Tampilkan postingan dengan label AL IMAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AL IMAM. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 November 2012

Sekilas kehidupan Imam Hasan as

 
Imam Hasan as adalah cucu pertama Rasulullah Saw dari Ali bin Abi Thalib as dan Sayidah Fathimah as. Beliau lahir pertengahan bulan Ramadhan pada tahun 3 hijriah di kota Madinah.Beliau tidak lama hidup bersama kakeknya. Karena ketika berumur tujuh tahun, kakeknya telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Setelah Rasulullah saw meninggal, kurang lebih 30 tahun beliau hidup bersama ayahnya Ali bin Abi Thalib as. Setelah syahadah Imam Ali as, tahun 40 hijriah, selama 10 tahun beliau memimpin umat Islam. Pada tahun 50 hijriah atas rencana jahat Muawiyah, beliau diracun. Pada umur 48 tahun Imam Hasan as meninggal dunia.
Pembela orang miskin
Dalam agama Islam, orang-orang kaya memiliki kewajiban atas orang-orang tidak mampu. Berdasarkan aturan Islam, mereka yang memiliki diwajibkan untuk membantu mereka yang tidak mampu. Nabi Muhammad Saw dan para Imam senantiasa menekankan masalah ini. Setiap dari mereka pada zamannya menjadi contoh sebagai pengayom orang-orang miskin. Hal yang sama dengan Imam Hasan as. Selain dikenal sebagai alim, takwa, zuhud dan lain-lain, beliau dikenal juga sebagai orang dermawan. Di zamannya Imam Hasan dikenal sebagai orang paling dermawan. Setiap fakir yang datang ke rumahnya pasti pulang dengan membawa sesuatu dari pemberian Imam Hasan as. Bahkan sering kali sebelum seorang fakir membuka mulut untuk meminta pertolongan darinya, dengan melihat keadaannya, Imam Hasan as langsung menolongnya.
Allamah Suyuthi dalam buku sejarahnya menyebutkan: "Hasan bin Ali memiliki keutamaan akhlak yang sangat banyak. Ia seorang pribadi yang sabar, lapang dada, tegas, berwibawa dan dermawan. Orang yang banyak dipuji oleh rakyat kebanyakan".
Keluarga ilmu dan keutamaan
Suatu hari Utsman bin Affan duduk di pinggir masjid. Ada seorang fakir yang meminta pertolongan darinya. Utsman memberinya 5 dirham. Orang fakir itu berkata padanya, "Tolong tunjukkan aku orang bisa membantuku lebih banyak?" Pada waktu itu di pojok masjid duduk Hasan Mujtaba, Husin bin Ali dan Abdullah bin Ja'far. Utsman memberikan isyarah kepada mereka dan berkata: "Pergilah kepada tiga anak muda yang duduk di sana. Mereka pasti akan membantumu".
Si fakir kemudian pergi menghadap mereka dan menjelaskan keperluannya. Imam Hasan as berkata, "Meminta tolong harta kepada orang lain tidak baik, kecuali pada tiga kondisi; uang tebusan yang menjadi tanggungan seseorang yang tidak mampu menebusnya, hutang yang banyak dan tidak mampu untuk dibayar, fakir yang telah berusaha tapi tidak mampu lagi. Di antara ketiga kondisi ini, engkau termasuk yang mana?"
Si fakir menjawab, "Kondisiku salah satu di antara ketiga masalah yang engkau gambarkan itu".
Imam Hasan as kemudian memberikannya uang 50 dirham. Imam Husein as memberikannya 49 dirham dan berikutnya Abdullah bin Ja'far memberinya 48 dirham.
Ketika kembali, ia sempat melewati Utsman. Setelah melihatnya Utsman berkata, "Apa yang telah engkau lakukan?"
Ia menjawab, "Aku meminta uang darimu dan engkau memberikannya. Masalahnya adalah engkau tidak bertanya untuk apa aku memerlukan uang itu. Berbeda dengan engkau, salah satu dari mereka, Hasan bin Ali, bertanya kepada saya, untuk apa uang itu akan saya pakai. Saya kemudian menjawab apa yang akan saya lakukan dengan uang itu, kemudian mereka memberiku uang.
Utsman berkata, "Keluarga ini pusat ilmu dan kebijakan. Sumber kebaikan dan keutamaan. Di mana dapat ditemukan pribadi-pribadi seperti mereka?" (Bihar al-Anwar, Teheran, 1393 HQ, jilid 43, hal 333).
Disebutkan, "Dalam hidupnya, Imam Hasan as pernah mendermakan seluruh hartanya sebanyak dua kali. Tiga kali ia mendermakan setengah hartanya. Setengah untuk dirinya dan setengah lainnya diinfakkan di jalan Allah" (Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, cet 3, Baghdad,1383 HQ, hal 190. Ibnu Wadhih, Tarikh Ya'qubi, Najaf, 1384 HQ, jilid 2, hal 215. Ibnu Jauzy, Tadzkirah al-Khawash, Najaf, 1383 HQ, hal 196. Syaikh Muhammad Shibyan, Is'af ar-Raghibin, Kairo, hal 179).[] IRIB

Imam Sajjad, Teladan Pengabdian

 
Tanggal lima Sya'ban tahun 38 H seorang manusia mulia lahir ke dunia. Beliau adalah Imam Ali bin Husein yang dikenal dengan panggilan Imam Ali Zainal Abidin. Beliau juga dijuluki dengan sebutan Imam Sajjad, karena tekun beribadah dan bersujud kepada Allah Swt. Selain dekat dengan Tuhan, Imam Sajjad juga dikenal sebagai orang yang sangat dermawan, penyantun terutama kepada orang miskin, anak yatim dan orang-orang tertindas.

Manusia mulia ini juga dikenal dengan doa-doanya yang memiliki ketinggian bahasa dan kedalaman maknanya yang menjulang. Beliau menjalani malam dengan doa dan ibadah kepada sang maha Pencipta. Tentang ini, Imam Baqir as, putra Imam Sajjad berkata, "Ketika semua orang di rumah tertidur di awal malam, ayahku, Imam Sajjad bangun mengambil wudhu dan shalat dua rakaat. Kemudian beliau mengambil bahan makanan dalam karung dan memanggulnya sendirian menuju daerah orang-orang miskin dan membagikan makanan kepada mereka. Tidak ada seorangpun yang mengenalnya. Setiap malam orang-orang miskin menunggu beliau di depan rumah mereka untuk menerima jatah makanannya. Tapak hitam dipunggung ayahku merupakan bukti bahwa beliau memanggul sendiri makanan yang dibagikan kepada orang miskin."
Salah satu karakteristik manusia sejak dulu hingga kini adalah hidup bermasyarakat. Dalam interaksi sosial, potensi setiap orang akan muncul untuk memenuhi kebutuhannya masing-masing sekaligus orang lain. Demikian juga dengan kita sebagai anggota masyarakat. Kita tidak bisa hidup seorang diri tanpa orang lain. Menurut Imam Sajjad, hanya Allah yang tidak membutuhkan yang lain, kita sebagai makhluk saling membutuhkan. Untuk itu, ketika seseorang berkata, "Tuhanku, jadikan aku orang yang tidak membutuhkan orang lain," beliau berkata. Jangan begitu, setiap orang membutuhkan orang lain. Seharusnya beginilah doamu, "Tuhanku! Jadikan aku orang yang tidak membutuhkan orang-orang yang buruk."
Sejatinya, persahabatan dan pengabdian terhadap sesama merupakan salah satu sifat terpuji manusia. Setiap anggota masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjalani kehidupan ini. Imam Zainal Abidin dalam Risalah Huquq menyinggung hak antarsesama manusia. Dengan cemerlang, Imam Sajjad menjelaskan bagaimana hak pemimpin terhadap bawahannya dan sebaliknya. Tidak hanya itu, Imam Sajjad juga menjelaskan bagaimana hubungan keluarga menyangkut hak orang tua terhadap anaknya dan sebaliknya, hak bertetangga, berteman dan hak terhadap harta.
Menurut Imam Sajjad, manusia adalah pelayan bagi yang lain, sehingga di masyarakat tumbuh budaya gotong-royong dan saling membantu. Di bagian lain Imam Sajjad mengungkapkan perkataan tentang saudara. Beliau berkata, "Saudara yang buruk adalah orang yang memperhatikanmu ketika keadaan lapang, namun menjauhi ketika sulit." Untuk itu seorang mukmin berkewajiban untuk berbuat baik kepada orang lain.
Dalam pandangan Imam Sajjad, melayani orang lain memiliki berbagai dampak yang sangat besar baik di dunia maupun di akhirat. Salah satunya yang paling natural adalah membantu orang yang terkena musibah dan membutuhkan pertolongan. Imam Sajjad berkata, "Di dunia ini tidak ada yang lebih mulia dari berbuat baik kepada saudara."
Imam Sajjad dalam berbagai riwayat lain menjelaskan bahwa orang yang membantu orang lain akan mendapat ganjaran pahala akhirat, ampunan dosa, kedudukan yang tinggi di surga serta pahala lainnya. Beliau berkata, "Tuhanku, semoga shalawat tercurah atas Muhammad dan keluarganya.., anugerahilah tanganku ini agar bisa berbuat baik kepada orang lain, dan jangan rusakkan kebaikan itu dengan riya dalam diriku."
Imam Sajjad bahkan dalam doanyapun memberikan contoh bagaimana mengabdi dan melayani kebutuhan orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Imam Zainal Abidin kepada putranya berkata, "Barang siapa yang meminta tolong padamu untuk melakukan suatu pekerjaan baik, maka lakukanlah. Jika kamu ahlinya maka lakukan dengan sebaik-baiknya, Jika bukan engkau telah berbuat baik."
Pengabdian adalah tindakan yang dilakukan untuk memenuhi hak orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini meliputi hubungan antar sesama manusia, hubungan dengan Tuhan, dan alam semesta.
Pengabdian terhadap masyarakat akan memiliki kedudukan tinggi bukan diukur dari seberapa besar pekerjaan itu. Tapi, kualitas layanan dan ketulusan niatlah yang menjadi ukuran dari bernilai atau tidaknya pekerjaan itu. Dengan demikian akan menciptakan sebuah ketenangan spiritual bagi seseorang yang bisa berbuat kebaikan bagi orang lain. Terkait hal ini Imam Sajjad berkata, "Sikap bersahabat dan bersaudara seorang mukmin kepada saudara mukmin lainnya adalah ibadah."
Di bagian lain, Imam Sajjad mengingatkan nilai spiritual berbuat baik kepada orang lain dengan mengatakan, " Allah akan menggembirakan orang yang telah menggembirakan saudaramu."
Imam Sajjad dengan tanpa pamrih dan hanya mengharap keridhaan Allah berbuat baik terhadap orang lain. Ketika bersama rombongan bergerak menuju Mekah untuk menjalankan ibadah haji, beliau meminta supaya pengurus rombongan tidak memperkenalkan jati dirinya kepada yang lain. Dengan cara ini rombongan lain tidak mengenalinya, dan beliau bisa leluasa melayani keperluan mereka yang hendak berangkat untuk menunaikan ibadah haji.
Dalam sebuah perjalanan seseorang mengenalinya dan berkata, "Apakah kalian tahu siapa pemuda ini " Ia tidak lain adalah Ali bin Hussein. Rombongan itu berlari mendekati Imam Sajjad dan memberi hormat serta memohon maaf karena tidak mengenalinya. Imam berkata, "Suatu hari saya berangkat bersama rombongan haji dan anggota rombongan mengenalnya dan menghormatiku, sebagaimana mereka menghormati Rasulullah. Akhirnya merekalah yang melayani keperluanku bukan sebaliknya. Padahal saya ingin melayani keperluan mereka. Inilah alasan saya tidak ingin dikenali oleh mereka." [] IRIB

Imam Muhammad Al Baqir, Penyingkap Khazanah Ilmu

Hari Lahir

Imam Muhammad Al-Baqir as dilahirkan pada awal bulan Rajab tahun 57 Hijriah di Madinah Al-Munawwarah. Beliau adalah Imam kelima Ahlulbait as. Ayahnya adalah Imam Ali Zainal Abidin as, dan ibunya adalah seorang wanita dari keturunan Imam Hasan as yang bernama Fatimah.
Dengan demikian, Imam Muhammad Baqir as adalah imam pertama yang memiliki nasab keturunan Rasulullah saw dari pihak ayah dan ibu, sekaligus.
Imam Al-Baqir as mengalami hidup bersama kakeknya, Imam Husain as pada saat tragedi Karbala, yang ketika itu beliau masih berusia empat tahun.
Beliau hidup bersama ayahnya selama 18 tahun dan masa itu adalah masa keimamahan (kepemimpinan)-nya. Beliau mengkhidmatkan masa-masa hidupnya demi menyebarkan ilmu pengetahuan Islam.
Orang-orang memberi beliau gelar Al-Baqir (Sang Jenius), karena beliau telah membongkar ilmu pengetahuan dari khazanah-khazanahnya. Imam as juga memiliki gelar-gelar lain yang menunjukkan sifat dan akhlak agung beliau, seperti Asy-Syakir (yang banyak bersyukur) dan Al-Hadi (pemberi petunjuk).
Sewaktu masih berusia belia, Imam Muhammad Al-Baqir as bertemu dengan sebagian besar sahabat utama Nabi, seperti Jabir bin Abdillah Al-Anshari. Kepada beliau Jabir mengatakan, “Rasulullah mengirimkan salam untukmu.” Salam ini membuat orang-orang yang hadir saat itu menjadi heran.
Jabir melanjutkan, “Suatu hari aku sedang duduk bersama Rasulullah, sedangkan Husain as berada di haribaannya. Beliau berkata padaku, ‘Hai Jabir, putraku ini kelak mempunyai seorang anak yang bernama Ali. Dan pada Hari Kiamat, seseorang akan memanggilnya ‘Sayyidul Abidin’. Kemudian melalui Ali, seorang anak yang bernama Muhammad Al-Baqir—yang memiliki keluasan ilmu—akan lahir. Bila engkau berjumpa dengannya, sampaikan salamku kepadanya.’”
Imam Al-Baqir as memiliki dua kebun yang dikelola oleh beliau sendiri. Beliau melibatkan para petani untuk menuai hasil kebunnya, serta menginfakkan kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Pada zaman itu, beliau dikenal sebagai orang yang paling dermawan.
Dinukil dalam kitab-kitab sejarah, bahwa seorang sufi bernama Muhammad bin Al-Munkadir berkata, “Aku belum pernah melihat seseorang seperti Ali bin Husain as yang meninggalkan keturunan yang begitu utama, sampai aku melihat putranya Muhammad as. Aku hendak menasihatinya, ia malah lebih dulu menasihatiku. Pada suatu hari, saat matahari terik menyinari bumi, aku keluar menuju sebuah daerah di luar kota Madinah. Aku bertemu dengan Muhammad bin Ali as yang sedang bersandar pada dua orang budaknya. Aku berkata pada diriku sendiri, ‘Orang tua Quraisy di saat seperti ini masih sibuk mencari dunia? Demi Allah, aku akan menasihatinya.’
“Aku mendekatinya dan mengucapkan salam kepadanya. Ia pun menjawab salamku. Aku melihat dia penuh dengan peluh yang membasahi tubuhnya. Aku berkata padanya, ‘Semoga Allah memberikan hidayah-Nya padamu, wahai orang tua Quraisy. Di saat seperti ini kau masih sibuk mencari dunia? Bagaimana kalau sekiranya maut datang menjemputmu sedang kau dalam keadaan seperti ini?’
“Ia melepaskan kedua tangannya dari sandaran kedua budaknya dan berkata, ‘Demi Allah, jika sekiranya maut datang kepadaku dalam keadaan seperti ini, sungguh ia datang kepadaku sedang aku dalam ketaatan kepada Allah, yang dengannya jiwaku bisa terhindar darimu dan manusia lainnya. Sesungguhnya yang aku takutkan adalah bila kematian itu datang sedang aku dalam keadaan bermaksiat kepada Allah.’
“Mendengar jawabannya, aku membalas kagum, ‘Semoga Allah mengasihimu. Aku sebenarnya ingin menasihatimu, malah kaulah yang menasihatiku.’”
Dalam kisah ini, Imam Muhammad Al-Baqir as menunjukkan sikap tegas beliau sehingga orang dapat memahami, bahwa mencari rezeki itu adalah ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT, bukan malah meninggalkan pekerjaan dan menghabiskan waktunya untuk salat sementara hidupnya menjadi tanggungan orang lain, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kaum sufi, seperti Ibn Al-Munkadir dan yang lainnya.

Keilmuan Imam

Seorang warga Syam, yang sebelumnya enggan hadir di majlis Imam Muhammad Al-Baqir as, berkata kepada beliau, “Tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang lebih aku benci daripadamu. Kebencian padamu sungguh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Meski begitu, aku melihatmu begitu sopan, beradab serta bertutur-kata yang santun. Maka ketahuilah, kehadiranku di majlismu ini karena kebaikan budi dan bahasamu.”
Dalam setiap kesempatan, Imam Al-Baqir as selalu mengatakan yang baik. Kepada orang Syam itu Imam as mengatakan, “Tiada sesuatu pun yang tersembunyi di sisi Allah SWT.”
Selang beberapa hari, orang tersebut tidak pernah kelihatan lagi. Imam as merasa kehilangan. Beliau bertanya kepada orang-orang yang mengenalnya. Kata mereka, orang itu sedang sakit.
Imam as bergegas menjenguknya. Beliau duduk di sisinya sambil bercakap-cakap dan bertanya tentang penyebab sakitnya. Lalu, Imam menganjurkan agar memakan makanan yang dingin dan segar. Setelah itu, Imam as pun meninggalkan orang tersebut.
Beberapa hari kemudian, orang itu pulih dari sakitnya. Pertama kali yang dia lakukan ialah pergi ke majelis Imam as. Di sana, dia memohon maaf kepada Imam, dan akhirnya menjadi salah satu sahabat beliau.
Dikisahkan, seseorang bertanya kepada Abdullah bin Umar tentang sebuah masalah. Abdullah kebingungan menjawabnya. Ia berkata kepada si penanya, “Pergilah kepada anak itu, dan tanyalah padanya, kemudian beritahukan jawabannya kepadaku.” Anak yang dimaksudkannya itu ialah Imam Muhammad Al-Baqir as.
Maka orang tersebut datang kepada Imam as. dan bertanya padanya. Selekas itu, ia kembali kepada Abdullah dengan membawa jawaban yang didapatkannya dari beliau. Abdullah berkata, “Sesungguhnya mereka adalah Ahlul Bait Nabi yang telah diberikan pemahaman tentang segala sesuatu.”

Dialog dengan Pendeta

Imam Ja’far Ash-Shadiq as menceritakan, bahwa suatu ketika beliau berada di Syam bersama ayahnya (Imam Muhammad Al-Baqir as). Keberadaan mereka di Syam karena Khalifah Hisyam bin Abdul Malik meminta mereka untuk datang ke sana.
Pada suatu hari, Imam Al-Baqir as melihat kerumunan orang-orang di sebuah tempat. Semua sedang menantikan seseorang. Beliau menanyakan perihal mereka itu. Dijawab, “Mereka itu sedang menunggu salah seorang pendeta, karena ia hanya muncul setahun sekali. Mereka bertanya dan meminta fatwa darinya.”
Imam as ikut menunggu bersama mereka sampai pendeta tersebut datang. Tatkala pendeta itu melihat Imam, ia menyapa beliau, “Apakah Anda dari golongan kami atau dari umat yang perlu dikasihani ini?”
Imam as menjawab, “Aku dari umat ini.”
Pendeta bertanya lagi, “Dari orang awam umat ini atau dari ulamanya?”
Imam menjawab, “Aku bukan dari orang awamnya.”
Pendeta berkata lebih serius, “Aku punya beberapa pertanyaan untuk Anda; dari mana Anda percaya bahwa penghuni surga makan dan minum tapi mereka tidak buang air?”
Imam as menjawab, “Bukti kami adalah janin yang ada dalam rahim ibunya. Ia makan tapi tidak buang kotoran.”
Pendeta itu bertanya lagi, “Beritahukan kepadaku tentang setenggat waktu yang tidak terhitung malam juga tidak terhitung siang.”
Imam as menjawab, “Waktu di antara terbitnya fajar dan terbitnya matahari.”
Mendengar jawaban-jawaban Imam as, sang pendeta terkejut. Ia ingin sekali membungkam Imam dengan pertanyaan lain. Ia berkata, “Kabarkan kepadaku tentang dua bayi yang keduanya dilahirkan pada hari yang sama dan meninggal pada hari yang sama juga. Umur bayi yang pertama 50 tahun dan yang kedua 150 tahun.”
Imam as menjawab, “Uzair dan saudaranya, saat itu usia Uzair 25 tahun. Tatkala melewati suatu desa di Antakia yang ditinggal mati oleh penduduknya, ia merenung, ‘Bagaimana Allah akan menghidupkan penduduk ini setelah kematian mereka?’
“Kemudian Allah SWT mematikan Uzair selama 100 tahun, lalu membangkitkannya lagi dan ia kembali ke rumahnya dalam keadaan muda, sementara saudaranya sudah tua-renta. Uzair hidup bersama saudaranya selama 25 tahun, dan kedua bersaudara itu pun meninggal pada hari yang sama.”
Melihat keluasan dan ketinggian ilmu Imam Al-Baqir as ini, pendeta itu lagi-lagi takjub. Tak ayal lagi, ia pun menyatakan keislamannya di depan khalayak, dan diikuti oleh sahabat-sahabatnya.

Di Majelis Hisyam

Khalifah Hisyam bin Abdul Malik mengundang Imam Muhammad Al-Baqir as dan putranya, Imam Ja’far Ash-Shadiq. Karena itu, keduanya meninggalkan Madinah, bergerak menuju Syam. Tujuan undangan Hisyam sebenarnya hendak menunjukkan kebesaran kerajaannya.
Setibanya di Syam, Imam Al-Baqir as memasuki istana, yang ketika itu Hisyam duduk di atas singgasana dengan dikelilingi oleh pengawal bersenjata dan di depannya ada golongan elite yang siap berlomba memanah. Hisyam berkata, “Ya Muhammad! Coba kau bertanding melawan orang-orang ini dan bidikkan panah ke sasaran!”
Imam as berkata, “Sesungguhnya aku sudah lama meninggalkan permainan memanah. Maafkan aku.”
Hisyam menolak alasan Imam, dan memaksanya untuk melakukannya. Ia pun menyuruh seorang tokoh dari Bani Umayyah untuk mengambilkan panah dan busurnya. Akhirnya, Imam as menerimanya dan meletakkan anak panah itu pada busurnya, kemudian ia lesatkan ke sasaran dan tepat mengenai titik pusatnya. Untuk kedua kalinya, beliau membidikkan anak panah, hingga yang kesembilan kali. Semua anak panah itu menancap tepat pada sasaran.
Hisyam pun tercengang melihat kepandaian Imam as dan memujinya sambil berkata, “Alangkah pandainya kau wahai Abu Ja’far. Kau adalah orang yang paling pandai memanah dari kalangan Arab dan Ajam. Beginikah kau katakan, ‘Aku sudah lama meninggalkan permainan memanah?”
Kemudian, Hisyam menuntun Imam Al-Baqir as dan mendudukkannya di sampingnya. Ia berkata, “Wahai Muhammad! Bangsa Arab dan Ajam akan senantiasa mengikuti orang-orang Quraisy selagi di tengah-tengah mereka ada orang sepertimu. Demi Allah, siapa yang mengajarimu memanah? Dan pada usia berapakah kau mempelajarinya?”
Imam as menjawab, “Aku belajar di masa aku masih kecil, kemudian aku tinggalkan.”
Hisyam berkata, “Aku tidak pernah menyangka bahwa di atas bumi ini masih ada orang yang memanah seperti ini. Apakah Ja’far (putra Imam as) juga dapat memanah seperti ini? Apakah dia juga dapat memanah sebagaimana engkau memanah?”
Imam as menjawab, “Kami Ahlulbait Nabi mewarisi kesempurnaan dan kelengkapan yang keduanya telah Allah SWT turunkan kepada Nabinya saw dalam firmannya, ‘Pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah aku lengkapkan nikmatku untukmu serta aku rela Islam sebagai agamamu.’”
Mendengar jawaban itu, muka Hisyam memerah lantaran marah dan berkata, “Dari mana kau mewarisi ilmu ini, padahal tidak ada nabi setelah Muhammad dan kau sendiri juga bukanlah seorang nabi?”
Imam as menjawab, “Kami mewarisinya dari datuk kami Ali bin Abi Thalib as. Beliau pernah berkata, ‘Rasulullah saw telah mengajariku seribu pintu ilmu ... Dari setiap pintunya terbuka seribu ilmu lagi ....”
Hisyam pun diam tertunduk sambil berpikir. Lalu ia memerintahkan pengawalnya untuk mengembalikan Imam Muhammad Al-Baqir as dan putranya, Imam Ja’far Ash-Shadiq as ke Madinah secepat mungkin, karena ia takut kehadiran dua Imam ini di Syam akan mengundang simpati warga kota kepada mereka.

Mata Uang Islam

Perebutan batas-batas wilayah yang sangat keras sekali telah terjadi antara negara Islam dan Romawi. Imperium Romawi mengancam Abdul Malik bin Marwan akan memutus mata uang negara Islam bila tidak menyerahkan wilayah-wilayah yang dipersengketakan. Abdul Malik merasa ketakutan dan ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Ia kumpulkan pemuka-pemuka dan tokoh-tokoh umat Islam untuk dimintai pendapatnya, tapi mereka tidak bisa memberikan keputusan apa-apa. Akhirnya, sebagian mereka mengusulkan agar merujuk kepada Imam Muhammad Al-Baqir as.
Lalu, Abdul Malik mengutus utusan untuk memanggil Imam as ke Syam. Beliau pun memenuhi panggilan tersebut. Setelah mengetahui duduk persoalan, beliau mengatakan kepada Abdul Malik, “Tidak ada yang perlu ditakutkan. Cepat kirim utusan ke Kaisar Romawi dan mintalah jangka waktu darinya. Di sela-sela itu, kirimlah surat ke gubernur-gubernur daerah, dan perintahkan mereka untuk mengumpulkan emas dan perak, sehingga bila telah sampai jumlah yang cukup, segeralah engkau mencetak mata uang Islam!”
Kemudian, Imam as menentukan timbangan dan bentuknya. Beliau memerintahkan Abdul Malik untuk menuliskan di atas salah satu sisi uang tersebut kalimat “Muhammad Rasulullah.” Bila pekerjaan ini telah selesai, tidak akan terjadi transaksi dengan mata uang Romawi. Ketika itulah Imperium Romawi tidak akan punya kekuatan lagi di hadapan pemerintahan Islam.
Setelah pekerjaan itu selesai dan mata uang Islam sudah tersebar, Abdul Malik mengeluarkan keputusannya yang terakhir mengenai persengketaan batas-batas wilayah.
Dan ternyata, Imperium Romawi tidak mendapatkan cara apapun untuk melancarkan tekanan terhadap ekonomi negara Islam. Maka, dipilihlah jalan militer. Akan tetapi, mereka pun gagal, setelah laskar-laskar muslimin menyerang pasukan mereka.
Demikianlah Imam kita, Imam Muhammad Al-Baqir as. Dengan pikiran dan arahannya yang cemerlang, beliau telah menyelamatkan pemerintahan Islam dari ancaman musuh-musuh, sehingga kaum muslimin memiliki mata uang sendiri yang menjadi lambang kebesaran Islam.

Sahabat-Sahabat Imam

Tatkala orang-orang Bani Umayyah sibuk meredam kekacauan dan kerusuhan massa di sana-sini, Imam Muhammad Al-Baqir as mendapatkan kesempatan yang baik untuk menyebarkan ilmu pengetahuan, membina kader-kader, dan mengokohkan ajaran-ajaran Ahlulbait as.
Pada zaman Imam as, telah muncul sebagian murid-murid utama beliau yang memiliki peranan besar dalam penyebaran ajaran-ajaran tersebut. Di antara mereka yang paling menonjol ialah:
1. Aban bin Taghlib
Ia pernah hidup sezaman dengan tiga imam Ahlulbait. Ia juga pernah menghadiri majelis Imam Ali Zainal Abidin as, Imam Muhammad Al-Baqir as, dan Imam Ja’far Ash-Shadiq as. Namun begitu, ia lebih banyak belajar pada Imam Al-Baqir as.
Aban menonjol di bidang ilmu Fiqh, Hadis, Sastra Arab, Tafsir, dan Nahwu. Imam Al-Baqir as pernah berkata kepadanya, “Duduklah di masjid Madinah dan ajarilah masyarakat, karena sesungguhnya aku lebih suka melihat orang sepertimu di antara pengikutku.”
2. Zurarah bin A’yun
Tentang Zurarah, Imam Ja’far as mengatakan, “Sekiranya tidak ada Zurarah, niscaya hadis-hadis ayahku akan hilang.”
Dalam kesempatan yang lain, Imam as menyatakan, “Semoga Allah mengasihi dan merahmati Zurarah bin A’yun. Seandainya tidak ada Zurarah dan orang-orang sepertinya, tidak akan ada yang tersisa lagi hadis-hadis ayahku.”
3. Muhammad bin Muslim Ats-Tsaqafi
Imam Ja’far Ash-Shadiq as sangat menghormati dan mencintai Muhammad. Dia adalah salah seorang sahabat utama dari empat orang sahabat Imam Ja’far as. Beliau berkata, “Empat orang manusia yang sangat aku cintai, baik mereka masih hidup maupun sesudah meninggal dunia.”
Imam Ja’far as memerintahkan sebagian sahabat-sahabatnya untuk merujuk kepada Muhammad dengan perkataannya, “Ia telah mendengarkan hadis-hadis ayahku, dan dia orang terpandang di sisi ayahku.”
Muhammad bin Muslim sendiri pernah menyatakan, “Aku bertanya kepada Imam Muhammad Al-Baqir as tentang tiga puluh ribu hadis.”
Imam Ja’far as seringkali memuji sahabat-sahabat ayahnya. Beliau mengatakan, “Sekiranya sahabat-sahabatku mendengarkan dan taat kepadaku, niscaya akan aku titipkan kepada mereka apa yang ayahku titipkan pada sahabat-sahabatnya. Sesungguhnya semua sahabat ayahku menjadi penghias bagi kami, di masa hidupnya maupun matinya.”
Di antara sahabat Imam Muhammad Al-Baqir as yang lain adalah Al-Kumait Al-Asady, seorang pujangga ternama. Setiap kali berjumpa dengannya, Imam Al-Baqir as memanjatkan doa, “Ya Allah! Curahkanlah ampunan-Mu kepada Al-Kumait!”

Hari Kesyahidan

Meskipun usaha Imam Muhammad Al-Baqir as hanya tercurahkan di bidang-bidang ilmu pengetahuan dan penyebaran agama, akan tetapi para penguasa Bani Umayyah tidak bisa tenang melihat keberadaannya, khususnya setelah orang-orang mengetahui keutamaan, keluhuran, dan keluasan ilmu beliau. Kepribadian, akhlak, dan rasa kemanusiannnya menyinari mereka. Sebagaimana dari silsilah nasab beliau yang bersambung langsung ke Rasulullah saw, semua itu mengangkat kedudukannya di hati umat Islam menjadi begitu tinggi nan agung.
Begitu pula bagi Hisyam bin Abdul Malik. Dia senantiasa berpikir untuk membunuh Imam Al-Baqir as. Akhirnya, dia gunakan racun untuk membunuh beliau. Di tangannyalah Imam as syahid pada 7 Dzulhijjah 114 H.
Imam Muhammad Al-Baqir as telah menjalani masa hidupnya selama 57 tahun untuk mengabdi sepenuhnya kepada Islam dan kaum muslimin serta menyebarkan ilmu pengetahuan dan ajaran Ahlulbait as.[]

Mutiara Hadis Imam Al-Baqir as

• “Kesombongan tidak akan masuk ke dalam hati seseorang kecuali akalnya kurang.”
• “Seorang alim yang mengamalkan ilmunya adalah lebih utama dari seribu orang ‘abid (yang tekun ibadah). Demi Allah, kematian seorang alim lebih disukai oleh iblis daripada kematian tujuh puluh orang ‘abid.”
• Kepada salah seorang anaknya, beliau mengatakan, “Wahai anakku, jauhilah kemalasan dan kebosanan, karena keduanya adalah kunci segala keburukan. Sesungguhnya bila kamu malas, niscaya engkau tidak akan pernah menunaikan tanggung jawabmu, dan bila kamu bosan niscaya engkau tidak akan bersabar dalam melaksanakan tugasmu.”
• “Cukuplah besarnya aib seseorang tatkala ia memandang aib orang lain sementara aibnya sendiri tidak pernah ia lihat. Dan cukuplah besarnya aib seseorang tatkala ia memerintahkan orang lain akan suatu yang ia sendiri tidak mampu mengembannya.”
• Dalam nasihat untuk salah seorang sahabatnya, Imam as mengatakan, “Aku wasiatkan kepadamu lima perkara: bila engkau dianiaya, maka janganlah kau membalasnya, bila engkau dikhianati, maka janganlah kau balas dengan khianat pula, bila kau didustai, maka janganlah kau balas dengan dusta pula, bila engkau dipuji, maka janganlah kau merasa puas, dan bila kau dicela, maka janganlah kau bersedih.”

Imam Ali as dan Musafir Non Muslim

 
Pada hari itu udara kota Kufah sangatlah nyaman. Angin sepoi bertiup perlahan dari arah kota memberikan ketenangan bagi jiwa dan semangat manusia. Seorang musafir bergerak ke arah kota Kufah. Dia telah melewati perjalanan yang jauh untuk mencapai suatu tempat di sekitar Kufah dan kini ia merasa kelelahan. Dia berpikir sendirian, alangkah menyenangkannya jika dia mempunyai teman seperjalanan, supaya dia punya teman untuk berbicara dan tidak merasa lelah akan perjalanan tersebut. Ketika itu pula, tampak  sesosok tubuh dari kejauhan. Sang musafir merasa gembira dan berkata sendirian, "Aku akan bersabar sampai orang itu datang menghampiriku. Mungkin saja dia bisa menjadi teman seperjalananku." Sosok dari kejauhan itu akhirnya mendekat. Ternyata seorang lelaki itu berwajah menarik dan bercahaya. Terlihat senyum terukir di bibir lelaki itu. Ketika keduanya berdekatan, mereka saling bertanya khabar. Ternyata, lelaki itu juga akan pergi ke Kufah. Sang musafir yang kesepian tadi merasa gembira karena kini dia memiliki teman seperjalanan.
Lelaki yang baru tiba itu tidak lain dari Imam Ali as. Tetapi, Imam Ali menyembunyikan identitasnya kepada musafir tersebut. Keduanya sama-sama meneruskan perjalanan. Mereka lalui perjalanan bersama itu sambil berbincang-bincang. Tak lama kemudian, Imam Ali as mengetahui bahwa teman seperjalanannya itu bukan Muslim. Namun, Imam Ali tetap memprlakukannya dengan baik, sampai-sampai lelaki non Muslim itu merasakan persahabatan dan kecintaan terhadap Ali as. Tutur kata dan akhlak Imam Ali sedemikian baiknya sehingga telah meninggalkan kesan kepada lelaki itu, sampai-sampai dia melupakan rasa lelahnya.
Dia lalu berhenti sejenak dan berkata kepada Imam Ali, "Sungguh menakjubkan, kebetulan sejam yang lalu aku memohon teman seperjalanan untuk menemaniku agar beratnya perjalanan ini tidak terasa. Lihatlah betapa Allah telah mengabulkan permintaanku. Sampai kini, aku tidak pernah menemui orang sebaik dan sepintar engkau dalam berbicara."
Imam Ali hanya tersenyum ketika mendengar kata-kata lelaki ini dan  mereka kembali meneruskan perjalanan mereka. Perjalanan itu berakhir dengan dua arah. Satu jalan ke Kufah yang menjadi tempat tujuan Imam Ali as dan jalan kedua merupakan arah yang dituju lelaki non Muslim itu. Imam Ali tidak mengambil jalan ke arah Kufah dan terus berjalan mengikuti teman seperjalanannya. Lelaki itu sibuk berbicara sehingga tidak menyadari hal tersebut. Beberapa saat kemudian, dia menyadarinya dan bertanya, "Sahabatku, engkau telah salah memilih jalan, sewaktu di persimpangan tadi engkau seharusnya memilih jalan ke Kufah."
Imam Ali, "Aku tahu. Tetapi aku ingin mengiringimu sampai engkau menyelesaikan pembicaraanmu." Lelaki itu merasa takjub mendengar ucapan Imam Ali tersebut, lalu berkata, "Akhlakmu sungguh baik sekali. Aku ingin mengetahui lebih banyak tentang dirimu. Sebutkanlah namamu dan apakah pekerjaanmu?"
Imam Ali menjawab, "Sahabatku, aku adalah Ali bin Abi Thalib." Lelaki non Muslim itu yang sudah sering mendengar nama Ali dan mengetahui dia adalah pemimpin umat Islam, amat terkejut. Kebimbangan menyelimuti dirinya. Dia berkata sendirian, "Ya Tuhanku, sejak tadi hingga kini, ternyata aku sedang bersama khalifah umat Islam dan aku tidak mengetahuinya sama sekali.
Lalu, dia berkata kepada Imam Ali as, "Ketawadhu'an dan kebaikan akhlak Anda memang layak mendapat pujian. Apakah mereka yang dididik dengan ajaran Islam memiliki akhlak seperti Anda?"
Pada saat itu jendela ke arah cahaya dan hakikat terbuka di hadapan matanya. Imam Ali as kemudian menyampaikan ajaran Islam kepada musafir itu. Tidak berapa lama kemudian, dengan bimbingan Imam Ali, dia memeluk agama Islam dan bergabung dengan barisan kaum Mukmin. Dengan demikian, kebaikan, kelembutan, dan sifat baik Imam Ali as telah membuka hati lelaki non Muslim itu untuk menerima kebenaran ajaran Islam.
Rasulullah Saw bersabda, "Berlaku baiklah kepada sesama manusia. Mereka menyukai kalian selagi kalian hidup dan menangisi kalian ketika kalian meninggalkan dunia ini." []
Sumber: IRIB Indonesia

Minggu, 23 September 2012

Biografi Singkat as-Sayyid Ja'far al-Barzanji


Biografi Singkat as-Sayyid Ja'far al-Barzanji


As-Sayyid Ja’far bin Sayyid Hasan bin Sayyid Abdul Karim bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Rasul al-Barzanji adalah seorang ulama besar keturunan Nabi Muhammad Saw. dari keluarga Saadah al-Barzanji yang masyhur berasal dari Barzanj di Iraq. Beliau dilahirkan di Kota Madinah al-Munawwarah pada tahun 1126 H.
Leluhur Sayyid Ja'far semuanya merupakan ulama terkemuka yang terkenal dengan ilmu dan `amal, keutamaan dan kesholehan. Prof. Dr. al-Muhaddits al-‘Alim al-‘Allamah as-Sayyid Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Abbas al-Maliki dalam Haul Ihtifaal bi Dzikra al-Maulid an-Nabawiy asy-Syarif menulis pada halaman 99:
Al-‘Allaamah al-Muhaddits al-Musnid as-Sayyid Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim al-Barzanji adalah Mufti Syafi’iyyah di Kota Madinah al-Munawwarah. Terjadi perselisihan tentang tahun kewafatannya. Sebagian ulama menyebutkan bahwa Sayyid Ja’far meninggal pada tahun 1177 H.
Al-Imam az-Zubaidi dalam al-Mu'jam al-Mukhtash menuliskan bahwa beliau wafat tahun 1184 H, dimana Imam az-Zubaidi pernah berjumpa dengan beliau dan menghadiri majlis pengajiannya di Masjid Nabawi yang mulia.
Beliau adalah pengarang kitab maulid yang masyhur dan terkenal dengan nama Maulid al-Barzanji. Sebagian ulama mengatakan bahwa nama karangannya tersebut adalah ‘Iqd al-Jauhar fi Maulid an-Nabiyyi al-Azhar. Maulid karangan beliau ini adalah diantara kitab maulid yang paling populer dan paling luas tersebar ke pelosok negeri 'Arab dan Islam, baik di Timur maupun di Barat. Bahkan banyak dari mereka yang menghafalnya.
Kandungannya merupakan khulashah (ringkasan) Sirah Nabawiyyah yang meliputi kisah kelahiran Rasulullah Saw., diutusnya beliu Saw. sebagai Rasul, hijrah, akhlak, peperangan hingga kewafatan beliau Rasulullah Saw.
Kitab Maulid al-Barzanji ini telah disyarahi oleh al-‘Allamah al-Faqih asy-Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad yang terkenal dengan panggilan Ba’ilisy dengan kitab syarah yang dinamakan al-Qaul al-Munji 'ala Maulid al-Barzanji yang telah berulang kali dicetak di Mesir. (Beliau Syekh Ba`ilisy adalah seorang ulama besar jebolan al-Azhar asy-Syarif, bermazhab Maliki lagi Asy`ari dan menjalankan Thoriqah asy-Syadziliyyah. Beliau lahir pada tahun 1217 H/1802 M dan wafat pada tahun 1299 H/1882 M. Karyanya antara lain adalah; Hidayat al-Murid li 'Aqidat Ahl at-Tauhid, Syarh al-'Aqa’id al-Kubra li as-Sanusi, Hasyiyah 'ala Syarhi ash-Shoghir li ad-Dardir, Minhu al-Jalil 'ala Mukhtashar Khalil dan Hidayat as-Salik ila Aqrab al-Masalik fi Furu` al-Fiqh al-Maliki).
Selain Syekh Ba’ilisy, ulama kita kelahiran Banten Pulau Jawa, yang terkenal sebagai ulama dan penulis yang produktif dengan banyak karangannya yaitu Punggawa Ulama Hijaz, an-Nawawi ats-Tsani, Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani al-Jawi turut menulis syarah dari kitab Maulid al-Barzanji yang diberi judul Madarij ash-Shu’ud ila Iktisa’ al-Buruud.
Begitu juga dari salah satu cucu Sayyid Ja'far al-Barzanji yang bernama sama dengan kakeknya yaitu Sayyid Ja’far bin Sayyid Isma’il bin Sayyid Zainal ‘Abidin bin Sayyid Muhammad al-Hadi bin Sayyid Zain al-Barzanji, telah menulis syarah dari kitab Maulid al-Barzanji tersebut yang diberi judul al-Kaukab al-Anwar ‘ala ‘Iqd al-Jauhar fi Maulid an-Nabiy al-Azhar. Sayyid Ja'far ini juga adalah seorang ulama besar keluaran al-Azhar asy-Syarif. Beliau juga merupakan seorang Mufti Syafi`iyyah. Karangan-karangan beliau banyak, diantaranya; Syawahid al-Ghufran ‘ala Jaliy al-Ahzan fi Fadhail Ramadhan, Mashabih al-Ghurar ‘ala Jaliy al-Kadar dan Taj al-Ibtihaj ‘ala Dhau’ al-Wahhaj fi Isra’ wa al-Mi’raj. Beliau juga telah menulis sebuah manaqib yang menceritakan perjalanan hidup dan ketinggian kakeknya Sayyid Ja'far al-Barzanji dengan judul ar-Raudh al-‘Athar fi Manaqib as-Sayyid Ja’far.
Sayyid Ja'far al-Barzanji, selain dikenal sebagai mufti, beliau juga menjadi khatib di Masjid Nabawi dan mengajar di masjid yang mulia tersebut. Beliau terkenal bukan saja karena ilmu, akhlak dan takwanya, tapi juga dengan kekeramatan dan kemakbulan doanya. Penduduk Madinah sering meminta beliau berdoa untuk hujan pada musim-musim kemarau.
Diceritakan bahwa satu ketika di musim kemarau, di saat beliau sedang menyampaikan khutbah Jum’at, seseorang meminta beliau beristisqa’ (memohon hujan). Maka dalam khutbahnya itu, beliau pun berdoa memohon hujan, dengan serta merta doanya terkabul dan hujan terus turun dengan lebatnya hingga seminggu lamanya, persis sebagaimana yang pernah terjadi pada zaman Rasulullah Saw. Menyaksikan peristiwa tersebut, maka sebagian ulama pada zaman itu telah memuji beliau dengan bait-bait syair yang berbunyi:
“Dahulu al-Faruuq dengan al-‘Abbas beristisqa’ memohon hujan
Dan kami dengan Ja’far pula beristisqa’ memohon hujan
Maka yang demikian itu wasilah mereka kepada Tuhan
Dan ini wasilah kami seorang Imam yang ‘arif.”
Sayyid Ja'far al-Barzanji wafat di Kota Madinah dan dimakamkan di Jannatul Baqi’, tepatnya di sebelah bawah maqam nenek moyang beliau dari kalangan anak-anak perempuan Rasulullah Saw.
Sungguh karya-karya Sayyid Ja'far telah membawa umat untuk selalu mengingat Rasulullah Saw. Menjadikan umat lebih mencintai Rasulullah Saw. Menenggelamkan umat dalam lautan rindu kepada Rasulullah Saw. Setiap kali karangannya dibaca, sholawat dan salam selalu terlantunkan atas Baginda Nabi Agung Muhammad Saw.
Kegigihan Sayyid Ja’far dalam Menuntut Ilmu
Semasa kecilnya beliau telah belajar al-Quran dari Syeikh Ismail al-Yamani, dan belajar tajwid serta memperbaiki bacaan dengan Syeikh Yusof as-Su’idi dan Syeikh Syamsuddin al-Misri.
Diantara guru-guru beliau dalam ilmu agama dan syariat adalah:
·         Sayyid Abdul Karim Haidar al-Barzanji
·         Syeikh Yusuf al-Kurdi
·         Sayyid Athiyatullah al-Hindi.
Beliau kemudian berhijrah dan menetap di Makkah selama lima tahun. Di sana beliau belajar kepada para ulama besar, diantaranya:
·         Syeikh Athallah ibn Ahmad al-Azhari
·         Syeikh Abdul Wahab ath-Thanthowi al-Ahmadi
·         Syeikh Ahmad al-Asybuli
Beliau juga telah mendapatkan ijazah dari para ulama besar, diantaranya:
·         Syeikh Muhammad ath-Thoyib al-Fasi
·         Sayyid Muhammad ath-Thobari
·         Syeikh Muhammad ibn Hasan al-‘Ajimi
·         Sayyid Musthofa al-Bakri
·         Syeikh Abdullah asy-Syubrawi al-Misri
Penguasaannya dalam Ilmu Agama
Beliau banyak menguasai cabang-cabang ilmu agama diantaranya ialah Shorof, Nahwu, Manthiq, Ma’ani, Bayan, Adab, Fiqh, Ushul Fiqh, Faraidh, Hisab, Ushuluddin, Hadits, Ushul Hadits, Tafsir, Hikmah, Handasah, ‘Arudh, Kalam, Lughat, Sirah, Qiraat, Suluk, Tasawwuf, Kutub Ahkam, Rijal, Mustholahul Hadits.
Karya-karya Beliau
Karangan beliau cukup banyak diantaranya adalah:
·         Al-Birr al-‘Ajil bi Ijabat asy-Syeikh Muhammad al-Ghafil
·         Jaliyat al-Kadr bi Asmai Ashshab Sayyid al-Malaik wa al-Basyar
·         Jaliyat al-Kurb wa al-Ahadiyyin bi Asma’ Sayyid al-‘Ajam wa al-‘Arab fi Asma’ al-Badriyyin
·         Al-Lujjainiy ad-Daniy fi Manaqib asy-Syeikh Abdil Qadir al-Jailaniy
·         Ar-Raudh al-Mu’thar fi Maa Yuhaddi as-Sayyid Muhammad min al-Asy’al
·         Asy-Syiqaq al-Atrijiyyah fi Manaqib al-Asyraf al-Barzanjiyyah
·         Ath-Thawali’ al-As’adiyyah min al-Mathali’ al-Masyriqiyyah
·         Al-‘Ariyn li Asma’ ash-Shabat al-Badriyyin
·         Fath ar-Rahman ‘ala Ajwibat as-Sayyid Ramdhan
·         Al-Faidh al-Lathif bi Ijabat Naib as-Sar’ asy-Syarif
·         Nuhudh al-Laits li Jawab Abi al-Ghaits
·         ‘Iqd al-Jauhar fi Maulid an-Nabiyyi al-Azhar (Maulid al-Barzanji).
Kemasyhuran Beliau
Beliau telah diakui banyak kalangan dan mendapat kedudukan yang dekat di sisi pembesar Makkah dan Madinah, serta para menteri Kerajaan Utsmaniah. Kemasyhuran dan kehebatan beliau telah menyebar ke seluruh pelosok dunia Islam. Karangan-karangan beliau telah  diterima dan dipuji oleh para ulama yang sezaman denganya sehingga  tersebarlah tulisan-tulisan beliau di kalangan para penuntut ilmu.
Sifat-sifat Beliau
Beliau mempunyai akhlak yang terpuji, jiwa yang bersih, sangat pemaaf dan pengampun, zuhud, amat berpegang dengan al-Quran dan as-Sunnah, wara’, banyak berdzikir, senantiasa bertafakkur, mendahului dalam berbuat kebajikan, gemar bersedekah, dan sangat pemurah.
Penutup
Dari biografi singkat Sayyid Ja’far Al-Barzanji di atas, jelaslah bagi kita bahwa beliau bukanlah orang biasa. Bahkan beliau menjabat sebagai Mufti Madinah al-Munawwarah cukup lama yang mana hal ini menunjukkan akan ketinggian ilmu beliau dan kesalehan beliau.
Refferensi
- Al-Kawakib al-Anwar Syarh al-Maulid an-Nabawiy, karangan Sayyid Ja’far  ibn al-Barzanji (keturunan Sayyid Ja’far al-Barzanji) yang wafat pada tahun 1317 H/1899 M. Ditahqiq oleh Syeikh Nada Farj Darwisy, dan disimak oleh Institut Pengkajian Akademik Universitas  al-Azhar, cetakan Markaz ibn al-Athar li at-Turats, halaman 647-650.
- Kasyf az-Zunun ‘an Asam al-Kutub wa al-Funun, karangan Haji Khalifah, cetakan Dar al-Fikr, Beirut, tahun 1999 M, bab jim “Ja’far”, jilid 5, halaman 211.
- Al-Asybah wa an-Nadzair, karangan al-Imam Jalaluddin as-Suyuthiy, cetakan ketiga Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, tahun 2005 M, jilid 2, halaman 225.
- Haul Ihtifaal bi Dzikra al-Maulid an-Nabawiy asy-Syarif, karangan Prof. Dr. al-Muhaddits al-‘Alim al-‘Allamah as-Sayyid Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Abbas al-Maliki, cetakan al-Fithrah, Surabaya, halaman 99.

Selasa, 24 April 2012

Mengenal Lebih Dekat Al-Imam Ahmad bin Isa Al–Muhajir

 

Beliau adalah Syaikhul Islam sang pembawa panji kebenaran,penghidup sunnah Rasul,leluhur dari saddah Ba’alawi,cahaya dari Bashrah, beliau adalah Sayyidina Al-Imam Muhajir Ahmad bin Sayyidina Al-Imam Isa Ar-Rumi bin Sayyidina Al- Imam Muhammad An-Naqib bin Sayyidina Al-Imam Ali Al-Uraydhi bin Sayyidina Al-Imam Ja’far As-Shodiq bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Al-Imam Al-Husein putra dari Sayyidinaa Ali bin Abi Tholib dan Sayyidatunaa Fathimah az-Zahra putri Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Imam Ahmad bin Isa Al – Muhajir dilahirkan sekitar tahun 273 H / 853 M dan besar di Iraq tepatnya di kota Bashrah. Al Muhajir tumbuh dan berkembang dibawah Asuhan kedua orang tuanya dengan nuansa keilmuan religi yang sangat kental.Sejak kecil, wajahnya sudah mengguratkan kepiawaian, kedamaian, dan kebahagian. Beliau juga berkemauan keras, terutama dalam beramal kebajikan.Kedudukannya yang tinggi dan mulia di masyarakat Bashrah dan kekayaan yang beliau miliki tidak memalingkan hatinya dari ibadah dan dakwah.
Al-Imam Ahmad bin Isa tumbuh dalam masa yang dipenuhi dengan ragam peradaban dan warna-warni ilmu pengetahuan, seperti ilmu Shariah, filsafat, falak, satra, tasawuf, matematika dan lain-lain.Pada waktu itu Bashrah memang dikenal sebagai pusat ilmu dan budaya namun disisi lain masa ini pun marak dengan kekacauan politik maupun perbedaan faham yang menyebabkan pertikaian senjata dan pertumpahan darah.
Melihat gejala ini dan keinginan beliau yang kuat untuk menyelamatkan keluarga dan anak keturunannya kelak dari paham-paham yang tidak benar,Pada tahun 317 H / 897 M Imam Ahmad Al-Muhajir memutuskan berhijrah dari Basrah ke Madinah.Dengan iringan ratap tangis penduduk Basrah,cucu Rasulullah ini bergerak menuju Hijaz, nama kawasan Mekkah, Madinah dan sekitarnya kala itu. Beliau berangkat menuju Hijaz disertai oleh istrinya, Syarifah Zainab binti Abdullah bin al-Hasan bin ‘Ali al-’Uraidhy, bersama putera bungsunya bernama Abdullah, yang kemudian dikenal dengan nama Ubaidillah. Turut serta dalam hijrah itu cucu beliau yang bernama Isma’il bin Abdullah yang dikenal dengan Al-Basri dan 70 lainy  dari orang-orang dekat beliau diantaranya Sayyid Muhammad bin Sulaiman bin Abdillah leluhur dari Keluarga Al Ahdal dan Sayyid Ahmad Al Qudaimi leluhur keluarga Al Qudaim.
Rombongan Imam Ahmad Al-Muhajir berhijrah ke madinah melalui jalan Syam karena jalan yang biasa dilalui kurang aman.Sesampainya di Madinah  pada tahun 317, beliau berziarah ke makam kakeknya Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam.Beliau menangguhkan rencana melakukan ibadah haji pada tahun itu,karena pada saat itu sedang terjadi kekacauan besar di Makkah, gerakan Qaramithah masuk ke Makkah di musim haji banyak jama’ah haji yang terbunuh oleh ulah dari kelompok ini,mereka juga mengambil hajar aswad dari tempatnya.Baru Pada tahun berikutnya 318 H Imam Ahmad bin Isya beserta rombongan berangkat ke Makkah untuk melaksanakan Ibadah Haji, konon para jamaah haji pada tahun itu hanya meletakkan tangan mereka di tempat hajar aswad.Di Makkah beliau bertemu dengan rombongan dari Tihamah dan Hadhramaut.Dari sinilah mereka mengenal keilmuan Imam Ahmad bin Isya dan akhlaknya yang mulia.Mereka kemudian menawarkan kepada Imam Ahmad bin Isya untuk berpindah ke Hadhramaut dan meminta Imam Ahmad bin Isya untuk menghidupkan kembali ilmu yang mulai meredup di Hadhramaut dan membantu membebaskan penduduk Hadhramaut dari faham khawarij.

Makam Al-Imam Al-Muhajir

Imam Ahmad bin Isya menerima tawaran tersebut setelah beliau melihat dengan cahaya batinnya yang bersih adanya kebaikan di tanah Hadhramaut.Rombongan Imam Ahmad pun bergerak menuju Hadhramaut,dimulailah babak baru dalam kehidupan Imam Ahmad.Dari hijrah ini kemudian beliau dikenal dengan gelar Al-Muhajir atau yang hijrah.Hadirnya Imam Ahmad Al-Muhajir di Hadhramaut merupakan  peristiwa besar dalam sejarah, sebab kehadiran Al Muhajir di Hadhramaut membawa perubahan besar di daerah itu.Paham khawarij yang dianut oleh sebagian penduduknya pun tergantikan dengan paham yang shahih yang dibawa oleh Imam Ahmad.Hal ini karena Imam Muhajir selalu berdiskusi  dengan bijaksana dan teladan yang mulia, yang mana hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para lawan diskusinya dan menimbulkan simpati mereka, Khawarij adalah mazhab yang menerima diskusi tentang madzhab mereka dan mereka pun banyak berdiskusi dengan para ulama di banyak hal, sedangkan Al Imam Al Muhajir merupakan sosok yang ahli dalam hal meyakinkan lawan bicara.Sehingga paham khawarij perlahan-lahan terkikis dan habis di hadhramaut dan digantikan dengan paham Ahlu sunnah wa Jama’ah.Hadhramaut yang panas dan tandus pun menjadi lahan yang subur bagi tumbuhnya para kekasih Allah dan orang-orang shalih.
Setelah perjuangan yang tanpa mengenal lelah dan penuh kesabaran Al Imam Al Muhajir berhasil menanamkan metode Da’wah dengan cara khusus beliau,dakwah dengan akhlak mulia tidak dengan senjata dan tanpa tetesan darah.Karena itu beliau berhasil menanamkan paham Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Hadhramaut, akhirnya Al Muhajir berpulang kehadirat Allah ta’ala pada tahun 435 H, dan di makamkan di Al Husyaisyiah tepatnya di Syi’b Makhdam,sampai hari ini masih terjaga dan terawat serta di ziarahi oleh muslim dari penjuru dunia.Dari keturunan beliau tersebar cahaya Islam ke penjuru dunia,termasuk ke Indonesia karena penyebar Islam di nusantara atau yang di kenal dengan wali sanga merupakan keturunan Imam Ahmad bin Isya.Imam Ahmad bin Isya Al-Muhajir adalah bapak rohani bagi masyarakat muslim Indonesia karena itu muslim di Indonesia khususnya saddah Alawiyah seharusnya mengenal  lebih dekat pribadi yang mulia dan luar biasa ini.

al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawi, Perintis Thariqah Alawiyah

 

Yang pertama kali dan satu-satunya dijuluki ‘Al-Faqih Al-Muqaddam’ di kalangan Alawiyin adalah waliyullah Muhammad bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath. Soal gelar yang disandangnya, karena waliyullah Muhammad bin Ali seorang guru besar yang menguasai banyak sekali ilmu-ilmu agama diantaranya ilmu fiqih. Salah seorang guru beliau Ali Bamarwan mengatakan, bahwa beliau menguasai ilmu fiqih sebagaimana yang dikuasai seorang ulama besar yaitu al-Allamah Muhammad bin Hasan bin Furak al-Syafi’i', wafat tahun 406 Hijriah.
Sedangkan gelar al-Muqaddam di depan gelar al-Faqih yang berasal dari kata Qadam yang berarti lebih diutamakan, dalam hal ini waliyullah Muhammad bin Ali sewaktu hidupnya selalu diutamakan sampai setelah beliau wafat maqamnya yang berada di Zanbal Tarim sering diziarahi kaum muslimin sebelum menziarahi maqam waliyullah lainnya.Waliyullah Muhammad bin Ali dilahirkan di kota Tarim, beliau anak laki satu-satunya dari Imam Ali bin Muhammad Shahib Mirbath yang menurunkan 75 leluhur kaum Alawiyin, sedangkan Imam Alwi bin Muhammad Shahib Marbad menurunkan 16 leluhur Alawiyin, termasuk di antaranya yang dikenal sebagai walisongo, di tanah Jawa, Indonesia. Sayyid Muhammad bin Ali yang terkenal dengan nama al-Faqih al-Muqaddam ialah poros sesepuh semua kaum Alawiyin.
Selengkapnya nama beliau Sayyidina Al Faqihi Muqaddam Muhammad bin Ali bin Al Imam Muhammad Shahib Mirbath bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidullah (Abdullah) bin Imam Al Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad an Naqib bin Al Imam Ali Al Uraidhi bin Ja’far as Shadiq bin Al Imam Muhammad al Baqir bin Al Imam Ali Zainal Abidin binl Imam Hussein As Sibith bin Imam Ali bin Abi Thalib Suami Al Batul Fatimah az-Zahra binti Rasullullah Muhammad saw. Beliau dilahirkan pada tahun 574 H di Tarim.
Beliau seorang yang hafal al-quran serta menguasai makna yang tersurat dan tersirat dari Qur’an, dan selalu sibuk menuntut berbagai macam cabang ilmu pengetahuan agama, hingga di akui oleh Ulama Hadramaut saat itu bahwa beliau telah mencapai tingkat sebagai mujtahid mutlak. Beliau dikenal dengan gelar lain yakni ustadzul A’zham (Guru besar), beliau adalah bapak dari semua keluarga Alawiyin, keindahan kaum muslimin dan agama Islam. Dari keistimewaan yang ada pada Sayyidina Al-Faqihi Al muqaddam adalah tidak suka menonjolkan diri, lahir dan batinnya dalam kejernihan yang ma’qul (semua karya pemikiran) dan penghimpun kebenaran yang manqul (nash-nash Alquran dan Sunnah). Beliau adalah seorang Mustanbith al-furu’ min al-ushul (ahli merumuskan cabang-cabang hukum syara’ yang digali dari pokok-pokok ilmu fiqih. Ia adalah Syaikh Syuyukh al-syari’ah (mahaguru ilmu syari’ah) dan seorang Imamul Ahlil Hakikat (Imam ahli hakikat), Sayidul thaifah Ash-Shufiyah (Penghulu Kaum Sufi) Murakiz Dairah al-Wilayah al-Rabbaniyah, Qudwah al-’Ulama al-Muhaqqiqin (panutan para ulama ahli ilmu hakikat), Taj al-A’imah al-’Arifin (mahkota para Imam ahli ma’rifat), Jami’ul Kamalat (yang terhimpun padanya semua kesempurnaan), sedang dalam segala kesempurnaannya beliau berteladan kepada Amir al-Mukminin (Imam Ali bin Abi Thalib). Thariqahnya adalah kefakiran yang hakiki dan kema’rifatan yang fitrah. Beliau Imam Faqihi Muqadam adalah penutup Aulia-illah (para waliullah) yang mewarisi maqam Rasulullah saw, yaitu maqam Qutbiyah Al Kubra (Wali Quthub besar).
Imam Muhammad Bin Ali belajar fiqh Syafi’i kepada Syeikh Abdullah bin Abdurahman Ba’Abid dan Syeikh Ahmad Bin Muhammad Ba’Isa, belajar Ushul dan ilmu logika kepada Imam Ali Bin Ahmad Bamarwan dan Imam Muhammad Bin Ahmad Bin Abilhib, belajar ilmu Tafsir dan Hadits kepada seorang Mujtahid bernama Sayid Ali bin Muhammad Bajadid, belajar ilmu tasawuf dan hakikat kepada Imam salim Bashri, Syeikh Muhammad Ali Al Khatib dan pamannya Syeikh Alwi Bin Muhammad Shahib Mirbath serta Syeikh Sufyan Al Yamani yang berkunjung ke Hadramaut dan tinggal di kota Tarim.
Diantara karamah-karamah yang nampak pada diri beliau adalah ketika anak beliau Ahmad mengikuti beliau ke suatu wadi di pertengahan malam, maka sesampainya di wadi tersebut beliau berdzikir dengan mengeluarkan suara, maka batu dan pohon serta mahluq yang ada di sekeliling tempat itu semuanya ikut berdzikir. Beliau juga dapat melihat negeri akhirat dan segala kenikmatannya hanya dengan melihat di antara kedua tangannya, dan melihat dunia dengan segala tipu dayanya melalui ke dua matanya.
Di antara sikap tawadhunya, beliau tidak mengarang kitab-kitab yang besar, akan tetapi ia hanya mengarang dua buah kitab berisi uraian yang ringkas. Kitab tersebut berjudul : Bada’ia Ulum Al Muksysyafah dan Ghoroib Al Musyahadat wa Al Tajalliyat. Kedua kitab tersebut di kirimkan kepada salah satu gurunya Syeikh Sa’Adudin Bin Ali Al Zhufari yang wafat di Sihir tahun 607 H. Setelah melihat dan membacnya ia merasa takjub atas pemikiran dan kefasihan kalam Imam Muhammad Bin Ali. Kemudian surat tersebut di balas dengan menyebutkan di akhir tulisan suratnya : ‘’Engkau wahai Imam, adalah pemberi petunjuk bagi yang membutuhkannya’’. Imam Muhammad Bin Ali pernah ditanya tentang 300 macam masalah dari berbagai macam ilmu, maka beliau menjawab semua masalah tersebut dengan sebaik-baiknya jawaban.
Rumah beliau merupakan tempat berlindung bagi para anak yatim, kaum faqir dan para janda. Jika rumah beliau kedatangan tamu, maka ia menyambut dan menyediakan makanan yang banyak, dimana makanan tersebut tersedia hanya dengan mengangkat tangan beliau dan para tamu untuk berdoa dan memohon kepada Allah swt. Sebagaimana sabda rasulullah saw :”Sesungguhnya para saudaraku jika ia mengangkat tangannya untuk memohon makanan, maka akan tersedia makanan tersebut dalam jumlah yang banyak”.
AsSyeikh Abdurahman AsSeqaf berkata : ”Tidak aku lihat dan aku dengar suatu kalam yang melebihi kalam Imam Al faqihi Muqadam kecuali kalam para Nabi”. Sedang Imam Al faqihi Muqadam bernah berkata kepada kaumnya ’’Kedudukan ku terhadap kalian seperti kedudukan Nabi Muhammad kepada kaumnya’’. Didalam riwayat lain AsSyeikh Abdurahman AsSeqaf : berkata ’’Kedudukan ku terhadap kalian seperti kedudukan Nabi Isa kepada kaumnya’’. Berkata AsSyeikh Al Kabir Abu Al Ghaits Ibnul Jamil :’’Derajat kami tidak akan menyamai derajat Imam Al Faqihi Muqadam, terkecuali hanya setengahnya saja’’. Dalam salah satu kalimat yang ditulisnya kepada gurunya Syeikh Sa’aduddin, Imam Al Fiqihi Muqadam bekata ‘’Aku telah di Mi’rajkan ke Sidratul Muntaha sebanyak tujuh kali ( dilain riwayat dua puluh tujuh kali).
Disuatu saat Al Imam Faqihi Muqadam duduk bersama sahabatnya, ketika itu ada seseorang yang nampak seperti Badui datang mengunjunginya, dengan di atas kepalanya membawa keju. Maka berdiri Imam Faqihi Muqadam untuk mengambil keju tersebut lalau memakannya. Para sahabatnya yang hadir saat itu merasa heran dan bertanya : ‘’Siapa dia ? maka beliau menjawab : Khidir as. Kejadian tersebut menjelaskan bahwa : Allah telah mengangkat derajat Al Faqihi Muqadam sebagai seorang Ahli Hakikat dan Ahli Kasyaf. Ini terlihat dari isyarat keju yangdi makannya dari kepala Nabi Khidir as. Keju tersebut di ibaratkan sebuah buah dari sebuah dari hasil mujahadah para wali. Dan di jadikan Imam Al Faqihi Muqadam bagi para wali seperti kedudukan Malaikat Jibril terhadap para Nabi. Syeikh Fadhal bin Abdullah Bafadhal berkata : ‘’Banyak dari manusia yang mendapatkan anugrah dari imam Al Faqihi Muqadam lantaran didikan dan kebaikannya, khususnya dua orang Syeikh Kabir Abdullah bin Muhammad Abbad dan Syeikh Said Bin Umar Balhaf’’.
Imam Muhammad Bin Ali Al Faqihi Muqadam berdoa untuk para keturunannya agar selalu menempuh perjalanan yang baik, jiwanya tidak di kuasai oleh kedzaliman yang akan menghinakannya, serta tidak ada satupun dari anak cucunya yang meninggal kecuali dalam keadaan mastur ( Kewalian yang tersembunyi ).
Beliau seorang yang gemar bersedeqah sebanyak dua ribu ratl kurma kepada yang membutuhkannya, memberdayakan tanah pertaniannya untuk kemaslahatan umum. Beliau juga menjadikan isterinya Zainab Ummul Fuqara sebagai khalifah beliau.
Mengenai kesufian beliau. Adapun sumber penisbatan Al-Khirqah dan Silsilah Isnad Didalam Kesufian Beliau Al Faqihi Muqadam, diterangkan mengambil sanad Khirqah Kesufian berasal dua jalur, salah satu dari jalur ayah-kakek beliau ( Ahlulbait ), yakni beliau dididik dan menerimanya dari ayah beliau, Ali bin Muhammad dan dari paman beliau, Alwi bin Muhammad, keduanya menerima dari ayahnya Muhammad Syahib Mirbath, beliau menerimanya dari ayahnya, Ali Khali’ Qasam, beliau menerimanya dari ayahnya, Alwi Shahib Samal, beliau menerimanya dari ayahnya, Ubaidillah, beliau menerimanya dari ayahnya, al-Imam Muhajir Ahmad bin Isa, beliau menerimanya dari ayahnya, Isa an-Naqib, beliau menerimanya dari ayahnya, Muhammad, beliau menerimanya dari ayahnya, Ali al-Uraidhi, beliau menerimanya dari ayahnya, al-Imam Ja’far as-Shoddiq, beliau menerimanya dari ayahnya, al-Imam Muhammad al-Baqir, beliau menerimanya dari ayahnya, Ali Zainal Abidin, beliau menerimanya dari ayahnya, al-Imam al-Hussein dan dari pamannya al-Imam al-Hassan, keduanya menerima dari kakeknya Nabi Muhammad SAW, juga dari ayahnya al-Imam Ali bin Abi Thalib sedangkan Nabi SAW menerimanya dari Allah seperti yang beliau katakan:
“Aku dididik oleh Tuhanku dan ia mendidikku dengan sebaik-baik didikan”.
Sedang jalur yang ke dua, Beliau Al Faqihi Muqadam diterangkan mengambil sanad Khirqah Kesufian di bawah usia 20 tahun, dari seorang Sufi terkemuka yang berasal dari Maroko. Selengkapnya yakni; lewat Abu Madyan al-Maghribi (Syeikh Syu’aib bin Husain Al Anshari) yang wafat di tahun 594 H, dengan perantaraan Abdurrahman Al-Muq’ad dan Abdullah As-Shaleh. Sedangkan Syeikh Syu’aib Abu Madyan menerimanya dari Syeikh Abu Ya’za al-Maghribi, beliau menerimanya dari Syeikh Abul Hasan bin Hirzihim atau yang dikenal dengan nama Abu Harazim, beliau menerimanya dari Syeikh Abu Bakar bin Muhammad bin Abdillah ibnl Arabi dan Al-Ghadi Al-Mughafiri. Sedangkan ibnl Al-Arabi menerimanya dari Syeikh Al Imam Hujjatul Islam Al-Ghadzali, beliau menerimanya dari gurunya, iaitu Imam al-Haramain Abdul Malik bin Syeikh Abu Muhammad Al-Juwaini, beliau menerimanya dari ayahnya, Abu Muhammad bin Abdullah bin Yusuf, beliau menerimanya dari Syeikh Abu Thalib al-Makki, beliau menerimanya dari Syeikh Syibli, beliau menerimanya dari Syeikh Junaid Al Baghdadi, beliau menerimanya dari pamannya, yaitu As-Sirri As-Siqthi, beliau menerimanya dari Syeikh Ma’ruf al-Karkhi, beliau menerimanya dari gurunya, Syeikh Daud at-Tho’i, beliau menerimanya dari Syeikh Habib al-’Ajmi, beliau menerimanya dari Imam Hasan al-Basri, beliau menerimanya dari Imam Ali bin Abi Thalib, beliau menerimanya dari Rasulullah SAW, beliau menerimanya dari malaikat Jibril, dan beliau menerimanya dari Allah Ta’ala.
Imam al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali, wafat di kota Tarim tahun 653 hijriah dan di makamkan Di Zanbal, Tarim pada malam Jum’at akhir bulan Dzulhijah.
[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzam Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy] & Idrus Alwi Al Masyhur dalam Bukunya Menelusuri Silsilah Suci Bani Alawi (Yayasan Al Mustarsyidin : 2002, DLL)


"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"









"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog