Tampilkan postingan dengan label Manaqib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manaqib. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Mei 2012

Tafsir singkat Surat Al Kautsar tentang keturunan yang terputus


Mari sekarang kita merujuk tafsir dan penjelasan singkat para ulama pakar mengenai surat Al-Kautsar ini dan sebab-sebab turunnya ayat ini. Bunyi Surat Al-Kautsar [108] sebagai berikut:

إنَّا أعْطَيْنَاكَ الكَوْثرَْ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إنَّ شَانِئَكَ هُوَالأبْتـَرْ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorban lah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus ”.
Surat ini diturunkan sebagai jawaban terhadap tuduhan bahwa keturunan Rasulullah SAW terputus. Jadi  yang dimaksud kalimat “Nikmat yang banyak” dalam ayat itu adalah Rasulullah SAW memiliki keturunan yang banyak dan baik, melalui pernikahan antara Siti Fathimah Az-Zahra’ dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib KW, kebanyakan dari keturunan Siti Fathimah ini menjadi para Imam yang memberi petunjuk masalah-masalah yang berkaitan dengan ketaatan kepada Allah SWT dan keridhaan-Nya. Adapun yang dimaksud kalimat “Orang yang membencimu dialah yang terputus” dalam ayat itu adalah orang yang beranggapan bahwa Rasulullah SAW tidak memiliki keturunan! Tafsir seperti ini dapat anda baca diantaranya dalam kitab-kitab berikut:
Tafsir Fathul Qadir, oleh Asy-Syaukani, jilid 30, halaman 504 ; Tafsir Gharaibul Qur’an (catatan pinggir) Majma’ul Bayan, jilid 30, halaman 175 ; Tafsir Majma’ul Bayan, oleh Ath-Thabrasi, jilid 30, halaman 206, cet. Darul Fikr, Beirut ; Nurul Abshar, oleh Asy-Syablanji, halaman 52, cet. Darul Fikr, tahun 1979 Miladiyah ; Al-Manaqib, oleh Syahraasyub, jilid 3, halaman 127.
Menurut Ustadz Quraish Shihab seorang ulama ahli tafsir Indonesia dalam bukunya yang berjudul Tafsir Al-Qur’an Tafsir atas surat-surat pendek berdasarkan urutan wahyu terbitan Pustaka Hidayah mengatakan: Bahwa surat Al-Kautsar ini diturunkan di Makkah dan merupakan surat ke-14 dalam turunnya wahyu serta surat ke-108 dalam urutan mushaf.
‘Al-Kautsar’ menurut arti kata berasal dari akar kata yang sama dengan ‘Katsir’ yang berarti ’Banyak’. Jadi Al-Kautsar berarti sesuatu nikmat yang banyak. Ustadz Quraish Shihab mengemukakan bahwa Ulama berbeda pen dapat dalam mengartikan “Al-Kautsar” pada surat ini:
Pendapat pertama: Sebagian berpegang pada hadits nabi dari Anas bin Malik (HR Muslim dan Ahmad) yang menceritakan ‘Al-Kautsar’ sebagai sebuah nama telaga yang ada disurga yang dianugerahkan oleh Allah kepada Nabi.
Pendapat kedua: Sebagian lagi berpegang sejarah pada hadits lainnya mengenai ejekan ‘Abtar’ yang berarti ‘terputus keturunan’. Sehingga Al-Kautsar berarti Allah menganugerahkan keturunan yang banyak kepada Rasulallah saw. Pendapat kedua ini dikutip juga oleh Imam Suyuthi dalam bukunya Asbab Annuzul serta Addur Al-Mantsur serta ulama pakar tafsir lainnya seperti Al-Alusy, Al-Qasimy, Al-Jamal, Abu Hayyan, Muhammad Abduh, Thabathabai dan lain lain. Pendapat kedua ini merupakan pendapat yang paling banyak dipercaya oleh para ulama ahli tafsir.
Menurut Ustadz Quraish Shihab, hadits riwayat Muslim dan Ahmad dari Anas bin Malik diatas (pendapat pertama) tentang Al-Kautsar ini, ditolak oleh Muhammad Abduh sebagai penjelasan terhadap surat Al-Kautsar.
Pendapat ketiga: Sebagian lagi menganggap bahwa Al-Kautsar berarti keduanya yaitu nikmat Allah yang banyak yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw.. Salah satunya berupa keturunan yang banyak serta telaga di surga serta nikmat-nikmat lainnya.
Sejarah meriwayatkan juga waktu putra beliau saw. yang terakhir wafat dan belum sempat memiliki keturunan, sedangkan saat itu nabi saw. serta Khadijah ra. dalam usia yang telah cukup tua. Waktu Khadijah sedang hamil, semua orang menunggu apakah Khadijah akan memberikan seorang anak lelaki atau perempuan. Ketika ternyata Khadijah melahirkan seorang puteri (yang kemudian diberi nama Fatimah Az-Zahra) maka orang-orang Quraisy bersorak dan mengatakan bahwa Muhammad “Abtar”. Kata-kata Abtar ini adalah ejekan yang diberikan kepada orang yang terputus keturunannya.
Pendapat terbanyak dari ahli tafsir mengenai sebab-sebab turunnya surat Al-Kautsar ialah bahwa Allah SWT memberikan nikmat kepada Nabi SAW berupa keturunan yang sangat banyak. Dikatakan dalam buku tersebut; “Jika riwayat dari berbagai pakar tafsir ini diterima maka itu berarti Al-Qur’an telah menggaris bawahi sejak dini tentang akan berlanjutnya keturunan Nabi Muhammad SAW  bakal banyak dan tersebarnya mereka itu”.
Allah menurunkan wahyu kepada nabi Muhammad SAW berupa surat Al-Kautsar ini menunjukkan bahwa Allah SWT sesungguhnya telah memberikan nikmat yang banyak dengan kelahiran sayyidah Fatimah ra tersebut, bahwa Rasulallah SAW tidaklah “Abtar” bahkan dari rahim Siti Fatimah ra akan lahir keturunan yang banyak. Selanjutnya dalam ayat tersebut Rasulullah diperintahkan untuk bershalat dan berkurban (aqiqah sebagai wujud rasa syukurnya) dan pada ayat yang ketiga disebutkan bahwa musuh-musuh Rasulullah yang mengejek itulah yang kemudian oleh Al-Qur’an disebut sebagai “Abtar” (terputus).
Surat ini dimulai dengan kata “Inna/Sesungguhnya” yang menunjukkan bahwa berita yang akan diungkapkan selanjutnya adalah sebuah berita  besar yang boleh jadi lawan bicara atau pendengarnya meragukan kebenarannya. Ustadz Quraish Shihab juga mengutip pendapat lainnya bahwa penggunaan kata “kepadamu” pada ayat ketiga menunjukkan bahwa anugerah Allah tersebut (berupa keturunan yang banyak) tidak terkait dengan kenabian melainkan merupakan pemberian Allah kepada pribadi Nabi Muhammad SAW yang dikasihi-Nya.
Dalam buku tersebut juga dikemukakan beberapa argumen yang mendukung bahwa dzurriyah/keturunan Rasulallah SAW memang dilanjutkan melalui rahim Fatimah ra. dan bukan melalui anak lelakinya. Diantaranya dalam surat Al-An’am 84-85 bahwa Al-Qur’an menganggap nabi Isa as sebagai dzurriyah Ibrahim meski pun beliau as lahir dari Maryam (seorang perempuan keturunan Ibrahim as). Juga banyak hadits yang mengutarakan bahwa Rasulallah memanggil Al-Hasan dan Al-Husain sebagai “anakku”.
Sejarah juga membuktikan bahwa dari rahim Siti Fatimah Rasulallah SAW memperoleh dua orang cucu (putera) yang sangat dicintai beliau yaitu Al-Hasan dan Al-Husain ra. Kemudian setelah peristiwa Karbala maka satu-satunya anak lelaki yang tersisa dari keturunan Al-Husain yaitu Ali Awsath yang bergelar “Zainal Abidin” atau “Assajad” (ahli sujud) kemudian beliau ini meneruskan keturunan Nabi SAW dari Imam Husain. Demikian juga keturunan dari Imam Hasan.
Imam Husain sendiri memiliki enam anak lelaki, dan hanya satu yang selamat setelah peristiwa Karbala . Sedangkan Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib kw. memiliki sebelas anak lelaki, beberapa diantaranya meneruskan keturunan. Hingga saat ini Alhamdulillah ada banyak sekali dzurriyah (keturunan) Nabi saw. dari Siti Fatimah ra terutama via Ali Zainal Abidin Assajjad bin Husein bin Ali bin Abi Thalib [ra] dan kemudian menyebar di seluruh muka Bumi. Bahkan menurut Ustadz Quraish Shihab, dzurriyah (keturunan) Nabi SAW ini begitu banyaknya dibandingkan keturunan manusia lainnya. Demikianlah sedikit keterangan dari bukunya Ustadz Quraish Shihab.
Sebagaimana dikemukakan tadi bahwa kita sering baca dikitab-kitab sejarah atau sunnah Rasulullah SAW biografi para Nabi, nama-nama mereka serta nama datuk-datuknya, nama-nama keturunan mereka dan lain sebagainya, tidak lain semuanya ini disampaikan melalui riwayat serta tersimpan dengan rapi sampai sekarang. Tidak ada para sahabat atau tabi’in yang mencela atau menuduh semua nya itu! Apalagi pada zaman modern sekarang ini dengan adanya computer dan internet lebih mudah untuk menemukan kembali sejarah dan riwayat-riwayat para Rasul, Nabi dan nasab keturunan Rasulallah SAW yang telah ditulis oleh para ulama pakar.
Marilah kita rujuk lagi ayat Ilahi dan hadits Rasulullah SAW berikut ini yang berkaitan dengan keturunan:
Firman Allah SWT  “Surga ‘Adn mereka masuk kedalamnya dan juga orang yang baik-baik dari bapak-bapak mereka dan isteri-isteri mereka dan keturunan mereka”..
Juga firman-Nya lagi: ‘Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan. Kami hubungkan/kumpulkan anak cucu mereka dengan mereka…dan seterus nya ‘. (Ath-Thuur : 21).
Dan masih ada lagi didalam firman-Nya yang menyebutkan mengenai keturunan para Nabi.
Begitu juga hadits Rasulullah SAW dari Abu Sa’id Al-Khudri ra katanya: “Mengapa masih ada beberapa kaum yang mengatakan bahwa tali kekeluargaan Rasulullah SAW tidak menguntungkan kaumnya pada hari kiamat. Sungguh demi Allah bahwasanya tali kekeluargaan akan tetap tersambung didunia maupun di akhirat. Wahai, sekalian manusia! Sesungguhnya aku akan mendahului kamu sampai di Telaga Haudh” (HR Ahmad dan Al-Hakim dalam shohihnya, Al-Baihaqi dan Thabrani dalam kitab Al-Kabir).
Al-Bazzar meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas ra. katanya: “Telah wafat seorang putri Safiah binti Abdul Muttalib ra kemudian beliau berceritera yang kesudahannya beliau katakan: Kemudian Rasulullah SAW berdiri, setelah mengucapkan hamdalah dan memuji kepada Allah lalu bersabda: ‘Mengapa masih ada beberapa kaum yang menuduh bahwa hubungan kerabatku tidak akan memberi manfaat, ketahuilah bahwa semua kemuliaan dan keturunan akan terputus pada hari kiamat kecuali kemuliaan dan keturunanku dan sesungguhnya tali kekeluargaanku akan tetap bersambung didunia mau pun akhirat’ ”. (Hadits ini dishohihkan oleh Al-hafidz As-Sakhawi dan Ibnu Hajar dan disebutkan oleh Imam Ahmad dalam musnad-nya dari tiga jalur).
Allah SWT sendiri dalam Al-Qur’an telah menetapkan suatu hukum kepada keturunan-keturunan yang beriman yang mana mereka akan menyertai datuk-datuknya begitu juga yang diungkapkan dalam hadits-hadits diatas. Rasulallah SAW membantah keras bagi orang yang beranggapan bahwa hubungan kerabat dan tali kekeluargaan beliau SAW akan putus dan tidak memberi manfaat bahkan beliau menguatkan perkataannya itu dengan bersumpah Demi Allah…..
Lalu bagaimana dapat dipastikan keturunan tersebut itu kalau tanpa adanya ketetapan nasab silsilahnya?
Begitu juga hadits Nabi SAW yang termasyhur dan sebagai bukti-bukti lagi tidak terputusnya keturunan beliau SAW yaitu akan munculnya Imam Al-Mahdi ra pada akhir zaman dan Imam ini dari keturunan Rasulallah SAW. Hadits-hadits ini kita bicarakan pada halaman selanjutnya.
Kami sering bertanya-tanya mengapa yang hanya sering dicela dan diganggu keturunan/cucu Nabi SAW yang riwayatnya banyak dalam hadits serta ditulis oleh ulama pakar ahli sejarah. Ada gerangan apakah dibalik celaan atau tuduhan ini ? Kami berlindung pada Allah swt. atas kebohongan golongan pencela atau pengingkar ini dan penolakan mereka terhadap adanya keturunan Nabi SAW.
Sumber Cuplikan dari Buku “TELAAH KRITIS ATAS DOKTRIN FAHAM SALAFI / WAHABI”, karya: A. Shihabuddin

Perjalanan Hidup Para Salaf dari Bani Alawi Keturunan Sayyidina Husein bin Ali RA


Ya Tarimjpg Judul sebuah ceramah yang disampaikan oleh Sayid Muhammad Ahmad Assyathiri di tengah sejumlah pemuda, di rumah Al Faqih Al Muqaddam, di kota Tarim, pada tahun 1367 H./1947 M.)

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang.
Dengan nama Allah kami mohon pertolongan. Shalawat dan salam sejahtera atas junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga dan para Sahabat.
Pokok pembahasan ceramah ini adalah perjalanan hidup para salaf pendahulu kita keturunan Alawiyin dan Sayidina Husein, serta siapa-siapa yang mengikuti jejak mereka. Semoga Allah mencurahkan rahmat atas semua.

Saya pilih bidang bahasan ini karena disamping mengandung banyak pengetahuan tentang sejarah kita – ia merupakan bidang perselisihan dalam pemahamannya. Berbagai macam visi telah timbul, disebabkan tidak adanya, di antara kita dewasa ini, orang-orang yang melakukan penyelidikan secara teliti dengan cara penulisan yang memuaskan, sampaipun mereka yang merasa dirinya sangat antusias terhadap sejarah perjalanan hidup para salaf tersebut.
Kendati demikian, kami tidak menyampaikan kecuali hal-hal yang benar-benar jelas dan terang laksana matahari di waktu siang, tersurat di dalam kitab-kitab Alawiyin, baik yang lama maupun yang baru sehingga dapat dimengerti secara jernih dan mudah dicerna.
Memang, kesalahpahaman dalam memahami perjalanan hidup salaf tidak ditimbulkan karena samar dan tidak jelasnya sejarah itu, melainkan karena keengganan kita dan tidak adanya usaha yang sungguh-sungguh dalam menjalankan kewajiban itu.
Barangkali kelak akan datang suatu saat, di mana menyatakan pendapat atau membahas, persoalan-persoalan semacam ini, atau fakta-fakta historis yang lain akan mempunyai arti yang sangat penting di mana orang sangat mendambakan untuk memperoleh, meskipun hanya sekilas cahaya dari padanya agar dapat menerangi mereka menuju jalan yang lurus.
• Siapa Salaf ?
Kata Salaf mempunyai beberapa penggunaan. Penggunaan secara umum, yaitu sebagai istilah yang dipakai oleh ahli-ahli ilmu agama sebagai sebutan khusus bagi mereka yang hidup pada abad-abad pertama, kedua, dan ketiga Hijrah, atau dengan kata lain sebagai sebutan bagi para sahahat Nabi, tabi’in dan tabi’it-tabi’in.
Namun ulama Hadramaut (dari golongan Alawiyin) menggunakan sebutan itu selain bagi mereka yang tersebut di atas juga bagi pendahulu-pendahulu mereka (kaum Alawiyin) yang saleh. Habib Abdullah Al-Haddad [1] membatasi penggunaan sebutan itu mulai dari Syekh Ali bin Abubakar As-Sakran [2] ke atas “Mereka,” kata Al-Haddad, “adalah orang-orang di mana kita tunduk sepenuhnya (dalam segala hal) yang mereka lakukan. Adapun yang datang kemudian, mereka ’laki-laki’ dan kita ‘laki-laki’ (yakni kita herhak mengikuti atau menolak sesuai dengan dalil).”
Kendati demikian, ucapan Al Haddad ini tidak menghalangi mereka yang datang sesudah Syekh Ali Abubakar As-Sakran , bahkan Al Haddad sendiri dan murid-muridnya, untuk digolongkan sebagai salaf. Sebab telah menjadi istilah ulama Hadramaut terdahulu – sampaipun mereka yang akhir-akhir ini masih bisa kita jumpai menggunakan kata salaf bagi pendahulu mereka yang saleh. di mana kemudian akan kami jelaskan tahap-tahapnya
• Permulaan Sejarah Perjalanan Hidup Alawiyin
Abad ketiga Hijrah merupakan abad kegoncangan dan kekacauan, khususnya di negeri Irak yang selalu terjadi pemberontakan dan huru-hara (fitnah). Kerajaan Bani Abbas tidak mampu lagi mengekang dan mengatasi pemberontakan dan huru-hara yang senantiasa timbul dan telah membuat seluruh dunia Islam bergolak laksana periuk yang sedang mendidih, sedang penguasa tak mampu menegakkan keamanan umum yang telah goyah selama bertahun-tahun.
Semua itu membuat banyak orang – terutama tokoh-tokoh yang menonjol – berhijrah meninggalkan kampung halamannya mencari kediaman yang aman.
Di antara orang yang hijrah dari Irak adalah Al-Iman Ahmad Al-Muhajir Ilallah [3] (berhijrah mencari ridha ALLAH) Sebab Al Muhajir- seperti tokoh-tokoh ahlul bait yang lainnya selalu merasa ketakutan dan senantiasa menjadi sasaran pembunuhan dan penganiyaan. Hal demikian makin terasa pada saat terjadi pemberontakan dan huru-hara, di mana musuh-musuh Alawiyin rnenggunakannya sebagai kesempatan untuk menganiaya dan membantai mereka. Hal ini terutarna akibat rasa khawatir bahwa di dalam suasana kacau itu, kaum Alawlyin akan menampilkan diri untuk memegang kendali kekuasaan di tengah umat Islam yang tetap berpendirian bahwa kewajiban mereka adalah menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada Ahlulbait, keturunan Nabi pembawa agama ini serta bernaung di bawah panjinya, betapapun secara lahir mereka (umat Islam) tunduk kepada pemimpin yang lain. Atau demikianlah semestinya.
Namun banyak di antara tokoh Alawiyin berusaha menahan diri dan menghindar untuk tidak terjebak ke dalam huru-hara itu serta berupaya untuk tidak terlibat dalam pergolakan-pergolakan politik, disebabkan pelajaran-pelajaran praktis yang mereka terima dari berbagai pengalaman dalam bidang ini. Karena itu, bergerak di dalam lapangan politik – menurut pandangan mereka – akan selalu berakhir dengan kegagalan. Demikianlah pendirian segolongan Alawiyin. Namun ada segolongan lain berpendirian, bahwa Alawiyin harus berkorban dalam segalanya untuk menyelamatkan umat, yang harus terus menerus berjuang sehingga tujuan tercapai, atau mati bergelimang darah di tengah medan pertempuran.
Imam Al Muhajir termasuk golongan pertama, sedang saudaranya Muhammad bin Isa termasuk golongan kedua, dibuktikan dengan perlawanannya terhadap kekuasaan Abbasiyah. Dalam hal ini, Al Muhajir selalu memperingatkan dan memberi nasihat kepada saudaranya agar tidak melakukan perlawanan. Peringatan dan nasihat diberikan secara terus menerus, sehingga akhirnya merasa puas dan yakin akan kebenaran pendirian Al Muhajir, lalu menghentikan perlawanannya.
Jadi jelaslah, Al Muhajir memilih tinggal di Hadramaut (Yaman Selatan), negeri yang tandus gersang, hampir terputus hubungannya dengan dunia luar, hanyalah sekadar dapat hidup aman dan damai bersama keluarganya, serta dapat menunaikan kewajiban agama dan kegiatan duniawi dalam suasana tenteram dan aman, setelah menyaksikan segala pengalaman yang terjadi baik di negeri Irak maupun di daerah-daerah lain, berupa pemberontakan, huru-hara dan peristiwa-peristiwa lain. Semua itu menyebabkan hilangnya ketenangan dan menyusahkan hati.
Hendaknya kita tidak terburu untuk berprasangka bahwa Al Muhajir hanya bermaksud mengurung diri, serta beruzlah tanpa mempedulikan umat dan masyarakat di sekitarnya. Tidak. Al Muhajir bertujuan mendirikan suatu masyarakat baru, di negeri baru ini, sesuai cita-cita dan keyakinannya.
Oleh karena itu setibanya di negeri ini Al Muhajir tak henti hentinya berjuang melawan kaum Ibadhiah [4] yang merupakan mayoritas penduduk Hadramaut. Yaitu setelah gagal berdialog dengan mereka secara baik, sehingga terpaksa senjata harus berbicara. Al Muhajir dan pengikutnya yang berjumlah kecil itu, telah mendapat dukungan dari penduduk Jubail dari Wadi Dau’an yang bersimpati kepada Ahlulbait.
Cara hidup Al Muhajir (mencari kedamaian dan kebenaran ) diterima kemudian oleh anak cucunya dan benar-benar mempengaruhi jiwa mereka, yang akhirnya kehidupan mereka hampir sama di semua tahap-tahap sejarah, sebagai akan dituturkan kemudian.
• Tahap-Tahap Sejarah Alawiyin
Sesungguhnya sejarah perkembangan Alawiyin, mengalami pasang-naik dan pasang-surat, sesuai dengan kehidupan mereka yang selalu berubah. bagaimanapun juga, golongan Alawiyin selalu memelihara identitasnya, yaitu berpegang teguh dengan KITAB ALLAH (Al Qur’an) dan SUNNAH (ajaran-ajaran nabi Muhammad SAW dalam segala bidang kehidupan) luhur yang padu dan utuh secara Islam.
Adapun sejarah perkembangan Alawiyin — menurut pandangan kami dapat dibagi menjadi empat tahap, sebagai berikut :
Tahap —- Abad (Hijriah) —- Zaman
Pertama — Ke-3 s/d Ke-7 —- Ahmad Al-Muhajir s/d M. Al-Faqih Al-Muqaddam
Kedua —- Ke-7 s/d Ke-11 — M. Al-Faqih Al-Muqaddam s/d Abdullah Al-Haddad
Ketiga ——- Abad ke 11 s/d ke 13.
Keempat — Ke-14 s/d Kini
Tahap-tahap itu diikuti pula dengan perbedaan gelar dan sebutan bagi tokoh tokoh Alawinyin, maka sebutan atau gelar setiap tahap berbeda dengan gelar atau sebutan pada tahap yang lain. Sebagai berikut :
Tahap —————- Gelar
Pertama ————– Al-Imam
Kedua —————- As-Syech
Ketiga —————- Al-Habib
Keempat ————– As-Sayid
Sebutan demikian itulah yang digunakan orang bagi tokoh-tokoh Alawiyin pada masing-masing tahap.
Kendati demikian, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa sebutan-sebutan dan gelar-gelar itu khusus bagi tokoh-tokoh Alawiyin. Hanya saja – seperti diketahui sebutan dan gelar-gelar itu lebih populer penggunaannya bagi mereka.
TAHAP PERTAMA
Tahap pertama sejarah perjalanan hidup Alawiyin ini memiliki keistimewaan sebagai tahap pembangunan kehidupan baru dan pembauran dengan masyarakat baru di negeri baru. Pada tahap ini, tokoh-tokoh Alawiyin telah berhasil mempengaruhi masyarakat Hadramaut serta menyesuaikan diri dengan kehidupan mereka. Tokoh-Tokoh Alawiyin dalam kehidupan sehari-hari benar-benar mirip dengan kehidupan tokoh-tokoh sahabat Nabi di kurun Islam pertama, baik dalam ilmu, akhlak maupun ibadah.
Ketika baru berada di tengah rnasyarakat Hadramaut. Al Muhajir dihadapkan dengan suasana jihad yang tak terelakkan. Al Muhajir ketika itu harus melawan golongan ibadhiah”, baik dengan lisan maupun dengan senjata, sehingga Al Muhajir berhasil menyebar luas ajaran” Ahlus sunnah seperti jelas di uraikan didalam kitab-kitab sejarah yang menerang riwayat hidup (Biografi) Al Muhajir. Kemudian, putra-putranya dan keturunannya meneruskan langkah itu, memimpin masyarakat hadramaut dalam bidang ilmu, budaya dan ekonomi. Bahkan dalam bidang politik yang bersifat mengawasi dan membimbing (para penguasa) demi tercapainya kepentingan umum, tanpa berambisi memegang tampuk kekuasaan secara praktis.
Tokoh-tokoh Alawiyin pada tahap ini, adalah Imam-Imam mujtahid (dalam arti tidak mengikuti atau terikat dengan salah satu mazhab) seperti diriwayatkan oleh beberapa ulama, yang masing-masing tokoh terkenal dengan gelar “Imam” seperti Imam Al Muhajir, Imam Alawi bin Ubaidillah dan lain-lain.
Namun, ijtihad mereka seringkali bersesuaian dengan Imam Assyafi’i dalam bagian terbesar madzhabnya Adapun aspek-aspek aqidah mereka, sama seperti para leluhur mereka sampai Imam Ali bin Abi Thalib r.a.
Tokoh-tokoh Alawiyin ini telah membawa sebagian kekayaan mereka dari negeri asal, yaitu Bashrah (Irak). Kekayaan itu amat besar jumlahnya sehingga mereka dapat membeli tanah-tanah, kebun-kebun, bangunan-bangunan, dan sebagainya di negeri ini. Kekayaan itu juga dikembangkan di dalam bidang pertanian yang menjadi usaha pokok dan sumber utama Alawiyin tahap itu.
Dalam keadaan demikian, mereka senantiasa teringat karnpung halaman dan sesekali timbul kerinduan ketika mengenang masa lampau di negeri Irak, sehingga mereka rnembuat lambang-lambang dengan narna taman-taman, kebun dan pesanggrahan yang telah ditinggalkannya itu.
Dalam tahap ini setiap Alawi menampilkan pribadi yang mulia dengan beberapa keistimewaan berupa ilmu. akhlak. ibadah dan. wibawa, sehingga keluarga ini dikenal dan dibedakan oleh masyarakat karena ciri-ciri kemuliaan itu.
• Ilmu Tokoh-Tokoh Alawiyin
Ilmu yang dikuasai tokoh-tokoh Alawiyin tahap ini meliputi: Tafsir Hadist, Fiqih, Sastra/ Bahasa, metode berdebat dan berdiskusi, serta ilmu pengetahuan lain, yang telah berkembang pesat dewasa itu termasuk tasawuf. Hanya saja ilmu tasawuf ini memperoleh perhatian lebih dalam dan lebih khusus pada tokoh-tokoh tahap kemudian. Tokoh-tokoh tahap ini memperhatikan tasawuf sebagai amalan praktis dan buhan sebagai teori ilmiah semata.
• Akhlak dan Budi Pekerti Alawiyin
Sifat yang paling menonjol bagi seorang Alawi tahap ini adalah: kedermawanan, dan keberanian (sebagai ciri umum keturunan bani Hasyim). Sifat ini diimbangi dengan tawadhu’ rendah hati), di samping tegas dan tidak kenal kompromi dalam mempertahankan kebenaran. memperhatikan bidang keperwiraan, menggunakan alat-alat perang dan menyandangnya dalam kesempatan-kesempatan tertentu.
Sifat terakhir ini kernudian berubah pada tokoh-tokoh Alawiyin generasi berikutnya, yang dalam menggunakan alat-alat perang dan menyandangnya dianggap menyalahi tradisi dan bertentangan dengan sopan santun hal ini berlaku sejak Alawiyyin mengikuti “Terakat Tasawwuf “ pada abad ketujuh ketika Imam Al Faqih Al Muqoddam menerima “Khirqah” (Baju Tasawwuf) dan Syekh Abu Madyan, tokoh sufi dari negeri magrib (Afrika utara) . Sejak itu Al Fagih Al Muqoddam menjauhi penggunaan senjata untuk menekuni ilmu dalam suasana damai.
• Hubungan Alawiyin dengan Dunia Luar
Adalah merupakan watak dan tabiat seorang Alawi, tidak pernah merasa tentram di satu daerah tertentu, untuk kemudian tinggal selama hidup. Hidup bebas dan pergi, kemana saja untuk mencari daerah-daerah baru merupakan watak dan cirinya. Satu daerah saja dipandang sempit dan tidak memberi kepuasan untuk mengembangkan cita-cita dan mencapai tujuannya.
Apalagi di negeri seperti Hadramaut, negeri ini akan memaksa penduduknya berhijrah karena sempitnya bidang ke hidupan. di samping terjadinya pergolakan dan pertumpahan darah antara kabilah-kabilah yang selalu berkecamuk. akibat tidak adanya pemerintahan yang kuat dan stabil.
OIeh karena itu, seorang Alawi – seperti halnya penduduk Hadramaut pada umumnya – mengadakan perjalanan ke negeri-negeri tetangga, seperti: Yaman, Hijaz, Syam dan. Irak, baik demi tujuan budaya, ekonomi, maupun agama.
Pada mulanya, Alawiyin seringkali hilir mudik mengunjungi Irak — negeri asal mereka – untuk bertemu kembali dengan sanak keluarga. memeriksa harta kekayaan yang ditinggalkan, bahkan hingga kini keturunan Imam Muhammad bin Isa Ar Rumi (saudara sekandung Al Muhajir) terus juga berkembang di negeri ini.
Sesuatu yang patut digarisbawahi di sini, ialah bahwa tokoh tokoh Alawiyin yang menonjol pada tahap perkembangan, ini terdiri dari keturunan Imam Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa Ar Rumi, yakni Bashri, Jadid dan Alawi. Kendali pimpinan dipegang oleh keturunan kedua orang yang pertama, yaitu Bashri dan Jadid. Namun keturunan mereka kemudian terhenti dan tidak berkelanjutan, yang pada abad ketujuh H. tidak ada lagi seorang pun dari keturunan mereka. Sayang ahli-ahli sejarah tidak menghidangkan untuk kita jasa dan peran yang pernah dimainkan oleh keturunan Bashri dan Jadid, kecuali nama beberapa tokoh saja yang dicatat, yang di antaranya adalah Imam Ahli Hadits Imam Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Jadid (wafat 620 H.) dan Imam Salim bin Bashri (wafat 604 H.)
Adapun tokoh-tokoh sesudah waktu tahap ini hanyalah dari turunan Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa Ar Rumi (dari Alawi inilan datang sebutan Alawiyin bagi keturunaannya). Meskipun demikian, silsilah keturunan Alawiyin seluruhnya selalu melalui lima rangkaian nasab saja, yang menunjukkan bahwa Alawiyin baru berkembang dan bercabang setelah abad ke enam H. Rangkaian silsilah ke lima orang itu adalah: Muhammad bin Ali bin Alawi bin Munammad bin Alawi ( bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir).
Di antara putra-putri Muhammad bin Ali bin Alawi ( terkenal dengan gelar Shahib Mirbath, wafat 556 H.) yang berketurunan hanyalah dua orang putranya, yakni Imam Alawi, paman ( saudara ayah ) Al Faqih Al Muqaddam, dan Imam Ali bin Muhammad, ayah Al Faqih Al Muqaddam. Pada kedua orang inilah tercakup seluruh nasab Al-Alawiyin, seperti tercakupnya nasab seluruh Al-Husainiyin pada Imam Ali Zainal Abidin, kemudian pada putranya Muhammad Al Bagir.
Ubaidillah adalah putra Imam Al Muhajir Ahmad bin Isa Arrumi bin Muhammad Annaqib bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Asshadiq bin Muharnmad Albaqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, suami Siti Fatimah Azzahra’ putri Rasul Allah saw.
TAHAP KEDUA ( a )
Tahap ini bermula-seperti telah kami terangkan pada awal ceramah – dari abad ketujuh H hingga menghampiri abad kesembilan H. Yakni dari masa Al Fagih Al Muqaddam hingga mendekati zaman Al-Habib Abdullah Al Haddad. Tokoh – tokoh tahap ini terkenal dengan gelar “Syekh”. Apabila kita hendak membuat suatu perbandingan antara tokoh-tokoh masa ini, yang di antara tokoh-tokohnya adalah para Imam seperti Al Faqih Mugaddam[5] , Assegaf[6] , Al Muhdhar[7] , Al-A’idarus[8] , Zain Al-A’bidin Al-A’idarus [9] dengannya tanpa di sini patut kita kemukakan secara obyektif, bahwa tokoh-tokoh tahap ini, dalam kenyataannya yang dibuktikan melalui karya dan hasil tulisan mereka, tidaklah mencapai hasil atau kualitas puncak, baik dalam penulisan karya-karya ilmiah maupun dalam syair. Bahkan tidak kita jumpai di antara karya mereka yang menunjukkan kejeniusan dan kehebatan dalam bidang-bidang ilmu dan kebudayaan yang dapat mengimbangi keunggulan mereka dalam bidang akhlak dan pengamalan agama.
Hal itu, tampaknya, disebabkan oleh pengaruh tasawuf yang mendalam, sehingga tokoh-tokoh tahap ini tidak begitu memperhatikan untuk berkarya, baik dalam lapangan budaya maupun karya-karya ilmiah (sebab tasawuf hanya memperhatikan segi-segi keruhanian tanpa memberikan perhatian yang cukup besar terhadap segi-segi lahiriah – penerj.). Kalaupun ada, hal itu tidak banyak di lakukan. Itu pun tanpa memperhatikan penggunaan bahasa yang indah, terpilih dan tersusun rapi dalam penampilan yang kuat. Dalam penulisan, tokoh-tokoh tahap ini sering menggunakan bahasa sehari-hari (atau dialek setempat) dalam mengungkapkan suatu hakikat, dan dengan cara apa adanya tanpa mempedulikan susunan atau gaya bahasa.
Adapun dalam bidang ekonomi, maka tahap ini telah mengalami peningkatan dibanding dengan tahap sebelumnya. Apabila tahap terdahulu kegiatannya terbatas pada bidang pertanian saja, dengan menginvestasikan kekayaan mereka hanya dalam bidang ini saja, maka Alawiyin pada tahap ini – di samping pertanian – telah juga berinvestasi di bidang perdagangan. Mereka mendirikan pusat-pusat perdagangan di pesisir Hadramaut, Aden dan Yaman. Mereka juga mengadakan perjalanan dagang ke India dan negara-negara lain, disertai dakwah menyiarkan agama Islam. Adapun perjalanan ke Timur (negara-negara Asia Tenggara), untuk kedua tujuan tersebut, maka hal itu baru mereka lakukan kemudian (yakni sekitar abad kesebelas H. – penerj.). Dengan cara demikian mereka perluas daerah perdagangan serta kegiatannya di dalam negeri dengan mengalirya arus barang dan uang, yang sebelumnya kegiatan mereka hanya terbatas pada bidang pertanian saja.
Perlu dikemukakan, meskipun tokoh-tokoh Alawiyin melakukan berbagai kegiatan ekonomi, namun berkat disiplin ketat, kekuatan iman dan takwa, mereka tetap tekun dalam menjalankan ibadah, membaca wirid-wirid khusus, dan berdakwah. Allah telah berkenan memberikan berkah waktu dengan membagi masing-masing kegiatan secara cermat, sehingga dapat melakukan semua kegiatan itu dengan sempurna, sesuai keseimbangan yang digariskan oleh syari’at.
Berbicara mengenai tingkat kesufian Alawiyin tahap ini, maka seperti telah dikemukakan pada awal ceramah. bahwa “Tarekat Tasawuf” baru dikenal di hadramaut pada awal abad ketujuh H. ketika Syekh Abu Madyan – tokoh ahli Sufi dari negeri magrib (Afrika utara) mengutus muridnya yang tepercaya ke negeri Hadramaut untuk menghubungi Alfagih Al Muqaddam secara khusus dan beberapa ulama yang lain di negeri ini. Dalam pada itu, Syekh Abu Madyan juga mengirim “khirqah” tasawuf, berupa sehelai baju yang dipakaikan oleh seorang guru (tasawuf) kepada muridnya, yang dengan demikian seorang guru berhak rnengarahkan pendidikan muridnya itu (secara tasawuf ).
Melalui seorang muridnya, sebagai perantara, Syekh Abu Madyan memakaikan “khirqah” itu kepada Al Faqih Al Muqaddam. Ketika Syekh Abu Marwan, guru Al Faqih Al Muqaddam mengetahui hal itu, ia menjadi marah, demikian juga dengan beberapa ulama Tarim yang tidak menyukai hal itu, sebab mereka khawatir akan kehilangan citacita dan rencana mereka untuk menokohkan Al Faqih Al Muqaddam sebagai pemimpin dan Imam. Ketika itu Alfagih Almugaddam belajar beberapa cabang ilmu dari Syekh Abu Marwan dengan acapkali menyandang senjata, bahkan kadang-kadang sambil belajar ia meletakkan pedang menyilang di atas pahanya.
Orang-orang yang kurang senang dengan tindakan Al Faqih Al Muqaddam itu, mengira apa yang kelak akan dilakukan oleh Al Faqih Al Muqaddam merupakan salah satu tarekat yang hanya semata mata memperhatikan segi-segi keruhanian tanpa menghiraukan urusan duniawi. Namun sesungguhnya Alfagih lebih bijaksana serta berpandangan jauh dan luas. Ia tidak menginginkan pengikutnya mengenakan gimbal bertambal (muragga’at), mengembara tanpa arah sebagai “darwisy” (orang ‘fakir’) yang melakukan cara-cara aneh dalam mendekatkan diri kepada Tuhan, atau menjalankan latihan-latihan ruhani (yang berlebihan). Al Faqih Al Muqaddam melarang pengikutnya bertaklid buta terhadap guru, khususnya dalam hal-hal yang ada kemungkinan bertentangan dengan Alkitab dan Sunnah.
Tarekat yang dianut oleh Alfagih Al Muqaddam dan pengikutnya adalah “Atthariqah Al-Alawiyah” yang dasarnya adalah mengikuti apa yang tersurat di dalam Alkitab (Alqur’an) dan Assunnah (ajaran Nabi), meneladani tokoh-tokoh Islam kurun pertama (para sahabat dan tabi’in). Itulah yang dinyatakan di dalam kitab-kitab mereka, ceramah dan nasihat agama, dan surat menyurat mereka antara yang satu dengan yang lain, serta dikuatkan pula oleh perilaku dan tindak tanduk Salaf Al alawiyin.
Hal ini diungkapkan oleh salah seorang tokoh Alawiyin yaitu Habib Abdullah Al Haddad dalam sebuah bait syair sebagai berikut :
Berpegang teguhlah engkau dengan Kitab Allah,ikutilah Sunnah nabi
Serta teladanilah para Salaf terdahulu Semoga Allah memberi engkau petunjuk-Nya
Demikian pula dinyatakan oleh Al Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi :
Demikian inilah amalan-amalan murni dari segala campuran
Ditambah ilmu dan keluhuran akhlak serta wirid-wirid yang cukup banyak
Dengan demikian jelaslah, golongan Alawiyin pengikut tarekat tasawuf, tetapi tasawuf mereka tidak menghalangi untuk melakukan tugas-tugas kehidupan, baik yang bersifat kemasyarakatan (sosial), keluarga maupun pribadi. Dalam segi tasawuf ini, Alawiyin menyerupai sahabat Nabi dan para tabi’in yang terkenal dengan kesufiannya namun tidak terhalang untuk berjihad menyebarluaskan ilmu dan dakwah.
Kaum Alawiyin adalah penganut madzhab tasawuf yang berintikan sikap zuhud. Namun zuhud tidak menghalangi mereka untuk mengumpulkan harta yang amat besar jumlahnya asal diperoleh melalui jalan yang wajar dan halal, yang kemudian disalurkan untuk kepentingan umum, menjamu tamu, mendirikan masjid dengan mencadangkan wakaf untuk pembiayaannya, menggali sumur untuk menyediakan air bersih yang sangat diperlukan, membuka dapur-dapur umur, dan mendirikan pondok pesantren untuk menyebarluaskan ilmu dan dakwah ke jalan Allah. Mengusahakan perdamaian dan memperbaiki hubungan antara golongan-golongan yang bersengketa, bersedekah dan membantu mereka yang memerlukan bantuan.
Kaum Alawiyin adalah orang-orang sufi penganut madzhab Syafi’i, namun mereka tidak bertaklid kepada Imam Syafi’i dalam segala hal. Dalam soal-soal tertentu, mereka meninggalkan pendapat Imam Syafi’i.
Kaum Alawiyin adalah penganut Al-Asy’ari (dalam soal-soal Tauhid), namun mereka juga meninggalkan faham Al-Asy’ari dalam beberapa hal, seperti mengenai sahnya taklid dalam soal iman.
Meskipun tokoh-tokoh Alawiyin sangat mengagumi karya-karya Al-Ghazali serta falsafahnya dalam bidang akhlak dan tasawuf, namun mereka tidak mengikutinya secara bertaklid buta, melainkan memperhatikan kekurangan dan kelemahan AlGhazaIi, sehingga ada diantara tokoh mereka yang mengatakan. “Di dalam kitab Ihya’ ada beberapa pernyataan seandainya dapat dihapus dengan air mata kami, kami akan melakukannya” [10].
TAHAP KEDUA ( b )
Kaum Alawiyin adalah orang-orang sufi, sebagian mereka menyukai nyanyi dan lagu yang sehat tanpa disertai tindakan yang melanggar akhlak, apalagi minum-minuman yang memabukan, seperti yang dilakukan oleh beberapa penganut tarekat lainnya.
Kaum Alawiyin adalah orang-orang sufi, namun mereka tidak berkhalwat atau melakukan latihan latihan rohani secara berlebihan dan melampaui batas. Kalaupun ada, sangatlah jarang, dan mereka melakukannya dengan cara yang tidak merusak, baik fisik maupun mental, serta bertujuan semata mata mendidik jiwa, menghilangkan sifat-sifat kelemahan dan kekotoran rohani, sebagai usaha untuk menyucikan diri dari kungkungan nafsu angkara murka dan syahwat.
Kaum Alawiyin adalah orang-orang sufi, namun tasawuf mereka tidak melarang tokoh-tokoh besar dan ulama mereka menduduki jabatan-jabatan penting: sebagai hakim, pemberi fatwa (Mufti), guru-guru besar, atau usahawan dalam bidang pertanian, perdagangan atau pertukangan, baik sebagai pimpinan maupun pelaksana lapangan.
Alfagih Al-Muqaddam – misalnya – bapak Alawiyin dalam tasawuf, mungkin kita tidak pernah mengira bahwa Alfagih bertindak mengurusi perkebunan dan sawah ladangnya sendiri, mengatur rumah tangga dan keluarga, bahkan kadang-kadang berbelanja sendiri ke pasar. Kita mungkin tidak pernah rnembayangkan bahwa perkebunan Alfagih ini terdiri dari ribuan batang pohon kurma dan buah kurma hasil perkebunan itu – seperti di riwayatkan di dalam Silsilah Al A’idarusiyah – adalah sekitar 360 guci (zier). setiap guci berisi sekitar 1800 rathl (kati).
Penulis kitab Almasyra’ Arrawiy bercerita tentang kekayaan Alhabib Abdullah bin Alawi Al-Ghuyur.[11] cucu Al-faqih Al-Muqaddam (wafat 731 H.) Abdullah bin Alawi Al-Ghuyur ini telah mewakafkan untuk masjid Bani Alawi di Tarim seharga 90.000 dinar. Ia mempunyai daftar tetap yang didalamnya tercatat nama orang-orang yang memerlukan bantuan, selain hadiah-hadiah yang diberikan kepada para penyair. Kendati demikian, ditinjau dari segi tasawuf dan ibadahnya, hampir tidak ada orang yang dapat menandinginya. Sedang dari ilmu, telah dicatat bahwa dia pernah berguru kepada seribu orang Syekh (guru) terdiri dari ulama-ulama Yarnan, Hadramaut, Hijaz, Irak dan Maghrib(Afrika Utara).
Demikian pula dengan Habib Abdurrahman Assagaf, betapapun banyak kegiatan dan kesibukannya dalam rnengerjakan wirid, zikir dan rnengajar, namun memiliki perkebunan dan sawah ladang yang luas sekali serta meminta laporan tentang biaya-biaya yang dikeluarkan oleh, para pekerjanya, pada waktu antara maghrib dan isya’, seperti diriwayatkan oleh Alkhathib, penulis kitab Aljauhar. Pohonpohon kurmanya amatlah banyak, tidak sedikit di antara pohon-pohon itu yang ditanam dengan tangannya sendiri, sambil membaca surat YaSin pada setiap pohon yang ditanamnya.
Habib Umar Al Muhdhar putra Habib Abdurrahman Assaqaf, adalah seorang ulama besar yang diyakini sebagai seorang wali Allah, namun tergolong seorang yang cukup kaya, yang kekayaannya di antaranya adalah kapal-kapal, tanah-tanah pertanian, kebun kurma dan lain-lain, seperti diterangkan semua itu di dalam surat wasiatnya.
Demikian pula dengan Imam Abubakar Al-A’dani, putra Habib Abdullah Al-A’idarus ( yang makamnya cukup terkenal di kota Aden ) tergolong seorang hartawan di zamannya.Setiap hari memotong 30 ekor kambing untuk menjamu para tamu dalam berbuka puasa seperti dicatat oleh penulis biografinya.Imam Abu Bakar Al-A’dani telah melunasi hutang ayahnya setelah wafat sebanyak 30 ribu dinar. Imam Abu Bakar Al-A’dani wafat 914 H.
Demikian pula halnya dengan keturunan Habib Abdullah bin Syekh Al-A’idarus ( keponakan al-A’dani ), yang banyak berhubungan dengan raja-raja India. Kita akan kagum mempelajari riwayat hidup mereka, sebab di samping hasil karya ilmiah yang mereka cipta dan perbaikan sosial yang mereka lakukan serta ketekunan mereka di bidang ilmu dan ibadah, tokoh-tokoh ini mampu memiliki kekayaan yang demikian besar, menandingi para raja dan pangeran. Sedang sebagian besar kekayaan itu, dinafkahkan untuk perbaikan sosial dan kepentingan umum.[12]
Jadi, faharn tasawuf yang dianut oleh golongan Alawiyin adalah ajaran tasawuf yang wajar dan sehat, tidak membawa pengikutnya menjurus kepada fanatisme dan jumud (kebekuan) atau menjurus kepada ekstrimisme dan ingkar. Ajaran tasawuf mereka merupakan sikap tengah yang memelihara keseimbangan dalam semua segi.
Perlu kiranya dicatat disini, bahwa apa yang dihubungkan kepada tokoh-tokoh Alawiyin berupa latihan amat banyak secara umum tidak mampu dilakukan manusia biasa serta bertentangan dengan naluri yang wajar, baik itu berupa tidak tidur siang malam untuk beberapa tahun lamanya berhenti makan dan minum berpuluh-puluh hari secara terus menerus, maupun mengkhatamkan pembacaan Alqur’an beberapa kali di waktu siang dan beberapa kali di waktu malam. Hal – hal semacam itu hanyalah merupakan tindakan-tindakan khusus yang hanya mampu dilakukan oleh orang-orang tertentu saja yang memang diberi kemauan dan kemampuan oleh Allah, di samping adanya kesediaan batin untuk melakukannya. Hal-hal semacam ini memang tidak dapat dilakukan oleh selain mereka sebab sifatnya yang khusus dan merupakan pengecualian dan yang umum. Bahkan lingkungan mereka sendiri memandang hal itu sebagai sesuatu yang aneh, sehingga apabila ada yang menceritakannya, hanyalah sekadar menyatakan rasa kagum terhadap sesuatu yang luar biasa.
Akan tetapi hal-hal semacarn itu boleh saja digolongkan sebagai “karamah” yang telah diuraikan oleh ulama (tasawuf) secara jelas. Perlu pula dicatat di sini, bahwa pernyataan-pernyataan yang kadang-kadang diucapkan oleh beberapa tokoh Alawiyin tertentu – seperti dicatat oleh sebagian penulis sejarah terdahulu yang pada lahirnya bertentangan dengan prinsip-prinsip syara’, dan yang terkenal dengan sebutan syathahat adalah bukan karena mereka telah meyakini faham “wahdatul wujud” (panteisme), bukan pula untuk menyatakan kesombongan dan membanggakan diri, seperti dituduhkan oleh sementara orang. Sebab kebersihan pribadi dan kejujuran tokoh-tokoh itu cukup dikenal dalam sejarah. Pada hakikatnya, pernyataan-pernyataan itu dilontarkan pada saat mereka dalam keadaan ganjil dan luar biasa, di mana mereka berada dalam suasana tak sadar (keadaan fana), sehingga apa yang diucapkan itu dapatlah dimaafkan, dan tidak dapat dicatat sebagai pelanggaran yang mengakibatkan dosa, apalagi kufur.
Betapa pun juga, tidaklah sepatutnya hal-hal seperti itu disiarkan, mengingat mereka sendiri pun tidak rnenyukainya.
• Organisasi Alawiyin “Annagabah”
Pada tahap pertama sejarah perkembangan Alawiyin, sebelum bercabang-cabang dan bersuku-suku, kaum Alawiyin tidak merasa perlu untuk membuat suatu sistem sosial khusus sebagai pengatur kehidupan mereka. Cukuplah bagi golongan ini untuk mempunyai seorang atau beberapa orang pemimpin yang secara otomatis diakui sebagai pemimpin keluarga atau marga.
Baru pada tahap kedua dalam sejarah perkembangan Alawiyin, setelah menjadi banyak dan tersebar ke berbagai daerah terasalah bagi tokoh Alawiyin guna membela dan memelihara kedudukan dan kepentingan mereka, melindungi kehormatan serta memecahkan problema yang timbul, baik yang bersifat intern maupun ekstern. Sistim ini dikenal dengan sebutan ” Nagabah”.
Sistem ini baru diadakan pada zaman Habib Umar Al-Muhdhar, yakni pada akhir abad kesembilan Hijriah, di mana Habib Umar Al Muhdhar sekaligus terpilih sebagai Naqib. Dewan “Nagabah” ini terdiri dari sepuluh anggota yang dipilih. Setiap anggota mewakili kelompok keluarga atau suku dan dikukuhkan oleh 5 orang sesepuh suku itu dan menjamin segala hak dan kewajiban yang dibebankan atas wakil mereka, sebagai tersirat di dalam teks piagam yang disetujui oleh tokoh-tokoh Alawiyin dan pernah dimuat di majalah Al-Jam’iyah, nornor 8, tahun 1357 H.
Dewan yang terdiri atas 10 anggota ini rnengatur segala sesuatu yang dipandang perlu sesuai kepentingan, dan bersesuaian pula dengan ajaran syari’at Islam serta disetujui oleh pemimpin umum. Apabila keputusan telah ditetapkan maka diajukanlah kepada pemimpin umum (atau Nagib) untuk disahkan dan selanjutnya dilaksanakan.
Dengan demikian jelaslah, sepuluh orang anggota dewan masing-masing merupakan wakil-wakil atau naqib-naqib dari setiap kelompok atau suku, sedang wakil-wakil itu dipimpin oleh “Naqib Annagabah” [atau Naqib para Naqib] yang kemudian dikenal pula dengan sebutan “Nagib Al-Asyraf”. Setiap anggota dewan sangat patuh dan taat terhadapnya. Dan kepadanya pula dikembalikan segala problema, serta pelaksanaan organisasi dan perbaikan, di samping ia merupakan lambang kekuatan, kesepakatan, wibawa dan pengaruh Alawiyin.
Dalam memecahkan persoalan yang dihadapi, lembaga ini akan menempuh cara damai. Namun jika tidak berhasil, maka digunakanlah cara boikot, yaitu Nagib memutuskan hubungan dengan orang-orang yang dianggap melakukan pelanggaran atau membangkang, dengan cara menolak berjabat tangan (bersalam-salaman) maupun dengan cara-cara lain. ‘Tindakan Naqib akan diikuti semua Alawiyin, sehingga orang itu kembali kepada jalan yang benar.
Apa yang kami tuturkan ini adalah bersumberkan piagam yang telah kami sebutkan, di atas dan ditetapkan oleh Alawiyin pada zaman Habib Umar Al Muhdhar, dan didukung dan dibubuhi tanda tangan Sultan Tarim ketika itu, yaitu Sultan bin Duais bin Yamani. Sultan ini berjanji akan membantu terlaksananya ketentuan-ketentuan yang termaktub di dalam piagam itu, yang diikuti pula oleh tanda tangan seluruh naqib (anggota dewan) beserta pendukungnya yang jumlah keseluruhan tidak kurang dari 50 orang.
Patut disayangkan bahwa teks piagam ini tidak rnenyebutkan tanggal dan tahun penulisannya dan juga tidak menyebut urut-urutan nama (daftar) para nagib yang pernah menduduki jabatan itu, namun dengan membaca kembali kitab-kitab biografi Alawiyin, seperti kitah Al-Masyra ‘Arrawiy dan lain-lain, menerangkan bahwa di antara para Naqib yang terkenal, antara lain adalah Habib Abdullah Al-A’idarus Al-Akbar (wafat 865 H.). Sebab setelah Habib Umar Al Muhdhar wafat, tokoh-tokoh Alawiyin telah sepakat untuk mengangkat Muhammad bin Hasan bin Asad Allah, yang terkenal dengan gelar Jamalullail untuk diangkat sebagai Nagib, namun ia menolak dan menunjuk Habib Abdullah Al-A’idarus sebagai gantinya, yang saat itu masih berusia muda, tetapi telah menunjukkan kemampuan untuk memangku jabatan tersebut. Akhirnya – setelah pertamanya menolak juga – Habib Abdullah Al-A’idarus menerima. Pengganti A1-A’idarus adalah Imam Ahmad bin Alawi Bajahdab yang wafat tahun 973 H. Berikutnya Habib Abdullah bin Syekh bin Abubakar Al-A’idarus (wafat 1019 H.), kemudian putranya bernama Habib Zainal Abidin (wafat 1041 H.).
Adapun pada masa-masa selanjutnya saya tidak menemukan catatan sejarah yang menegaskan adanya seorang Naqib yang dipilih, meskipun kadang-kadang terjadi kepemimpinan seorang tokoh Alawiyin semata-mata karena daya tarik kharisma dan kekuatan pribadinya di samping memang memenuhi persyaratan untuk jabatan sebagai Naqib.
Pada masa-masa selanjutnya telah timbul pula sistem “Manshabah”, yang tersebar luas di beberapa daerah Hadramaut. Tugas “Munshib” pada dasarnya adalah mendamaikan sengketa yang terjadi antara suku-suku yang memanggul senjata, menyebarluaskan ilmu dan dakwah, menjamu para tamu yang datang berkunjung. Soal ini akan dibicarakan lebih luas lagi kemudian.
Pernah pada masa akhir-akhir ini muncul seorang tokoh yang mengungguli tokoh-tokoh Alawiyin yang lain dalam ilmu, pengaruh dan kedermawanannya, yaitu pribadi Habib Muhammad bin Thahir Al-Haddad (wafat 1316 H.) sehingga sepakatlah tokoh-tokoh Alawiyin untuk mengangkatnya sebagai Nagib. Mereka telah menandatangani piagam untuk pengangkatannya itu. namun ada seorang tokoh yang cukup terkenal dan berpengaruh tidak menyetujui pengangkatan itu. Yaitu Habib Husein bin Hamid Al-Muhdhar, sehingga rencana itu akhirnya gagal .
Ada pula riwayat yarg menerangkan, selain Habib Husein tersebut ada dua tokoh lain yang tidak menyetujui. Dengan demikian maka yang bersikap oposisi terhadap pengangkatan itu hanya tiga orang saja, namun mereka orang-orang yang cukup kuat, sehingga golongan oposisi yang kecil itu dapat rnengalahkan mayoritas yang menyetujui..
Barangkali, seandainya pengangkatan Al-Haddad sebagai Nagib ini terlaksana, tokoh ini akan mampu menarik Alawiyin kembali kepada cara hidup pendahu pendahunya, serta menghidupkan tradisi-tradisi mulia yang hampir hilang.
TAHAP KETIGA
Tahap ini bermula dari abad kesebelas H. hingga abad keempat belas H. Tokoh-tokoh abad ini dikenal dengan gelar ” Habib “, seperti Habib Abdullah Al-Haddad, Habib Ahmad bin Zen Al-Habsyi, Habib Hasan bin Shaleh Al-Bahr Al Jufrie dan lain lain.
Tingkat ilmiah dan tasawuf tahap ini – secara umum – berada di bawah tingkat sebelumnya. Kendati demikian, telah muncul di atas pentas tokoh-tokoh yang cukup menonjol serta pribadi-pribadi istimewa tidak kurang peranannya dari tokoh-tokoh kedua tahap sebelumnya. Tokoh utarna tahap ini adalah Habib Abdullah Al-Haddad (wafat 1132 H.) – sebagai tokoh puncak golongan Alawiyin masa itu, dan Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfagih (wafat 1163 H.).
• Hijrah Kaum Alawiyin
Tahap ini ditandai dengan derasnya arus hijrah – melebihi masa-masa sebelumnya – ke India, pada abad kesebelas dan keduabelas H. yang kemudian berlanjut dengan hijrah ke negara-negara Asia Tenggara (Indonesia dan Malaysia) pada abad-abad berikutnya.
Adapun faktor yang mendorong Alawiyin melakukan hijrah adalah seperti telah disinggung pada pembahasan perkembangan alawiyin pada masa tahap pertama ditambah pula dengan perkembangan alawiyin di Hadramaut melebihi masa-masa sebelumnya. Sedemikian sehingga mereka yang berada di luar lebih besar dari mereka yang berada di tanah air sendiri, di mana di negeri mereka Hadramaut – kemungkinan yang tersedia tidak mampu memberi kepuasan bagi perwujudan cita-cita mereka.
Oleh karena itu, wajarlah kiranya apabila mereka berhijrah, lalu menjadikan daerah baru itu sebagai tanah airnya. Dan tidak aneh pula apabila mereka kemudian menonjol, serta menunjukkan kemampuan-kemampuan luar biasa sehingga dapat menduduki posisi-posisi penting, memegang kendali perekonomian, kegiatan keagamaan bahkan kadang-kadang juga kekuasaan eksekutif. Kaum Alawiyin dalam hal ini juga diikuti oleh golongan-golongan lain yang hijrah dari Hadramaut, baik mereka yang hijrah ke Timur Jauh, Afrika Timur, Hijaz (Saudi Arabia) dan lain-lain. Bahkan ada di antara mereka yang kemudian mendirikan kerajaan atau kesultanan yang peninggalannya masih dapat disaksikan hingga kini. Seperti kerajaan Al ‘Aidarus di Surrat (India), Kesultanan Al-Qadri dan Al-Syekh Abubakar di Kepulauan Komoro (Comores), Al-Syahab di Siak, Al-Qadri di Pontianak dan Al-Bafagih di Pilipina.
Kerajaan-kerajaan tersebut mempunyai sejarah terinci, sebagian di antaranya dimuat oleh majalah Arrabithah Al-Alawiyah dan majalah Annahdhah Al Hadhramiyah. Kedua sumber ini bisa dijadikan bahan penelitian bagi mereka yang berminat untuk rnengkajinya. Melalui kaum Alawiyin, Islam tersebar luas di Indonesia, Malaysia dan Pilipina.
Hijrah kaum Alawiyin – dan saudara-saudara mereka lainnya dari Hadramaut – ke negara-negara tetangga (negara-negara Arab di Timur Tengah), tidak banyak mempengaruhi tradisi, juga bahasa mereka, yakni di negara-negara yang berbahasa Arab, seperti Hijaz (Saudi Arabia), negara-negara Teluk, Mesir, Syam (Suria) dan Sudan, kendati di tiga negeri terakhir ini jumlah mereka tidak banyak.
Adapun di perantauan luar Arabia, seperti negara-negara Islam tersebut di atas, maka dengan sendirinya mereka telah mengadakan hubungan kekeluargaan melalui pernikahan untuk mempererat hubungan dengan penduduk setempat, karena memang sulit bagi mereka memboyong keluarga bersama mereka. Seandainya yang demikian terjadi (yakni rnembawa isteri-isteri dan anak-anak mereka) maka bahasa Arab akan lebih cepat dan lebih luas tersiar, sebagai bahasa Alqur’an yang dimuliakan oleh kaum Muslimin.
Akan tetapi, meskipun telah melakukan pembauran di daerah-daerah yang amat jauh itu, namun hingga waktu yang lama mereka masih rnemelihara tradisi dan mengenang tanah air, terutama Tarim, sebagai pusat ilmu dan pusat Alawiyin. Sekali-sekali mereka berkunjung ke negeri itu untuk berziarah. Baru beberapa abad kemudian hubungan mereka dengan negeri asal berkurang, sehingga dengan mudah dipengaruhi oleh lingkungan di mana mereka hidup, untuk lanjutnya terlebur di dalam periuk acuannya, walaupun agama dan adat istiadat yang hak tetap terpelihara.
Bahkan pada masa sementara Alawiyin masih mengunjungi negeri asal, mereka telah mernbawa kebudayaan dan tradisi India, Jawa (Indonesia), dan daerah atau negara lain di mana mereka hidup. Hal ini tampak jelas pada awal abad ketigabelas H.
Adalah sangat aneh jika ada sementara tokoh Alawiyin yang menentang hijrahnya Alawiyin ke luar dan menganjurkan dengan gigih agar mereka tetap tinggal di negerinya (Hadramaut), terutama pada ketiga abad terakhir ini – namun tidak ada di antara para pemikir atau sesepuh yang berusaha secara sungguh-sungguh memberi jalan yang dapat menghalangi laju arus hijrah ini. Yaitu dengan menyebar luaskan kesadaran, menggalakkan pertanian, membuat mereka merasa puas untuk hidup sederhana serta meninggalkan tradisi-tradisi yang merugikan. Kalau pun ada, orang-orang yang cukup memperingatkan hal demikian itu, amatlah sedikit. Di antara mereka adalah Habib Muhsin bin Alawi Assaqaf (wafat 1293 H.)
Adapun untuk tidak melakukan hijrah sama sekali dari Hadramaut – baik bagi Alawiyin maupun penduduk Hadramaut secara keseluruhan – memanglah merupakan hal yang tidak dimungkinkan oleh keadaan negeri itu sendiri sejak dahulu kala.
• Para Munshib
Pada tahap perkembangan ini, lahirlah jabatan ” Munshib”. Jabatan itu sendiri dikenal sebagai “Manshabah”. Sebagian besar Munshib Alawiyin muncul pada abad kesebelas dan abad keduabelas H. Seperti Munshib Al-Attas, Munshib Al ‘Aidarus, Munshib Al-Syekh Abubakar bin Salim, Munshib Alhabsyi, Munshib Al Haddad, Al-Jufri, Al-Alawi bin Ali, Al-Syathiri, Al-Abu Numay dan lain-lain.
Tugas yang dilakukan oleh lembaga ini adalah tugas yang mulia dan bermanfaat, baik bagi agama maupun bagi sesama manusia. Pemangku jabatan ini – yang menerimanya secara turun temurun – selalu berusaha mendamaikan suku-suku yang bersengketa – khususnya sengketa antara suku-suku yang bersenjata – menjamu tamu yang datang berkunjung, menolong orang-orang lemah, memberi petunjuk kepada mereka yang memerlukan petunjuk dan bantuan bagi yang memerlukan bantuan.
Lembaga ini senantiasa memainkan perannya hingga kini (1948 M), sesuai dengan tujuan “Manshabah” yang didirikan untuknya. Para Munshib tidak jarang mengorbankan harta dan kepentingan pribadi demi tugas dan jabatannya. Hanya saja generasi yang kernudian biasanya makin lemah bila dibanding dengan pendahulunya, baik di bidang keahlian, kemampuan, maupun kewibawaan, sehingga secara berangsur, lembaga ini makin lama makin berkurang peranannya. Hal ini terutarna disebabkan kurangnya perhatian terhadap pendidikan, baik ilrnu maupun keahlian, sesuai dangan, apa yang dahulu dikuasai oleh bapak-bapak mereka.
• Golongan Alawiyin dan Politik
Pada pasal-pasal lampau telah dibicarakan sejarah perkembangan Alawiyin dalam berbagai bidang kehidupan pada ketiga tahap terdahulu. Kini hanya tinggal bidang politik.
Adalah merupakan prinsip yang rnenjadi pegangan tokoh-tokoh Alawiyin, mereka senantiasa menjauhkan diri dan tidak hendak mencampuri urusan politik, kecuali dalam hal-hal yang erat hubungannya dengan kepentingan dan maslahat umum. Yaitu dengan menggunakan pengaruh spiritual mereka, dan hanya pada batas-batas tertentu.
Disebutkan dalam biografi bahwa Al Muhdhar, Al-A’idarus. Al-A’dani, Zain Al-A’bidin Al-A’idarus, Al-Haddad dan lain-lain adakalanya mereka bergaul dengan para raja dan penguasa negeri serta mengadakan surat rnenyurat dengan mereka. Para penguasa itu pun sering meminta nasihat dan petunjuk dari tokoh-tokoh tersebut serta mengharap doa mereka. Namun, bila diteliti hubungan mereka dengan para penguasa nyatalah bahwa hubungan mereka tidak lebih daripada mengarahkan para penguasa agar melakukan kebijaksanaan yang sesuai dengan keadilan dan kepentingan umum.
Meskipun tokoh-tokoh Alawiyin mempunyai pengaruh spiritual yang cukup besar di kalangan suku-suku bersenjata, namun mereka tak pernah; mengeksploitasi pengaruh itu untuk tujuan-tujuan yang tidak layak.
Jika sekiranya mereka mengarahkan minat, demi kepentingan pribadi, atau berambisi meraih kekuasaan politis, dengan mudah mereka akan mencapai apa yang dinginkannya. Pada masa-masa itu seringkali peluang terbuka dan kesempatan ada, namun mereka tidak pernah memanfaatkannya, seperti dapat diketahui oleh mereka yang mengkuti dan mengkaji sejarah Hadramaut. Seperti pada peristiwa yang terjadi di antara Zain’ Al-Abidin AI-A’idarus dengan Hasan bin Al-Qasim, Imam golongan Zaidiyah dari Yaman, peristiwa Husein bin Sahl dengan Syekh Awadh Gharamah, semua itu merupakan bukti-bukti nyata bagi apa yang dikemukakan tadi.”[13]
Dalam hal ini, dapatkah kiranya dikemukakan alasan seperti telah disebutkan sebelum ini, tentang langkanya karya-karya tulis dalam bidang ilmu pengetahuan, dan budaya, yaitu akibat sangat dalamnya pengaruh ajaran tasawuf dalam jiwa rnereka? Atau mungkin juga ada alasan-alasan lain yang hingga kini belum terungkap mengingat apa yang terjadi dalam praktek seringkali jauh berbeda dengan dasar-dasar teori semata?
Bagaimana pun juga, jelaslah, bahwa Alawiyin tidak pernah berusaha, apalagi berpetualang, untuk mencapai keberhasilan dalam bidang politik baik untuk mendirikan kerajaan atau kesultanan, seperti dilakukan oleh saudara-saudara sepupu mereka yaitu Syarif-Syarif Mekkah, para Sultan di negeri Maghrib (Afrika Utara) dan para Imam di Yaman.
Adanya pribadi-pribadi tertentu dari kaum Alawiyin yang pernah berhasil mendirikan kerajaan atau kesultanan, seperti disebutkan sebelum ini, tidak dapat dijadikan dasar umum bagi cara hidup salaf dan tokoh Alawiyin. Kadang-kadang pengaruh situasi dan kondisi begitu kuat untuk menentukan sikap. Suasana demikian itulah yang membuat sementara Alawiyin mernegang tampuk pimpinan dan tidak dapat mengelak untuk menghindar dari jabatan.
TAHAP KEEMPAT
Tahap ini bermula dari abad keEmpat Belas H. hingga kini. Yakni, di dalam pasal ini kita akan berbicara tentang keadaan kita sekarang, agar dapat membuat perbandingan antara kita sendiri dengan perilaku dan sejarah salaf kita yang terdahulu.
Adalah sangat disayangkan bahwa tahap ini – dibanding dengan tahap-tahap sebelumnya – merupakan masa kemunduran dan kemerosotan di hampir semua bidang kehidupan. Bahkan kemunduran dan kemerosotan ini merupakan gejala umum yang menimpa seluruh dunia Islam.
Meskipun demikian, adanya perbedaan antara tahap pertama dengan tahap-tahap berikutnya memang benar-benar terasa. Makin jauh kereta sejarah berjalan, makin jauh kemunduran dan kemerosotan itu terasa, makin surut sinar keagungan Alawiyin dan makin tenggelam ke dasar.
Keadaan demikian ini merupakan kebalikan bagi bangsa-bangsa yang ‘hidup’, yang makin lama makin maju (14)
• Diagnosa dan Pengobatan
Faktor utama yang menyebabkan kemunduran itu adalah tidak adanya pendidikan yang benar dan tepat. Salaf kita dahulu adalah orang-orang yang amat ahli dalam bidang ini. Melalui jalur itu, mereka mengarahkan putra-putra mereka sesuai dengan apa yang mereka rencanakan dan mereka kehendaki, untuk rnemuaskan hati mereka. Perguruan tinggi dan fakultas kaum Alawiyin adalah alam terbuka dan lingkungan hidup itu sendiri.
Adalah keliru apabila kita beranggapan bahwa lingkungan kita, sekolah-sekolah kita, majlis-majlis ta’lim kita sekarang merupakan sarana pendidikan yang di dalamnya disalurkan ajaran-ajaran seperti yang dahulu diajarkan oleh salaf kepada putra-putra mereka. Bahkan kenyataan yang kita lihat adalah kebalikan dari apa yang dahulu dikerjakan oleh para salaf itu.
Kemerosotan akhlak di kalangan sementara Alawiyin telah mencapai derajat terendah, demikian pula surutnya ilmu pengetahuan, di samping tersebarnya penyakit-penyakit sosial.
Alhasil, kini kita sedang mengalami kemunduran yang mengerikan, padahal jalan untuk mengatasi semua itu adalah jelas, yaitu, kembali mengikuti cara hidup para salaf dalam ilmu, akhlak dan amal, sehingga semua tindakan yang kita lakukan sesuai dengan status kita di tengah masyarakat. Demikian pula halnya dengan kaum Muslimin secara keseluruhan. Sebab, “akhir umat ini tidak akan menjadi baik melainkan dengan cara-cara yang dahulu memperbaiki pendahulunya “, demikian ditegaskan oleh pemimpin besar umat ini, Rasul Allah saw.
Marilah kita usahakan. Dan Allah akan senantiasa menolong mereka yang membela dan menegakkan ajaran-Nya.
*************
CATATAN KAKI / FOOTNOTE
01. Abdullah bin Alwi Al -Haddad. Allah telah menganugerahkan kepada Abdullah Al Haddad daya hafal yang luar bisa, sehingga telah hafal Al-Qur’an seluruhnya dalam usia kecil. Kendati telah mengalami penyakit sehingga menyebabkannya menjadi seorang tunanetra, namun ketajaman hati dan kecerdasan fikirannya melebihi mereka yang berpenglihatan sempurna. Al-Haddad telah mampu menguasai berbagai ilmu yang diajarkan oleh guru-guru kepadanya, lalu muncul sebagai seorang tokoh besar dalam ilmu-ilmu Syari’at, Tasawuf dan Bahasa, maka berdatanganlah para murid dari segenap penjuru untuk mereguk sumber ilmu yang deras ini. Di samping pelajaran yang disampaikan secara langsung, Al Haddad telah pula mengarang beberapa buku yang kemudian tersebar luas. Karya-karya Al Haddad ini antara lain : Annasha’ih Addiniyah, Risalah Almu’awanah, sebuah Diwan (kumpulan syair) dan lain-lain. Wafat di Tarim 1132 H.
02. Habib Ali bin Abubakar As Sakran bin Abdurrahman Assagaf, bergelar AsSakran (dimabuk cinta Ilahi). Terkenal dalam berbagai bidang ilmu, khususnya tasawuf. Wirid As Sakran hingga kini masih banyak dibaca orang. Wafat 895 H.
03. Imam Ahmad bin Isa Ar Rumi bin Muhammad An Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’farAsshadiq bin Muhammad Al-Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Husin. Al Muhajir Ila Allah (orang yang berhijrah menuntut ridha Allah) meninggalkan Basrah di Irak pada tahun 317 H. bersama keluarga dan pengikutnya yang berjumlah 70 orang, menuju Hijaz (Saudi Arabia), kemudian ke Yaman (Utara), dan selanjutnya Hadramaut (Yaman Selatan). Al Muhajir sampai di Hadramaut pada tahun 318 H dan untuk pertama kali mendirikan rumah di Hajrain, lalu pindah ke Husayisah tempat beliau menetap hingga wafat pada tahun 345 H.
04. Ibadhiah adalah salah satu golongan Khawarij di bawah pimpinan Abdullah bin Ibadh. Berkali-kali kelompok ini memberontak terhadap kekuasaan Bani Umayyah dan yang paling terkenal adalah pemberontakan mereka dibawah pimpinan Abdullah bin Yahya,sekitar tahun 129 H . Golongan ini kemudian mengembangkan pengaruhnya di Oman, Yaman dan Hadramaut.
05. Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad AlMuhajir. Al-Fagih Al Muqaddam adalah tokoh Alawiyin pertama yang menyebarluaskan ajaran tasawuf, setelah mengenakan “khirgah” (baju tasawuf) dari seorang tokoh ahli sufi, ialah Syekh Abu Madyan. Al Faqih Al Muqaddam menerima “khirgah” itu melalui seorang perantara, Syekh Abdurrahman bin Muhammad Al Muq’ad, seorang murid Syekh Abu Madyan. Syekh Abdurrahman diutus oleh gurunya khusus untuk tugas itu, tapi ia telah wafat di Makkah sebelum sempat menemui Al Fagih Al Muqaddam. Meski demikian, sebelum wafat ia telah melimpahkan misi itu kepada kawan yang dapat dipercaya ialah Syekh Abdullah Al Maghribi untuk menyampaikan “khirgah” kepada Al Fagih Al Muqaddam di Tarim, Menurut kitab AlMasyra ‘Arrawiy, Al Fagih Al Mugaddam telah mencapai derajat Al Mujtahid Al Muthlaq di dalam ilmu Syari’at, – makam Al Quthbiyah di dalam bidang tasawuf. Gurunya ,Syech Muhammad Bamarwan mengatakan Al Faqih Muqaddam telah memenuhi syarat untuk menduduki jabatan AI-Imamah- Wafat 653 H.
06. Habib Abdurrahman bin Muhammad (Maula Addawilah) bin Ali bin Alawiy bin Muhammad Alfagih Al muqaddam. Ulama besar yang telah mencetak berpuluh ulama, termasuk di antara mereka adalah putra-putranya sendiri, saudaranya Al-Imam Alawi bin Muhammad, Imam Sa’ad bin Ali Madzhij, Syekh Ali bin Muhammad Al-Khathib dan banyak lagi. Bergelar Assagaf karena kedudukannya sebagai “pengayom”, serta tingginya derajat ulama ini baik dalam ilmu maupun tasawuf. Sangat terkenal sebagai dermawan. Assagaf telah mendirikan 10 mesjid disertai wakaf untuk mencukupi kebutuhan mesjid-mesjid itu, Memiliki banyak kebunkebun kurma, namun segala kekayaan itu tidak sedikit pun memberatkan atau merisaukan hatinya, apalagi merintangi ketekunannya dalam ibadah. “Sehingga kalau seandainya dikatakan kepadaku,” kata Assagaf, “kebun-kebun itu tidak ada yang berbuah, aku akan menari kegirangan“. Di antara kata mutiara Assagaf adalah sebagai berikut : “Manusia semua membutuhkan ilmu, ilmu membutuhkan amal, amal membutuhkan akal dan akal membutuhkan taufik. Semua ilmu tanpa amal tidak berguna. Ilmu dan amal tanpa niat adalah sia-sia. Ilmu, amal dan niat tanpa mengikuti sunnah adalah tidak diterima. Ilmu, amal, niat dan sunnah tanpa wara’ (sangat hati-hati dalam menjalankan yang halal) adalah kerugian”. Assaqaf wafat pada tahun 819 H.
07. Umar Al Muhdhar bin Abdurrahman Assagqaf. Imam zamannya dalam ilmu, tokoh dalam tasawuf. Terkenal dengan kemurahan hatinya. Rumahnya tidak pernab sunyi dari para tamu yang datang berkunjung baik untuk kepentingan agama maupun kepentingan duniawi – Menjamin nafkah beberapa keluarga yang tak mampu dan mendirikan tiga buah mesjid. Umar Al Muhdhar terkenal dengan doanya yang amat mustajab. Wafat 833 H
08. Abdullah bin Abubakar bin Abdurrahman Assagaf terkenal dengan gelar A1-A’idarus (AlAydrus), Ia berusia 10 tahun, ketika ayahnya wafat dan langsung diasuh oleh pamannya, Umar Al Muhdhar, yang sekaligus bertindak sebagai gurunya. Ia telah mempelajari ilmu-ilmu Syari’at, Tasawuf dan Bahasa. Ketika AI-Muhdhar wafat, ia berusia 25 tahun. Tokoh-tokoh Alawiyin telah sepakat untuk mengangkat Imam Muhammad bin Hasan. Jamal Al-Lail sebagai Naqib, namun menolak dan menyarankan agar mengangkat Abdullah Al-A’idarus ini untuk menggantikan pamannya. Ulama besar yang bertindak menyebarluaskan ilmu dan dakwah, tekun dan mengisi waktunya dengan ibadah, menyalurkan hartanya untuk kepentingan umum. Di dalam kitab Almasyra’ dinyatakan: “Dalam kedermawanan bagaikan seorang amir, namun dalam tawadhu’ bagaikan seorang fakir”. Sangat senang menampakkan nikmat Allah atas dirinya dengan mengenakan pakaian-pakaian indah, kendaraan yang megah dan rumah yang bagus. Wafat 865 H.
09. Habib Ali Zain Al-Abidin bin Abdullah bin Syekh Al ‘Aidarus, adalah seorang Imam yang terkenal dalam berbagai ilmu. Guru utamanya adalah ayahnya sendiri. Ia bertindak sebagai murid dan pelayan ayahnya, tidak pernah berpisah selama ayahnya hidup. Setelah ayahnya wafat, Zainal Abidin menggantikan ayahnya itu sebagai Naqib, mencurahkan seluruh tenaga dan pikiran demi kepentingan masyarakat umumnya, dan Alawiyin khususnya. Zain Al-Abidin sangat dihormati dan disegani oleh Sultan, di mana Sultan tidak memutuskan sesuatu sebelum terlebih dahulu meminta pendapat Imam ini, bahkan tidak jarang Sultan datang ke rumahnya untuk sesuatu kepentingan, baik yang bersifat pribadi maupun umum. Akibat kedudukan yang tinggi ini, Zain Al-Abidin menghadapi banyak lawan, namun selalu menghadapi mereka dengan cara yang bijaksana. sehingga akhirnya lawan berubah menjadi kawan. di samping sebagai guru besar dalam ilmu-ilmu Syariat, Tasawuf dan Bahasa, ia menguasai soal pertanian dan bidang -bidang profesi lain; memberi petunjuk kepada mereka yang memerlukan petunjuk, bahkan di penghujung hayatnya ia sering mengobati mereka yang menderita penyakit, sebagai tabib. Wafat 1041 H
10. Ulama telah merasa puas dengan karya-karya Imam Al-Ghazzali dan Annawawi sehingga tidak merasa perlu untuk menyusun kitab-kitab sendiri baik dalam ilmu Syari’at, Tasawuf maupun Akhlak. Mereka mencurahkan tenaga dan fikiran untuk mengamalkan dan menyebarluaskan ajaran-ajaran yang terkandung di dalam kitab-kitab itu.
11. Habib Abdullah bin Alawi bin Muhammad Al Faqih Al Muqaddam. Setelah menyelesaikan pendidikan pada ayah dan datuknya, Al Faqih Almugaddam, ia meneruskan pendidikannya ke Yaman dan Hijaz untuk berguru kepada ulama-ulama besar di kedua negeri itu Kemudian bermukim di tanah suci untuk menyebarluaskan ilmu dan mengajarkanya. Karena mengajar dikedua kota suci Makkah dan Madinah ia digelari Imam Al-Haramain dan Mujaddid abad kedelapan Hijriah. Ketika itu datang berita wafatnya Imam Ali bin Alwi (sudara kandungnya) dimana tokoh-tokoh Hadramaut telah menulis sepucuk surat ta’ziah dan sekaligus memintanya kembali pulang ke kampung halaman untuk memimpin umat dan menggantikan kedudukan Almarhum sebagai da’i dan mengajarkan berbagai ilmu kepada mereka yang menuntutnya. Berpuluh murid telah dicetak menjadi ulama besar termasuk di antara mereka adalah putra-putranya sendiri, Ali, Ahmad dan Muhammad. Wafat di Tarim, pada tahun 731 H
12. Alawiyin telah berjuang-bersama seluruh rakyat melawan portugis yang datang menyerang pesisir Hadramaut dengan tujuan menduduki negeri itu pada tahun 1097 H. Berkat kegigihan mereka telah berhasil mengusir kaum kolonial , Kendati telah gugur para syuhada dalam peristiwa ini .
13. Salah satu bukti yang menguatkan hal di atas adalah peristiwa di mana Sultan Badr bin Thuwairiq berniat mengundurkan diri dari jabatannya dan menyerahkannya kepada Al-Imam Husein bin Syekh Abubakar bin Salim (wafat 1044 H.). Namun Imam Husein menolak dan menekankan kepada Sultan ini untuk tetap memangku jabatannya, serta dia pun akan selalu membantu dan mendampinginya
14. Kendati suasana umum amat suram — pada tahap ini – namun ada juga tokoh-tokoh yang sangat menonjol dalam ilmu dakwah dan perbaikan sosial seperti Al-Imam Ali bin Muhammad Alhabsyi – Shohibul Maulid Simtud Dhuror(wafat 1333 H.), Al-Imam Ahmad bin Hasan Al-Atthas – (wafat 1334 H.), Allamah Abubakar bin Abdurrahman Syahab (wafat 1341 H.), Habib Muhammad bin Thahir Al Haddad (wafat 1319 H.), Habib Husein bin Hamid Al Muhdhar (wafat 1341 H.), dan banyak lagi tokoh yang lain. Kendati demikian hal ini sangat kurang memadai bila dibanding dengan banyaknya Alawiyin secara keseluruhan yang memang cukup besar jumlahnya dan tersebar di berbagai penjuru.

Wallahu A`lam…

Selasa, 24 April 2012

Manaqib Kyai Utsman Al-Ishaqi Surabaya

Kyai Ustman sby
AL-LU’LU’U WAL-MARJAN

Dengan pertolongan Alloh swt. ada barokah Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqi R.A. kami berusaha untuk menerbitkan Manaqib Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqi untuk pertama kali dengan bahasa Indonesia, dengan harapan akan mudah difahami oleh kaum muslimin yang mencintai beliau khususnya para muridin dan muridat beliau untuk lebih memantapkan Robithoh kepada beliau sewaktu akan melakukan dzikir serta agar selalu mendapatkan barokah apa saja dari beliau baik di dunia maupun di akhirat nanti khususnya dalam menghadapi sakarotul maut.
Karena dengan selalu dekat kepada guru rahmat Alloh akan selalu mengalir terus kepada murid yang selalu dekat kepada guru tersebut.
Manaqib ini kami bagi menjadi tiga Bab dengan Penjelasan sebagai berikut :
BAB I : Menceritakan tentang biografi beliau sejak di dalam rahim ibu sampai beliau menetap kembali di Surabaya untuk membuka Pesantren dan memimpin Thoriqoh QODIRIYYAH dan NAQSYABANDIYYAH.
BAB II : Menjelaskan tentang keistimewaan dan keluhuran beliau disisi Alloh seperti yang diungkap¬kan oleh para Habaib dan para Auliya’ yang sudah terkenal akan kewaliannya.
BAB III : Membicarakan tentang kekeramatan beliau yang tiada habis-habisnya sampai beliau pulang ke Rahmatulloh.
Demikian manaqib ringkas ini kami sampaikan mudah-madahan ada guna dan manfaatnya untuk kita semua Amin.
Gresik, 20 Syawal 1404 H
Penyusun
H. ABDUL GHOFFAR UMAR
BAB I
Dibawah ini kami murid Hadrotus-Syaikh Al-Arif Billah K.H. MUHAMMAD UTSMAN AL-ISHAQI R.A. bernama H. ABDUL GHOFFAR UMAR Tenger Manyar Gresik, dengan rendah hati menyampaikan sekelumit Manaqib (Biografi) Hadrotus-Syaikh guru Toriqoh AL-QODIRIYYAH WAN NAQSYABANDIYYAH.
Manaqib ini dikumpulkan dari pengakuan dan pernyataan para Habib serta para Ulama yang mengenal Hadrotus-Syaikh baik secara lahir maupun secara batin. Diantaranya pengakuan dan pernyataan dari Habib Alie bin Abdurrohman Al-Habsyi Kwitang Jakarta, Habib Ali bin Husain bin Muhammad Al-Atthos Bungur Besar Jakarta. Habib Abdul Qodir Bilfaqih Malang, Habib Abdulloh Al-Haddad, Habib Zasssin Al-Jufri. Kyai Hamid Karang Binangun Lamongan, Kyai Abdul Hamid Pasuruan, Nyai Khodijah dan lain lain. Juga dari Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman r.a. sendiri sebagai Attahaddus bin-Ni’mah atas dasar Firman Allah :
واما بنعمة ربك فحدث
Juga untuk menjaga jangan sampai ada orang yang mengingkari atau menentangnya atau mencelanya. Juga terhadap Masyayikh yang lain, menyebut manaqib sendiri semacam ini pernah dilakukan oleh Ulama’ terdahulu untuk memperkenalkan hal ihwal mereka kepada orang lain agar ditiru seperti Syaikh Abdul Ghofir Al-Farisi Syaikh Al Asfahany, Syaikh Yaqut Al-Hamawy, Syaikh Abu Al-Robi’ Al-¬Maliki, Syaikh Shofiyuddin Al-Manshur serta Syaikh Jala¬luddin Al-Suyuti, Imam Suyuti umpamanya telah menyebut¬kan Manaqib dirinya dalam kita-kitab Thobaqoh yaitu Thobaqoh Al-Fuqoha’ Thobaqoh Al-Muhadditsin Thobaqoh Al-¬Mufassirin Thobaqoh Al-Nuhaat, Thobaqoh Al-Sufiyah dan Thobaqah Al-Muqriin.
Kata Imam Suyuti : Saya menyebutkan manaqib saya hanyalah mengikuti perbuatan orang-orang salaf yang sholeh-sholeh, dan untuk memperkenalkan hal ihwal saya dalam bidang ilmu agar orang lain menirunya, juga untuk Attahadduts bin ni’mah.
Adapun manaqib Hadrotus-Syaikh yang terperinci dan mendetail ada di dalam kitab “SYIFAUL QULUB LIQOUL MAHBUB” yang disusun oleh Kyai Haji Abdulloh Faqih suci Gresik. dan kemudian kami susun kembali kedalam bahasa Arab secara sistematis dan praktis dalam kitab “AL-LU’LU’ WALMARJAN FI MANIQIBI SYAIKH MUHAMMAD UTSMAN R.A.
Dengan membaca Bismillahirrohmanirrohim kami mulai menyampaikan manaqib (biografi) Hadrotus-Syaikh sebagai berikut :
Menurut nasab yang sudah tersusun rapi di dalam keluarga, Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman adalah seorang sayyid dan seorang habib, sebab itu yang mengandung beliau adalah keturunan Maulana Muhammad Ainul Yaqin Al-mulaqqob bi Sunan Giri bin Maulana Ishaq Al-Husaini dan ayah beliau adalah keturunan Sunan Gunung Jati juga Al-husaini. dengan demikian hadrotus-syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqi anak cucu Rosululloh saw.
Hadrotus-Syaikh dilahirkan di Jatipurwo Surabaya pada hari Rabu bulan Jumadil Akhiroh tahun 1334 H. setelah beliau bertapa selama 16 bulan di dalam rahim ibu beliau dan selama di dalam rahim ibu beliau sering bersin, di dalam bahasa Arab di sebut Al-Atthos, dan sejak kecil keistimewaan dan kekeramatan beliau sudah nampak setelah Hadrotus-Syaikh sudah bisa berjalan. Beliau selalu tidak ada dirumah setelah Maghrib, dan baru pulang setelah jam 11 malam badan beliau penuh dengan lumpur. Ternyata setelah diselidiki, beliau berada di sungai didekap oleh seekor Buaya Putih.
Setiap malam Hadrotus-Syaikh selalu tidur di surau (langgar) bersama nenek beliau Kyai Abdulloh, selain nenek beliau tidak ada seorangpun yang berani mendapingi sewaktu beliau tidur, karena dari mata beliau memancarkan sinar terang seakan-akan mau menembus Iangit bagaikan lampu sorot (battery).
Ketika beliau berumur 6 sampai 7 tahun, pada suatu malam nampak bulan-bulan yang banyak turun dari langit seraya memancarkan sinarnya menuju Hadrotus-Syaikh dan mengitari beliau dari segala arah.
Sejak beliau berumur 4 tahun setiap pagi pada Jam 3.00. Istiwa’ beliau keluar rumah menuju Masjid Jami’ Ampel Surabaya diantar oleh kakak perempuan beliau Nyai Khodijah untuk membaca tarhim (memanggil-manggil sholat fajar) sampai datang waktu Shubuh di menara Masjid.
Setiap kali beliau sampai dipintu gerbang Ampel beliau selalu disambut anak-anak kecil yang banyak se¬kali memakai kopyah putih semua, setelah beliau sampai di masjid anak-anak kecil tersebut hilang entah kemana. Dan baru muncul kembali sewaktu beliau hendak pulang dari masjid pada jam 7.00 pagi untuk mengantarkan beliau ke pintu gerbang. Dan setelah itu mereka menghilang kembali, demikian cerita Nyai Khodijah dan Kyai Anwar.
Ketika beliau umur 7 tahun, beliau sudah mengkhatamkan Al-Qur’an 3 kali dibawah asuhan nenek beliau Kyai Abdullah. Kemudian beliau di khitan (sunat). Barulah beliau berpindah mengaiji ke Kyai Adro’i Nyamplungan, sejak itu sepulangnya beliau dari Ampel, beliau terus menuju ke Nyamplungan untuk mengaji Al-Qur’an, setelah itu beliau menuju ke madrosah Tashwirul Afkar di Gubbah untuk mengaji agama, dan baru pulang setelah jam 10.0 pagi. Seharinya beliau hanya mendapatkan sangu 5 Sen yang berlobang tengah yang beliau tempelkan di kancing baju.
Pernah selama 4 talaun Hadrotus-Syaikh tidak makan kecuali daun-daunan dan buah-buahan dan hanya minum air masak saja. Pada waktu itu beliau tentukan belanja beliau hanya 1/2 Sen. Beliau mengatakan, pada waktu saya masih kecil pada suatu hari saya bernafsu sekali ingin makan, maka sayapun makan sekenyang kenyangnya, tetapi sebagai dendanya Saya harus mengkhatamkan Al-Qur’an satu kali duduk. Dan beliau mengatakan : Pada suatu hari saya menangisi diri saya karena ketika saya sholat saya ingat layang-layang, padahal saya sudah berumur 12 tahun, berarti 3 tahun lagi saya sudah baligh dan Mukallaf, bagaimana kalau saya masih ingat pada layang-layang pada waktu sholat ?!
Kyai Ahmad Asrori Kholifatus Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqi mengatakan kepada kami, bahwa ayah beliau pernah mengatakan : Ketika saya menginjak umur 13 tahun, mata saya melihat Ka’bah di Makkah secara rel dan nyata. Maka mata sayapun saya usap berkali-kali (saya ucek-ucek), tetapi tetap saja yang nampak hanyalah Ka’bah di Makkah. Kemudian saya berpikir, mungkin mata saya sudah rusak, dan saya minta dibelikan kaca mata khusus untuk melihat, akan tetapi hasilnya sama saja. Ka’bah di Makkah tetap nampak di pelupuk mata saya, Kata Kyai Asrori : Itulah awal kasyaf yang dialami oleh Hadrotus-Syaikh, dan sejak itu kata Hadrotus-Syaikh saya melihat orang dengan segala kepribadiannya, ada yang menyerupai Srigala ada yang seperti Truwelu, ada yang seperti Babi, seperti Ayam, Kucing dan lain sebagainya menurut pembawaan nafsunya masing-masing, tetapi saya tidak berani berkata terus terang, sebab itu adalah rahasia seseorang.
Pada suatu hari Hadrotus-Syaikh sampai larut malam tidak pulang dari Madrasah seperti biasanya pada jam 10.00 pagi, maka ributlah orang-orang tua mengkhawatir¬kan beliau. Maka imam Roudloh Kyai Nur atas izin orang tua beliau berangkat mencari beliau, dan oleh karena diberitakan bahwa Hadrotus-Syaikh berada di pondok Kyai Khozin Panji, maka Kyai Nur pun berangkat ke sana. Tetapi sesampai Kyai Nur di Siwalan Panji, Hadrotus-Syaikh sudah Pindah ke pondok Kyai Munir Jambu Madura.
Setelah orang tua beliau mendengar demikian itu, beliau mengatakan : tidak usah mencari Utsman, yang penting dia sehat. Setelah beberapa lama tinggal di pondok, beliau sakit keras, maka terpaksa beliau pulang kerumah. Dan setelah berobat Al-hamdulillah beliau sembuh kembali. Kemudian Hadrotus-Syaikh dipondokkan ke Kyai Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng, selanjutnya beliau dipondokkan ke Kyai Romli Peterongan Jombang. Pada waktu itu Hadrotus-Syaikh benar-benar terikat, beliau mengatakan : sewaktu saya dikirim oleh orang tua saya kepondok, sarung saya hanya satu lembar, apabila najis maka saya memakai tikar sebagai gantinya untuk sholat. Dan selama saya di pondok, saya tidak pernah pulang ke rumah kecuali badan saya sudah kurus benar. Sebab apabila saya pulang dan badan saya gemuk, saya di marahi oleh orang tua dan nenek. Pernah pada suatu hari saya pulang badan saya gemuk, spontan nenek saya mengatakan : Kalau kau tinggal dipondok. untuk makan dan mimurn. Lebih baik tinggal dirumah saja.
Ketika Hadrotus-Syaikh pulang dari pondok, pada suatu hari beliau menyaksikan adanya hubungan-hubungan khusus yang diselenggarakan oleh tujuh orang pemuda dan tujuh orang pemudi setiap hari disamping musholla di muka rumah beliau, maka beliau melihat hal yang tidak senonoh ini akhirnya beliau adukan kepada Kyai Romli dengan mengatakan : yai ! saya melihat ada mutiara di dalam air yang keruh dan najis, apakah saya harus mengentasnya (menyelamatkanya) ? Kyai Romli menjawab : Entaslah wahai Utsman ! dengan syarat hatimu tidak berpaling kepadanya, kalau hatimu berpaling kepadanya, maka kau tidak akan berjumpa denganku besok di Mahsyar. Maka beliaupun mengumpulkan pemuda dan pemudi yang 14 orang itu dirumah beliau setiap malam, beliau ikuti pembicaraan-pembicaraan mereka yang intim itu sambil beliau masuk-masukkan (sesel-seselkan) urusan keagamaan mereka, dan beliau peringatkan tentang siksa Alloh ta’ala. sampai akhirnya taubat dengan taubat nasuha (taubat yang pokok).
Hadrotus-Syaikh pernah diadukan oleh seorang ulama kepada Kyai Romli karena beliau mengadu ayam, Kyai Romli menjawab : Saya tidak berani melarangnya dan Kyai tidak usah meniru mengadu ayam. Kawan dekat Hadrotus-Syaikh bernama Kyai Haji Hasyim Bawean menceritakan kepada kami bahwa Hadrotus-Syaikh dibai’at oleh Kyai Romli pada hari Rabu 16 Sya’ban tahun 1361 H atau 1941 M. Setelah beliau dibai’at selama satu minggu heliau menyusun silsilah Thoriqoh Qodiriyah dan Naqsyabandiyyah atas perintah Kyai Romli di namakan “TSAMROTUL FIKRIYYAH” .
Hadrotus-Syaikh mengatakan : saya dibai’at oleh Kyai Romli atas permintaan Kyai Romli sendiri. Pada waktu itu saya dimasukkan kekamar Kyai dan didudukkan di atas Burdah yang putih bersih di atas tempat tidur Kyai dan dipinjami Tasbih. padahal waktu itu kaki saya berlumpur karena hujan, karena sudah menjadi Tradisi, setiap kali saya masuk kerumah Kyai, kaki saya pasti telanjang tanpa alas kaki. Dengan demkian, sebelum saya jadi murid saya adalah Murod dan sebelum saya menjadi tholib saya adalah Mathlub. Dalam kesempatan lain Hadrotus-Syaikh mengatakan untuk menghadiri Majlis Khusus atau wirid Khataman selama 4 tahun saya terus menerus berjalan kaki memakai klompen dari Surabaya. ke Paterongan, barulah kadang-kadang saya naik kendaraan setelah ketahuan Kyai Hasyim Asy’ari di Mojoagung dan beliau mengatakan : jangan jalan kaki terus-menerus Utsman. Selanjutnya Kyai Hasyim Bawean mengatakan pada adik waktu terjadi Perang Dunia II tahun 1942 M Hadrotus-Syaikh sekeluarga pindah sementara ke Peterongan, kalau siang hari berada di dalam pondok.
Pada suatu hari, hari Selasa beliau disuruh menghadap Kyai Romli pada jam 2.00 malam untuk diangkat menjadi mursyid Thoriqoh Al-Qodiriyah Wan Naqsyabandiyyah, Hadrotus-Syaikh waktu itu mengatakan “tidak kuat Kyai” tetapi Kyai Romli tet’ap melaksanakan perintah Alloh kemudian mengusapkan tangannya diatas kepala Kyai Utsman r.a. seketika itu pula Hadrotus-Syaikh jatuh tidak sadarkan diri dan langsung jadzab Selama satu minggu Hadrotus-Syaikh mengalami jadzab beliau tidak makan, tidak minum, tidak tidur, tidak buang air besar maupun kecil dan tidak sholat, wajah beliau cantik sekali bagaikan Bulan Purnama, tidak seorang pun yang berani melihat wajah beliau yang Cantik itu.
Setelah Hadrotus-Syaikh mengalami jadzab satu minggu, beliau berkata kepada Kyai Hasir Bawean : nanti malam akan datang tamu-tamu banyak sekali tidak perlu suguhan makanan atau minuman, maka pada jam 8.00 kurang sepuluh menit malam Hadrotus-Syaikh sudah siap menerima tamu dikamar, dan menghadap kepintu, tidah lama kemudian beliau mengucapkan : Waalaikumussalam, Walaikumussalam. selama kurang lebih lima menit, dan nampak seakan-akan.
Hadrotus-Syaikh menjabat tangan orang-orang sambil menundukkan kepala, kemudian beliau mengatakan : Mulai hari ini saya ditetapkan sebagai mursyid langsung oleh Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani dan Nabiyulloh Khidir r.a. Serta oleh sejumlah Masyayikh Al-Qodiriyah Wan Naqsyabandiyyah, dan sejak sekarang saya di izinkan untuk membai’at. sambil menyerahkan sepucuk kertas kepada Kyai Hasyim.
Kemudian Hadrotus-Syaikh menghadap kebarat sekali lagi dan mengucapkan na’am na’am tepat pada jam 8.00 lebih 5 menit malam itu Hadrotus-Syaikh berdiri menuju kepintu, setelah diam sejenak beliau mengucapkan wa’alaikumussalan, wa’alaiku¬mussalam, kemudian oleh Kyai Hasyim, Khadrottus Syaikh disuruh mandi setelah satu minggu tidak mandi dan ketika itulah Kyai Hasyim cepat-cepat pergi ke Kyai Romli untuk mengantarkan sepucuk kertas tadi, dan Kyai Romli spontan menemuinya di luar rumah seraya mengatakan : Ada apa ? ada apa ? ada apa ? Ketika Kyai Romli membaca sepucuk kertas itu spontan Kyai mengatakan dengan bahasa Madura yang maksudnya : Alhamdulillah sekarang saya punya anak yang bisa menggantikan saya (sampai 3 kali).
Orang tua Hadrotus-Syaikh juga pernah menyatakan hal-hal kepada salah seorang habib bahwa Hadrotus-Syaikh telah mendapatkan ijazah dari Syaikh Abdul Qodir Jailanil r.a, untuk berdakwah dan diangkat sebagai kholifahnya tanpa perantara, pernyataan ini disampaikan pada tahun 1947 M.
Pada waktu Hadrotus-Syaikh tinggal di Rejoso ada seorang tukang adu ayam kawa’an yang sangat populer di Jombang bernama Wak Sud dia memiliki jago-jago yang khusus untuk di adu, Hadrotus-Syaikh tertarik untuk menundukkan orang ini melalui adu ayam, maka beliau membawa ayam beliau ke Wak Sud dan dia menjawab ajakan Hadrotus-Syaikh dengan mengatakan : Apa bila jagomu menang melawan jagoku maka semua kekayaanku adalah milikmu, sebaliknya apa bila jagomu kalah saya tidak menuntut apa-apa darimu, maka Hadrotus-Syaikh menjawab : Apa bila jagomu menang kemudian kau ambil kekayaanku memang saya tidak mempunyai sesuatu yang patut disebut, dan apabila sebaliknya jagoku yang menang maka saya sama sekali tidak butuh kepada kekayaanmu sama sekali, Pokoknya begini Apabila jagoku menang kamu harus tunduk dan patuh dibawah perintahku, dan wak Sud setuju.
Dengan kekuasaan Alloh swt. menanglah jago Hadrotus-Syaikh sekalipun kurus kecil dan lemah sekali sangat kontras dengan jagonya wak Sud yang kekar dan gagah itu, maka waktu Kyai Romli melihat wak Sud melakuka’n sholat. Kyai Romli memegang pundak Hadrotus-Syaikh dari belakang seraya mengatakan : Apa yang kamu lakukan terhadap wak Sud wahai Utsman sehingga dia mendatangi sholat Jum’at, pada hal saya tidak mampu menundukkannya ? .
Dipeterongan Hadrotus-Syaikh tinggal di desa Nge¬lunggih tidak jauh dari Rejoso atas saran Kyai Romli dengan maksud agar beliau menjadi Imam di Ngelunggih, akibatnya murid-murid Kyai Romli banyak yang pindah he Ngelunggih untuk mendapatkan barokah dari Hadrotus-Syaikh serta ilmu beliau.
Akhirnya Hadrotus-Syaikh disuruh pindah oleh Kyai Romli ke salah satu desa dekat Gunung Lawu di Ngawi. Ketika Hadrotus-Syaikh sampai dilereng Gunung Lawu sangu beliau tinggal Rp. 1.70 (satu rupiah tujuh puluh sen) tidak cukup untuk membeli beras 1 liter, maka untuk mendapatkan rizqi yang samar, beliau Setiap hari : mengunjungi pesarean yang paling di kenal oleh orang di desa itu. Karena beliau cinta dan hobby melakukan ziarah akhirnya atas kemurahan Alloh beliau sekeluarga mendapatkan rizgi yang tidak diduga sebelumnya, diantara orang kampung ada yang mengundang beliau untuk mengikuti tahlilan ada yang minta barokah do’a, ada yang minta fatwa, sampai akhirnya Hadrotus-Syaikh menjadi populer di desa itu dan kemudian menjadi imam di desa itu.
Diantara kekeramatan Hadrotus-Syaikh di desa tersebut, beliau bermimpi berjumpa dengan Hadrotus-Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari Tebu Ireng berpamitan kepada beliau dengan mengatakan : Saya duluan Utsman. tahu-tahu pada esok harinya beliau mendengar berita bahwa Kyai Hasyim Asy’ari meninggal dunia (pulang kerahmatullah) .
Menjelang meletusnya Madiun Effer (peristiwa Madiun pada tahun 1948 M Hadrotus-Syaikh berkali-kali menerima surat serta saran agar beliau pulang saja ke Surabaya karena situasinya tidak mungkin aman di daerah itu. Mendengar pulangnya Hadrotus-Syaikh ini, sebagian besar penduduk di lereng Gunung Lawu itu keberatan ditinggalkan Hadrotus-Syaikh ; karena mereka memerlukan do’a, ilmu, serta barokah dari beliau bahkan ada yang berjanji memberikan 20 hektar kebun kepada Hadrotus-Syaikh agar beliau sudi tetap tinggal di desa itu. Tetapi setelah beliau melakukan istikhoroh akhirnya beliau menetapkan kembali ke Surabaya.
BAB II
Ketika Hadrotus-Syaikh menjadi santri di pondok Rejoso beliau masih muda belia, sering di jumpai oleh Nabi Khidir a.s. sehingga beliau laporkan kepada Kyai Romly dan dijawab oleh Kyai : Mengapa tidak kau minta datang kemari wahai Utsman.
Hadrotus-Syaikh sejak kecil sampai akan pulang kerahmatulloh selalu istiqomah dalam segala prilaku, perbuatan, serta ucapan yang beliau tiru dari Rosululloh saw. Kita tidak pernah melihat beliau hadats dan kita semua menyaksikan bahwa keseluruhan waktunya hanyalah untuk mnemgabdi kepada Alloh swt. maka pantaslah kalau beliau dipilih oleh Kyai Romly sebagai Kholifahnya. Dalam hubungan ini Kyai Romly pernah bermimpi bahwa di Surabaya terdapat sebuah pabrik besar yang terus mene¬rus berproduksi di bawah pimpinan Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman r.a. Itulah Thoriqoh Al-Qodiriyah Wan Naqsyabandiyyah yang beliau asuh.
Sebelumnya Kyai Romly sering menampakkan dan melahirkan ridlonya kepada Hadrotus-Syaikh, sampai beliau mengatakan : Alangkah besar ridlo saya kepadamu wahai Utsman. Dan Hadrotus-Syaikh meminta pendapat tentang Kholifah Syaikh Abdul Qodir Jailani r.a. Kyai Romly tersenyum-senyum sambil melihat dan menunjuk pada Hadrotus-Syaikh. sebaliknya Hadrotus-Syaikh kepada Kyai Romly juga fanatik dan sering merindukannya apabila berpisah agak lama.
Pada suatu hari putra beliau Abu Luqmanul Hakim sewaktu masih kecil jatuh dan terbentur pada tepi meja di rumahnya sehingga dari kepalanya mengalir darah yang banyak sekali yang cukup meributkan keluarga beliau. Maka oleh keluarga beliau supaya beliau mengantarkan putranya ke rumah sakit Karang Tembok dan kalau tidak berhasil terus ke Simpang, padahal Hadrotus-Syaikh ketika itu akan pergi ke Rejoso karena sangat rindu kepada Kyai Romly, maka beliau berkata dalam hatinya : saya harus pergi ke Rejoso, tentang nasib anak saya, saya pasrahkan kepada Alloh.
Ketika beliau berjumpa dengan Kyai Romly di Rejoso, guru beliau mengatakan : Anakmu tidak apa-apa. Dan benar kata kyai romly bahwa Abu Luqmanul Hakim dalam keadaan sehat wal afiyat, bahkan sedang memakan nasi goreng sekembalinya Hadrotus-Syaikh dari Rejoso berkat ketaatan serta kecintaan beliau kepada guru beliau Kyai Romly Attamimy r.a. juga pada suatu hari ketika akan menyelenggarakan walimah dirumah setelah maghrib, beliau terlebih dahulu meminta izin kepada Kyai Romly dan sampai di Rejoso tepat pada waktu sholat Dzuhur, sesudah sholat berjama’ah di masjid guru beliau Kyai Romly mengatakan kepada beliau : sekiranya kau tinggal di pondok seperti yang lalu, maka malam ini saya ajak memenuhi undangan Manaqiban di Jombang.
Maka Hadrotus-Syaikh bimbang antara mendampingi gurunya memenuhi undangan Manaqiban di Jombang dan pulang kerumah untuk mengharapkan tamu-tamu yang beliau undang Kerumah beliau pada malam itu juga. Akhirnya beliau memantapkan pendirian beliau pada alternatilf pertama dan berkata dalam diri sendiri : saya pasrah kepada Alloh toh nasi-nasi yang telah masak di rumah ada orang-orang yang memakannya, sedang menyertai guru adalah lebih utama. ketika Kyai Romly mengetahui beliau masih ada di masjid setelah sholat Asar berkatalah beliau kepada Hadrotus-syaikh : murid yang terdekat kepada gurunya adalah murid yang tahu akan rahasia-rahasia gurunya.
Kegemaran Hadrotus-Syaikh adalah berziaroh kepada wali-wali Alloh baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, dan beliau mengenal mereka secara dekat. Bukan hanya nama-nama mereka bahkan nasab mereka dan hubungan mereka satu sama lain. Sampai-sampai beliau hidup-hidupkan dan beliau semarakkan peringatan hari wafat mereka, terutama wafatnya Syaikh Abdul Qodir Jailani r.a. sehingga hampir tiada hari yang lewat di kota maupun desa terutama di Jawa Timur, kecuali terdapat disitu majlis manaqib.
Dalam hubungannya ini Hadrotus-Syaikh mentafsirkan qolbunsalim dalam ayat :
يوم لاينفع مال ولابنون الا من اتى الله بقلب سليم
Sebagai hati yang selamat dari penyakit batin dan penuh rasa cinta kepada Alloh, Rosulnya, dan para wali-walinya. sebab kata beliau tanpa wali-wali kita tidak mungkin dapat mengabdi kepada Alloh s.w.t dengan benar, maka banyak-banyaklah tawasul kepada Auliya’ insya Alloh hati kita akan menjadi khusu’. Yang mula pertama kali menyelenggarakan Managib adalah Hadrotus-Syaikh dan kemudian direstui oleh Kyai Romly At-tamimi dengan menyatakan : “baik Man, teruskan Man !”
Mula-mula yang hadir pada majlisan Managib di Jatipurwo selama 4 tahun hanyalah 7 orang 3 orang diantaranya pada musim panas udzur karna mengidap penyakit paru-paru. Pada suatu hari ditengah-tengah Hadrotus-Syaikh memimpin Istighotsah, datanglah orang yang tidak dikenal secara tiba-tiba dan langsung menelentangkan beliau dan melingkarkan pedangnya pada leher beliau yang terlentang dibawah itu. Peristiwa yang tragis ini diceritakan kepada Kyai Romly, dan beliau hanya menjawab : Teruskan apa yang telah kamu amalkan, orang tersebut tidak berani menancapkan pedangnya pada lehermu, bahkan dalam waktu dekat ini tidak akan berpisah denganmu sejengkalpun.
Dan kenyataannya seperti apa yang dinyatakan oleh Kyai Romly. Tentang keutamaan menaqiban ini Hadrotus-Syaikh mengatakan : Tidak ada ibadah kepada Alloh dimuka bumi ini yang lebih utama dari pada mencintai wali-wali Alloh, dan beliau mengatakan pula : mencintai para wali termasuk ketaatan yang terbesar, dan mereka yang menghadiri majlis managib adalah orang-orang yang cinta kepada mereka dan mencintai mereka adalah bukti akan adanya rasa cinta kepada Alloh s.w.t.
Berkah cintanya Hadrotus-Syaikh kepada para Auliya’ maka beliau sangat dicintai oleh para habaib dan para ‘Ulama’ akhirat, diantaranya Habib Ali bin Abdurrohman Al-Habsyi, Habib Ali bin Husain bin Muhammad Al-Atthos, Habib Abu Bakar Muhammad Al-Segaf dan Hadrotus-Syaikh sering berziaroh kepada mereka dan menghadiri haul mereka. Pada suatu hari Hadrotus-Syaikh bermaksud untuk berziaroh ke Habib Abu Bakar Muhammad Al-Segaf di Gresik sewaktu Habib masih hidup, beliau berjalan kaki dari Surabaya ke Gresik di tengah-tengah hujan lebat ditambah suara petir dan guruh yang saling sambar menyambar di tengah malam yang gelap gempita, ditambah angin kencang yang dapat menerbangkan atap rumah, sehingga Hadrotus-Syaikh sewaktu sampai di Gresik waktu sudah larut malam dan dalam keadaan basah kuyup tetapi Habib Abu Bakar nampak masih membuka pintunya lebar-lebar dan penjaga pintu masih berdiri.
Ketika Hadrotus-Syaikh melewati pintu pagar, penjaga pintu mengatakan bahwa sejak tadi sore Habib menunggu kedatangan Hadrotus-Syaikh dengan penuh kegelisahan dan kekhawatiran. Ketika beliau menghadap habib semua jama’ahnya yang mengelilingi habib semua ta’zhim kepada beliau dan mengeluh-eluhkan kehadiran beliau. Akhirnya Habib Abu Bakar bertanya tentang apa yang beliau mohon kepada Alloh dengan perantara Habib, yang kemudian dijawab oleh Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman Nadil Ishaqi r.a “Minta Khusnul Khotimah” habib termenung lama memikirkan betapa luhurnya permohonan Hadrotus-Syaikh.
Sebelumnya, Hadrotus-Syaikh sudah mempunyai hubungan khusus dengan Habib Ali bin Abdurrohman Al-Habsyi Kwitang Jakarta, seperti pernyataan habib Hasyim bin Sholeh bin Abdurrohman Al-Habsyi bahwa Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman r.a. telah mendapatkan futuh melalui Habib Ali bin Abdurrohman Al-Habsyi r.a. pada suatu hari Kamis tahun 1964. Dan pernyataan Kyai Hasyim Bawean bahwa dia pernah mengantarkan Hadrotus-Syaikh Utsman r.a. ke Habib Ali bin Abdurrohman Al-Habsyi di Jakarta ditengah-tengah hidup yang mengelilingi beliau, Habib Ali menjabat tangan Hadrotus-Syaikh seraya mengatakan : Kunci kutup saya serahkan kepadamu wahai Syaikh Utsman.
Dan pernyataan putra Habib Ali sendiri yaitu Habi Muhammad bin Ali bin Abdurrohman Al-Habsy pada waktu memberikan sambutan atas wafatnva Hadrotus-Syaikh yang ke 40 harinya bahwa setiap kali Hadrotus-Syaikh menemui kesulitan apa saja beliau selalu pergi ke Jakarta untuk menjumpai Habib Ali Al-Habsy untuk kemudian dapat her¬hubungan dengan Rosulullah s.a.w akan tetapi karena jarak Jakarta Surabaya begitu jauh maka akhirnya hahib Ali Al-Habsy menyuruh menjumpai Habib Abu Bakar Muhammad Assagaf di Gresik saja, sama-sama Wali Kutup.
Selanjutnya Habib Muhammad bin Ali Habsyi menyatakan dalam sambutannya bahwa Hadrotus-Syaikh akhirnya berhubungan langsung sendiri dengan Rosulullah saw tanpa perantara sewaktu mengalami kesulitan.
Hadrotus-Syaikh juga sangat dekat dengan Habib Ali bin Husain bin Muhammad Al-Atthos Bungur Besar Jakarta sehingga waktu beliau membaca Khususiyyah Wakalimatul Akha’ Syaikh Utsman yang disusun oleh Habib Hasan Al-Jufri Bangil beliau menangis terisak-isak, kemudian beliau gantungkan di atas pintu rumah seraya mengatan : Saya letakkan nadzoman ini di sini agar saya dapat melihat Syaikh Utsman setiap saat Kemudian beliau mendoakan Hadrotus-Syaikh semoga panjang umur, kalau tidak (kata habib Ali Al-Atthos) siapakah yang menggantikan kedudukannya ? demikian pernyataan menantu Hadrotus-Syaikh Abu Lu’lu’ sekembalinya dari Jakarta dan habib Ali bin Husain bin Muhammad Al-Atthos pernah menyatakan dimuka kami sesungguhnya Syaikh Utsman tiada duanya pada masa sekarang dan pada waktu Hadrotus-Syaikh berziarah kesana dihadapan para hadirin beliau menyatakan wahai Syaikh Utsman engkau dari keluarga Nabi. Kekholifahan Syaikh Abdul Qadir Jailani ditanganmu wahai Utsman. dan dalam kesempatan lain, beliau menyatakan : Saya mendengar dengan kedua telinga saya Paman saya Ali bin Abdur Rohman Al-Habsyi mengatakan : sungguh Utsman di Mahsyar nanti sangat dekat dengan Nabi Muhammad s.a.w. seperti dikemukakan pada Bab I yang lalu bahwa Hadrotus-Syaikh mempunyai hubungan istimewa dengan Syaikh Abdul Qodir Jailani r.a. bahkan dengan Rosulullah s.a.w seperti dikemukakan diatas dan seperti pernyataan Habib Muhammad Al-Habsy pada 40 hari wafatnya Hadrotus-Syaikh bahwa Habib Ali Al-Habsy, Habib Ahmad bin Kholid Al-Hamid, Habib Umar Al-Idrus dan lain-lainnya, menyatakan bahwa Hadrotus-Syaikh Utsman adalah tergolong Ahlul bait Rosulillah s.a.w.
Habib Ahmad bin Hamid Al-Habsyi pernah bertanya pada Habib Salim bin Jundan waktu beliau masih hidup, apa yang menyebabkan para Habib senang pada Kyai Utsman ? Habib Salim bin Jundan menjawab : Syaikh Utsman termasuk keluarga Rosulullah s.a.w, darahnya adalah darah saya ini maka ciumlah tangannya apabila kau ketemu dengannya walaupun banyak orang mendengkinya toh dia tidak pernah susah akibat didengki orang, mereka yang mendengkinya hanyalah rumput-rumput sedangkan Syaikh Utsman adalah pohon besar yang rindang.
Ketika Kyai Ahmad Asrori kholifatus Syaikh Muhammad Utsman masih kecil, pernah diajak oleh pengasuhnya yang bernama Abdul Hakim Bawean untuk berkunjung ke Habib Alie bin Muhummad bin Alwi As-shodiq Al-Habsyi cucunya habib Syaikh Bafaqih Boto Putih Surabaya bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, Dalam kesempatan itu Habib mengatakan kepadanya : jangan kau risaukan haliyah orang tuamu, beliau bagaikan Matahari, apabila sangat dekat dengan kita manusia banyak yang tidak tahan karena saking panasnya, tetapi ketika jauh dari kita sinarnya akan membahagiakan kita semua. Demikianlah keadaan orang tuammu Syaikh Utsman r.a. Seorang Kyai belum dinamakan Kyai sempurna sehelum ia diingkari oleh orang-orang yang dekat kepadanya dan sebaliknya dia dicintai oleh orang-orang yang jauh dari padanya.
Tentang hubungan Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman r.a dengan Kyai Hamid Pasuruan, Hadrotus-Syaikh pernah bercerita setelah walimatul haul Habib Syaikh Bafagih Boto Putih Surabaya : saya keluar ke teras cungkup di dampingi oleh Kyai Abdul Hamid Pasuruan duduk ditangga cungkup. Pada waktu itu Kyai Abdul Hamid bercerita : tadi sebelum kesini saya tidur dirumah salah seorang teman di Surabaya. Ketika saya bangun, dihadapan saya terlihat foto Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman, oleh karena saya tahu bahwa yang meletakkan adalah Agus Mas’ud Kedung Cangkring Sidoarjo, maka saya bertanya kepadanya tentang maksudnya, jawabannya hanya Wallohu A’lam. Kata Hadrotus-Syaikh : Saya pun diam mendengar cerita itu karera menyangkut masalah maqom (martabat). Tiba-tiba Kyai Hamid menjawab sendiri : untuk kepentingan hubungan di Mahsyar nanti. itulah sebabnya, maka dalam suatu walimah Kyai Abdul Hamid Pasuruan mengharap kepada Hadrotus-Syaikh agar ada hubungan yang dekat antara keduanya di Mahsyar nanti, dan Hadrotus-Syaikh menjawab : Kyai nanti bersama kami disisi Alloh Yang Maha Kuasa.
Dan didalam walimah yang lalu ada orang meminta, barokah do’a kepada Kyai Hamid, sedangkan disisi beliau adalah Hadrotus-Syaikh. akhirnya Kyai Hamid memegang lutut Hadrotus-Syaikh Utsman dengan tangan kiri dan berdo’a untuk orang yang meminta doa tadi dengan tangan kanan. Adik kami Asfahani putra Kyai Abdullah Faqih yang mengaji di pondok Kyai Hamid Pasuruan mengatakan pada suatu ketika kami duduk bersama-sama Kyai Hamid di ruang tamu, tiba-tiba Kyai Hamid mengatakan kepada kami : di Pasuruan ini hanya ada kayu Garu, alangkah ni’matnya kalau ada pohonnya Asfahani ! tiba-tiba Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman datang bertamu ke ruang tamu dan spontan Kyai Hamid merangkulnya dan mergatakan : ini apa pohon garunya!
Inilah sebagian kecil yang nampak tentang kedudukan dan Manzilah Hadrotus-Syaikh Utsman Nadil Ishaqi r.a.
BAB III
Ketika haul akbar Syaikh Abdul Qodir Jailani r.a. tahun 1389 H. dalam sambutannya habib Muhammad bin Ali bin Abdurrohman AI-Habsyi menceritakan tentang perjalanan orang tuanya ketanah suci dan bertemu dengan Syaikh Abdul Qadir Jailani r.a. yang menyatakan pada Habib : Kholifah saya adalah Utsman Surabaya.
Di antara kekeramatan Hadrotus-Syaikh yang lain : kyai Muhammad Fagih Langitan berkata bahwa Kyai Maimun sarang diceritakan oleh bapaknya yang bernama kyai Zubair bahwa habib Abd Qodir Bilfaqih bermimpi berjumpa dengan Rosulullah s.a.w yang sedang menemui 2 orang lelaki dan Rosulullah menyatakan kepadanya : Keluargaku banyak tersebar di tanah Jawa. Diantaranya adalah dua orang ini yaitu Romly dan Utsman.
Kekeramatan Hadrotus-Syaikh yang lain adalah dari Kyai Faqih Amin Praban Surabaya (pernah menjadi guru dan kawan Hadrotus-Syaikh) beliau mengatakan pada pada suatu hari saya berkunjung kepada Kyai Utsman, dan dia meminta saya untuk menjadi muridnya dibawah naungan Thoriqoh Qodiriyyah Wan Naqsyabandiyyah setelah bertukar pikiran tentang thoriqoh sampai jam 2 malam. Saya kalah dan mau menyerah kepada ajakannya dengan syarat : tiga burung perkutut yang didalam sangkar masing-masing berkicau secara berturut-turut dengan komandonya, setelah dia komando, tiba-tiba tiga ekor burung itu berkicau berturut-turut dengan izin Alloh, maka terasalah dalam diri saya akan kebesaran Hadrotus-Syaikh, dan sejak itu saya memakai bahasa Jawa halus (Kromo) sebagai ganti bahasa Jawa kasar (ngoko), dan setelah tiga bulan minta di bai’at.
Di antara kekeramatan beliau, ketika pada suatu hari kami akan menghadap Hadrotus-Syaikh, berkata dalam diri sendiri : mengapa jauh-jauh kulangkahkan kakiku kepondok anu. Kemudian keperguruan tinggi anu, sampai akhirnya keluar negeri untuk mencari kebenaran dan keyakinan. padahal di Surabaya sini terdapat seorang Mursyid yang membimbing saya menempuh jalan akhirat dengan selamat. maka ketika kami duduk diruang tamu keluarlah Hadrotus-Syaikh dari dalam sambil meletakkan tangan kanannya di atas dada (sanubari) seraya mengatakan : diantara guru saya juga ada yang bukan dari jam’iyyah kita. Tetapi Alhamdulillah saya belum pernah mengingkarinya sama sekali. Maka kami pun merasa malu dan menundukkan kepala.
Di antara kekeramatan beliau, pada tanggal 11 Syawal 1392 H. Hadrotus-Syaikh menjamu para tamu yang menghadiri majlis Manaqib di pondok Jatipurwo. Beliau mengatakan kepada kami : Wahai Abdul Ghoffar ! ketika kau tinggal di Mesir apakah kau pernah ketemu dengan Syaikh Hasan Ridwan seorang wali di Mesir yang dimintai barokah oleh orang Islam Mesir ? Ya, kami pernah menjumpainya pada suatu hari dalam rangka kuliah umum Tasawuf oleh Ir. Abdul Halim Mahmud yang dihadiri oleh para sufi dibalai pertemuan Al-Azhar. Selanjutnya Hadrotus-Syaikh berkata kepada para hadirin : Ketika salah seorang Habib Ampel berkunjung ke Mesir, dia menjumpai Syaikh Hasan Ridwan, dia ditanya tentang negerinya. Ketika ia menjawab dari Indonesia dari Ampel, maka Syaikh Hasan Ridwan mengatakan : Jadi rumahmu dekat dengan Syaikh Utsman Al-Ishaqi ? Habib menjawab : Ya, akhirnya Syaikh Hasan Ridwan mengatakan kepadanya : Apabila kamu sampai di rumah, berkunjunglah ke Syaikh Utsman, dan sampaikanlah salamku kepadanya, ketahuilah bahwa saya sering berkunjung ke rumahnya.
Diantara kekeramatan beliau, pada suatu hari dibulan Maulid, Hadrotus-Syaikh pergi ke Jakarta naik kereta api untuk menghadiri Maulid Nabi Muhammad s.a.w dan haulnya Habib Alie Al-Habsyi di Kwitang Jakarta, ketika kereta api berada diantara Cirebon-Jakarta karcis Hadrotus-Syaikh diperiksa Polisi KA dengan ketat sekali termasuk kartu tanda pengenal beliau yang akhirnya polisi memaksa Hadrotus-Syaikh untuk menemuinya di restorasi, sehingga menimbulkan kemarahan beliau, maka seketika itu pula datanglah hal beliau dan mengatakan : Perbuatan ini menunda sampainya kereta api di Jakarta.
Spontan kereta api itu berhenti tanpa sebab yang nyata, anehnya semua hubungan interlokal maupun bukan interlokal terputus sama sekali dengan Stasiun, kebetulan dibelakang gerbong Hadrotus-Syaikh terdapat Habib Abd Hadi bin Abdulloh Al-Haddar dari Banyuwangi. Maka setelah kereta api macet selama 1 jam dia mengirim utusan ke Hadrotus-Syaikh seraya menga¬takan : jam berapa sekarang ! pergilah ke Kyai Utsman, dan mintalah barokah Fatihah kepadanya agar kita tidak terlambat. Akhirnya setelah beliau membaca Al-Fatihah barulah beliau sadar akan diri beliau, dan spontan kereta api berjalan kembali seusai pembacaan Al-Fatihah, demikian pula hubungan yang menyangkut perkerata apian sambung kembali.
Kyai Masduri Ngroto menceritakan kepada kami sejarah masuknya Thoriqoh Qodiriyyah Wan Naqsyabandiyyah di Ngroto dan sekitarnya sebagai berikut : Sejak tahun 1936/1937 M banyak guru-guru Thoriqoh yang berusaha memasukkan Thoriqoh ke Ngroto bahkan ada kyai yang sampai kawin di Ngroto kemudian terpaksa firoq karena tidak berhasil memasukkan Thoriqoh.
Pada bulan Muharram tahun 1964 M Hadrotus-Syaikh mulai pertama datang ke Ngroto bersama Kyai Muslih bertepatan dengan Haulnya Kyai Sirojuddin. Itulah mula pertama datang ke Ngroto bersama Hadrotus-Syaikh. Kemudian untuk kedua kalinya datang pada tahun 1966 M saya di panggil ke rumah paman, dan Hadrotus-Syaikh menangis dan saya dirangkul seraya mengatakan : Sabarlah ! sejak sekarang Masduri menjadi Kyai di desa sini maka do’akanlah semoga panjang umur. Sepulangnya Hadrotus-Syaikh dapat 15 hari paman saya meninggal, dan atas saran beliau saya kirim surat kepada beliau tentang wafatnya paman. Dan saya mendapatkan balasan agar saya datang kesurabaya di Surabaya saya dibai’at dan diberi ijazah Manaqib secara mutlaq. Setelah itu banyak para ikhwan yang menjadi murid Hadrotus-Syaikh maka tersebarlah Thoriqoh di Ngroto.
Pada suatu hari di bulan Muharram Hadrotus-Syaikh pergi ke Ngroto menghadiri acara Haul, tetapi kendaraan beliau terhalang lumpur di Kemiri 4 km dari Ngroto, kalau mobil beliau diarahkan ke Ngroto mogok, kalau diarahkan ke Surabaya mobil beliau bisa berjalan, maka Hadrotus-Syaikh menetapkan untuk kembali ke Surabaya, yang menolong mengentas mobil beliau dari lumpur adalah masyarakat Kemiri maka Hadrotus-Syaikh mengatakan : saya tidak dapat membalas sama sekali. hanya saya do’akan mudah-mudahan masyarakat disini selamat semua, maka barokah doa beliau setiap kampung dari Kemiri sampai Ngroto pasti ada Manaqiban dan ada murid-murid beliau, diantaranya desa Tembelingan yang asalnya tidak ada yang sholat bahkan tidak ada masjid dan musholla, tetapi berkat dilewati oleh Hadrotus-Syaikh, Islam tersebar di Tembelingan dan sekitarnya ada masjid dan banyak musholla dan Imammuddin serta sebagian kaum musimin disitu sudah menjadi murid beliau, sehingga Kyai Muslih Mranggen mengatakan : masuknya Hadrotus-Syaikh ke Ngroto sudah pas karena masyarakat Ngroto adalah masyarakat Madura, cocok dengan kata-kata Syaikh Utsman : Ngroto adalah bau Madura. dan Hadrotus-Syaikh pernah mengatakan : saya bermimpi di sebelah timur Semarang ada cahaya. apakah ada Waliyyulloh di sana ? ternyata benar itulah Kyai Sirojuddin.
Selanjutnya Kyai Masduri mengatakan : sekembalinya saya dari Surabaya pada suatu hari saya sakit mata, walaupun sudah berobat tetap tidak mau sembuh kecuali hari Kamis dan Jum’at saja. Maka pada suatu malam Jum’at saya membaca Al-Fatihah kemudian membaca sil¬silah maka malam itu juga saya bermimpi berjumpa dengan Hadrotus-Syaikh, beliau menanyakan kepada saya : apakah matamu sakit ? Apakah yang sakit sebelah kanan? maka mata diobati oleh Hadrotus-Syaikh dengan jari-jarinya dan ternyata Alhamdulillah sembuh betul-betul, maka esok harinya hari Sabtu saya pergi ke Surabaya untuk menjumpai beliau. Beliau bertanya : Apakah matamu sudah sembuh ? saya menjawab : Ya. kemudian beliau menyatakan : Ya saya obati dari sini.
Selanjutnya Kyai Masduri menceritakan lagi : pada suatu hari sewaktu saya berkunjung ke Hadrotus-Syaikh saya disuruh ke Ampel seraya mengatakan : Pergilah ke Ampel, saya rindu Agus Mas’ud.
Sesampai saya di lawang Agung saya bertemu dengan Agus Mas’ud, cepat-cepat turun dan minta gendong saya. Kyai Masduri menceritakan lagi bahwa Hadrotus-Syaikh menceritakan kepadanya sebagai berikut : Pada suatu hari Jum’at ada orang hendak menunaikan sholat Jum’at di masjid Ampel, kemudian saya panggil, saya ajak sholat Jum’at di Baitul Ma’mur. Setelah kita melangkah tiga langkah kita sudah sampai di Baitul Ma’mur, ini boleh kau ceritakan setelah saya meninggal.
Cerita lain dari Kyai Masduri adalah sebaga berikut : saya bermimpi sholat di musholla yang penuh dengan mushollun, karena mereka sholat semuanya saja, maka saya mengingkarinya dan Hadrotus-Syaikh menjadi ma’mum tidak tahu siapa yang menjadi imam dan beliau mengatakan kepada Saya : mereka adalah Wali-wali Alloh, dan saya bermimpi berjumpa dengan Nabi Khidir a.s. beliau mengajak saya ketepi sungai disana ada musholla yang bersinar terang, tahu-tahu disitu ada Hadrotus-Syaikh dan kita bertiga menjadi ma’mum tetapi saya tidak tahu siapa imamnya.
Habib Abdulloh bin Umar Al-Haddar mengatakan kepada kami : pada suatu hari Kamis dibulan Syawal Habib Abdul Hadi bin Abdulloh Al-Haddar ingin berjumpa dengan Hadrotus-Syaikh Utsman sesudah masuk waktu sholat Ashar tetapi sesampai di pondok Jatipurwo beliau tidak menjumpai Hadrotus-Syaikh. Setelah lama menunggu di pondok dan waktu sudah menjelang Maghrib maka Habib Abdul Hadi pun cepat-cepat meninggalkan pondok untuk menuju ke Ketapang karena setelah sholat Maghrib ada acara pembacaan burdah di Ketapang, ketika sampai di Karang Tembok becak beliau berpapasan dengan mobil Hadrotus-Syaikh, maka beliau pun kembali lagi ke pondok Jatipurwo untuk menemui Hadrotus-Syaikh. Sesampai di Pondok Hadrotus-Syaikh sedang mengimami sholat Ashar dalam waktu Ashar yang paling akhir bahkan setelah Ashar sempat membaca semua wirid seperti biasanya sampai tuntas, kemudian Hadrotus-Syaikh menjumpai Habib Abdul Hadi bersama saya (Habib Abdullah bin Umar Al-Haddar) diruang tamu. Diruang tamu Habib Abdul Hadi membaca Allohu Hu Iiy. Allohu Hu liy Fani’mal Wali, setelah dijamu secukupnya Habib Abdul Hadi mohon pamit kepada Hadrotus-Syaikh untuk pergi ke Ketapang, dalam hatinya waktu telah berlalu untuk mengikuti pembacaan burdah di Ketapang, tetapi kenyataannya tidak demikian. Kami sampai di Ketapang orang-orang masih melakukan sholat Maghrib
Diantara kekeramatan Hadrotus-Syaikh sopir Hadrotus-Syaikh, meski mengatakan kepada kami : pada suatu hari sepulangnya Hadrotus-Syaikh dari Rejoso, mobil di istirahatkan di Jombang agar kami makan minum dulu. Sedangkan Hadrotus-Syaikh menunggu disalah satu rumah dekat warung tersebut. Seusai makan minum kami menyatakan kepada Hadrotus-Syaikh bahwa bensin telah habis. Beliaupun terkejut dan menanyakan mengapa tidak bilang dari tadi sebelum semua uang yang ada di tangan beliau diserahkan ke pondok Rejoso dan beliau menanyakan sisa uang kami. Kami menjawab hanya tinggal beberapa puluh rupiah saja. Secara spontan beliau menegaskan : kalau memang demikian baiklah isilah tangki mobil itu dengan air teh tanpa gula semampu uang yang ada padamu ! Kamipun percaya sepenuhnya kepada beliau dan membeli teh tawar beberapa ceret dari warung dan langsung kami isikan ke tangki mobil. Setelah itu kami melapor untuk pulang ke Surabaya. Beliau bertanya : sudah kau isi bensin ? Kami menjawab mobil kami isi dengan sesuai perintah Hadrotus-Syaikh dan karena terlanjur beliau pun akhirnya menyatakan : baiklah ! mari pulang ke Surabaya. Teh-teh juga bisa menjadi bensin. akhirnya betul, mobil berjalan terus sampai ke Surabaya memakai bahan bakar teh.
Sopir Hadrotus-Syaikh yang terakhir yaitu Abd Syakur juga mengalami peristiwa serupa yaitu dalam perjalanan antara Pasuruan Probolinggo mobil Khadrotus-Syaikh kehabisan bensin di tengah malam dan dia disuruh mencari warung untuk mendapatkan teh satu gelas, setelah di dapatkan tehpun di do’ai oleh Hadrotus-Syaikh dan menyatakan : sudahlah isilah dengan teh sama saja. Akhirnya mobil sampai di Probolinggo persis di garasi mobil bensin yang dari teh tadi habis sama sekali.
Cerita semacam ini terjadi pula pada waktu Hadrotus-Syaikh pulang dari Ngroto Semarang, di tengah perjalanan yang jauh dari keramaian Pir mobil putus tinggal satu Pir saja dan sekaligus Oli mobil habis kering sama sekali. Ini terjadi disekitar Caruban menuju Surabaya. Dan Hadrotus-Syaikh menyuruh mencari teh untuk mengantikan Oli yang sudah habis. Setelah diisi dengan teh mobilpun dapat di stater dengan hanya satu Pir saja dapat berjalan terus sampai diSurabaya dengan selamat bi iznillah.
Diantara kekeramatan Hadrotus-Syaikh, beliau menceritakan pengalaman beliau sewaktu ke Singapura. Melihat banyaknya orang-orang yang menjemput beliau di Airport. Ketua security seorang wanita berusaha ingin menyelamatkan beliau dari intervio para Inteljen yang lain. Maka dia pura-pura mengaku sebagai orang tuanya yang ada di Pontianak. Dan langsung di gandeng dari Airport menuju mobil dan diantar sekali menuju ketempat tujuan. Besoknya dia kembali lagi membawa 2 handuk mandi Hadrotus-Syaikh, tetapi setelah satu hari dipakai mandi dia minta kembali, demikian pula handuk yang satu lagi dan menyatakan bahwa handuk yang untuk dia pakai mandi sehari-hari, sedang yang satu lagi untuk dia pakai kain kafan waktu dia meninggal nanti dan seketika itu dia minta di bai’at oleh Hadrotus-Syaikh sebagai murid Thoriqoh Qodriyah Wan Nangsabandiyyah. Sejak itu Hadrotus-Syaikh selalu di kawal oleh ketua security perempuan itu pulang pergi ke singapura. Beliau menyatakan : Inilah berkat saya tidak pernah menyakitkan hati Ibu saya selama hidup beliau.
Inilah sekelumit biografi Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqi r.a.

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"









"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog