Senin, 19 Desember 2011

Muharram Bulan Mulia, Asyuro Hari Istimewa


الحمد لله الذى جعل شهر المحرم أول السنين والشهور, أحمده سبحانه وتعالى حمد عبد شكور , وأشهد أن لااله الاالله وحده لاشريك له شهادة تكون لنا ذخرا عند عزيز الغفور, وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أرسله رحمة للعالمين. اللهم صل وسلم وبارك على عبدك ورسولك النبي الأمي سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وعلى جميع الانبياء والمرسلين واتبعهم اجمعين عدد ما بين السموات والأرضين – أما بعد 
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Marilah kita bersama-sama tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah. Bersyukurlah bahwa kita semua masih diberi umur panjang menikmati tahun baru Islam. Tak terasa tahun telah berganti, umur telah bertambah, sudahkah semua it kita sertai dengan tambahnya iman dan taqwa? Bukankah Allah telah menambahkan umur dalam hidup kita? Mengapa kita tidak menambah keta’atan kepadanya?Jama’ah Jum'ah yang berbahagia
Ingatkah kita pada suatu hari di Empat Belas Abad yang lalu ketika Rasulullah saw melakukan perjalanan berat dari Makkah menuju Madinah. Di atas punggung onta, mendaki gunung berbatu, menuruni lembah dipanggang di bawah ganasnya terik matahari padang pasir. Medan yang berat menjadi tambah berat ketika harus menghindar kejaran kaum kafir Quraisy. Berjalan dengan penuh kewaspadaan dan kehati-hatian. Hanya dengan niat dan keyakinan yang teguhlah Rasulullah saw berhasil akhirnya sampai pula di kota Madinah. Madinah menjadi pelabuhan dakwah Rasulullah saw yang menghantarkan kejayaan Islam. Dari Madinahlah Islam melebarkan sayapnya hingga ke pelosok-penjuru bumi. Ke Asia menembus lautan, mengarungi benua dan menaklukkan Alam. Semua itu Rasulullah saw lakukan demi syiar Islam, hingga kita manusia Nusantara dapat menikmati manisnya iman kepad-Nya. itulah salah satu hikmah hijrahnya Rasulullah saw. Begitu agungnya hikmah di balik hijrah Rasulullah saw, sehingga Umar bin Khattab ra. bersama-bersepakat dengan para sahabat me’monumen’kan hijirah Rasulullah saw dalam bentuk penanggalan dalam Islam.
Jama’ah yang dimulikan Allah
Marilah kita bersama-sama berhijrah, berpindah dan berusaha berubah menuju kebaikan, atau menuju yang lebih baik.. Karena sesungguhnya umur kita semakin menipis, jatah umur kita semakin menyempit. Alangkah baiknya jika kita segera melangkah meninggalkan segala yang buruk dan menggantinya dengan hal yang lebih bermakna. Sudahkah kita memenuhi tabungan amal kita dengan amal yang shaleh. Padahal umur kita semakin hari semakin berkurang. Seperti yang termaktub dalam hadits:
طوبى لمن طال عمره وحسن عمله (رواه الطبرانى عن عبدالله بن يسر)
Artinya: Sungguh berbahagia bagi orang yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya (HR. Thabrani)
Memang dalam sejarah tercatat bahwa secara fisik Rasulullah saw hanya sekali melaksanakan hijrah. Akan tetapi hijrah itu harus kita maknai secara dinamis. Bahwa pergerakan dan perubahan tidak cukup dilaksanakan sekali seumur hidup. Jikalau dalam taraf tertentu kita telah merasa sudah baik, maka hendaklah terus berubah menuju ke yang lebih baik. Dan begitulah seterusnya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Bulan Muharram dalam tradisi Islam memiliki makna yang dalam dan sejarah yang panjang. Diantara kelebihan bulam Muharram terletak pada hari ‘asyura’ atau hari kesepuluh pada bulan Muharram. Karena pada hari ‘asyura’ itulah (seperti yang termaktub dalam I’anatut Thalibin) Allah untuk pertama kali menciptakan dunia, dan pada hari yang sama pula Allah akan mengakhiri kehidupan di dunia (qiyamat). Pada hari ‘asyura’ pula Allah mencipta Lauh Mahfudh dan Qalam, menurunkan hujan untuk pertama kalinya, menurunkan rahmat di atas bumi. Dan pada hari ‘asyura’ itu Allah mengangkat Nabi Isa as. ke atas langit. Dan pada hari ‘asyura’ itulah Nabi Nuh as. turun dari kapal setelah berlayar karena banjir bandang. Sesampainya di daratan Nabi Nuh as. bertanya kepada pada umatnya “masihkah ada bekal pelayaran yang tersisa untuk dimakan?” kemudian mereka menjawab “masih ya Nabi” Kemudian Nabi Nuh memerintahkan untuk mengaduk sisa-sisa makanan itu menjadi adonan bubur, dan disedekahkan ke semua orang. Karena itulah kita mengenal bubur suro. Yaitu bubur yang dibikin untuk menghormati hari ‘asyuro’ yang diterjemahkan dalam bahasa kita menjadi bubur untuk selametan.
Bubur suro merupakan pengejawentahan rasa syukur manusia atas keselamatan yang Selma ini diberikan oleh Allah swt. Namun dibalik itu bubur suro (jawa) selain simbol dari keselamatan juga pengabadian atas kemenangan Nabi Musa as, dan hancurnya bala Fir’aun. Oleh karena itu barang siapa berpuasa dihari ‘asyura’ seperti berpuasa selama satu tahun penuh, karena puasa di hari ‘asyura’ seperti puasanya para Nabi. Intinya hari ‘syura’ adalah hari istimewa. Banyak keistimewaan yang diberikan oleh Allah pada hari ini diantaranya adalah pelipat gandaan pahala bagi yang melaksanakan ibadah pada hari itu. Hari ini adalah hari kasih sayang, dianjurkan oleh semua muslim untuk melaksanakan kebaikan, menambah pundi-pundi pahala dengan bersilaturrahim, beribadah, dan banyak sedekah terutama bersedekah kepada anak yatim-piatu.
Hadirin Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Bubur suro, baik yang dituangkan oleh Nabi Nuh as. maupun yang dimasak oleh para nenek dan ibu kita, bukanlah satu-satunya bentuk sedekah yang harus kita laksanakan pada bulan ini. Bubur itu hanyalah perlambang bahwa bulan Muharram, awal tahun baru Hijrah merupakan momentum untuk memperkokoh persaudaraan. Karena sejatinya bubur suro yang telah dimasak tak mungkin disembunyikan, pastilah untuk dihidangkan. Ada baiknya hidangan itu kita bagikan kepada tetangga dan sanak keluarga. Sebagai tanda syukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya. Nikmat umur terutama. Jika demikian logikanya, maka bubur itu bisa diganti dengan parcel berisi buah-buahan, atau serantang maknan, atau beberapa tusuk sate maupun iga bakar. Karena subtansinya adalah bersilaturrahmi membagi rasa sukur kepada sesama. Bukan bersilaturrahmi melalui pesan singkat yang dikirim dengan menebus pulsa. Bukan itu…!
Akhirnya, saya ucapkan selamat tahun baru, semoga hari ini lebih baik dari hari kemaren, dan pastikanlah esok lebih baik dari hari ini…amien
جعلنا الله واياكم من الفائزين الامنين, وأدخلناواياكم فى عباده الصالحين. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. وإذ أخذنا ميثاق بني إسرائيل لا تعبدون إلا الله وبالوالدين إحسانا وذي القربى واليتامى والمساكين وقولوا للناس حسنا وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة ثم توليتم إلا قليلا منكم وأنتم معرضون.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Mencontoh Sahabat Ali Memahami Rizqi


الحمد لله الذى جعل شهر المحرم أول السنين والشهور, أحمده سبحانه وتعالى حمد عبد شكور , وأشهد أن لااله الاالله وحده لاشريك له شهادة تكون لنا ذخرا عند عزيز الغفور, وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أرسله رحمة للعالمين. اللهم صل وسلم وبارك على عبدك ورسولك النبي الأمي سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وعلى جميع الانبياء والمرسلين واتبعهم اجمعين عدد ما بين السموات والأرضين – أما بعد 
Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Hidup, mati, jodoh dan rizqi ada di tangan Allah swt, manusia hanya memiliki hak berikhtiar atasnya. Namun segala keputusan ada di tangan-Nya. Dari keempat hal tersebut (hidup, mati, jodoh dan rizqi) manusia seringkali lebih disibukkan dengan urusan rizqi. Dibandingkan tiga hal yang lainnya. Maklumlah hidup masih dinikmati, udara masih bisa disedot kedalam rongga dada lalu dikeluarkan kembali tanpa harus membeli. Mati terasa berada jauh sekali, hamper tiada yang tahu pasti kapan ia akan tiba. Sedangkan jodoh tinggal menjalani.
Oleh karena itulah kebanyakan manusia akan merasa sedih jika dijauhi rizqi dan merasa senang jika dihibur dengan rizqi. Banyak orang yang berubah menjadi manusia religius ketika berada dalam kesusahan. Rajin berdo’a, beribadah, tawakkal dan rajin bersedekah meskipun sedikit. Namun sebaliknya, ketika manusia berada dalam kelonggaran, ia akan mengurangi keintimannya dengan Yang Maha Kuasa, bahkan seringkali lupa dengan doa yang sering dibaca ketika kesusahan menimpanya. Jika dimasa susah sholat berjamaah menjadi kebutuhan, maka ketika longgar sholat berjamaah menjadi  gangguan. Ketika dimasa susah sholat maghrib begitu khusuknya, dan ketika longgar sholat magrib sesempatnya. Naudzubillah min dzalik. Seoah-olah harta benda dan duniawi adalah segalanya.

Jama’ah yang dimuliakan Allah
Dengan demikian perlu kiranya kita mengkaji ulang. Benarkah dunia itu harus selalu dikejar? Padahal dunia semakin dikejar semakin akan menjauhi kita. Ketika seorang mempunyai rumah, maka ingin ia lengkapi dengan mobil mewah. Ketika keduanya telah serasi, manusia inginkan renovasi. Ketika renovasi usai maka perlu tambah mobil lagi dan seterusnya.

Seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih sore menjelang asar. Fatimah binti Rasulullah menyambut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah makin besar.

Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. "Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun."Fatimah menyahut sambil tersenyum, "Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta'ala." "Terima kasih," jawab Ali. Matanya memberat lantaran istrinya begitu tawakal. Padahal persediaan dapur sudah ludes sama sekali. Toh Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih.

Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan salat berjama'ah. Sepulang dari sholat, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua. "Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?" Áli menjawab heran. "Ya betul. Ada apa, Tuan?''

Orang tua itu merogoh kantungnya seraya menjawab, "Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar ongkosnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya." Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.

Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak di sangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari.
Ali pun bergegas berangkat ke pasar. Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, "Siapakah yang mau menghutangkan hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan." Tanpa pikir panjang lebar, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu.

Pada waktu ia pulang dan Fatimah keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya. Fatimah, masih dalam senyum, berkata, "Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan menutup pintu surga buat kita."
Jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah
Fragmen di atas menunjukkan bahwa manusia sebagai penerima rizqi dituntut untuk mampu memahami cara kerja atau karakteristik rizqi sebagai pemberian Allah swt. Ia bisa datang tanpa diundang juga dapat pergi tanpa diusir. Oleh karena itu kita hendaknya tidaklah terlalu gusar memikirkan rizqi, cobalah kita berkerja dengan hati tenang. Insyallah rizqi itu akan menemui kita. Kerja dengan penuh semangat, keluar dari rumah dengan motor dipacu kencang berbalapan dengan matahri terbit, pulang kerumah dengan gonta menyongsong matahri terbenam. Itu semua bisa lebih bermakna jika kita lakukan ikhlasan hati dan ketetapan jiwa bahwa Allah swt telah mengatur rizqi kita
Allah memiliki berbagai hikmah dalam pemberian rizki. Ada yang Allah jadikan kaya dengan banyaknya rizki dan harta. Ada pula yang dijadikan miskin. Ada hikmah berharga di balik itu semua. Allah Ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ
Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki.” (QS. An Nahl: 71)
Dalam ayat lain disebutkan,

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا
Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Al Isro’: 30)
Di tempat lain, Ibnu Katsir menerangkan firman Allah,

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ
“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)
Beliau rahimahullah lantas menjelaskan,“Seandainya Allah memberi hamba tersebut rizki lebih dari yang mereka butuh, tentu mereka akan melampaui batas, berlaku kurang ajar satu dan lainnya, serta akan bertingkah sombong.” Selanjutnya Ibnu Katsir menjelaskan lagi, “Akan tetapi Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.”
Dalam sebuah hadits disebutkan,

إن من عبادى من لا يصلح إيمانه إلا بالغنى ولو أفقرته لكفر، وإن من عبادى من لا يصلح إيمانه إلا الفقر ولو أغنيته لكفر
“Sesungguhnya di antara hamba-Ku, keimanan barulah menjadi baik jika Allah memberikan kekayaan padanya. Seandainya Allah membuat ia miskin, tentu ia akan kufur. Dan di antara hamba-Ku, keimanan barulah baik jika Allah memberikan kemiskinan padanya. Seandainya Allah membuat ia kaya, tentu ia akan kufur”.
Maka apa yang telah kita terima dari-Nya dalam kehidupan ini tidak lain merupakan ketetapan. Adapun ikhtiyar manusia adalah kewajiban.


جعلنا الله واياكم من الفائزين الامنين, وأدخلناواياكم فى عباده الصالحين. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. وإذ أخذنا ميثاق بني إسرائيل لا تعبدون إلا الله وبالوالدين إحسانا وذي القربى واليتامى والمساكين وقولوا للناس حسنا وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة ثم توليتم إلا قليلا منكم وأنتم معرضون.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Mari Kita Bertawadhu' Lagi


الحمد لله الذى من اعتصم بحبل رجاءه وفقه وهداه ومن لجأ اليه حفظه ووقاه, ومن تواضع له رفعه وحماه. أحمده سبحانه على ما اعطى من الإنعام وأولاه. واشكره على ماحوله بفضله واسداه. وأشهد أن لااله الاالله وحده لاشريك له شهادة من عرف الله بصفاته ولم يعامل أحدا سواه. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوث الى خلقه بتوحيده وأوصاهم بتقواه. اللهم صل وسلم وبارك على عبدك ورسولك النبي الأمي سيدنا محمد وعلى اله وصحبه الذين تمسكون بهداه_ أما بعد 
Para hadirin jama’ah jum’ah Rahimakumullah
Marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt. Semakin sering kita mengevaluasi diri kita semakin baik. Karena dengan demikian kita akan merasa selalu bersalah dan selalu berusaha memperbaikinya. amin
Alhamdulillah di hari yang bahagia ini kita masih diberikan kesempatan oleh Allah yang maha kuasa untuk berkumpul bersama saling bertaushiyah sesama. Semoga pertemuan kita diberkati oleh Allah seperti majlis jum’ah yang berkah ini.
Ayyuhal Hadirun Rahimakumullah
Diantara beberapa hal yang sering kita abaikan adalah pemahaman kita seputar etika bermasyarakat. Seringkali kita lupa akan ke-diri-an kita, warna dan identitas sebagai muslim Indonesia  yang hidup di tengah berbagai ragam suku, ras, agama dan bahasa kedaerahan. Meskipun ada perbedaan epistimologis dalam kata etika, moral, budi-pekerti dan akhlaq, namun dalam kesempatan ini semua kata itu dimaknai oleh khatib sebagai suatu nilai luhur yang terkandung dalam berperilaku dan berinteraksi dengan sesama. Ada banyak macam perilaku yang dapat dikategorikan dalam nilai-nili ini seperti gotong royong, saling menghormati, empati (teposeliro), dan juga tawadhu’.Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Sudah jarang sekali telinga kita mendengarsemua kata-kata indah itu. Kata gotong-royong, saling menghormati dan teposeliro juga tawadhu’, seolah lenyap dari perbendaharaan bahasa Indonesia. Malahan kata-kata itu tergantikan dengan istilah dikordinasikan, dikomunisikan dan lain sebagainya. Ini berarti telah terjadi pergeseran nilai di tengah masyarakat kita. Nilai-nilai luhur yang lahir dan dibesarkan oleh tradisi Nusantara telah kalah saing dengan nilai-nilai kesementaraan yang mengabdi pada modernism dan individualism. Hal seperti inilah yang sedikit demi sedikit merubah rona wajah bangsa kita. Hal ini diperparah dengan sistem teknologi pertelevisian yang menuruti keterbukaan dalam menggunjing sesame dan membicarakan kesalahan sesame dengan alasan membudayakan kritik. Lihatlah beberapa tolk show baik yang sekedar intertaintment ataupun yang berwawasan politk seolah semuanya tidak lagi mengindahkan kaedah-kaedah etika. Naudzubillah min dzalik.
Jama’ah Jum’ah yang berbahagia
Cobalah kita bersama-sama membuka hati dan melapangkan dada. Apa sesungguhnya yang melatar belakangi perubahan rona wajah bangsa kita. Yang dulu sangat pemalu dan penghormat. Kini menjadi penipu dan penghujat. Nampaknya percaya diri dan menganggap benar sendiri dengan menuduh orang lain tak becus dan salah dalam melangkah, menjadi penyakit akut yang terus menyandera bangsa kita.
Oleh karena itu pada kesempatan kali ini saya selaku khotib tidak berhak mengajari, tapi sekedar mengingatkan kembali bahwa kemungkinan penyebab ini semua adalah kelalaian kita terhadap ajaran tawadhu’ dari rasulullah saw. Tawadhu’ biasa diartikan dengan rendah diri dan tidak somobong. Tawadhu’ adalah konsep etika yang sangat sederhana. Rasulullah saw sendiri mengajarkan cara bertawadhu’ dengan memulai salam bila berjumpa sesama teman, dalam sebuah hadist disebutkan

ويبدأ من لقيه بالسلام
Rasulullah saw selalu menyambut orang yang menemui beliau dengan salam.
Di sini mengucap salam menjadi kata kunci untuk melatih diri melakukan tawadhu. Bukan sekedar doa yang terkandung dalam ucapan salam, akan tetapi bagaimana seseorang memulai berkomunikasi dengan yang lain dan saling bertegur sapa, itulah yang terpenting. Apalagi kehidupan di kota seperti Jakarta. Saling bersapa menjadi barang yang sangat mahal. Apalagi berbincang.
Kalau boleh bercerita, Teman saya yang baru datang di Jakarta merasa bingung. Bagaimana orang bisa duduk berjejer ataupun berdiri saling hadapan dalam satu angkutan kota tanpa bertegur sapa? Ini adalah hal yang mustahil di daerah dan didesa-desa. Jangankan dengan sesama teman, dengan orang yang belum dikenalpun akan disapa dengan berbagai ragam pertanyaan, mau kemana pak? Turun di mana? Cari rumah siapa? Dan lain sebagainya.
Para Jama’ah yang dirohmati Allah
Ternyata bertegur sapa, baik dengan mengucap salam maupun berbasa-basi sekedarnya seperti ajaran Rasulullah saw dapat melatih orang bersikap tawadhu’. Karena mereka yang bertegur sapa biasanya bukan tipe manusia sombong. Sebuah hadits menerangkan

البادئ بالسلام بارئ من الكبار
Siapa yang memulai menegur dengan salam, bebas dari sifat sombong atau takabbur.
Bahkan begitu tawadhu’nya Rasulullah saw higga pernah suatu ketika beliau menolak bantuan orang yang hendak membawakan bungkusan beliau. Dengan alasan pemilik barang lebih berhak membawa barang masing-masing.
Penolakan tersebut bukanlah cerminan kesombongan, tetapi merupakan kerendahan hati beliau saw. meskipun beliau seorang Nabi, tetapi lebih senang membawa diri sendiri. Apakah demikian dengan pemimpin-pemipin bangsa kita? Pastilah tidak karena mereka sudah tidak lagi mengenal tawadhu’. Janganka membawa bungkusan kepalapun kalau bisa dibawakan oleh ajudan.
Oleh karena itu, nabi membuat kriteria sendiri sebagai cirri-ciri tawadhu diantaranya duduk bersama fakir miskin. Seperti sebuah hadits yang berbunyi:

الجلوس مع الفقراء من التواضع
Duduk bersama orang fakir miskin, termasuk ciri khas orang yang rendah hati (tawadhu) (HR. Ad-Dailami).
Senada dengan hadits Nabi adalah apa yang dikatakan oleh Imam Ja’far:
“Sesungguhnya puncak keteguhan adalah tawadhu’.” Kemudian Salah seorang bertanya kepada nya, “Apakah tanda-tanda tawadhu’ itu?” Beliau menjawab, “Hendaknya kau senang pada majlis yang tidak memuliakanmu, memberi salam kepada orang yang kau jumpai, dan meninggalkan perdebatan sekalipun engkau di atas kebenaran.”

Tidak hanya menghindar dari penghormatan orang, tetapi juga menghindar dari perdebatan walaupun kita dalam posisi yang benar.
Bagaimanakah dengan tolkshow yang ada di televisi?. Dengan bangganya di bawah siraman cahaya kamera para aktifis dan intelektual itu berbicara bertakik-takik seolah membicarakan hal yang dianggapnya benar sambil sesekali menghina dan menyalahkan orang lain. Berdebat kusir menjadi keahlian tersendiri. Mereka yang menguasai retorika dan aksentuasi yang enak menjadi pemenangnya. Bahkan sering kali setelah acara usai mereka bertanya pada kroni-sejawat dan teman-temannya? Bagaimana tadi penampilanku? Bagus gak? Dan berbagai pertanyaan lain yang menunjukkan kesombongannya. Inilah potret bangsa kita. Bagaimana bisa Indonesia berjalan maju ke depan bila yang terjadi saling menyalahkan. Berebut di depan bukan dalam perang, tetapi dalam pamer segala kemampuan, biar dilihat sebagai orang yang mempunyai kemampuan dan kwalitas. Bukan seperti pendiam yang tak faham.
Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Marilah kita sadari bersama bahwa sesungguhnya tawadhu dan kerendah-hatian itu tidak akan membuat seseorang menjadi hina. Bahkan sebaliknya. Kekhawatiran itu hanya muncul bagi mereka yang sebenarnya berkwalitas rendah tetapi ingin dianggap seorang yang berharga. Dalam sebuah hadits diterangkan:

التواضع لا يزيد العبد الارفعة فتواضعوا يرفعكم الله تعالى...
Tawadhu’ itu tidak akan menambah seseuatu bagi seseorang kecuali nilai tinggi, maka bertawadhulah kalian semua maka Allah akan meninggikanmu…
Jama’ah Jum’ah yang Rahimakumullah
Akhirnya, khutbah ini menyimpulkan bahwa tawadhu itu tidak hanya diejawantahkan dalam perkataan tetapi juga dalam tingkah laku keseharian. Dalam bergaul, dalam berinteraksi social dan dalam menanggapi persoalan yang muncul.

جعلنا الله واياكم من الفائزين الامنين, وأدخلناواياكم فى عباده الصالحين. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. وإذ أخذنا ميثاق بني إسرائيل لا تعبدون إلا الله وبالوالدين إحسانا وذي القربى واليتامى والمساكين وقولوا للناس حسنا وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة ثم توليتم إلا قليلا منكم وأنتم معرضون.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Membaca Shalawat untuk Nabi

Membaca Shalawat untuk Nabi Membaca shalawat adalah salah satu amalan yang disenangi orang-orang NU, disamping amalan-amalan lain semacam itu. Ada shalawat “Nariyah”, ada “Thibbi Qulub”. Ada shalawat “Tunjina”, dan masih banyak lagi. Belum lagi bacaan “hizib” dan “rawatib” yang tak terhitung banyaknya. Semua itu mendorong semangat keagamaan dan cita-cita kepada Rasulullah sekaligus ibadah.

Salah satu hadits yang membuat kita rajin membaca shalawat ialah: Rasulullah bersabda: Siapa membaca shalawat untukku, Allah akan membalasnya 10 kebaikan, diampuni 10 dosanya, dan ditambah 10 derajat baginya. Makanya, bagi orang-orang NU, setiap kegiatan keagamaan bisa disisipi bacaan shalawat dengan segala ragamnya.

Salah satu shalawat yang sangat popular ialah “Shalawat Badar”. Hampir setiap warga NU, dari anak kecil sampai kakek dan nenek, dapat dipastikan melantunkan shalawat Badar. Bahkan saking populernya, orang bukan NU pun ikut hafal karena pagi, siang, malam, acara dimana dan kapan saja “Shalawat Badar” selalu dilantunkan bersama-sama.

Shalawat yang satu ini, “shalawat Nariyah”, tidak kalah populernya di kalangan warga NU. Khususnya bila menghadapi problem hidup yang sulit dipecahkan maka tidak ada jalan lain selain mengembalikan persoalan pelik itu kepada Allah. Dan shalawat Nariyah adalah salah satu jalan mengadu kepada-Nya.

Salah satu shalawat lain yang mustajab ialah shalawat Tafrijiyah Qurtubiyah, yang disebut orang Maroko shalawat Nariyah karena jika mereka (umat Islam) mengharapkan apa yang dicita-citakan, atau ingin menolak apa yang tidak disuka, mereka berkumpul dalam satu majelis untuk membaca shalawat Nariyah ini sebanyak 4444 kali, tercapailah apa yang dikehendaki dengan cepat bi idznillah. Shalawat ini juga oleh para ahli yang tahu rahasia alam.

Imam Dainuri memberikan komentarnya: Siapa membaca shalawat ini sehabis shalat (fardlu) 11 kali digunakan sebagai wiridan maka rejekinya tidak akan putus, disamping mendapatkan pangkat/kedudukan dan tingkatan orang kaya. (Khaziyat al-Asrar, hlm 179)

Simak sabda Rasulullah SAW berikut ini:


وَأخْرَجَ ابْنُ مُنْذَة عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ الله عَنهُ أنّهُ قال قال َرسُوْلُ اللهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ: مَنْ صَلّى عَلَيَّ كُلّ يَوْمٍ مِئَة مَرّةٍ – وَفِيْ رِوَايَةٍ – مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي اليَوْمِ مِئَة مَرّةٍ قَضَى اللهُ لَهُ مِئَة حَجَّةٍ – سَبْعِيْنَ مِنْهَا في الأخِرَةِ وَثَلاثِيْنَ فِي الدُّنْيَا – إلى أنْ قال – وَرُوِيَ أن النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عليه وسلم قال : اكْثَرُوا مِنَ الصَّلاةِ عَلَيَّ فَإنّهَا تَحِلُّ اْلعَقْدَ وَتَفْرجُ الكُرَبَ – كَذَا فِيْ النزهَةِ

Hadits Ibnu Mundah dari Jabir, ia mengatakan: Rasulullah SAW bersabda: Siapa membaca shalawat kepadaku 100 kali maka Allah akan mengijabahi 100 kali hajatnya; 70 hajatnya di akhirat, dan 30 di dunia. Sampai kata-kata … dan hadits Rasulullah yang mengatakan: Perbanyaklah shalawat kepadaku karena dapat memecahkan masalah dan menghilangkan kesedihan. Demikian seperti tertuang dalam kitab an-Nuzhah.

Rasulullah di alam barzakh mendengar bacaan shalawat dan salam dan dia akan menjawabnya sesuai jawaban yang terkait dari salam dan shalawat tadi. Seperti tersebut dalam hadits. Rasulullah SAW bersabda: Hidupku, juga matiku, lebih baik dari kalian. Kalian membicarakan dan juga dibicarakan, amal-amal kalian disampaikan kepadaku; jika saya tahu amal itu baik, aku memuji Allah, tetapi kalau buruk aku mintakan ampun kepada Allah. (Hadits riwayat Al-hafizh Ismail Al-Qadhi, dalam bab shalawat ‘ala an-Nabi).

Imam Haitami dalam kitab Majma’ az-Zawaid meyakini bahwa hadits di atas adalah shahih. Hal ini jelas bahwa Rasulullah memintakan ampun umatnya (istighfar) di alam barzakh. Istighfar adalah doa, dan doa Rasul untuk umatnya pasti bermanfaat.

Ada lagi hadits lain. Rasulullah bersabda: Tidak seorang pun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah akan menyampaikan kepada ruhku sehingga aku bisa menjawab salam itu. (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah. Ada di kitab Imam an-Nawawi, dan sanadnya shahih)

KH Munawwir Abdul Fattah
Pengasuh Pesantren Krapyak, Yogyakarta

Memakai Celana di Bawah Lutut

Memakai Celana di Bawah Lutut Seorang mahasiswa perguruan tinggi di Surabaya mempertanyakan, apakah bila kita memakai celana harus di atas mata kaki atau harus ditinggikan di bawah lutut? Pertanyaan ini disampikannya terkait anjuran sekelompok umat Muslim di Indonesia bagi kaum laki-laki untuk memakai celana yang tinggi, hampir di bawah lutut. Kelompok ini sudah berkembang di kampus-kampus.

Sepanjang yang kami ketahui, praktik memakai celana di atas mata kaki, ini merujuk pada suatu hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah. Bahwa Rasulullah SAW bersabda,


مَا أسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإزَارِ فَفِيْ النَّارِ

Sarung (celana) yang di bawah mata kaki akan ditempatkan di neraka

Dari hadits tersebut para ulama berpendapat bahwa sunnah memakai pakaian tidak melebihi kedua mata kaki. Sebagian ulama bahkan mengharamkan mengenakan pakaian sampai di bawah mata kaki jika dimaksudkan lil khulayah atau karena faktor kesombongan. Hal ini juga didasarkan pada hadits lain riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Umar. Rasulullah SAW bersabda,

لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ

Allah tidak melihat orang yang merendahkan pakaiannya dengan penuh kesombongan.

Tentunya ini sesuai dengan konteks saat itu, bahwa merendahkan pakaian atau memakai pakaian di bawah lutut di daerah Arab waktu itu adalah identik dengan ria dan kesombongan.

Nah, secara fiqhiyah, atau menurut para ulama fikih, hadits ini difahami bahwa kain celana atau sarung di atas mata kaki dimaksudkan supaya terbebas dari kotoran atau najis. Artinya masalikul illat atau ihwal disunnahkan mengangkat celana adalah untuk menghindari najis yang mungkin ada di tanah atau jalanan yang kita lewati.

Berdasarkan ketentuan fikih ini, menurut kami, kita dipersilakan memakai pakaian sebatas mata kaki, tidak harus di atasnya, selama kita bisa memastikan akan bisa menjaga celana kita dari kotoran dan najis, misalnya dengan memakai sepatu atau sandal atau mengangkat atau menekuk celana kita pada saat jalanan hujan atau basah.

Perlu direnungkan bahwa berpakaian adalah bagian dari budaya. Dalam Islam kita mengenal istilah tahzin atau etika dalam berpenampilan yang selaras sesuai dengan adat lingkungan setempat. Kita dipersilakan mengikuti tren pakaian masa kini asal tetap mengikuti ketentuan yang wajib yakni untuk laki-laki harus menutupi bagian tubuh dari mulai pusar hingga lutut.

KH Arwanie Faishal
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU

Perayaan Maulid Nabi dan Kontroversi Ma'na Bid’ah

Perayaan Maulid Nabi dan Kontroversi Ma'na Bid’ah Peryataan bahwa perayaan maulid Nabi adalah amalan bid'ah adalah peryataan sangat tidak tepat, karena bid'ah adalah sesuatu yang baru atau diada-adakan dalam Islam yang tidak ada landasan sama sekali dari dari Al-Qur'an dan as-Sunah. Adapun maulid  walaupun suatu yang baru di dalam Islam akan tetapi memiliki landasan dari Al-Qur'an dan as-Sunah.

Pada maulid Nabi di dalamya banyak sekali nilai ketaatan, seperti: sikap syukur, membaca dan mendengarkan bacaan Al-Quran, bersodaqoh, mendengarkan mauidhoh hasanah atau menuntut ilmu, mendengarkan kembali sejarah dan keteladanan Nabi, dan membaca sholawat yang kesemuanya telah dimaklumi bersama bahwa hal tersebut sangat dianjurkan oleh agama dan ada dalilnya di dalam Al-Qur'an dan as-Sunah.

Pengukhususan Waktu

Ada yang menyatakan bahwa menjadikan maulid dikatakan bid'ah adalah adanya pengkhususan (takhsis) dalam pelakanaan di dalam waktu tertentu, yaitu bulan Rabiul Awal yang hal itu tidak dikhususkan oleh syariat. Pernyataan ini sebenarnaya perlu di tinjau kembali, karena takhsis yang dilarang di dalam Islam ialah takhsis dengan cara meyakini atau menetapkan hukum suatu amal bahwa amal tersebut tidak boleh diamalkan kecuali hari-hari khusus dan pengkhususan tersebut tidak ada landasan dari syar'i sendiri(Dr Alawy bin Shihab, Intabih Dinuka fi Khotir: hal.27).

Hal ini berbeda dengan penempatan waktu perayaan maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal, karena orang yang melaksanakan maulid Nabi sama sekali tidak meyakini, apalagi menetapkan hukum bahwa maulid Nabi tidak boleh dilakukan kecuali bulan Robiul Awal, maulid Nabi bisa diadakan kapan saja, dengan bentuk acara yang berbeda selama ada nilai ketaatan dan tidak bercampur dengan maksiat.

Pengkhususan waktu maulid disini bukan kategori takhsis yang di larang syar'i tersebut, akan tetapi masuk kategori tartib (penertiban).

Pengkhususan waktu tertentu dalam beramal sholihah adalah diperbolehkan, Nabi Muhammad sendiri mengkhusukan hari tertentu untuk beribadah dan berziaroh ke masjid kuba, seperti diriwatkan Ibnu Umar bahwa Nabi Muhammad mendatangi masjid Kuba setiap hari Sabtu dengan jalan kaki atau dengan kendaraan dan sholat sholat dua rekaat di sana (HR Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar mengomentari hadis ini mengatakan: "Bahwa hadis ini disertai banyaknya riwayatnya menunjukan diperbolehkan mengkhususan sebagian hari-hari tertentu dengan amal-amal salihah dan dilakukan terus-menerus".(Fathul Bari 3: hal. 84)

Imam Nawawi juga berkata senada di dalam kitab Syarah Sahih Muslim. Para sahabat Anshor juga menghususkan waktu tertentu untuk berkumpul untuk bersama-sama mengingat nikmat Allah,( yaitu datangnya Nabi SAW) pada hari Jumat atau mereka menyebutnya Yaumul 'Urubah dan direstui Nabi.

Jadi dapat difahami, bahwa pengkhususan dalam jadwal Maulid, Isro' Mi'roj dan yang lainya hanyalah untuk penertiban acara-acara dengan memanfaatkan momen yang sesui, tanpa ada keyakinan apapun, hal ini seperti halnya penertiban atau pengkhususan waktu sekolah, penghususan kelas dan tingkatan sekolah yang kesemuanya tidak pernah dikhususkan oleh syariat, tapi hal ini diperbolehkan untuk ketertiban, dan umumnya tabiat manusia apabila kegiatan tidak terjadwal maka kegiatan tersebut akan mudah diremehkan dan akhirnya dilupakan atau ditinggalkan.

Acara maulid di luar bulan Rabiul Awal sebenarnya telah ada dari dahulu, seperti acara pembacaan kitab Dibagh wal Barjanji atau kitab-kitab yang berisi sholawat-sholawat yang lain yang diadakan satu minggu sekali di desa-desa dan pesantren, hal itu sebenarnya adalah kategori maulid, walaupun di Indonesia masyarakat tidak menyebutnya dengan maulid, dan jika kita berkeliling di negara-negara Islam maka kita akan menemukan bentuk acara dan waktu yang berbeda-beda dalam acara maulid Nabi, karena ekpresi syukur tidak hanya dalam satu waktu tapi harus terus menerus dan dapat berganti-ganti cara, selama ada nilai ketaatan dan tidak dengan jalan maksiat.

Semisal di Yaman, maulid diadakan setiap malam jumat yang berisi bacaan sholawat-sholawat Nabi dan ceramah agama dari para ulama untuk selalu meneladani Nabi. Penjadwalan maulid di bulan Rabiul Awal hanyalah murni budaya manusia, tidak ada kaitanya dengan syariat dan barang siapa yang meyakini bahwa acara maulid tidak boleh diadakan oleh syariat selain bulan Rabiul Awal maka kami sepakat keyakinan ini adalah bid'ah dholalah.

Tak Pernah Dilakukan Zaman Nabi dan Sohabat

Di antara orang yang mengatakan maulid adalah bid'ah adalah karena acara maulid tidak pernah ada di zaman Nabi, sahabat atau kurun salaf. Pendapat ini muncul dari orang yang tidak faham bagaimana cara mengeluarkan hukum(istimbat) dari Al-Quran dan as-Sunah. Sesuatu yang tidak dilakukan Nabi atau Sahabat –dalam term ulama usul fiqih disebut at-tark – dan tidak ada keterangan apakah hal tersebut diperintah atau dilarang maka menurut ulama ushul fiqih hal tersebut tidak bisa dijadikan dalil, baik untuk melarang atau mewajibkan.

Sebagaimana diketahui pengertian as-Sunah adalah perkatakaan, perbuatan dan persetujuan beliau. Adapun at-tark tidak masuk di dalamnya. Sesuatu yang ditinggalkan Nabi atau sohabat mempunyai banyak kemungkinan, sehingga tidak bisa langsung diputuskan hal itu adalah haram atau wajib. Disini akan saya sebutkan alasan-alasan kenapa Nabi meninggalkan sesuatu:

1. Nabi meniggalkan sesuatu karena hal tersebut sudah masuk di dalam ayat atau hadis yang maknanya umum, seperti sudah masuk dalam makna ayat: "Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.''(QS Al-Haj: 77). Kebajikan maknanya adalah umum dan Nabi tidak menjelaskan semua secara rinci.

2. Nabi meninggalkan sesutu karena takut jika hal itu belai lakukan akan dikira umatnya bahwa hal itu adalah wajib dan akan memberatkan umatnya, seperti Nabi meninggalkan sholat tarawih berjamaah bersama sahabat karena khawatir akan dikira sholat terawih adalah wajib.

3. Nabi meninggalkan sesuatu karena takut akan merubah perasaan sahabat, seperti apa yang beliau katakan pada siti Aisyah: "Seaindainya bukan karena kaummu baru masuk Islam sungguh akan aku robohkan Ka'bah dan kemudian saya bangun kembali dengan asas Ibrahim as. Sungguh Quraiys telah membuat bangunan ka'bah menjadi pendek." (HR. Bukhori dan Muslim) Nabi meninggalkan untuk merekontrusi ka'bah karena menjaga hati mualaf ahli Mekah agar tidak terganggu.

4. Nabi meninggalkan sesuatu karena telah menjadi adatnya, seperti di dalam hadis: Nabi disuguhi biawak panggang kemudian Nabi mengulurkan tangannya untuk memakannya, maka ada yang berkata: "itu biawak!", maka Nabi menarik tangannya kembali, dan beliu ditanya: "apakah biawak itu haram? Nabi menjawab: "Tidak, saya belum pernah menemukannya di bumi kaumku, saya merasa jijik!" (QS. Bukhori dan Muslim) hadis ini menunjukan bahwa apa yang ditinggalkan Nabi setelah sebelumnya beliu terima hal itu tidak berarti hal itu adalah haram atau dilarang.

5. Nabi atau sahabat meninggalkan sesuatu karena melakukan yang lebih afdhol. Dan adanya yang lebih utama tidak menunjukan yang diutamai (mafdhul) adalah haram.dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang lain (untuk lebih luas lih. Syekh Abdullah al Ghomariy. Husnu Tafahum wad Dark limasalatit tark)

Dan Nabi bersabda:" Apa yang dihalalakan Allah di dalam kitab-Nya maka itu adalah halal, dan apa yang diharamkan adalah haram dan apa yang didiamkan maka itu adalah ampunan maka terimalah dari Allah ampunan-Nya dan Allah tidak pernah melupakan sesuatu, kemudian Nabi membaca:" dan tidaklah Tuhanmu lupa".(HR. Abu Dawud, Bazar dll.) dan Nabi juga bersabda: "Sesungguhnya Allah menetapkan kewajiban maka jangan enkau sia-siakan dan menetapkan batasan-batasan maka jangan kau melewatinya dan mengharamkan sesuatu maka jangan kau melanggarnya, dan dia mendiamkan sesuatu karena untuk menjadi rahmat bagi kamu tanpa melupakannya maka janganlah membahasnya".(HR.Daruqutnhi)

Dan Allah berfirman:"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya."(QS.Al Hasr:7) dan Allah tidak berfirman  dan apa yang ditinggalknya maka tinggalkanlah.

Maka dapat disimpulkan bahwa "at-Tark" tidak memberi faidah hukum haram, dan alasan pengharaman maulid dengan alasan karena tidak dilakukan Nabi dan sahabat sama dengan berdalil dengan sesuatu yang tidak bisa dijadikan dalil!

Imam Suyuti menjawab peryataan orang yang mengatakan: "Saya tidak tahu bahwa maulid ada asalnya di Kitab dan Sunah" dengan jawaban: "Tidak mengetahui dalil bukan berarti dalil itu tidak ada", peryataannya Imam Suyutiy ini didasarkan karena beliau sendiri dan Ibnu Hajar al-Asqolaniy telah mampu mengeluarkan dalil-dalil maulid dari as-Sunah. (Syekh Ali Jum'ah. Al-Bayanul  Qowim, hal.28)


Zarnuzi Ghufron
Ketua LMI-PCINU Yaman dan sekarang sedang belajar di Fakultas Syariah wal Qonun  Univ Al-Ahgoff, Hadramaut, Yaman

Do’a, Bacaan Al-Qur’an, Shadaqoh & Tahlil untuk Orang Mati


Apakah do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati? Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:
وَاَنْ لَيْسَ لِلْلاِءنْسنِ اِلاَّ مَاسَعَى
Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)
Juga hadits Nabi MUhammad SAW:
اِذَامَاتَ ابْنُ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ
Apakah anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.
Mereka sepertinya, hanya secara letterlezk (harfiyah) memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya :
وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلاِءخْوَنِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلاِءْيمن
Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)
Dalam hal ini hubungan orang mu’min dengan orang mu’min tidak putus dari Dunia sampai Akherat.
وَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنتِ
Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mu’min laki dan perempuan.” (QS Muhammad 47: 19)
سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِى مَاتَتْ افَيَنْفَعُهَا اِنْ تَصَدَّقْتَ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ
Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu.” (HR Abu Dawud).
Dan masih banyak pula dalil-dalil yang memperkuat bahwa orang mati masih mendapat manfa’at do’a perbuatan orang lain. Ayat ke 39 Surat An-Najm di atas juga dapat diambil maksud, bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan, sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang, tetapi tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain.
Di dalam Tafsir ath-Thobari jilid 9 juz 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan tatkala Walid ibnu Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; “Kalau engkau kembali kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaanmu di akherat”.
Maka Allah SWT menurunkan ayat di atas yang menunjukan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain, bagi seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti do’a kepada orang mati dan lain-lainnya.
Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukh atau digantikan hukumnya:
عَنِ ابْنِى عَبَّاسٍ: قَوْلُهُ تَعَالى وَأَنْ لَيْسَ لِلاِءنْسنِ اِلاَّ مَا سَعَى فَأَنْزَلَ اللهُ بَعْدَ هذَا: وَالَّذِيْنَ أَمَنُوْاوَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِيَتُهُمْ بِاِءْيمنٍ أَلْحَقْنَابِهِمْ ذُرِيَتَهُمْ فَأَدْخَلَ اللهُ الأَبْنَاءَ بِصَلاَحِ اْلابَاءِاْلجَنَّةَ
Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21. “dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua.
Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, berkata: “Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.
KH Nuril Huda
Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)

Road to Mecca: iritualitas yang Mencerahkan



PDF Print E-mail


Sekali lagi seruan Labbaik Allahumma labbaik terdengar, teriakan gembira penyerahan diri kaum peziarah berselubung putih di perahu yang menuju dataran tempat harapan-harapan luhur sedang memanggil....

Perjalanan menuju Tanah Suci adalah perjalanan spiritual yang penuh dengan pengalaman mencengangkan. Demikian banyak inspirasi, introspeksi, dan renungan kritis yang dihasilkan dalam perjalanan dari Barat (Jerman) menuju Makkah oleh ilmuwan terkemuka Leopold Weiss yang kemudian setelah masuk Islam terkenal dengan nama Muhammad Asad.

Buku yang merupakan karya agungnya berjudul Road to Mecca kami cuplikkan untuk menjadi renungan bagi kita, umat Islam. Dengan gaya bahasa yang sangat indah, tergambar bagaimana perjalanannya ke Makkah dari Eropa menghasilkan suatu perubahan yang radikal bagi Weiss pribadi.

Islamlah Yang Menjayakan Kita
Saya mengikuti gang berkelok-kelok di bagian tertua kota Madinah, dinding-dinding rumah batu yang tegak dalam keremangan, jendela-jendela lipat dan balkon-balkon bergantungan di atas lorong-lorong yang mengingatkan kita akan terowongan-terowongan yang demikian sempitnya sehingga dua orang hampir tak dapat saling berpapasan, kemudian tiba di depan gapura batu kelabu yang merupakan sebuah perpustakaan yang dibangun kira-kira seratus tahun silam oleh seorang sarjana Turki.

Di pekarangannya, di balik kisi-kisi tembaga tempaan yang membentuk gerbang itu, terasa keheningan memanggil-manggil. Saya menyeberangi halaman berbatu ubin, melewati sebatang pohon yang tegak di tengah-tengahnya dengan cabang-cabangnya tak bergerak, lalu melangkah ke dalam ruangan berkubah yang dibatasi oleh rak-rak buku bertutupkan kaca, beribu-ribu buku tulisan tangan, di antaranya terdapat beberapa naskah paling langka yang pernah dikenal dunia Islam. Buku-buku semacam inilah yang membuktikan keunggulan kebudayaan Islam, kemenangan yang telah pudar bagai angin kemarin.

Saya memperhatikan sejenak buku-buku bersampul kulit keras ini, pertentangan antara muslimin masa lalu dan muslimin masa kini, bagaikan diiris sembilu.

“Sakit apakah Anda, Nak? Mengapa wajah Anda tampak kecut?”

Saya berpaling ke arah datangnya suara, dan tampaklah sosok kecil tubuh sahabat saya di atas permadani, di antara salah satu jendela lipat, dengan sejilid buku terbuka pada kedua lututnya, itulah Syaikh Abdullah ibnu Bulayhid. Matanya yang tajam menatap hangat ketika saya mencium dahinya dan duduk berdampingan.

Dia adalah seorang ulama Nejed yang terbesar dan terpandang. Dia adalah salah seorang berpikiran paling cerdas yang pernah saya jumpai di negeri-negeri kaum muslimin. Persahabatannya membuat hidup saya di Arab menjadi mudah dan menyenangkan. Ditutupnya bukunya dengan bunyi keras lalu ia menarik saya ke dekatnya, sembari memandang mengamat-amati saya.

“Saya sedang berpikir-pikir, wahai Syaikh, telah berapa jauhkah kita, kaum muslimin, berjalan dari sini?” Dan saya menunjuk ke arah buku di atas rak. “Menuju kesengsaraan dan kemunduran kita sekarang?”

“Anakku, kita tinggal menuai apa yang telah kita semaikan. Sekali waktu kita unggul, dan Islam-lah yang menyebabkan kejayaan kita. Kitalah pembela-pembela amanat. Selama kita jujur pada amanat itu, qalbu kita diilhami dan pikiran kita diterangi. Namun segera setelah kita melupakan untuk apa kita dipilih oleh Yang Mahakuasa, kita jatuh. Kita telah banyak menyeleweng dari sini, karena kita telah jauh  berpaling dari apa yang diajarkan Nabi, semoga Allah SWT memberi shalawat dan salam kepadanya, kepada kita,” ujar orangtua itu.

“Dan bagaimana jalannya pekerjaan Anda?” tanyanya menyelidiki setelah berhenti sesaat, karena ia tahu bahwa saya sedang mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan sejarah permulaan Islam.

“Saya harus mengakui, Syaikh, bahwa keadaan tidak begitu menyenangkan. Saya tidak mendapat ketenteraman hati dan tidak tahu entah mengapa.”

Perpustakaan itu hening, hanya syaikh tua bersama saya yang ada dalam ruangan berkubah itu.

Dari sebuah masjid kecil tak jauh dari situ, kami mendengar seruan shalat Maghrib, dan sesaat kemudian panggilan yang sama terdengar berkumandang dari kelima menara masjid Nabi yang sekarang terlihat oleh kami, terasa sedemikian nikmat dan penuh kebanggaan, terpancar dari menara berkubah hijau.

Muadzin dari salah sebuah menara memulai panggilannya, Allahu Akbar... dengan suara nyaring, halus mendayu, perlahan nadanya naik-turun dan mengalun dalam suara panjang. Menjelang berakhirnya ucapan pertama, muadzin dari menara yang terdekat dengan kami menyambung dengan nada suara yang agak lebih tinggi.

Sementara itu terdengar pula suara menanjak perlahan dari menara ketiga. Muadzin pertama telah selesai dengan bait pertama dan memulai lagi, kemudian diiringi dengan suara sayu di kejauhan dengan bait pertama dari menara keempat dan kelima, bait kedua.... Sementara suara-suara yang datang dari menara kedua dan kemudian menyusul dari yang ketiga mengalun bertalu.

Setiap ayat diulangi dengan cara yang sama oleh kelima muadzin, kemudian dilanjutkan. Setiap suara itu rasanya membangkitkan yang lain dan menariknya bersama-sama lebih dekat untuk kemudian lenyap mengalun dan mengambil ayat lain lagi, jadi beriring bersama sama dalam ayat penutup.

Bunyi indah mengalun dan khidmat serta perpaduan suara tidaklah sama dengan nyanyian biasa. Dan ketika hati serasa terlonjak terharu dengan cinta akan kata dan suara tersebut, mulailah terasa bahwa segala pengembaraan saya selalu hanya punya satu arti, untuk menjangkau makna panggilan itu.

“Marilah,” kata Syaikh Ibnu Mulayhid, “marilah kita ke masjid untuk shalat Maghrib.”  

Masjid Nabi memperoleh bentuknya seperti sekarang dalam pertengahan abad lampau, akan tetapi bagian lainnya jauh lebih tua. Sebagian berasal dari zaman Dinasti Mamluk Mesir, sedang yang lainnya lebih tua lagi. Ruang tengahnya, yang terdapat pusara Rasulullah SAW, tepat meliputi luas tanah yang sama yang dibangun oleh sahabat Utsman, khalifah ketiga.

Batu nisan Rasulullah SAW sendiri tidak tampak, karena ditutupi oleh lusinan emas dan perak yang bergantungan dan diselimuti kisi-kisi perunggu, persembahan Sultan Mamluk, Mesir, pada abad ke-lima belas. Kenyataannya tidak ada susunan batu nisan seperti itu, karena Rasulullah SAW dimakamkan di bawah lantai tanah, satu-satunya ruangan dalam sebuah rumah kecil tempat beliau hidup dan meninggal.

Pada waktu sesudahnya, ruangan sebelah dinding tak berpintu dibangun sekitar rumah itu, sehingga menutupinya dari dunia luar. Selama waktu hidup Rasulullah SAW masjid itu jelas terpisah dari rumah tersebut. Akan tetapi dalam perjalanan waktu berabad-abad, masjid itu telah diperluas ke atas dan ke sebelah menyebelah makam beliau.

Berderat-deret permadani dihamparkan pada persegi empat terbuka dalam masjid itu, bershaf-shaf manusia ada di sana, membaca Al-Qur’an dan bertafakkur. Ibnu Bulayhid tampaknya tenggelam dalam kekhidmatan shalat. Dari kejauhan terdengar suara orang mengaji, yang selalu dilakukan menjelang shalat Maghrib. Hari itu yang dibaca adalah surah kesembilan puluh enam, yang pertama diwahyukan kepada Rasulullah SAW, yang dimulai dengan kata-kata “Bacalah atas nama Penciptamu”. Dalam bentuk kata-kata inilah  panggilan Tuhan untuk pertama kalinya diterima Rasulullah SAW di Gua Hira’, dekat Makkah.

Antara Sedih dan Bahagia
Sebelumnya, ini terjadi pada suatu hari di musim dingin di Afghanistan, tatkala kuda saya kehilangan salah satu tapalnya dan saya harus mencari seorang pandai besi di sebuah desa yang terletak dalam lintasan jalan raya, dan di sana seorang lelaki mengatakan kepada saya, “Akan tetapi Anda adalah seorang muslim, hanya saja Anda tak mengetahuinya”, ini terjadi kira-kira delapan bulan menjelang saya memeluk agama Islam, saya sedang dalam perjalanan dari Barat ke Kabul dan sedang berkendara ditemani oleh Ibrahim dan seorang lasykar Afghanistan, melalui lembah-lembah bertutup salju serta celah-celah Hindu-Kush di daerah Afghanistan tengah. Udara dingin, salju berkilau-kilauan.

Hari itu saya dirundung sedih, tapi pada saat yang sama pula merasakan bahagia. Saya sedih karena dalam pengamatan saya beberapa bulan terakhir tampaknya sebagian besar penduduk tempat saya bermukim pemahaman keagamannya tertutup tabir suram, sedang saya merasa bahagia karena selain mereka sudah ada kelompok yang pemahaman keagamannya telah memancarkan kecerahan.

Kuda saya mulai berjalan pincang dan sesuatu terdengar menggeluntang dari kukunya. Sebuah tapal besi telah copot tergantung-gantung hanya dengan dua batang paku.

“Adakah desa di dekat sini tempat seorang pandai besi?” tanya saya kepada teman Afghanistan itu.

“Desa Deh-Zangi, letaknya kurang dari lima kilometer dari sini. Ada seorang pandai besi di sana. Di desa itu, selain pandai besi, juga ada hakim yang bernama Hazarayat, dengan istananya di sana.”

Saya pergi ke Desa Deh-Zangi. Hakim Hazarayat adalah seorang pemuda berperawakan pendek dengan air muka periang, seorang peramah yang gembira menjamu seorang tamu asing dalam kesepian istananya yang sederhana. Meskipun seorang anggota keluarga dekat Raja Amanullah, dia adalah salah seorang paling rendah hati yang saya temui di Afghanistan. Ia memaksa saya tinggal bersamanya selama dua hari.

Pada malam hari kedua, sebagaimana biasa, kami duduk menghadapi hidangan makanan malam yang lumayan dan sesudah itu seorang lelaki desa menjamu kami dengan suatu balada yang dinyanyikan dalam bahasa Persia. Saya ingat, ia menyanyikan ihwal pertarungan Daud dengan Goliath.

Tatkala nyanyian itu berakhir, Hakim Hazarayat berkata, “Daud kecil, namun imannya besar....”

Saya tak dapat menahan diri dan menambahkan, “Dan kalian banyak, akan tetapi imannya sedikit.”

Tuan rumah memandang saya keheranan dan merasa terganggu kata-kata saya, namun saya segera menerangkan kepadanya dengan lancar. Penjelasan saya ini berupa serangkaian pertanyaan bertubi-tubi:

“Bagaimana sampai kalian, kaum muslimin, kehilangan kepercayaan diri, keyakinan diri, yang pada suatu waktu telah menyebabkan kalian mampu mensyiarkan kepercayaan kalian, dalam waktu kurang dari seratus tahun, dari Arab ke arah barat, sampai ke Atlantik, ke timur sampai ke Cina, sedangkan kini dengan mudah menyerahkan diri, lemah, kepada pikiran dan kebiasaan Barat?

Mengapa kalian, yang punya nenek moyang yang pada suatu saat menjadi penerang dunia dengan ilmu pengetahuan dan kesenian tatkala Eropa sedang tenggelam dalam kebiadaban dan kebodohan, tidak mengerahkan kembali keberanian untuk kembali kepada kemajuan kalian serta kecemerlangan kepercayaan kalian sendiri.”

Tuan rumah bungkam.

Di luar salju mulai turun. Sekali lagi saya merasakan gelombang suka bercampur duka, sama seperti ketika hendak mendekati Deh-Zangi. Saya merasakan kemenangan, tapi pada saat yang sama rasa malu menyelubungi keturunan dari suatu peradaban yang unggul ini.

“Ceritakanlah bagaimana sampai iman nabi kalian dan kejernihan serta kesederhanaannya dikubur dalam reruntuhan sepekulasi yang mandul dan ajaran yang berbelit-belit? Bagaimana sampai terjadi pangeran-pangeran dan tuan tanah memperoleh kemakmuran dan kemewahan sedang demikian banyak saudara mereka, kaum muslimin, tenggelam dalam kemiskinan dan kegembelan yang tak terlukiskan, kendatipun nabi kalian berkata, ‘Tak seorang pun boleh menamakan dirinya beriman apabila dia makan sampai kenyang padahal tetangganya kelaparan’?

Dapatkah kalian menerangkan kepada saya mengapa kalian telah memencilkan kaum wanita di belakang layar kehidupan, padahal wanita di sekitar nabi dan para sahabatnya memegang peranan agung dalam kehidupan suami mereka? Mengapa kalian, kaum muslimin, banyak diliputi kebodohan dan segelintir saja yang menulis dan membaca, meskipun nabi kalian menyatakan, ‘Menuntut ilmu adalah kewajiban suci bagi setiap muslim, pria dan wanita’ dan ‘Kelebihan orang yang berpengetahuan atas ahli ibadah bagaikan kelebihan bulan purnama dibandingkan dengan bintang?’.”

Masih saja tuan rumah menatap tak berkata-kata, dan saya mulai berpikir bahwa saya melukai perasaannya. Dia menarik baju kulitnya yang berwarna kuning dan mengetatkan pada badannya lalu berbisik, “Tetapi Anda adalah seorang muslim....”

Saya tertawa dan menjawab, “Tidak, saya bukan seorang muslim. Akan tetapi saya mulai melihat kebesaran Islam yang menyebabkan saya kadang-kadang merasa geram memperhatikan kalian menyia-nyiakannya, maaf  kalau saya berbicara terlalu pedas. Saya tidak berbicara sebagai seorang musuh.”

Namun sang tuan rumah menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak, seperti telah saya katakan, Anda adalah seorang muslim, hanya saja Anda tidak menyadarinya.”

Ucapannya itu selalu terngiang-ngiang di telinga saya selama berbulan-bulan, dalam perjalanan saya melintasi berbagai negara dan sampai akhirnya saya mengucapkan syahadat.

Berhenti Berpikir
Menurut  Al-Qur’an, Tuhan tidaklah menghendaki penyerahan diri manusia secara membabi buta, melainkan lebih menitikberatkan pada akalnya.

Agama tak menarik garis pembatas antara tabiat sosial dan iman. Dan yang teramat penting, agama tidak memulai dengan suatu dalil bahwa hidup dibebani dengan bentrokan antara badan dan jiwa. Setiap bentuk pengingkaran hidup dan penyiksaan diri dikutuk oleh Tuhan. Kehendak hidup manusia bukan hanya ingin diakui, sebagai naluri yang pasti dan utuh, melainkan dianugerahi dengan kesucian terhadap tuntunan kesusilaan pula.

Di depan saya melihat sesuatu bagaikan karya seni bangunan sempurna dengan segala unsur yang diterima secara harmonis untuk melengkapi dan menopang satu sama lain, tanpa ada sesuatu yang berlebihan atau kekurangan, suatu keseimbangan dan kedamaian yang memberikan kita perasaan bahwa segala sesuatu dalam pandangan dan tuntunan Islam adalah pada tempatnya yang alami.

Empat belas abad yang silam, seorang lelaki berdiri tegak dan berkata, “Aku hanyalah insan yang fana, tetapi Dia yang menciptakan jagat menunjukku menyampaikan amanah-Nya kepada kalian, ‘Hendaknya engkau dapat hidup menurut rencana penciptaan-Nya.’ Dia telah memerintahkanku supaya memperingatkan kalain akan wujud-Nya, Yang Mahakuasa dan Mahatahu, serta mengajarkan kepada kalian tuntunan kehidupan. Bila kalian menerima kerasulanku dan ajaran-ajaran-Nya, turutilah aku.” Inilah inti pengutusan Nabi Muhammad SAW.

Bagan sosial yang diutarakannya adalah kesederhanaan yang hanya sejalan dengan keluhuran sejati. Dimulai dari pangkal bahwa manusia adalah makhluk biologis dengan kebutuhan-kebutuhan biologis serta dikondisikan begitu rupa oleh penciptaan sehingga harus hidup dalam kelompok-kelompok agar dapat memuaskan rangkaian kebutuhan fisik, moral, dan intelektual. Pendek kata, mereka saling bergantung.

Semua syarat hukum Islam dipancarkan bagi kemanfaatan bersama anggota-anggota masyarakat tanpa mempedulikan perbedaan kelahiran, ras, jenis kelamin, ataupun persekutuan sosial sebelumnya. Tak ada keuntungan-keuntungan istimewa yang dicadangkan bagi pembangunan masyarakat ataupun keturunan-keturunannya. Tinggi rendah dalam pengertian sosial adalah istilah-istilah yang tidak dikenal, sedang konsep kelas tak ada dalam kamus Islam.

Segala hak, kewajiban, dan kesempatan dibagi sama di antara semua yang beriman dalam Islam.

Tak ada ketaatan yang diakui melebihi kepatuhan terhadap Tuhan, kepada nabi-nabi-Nya, dan orangtua....

Tak ada fanatisme kesukuan. Dan untuk hal itu Rasulullah SAW menegaskan berkali-kali, “Mereka yang membangkitkan permusuhan kesukuan bukanlah dari golongan kami, dan bukanlah dari pihak kami yang berperang karena pertikaian kesukuan, dan bukanlah dari golongan kami mereka yang mati karena peperangan kesukuan.”

Kurang dari satu abad sejak wafatnya Rasulullah SAW bentuk politik asli Islam mulai runtuh dan pada abad-abad sesudahnya program-program asli itu berangsur-angsur didesak ke sudut.

Selama suatu waktu pemikir-pemikir Islam berusaha menjaga ideologinya yang sejati agar tetap luhur dan murni, akan tetapi yang bermunculan sesudah mereka adalah manusia-manusia yang lebih rendah kemampuannya. Dan setelah perjalanan waktu dua-tiga abad, mereka berhenti berpikir, merasa puas dengan mengkaji ulang ungkapan-ungkapan dari generasi sebelumnya, melupakan bahwa setiap opini manusia memerlukan pembaharuan terus-menerus.

Dorongan-dorongan sejati Islam pada mulanya sangat dahsyat dan dalam beberapa masa cukup untuk membawa kesejahteraan bagi kaum muslimin ke puncak kejayaan kebudayaan ke arah pandangan ilmiah, hasil kesusastraan dan kesenian yang oleh ahli sejarah dinamakan zaman keemasan Islam. Namun dalam beberapa abad saja sesudahnya rangsangan untuk hal ini mati karena ketiadaan usaha spiritual dan peradaban kaum muslimin, yang semakin lama semakin lemah dan kehilangan tenaga kreatifnya.

Tak ada ilusi dalam diri saya tentang keadaan sekarang di kalangan dunia kaum muslimin. Empat tahun yang saya lewatkan di negeri-negeri itu memperlihatkan kepada saya bahwa, sementara Islam masih hidup, dan dapat diamati melalui penganut-penganutnya, tampak pula bahwa mereka bagaikan telah dilumpuhkan, sehingga tak menerapkan kepercayaan mereka menjadi tindakan yang dapat membuahkan hasil.

Akan tetapi yang lebih banyak menggelisahkan saya dibandingkan dengan kegagalan kaum muslimin sekarang dalam melaksanakan bagan Islam adalah potensialitas bagan itu sendiri. Cukup bagi saya untuk mengetahui bahwa dalam jangka waktu pendek tepat pada permulaan sejarah Islam, suatu percobaan yang berhasil telah diselenggarakan untuk menerapkan bagan itu ke dalam praktek, dan apa yang diterapkan pada suatu masa mungkin bisa diterapkan di lain masa. Saya bertanya kepada diri sendiri, apa gerangan sebabnya sehingga kaum muslimin menyeleweng dari ajaran sebenarnya dan tenggelam dalam kemalasan dan kebodohan?

Pintu sedang Menutup Perlahan-lahan
Labbaik Allahumma labbaik. Betapa seringnya saya mendengar seruan itu selama lima kali berziarah ke Makkah, dan saya mendengar kembali sekarang. Saya memejamkan mata, dan lenyaplah bulan dan bintang-bintang. Segala bunyi di padang pasir lenyap dan tak terdengar apa pun kecuali suara labbaik serta dengungan dan denyutan darah di telinga saya, menderu, mendenyut, dan mendebur bagaikan empasan-empasan ombak-ombak laut memukul di lambung kapal dan bagaikan deru mesin. Saya mendengar mesin menderu, merasakan getaran lambung kapal itu, dan mendegar seruan Labbaik Allahumma labbaik yang berasal dari orang-orang yang berada di atas kapal yang membawa saya ke perjalanan ziarah yang pertama hampir enam tahun yang lewat dari dari Mesir ke Arab.

Di atas kapal hanya ada jama’ah peziarah, demikian banyaknya sehingga hampir tidak  tertampung kapal itu. Perusahaan perkapalan, yang tamak akan keuntungan-keuntungan musim haji yang pendek, benar-benar mengangkut penumpang berlebih sampai para penumpang berdesak-desakan di pinggir kapal. Di geladak, kamar, dan lintasan-lintasan, di atas anak tangga, di ruang-ruang makan kelas satu dan dua, di gudang-gudang yang telah dikosongkan untuk maksud itu dan diperlengkapi loteng-loteng darurat, dalam setiap pojok dan tempat mana saja, manusia berimpit berdesak-desakan. Menyedihkan benar kelihatannya.

Betapa mereka berada di lantai-lantai geladak dalam kelompok-kelompok padat, laki-laki, perempuan, dan kanak-kanak, dengan sangat sukarnya mempersiapkan urusan kerumahtanggaan mereka, karena memang tidak  disediakan. Juga untuk kepentingan ibadah. Mereka melaksanakan ibadah shalat lima kali sehari dengan wudhu yang kekurangan air.

Betapa menderitanya mereka menahan udara di lambung kapal dua geladak di bawahnya, yang pada perjalanan lain hanya dipergunakan untuk muatan karung dan peti barang.

Siapa pun yang melihat akan mengakui betapa teguhnya iman mereka yang melakukan perjalanan haji itu. Mereka seolah tak merasakan penderitaan itu, terpukau oleh pikiran-pikiran tentang Makkah, hanya membicarakan perihal haji mereka. Mereka selalu mengucapkan Labbaik Allahumma labbaik.

Kira-kira pada tengah hari kedua, peluit kapal berbunyi. Ini adalah tanda yang mengisyaratkan bahwa kami telah sampai di garis lintang Rabigh, sebuah pelabuhan di utara Jeddah. Kaum peziarah yang datang harus menanggalkan pakaian mereka sehari-hari dan mengenakan pakaian ihram.

Baju itu terdiri dari dua helai kain katun putih yang tidak dijahit dan salah satunya harus dililitkan pada pinggang, mencapai bawah lutut, sedang yang lain disandang bebas pada pundak dan kepala, dibiarkan tak tertutup.

Tak ada perbedaan ras dan bangsa, kaya dan miskin, tinggi dan rendah. Mereka merasa sebagai sesama saudara, sama di hadapan Tuhan. Maka lenyaplah segala pakaian warna-warni dari kapal kami.

Di waktu fajar menyingsing pada hari ketiga, kapal melabuhkan sauh di pantai Arab. Kebanyakan kami berdiri di pinggiran dan memandang daratan yang perlahan-lahan muncul tersembul di balik kabut pagi.

Sekali lagi seruan Labbaik Allahumma labbaik terdengar, teriakan gembira penyerahan diri kaum peziarah berselubung putih di perahu yang menuju dataran tempat harapan-harapan luhur sedang memanggil.... Harapan mereka dan harapan saya, karena bagi saya terlihatnya pantai Arab merupakan puncak dari masa-masa pencarian saya.

Kemudian kami melihat tuan rumah bersayap putih meluncur ke arah kami dari daratan, itulah perahu-perahu pantai Arab. Dengan layar merentang kencang, mereka meluncur di atas laut yang licin dengan lembut tanpa bersuara, membelit-belitkan jalannya di sela-sela batu karang. Utusan pertama dari Arab siap menerima kami.

Mereka semakin mendekat, dan akhirnya kumpul bersama tiang-tiang yang berayun-ayun di lambung kapal. Dan setelah sesaat, terdengar gaduh teriakan-teriakan di tengah-tengah mereka, teriakan awak perahu yang membanjiri lambung kapal untuk mengangkut muatan para peziarah dan penumpang-penumpang itu, yang diselimuti perasaan suka cita melihat Tanah Suci.

Bagi diri saya, saya sadar telah meninggalkan Barat dan hidup di kalangan kaum muslimin, akan tetapi saya tidak tahu bahwa saya sedang meninggalkan seluruh masa lampau saya di belakang. Tanpa suatu peringatan, dunia lama saya telah berakhir. Dunia ide, perasaan, usaha, dan bayangan Barat. Sebuah pintu sedang menutup perlahan-lahan di belakang saya, demikian perlahannya sehingga saya tak sadar, saya mengira ini hanyalah seperti semua perjalanan sebelumnya, manakala kita mengembara di negeri-negeri asing, selalu akan kembali ke masa lampau kita, namun ternyata itu semua harus diubah seluruhnya sekaligus.

Ihsan M. Rusli

Tuturan Al-Ghazali tentang Haji



PDF Print E-mail

Jika engkau ingin ziarahmu diterima, pertama-tama laksanakan perintah-perintah-Nya, kembalikanlah apa-apa yang diperoleh dengan zhalim, bertaubatlah kepada-Nya dari semua maksiat, dan putuskanlah keterkaitan hatimu dengan selain Dia, agar engkau menghadap kepada-Nya dengan wajah hatimu sebagaimana engkau menghadap kepada rumah-Nya dengan wajah tubuhmu.

Hujjatul Islam Al-Ghazali telah menghabiskan puluhan halaman dari kitabnya, Al-Ihya`, untuk berbicara tentang haji dengan pembicaraan yang panjang lebar yang dipenuhinya dengan uraian dan bahasan secara terperinci.
Ia membagi pembicaraannya menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah amalan-amalan zhahir haji, yang mana ia mengarahkan pembicaraannya kepada kaum muslim secara umum yang tidak dapat mencapai rahasia-rahasia yang dalam dan pembahasan-pembahasan yang terperinci.
Pada bagian kedua, ia berbicara tentang rahasia-rahasia haji, tujuan-tujuannya, dan maksud-maksudnya, yang mana ia menyelami makna-makna yang dalam yang digalinya dari amalan-amalan haji. Dan tampaknya ia menujukan pembicaraannya yang khusus ini kepada orang-orang yang mampu menyelami hal-hal yang mendalam, naik ke cakrawala yang luas, agar dapat menyerap pelajaran-pelajaran dan nasihat-nasihat yang sangat bagus, sehingga bertambahlah hubungan mereka dengan Tuhannya dan bertambah pula pengenalannya tentang hak-Nya terhadap mereka.

Dengan Persiapan yang BaikDalam kitab monumentalnya, Ihya’ `Ulumiddin, Imam Al-Ghazali mengisahkan perjalanan seorang alim yang shalih yang sedang menempuh perjalanan haji. Namanya Ali bin Al-Muwaffaq.
Dikisahkan demikian, “Pada suatu malam, tanggal 8 malam 9 Dzulhijjah (malam hari Arafah) ia tertidur di Masjid Al-Khaif Mina. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat sedang berdialog. Malaikat yang satu berbicara kepada malaikat yang lain, “Hai teman, tahukah engkau berapa banyak orang yang pergi haji tahun ini?”
Malaikat yang lain menjawab, “Tidak tahu!”
Kemudian temannya tadi memberi tahu bahwa mereka itu jumlahnya mencapai 600.000 jama’ah.
Kemudian ditanya lagi, “Tahukah kamu berapa orang di antara mereka itu yang meraih haji mabrur?”
“Tidak tahu!” jawab temannya.
Kemudian temannya itu menjelaskan bahwa yang meraih haji mabrur hanya enam orang.
Sampai dialog ini, dua malaikat itu pun pergi.
Setelah itu Ali bin Al-Muwaffaq pun terbangun dari tidurnya dengan penuh penasaran, sedih, dan gelisah. Dalam hatinya ia bertanya, “Jika hanya enam orang yang diterima hajinya dari 600.000 jama’ah, apakah aku bisa masuk yang enam orang itu?”
Demikianlah ia terus-menerus merenungkan dan berusaha mencari tahu makna di balik mimpinya itu. Selanjutnya ia berusaha melakukan ibadah hajinya dengan sebaik mungkin agar berhasil masuk dalam kelompok enam yang hajinya mabrur tersebut.
Kisah ini tidak diketahui kapan terjadinya dan seberapa jauh kebenarannya. Tetapi yang jelas, Al-Ghazali, yang dikenal sebagai ulama yang amat termasyhur dan mendapat julukan Hujjatul Islam, telah mencatat dalam kitabnya yang amat monumental dan berpengaruh di kalangan orang-orang yang mendalami masalah-masalah spiritualitas.
Sekurang-kurangnya yang dapat diambil hikmah dari kisah tersebut adalah agar setiap orang yang menunaikan ibadah haji selalu menata dan meluruskan niatnya, melakukan ibadah hajinya dengan baik dan benar serta selalu berusaha dan berdoa agar ibadahnya diterima oleh Allah SWT. Ya, seorang yang akan menunaikan ibadah haji seharusnya melakukan persiapan lahir dan bathin dengan sebenar-benarnya. Karena, perjalanan haji bukanlah perjalanan wisata, melainkan ibadah multidimensi dalam arti sesungguhnya.
Dalam kitab monumentalnya itu, Al-Ghazali memang secara khusus berbicara panjang lebar tentang ibadah yang istimewa ini. Ia memulai bahasannya tentang haji dengan pembukaan yang bersajak yang menyerupai mukadimah khutbah mimbar. Dalam khutbahnya, ia mengatakan, “Segala puji bagi Allah, Yang telah menjadikan kalimat tauhid sebagai tempat berlindung dan benteng untuk hemba-Nya, menjadikan Bait Al-`Atiq sebagai tempat yang aman untuk pertemuan (berkumpulnya) manusia, memuliakannya dengan menisbahkannya kepada diri-Nya dengan suatu kemuliaan, penjagaan, dan keamanan. Allah menjadikan ziarah ke tempat itu dan thawaf di sana sebagai penghalang antara seorang hamba dan siksa. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, nabi pembawa rahmat dan pemimpin umat. Begitu juga kepada keluarganya dan sekalian sahabatnya sebagai pemimpin-pemimpin kebenaran dan pemuka manusia.”
Setelah mengawalinya dengan pembukaan yang indah, Al-Ghazali pun mulai memasuki pembahasannya yang terperinci dan mendalam tentang ibadah yang sangat istimewa ini.
Allah berfirman dalam surah Al-Hajj, yang artinya, “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS Al-Hajj: 27). Sedangkan Rasulullah SAW bersabda, “Haji mabrur itu lebih baik daripada dunia dan isinya, dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.”
Pusat pelaksanaan ibadah haji berlangsung di kota Makkah, kota paling suci di muka bumi. Ia negeri Allah yang mulia dan tempat diutusnya Nabi-Nya SAW. Betapa sangat mulia dan terhormatnya Makkah, sehingga tidak ada suatu negeri pun di mana seseorang akan dihukum walaupun baru berniat (berbuat jahat) dan belum melakukannya kecuali Makkah. Allah SWT mengatakan dalam surah Al-Hajj, yang artinya, “Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zhalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.” (QS Al-Hajj: 25). Jadi, orang itu akan dihukum di sini dengan berniat jahat saja.
Rasulullah SAW juga berkata yang ditujukan kepada Makkah, “Sesungguhnya engkau bumi Allah terbaik dan negeri Allah yang paling aku cintai.”
Setelah Makkah, yang paling mulia adalah Madinah. Mengenai masjidnya di kota ini, Rasulullah bersabda, “Satu kali shalat di masjidku ini lebih baik daripada seribu kali shalat di tempat lain kecuali di Masjid Haram.”
Mengenai pelaksanaan haji itu sendiri, walaupun Al-Ghazali berpendapat bahwa pelaksanaan haji dapat ditunda beberapa waktu (tidak harus segera), ia mengatakan, “Barang siapa memiliki kemampuan, ia wajib menunaikan haji. Dan ia dapat menundanya, tetapi hal ini mengandung bahaya. Apabila ia memiliki kemudahan walaupun di akhir umurnya (dan ia tidak menunaikan haji), ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan sebagai seorang yang bermaksiat karena meninggalkan haji. Jika ada peninggalannya, ia harus dihajikan dengannya sekalipun ia tidak mewasiatkannya, sebagaimana utang-utangnya yang lain.
Seandainya seseorang memiliki kemampuan di dalam suatu tahun tetapi ia tidak berangkat bersama orang-orang dan kemudian hartanya itu binasa pada tahun itu juga sebelum orang-orang itu menunaikan haji (yakni, mereka masih dalam perjalanan), kemudian ia mati, ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki kewajiban haji atasnya. Barang siapa mati dan belum menunaikan haji padahal memiliki kemudahan, hal itu sangat berat di sisi Allah.
Umar RA pernah mengatakan, ‘Aku ingin menulis surat kepada negeri-negeri agar dikenakan pajak terhadap orang yang memiliki kemampuan tetapi tidak menunaikan haji.’ Dari Sa`id bin Jubair, Ibrahim An-Nakha`i, Mujahid, dan Thawus, dikatakan, ‘Barang siapa mati dalam keadaan belum membayarkan zakat dan belum menunaikan haji, ia minta dikembalikan ke dunia dan ia membaca firman Allah, yang artinya: Ya Allah, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan’.” (QS Al-Mu`minun: 99-100).
Harap-harap Cemas
Rukun-rukun haji itu ada lima, yaitu ihram, wuquf, thawaf, sa`i, dan bercukur. Sedangkan yang diharamkan dilakukan ketika berhaji adalah memakai pakaian yang berjahit, memakai wangi-wangian, mencukur rambut atau mengguntingnya, melakukan hubungan suami-istri dan pendahuluan-pendahuluannya, serta membunuh buruan darat yang dapat dimakan.
Amalan-amalan haji yang bersifat zhahir sebagaimana pendapat Hujjatul Islam Al-Ghazali adalah sebagai berikut:
Pertama, memulai maksud menunaikan haji dengan bertaubat, membayar utang-utang, mengembalikan barang-barang yang didapat dengan berbuat zhalim kepada pemiliknya, mengembalikan titipan-titipan dan amanah-amanah kepada yang berhak, dan menyiapkan nafkah bagi orang-orang yang wajib ia nafkahi selama ia melakukan perjalanan sampai ia kembali kepada mereka.
Kedua, mengambil teman yang baik dalam perjalanannya, yang membantunya untuk melakukan kebaikan dan mengingatkannya akan sesuatu yang membuat Allah menjadi ridha.
Ketiga, ketika akan berangkat dari rumahnya, hendaknya ia berdoa kepada Allah dengan ikhlas seperti membaca doa-doa yang biasa dibaca saat akan melakukan perjalanan kemana saja.
Keempat, berniat ihram dan memulai talbiyah dengan mengucapkan Labbaik, Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Innal-hamda wan-ni`mata laka wal-mulk, la syarika lak.
Betapa dalam makna falsafah ihram dan makna talbiyah. Mengenai hal ini Al-Ghazali menuturkan, “Ihram dan talbiyah dari miqat, maknanya adalah memenuhi panggilan Allah. Karena itu, berharaplah agar ia diterima dan takutlah apabila dikatakan kepadamu, ‘Engkau tidak memenuhi panggilan dan engkau tidak memperoleh kebahagiaan.’ Jadilah engkau senantiasa berada di antara harapan dan rasa takut (harap-harap cemas), berlepas dirilah dari sekelilingmu dan kekuatanmu, dan berpeganglah kepada anugerah dan kemurahan Allah. Sesungguhnya waktu talbiyah merupakan awal dari ibadah ini dan tempat talbiyah itu merupakan tempat yang penting.”
Sufyan bin Uyainah mengisahkan, “Suatu ketika Ali bin Al-Husain menunaikan haji. Ketika ia berihram dan menaiki untanya, menjadi menguning tubuhnya. Ia pun menggigil, gemetar, dan tidak dapat bertalbiyah. Lalu ia ditanya, ‘Mengapa engkau tidak bertalbiyah?’
Ia menjawab, ‘Aku takut akan dikatakan kepadaku: Engkau tidak memenuhi panggilan dan engkau tidak memperoleh kebahagiaan.’
Ketika bertalbiyah, ia pingsan dan jatuh dari untanya. Hal itu terus menimpanya sampai ia menyelesaikan hajinya.”
Ahmad bin Abi Al-Hawari berkata, “Aku bersama dengan Abu Sulaiman Ad-Darani ketika ia hendak berihram. Ia tidak bertalbiyah sampai kami berjalan sejauh satu mil. Kemudian ia pingsan, lalu tersadar. Setelah itu ia berkata, ‘Wahai Ahmad, telah sampai keterangan kapadaku bahwa barang siapa berhaji dengan harta yang tidak halal kemudian ia bertalbiyah, Allah akan berkata kepadanya: Tidak ada talbiyah bagimu, tidak ada kebahagiaan bagimu sampai engkau mengembalikan apa yang berada di tanganmu.’ Maka jangan sampai dikatakan demikian kepada kita.”
Ya, semakin manusia mencapai puncak keimanannya kepada maqam yang sangat tinggi, semakin ia merasa takut kepada Allah SWT. Dan sebaliknya, semakin rendah kedudukan manusia, semakin tidak punya rasa takut kepada Allah SWT. Karena itu, kita melihat bagaimana Rasulullah SAW setiap harinya senantiasa beristighfar puluhan kali bahkan ratusan kali kepada Allah SWT.
Ketika mengangkat suaranya dengan membaca talbiyah di miqat, hendaknya seseorang ingat bahwa ia memenuhi seruan Allah, karena Dia mengatakan, yang artinya, “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji.” (QS Al-Haj: 27). Hendaknya ia juga mengingat bagaimana manusia diseru dengan ditiupkannya terompet, dibangkitkannya mereka di kubur-kubur mereka, dan berdesak-desakannya mereka di hari Kiamat memenuhi seruan Allah. Mereka terbagi menjadi orang-orang yang didekatkan dan orang-orang yang ditolak.
Mereka pada awalnya harap-harap cemas, antara takut dan berharap, seperti harap-harap cemasnya orang yang sedang berhaji di miqat, yang mana ia tidak tahu apakah mudah bagi mereka untuk menyempurnakan haji ataukah tidak, apakah hajinya diterima atau tidak.
Rukun selanjutnya adalah thawaf di sekeliling Ka`bah. Thawaf ini seperti shalat, tetapi di dalam thawaf kita dibolehkan berbicara. Thawaf dilakukan tujuh kali putaran, dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di sana pula. Kemudian melakukan sa`i di antara Shafa dan Marwah tujuh kali balik.
Rukun lainnya adalah wuquf di Arafah. Inilah rukun haji yang terpenting. Dalam sebuah hadits dikatakan, “Haji itu adalah wuquf di Arafah.” Pada saat wuquf di Arafah ini sepatutnya setiap orang banyak berdoa.
Setelah itu bermalam di Muzdalifah pada malam nahar (malam Hari Raya), dilanjutkan dengan melontar jumrah di Mina. Kemudian melakukan thawaf ifadhah, yang dinamakan juga thawaf ziarah.
Seseorang dapat melakukan umrah sesudah melakukan haji atau sebelumnya.
Yang juga tak dapat dipisahkan dari pelaksanaan ibadah haji adalah menziarahi Madinatur Rasul. Sebuah hadits mengatakan, “Barang siapa datang mengunjungiku dan tujuannya hanya untuk mengunjungiku, menjadi hak Allah bahwa aku menjadi pemberi syafa’at baginya.”
Setelah itu menikmati shalat di Raudhah (taman), yang suci. Tentang Raudhah, Rasulullah mengatakan, “Di antara kuburku dan mimbarku terdapat taman dari taman-taman surga, dan mimbarku berada di atas telaga.”
Adab BerhajiMengenai adab yang harus diperhatikan seorang yang menunaikan haji, Al-Ghazali menuturkan:
Di antara adab yang paling penting dalam perjalanan ini adalah seseorang mengkhususkan dirinya untuk melakukan haji dan memutuskan segala hubungannya dengan dunia. Itu dilakukan dengan melakukan taubat yang murni semata-mata karena Alah dari semua perbuatan maksiat dan kezhaliman. Karena, setiap kezhaliman itu merupakan pengait dan setiap pengait itu seperti musuh yang memberikan pinjaman dan ia akan mengait ke arah seseorang dan akan berkata, “Ke mana engkau menghadap, wahai Fulan? Apakah engkau menuju ke Rumah Allah, Raja dari segala raja, sedangkan engkau menyia-nyiakan perintah-Nya di rumahmu dan mengabaikan-Nya? Tidakkah engkau malu bahwa engkau datang kepada-Nya sebagaimana datangnya seorang hamba yang suka bermaksiat, lalu Dia akan menolakmu dan tidak menerimamu?
Jika engkau ingin ziarahmu diterima, pertama-tama laksanakan perintah-perintah-Nya, kembalikanlah apa-apa yang diperoleh dengan zhalim, bertaubatlah kepada-Nya dari semua maksiat, dan putuskanlah keterkaitan hatimu dengan selain Dia, agar engkau menghadap kepada-Nya dengan wajah hatimu sebagaimana engkau menghadap kepada rumah-Nya dengan wajah tubuhmu.
Jika engkau tidak melakukan itu, engkau tidak mendapatkan apa-apa dari perjalananmu kecuali kelelahan dan kesengsaraan, lalu pencampakan dan penolakan.
Apabila seorang yang menunaikan haji membeli dua pakaian ihram, hendaklah ketika itu ia ingat akan kain kafan dan ingat pula bahwa ia akan dibungkus dengannya. Sesungguhnya ia akan mengenakan dua pakaian ihram ketika dekat dengan Baitullah dan barangkali belum sempat menyempurnakan perjalanannya kepada-Nya tiba-tiba ia sudah harus menjumpai Allah dalam keadaan dibungkus dengan kain kafan. Sebagaimanan ia tidak menjumpai rumah Allah kecuali dalam keadaan berbeda dengan kebiasaannya dalam berpakaian, maka ia juga tidak menjumpai Allah setelah mati melainkan dengan pakaian yang berbeda dengan pakaian dunia. Pakaian ihram ini mirip dengan pakaian untuk kafan, yaitu tidak ada jahitannya.
Di antara kedalaman-kedalaman ibadah haji adalah bahwa ketika seseorang berangkat dari negerinya hendaknya ia berpisah dengan keluarganya dan tanah airnya dalam rangka menghadap Allah dalam suatu perjalanan yang tidak sama dengan perjalanan-perjalanan dunia. Hendaknya ia hadirkan di dalam hatinya apa yang ia inginkan: Ke mana ia menghadap dan siapa yang ditujunya.
Hendaknya ia menyadari bahwa ia menghadap kepada Pemelihara dari segala pemelihara dalam rombongan orang-orang yang diseru lalu mereka memenuhinya, memutuskan segala hubungan, berpisah dengan orang-orang, dan mendatangi Baitullah, yang Allah agungkan dan tinggikan kedudukannya, sampai ia memberikan kepada mereka puncak cita-cita mereka dan mereka berbahagia dengan memandang kepada Pelindung mereka.
Hendaklah ia hadirkan di dalam hatinya harapan akan sampainya dan diterimanya amalnya, tidak tertipu dengan amal-amalnya, tidak merasa mulia dengan keberangkatanya, dan tidak merasa bangga dengan meninggalkan keluarganya dan hartanya. Melainkan percaya dengan anugerah Allah SWT dan berharap Dia mewujudkan janji-Nya bagi orang yang menziarahi Rumah-Nya, dan berharap, apabila ia tidak sampai ke rumah dan menemui ajalnya di dalam perjalanan, ia akan berjumpa dengan Allah sebagai orang yang mendatangi-Nya, sebagaimana yang Allah katakan dalam surah An-Nisa`, yang artinya, “Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nisa’: 100).
Filosofi Haji
Al-Ghazali menjelaskan falsafah dari masuknya orang yang menunaikan haji ke Makkah. Di sini kecenderungan harapan dalam jiwa seseorang lebih menonjol dibandingkan kecenderungan rasa takutnya. Ketika seseorang memasuki Makkah untuk menunaikan haji, hendaknya ia ingat bahwa ia telah sampai ke Tanah Haram dengan aman. Di saat itu hendaknya ia berharap bahwa dengan memasukinya ia akan aman dari siksa Allah. Hendaknya ia berharap bahwa dengan memasukinya ia akan aman dari siksa Allah. Namun hendaknya juga ia merasa takut apabila ia tidak mendapatkan kedekatan dengan Allah yang membuat masuknya ia ke Tanah Haram menjadi sia-sia dan mendapatkan murka.
Hendaknya harapannya ada di sepanjang waktu. Kemurahan Allah itu merata, Tuhan itu Maha Penyayang, kemuliaan Baitullah itu sungguh besar, hak orang yang berziarah itu dijaga, dan orang yang meminta pertolongan dan perlindungan itu tidak akan disia-siakan.
Apabila pandangan seseorang tertuju kepada Ka`bah, hal itu akan menghadirkan keagungan Baitulah di dalam hatinya. Al-Ghazali berkata kepada orang yang memandangnya, “Berharaplah agar Allah memberikan rizqi kepadamu dapat melihat wajah-Nya yang mulia sebagaimana Dia telah memberi rizqi kepadamu dapat memandang Rumah-Nya yang agung. Bersyukurlah kepada-Nya karena Dia menyampaikanmu pada kedudukan ini dan menggabungkanmu dalam kelompok orang-orang yang mendatangi-Nya. Di saat itu ingatlah bagaimana manusia digiring pada hari Kiamat menuju surga, yang mana mereka terbagi-bagi ke dalam orang-orang yang diberikan izin untuk memasukinya dan orang-orang yang dipalingkan, sebagaimana terbagi-baginya para jama’ah haji menjadi orang-orang yang diterima dan yang ditolak hajinya. Dan teruslah mengingat perkara-perkara akhirat dalam segala yang dilihat, karena segala hal ihwal haji menunjukkan hal ihwal akhirat.
Kemudian ketika melaksanakan thawaf di Baitullah, hendaknya ingat bahwa thawaf adalah seperti shalat, sehingga hadirkanlah dalam qalbu keagungan Allah, rasa takut dan rasa harap kepada-Nya, dan seluruh perasaan cinta kepada-Nya. Dengan melaksanakan thawaf, jama’ah haji mirip para malaikat yang mendekatkan diri kepada Allah dan mengelilingi seputar arasy.
Janganlah berpandangan bahwa thawaf adalah semata-mata mengelilingi Ka`bah dengan tubuh, melainkan thawaf juga dengan qalbu dan senantiasa ingat kepada Allah. Dengan demikian, kita memulai berpikir dan mengakhirinya karena Allah.
Ketika mencium Hajar Aswad, hendaknya yakin sedang menjalin sumpah kesetiaan dengan Allah dan akan mematuhi-Nya.”
Manakala kita telah rampung melaksanakan thawaf dan kemudian menuju Bukit Safa untuk melaksanakan sa`i, Al-Ghazali berpesan, “Laksanakanlah sa`i laksana bolak-baliknya seorang hamba di halaman istana seorang raja. Hamba itu datang dan pergi berkali-kali untuk menyatakan ketulusan pengabdiannya dan mendambakan perhatian dengan pandangan kasih sayang, laksana orang yang masuk dan keluar dalam menghadap seorang raja. Sedangkan ia tidak tahu apa yang akan ditetapkan sang raja terhadap dirinya, yakni diterimakah atau ditolak. Kalau gagal pada kali pertama, ia berharap meraih kasih sayang pada kali kedua.”
Al-Ghazali terus memberikan penjelasan filosofisnya yang mendalam dalam menggambarkan amalan-amalan zhahir haji, agar para jama’ah haji memiliki kedalaman-kedalaman dan rahasia-rahasia bathin, sebagaimana kita melihat hal itu dalam pembicaraannya tentang melontar jumrah. Ia mengatakan: Adapun mengenai melontar jumrah, maksudkanlah dengannya untuk patuh kepada perintah dan menunjukkan penghambaan dan perjalanan kita semata-mata karena menjalankan perintah. Kemudian tujukanlah dengannya mengikuti Nabi Ibrahim ketika dibujuk oleh iblis di tempat itu untuk melakukan maksiat lalu Allah menyuruhnya agar melemparnya dengan batu untuk mengusirnya dan memutuskan harapannya.
Seandainya terlintas pada benakmu bahwa setan membujuknya (Nabi Ibrahim) dan ia menyaksikannya sehingga ia pantas melemparnya sedangkan engkau tidak dibujuk oleh setan, ketahuilah bahwa pikiran ini berasal dari setan dan ia yang memasukkan di dalam hatimu untuk melemahkan niatmu dalam melontar dan membisikkan kepadamu bahwa itu suatu perbuatan yang tidak ada manfaatnya dan bahwa itu seperti permainan sehingga engkau tidak perlu menyibukkan diri dengannya, usirlah dia dari dirimu dengan sungguh-sungguh dan dengan sigap dalam melontarnya. Ketahuilah, pada lahirnya engkau melontar batu-batuan ke Aqabah, padahal pada hakikatnya engkau melontar dengan batu-batuan itu wajah setan dan menghancurkannya. Jadi, ia tidak dapat dikalahkan kecuali engkau melaksanakan perintah Allah sebagai pengagungan kepada-Nya dengan semata-mata mematuhi perintah-Nya tanpa memikirkan diri sendiri dan akal.
Apabila seseorang yang menunaikan haji mengunjungi kota Rasul, hendaklah ketika melihatnya ia ingat bahwa itulah kota yang Allah pilih untuk Nabi-Nya, yang Dia jadikan sebagai tempat hijrah beliau. Di sana beliau berjuang menghadapi musuhnya dan menampakkan agamanya sampai beliau wafat menghadap Allah. Kemudian Dia menjadikan jasadnya berada di sana. Begitu juga dengan jasad dua orang pembantunya yang menjalankan kebenaran, Abu Bakar dan Umar.
Hendaknya seorang yang berhaji membayangkankan dalam dirinya tempat-tempat pijakan kaki Rasulullah ketika berjalan di sana. Tidakkah setiap pijakan kaki melainkan merupakan tempat pijakan-pijakan kaki beliau yang mulia, sehingga seorang yang berhaji tidak meletakkan kakinya melainkan dengan tenang dan dengan khawatir, serta ingat bagaimana berjalannya Rasulullah dan ketenangannya dalam berjalan, juga mengingat bagaimana Allah memasukkan di dalam hati beliau ma’rifat yang agung kepada-Nya dan meninggikan sebutannya sehingga Dia menyertakannya dengan sebutan terhadap diri-Nya, dan bagaimana Allah akan memberikan hukuman kepada orang yang mencederai kehormatannya walaupun sekadar meninggikan suaranya di atas suara beliau. Hendaknya ia juga mengingat bagaimana Allah menggembirakan orang-orang yang menjadi sahabat beliau dengannya dan mereka berbahagia dapat menyaksikan beliau dan mendengar perkataannya.
Hendaknya ia merasa menyesal karena tidak dapat bersahabat dengan Rasulullah dan para sahabatnya. Hendaknya ia mengingat bahwa, setelah ia tidak dapat melihatnya di dunia, kesempatan untuk melihatnya di akhirat pun masih mengkhawatirkan (belum dapat dipastikan). Karena, buruknya amal seseorang dapat menghalanginya untuk berjumpa dengannya sebagaimana yang beliau katakan, “Allah mengangkat kepadaku beberapa kaum, lalu mereka berkata, ‘Wahai Muhammad, wahai Muhammad.’
Lalu aku berkata, ‘Wahai Tuhan, mereka para sahabatku.’
Tuhan berkata, ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan setelah engkau tiada.’
Maka aku katakan, ‘Menjauhlah mereka dariku’.”
Seandainya engkau tinggalkan kehormatan syari’atnya walau hanya semenit, janganlah engkau merasa aman bahwa engkau tak akan terhalang dari beliau karena penyimpanganmu dari jalannya. Walaupun demikian, besarkanlah harapanmu bahwa Allah tidak akan menghalangi antara engkau dan beliau setelah ia memberikan rizqi keimanan kepadamu dan memberangkatkanmu dari tanah airmu untuk menziarahi beliau tanpa niat untuk berdagang dan tanpa mengharapkan bagian dunia, melainkan semata-mata karena kecintaanmu kepada beliau dan kerinduanmu untuk melihat peninggalan-peninggalannya dan dinding makamnya. Apabila engkau menyerahkan dirimu dalam perjalanan semata-mata untuk itu, wajarlah jika Allah memandangmu dengan pandangan kasih sayang.

Ali Yahya

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"









"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog