Jumat, 07 Mei 2010

Drs KH Ahmad Nur Alam Bakhtir

Drs KH Ahmad Nur Alam Bakhtir, Anggota Dewan yang Juru Dakwah


Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta, Nur Alam Bakhtir, memiliki kekhususan tersendiri. Selain terkenal vokal dalam mengkritisi setiap kebijakan Pemprov DKI, pria bertubuh tinggi dan selalu memakai peci ini juga pandai dalam berdakwah. Bahkan dia rela menghabiskan waktunya untuk memberi ceramah agama di sejumlah Masjid di ibu kota.

Politisi PKB ini mengaku sudah menjalankan aktivitas itu sejak lulus kuliah tahun 1983. Lulus dengan predikat terbaik dan tercepat memberi motivasi tersendiri untuk mengaplikasikan dan mentransfer ilmu yang ia peroleh kepada masyarakat. “Ilmu yang kita dapat akan lebih bermanfaat jika dipahami dan dilaksanakan orang lain,” kata Nur Alam yang juga menjabat Ketua Badan Kehormatan DPRD DKI Jakarta itu santun.

Pria kelahiran Kuningan 28 Februari 1957 ini sering memberikan ceramah di sejumlah Masjid dan Musholla di lima wilayah Jakarta. Tidak hanya di masjid, Ketua Dewan Tanfidz PKB Jakarta Utara ini juga sering memberikan dakwah di lingkungan pemerintahan, seperti Mabes Polri dan lingkungan Pemprov DKI Jakarta. Bahkan, wajah suami Hj Lilies Nurmawati sudah sangat akrab bagi jamaah Masjid Istiglal dan Sunda Kelapa.

Ayah empat orang anak ini sering tidak mempedulikan jauhnya lokasi untuk berdakwah. Dia pernah memberikan dakwah sampai ke pelosok daerah terpencil, seperti Biak, Lhokseumawe, dan Sulawesi.

Jika mengacu pada latar belakang pendidikan dan pengalaman organisasi yang dimilikinya, kemampuan sebagai juru dakwah handal yang dimilikinya sangat wajar.

Sebab, selain lulusan IAIN, pria yang fasih berbahasa Arab ini juga eksis sebagai pengurus di sejumlah organisasi Islam. Pria yang memiliki hobi bulutangkis ini pernah menjabat sebagai pengurus, Sekretaris Umum Masjid Sunda Kelapa sejak tahun 1982. Bahkan, kini dia memegang jabatan sebagai Dewan Pakar di masjid tersebut. Selain itu, dia juga menjabat sebagai Ketua Forum Da’i DKI Jakarta.

Anggota dewan periode 2004-2009 ini menjelaskan kegiatan ceramah ini bisa dilakukan sebanyak 3-4 kali/hari. Bahkan, kalau bulan puasa, frekuensinya bisa meningkat mencapai 100 kali lebih selama sebulan penuh. Namun, dia mengaku keterbatasan waktu yang dimilikinya membuat frekuensi kegiatan memberikan siraman rohani ini kini mulai berkurang. “Apalagi sejak menjadi anggota dewan. Sekarang minimal satu atau dua kali sehari,” tuturnya.

Pria yang berdomisili di Jl. Cipeucang II, 19, Koja, Jakarta Utara ini, juga memiliki moto hidup yang patut dijadikan panutan. Sejak kecil, dia selalu menerapkan prinsip kemandirian. Hal itu terlihat dalam setiap tindakan dan keputusan yang ia ambil.

Lalu apa obsesinya menjadi anggota dewan? Dengan tenang tapi pasti dia menjawab: “Memberikan nasehat kepada orang lain secara normatif sudah terpenuhi karena setup harinya saya sering bertemu orang, mulai dari lapisan bawah sampai ke tingkat Jenderal. Namun, saya ingin tahu perjuangannya secara praktis seperti apa? Karena itu, saya ingin menjadi anggota dewan dan membantu menjawab aspirasi dan masalah yang di hadapi masyarakat”.

Sejak menjabat sebagai anggota dewan setahun lalu, saya banyak melihat permasalahan di bawah yang belum terpecahkan. Dia mencontohkan, masalah rendahnya insentif yang diterima RT/RW setiap bulannya. Selain itu, juga ada masalah rendahnya tingkat kesejahteraan guru madrasah dibanding guru sekolah umum lainnya. “Saya mencoba untuk memperjuangkan hal ini,” jelas pria yang suka olah raga senam ini.

Namun, faktor utama yang membuat dia ingin menjadi wakil rakyat, yaitu gerakan ekslusifisme. Menurutnya, gerakan ini dalam jangka panjang akan sangat membahayakan kesatuan bangsa. Kebersamaan, pluralisme, demokratisasi harus diperjuangkan tidak hanya sekedar teori normatif, tapi diperjuangkan secara realitas. Dan, perjuangan yang paling utama, yaitu memberikan pemahaman dan saling memahami. Jika hal itu diterapkan, maka akan tercipta kebersamaan dan toleransi antarumat beragama.(beritajakarta)

Riwayat Hidup Singkat

Nama: Nur Alam Bakhtir
Tempat/Tgl Lahir: Kuningan, 28 Februari 1957
Alamat: Jl. Cipeucang II, 19, Koja, Jakarta Utara
Pengalaman Organisasi: Ketua Dewan Tanfidz PKB Jakarta Utara, PMII, Sekretaris LDNU DKI, Forum Silaturahmi Da´i Jakarta, Ketua Dewan Masjid Jakarta, Dewan pakar MUI Jakarta Utara.
Pendidikan Terakhir: Sarjana IAIN
Nama Istri: Lilis Nurmawati
Nama Anak: Dina Fardiana Ulfah,
Yani Hijriani,
Ghozi Aufa,
Rifa Arifah

Paku Buwono XII

Paku Buwono XII (1925-2004), Sinuhun Hamardika Wafat


Sri Susuhunan Paku Buwono (PB) XII, meninggal dunia Jumat 11 Juni 2004 pukul 08.15 WIB di Rumah Sakit Dr Oen. Raja Keraton Kasunanan Surakarta yang sebelumnya bernama Raden Mas Gusti Suryo Guritno dinobatkan menjadi raja tanggal 12 Juli 1945, pada usia 20 tahun, dengan gelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Paku Buwono Senopati Ing Ngalago Abdurahman Sayidinan Panatagama XII, kemudian disingkat Paku Buwono (PB XII). Ia raja terlama dalam Dinasti Mataram.

Sinuhun, panggilan akrab PB XII, beberapa hari terakhir mengalami koma dan menjalani perawatan intensif di ruang gawat darurat di rumah sakit itu, sejak Senin (7/6/2004). Sejumlah tenaga medis dari Jakarta termasuk dari RS Pertamina sebelumnya didatangkan untuk ikut menangani sakit yang diderita Sinuhun. Menurut pihak keluarga kondisi kesehatan raja terganggu akibat kelelahan setelah menjalani sejumlah aktivitas.

Sekretaris pribadi Paku Buwono XII, Sulistyo Wibowo mengatakan, Sinuhun akan dimakamkan di kompleks pemakaman raja-raja Mataram, di Imogiri, DI Yogyakarta, Senin 21 Juni 2004. Sinuhun meninggal pada usia 79 tahun. Putra bungsu Paku Buwono XI dengan permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Pabu Buwono, putri Kanjeng Pangeran Puspodiningrat Paku Buwono IX, ini dilahirkan 14 April 1925.

Sepanjang kekuasaan Dinasti Mataram, PB XII adalah raja yang paling lama memerintah (12 Juli 1945-11 Juni 2004). Sejak dinobatkan menjadi Raja Kraton Kasunanan Surakarta sampai wafat tidak mengangkat permaisuri dan hanya memiliki garwa ampil (selir) dengan 37 orang anak.

PB XII adalah raja di kerajaan penerus Dinasti Mataram, yang terpecah menjadi dua, yakni Keraton Kasunanan Surakarta, dan Kasultanan Yogyakarta, selepas Perjanjian Giyanti. Dalam beberapa waktu terakhir ini, praktis tidak ada aktivitas berat yang dilakukan Sinuhun, termasuk pertemuan-pertemuan dengan tokoh-tokoh politik seperti yang sebelumnya biasa dilakukannya.

PB XII di masa kecilnya masuk sekolah ELS (Europeesche Lagere School) di Pasar Legi, Solo. Di sekolah yang sama ini pula beberapa pamannya, putra Sinuhun Paku Buwono X yang sebaya dengannya menempuh pendidikan. PB XII termasuk murid yang mudah bergaul dan hubungannya dengan teman-teman berlangsung akrab dan di sekolah pun bergaul tanpa memandang status sosial yang disandangnya.

Mulai tahun 1938 PB XII terpaksa berhenti sekolah agak lama, sekitar lima bulan, karena harus mengikuti ayahandanya yang memperoleh mandat mewakili Sinuhun Paku Buwono X pergi ke Belanda menghadiri undangan perayaan peringatan 40 tahun kenaikan Tahta Ratu Wilhelmina.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Hogere Burger School (HBS) Bandung bersama beberapa pamannya. Baru dua setengah tahun ia belajar, pecah perang Asia Timur Raya, dan waktu itu bala tentara Jepang menang melawan sekutu dan Indonesia pun jatuh ke tangan Jepang.

Paku Buwono XI memintanya pulang dari Bandung ke Solo. PB XII pun menurut, tak mau membantah perintah dari ayahandanya tersebut. Ternyata, sesaat berada kembali di Kraton Kasunanan Surakarta, ia harus menerima kenyataan menyedihkan lantaran pada Sabtu, 1 Juni 1945, ayahandanya --Paku Buwono XI-- wafat.

Kemudian, ia dinobatkan menjadi raja menggantikan ayahandanya pada 12 Juli 1945. Lalu, hanya sebulan setelah naik tahta, Republik Indonesia diproklamasikan kemerdekaannya oleh Soekarno-Hatta. Oleh karena itu, Paku Buwono XII disebut pula sebagai Sinuhun Hamardika yang artinya raja di zaman kemerdekaan.

Selama revolusi fisik PB XII memperoleh pangkat militer kehormatan (tituler) Letnan Jendral dari Presiden Soekarno. Kedudukannya itu menjadikan ia sering diajak mendampingi Presiden Soekarno meninjau ke beberapa medan pertempuran terutama saat pecah agresi Belanda ke dua.

Dalam rangka mendukung perjuangan bersenjata merebut kemerdekaan tersebut, Kraton Solo dan Yogyakarta banyak berperan dalam membantu memasok logistik maupun menyumbang berbagai perlengkapan lain, seperti mobil, persenjataan serta dana.

Atas perannya tersebut, PB XII memperoleh Bintang Gerilya dan piagam sekaligus medali penghargaan dari Dewan Harian Angkatan 1945 pada 28 Oktober 1995 di Kraton Surakarta.

RM Yuli Sulistio Wibowo, Sekretaris Pribadi PB XII menuturkan bahwa semasa hidupnya PB XII melebur Kraton Solo menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan tetap konsisten perhatiannya terhadap rakyat. (Tokoh Indonesia.com)

Ali Alatas

Ali Alatas, Singa Tua Diplomat Indonesia


Dia salah satu diplomat handal Indonesia. Menjabat Menteri Luar Negeri (1987-1999) dalam empat kabinat dan pernah dinominasikan menjadi Sekjen PBB oleh sejumlah negara Asia pada 1996, suatu bukti kehandalannya mewakili Indonesia di pelbagai meja perundingan dan jalur diplomatik. Selama dua dasawarsa lebih, Alex (nama panggilannya) memperlihatkan kelas tersendiri sebagai diplomat. Bahkan pada usia senjanya, ia masih mengemban tugas sebagai Penasihat Presiden untuk Urusan Luar Negeri (2001-2004). Maka tak salah bila ia dijuluki singa tua diplomat Indonesia.

Kisah hidupnya adalah diplomasi. Padahal pada masa kecil ia bercita-cita menjadi pengacara. Alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia 1956, kelahiran Jakarta 4 November 1932 ini, meniti karier sebagai diplomat sejak berusia 22 tahun. Ia mengawali tugas diplomatnya sebagai Sekretaris Kedua di Kedutaan Besar RI Bangkok (1956-1960), sesaat setelah ia menikah.

Sebelumnya, ia sempat berkecimpung dalam dunia jurnalistik sebagai korektor Harian Niewsgierf (1952-1952) dan redaktur Kantor Berita Aneta (1953-1954). Selepas bertugas di Kedubes RI Bangkok, ia kemudian menjabat Direktur Penerangan dan Hubungan Kebudayaan Departemen Luar Negeri (1965-1966). Lalu ditugaskan menjabat Konselor Kedutaan Besar RI di Washington (1966-1970). Kembali lagi ke tanah air, menjabat Direktur Penerangan Kebudayaan (1970-1972), Sekretaris Direktorat Jenderal Politik Departemen Luar Negeri (1972-1975) dan Staf Ali dan Kepala Sekretaris Pribadi Menteri Luar Negeri (1975-1976).

Kemudian, ia dipercaya mejalankan misi diplomat sebagai Wakil Tetap RI di PBB, Jenewa (1976-1978). Kembali lagi ke tanah air, menjabat Sekretaris Wakil Presiden (1978-1982). Lalu, kemampuan diplomasinya diuji lagi dengan mengemban tugas sebagai Wakil Tetap Indonesia di PBB, New York (1983-1987). Selepas itu, ia pun dipercaya menjabat Menteri Luar Negeri (1987-1999) dalam empat kabinet masa pemeritahan Soeharto dan Habibie.

Saat menjabat Wakil Tetap Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ia harus menghadapi berbagai kritikan mengenai masalah Timor Timur. Ia dengan cekatan bisa melayaninya dengan diplomatis. Apalagi saat pecah insiden Santa Cruz yang menewaskan puluhan orang pada 12 November 1991, ia cekatan untuk meredam kemarahan dunia. “Diplomasi itu seperti bermain kartu. Jangan tunjukkan semua kartu kepada orang lain. Dan jatuhkan kartu itu satu per satu,” katanya.

Namun semua perjuangannya menjadi sia-sia seketika, manakala Presiden BJ Habibie memberikan refrendum dengan opsi merdeka atau otonomi, tanpa berkonsultasi dengannya. Suatu opsi yang amat naif. Ia tidak setuju atas solusi jajak pendapat yang dicetuskan Habibie itu. Sebab sebagai seorang diplomat, ia tetap berkeyakinan pada solusi diplomasi betapapun sulitnya sebuah situasi.

Maka tak heran, matanya berkaca-kaca beberapa saat setelah referendum. Timtim lepas dari pangkuan ibu pertiwi dan yang lebih memilukan, Timor Loro Sa’e itu rusuh dan hangus dilalap api. Karena keputusan presiden yang sulit dimengertinya, ia harus rela mengakhiri karir diplomatnya dengan air mata.

Namun semua orang tahu, bahwa kekalahan di Timor Timur itu bukan kesalahannya. Tetapi kesalahan ‘bosnya’ yang di luar batas kewenangannya. Presiden Habibie memang akhirnya menuai badai – pertanggungjawabannya ditolak MPR – akibat ‘kecerobohan’ itu. Maka, nama besar Alex sebagai diplomat yang prestisius tetap terukir tinta emas dalam lembar-lembar perjalanan karirnya.

Sehingga, ketika Alwi Shihab diangkat menjabat Menlu pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, Alatas dipercaya sebagai penasehat. Kemudian, setelah Gus Dur jatuh dan digantikan Megawati Sukarnoputri, Alex diangkat menjabat Penasihat Presiden untuk Urusan Luar Negeri.

Sebagai penasehat presiden ia antara lain telah menjalankan misi diplomat ke berbagai negara, termasuk ke Swedia, mengenai Hasan Tiro. Namun, aktivitasnya sebagai penasehat presiden tidak lagi sesibuk ketika ia menjabat Menlu. Sehingga, ia berkesempatan mengisi waktu dengan mewujudkan impiannya menjadi pengacara, sebagai salah satu penasihat hukum di Biro Pengacara Makarim & Taira's. Dan untuk mengisi waktu ia pun menikmati hidup dengan keluarga di rumah kediamannya di Kemang Timur, Jakarta Selatan.TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Amir Hamzah

Amir Hamzah, Tengku (1911-1946), Sastrawan Pujangga Baru


Tokoh Indonesia 28/02/2009: Amir Hamzah lahir sebagai seorang manusia penyair pada 28 Februari 1911 di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara. Ia seorang sastrawan Pujangga Baru. Pemerintah menganugerahinya Pahlawan Nasional. Anggota keluarga kesultanan Langkat bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Indera Putera, ini wafat di Kuala Begumit, 20 Maret 1946 akibat revolusi sosial di Sumatera Timur.

Sebagai seorang keluarga istana (bangsawan), ia memiliki tradisi sastra yang kuat. Menitis dari ayahnya, Tengku Muhammad Adil, seorang pangeran di Langkat, yang sangat mencintai sejarah dan sastra Melayu. Sang Ayah (saudara Sultan Machmud), yang menjadi wakil sultan untuk Luhak Langkat Bengkulu dan berkedudukan di Binjai, Sumatra Timur, memberi namanya Amir Hamzah adalah karena sangat mengagumi Hikayat Amir Hamzah.

Sejak masa kecil, Amir Hamzah sudah hidup dalam suasana lingkungan yang menggemari sastra dan sejarah. Ia bersekolah di Langkatsche School (HIS), sekolah dengan tenaga pengajar orang-orang Belanda. Lalu sore hari, ia belajar mengaji di Maktab Putih di sebuah rumah besar bekas istana Sultan Musa, di belakang Masjid Azizi Langkat.

Setamat HIS, Amir melanjutkan studi ke MULO di Medan, tapi tidak sampai selesai. Ia pindah ke MULO di Jakarta. Di Jawa perkembangan kepenyairannya makin terbentuk. Apalagi sejak sekolah di Aglemeene Middelbare School (AMS) jurusan Sastra Timur di Solo, Amir menulis sebagian besar sajak-sajak pertamanya. Di sini ia memperkaya diri dengan kebudayaan modern, kebudayaan Jawa, dan kebudayaan Asia lainnya.



Kegemaran dan kepiawian menulis saja itu berlanjut hingga saat ia melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta. Dalam kumpulan sajak Buah Rindu yang ditulis antara tahun 1928 dan t1935, tapak perubahan lirik pantun dan syair Melayunya menjadi sajak yang lebih modern.

Tahun 1931, ia telah memimpin Kongres Indonesia Muda di Solo. Pergaulannya dengan para tokoh pergerakan nasional itu telah mewarnai dunia kesusasteraannya. Sebagai sastrawan dan melalui karya-karyanya yang ditulis dalam bahasa Indonesia, Amir telah memberikan sumbangan besar dalam proses perkembangan dan pematangan bahasa Melayu menjadi bahasa nasional Indonesia. Dalam suratnya kepada Armijn Pane pada bulan November 1932, ia menyebut bahasa Melayu adalah bahasa yang molek.

Bagi Amir, Bahasa Indonesia adalah simbol dari kemelayuan, kepahlawanan dan keislaman. Hal ini tercermin dari syair-syair Amir yang merupakan refleksi dari relijiusitas, dan kecintaannya pada ibu pertiwi serta kegelisahan sebagai seorang pemuda Melayu.

Secara keseluruhan ada sekitar 160 karya Amir yang berhasil dicatat. Di antaranya 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris asli, 1 prosa liris terjemahan, 13 prosa asli dan 1 prosa terjemahan. Karya-karyanya tercatat dalam kumpulan sajak Buah Rindu, Nyanyi Sunyi, Setanggi Timur dan terjemah Baghawat Gita.

Ia memang seorang penyair hebat. Perintis kepercayaan diri para penyair nasional untuk menulis karya sastra dalam bahasa Indonesia, sehingga semakin meneguhkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Amir seorang enyair besar Pujangga Baru, yang kepenyairannya membuat Bahasa Melayu-Indonesia mendapat suara dan lagu yang unik yang terus dihargai hingga saat ini. Ia penyair yang tersempurna dalam bahasa Melayu-Indonesia hingga sekarang.

Amir adalah tiga sejoli bersama Armijn Pane dan SutanTakdir Alisyahbana, yang memimpin Pujangga Baru. Mereka mengelola majalah yang menguasai kehidupan sastera dan kebudayaan Indonesia dari tahun 1933 hingga pecah perang dunia kedua.

Pemerintah RI kemudian mengapresiasi jasa dan sumbangsih Amir Hamzah ini dengan menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1975.

Selain itu, penghargaan atas jasa Amir Hamzah terlihat dari penggunaan namanya sebagai nama gedung pusat kebudayaan Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur, dan nama masjid di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Namun akhir hidup penyair yang juga pengikut tarekat Naqsabandiyah ini ternyata berakhir tragis. Setelah pada 29 Oktober 1945, Amir diangkat menjadi Wakil Pemerintah Republik Indonesia untuk Langkat yang berkedudukan di Binjai (saat itu Amir adalah juga Pangeran Langkat Hulu di Binjai), kemudian terjadi revolusi sosial pada Maret 2006. Sasarannya adalah keluarga bangsawan yang dianggap feodal dan kurang memihak kepda rakyat, termasuk Amir Hamzah.

Amir Hamzah meninggal akibat revolusi sosial di Sumatera Timur itu, justru pada awal kemerdekaan Indonesia. Kala itu, ia hilang tak tentu rimbanya. Mayatnya ditemukan di sebuah pemakaman massal yang dangkal di Kuala Begumit. Konon, ia tewas dipancung hingga tewas tanpa proses peradilan pada dinihari, 20 Maret 1946, dalam usia yang relaif mati muda, 35 tahun. Ia dimakamkan di pemakaman mesjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat. Di makamnya terukir dua buah syairnya.

Pada sisi kanan batu nisan, terpahat bait sajak;

Bunda, waktu tuan melahirkan beta
Pada subuh embang cempaka
Adalah ibu menaruh sangka
Bahwa begini peminta anakda

Tuan aduhai mega berarak
Yang meliputi dewangga raya
Berhentilah tuan di atas teratak
Anak Langkat musafir lata

Pada sisi kiri batu nisannya, terpahat ukiran bait sajak:

Datanglah engkau wahai maut
Lepaskan aku dari nestapa
Engkau lagi tempatku berpaut
Di waktu ini gelap gulita

Sampaikan rinduku pada adinda
Bisikkan rayuanku pada juita
Liputi lututnya muda kencana
Serupa beta memeluk dia

Apa kesalahannya sehingga ia diperlakukan seperti itu? 'Kesalahannya' hanya karena ia lahir dari keluarga istana. Pada saat itu sedang terjadi revolusi sosial yang bertujuan untuk memberantas segala hal yang berbau feodal dan feodalisme. Banyak para tengku dan bangsawan istana yang dibunuh saat itu, termasuk Amir Hamzah.

* TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Referensi:

- Abrar Yusra (ed), 1996. Amir Hamzah--1911-1946: Sebagai Manusia dan Penyair. Jakarta: Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.
- http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/hamzah.html

- http://personage.melayuonline.com/?a=UlZWL29QTS9VenVwRnRCb20%3D=
- http://id.shvoong.com/social-sciences/1686930-amir-hamzah/
- Amir Hamzah Penyair Besar Antara Dua Zaman oleh: Sutan Takdir Alisjahbana

- Wikipedia

Gubernur terdahulu

Saturday, 11 July 2009 06:28
Walikota Dan Gubernur :

Suwiryo, Walikota (1945 -1951) H. Tjokropranolo, Letjen TNI AD (Purn.),Gubernur

(1977 - 1982)

Sjamsuridjal, Walikota (1951- 1953) R. Soeprapto, Mayjen TNI AD (Purn.),Gubernur

(1982 - 1987)

Sudiro, Walikota (1953- 1960) Wiyogo Atmodarminto, Letjen TNI AD (Purn.),Gubernur

(1987 - 1992)

Dr. Sumarno, Mayjen TNI AD (Purn.), Surjadi Soedirdja Gubernur (1992 - 1997)

Gubernur (1960- 1965) )

Henk Ngantung, Gubernur (1964 - 1965) Sutiyoso , Letjend ( Purn ) TNI AD Gubernur

( 1997 - 2007 )

H. Ali Sadikin, Letjen TNI AL/Marinir (Purn.) DR.Ing. H. Fauzi Bowo, Gubernur ( 2007 – Sekarang )

Gubernur (1966- 1977)

Arti dan Makna Lambang "Jaya Raya"

Tuesday, 14 July 2009 11:42

Lambang Daerah Khusus lbukota Jakarta Raya adalah sebagai berikut :

Lukisan Perisai segi lima yang didalamnya melukiskan gerbang terbuka.

Didalam gerbang terbuka itu terdapat "Tugu Nasional" yang dilingkari oleh untaian (krans) padi dan kapas. Sebuah tali melingkar pangkal tangkai-tangkai padi dan kapas.

Pada bagian atas pintu gerbang tertulis sloka “Jaya Raya”, sedang di bagian bawah perisai terdapat lukisan ombak-ombak laut.

Pinggiran Perisai digaris tebal dengan warna emas.

Gerbang terbuka bagian atas berwarna putih, sedang huruf-huruf sloka “Jaya Raya” yang tertulis diatasnya berwarna merah.

“Tugu Nasional” berwarna putih.

Untaian (krans) padi berwarna kuning dan untaian (krans) kapas berwarna hijau serta putih.

Ombak-ombak laut berwarna dan dinyatakan dengan garis-garis putih, kesemuanya ini dilukiskan atas dasar ysng berwarna biru.

Pengertian

Lambang Daerah Khusus lbukota Jakarta Raya melukiskan pengertian-pengertian sebagai berikut :

1. Jakarta sebagai kota revolusi dan kota proklamasi kemerdekaan Indonesia :

2. Jakarta sebagai lbu-Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pengertian kota dilambangkan dengan gerbang (terbuka).

Kekhususan kota Jakarta sebagai kota revolusi dan kota proklamasi dilambangkan dengan'Tugu Nasional" yang melambangkan kemegahan dan daya juang dan cipta Bangsa dan rakyat Indonesia yang tak kunjung padam.

“Tugu Nasional” ini dilingkari oleh untaian padi dan kapas, dimana pada permulaan tangkai-tangkainya melingkar sebuah tali berwarna emas, yakni lambang cita-cita daripada perjuangan Bangsa Indonesia yang bertujuan suatu masyarakat adil dan makmur dalam persatuan yang kokoh erat.

Dibagian bawah terlukis ombak-ombak laut yang melambangkan suatu ciri khusus dari Kota dan negeri kepulauan Indonesia.

Keseluruhan ini dilukiskan atas dasar wama biru, wama angkasa luar yang membayangkan cinta kebebasan dan cinta darnai bangsa Indonesia.

Dan keseluruhan ini pula berada dalam gerbang, dan pada pintu gerbang itu terteralah dengan kemegahan yang sederhana sloka "Jaya Raya' satu sloka yang menggelorakan semangat segala kegiatan-kegiatan Jakarta Raya sebagai lbu-kota dan kota perjoangan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dan keseluruhan ini pula berada dalam kesatuan yang seimbang pada bentuk perisai segi-lima yang bergaris tebal emas, sebagai pernyataan permuliaan terhadap dasar falsafah negara “Pancasila”

Tentang arti bentuk lukisan serta wama masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut:

Bentuk :

pintu gerbang

- Lambang kota, lambang kekhususan Jakarta sebagai pintu keluar masuk kegiatan-kegiatan nasional dan hubungan intemasional.


Tugu Nasional

- Lambang kemegahan, daya-juang dan cipta.


padi/kapas

- Lambang kemakmuran.


tali emas

- Lambang pemersatuan dan kesatuan.


ombak laut

- Lambang kota, negeri kepulauan.


sloka “Jaya Raya”

- Slogan perjuangan Jakarta


Bentuk perisai segi lima

- Pancasila




Warna



mas pada pinggir perisai

- Kemuliaan Pancasila.


merah sloka

- Kepahlawanan


putih pintu gerbang

- Kesucian


putih tugu nasional

- Kemegahan kreasi mulya


kuning padi/hijau putih kapas

- Kemakmuran dan keadilan


biru

- Angkasa bebas dan luas

Sumber : Perda No. 6 Tahun 1963

ombak putih

- Alam laut yang kasih.

Si Jampang

Monday, 05 October 2009 14:56

Jakarta.go.id - Anak laki-laki itu dinamakan Jampang. la lahir di desa Jampang Sukabumi Selatan. Bapaknya berasal dari Banten dan ibunya berasal dari desa ]ampang. Anak laki-laki itu tinggal di rumah pamannya di Grogol Depok. Pamannya sangat sayang kepadanya, selain keponakan, anak laki-laki itu juga yatim piatu yang memerlukan perlindungan.

Sang paman membawa Jampang dari desa Jampang ke Grogol Depok. Dirumah pamannya, Jampang dibesarkan. Jampang diperlakukan sebagai anak sendiri. Agar ]ampang memiliki ilmu, bekal hidupnya, oleh pamannya ia disuruh mengaji pada seorang guru ngaji di Grogol Depok.

Jampang juga disuruh belajar ilmu bela diri oleh pamannya. Pamannya berkata, "Pang, Lu mesti punya kepandaian silat, karena menegakkan kebenaran tanpa kekuatan adalah sia-sia."

" Aye mang ! " jawab Jampang penuh rasa hormat.

" Lu ikut mamang ke Cianjur, lu belajar silat disana ama kenalan mamang."

" Aye sih pegimane mamang."

Oleh pamannya, Jampang diantarkan ke Cianjur untuk belajar sekaligus menetap dirumah guru silat.

Selain belajar silat, ]ampang membantu guru silatnya, Jampang membantu menanem padi, merapikan rumah. Ditempat guru silatnya, Jampang memperlakukan diri sebagai anak, tidak berpangku tangan. Guru silatnya menjadi sayang, dan dengan rela hati mengajarkan semua kepandaian yang dimiliki termasuk ilmu kebatinan.

Setelah Jampang menyelesaikan menuntut ilmu silat, ia kembali ke Grogol Depok. Guru silatnya berpesan kepadanya agar ilmu yang didapatnya jangan digunakan untuk berbuat kejahatan. Jampang mengangguk setuju, kemudian mencium tangan guru silatnya mohon izin meninggalkan Cianjur kembali ke Grogol Depok "Pang! Salam aye buat mamang lu," ujar Guru silatnya. " Aye, Guru !"

Jampang kembali ke rumah Mamang di Grogol Depok. Dari Cianjur Jampang berjalan kaki melewati jalan setapak naik turun perbukitan menuju Bogor. Dari Bogor Jarnpang menumpang kereta api Buitenzorg-Batavia turun di Depok. Pamannya sangat gembira menyambut kedatangan Jampang yang telah berbulan lamanya meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu silat. Oleh pamannya, Jampang diminta meneruskan menuntut ilmu mengaji. Jampang dengan patuh memenuhi permintaan mamangnya. Berkat ketekunan dan kepatuhan untuk menuntut ilmu mengaji, Jampang dengan mudah menyerap ilmu mengaji yang diajarkan gurunya. Gurunya menjadi sayang kepadanya, selama menuntut ilmu mengaji, Jampang juga membantu mamangnya dan guru ngajinya mengerjakan sawah.

Setelah merasa cukup memiliki bekal ilmu dan usianya telah menanjak dewasa menjadi seorang pemuda, Jampang merasa sudah saatnya tidak bergantung lagi dengan mamangnya. Jampang menyampaikan keinginannya untuk merantau ke Betawi.

" Kalo emang lu pengen merantau, lu mesti bawa diri, biar orang laen seneng ame lu." mamangnya menasehati " Aye mang." jawab Jampang.

Jampang berangkat ke Betawi, memulai kehidupan mandiri. Di Betawi Jarnpang menuju salah seorang ternan mamangnya di Kebayoran Lama. la diterima menetap dirumah tersebut. Sebagai penumpang, Jampang membantu si empunya rumah berkebun serta berdagang buah di pasar Tanah Abang.

Suasana Kebayoran Lama tempat Jampang menetap di bawah kekuasaan tuan tanah dengan centeng centengnya yang setiap bulan datang menagih pajak kepada penduduk. Bila penduduk tidak punya uang untuk membayar pajak, para centeng tak segan-segan mengambil harta milik yang ada di rumah penduduk. Ada kambing yang terlihat di kandang akan diambil. Keadaan bisa lebih buruk lagi, para centeng akan memukuli orang yang tidak bisa membayar pajak.

Jampang menyaksikan perilaku para centeng yang tidak punya perikemanusiaan kepada penduduk. Timbul keinginan untuk menantang para centeng, tapi Jarnpang masih berpikir akan nasib orang yang ditumpanginya. Jampang mengamati dengan cermat wajah para centeng dan bertekad akan membalas perbuatan mereka dikemudian hari.

Selama menumpang dirumah itu, Jampang berkenalan dengan gadis kampung tersebut. Jampang menjalin tali kasih dengan wanita di kampung itu, kemudian berniat membina rumah tangga. Jampang menyampaikan isi hatinya wanita tersebut setuju, kemudian si empunya rumah diminta untuk melamar orangtua wanita tersebut.

Jampang menikah dengan gadis Kebayoran Lama dan pindah menetap dirumah mertuanya. Oleh mertuanya, Jampang diberi sebidang tanah untuk digarap. Bersama isterinya, Jampang menggarap tanah, menanami lahan dengan bibit padi, kacang dan kelapa. Selain menggarap tanah, Jampang juga menjual hasil kebun mertuanya ke pasar Tanah Abang. Isterinya hamil kemudian melahirkan seorang anak laki-laki diberi nama Jampang muda. Wajah anaknya sangat mirip dengan dirinya, ibarat pinang dibelah dua. Jampang sangat gembira, kegembiraan yang tidak terkatakan. Setiap selesai bekerja di kebun atau menjual hasil kebun di pasar, Jampang selalu bercanda dengan anaknya.

Sekalipun Jampang memiliki ilmu silat yang tinggi, tetapi ia pun terkena tagihan dari centeng tuan tanah Kebayoran. Sebenarnya Jampang ingin melawan, tetapi memikirkan anaknya yang masih disusui isterinya
Jampang mengalah, membiarkan para centeng beraksi didepan matanya.

" Mane pajak lu, cepat ! " hardik centeng padanya.

" Ini bang! Jampang menyerahkan uang beberapa sen pada centeng tersebut.

"Lu memang penduduk yang taat.

" Aye bang" Jampang berpura-pura seperti orang bodoh

Ketika anaknya berusia 4 tahun, isterinya meninggal dunia. Jampang sangat sedih dengan kepergian isterinya. Ditatapnya mata anaknya yang kini tidak beribu lagi. mertuanya datang menggendong anaknya sarnbil berkata.

" Biarlah dia ame kami disini Pang."

"Aye nyak."

" Lu mau kemane Pang ?"

" Mau ke Tanah Abang nyak."

Jampang menitipkan anaknya kepada mertuanya, ia pergi ke Tanah Abang. Jampang memutuskan untuk mengambil kembali hak miliknya dan hak milik mertuanya serta penduduk yang diambil oleh para tuan tanah dan centeng secara sewenang-wenang. Jampang pergi ke Tanah Abang sambil melewati rumah para tuan tanah dan orang-orang kaya serta rumah para centeng. Sungguh sangat berbeda, rumah mereka penuh dengan perabotan mahal. Dari mana lagi kalau bukan dari hasil memeras penduduk.

Jampang di pasar Tanah Abang sampai menjelang Ashar. Kemudian pergi ke rumah seorang tuan tanah, mengamati dengan cermat keadaan rumah, berapa centeng yang menjaga, bagaimana jalan masuk yang tepat. Setelah itu Jampang pergi ke langgar, menunggu sambil sholat Maghrib dan Isya.

"Anak siape ? " tanya imam sekaligus ustadz langgar menyapanya

"Aye Jampang pak imam" jawab Jampang

" Anak dari mane? "

" Aye dari Kebayoran Lama"

" Ada keperluan apa singgah di kampung ini ?"

" Aye pengen ngambil milik aye yang dirampok tuan tanah", "Hati-hati nak, banyak jagoannya." .

" Pan aye punya penolong " " Siape ?"

" Nyang diatas, Allah "

Imam langgar geleng kepala. Jampang segera mengambil wudhu dan azan Maghrib. Kemudian shalat Maghrib berjamaah.

Selesai sholat, imam langgar mengajak Jampang makan di rumahnya. Jampang tidak menolak, mengikuti imam langgar menuju rumah imam langgar. Sambil jalan imam langgar berkata, "Malam ini ada pertunjukan di kampung sebelah, biasanye lewat Isya para centeng dan tuan tanah pergi".

"Terima kasih pak ustadz."

Setelah sholat Isya, Jampang bergerak perlahan mendekati rumah tuan tanah. Dari kejauhan terlihat kerumunan orang. Para centeng dengan golok di pinggang sambil menyulut rokok sebagian duduk, sebagian berdiri. Kemudian keluar seorang yang barangkali tuan tanah. Kemudian kerumunan itu pergi dari rumah itu menuju ke kampung sebelah menonton pertunjukan Gambang Kromong.

Jampang dengan cermat mengawasi kepergian tuan tanah dan para centengnya. Setelah mereka berlalu beberapa saat, Jampang masih tetap di tempatnya untuk mengawasi keadaan rumah. kemudian keluar seorang lelaki, menutup pintu pagar lalu masuk kembali ke dalam rumah. Jampang bergerak perlahan-lahan sambil mengawasi keadaan sekitarnya. Suasana sepi, gemerisik angin dan suara jangkrik memecah kesunyian malam. Jampang melompati pagar rumah tuan tanah, kemudian merangsek maju mendekati jendela, menempelkan telinga pada kayu dan jendela. Terdengar suara perempuan sedang berbincangbincang didalam rumah.

" Nyak, kalung aye belon juge dibeliin kapan nyak ? "terdengar suara perempuan muda, mungkin anak tuan tanah.

" Entar kalo si Rochim ame babe lu, pasti lu punya kalung juga" ujar perempuan tua, mungkin isteri tuan tanah.

" Babe sih seneng ingkar janji, bukannya beliin untuk aye, tapi buat gendak-gendaknya. "

" Kagak bener lu omongin babe lu, durhaka nak."

" Biarin, abisnye aye kagak dibeliin gelang " " Sono tidur, pan udah malem "

Jampang bergeser ke jendela lainnya, memasangkan telinga untuk mendengar, tak ada suara apa-apa, mungkin sudah tidur. Dengan perlahan-lahan menggunakan tenaga dalam, Jarnpang membuka jendela lalu melompat masuk. Seorang lelaki yang sedang tidur ayarn tersentak bangun, Jampang dengan sigap membekuk laki-laki itu untuk tidur kembali, sebuah pukulannya membuat lelaki itu terkulai layu tak
berdaya. Jampang kemudian bergerak kekamar tidur tuan tanah. Tangannya mengetuk pintu perlahan-lahan, terdengar suara panggilan dari dalarn karnar.

" Siape, elu Min ?" tanya isteri tuan tanah.

"Aye nyah" ujar Jarnpang memalsukan suara" Ada ape sih? Lu mau nonton ?" " lye nyah "

Terdengar langkah menuju pintu, pintu terbuka, dalam waktu tak lebih dari dua detik, Jampang berhasil membekuk isteri tuan tanah. Goloknya ditodong ke Ieher isteri tuan tanah.

"Tunjukan mane lemari lu "Jampang mengarah isteri tuan tanah ke lemari di dalam kamar.

"Jangan !" ujar isteri tuan tanah.

" Lu teriak gue sabet leher lu."

Jampang membuka pintu lemari, ternyata terkunci. Jampang menekan ujung goloknya ke leher isteri tuan tanah.

" Ampun, " ujar isteri tuan tanah minta belas kasihan " Ambilin kuncinya, cepat!"

" Lepasin aye"

" Tidak, mana kuncinya ?"

lsteri tuan tanah menunjuk kearah kasur. Jarnpang mengarah isteri tuan tanah ke sisi kasur, kemudian mengangkat kasurnya, mengambil kunci. Kemudian Jampang mengikat isteri tuan tanah dan menyumpal mulutnya dengan kain.

Jampang membuka lemari, mengarnbil uang dan emas yang ada dalam lemari, kemudian uang emas dan beberapa potong kain sarung dikumpulkan dalam sebuah kain sarung. Lalu Jampang mendekati isteri tuan tanah, melucuti kalung, gelang serta cincin yang dipakai isteri tuan tanah.

"Hei perempuan, lu pikir semua bande ini milik lu?" ujar Jampang seraya menengadahkan kepala isteri tuan tanah dengan tangannya.

"Bande ini laki lu rarnpas dari rakyat, ini semua keringat penduduk, yang kerjanya setengah mati, lu enak-enak main rampas," ujar Jampang menatap tajam ke muka isteri tuan tanah.

Jarnpang kemudian keluar dari kamar tersebut, menutup pintunya perlahan-lahan, berjingkat ke arah kamar yang tempat ia masuk, melompat lewat jendeia kemudian mendekati pagar, lalu melompat keluar. Jampang melangkah waspada, tidak melalui jalan yang biasa dilalui orang. Ia mengambil jalan lewat tegalan sawah menuju ke Kebayoran. Jampang tiba di rumahnya saat hampir subuh. Selama perjalanan, Jampang membagi-bagikan sebagian rampasannya ke rumah-rumah penduduk miskin. Sampai di rumah, Jampang segera menyimpan sisa rampasan, lalu mengambil air wudhu, melaksanakan sholat subuh. Memohon ampun kepada Allah tindakan yang terpaksa dilakukan, kemudian tidur lelap. Setelah peristiwa tersebut, Jampang mencari tahu tentang tuan tanah tersebut semakin bengis dalam menagih pajak, tidak perduli keluhan penduduk mengapa tagihan pajak begitu
cepat dari waktunya.
"Pan pajeknye udah aye bed kemarin" ujar penduduk pada centeng.

"Diam lu, ngebacot gua golok " hardik centeng.

Jampang yang menyaksikan keadaan tersebut, tidak bisa menahan diri. Jampang menghadang beberapa orang centeng yang baru saja merampas dari sebuah rumah penduduk.

"Minggir lu bangsat ! " hardik centeng pada Jampang.

" Serahin semua bawaan lu " pinta Jampang.

" Lu mau ngerampok ?"

" Emang kenape, lu juga ngerampok," ujar Jampang tenang.

Centeng-centeng segera mengayunkan goloknya ke arah Jampang. Dengan sigap Jampang melayani perkelahian dengan para centeng. Seorang centeng yang mencoba melarikan barang, segera dijegal Jampang. Perkelahian menjadi seru. Satu persatu centeng berhasil dilumpuhkan, kemudian Jampang melemparkan golok mereka ke rumput ilalang, lalu menghardik mereka.

" Bangun ! pergi atau gue cabut nyawa elu-elu"

Para centeng dengan susah payah bangun, kemudian terbirit-birit menjauh dari Jampang, kemudian hilang dari pandangan.

Penduduk segera berdatangan, Jampang melemparkan barang-barang rampasan dari centeng kepada penduduk. " Ambil yang kalian punya" ujar Jampang.

Para penduduk memilih barang mereka kemudian mendekati Jampang, sebagian berlutut ingin mencium kakinya.

" Jangan ! gue bukan Belande, bangun ! pulang kerumah masing-masing " seru Jampang.

" Terima kasih, Bang " penduduk memberi hormat. Kemudian Jampang berlalu dari tempat itu.

Jampang terus melakukan aksinya setiap malam ke rumah tuan tanah, rumah para centeng dan rumah orang kaya. Jampang terus berpindah tempat diantaranya Grogol, Pasar Ikan, Tanjung Priok dan Tambun Bekasi. Selain melakukan aksi perampasan malam hari, Jampang juga selalu menghadang para centeng yang menagih pajak atas penduduk. Karena aksinya, namanya dikenalluas oleh penduduk si Jampang dihormati dan dielu-elukan kehadirannya, sedangkan bagi para centeng, tuan tanah, demang dan Belanda, si Jampang sangat dibenci dan diburu.

Penguasa penjajah mengerahkan polisi untuk mengintai si Jampang, tetapi karena ia selalu berpindah-pindah tempat operasinya, sulit bagi polisi Belanda menangkapnya, sementara jagoan centeng para tuan tanah tidak mampu membunuh Jampang dalam setiap perkelahian. Akibat keberhasilan yang selalu memihaknya Jampang digelari penduduk sebagai Si Jampang Jago Betawi.

Sehari harinya Jampang sangat memperhatikan anaknya. Anaknya dititipkan di rumah mertuanya. Setiap ada kesempatan Jampang mendatangi rumah mertuanya menemui anaknya. Baru setelah anaknya berusia diatas sepuluh tahun. Jampang mengajak tidur dirumah mereka, jika kebetulan menginap di rumah, jika Jampang beroperasi, anaknya dititipkan dirumah mertua. Jampang tak ingin mertuanya dan anaknya susah, karenanya Jampang tidak beroperasi dikampungnya.

Jampang juga mengajarkan anaknya ilmu serta ilmu agama seadanya jika kebetulan di rumah. Anaknya tumbuh menjadi dewasa dan kekar. Mencapai usia 15 tahun, Jampang berkata pada anaknya.

"Eh lu tong, gua mau nanya ame lu. lu mau sekolah apa lu mau ngaji?" Tanya Jampang.

"Ngaji aye nggak mau, sekolah juga aye ogah. Aye kepengen belajar main pukul kaye babe".

"Lu jangan main pukul kaya bapak lu, kalau lu ogah semua, baekan lu kawin aje dah".

"Aye kagak mau kawin be, kalau gitu aye mendingan sekolah aje, kalau babe mau kawin, babe aja dah yang kawin". Jampang tertawa mendengarkan jawaban dan usulan anaknya.

"Kalo lu punya nyak lagi, gua punya kawan yang bernama Sarba di tanah perkembangan Tambun" kata Jampang. Jampang kemudian menyerahkan anaknya pada seorang guru ngaji. Setelah itu Jampang pergi ke tanah perkembangan menemui Sarba temannya.

Di tanah perkembangan Jampang di sambut oleh Si Ciput pembantu rumah tangga Sarba. Jampang gembira sekali karena akan bertemu temannya yang sudah lama berpisah.

"Eh Put kemana Sarba?" tanya Jampang antusias.

"Sarba pan udah meninggaI" ujar Ciput tenang menjawab pertanyaan Jampang. Jampang kaget bukan kepalang, Jampang bagaikan tak percaya pada pertanyaan Ciput.

"Hah! Masa iye Put, Sarba udah meninggal ??? kalo gitu istri Sarba si Mayangsari menjande ye Put?" Jampang berkelakar.

"Betul" jawab Ciput tersenyum.

"Wah, kebetulan sekali Put, gua sedang kagak punya bini, bini gua udah meninggal Put. Coba lu omongin ame Si Mayangsari. Put, ape mau die kawin arne gua?" Jampang minta Ciput untuk memberitahukan keinginannya pada Mayangsari.

Ciput masuk ke dalam rumah, sementara Jampang duduk di serambi rumah. Beberapa waktu kemudian Ciput dan Mayangsari menemui Jampang, Jampang tersentak bangun dan menyalami Mayangsari.

"Mayangsari ... Abang Sarba pergi kemane?" Jampang berpura-pura tidak tahu.

"Abang lu jangan ditanya, Sarba telah lama meninggal dunia" Mayangsari menjawab dalam nada sedih.

"Sakit apa abang Sarba kok aye nggak dikabarin" Mayangsari kemudian menjelaskan.

"Begini Jampang, ketika gua ama abang lu belum punya anak, dulunye kite bedua pegi ke gunung Kepuk Batu. Maksudnya kita mau ziarah di makam keramat sembari mohon supaya dikasih anak. Disana kita diterima juru kunci yang bernama Pak Samat. Kemudian pak Samat membakar kemenyan sambil membuka mantera-mantera, dan tak lama keluarlah setan dari tempat keramat itu. Abang lu Sarba bertanye kepada to setan, "Apakah gua bakal punya anak?" Tuh setan manggut-manggut. Anak perempuan atau anak laki-laki? Setannye diem aja. Anakku perempuan? Setannye geleng kepala. Anak laki-laki. Setannye manggut-manggut. Abang lu bilang kalau saye dapat anak laki-laki, saya berjanji akan membawa sepasang Bekakak Kebo yang ditusuk dari pantat sampai kepala katanye. Setelah itu gue ame abang lu pulang lagi kerumah dan beberapa bulan kemudian gue ngandung sesudah genap usia kandungan gue, lahirlah seorang bayi laki-laki, anak itu gue kasih nama Abdih. Lima belas taon udehnye tentunya si Abdih udeh gede, gue arne abang lu tuh jadi bingung abis gimane, keadaan sulit mane si Abdih pengen disekolahin, maka untuk menentramkan hati gue, Bang Sarba lu tuh ngajakin gue jalan-jalan dan plesiran sambil ngajakin si Abdih ke Betawi. Tapi malang nasib Abang lu si Sarba dadakan aja tuh jatuh sakit dan lantas kontan meninggal di tempat plesiran itu juga. Hal ini menurut dukun, Bang Sarba tidak menepati janjinya waktu memuja-muja di gunung Kepuk Batu. Kalo dapet anak laki-laki akan
bawain sepasang Bekakak Kebo." Demikian Mayangsari menjelaskan panjang lebar tentang kematian Sarba. Jampang dengan serius mendengar penjelasan Mayangsari.

"Kemane anak Mpok si Abdih itu?" tanya Jampang.

"Die sedang sekolah di Bandung" jawab Mayangsari. Jampang memanfaatkan kesempatan, dialog tersebut untuk menyampaikan maksudnya. Dalam kesempatan yang tepat Jampang melontarkan niatnya.

"Mpok jande, aye dude, nah baeknya kita kawin aje kan klop" ujar Jampang serius dan mengharapkan jawaban.

"He Jampang, kalo lu pengen kawin, lu urusin sendiri diri lu, ape lu mau cari jande kek, perawan kek itu urusan lu asal jangan lu mau kawin ame gue, itukan nggak pantes" Mayangsari sangat berang, kemudian bangkit meninggalkan Jampang duduk sendiri.

Jampang belum menyerah. Ia meminta Ciput memberitahu kepada Mayangsari bahwa niatnya bukanlah main-main. Jampang juga menjanjikan hadiah bila Ciput bisa meluluhkan hati Mayangsari. Ciput masuk ke rumah untuk melunakan hati Mayangsari. Ternyata Mayangsari marah besar, Ciput mendapat sumpah serapah. Mayangsari kemudian keluar menemui Jampang sambil berujar.

"Lu jangan ngerecokin gue Jampang, gue lagi bingung nih" seraya meludahi muka Jampang kemudian masuk ke rumah.

Jampang merasa malu dengan perlakuan Mayangsari. Jampang beranjak meninggalkan rumah temannya almarhum Sarba. Jampang bertekad untuk menutupi malunya dengan menikahi Mayangsaridengan jalan apapun. Jampang pergi kerumah keponakannya. Sarpin keponakan Jampang juga seorang jagoan. Sarpin kaget melihat kedatangan Jampang, pamannya yang sudah lama tak bertemu. Kepada Sarpin Jampang menceritakan pengalamannya dengan Mayangsari, dan meminta Sarpin membantu. Sarpin dengan senang hati bersedia
membantu pamannya. Mereka menemui seorang dukun manjur untuk mendapatkan ilmu pelet agar Mayangsari tergila-gila padanya. Pak Dul dukun manjur dari kampung Gabus memberikan ilmu pelet kepada Jampang.

Berbekal ilmu pelet tersebut, Jampang menemui Mayangsari kontan saja Mayangsari menjadi gila. Jampang menjadi kuatir dan pergi. Beberapa hari kemudian Abdih anak Mayangsari pulang dari Bandung, menemukan ibunya gila, lalu Abdih berupaya menyembuhkan. Abdih mengetahui sebab ibunya menjadi gila. Setelah ibunya. sembuh. Abdih menemui Jampang dan menceritakan bahwa ibunya bisa menikah dengan Jampang asalkan dipenuhi syarat.

"Apa syaratnye?" tanya Jampang.

"Syaratnya Bapak Jampang harus memberi mas kawinnya kebo sepasang."

Mengetahui syarat yang diajukan, Jampang kemudian mengajak Sarpin untuk merampas kerbau milik Haji Saud di Tambun. Dalam aksi perampasan mereka dengan mudah membawa kerbau tersebut. Dalam perjalanan pulang, Jampang dan Sarpin temyata telah dikepung berpuluh serdadu Belanda bersenjata lengkap. Jampang dan Sarpin tertangkap dan dipenjarakan.

Jampang kemudian diadili, segala aksinya sejak dulu diungkapkan di persidangan dan menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Jampang dengan tabah menuju tiang gantungan sambil berdoa memohon ampunan kepada Allah bahwa apa yang dilakukan olehnya tak lebih dari reaksi orang-orang tertindas oleh kejaliman penjajah beserta kaki tangannya. Regu tembak menarik pelatuk dan ajalnya memang tiba, tamatlah riwayat Si Jampang. Jago betawi yang dibenci penjajah beserta kaki tangannya tetapi dicintai oleh penduduk.

Referensi : Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Cerita Rakyat Betawi, 2004

Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

Bahasa Betawi

Betawi
Bahasa Betawi
Dituturkan di Jakarta (Indonesia)
Jumlah penutur 2,7 juta (1993)
Rumpun bahasa Melayu Kreol
  • Betawi
Kode-kode bahasa
ISO 639-1 tidak ada
ISO 639-2 bew
ISO 639-3 bew

Bahasa Betawi atau Melayu Dialek Jakarta atau Melayu Batavia (bew) adalah sebuah bahasa yang merupakan anak bahasa dari Melayu. Mereka yang menggunakan bahasa ini dinamakan orang Betawi. Bahasa ini hampir seusia dengan nama daerah tempat bahasa ini dikembangkan, yaitu Jakarta.

Bahasa Betawi adalah bahasa kreol (Siregar, 2005) yang didasarkan pada bahasa Melayu Pasar ditambah dengan unsur-unsur bahasa Sunda, bahasa Bali, bahasa Jawa, bahasa dari Cina Selatan (terutama bahasa Hokkian), bahasa Arab, serta bahasa dari Eropa, terutama bahasa Belanda dan bahasa Portugis. Bahasa ini pada awalnya dipakai oleh kalangan masyarakat menengah ke bawah pada masa-masa awal perkembangan Jakarta. Komunitas budak serta pedagang yang paling sering menggunakannya. Karena berkembang secara alami, tidak ada struktur baku yang jelas dari bahasa ini yang membedakannya dari bahasa Melayu, meskipun ada beberapa unsur linguistik penciri yang dapat dipakai, misalnya dari peluruhan awalan me-, penggunaan akhiran -in (pengaruh bahasa Bali), serta peralihan bunyi /a/ terbuka di akhir kata menjadi /e/ atau /ɛ/ pada beberapa dialek lokal.

Di bawah ini adalah beberapa kata dalam Bahasa Betawi dan artinya dalam bahasa Indonesia:

  • siape = siapa
  • ape = apa
  • ade = ada
  • aye = saya
  • aje = saja
  • Jakarte = Jakarta
  • pastinye = pastinya
  • katanye = katanya
  • gile = gila
  • ke mane = ke mana
  • di mane = di mana
  • sigit = masjid (berasal dari kata masigit dalam bahasa Sunda)

Tokoh

Tokoh-tokoh bahasa Betawi modern:

  • Firman Muntaco, yang terkenal dengan cerpen/artikel di koran tahun 1960an s/d 1980an
  • Ganes T.H., yang terkenal dengan komik "Si-Jampang: Jago Betawi" yang isinya berbahasa betawi, tahun 1965an
  • Benyamin Sueb, yang terkenal memainkan film-film yang bergenre "bahasa Betawi", tahun 1970an
  • Syumanjaya, yang terkenal sebagai sutradara film "Si Doel: Anak Betawi", tahun 1970an

Bacaan

Semua tokoh diatas menyumbang SASTRA BARU, yaitu "Sastra Betawi" (Betawi Literature). Jadi tokoh sastra akademis yang berjuang bagi "Sastra Betawi" adalah:

  • Muhadjir (1979 dan 2002)
  • K. Ikranegara (1980). Melayu Betawi Grammar. Linguistic Studies in Indonesian and Languages in Indonesia 9. Jakarta: NUSA.
  • S. Wallace (1976). Linguistic and Social Dimensions of Phonological Variation in Jakarta Malay. PhD. Dissertation, Cornell University.
  • Klarijn Loven (2009). Watching Si Doel: Television, Language and Cultural Identity in Contemporary Indonesia, 477 halaman, ISBN-10: 90-6718-279-6. Penerbit: The KITLV/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies at Leiden.
  • Lilie M. Roosman (April 2006). Lilie Roosman: Phonetic experiments on the word and sentence prosody of Betawi Malay and Toba Batak, Penerbit: Universiteit Leiden

Buku-buku yang menjadi pastokan "Sastra Betawi" adalah:

Acara televisi

Acara TV (Televisi) yang menjadi pastokan "Sastra Betawi" adalah:

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"









"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog