh penduduk Nusantara. Mereka, para wali-wali itu, yang juga kaum sadah ‘Alawiyyin, tentunya terlahir pula dari didikan Madrasah Hadhramaut. Dari sini, kita melihat bahwa Madrasah Hadhramaut, sebagai salah satu manhaj dakwah, menjadi penting untuk ditekankan setiap insan dakwah di Nusantara di setiap medan dakwah yang mereka geluti.
Kita, yang Ahlussunnah wal Jama’ah, harus tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah. Kalau pemikiran kita berbenturan di sana-sini dengan kalangan Wahabi atau Syi’ah, misalnya, sikapi dengan akhlaq yang dicontohkan para salaf Ahlussunnah wal Jama’ah.
“Orang bilang, Wahabi suka mengkafirkan. Orang juga bilang, Syi’ah suka mencaci maki. Nah, menolak paham Wahabi atau Syi’ah, harus dengan cara yang tidak sama dengan cara orang Wahabi dan Syi’ah itu. Akhlaq yang dicontohkan Rasulullah SAW, yang kemudian diteladani para ulama salaf Ahlussunnah wal Jama’ah, harus dikedepankan. Dan ini pula salah satu buah manhaj Madrasah Hadhramaut,” ujarnya memungkasi wawancara dengan alKisah.

Ismail Yahya

Selasa, 28 Februari 2012

Habib Ahmad bin Husein as-Segaf

Habib Ahmad bin Husein bin Abu Bakar bin Husein as-Segaf dilahirkan di Kota Bangil, Jawa Timur dalam tahun 1935. Ayahanda beliau al-Habib Husein bin Abu Bakar rahimahUllah adalah seorang ulama yang sholeh yang dalam penguasaannya dalam ilmu fiqh. Dari usia kecil lagi, Habib Ahmad mendapat asuhan dan didikan agama dengan ketat oleh ayahanda beliau tersebut. Datuk beliau, al-Habib Abu Bakar bin Husein as-Segaf, rahimahUllah juga seorang sholeh yang diakui kewaliannya oleh khalayak ramai. Beliau mengabdikan hayatnya untuk membantu segala fakir dan miskin serta sesiapa sahaja yang perlukan bantuan. Beliau merupakan sahabat dan murid al-Quthub al-Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf rahimahUllah.

Habib Ahmad telah meneruskan pengajian agamanya dengan menjadi santri kepada Habib Muhammad Ba`Abud rahimahUllah di Pesantren Darun Nasyi'in, Lawang, kemudian ke Bondowoso untuk belajar dengan Habib Hasan BaHarun rahimahUllah. Akhirnya, Habib Ahmad telah berangkat ke Makkah al-Mukarramah untuk mengaji dengan Prof. Dr. Habib Muhammad bin 'Alawi al-Maliki al-Hasani. Habib Ahmad bermastautin selama kira-kira 6 tahun di Makkah, dan selain dengan Buya al-Maliki, beliau turut menimba ilmu dan mengambil ijazah dan sanad daripada beberapa ulama besar al-Haramain seperti Habib 'Abdul Qadir bin Ahmad as-Saqqaf, Syaikh 'Abdullah bin Sa`id al-Lahji dan ramai lagi, rahimahumUllah.

Sekembalinya dari Kota Makkah, beliau telah turut bersama Habib Hasan bin Ahmad BaHarun membuka Pesantren Darul Lughah wad Da'wah. Habib Ahmad telah mengabdikan dirinya sebagai tenaga pengajar di pesantren tersebut selama lebih kurang 25 tahun. Setelah wafatnya Habib Hasan rahimahUllah, Habib Ahmad telah mendirikan pesantrennya sendiri di Bangil, Jawa Timur dengan nama Darul Ihya` Li Ulumiddin. Habib Ahmad hafizahUllah terkenal sebagai ulama yang tegas dalam menghadapi berbagai aliran sesat yang bertentangan dengan pegangan Ahlus Sunnah wal Jama`ah terutamanya ajaran Syiah. Mudah-mudahan Allah melanjutkan usia beliau dalam sihat wal `afiat yang sempurna serta melindungi serta merahmati beliau sentiasa.

Habib Hamid al-Kaaf - Khalifah Syaikh Yaasin

Di antara ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah bermazhab Syafi`i yang masih hidup dan berbakti menabur ilmu di Kota Suci Makkah al-Mukarramah adalah al-Habib Hamid bin `Alwi bin Salim bin Abu Bakar al-Kaaf al-Husaini asy-Syafi`i al-Makki hafizahullah. Beliau dilahirkan pada hari Ahad 25 Sya'baan 1345H di Banjarmasin, Kalimantan, Indonesia. Dibesarkan dalam keluarga mulia dan mula menuntut ilmu di bawah asuhan ayahanda beliau sendiri. Ayahanda wafat di Makkah ketika beliau masih kecil, lalu beliau meneruskan persekolahannya di Banjar sebelum pergi ke Surabaya untuk bersekolah di Madrasah al-Khairiyyah pada tahun 1360H. Di sana beliau belajar selama 3 tahun dan di antara guru beliau adalah Syaikh `Umar Baraja`, Habib Salim bin `Aqil dan lain-lainnya. Setelah 3 tahun di madrasah tersebut, beliau kembali ke Banjarmasin dan meneruskan pengajian di Ma'had Darus Salam ad-Diniyyah di Martapura. Antara guru beliau di sini adalah Syaikh Muhammad Sya'raani bin `Arif, Syaikh Husain Qudri dan Syaikh Abdul Qadir Hasan. Pada tahun 1367 beliau ke Makkah untuk menunaikan fardhu haji dan untuk menuntut ilmu di sana. Beliau menuntut di Masjidil Haram selama 4 tahun sebelum masuk ke Darul Ulum ad-Diniyyah pada tahun 1371 sehingga selesai pengajian di sana pada tahun 1373H. Setelah tamat pengajian, beliau mula mengajar berbagai ilmu seperti fiqh, usul, hadis, nahu, falak dan ilmu-ilmu alat, sehingga menjadi antara ulama yang mengajar dalam Masjidil Haram selain menjadi guru di Madrasah Ulum ad-Diniyyah, Makkah. Beliau juga pernah dilantik menjadi setiausaha Majlis Syura dan sehingga kini beliau menjadi ahli fatwa (mufti) Kedutaan Indonesia di Arab Saudi. Beliau juga terkenal sebagai seorang ulama yang mahir dalam ilmu-ilmu hadits dan falak sehingga beliau digelar sebagai al-`Allaamah al-Muhaddits al-Falaki.
Antara guru-guru beliau yang lain adalah Syaikh Muhammad Yaasin al-Fadani di mana beliau mempunyai ikatan yang erat dengan Syaikh Muhammad Yaasin sehingga beliaulah yang menjadi khalifah beliau dan kini beliau tetap terus mengajar di halaqah Syaikh Muhammad Yaasin pada setiap malam Rabu di Syari' Sittin. Semoga Allah memberikan umur yang panjang kepada beliau dalam sempurna kesihatan lagi banyak keberkatan.

Kasyaf Terbukanya hijab antara seorang Hamba dengan Alloh


Saya teringat ketika masih Ta’lim di Pesantren darul hadist Alfaqihiyyah Malang Jawa timur, ketika musim liburan tiba para santri akan pulang ke daerahnya masing masing. Menjelang liburanpun Konsentrasi belajar sudah mulai terganggu , bayangan rumah dan bertemu dengan sanak saudara begitu terlintas dalam benak para santri. Seakan para Santri merasakan kebebasan sesaat . Ada beberapa Santri nakal yang meluapkan kebebasan dirumah dengan Nonton di Bioskop, mendengarkan Musik, Ngetrek dengan Gang Motor, Jalan jalan ke Mall  Dll  yang semua itu di larang di Pesantren. Termasuk saya yang bandel . Begitu memasuki tahun ajaran baru  dimana semua santri harus kembali ke pesantren untuk kembali belajar dan harus melepas segala atribut kebebasan untuk konsentrasi belajar , membersihkan hati menuju ridho Alloh guna mendapat ilmu yang bermanfaat dan mendapat keberkahan dari Pendiri pesantren darul Hadist Alfaqihiyyah Al habib Abdul qodir bil Faqih dan Al habib Abdulloh Bil Faqih .

Suatu hari semua santri berkumpul di Aula untuk mendengarkan tausiyah yang di sampaikan oleh Putra guru Pon-pes Darul hadist Al faqihiyyah. Saya dan teman teman santri yang lain Habis di Marahi beliau , Beliau mengatakan kalau Muka saya dan teman  teman  yang lain hitam lebam karena kemaksiatan yang dilakukan sewaktu mengisi liburan di rumah. Saya tidak habis pikir bagaimana beliau bisa tahu kebandelan yang saya lakukan pada waktu libur bersama teman teman  ?? . Saya  jadi teringat cerita cerita kawan kawan santri bahwa ayahanda beliau Alhabib Abdulloh bil faqih  pernah sholat di Masjid Agung kota Malang yang beliau lihat para jamaah yang sedang sholat wujud  kepala mereka dalam Wujud binatang seperti babi dan monyet. Saya jadi merinding mendengar cerita Karomah beliau , Apa mungkin Wajah saya terlihat seperti seekor babi  dalam pandangan mata guru saya ??  Kasyaf  itulah sebutan yang pas untuk peristiwa seperti di atas.

Kasyaf adalah merupakan karomah dan karunia Alloh yang diberikan seorang hamba yang dikasihinya. Kasyaf dapat diartikan terbukanya tembok pemisah antara seorang hamba dengan Alloh  untuk dapat melihat, merasakan dan mengetahui hal hal ghoib yang  sangat sulit diterima oleh akal sehat . Nabi Muhammad saw pun mendapatkan karunia tersebut namun di sebut Mukjizat  . ketika Nabi Muhammad SAW bepergian bersama Abu Bakar. Ketika melewati areal pemakaman, tiba-tiba Nabi berhenti di salah satu makam. Abu Bakar bertanya, kenapa kita berhenti di sini? Nabi kembali bertanya, apakah engkau tidak mendengarkan bahwa orang di bawah makam ini sedang disiksa dan menjerit kesakitan lantaran pada waktu hidupnya tidak bersih ketika ia habis membuang hajat kotoran. Ini pertanda bahwa ada telinga yang mampu mendengar suara-suara alam ghaib  (di alam barzakh) dan yang lainnya tidak bisa.

Peristiwa  Kasyaf juga pernah terjadi masa masa khalifah Umar bin khotob ketika beliau menjadi Khotib pada sholat Jumat , tiba tiba beliau berteriak “ Hai Sariah ….hai Tentaraku larilah kebukit itu…bukit itu…. 

Tentu saja sikap Umar tersebut membuat heran para Jamaah  dan ketika selesai  sholat Jumat Sayyidina Umar ditanya oleh sahabat Abdurrahman bin Auf “Ya Amirul mu’minin kenapa engkau berteriak teriak seraya pandangan matamu menatap jauh  ketika berkhutbah ?? Kata Sayyidina Umar “ Beberapa waktu yang lalu aku mengutus Sariah dan bala tentaranya  untuk membereskan gerombolan pengacau , tadi ketika aku sedang Khutbah tiba tiba di hadapanku  tampak Sariah dan tentaranya terkepung oleh gerombolan pengacau dan tidak ada tempat untuk bertahan, maka aku melihat sebuah Bukit ..maka aku berteriak Hai Sariah…Hai Tentaraku Larilah ke bukit itu…bukit itu.. Sahabat Abdurrahman bin Auf hanya menganggukkan kepala antara percaya dan tidak. Maka beberapa lama kemudian datanglah rombongan Tentara yang dipimpin Sariah dan menceritakan dasyatnya peperangan yang mereka lakukan. Dan Sariahpun menceritakan bahwa Dia dan pasukannya di kepung gerombolan pengacau waktu itu terjadi pada saat waktunya kami Sholat Jumat , di saat pasukan kami kepepet Dia mendengar Suara Ghoib dari balik bukit “ Hai Sariah…Hai Tentararaku larilah kebukit itu…bukit itu, maka kamipun menuju bukit tersebut  sebagai benteng pertahanan hingga kami memperoleh kemenangan.

Kasyaf yang menurut para Sufi adalah merupakan buah dari Zuhud yang membawa kita melintas alam Syahadah dan memasuki alam ghaib dengan menggunakan istilah sufi  Zuhud yang  mengantarkan kita pada alam Mukasyafah, tetapi Kasyaf tidak bisa diperoleh dengan usaha dan latihan .Kasyaf merupakan Karunia alloh yang diberikan kepada hambanya yang di Cintai dan di kasihi. Perasaan cinta kepada Alloh terus menerus diwujudkan sampai dapat mencapai ketingkat yang tinggi dan ini mengakibatkan dirinya dapat menguasai jiwanya, setidak tidaknya dapat mengurangi rasa cinta kepada perkara-perkara yang lain, sehingga selalu ingat dan tafakur kepada Alloh beserta sifat sifatnya serta keagungannya, didalam hati sanubarinya sudah tiada lagi sedikitpun ruangan untuk memikirkan hal hal lain diluar itu.

Kasyaf lebih merupakan akibat dari pada sebab. Kasyaf juga bukan merupakan tujuan para pencari Tuhan atau salikin. Namun kasyaf mempunyai peran penting untuk meningkatkan efektifitas dan kualitas diri sang sufi. Kasyaf juga merupakan salah satu jenis pengetahuan langsung, yang dengan itu pengetahuan tentang Hakikat diungkapkan pada hati seorang sufi dan kekasih yang mencintai Allah.

Dengan sifat rahmat-Nya, Allah memberikan kepadanya sebuah Pengungkapan diri Allah. Tidak hanya menambah pengetahuannya tentang Allah, melainkan juga menambah kerinduannya yang bergelora dalam lautan cintanya kepada Allah. Disinilah seorang sufi sampai pada sebutan Ahli al-kasyaf wa al-wujud (Kaum Penyingkap dan Penemu). Dalam penyingkapan itulah mereka “menemukan” dan “bertemu” Allah.

Lalu bisakah orang awam seperti kita memperoleh karunia tersebut ?? Kenapa tidak ? Alloh maha rahman dan rohim , siapapun seorang hamba yang dikehendaki oleh Alloh mendapatkan karunia kasyaf tersebut  tentu akan diberikan . dan tentunya ibadah serta amaliah semuanya semata mata untuk mendapatkan ridho alloh yang harus dikerjakan secara istiqomah. wallohualam

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"









"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog