Ada seorang tukang fitnah yang jatuh cinta kepada seorang gadis tetangganya. Suatu hari, keluarga gadis itu mengutusnya ke kampung lain untuk suatu keperluan. Mengetahui hal itu si tukang fitnah pun mengikutinya, lalu melontarkan bujuk rayunya kepada wanita itu.
Gadis itu berkata, "Jangan kau lakukan ini! Sebenarnya cintaku padamu melebihi cintamu kepadaku, akan tetapi aku takut kepada Allah SWT."
Laki-laki itu berkata, "Kau takut pada Allah, sementara aku tidak takut kepada-Nya?" Akhirnya laki-laki itu pulang dengan perasaan penuh tobat kepada Allah SWT. Dalam perjalanannya ia didera rasa haus yg mencekik tenggorokannya. Dalam kondisi kritis itu tiba-tiba dia bertemu dengan utusan dari seorang nabi Bani Israil dan ditanya, "Mengapa kau ini?"
"Haus," jawabnya.
Utusan itu berkata, "Ke sinilah, kita berdoa kepada Allah agar awan menaungi kita hingga sampai tujuan."
Laki-laki tukang fitnah itu berkata, "Aku tidak mempunyai amal kebajikan."
Utusan nabi itu berkata, "Aku yg berdoa dan engkau tinggal mengaminkan."
Berdoalah utusan itu dan si tukang fitnah itu mengaminkannya.
Tidak lama kemudian datang awan menaungi mereka hingga mereka tiba di kampung tujuan. Setelah sampai, si tukang fitnah memasuki rumahnya, sedangkan awan itu mengikutinya. Sebelum utusan itu pulang dia berkata, "Engkau telah mengaku tidak mempunyai amal kebajikan, padahal ketika aku berdoa dan engkau mengaminkannya, serta merta awan itu menaungi kita, kemudian aku mengikutimu agar engkau memberitahuku apa sebenarnya yg telah terjadi denganmu."
Lalu tukang fitnah itu menceritakan kisahnya kepada utusan itu. Maka berkatalah utusan nabi itu, "Orang yg bertobat kepada Allah mendapat kedudukan yg tidak seorangpun menyamai kedudukannya."
| ||||
Rabu, 01 September 2010
PANGLIMA ROMAWI YG BERTOBAT
Dalam kegemparan terjadinya peperangan Yarmuk, salah seorang panglima Romawi yang bermana George memanggil Khalid bin Walid. Kedua orang panglima itu saling mendekat sampai kedua kepala kuda mereka saling bertemu. Kepada Khalid, George bertanya: "Wahai Khalid, aku meminta kamu berbicara dengan jujur dan jangan berdusta sedikitpun, kerana Tuhan Yang Maha Mulia tidak pernah berdusta, dan jangan pula kamu menipuku, karana sesungguhnya orang yang beriman itu tidak akan berdusta di sisi Allah."
"Tanyalah apa yang ingin engkau tanyakan," kata Khalid.
"Apakah Allah menurunkan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW sebuah pedang dari langit kemudian diberikannya kepadamu sehingga jika kamu pakai pedang itu untuk berperang, pasti kamu akan menang?"
"Tidak!" Jawab Khalid.
"Apakah sebabnya kamu digelar dengan Saifullah (Pedang Allah)?" Tanya George.
Khalid menjawab: "Ketika Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW, seluruh kaumnya sangat memusuhinya termasuk juga aku, aku adalah orang yang paling membencinya. Setelah Allah SWT memberikan hidayah-Nya kepadaku, maka aku pun masuk Islam. Ketika aku masuk Islam Rasulullah SAW menerimaku dan memberi gelaran kepadaku "Saifullah" (pedang Allah)."
"Jadi tujuan kamu berperang ini untuk apa?" Tanya George. "Kami ingin mengajak kamu supaya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah dan kami juga ingin mengajak kamu untuk mempercayai bahwa segala apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW itu adalah benar." Jawab Khalid.
George bertanya: "Apakah hukumannya bila orang itu tidak mahu menerimanya?" Jawab Khalid: "Hukumannya adalah harus membayar jizyah, maka kami tidak akan memeranginya."
"Bagaimana kalau mereka tidak mahu membayar?" Tanya George.
"Kami akan mengumumkan perang kepadanya," kata Khalid bin Walid.
George bertanya: "Bagaimanakah kedudukannya jika orang masuk Islam pada hari ini?"
Khalid menjawab: "Di hadapan Allah SWT, kita akan sama semuanya, baik dia orang yang kuat, orang yang lemah, yang dahulu maupun yang kemudian masuk Islam."
"Apakah orang dahulu masuk Islam kedudukannya akan sama dengan orang yang baru masuk?" Tanya George.
Khalid menjawab: "Orang yang datang kemudian akan lebih tinggi kedudukannya dari orang yang terdahulu, sebab kami yang terlebih dahulu masuk Islam, menerima Islam itu ketika Rasulullah SAW masih hidup dan kami dapat menyaksikan turunnya wahyu kepada baginda. Sedangkan orang yang masuk Islam kemudian tidak menyaksikan apa yang telah kami saksikan. Oleh kerana itu siapa saja yang masuk Islam yang datang terakhir maka dia akan lebih mulia kedudukannya, sebab dia masuk Islam tanpa menyaksikan bukti-bukti yang lebih meyakinkannya terlebih dahulu."
George bertanya: "Apakah yang kamu katakan itu benar?" "Demi Allah, sesungguhnya apa yang aku katakan itu adalah benar,"jawab Khalid.
George berkata: "Kalau begitu aku akan percaya kepada apa yang kamu katakan itu, mulai saat ini aku bertaubat untuk tidak lagi memusuhi Islam dan aku menyatakan diri masuk ke dalam agama Islam, wahai Khalid tolonglah ajarkan aku tentang Islam."
Lalu Khalid bin Walid membawa George ke dalam khemahnya, kemudian menuangkan air ke dalam timba untuk menyuruh George bersuci dan mengerjakan solat dua rakaat.
Ketika Khalid bersama dengan George masuk ke dalam khemah, maka tentara Romawi mengadakan serangan besar-besaran terhadap pertahanan umat Islam. Setelah selesai mengerjakan solat, maka Khalid bin Walid bersama dengan George dan kaum Muslimin lainnya meneruskan peperangan sampai matahari terbenam dan di saat itu kaum Muslimin mengerjakan solat Zohor dan Asar dengan isyarat saja.
Dalam pertempuran itu, George yang telah bergabung dengan barisan kaum Muslimin itu terbunuh, dan dia hanya baru mengerjakan solat dua rakaat bersama dengan Khalid bin Walid. Walaupun demikian, ia telah menyatakan keIslamannya dan berjanji untuk tidak akan kembali lagi kepada agama lamanya. Semoga Allah menempatkan George ke dalam golongan orang-orang yang mati syahid. Amin.
"Tanyalah apa yang ingin engkau tanyakan," kata Khalid.
"Apakah Allah menurunkan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW sebuah pedang dari langit kemudian diberikannya kepadamu sehingga jika kamu pakai pedang itu untuk berperang, pasti kamu akan menang?"
"Tidak!" Jawab Khalid.
"Apakah sebabnya kamu digelar dengan Saifullah (Pedang Allah)?" Tanya George.
Khalid menjawab: "Ketika Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW, seluruh kaumnya sangat memusuhinya termasuk juga aku, aku adalah orang yang paling membencinya. Setelah Allah SWT memberikan hidayah-Nya kepadaku, maka aku pun masuk Islam. Ketika aku masuk Islam Rasulullah SAW menerimaku dan memberi gelaran kepadaku "Saifullah" (pedang Allah)."
"Jadi tujuan kamu berperang ini untuk apa?" Tanya George. "Kami ingin mengajak kamu supaya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah dan kami juga ingin mengajak kamu untuk mempercayai bahwa segala apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW itu adalah benar." Jawab Khalid.
George bertanya: "Apakah hukumannya bila orang itu tidak mahu menerimanya?" Jawab Khalid: "Hukumannya adalah harus membayar jizyah, maka kami tidak akan memeranginya."
"Bagaimana kalau mereka tidak mahu membayar?" Tanya George.
"Kami akan mengumumkan perang kepadanya," kata Khalid bin Walid.
George bertanya: "Bagaimanakah kedudukannya jika orang masuk Islam pada hari ini?"
Khalid menjawab: "Di hadapan Allah SWT, kita akan sama semuanya, baik dia orang yang kuat, orang yang lemah, yang dahulu maupun yang kemudian masuk Islam."
"Apakah orang dahulu masuk Islam kedudukannya akan sama dengan orang yang baru masuk?" Tanya George.
Khalid menjawab: "Orang yang datang kemudian akan lebih tinggi kedudukannya dari orang yang terdahulu, sebab kami yang terlebih dahulu masuk Islam, menerima Islam itu ketika Rasulullah SAW masih hidup dan kami dapat menyaksikan turunnya wahyu kepada baginda. Sedangkan orang yang masuk Islam kemudian tidak menyaksikan apa yang telah kami saksikan. Oleh kerana itu siapa saja yang masuk Islam yang datang terakhir maka dia akan lebih mulia kedudukannya, sebab dia masuk Islam tanpa menyaksikan bukti-bukti yang lebih meyakinkannya terlebih dahulu."
George bertanya: "Apakah yang kamu katakan itu benar?" "Demi Allah, sesungguhnya apa yang aku katakan itu adalah benar,"jawab Khalid.
George berkata: "Kalau begitu aku akan percaya kepada apa yang kamu katakan itu, mulai saat ini aku bertaubat untuk tidak lagi memusuhi Islam dan aku menyatakan diri masuk ke dalam agama Islam, wahai Khalid tolonglah ajarkan aku tentang Islam."
Lalu Khalid bin Walid membawa George ke dalam khemahnya, kemudian menuangkan air ke dalam timba untuk menyuruh George bersuci dan mengerjakan solat dua rakaat.
Ketika Khalid bersama dengan George masuk ke dalam khemah, maka tentara Romawi mengadakan serangan besar-besaran terhadap pertahanan umat Islam. Setelah selesai mengerjakan solat, maka Khalid bin Walid bersama dengan George dan kaum Muslimin lainnya meneruskan peperangan sampai matahari terbenam dan di saat itu kaum Muslimin mengerjakan solat Zohor dan Asar dengan isyarat saja.
Dalam pertempuran itu, George yang telah bergabung dengan barisan kaum Muslimin itu terbunuh, dan dia hanya baru mengerjakan solat dua rakaat bersama dengan Khalid bin Walid. Walaupun demikian, ia telah menyatakan keIslamannya dan berjanji untuk tidak akan kembali lagi kepada agama lamanya. Semoga Allah menempatkan George ke dalam golongan orang-orang yang mati syahid. Amin.
TOBATNYA ABU HURAIRAH ra.
Dari Abu Hurairah, ia berkata, "Pada suatu malam setelah salat Isya saya keluar bersama Rasulullah saw. Tiba-tiba di hadapanku ada seorang wanita bercadar yg sedang berdiri di tengah jalan, seraya berkata, "Wahai Abu Hurairah! Sesungguhnya aku telah melakukan perbuatan dosa besar. Apakah masih ada kesempatan bagiku untuk bertobat?"
Lalu saya tanya wanita itu, "Apakah dosamu itu?"
Dia menjawab, "Aku telah berzina dan membunuh anakku dari hasil zina itu." Kukatakan padanya, "Kau telah binasakan dirimu dan telah binasakan orang lain. Demi Allah, tidak ada kesempatan bertobat bagimu."
Mendengar jawabanku, wanitu itu menjerit histeris dan jatuh pingsan. Setelah siuman dia pun lantas pergi. Aku berkata di dalam hati, "Aku berfatwa, padahal Rasulullah saw. ada ditengah-tengah kami?"
Pada pagi harinya aku menemui Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah! Tadi malam ada seorang wanita meminta fatwa kepadaku berkenaan dengan ini…. dan ini…." Setelah mendengar penjelasan aku, beliau bersabda, "Innaa lillahi wa inna ilahi raajiun! Demi Allah, celakalah engkau dan telah mencelakakan orang lain. Tidakkah kau ingat ayat ini : "Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Furqaan:68-70)
Maka aku keluar dari sisi Rasulullah saw. dan berlari menyusuri gang-gang jalan Madinah, sambil bertanya-tanya, "Siapakah yg bisa menunjukkan aku kepada seorang wanita yang meminta fatwa kepadaku tentang begini dan begini tadi malam?" Sementara anak-anak bersorak, "Abu Hurairah sudah gila!" Hingga menjelang larut malam, baru aku menemukannya di tempat itu.
Maka kuberitahukan segera pada wanita itu seperti apa yang dikatakan Rasulullah saw. bahwa dia boleh bertobat. Wanita itu kembali menjerit kegirangan seraya berkata, "Kebun yg kumiliki akan kusedekahkan kepada orang-orang miskin karena dosaku."
Lalu saya tanya wanita itu, "Apakah dosamu itu?"
Dia menjawab, "Aku telah berzina dan membunuh anakku dari hasil zina itu." Kukatakan padanya, "Kau telah binasakan dirimu dan telah binasakan orang lain. Demi Allah, tidak ada kesempatan bertobat bagimu."
Mendengar jawabanku, wanitu itu menjerit histeris dan jatuh pingsan. Setelah siuman dia pun lantas pergi. Aku berkata di dalam hati, "Aku berfatwa, padahal Rasulullah saw. ada ditengah-tengah kami?"
Pada pagi harinya aku menemui Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah! Tadi malam ada seorang wanita meminta fatwa kepadaku berkenaan dengan ini…. dan ini…." Setelah mendengar penjelasan aku, beliau bersabda, "Innaa lillahi wa inna ilahi raajiun! Demi Allah, celakalah engkau dan telah mencelakakan orang lain. Tidakkah kau ingat ayat ini : "Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Furqaan:68-70)
Maka aku keluar dari sisi Rasulullah saw. dan berlari menyusuri gang-gang jalan Madinah, sambil bertanya-tanya, "Siapakah yg bisa menunjukkan aku kepada seorang wanita yang meminta fatwa kepadaku tentang begini dan begini tadi malam?" Sementara anak-anak bersorak, "Abu Hurairah sudah gila!" Hingga menjelang larut malam, baru aku menemukannya di tempat itu.
Maka kuberitahukan segera pada wanita itu seperti apa yang dikatakan Rasulullah saw. bahwa dia boleh bertobat. Wanita itu kembali menjerit kegirangan seraya berkata, "Kebun yg kumiliki akan kusedekahkan kepada orang-orang miskin karena dosaku."
TSA'LABAH BIN ABDURRAHMAN RA
Seorang pemuda dari kaum anshar yang bernama Tsa'labah bin Abdurrahman telah masuk Islam. Dia sangat setia melayani Rasulullah saw. dan cekatan. Suatu ketika Rasulullah saw. mengutusnya untuk suatu keperluan. Dalam perjalanannya dia melewati rumah salah seorang dari Anshar, maka terlihat dirinya seorang wanita Anshar yang sedang mandi. Dia takut akan turun wahyu kepada Rasulullah saw. menyangkut perbuatannya itu. Maka dia pun pergi kabur.
Dia menuju ke sebuah gunung yg berada diantara Mekkah dan Madinah dan terus mendakinya.Selama empat puluh hari Rasulullah saw. kehilangan dia. Lalu Jibril alaihissalam turun kepada Nabi saw. dan berkata, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam buatmu dan berfirman kepadamu, `Sesungguhnya seorang laki-laki dari umatmu berada di gunung ini sedang memohon perlindungan kepada-Ku.'"
Maka Nabi saw. berkata, "Wahai Umar dan Salman! Pergilah cari Tsa'laba bin Aburrahman, lalu bawa kemari."
Keduanya pun lalu pergi menyusuri perbukitan Madinah. Dalam pencariannya itu mereka bertemu dengan salah seorang penggembala Madinah yang bernama Dzufafah.
Umar bertanya kepadanya, "Apakah engkau tahu seorang pemuda di antra perbukitan ini?"
Penggembala itu menjawab, "Jangan-jangan yg engkau maksud seorang laki-laki yang lari dari neraka Jahanam?"
"Bagaimana engkau tahu bahwa dia lari dari neraka Jahanam?" tanya Umar.
Dzaufafah menjawab, "Karena, apabila malam telah tiba, dia keluar kepada kami dari perbukitan ini dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, "Mengapa tidak cabut saja nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti keputusan!"
"Ya, dialah yg kami maksud," tegas Umar. Akhirnya mereka bertiga pergi bersama-sama.
Ketika malam menjelang, keluarlah dia dari antara perbukitan itu dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, "Wahai, seandainya saja Engkau cabut nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti-nanti keputusan!"
Lalu Umar menghampirinya dan mendekapnya. Tsa'labah berkata, "Wahai Umar! Apakah Rasulullah telah mengetahui dosaku?"
"Aku tidak tahu, yg jelas kemarin beliau menyebut-nyebut namamu lalu mengutus aku dan Salman untuk mencarimu."
Tsa'labah berkata, "Wahai Umar! Jangan kau bawa aku menghadap beliau kecuali dia dalam keadaan salat"
Ketika mereka menemukan Rasulullah saw. tengah melakukan salat, Umar dan Salman segera mengisi shaf. Tatkala Tsa'laba mendengar bacaan Nabi saw, dia tersungkur pingsan.
Setelah Nabi mengucapkan salam, beliau bersabda, "Wahai Umar! Salman! Apakah yang telah kau lakukan Tsa'labah?"
Keduanya menjawab, "Ini dia, wahai Rasulullah saw!" Maka Rasulullah berdiri dan menggerak-gerakkan Tsa'labah yg membuatnya tersadar.
Rasulullah saw. berkata kepadanya, "Mengapa engkau menghilang dariku?"
Tsa'labah menjawab, "Dosaku, ya Rasulullah!"
Beliau mengatakan, "Bukankah telah kuajarkan kepadamu suatu ayat yg apat menghapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan?"
"Benar, wahai Rasulullah."
Rasulullah saw. bersabda, "Katakan… Ya Tuhan kami, berilah kami sebahagiaan di dunia dan di akhirat serta peliharalah kami dari azab neraka." (QS al-Baqarah:201)
Tsa'labah berkata, "Dosaku, wahai Rasulullah, sangat besar."
Beliau bersabda,"Akan tetapi kalamullah lebih besar."
Kemudian Rasulullah menyusul agar pulang kerumahnya. Di rumah dia jatuh sakit selama delapan hari. Mendengar Tsa'labah sakit, Salman pun datang menghadap Rasulullah saw. lalu berkata, "Wahai Rasulullah! Masihkah engkau mengingat Tsa'labah? Deia sekarang sedang sakit keras."
Maka Rasulullah saw. datang menemuinya dan meletakkan kepala Tsa'labah di atas pangkuan beliau. Akan tetapi Tsa'labah menyingkirkan kepalanya dari pangkuan beliau."
Mengapa engkau singkirkan kepalamu dari pangkuanku?" tanya Rasulullah saw.
"Karena penuh dengan dosa." Jawabnya
Beliau bertanya lagi, "Bagaimana yang engkau rasakan?"
"Seperti dikerubuti semut pada tulang, daging, dan kulitku." Jawab Tsa'labah.
Beliau bertanya, "Apa yang kau inginkan?"
"Ampunan Tuhanku." Jawabnya.
Maka turunlah Jibril as. dan berkata, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu mengucapkan salam untukmu dan berfirman kepadamu, `Kalau saja hamba-Ku ini menemui Aku dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, niscaya Aku akan temui dia dengan ampunan sepenuh itu pula.'
Maka segera Rasulullah saw. membertahukan hal itu kepadanya. Mendengar berita itu, terpekiklah Tsa'labah dan langsung ia meninggal.Lalu Rasulullah saw. memerintahkan agar Tsa'labah segera dimandikan dan dikafani. Ketika telah selesai menyalatkan, Rasulullah saw. berjalan sambil berjingkat-jingkat. Setelah selesai pemakamannya, para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah! Kami lihat engkau berjalan sambil berjingkat-jingkat." Beliau bersabda, "Demi Zat yang telah mengutus aku sebagai seorang nabi yang sebenarnya! Karena, banyaknya malaikat yang turut melayat Tsa'labah."
Dia menuju ke sebuah gunung yg berada diantara Mekkah dan Madinah dan terus mendakinya.Selama empat puluh hari Rasulullah saw. kehilangan dia. Lalu Jibril alaihissalam turun kepada Nabi saw. dan berkata, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam buatmu dan berfirman kepadamu, `Sesungguhnya seorang laki-laki dari umatmu berada di gunung ini sedang memohon perlindungan kepada-Ku.'"
Maka Nabi saw. berkata, "Wahai Umar dan Salman! Pergilah cari Tsa'laba bin Aburrahman, lalu bawa kemari."
Keduanya pun lalu pergi menyusuri perbukitan Madinah. Dalam pencariannya itu mereka bertemu dengan salah seorang penggembala Madinah yang bernama Dzufafah.
Umar bertanya kepadanya, "Apakah engkau tahu seorang pemuda di antra perbukitan ini?"
Penggembala itu menjawab, "Jangan-jangan yg engkau maksud seorang laki-laki yang lari dari neraka Jahanam?"
"Bagaimana engkau tahu bahwa dia lari dari neraka Jahanam?" tanya Umar.
Dzaufafah menjawab, "Karena, apabila malam telah tiba, dia keluar kepada kami dari perbukitan ini dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, "Mengapa tidak cabut saja nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti keputusan!"
"Ya, dialah yg kami maksud," tegas Umar. Akhirnya mereka bertiga pergi bersama-sama.
Ketika malam menjelang, keluarlah dia dari antara perbukitan itu dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, "Wahai, seandainya saja Engkau cabut nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti-nanti keputusan!"
Lalu Umar menghampirinya dan mendekapnya. Tsa'labah berkata, "Wahai Umar! Apakah Rasulullah telah mengetahui dosaku?"
"Aku tidak tahu, yg jelas kemarin beliau menyebut-nyebut namamu lalu mengutus aku dan Salman untuk mencarimu."
Tsa'labah berkata, "Wahai Umar! Jangan kau bawa aku menghadap beliau kecuali dia dalam keadaan salat"
Ketika mereka menemukan Rasulullah saw. tengah melakukan salat, Umar dan Salman segera mengisi shaf. Tatkala Tsa'laba mendengar bacaan Nabi saw, dia tersungkur pingsan.
Setelah Nabi mengucapkan salam, beliau bersabda, "Wahai Umar! Salman! Apakah yang telah kau lakukan Tsa'labah?"
Keduanya menjawab, "Ini dia, wahai Rasulullah saw!" Maka Rasulullah berdiri dan menggerak-gerakkan Tsa'labah yg membuatnya tersadar.
Rasulullah saw. berkata kepadanya, "Mengapa engkau menghilang dariku?"
Tsa'labah menjawab, "Dosaku, ya Rasulullah!"
Beliau mengatakan, "Bukankah telah kuajarkan kepadamu suatu ayat yg apat menghapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan?"
"Benar, wahai Rasulullah."
Rasulullah saw. bersabda, "Katakan… Ya Tuhan kami, berilah kami sebahagiaan di dunia dan di akhirat serta peliharalah kami dari azab neraka." (QS al-Baqarah:201)
Tsa'labah berkata, "Dosaku, wahai Rasulullah, sangat besar."
Beliau bersabda,"Akan tetapi kalamullah lebih besar."
Kemudian Rasulullah menyusul agar pulang kerumahnya. Di rumah dia jatuh sakit selama delapan hari. Mendengar Tsa'labah sakit, Salman pun datang menghadap Rasulullah saw. lalu berkata, "Wahai Rasulullah! Masihkah engkau mengingat Tsa'labah? Deia sekarang sedang sakit keras."
Maka Rasulullah saw. datang menemuinya dan meletakkan kepala Tsa'labah di atas pangkuan beliau. Akan tetapi Tsa'labah menyingkirkan kepalanya dari pangkuan beliau."
Mengapa engkau singkirkan kepalamu dari pangkuanku?" tanya Rasulullah saw.
"Karena penuh dengan dosa." Jawabnya
Beliau bertanya lagi, "Bagaimana yang engkau rasakan?"
"Seperti dikerubuti semut pada tulang, daging, dan kulitku." Jawab Tsa'labah.
Beliau bertanya, "Apa yang kau inginkan?"
"Ampunan Tuhanku." Jawabnya.
Maka turunlah Jibril as. dan berkata, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu mengucapkan salam untukmu dan berfirman kepadamu, `Kalau saja hamba-Ku ini menemui Aku dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, niscaya Aku akan temui dia dengan ampunan sepenuh itu pula.'
Maka segera Rasulullah saw. membertahukan hal itu kepadanya. Mendengar berita itu, terpekiklah Tsa'labah dan langsung ia meninggal.Lalu Rasulullah saw. memerintahkan agar Tsa'labah segera dimandikan dan dikafani. Ketika telah selesai menyalatkan, Rasulullah saw. berjalan sambil berjingkat-jingkat. Setelah selesai pemakamannya, para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah! Kami lihat engkau berjalan sambil berjingkat-jingkat." Beliau bersabda, "Demi Zat yang telah mengutus aku sebagai seorang nabi yang sebenarnya! Karena, banyaknya malaikat yang turut melayat Tsa'labah."
ALLAH TIDAK MEMBEBANI SESEORANG MELAINKAN SESUAI KESANGGUPANNYA
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, "Tatkala ayat: `Kepunyaan Allahlah apa yang ada di langit dan di bumi. Apabila kamu menampakkan atau menyembunyikan apa yang ada pada dirimu, maka Allah akan memperhitungkan kamu lantaran perbuatan itu. Lalu Dia mengampuni orang yang dikehendaki-Nya dan mengazab orang yang dikehendaki-Nya. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu' (al-Baqarah:284) diturunkan kepada Rasulullah saw. maka hal itu sangat menyulitkan para sahabat beliau.
Mereka menemui Rasulullah. Mereka berlutut seraya berkata, `Ya Rasulullah, kami telah dibebani berbagai amal yang dapat kami kerjakan seperti shalat, shaum, jihad dan sedekah. Sekarang ayat itu diturunkan kepada engkau, dan kami tang sanggup mengamalkannya.'
Maka Rasulullah saw bersabda, `Apakah kamu hendak mengatakan apa apa yang telah dikatakan oleh para Ahli Kitab terdahulu, yaitu `kami mendengar namun kami mendurhakainya?' Namun katakanlah olehmu, `Kami mendengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami. Dan kepada Engkaulah tempat kembali.'
Setelah orang-orang menginsafi ayat itu dan mengucapkan keinsafannya dengan lidah mereka, maka Allah menurunkan ayat yang sesudahnya, yaitu `Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. `Kami tidak membeda-bedakan sedikit pun antara seorang rasul dengan rasul lainnya.'
Dan mereka mengatakan, `Kami dengar dan kami taat. Ya Tuhan kami, ampunilah kami, dan kepada Engkaulah tempat kami kembali.' Setelah mereka mengamalkan ayat itu, maka Allah menasakh ayat tadi dengan ayat, `Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari (kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), `Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau khilaf.'"
Baca al-Baqarah, 284-286
Mereka menemui Rasulullah. Mereka berlutut seraya berkata, `Ya Rasulullah, kami telah dibebani berbagai amal yang dapat kami kerjakan seperti shalat, shaum, jihad dan sedekah. Sekarang ayat itu diturunkan kepada engkau, dan kami tang sanggup mengamalkannya.'
Maka Rasulullah saw bersabda, `Apakah kamu hendak mengatakan apa apa yang telah dikatakan oleh para Ahli Kitab terdahulu, yaitu `kami mendengar namun kami mendurhakainya?' Namun katakanlah olehmu, `Kami mendengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami. Dan kepada Engkaulah tempat kembali.'
Setelah orang-orang menginsafi ayat itu dan mengucapkan keinsafannya dengan lidah mereka, maka Allah menurunkan ayat yang sesudahnya, yaitu `Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. `Kami tidak membeda-bedakan sedikit pun antara seorang rasul dengan rasul lainnya.'
Dan mereka mengatakan, `Kami dengar dan kami taat. Ya Tuhan kami, ampunilah kami, dan kepada Engkaulah tempat kami kembali.' Setelah mereka mengamalkan ayat itu, maka Allah menasakh ayat tadi dengan ayat, `Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari (kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), `Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau khilaf.'"
Baca al-Baqarah, 284-286
SESUNGGUHNYA AGAMA DI SISI ALLAH ADALAH ISLAM
Abu al-Qasim ath-Thabrani meriwayatkan dalam Mu'jam al-Kabir dengan sanadnya dari Ghalib al-Qathan, dia berkata, "Saya datang ke Kufah untuk urusan dagang. Saya menginap dengan A'masy. Pada malam hari, tatkala saya hendak turun, A'masy pun bangkit kemudian shalat malam. Dia membaca ayat dan sampai pada `Allah mempersaksikan' hingga ayat `sesungguhnya agama pada sisi Allah ialah Islam'.
Kemudian dia mengatakan, `Aku pun bersaksi dengan apa yang dipersaksikan Allah. Aku ingin menitipkan kesaksian ini kepada Allah. Juga aku menitipkan kesaksianku pada sisi Allah bahwa sesungguhnya agama pada sisi Allah ialah Islam sebagai suatu titipan.' A'masy mengatakan hal itu beberapa kali. Saya berkata, `Sungguh aku mendengar sesuatu dalam ayat ini.'
Ketika pagi tiba, saya menemuinya dan berkata, `Hai Abu Muhammad, saya mendengar Anda mengulang-ulang ayat itu.'
A'masy berkata, `Bukankah kandungannya telah disampaikan kepadamu?
Saya menjawab, `Sudah sebulan saya bersama Anda, namun Anda belum memberitahukannya kepadaku.'
A'masy berkata, `Demi Allah, aku tidak akan menceritakannya kepadamu sebelum satu tahun.
' Maka aku pun tinggal bersamanya selama satu tahun. Setelah satu tahun berlalu, maka saya bertanya, `Hai Abu Muhammad, setahun telah berlalu.'
A'masy berkata, `Abu Wa'il telah menceritakan kepadaku dari Abdullah, dia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, `Pada hari kiamat akan ditampilkan pemilik titipan ayat itu, lalu Allah Azza wa Jalla berkata, `Hamba-Ku telah berjanji kepada-Ku, dan Aku adalah yang paling berhak memenuhi janji itu. Masuklah ke dalam surga.'"
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (Ali-'Imran:18-19)
Kemudian dia mengatakan, `Aku pun bersaksi dengan apa yang dipersaksikan Allah. Aku ingin menitipkan kesaksian ini kepada Allah. Juga aku menitipkan kesaksianku pada sisi Allah bahwa sesungguhnya agama pada sisi Allah ialah Islam sebagai suatu titipan.' A'masy mengatakan hal itu beberapa kali. Saya berkata, `Sungguh aku mendengar sesuatu dalam ayat ini.'
Ketika pagi tiba, saya menemuinya dan berkata, `Hai Abu Muhammad, saya mendengar Anda mengulang-ulang ayat itu.'
A'masy berkata, `Bukankah kandungannya telah disampaikan kepadamu?
Saya menjawab, `Sudah sebulan saya bersama Anda, namun Anda belum memberitahukannya kepadaku.'
A'masy berkata, `Demi Allah, aku tidak akan menceritakannya kepadamu sebelum satu tahun.
' Maka aku pun tinggal bersamanya selama satu tahun. Setelah satu tahun berlalu, maka saya bertanya, `Hai Abu Muhammad, setahun telah berlalu.'
A'masy berkata, `Abu Wa'il telah menceritakan kepadaku dari Abdullah, dia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, `Pada hari kiamat akan ditampilkan pemilik titipan ayat itu, lalu Allah Azza wa Jalla berkata, `Hamba-Ku telah berjanji kepada-Ku, dan Aku adalah yang paling berhak memenuhi janji itu. Masuklah ke dalam surga.'"
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (Ali-'Imran:18-19)
PARA MALAIKAT MENOLONG NABI DAN SAHABATNYA DALAM PERANG AL-AHZAB
Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya.
Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan (al-Ahzab:9). Al-Allamah bin Katsir berkata, "Allah SWT berfirman memberitahukan nikmat, keutamaan, dan kebaikan-Nya yang telah dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dalam menghadapi dan mengalahkan musuh-musuhnya pada saat mereka terkepung.
Hal itu terjadi pada tahun Khandaq, bulan Syawal tahun kelima Hijriah dalam pendapat yang sahih dan masyur."Musa bin Aqabah dan lain-lainnya berpendapat bahwa peristiwa itu terjadi pada tahun keempat Hijriah.
Adapun yang menjadi menjadi sebab pengepungan tersebut adalah bahwa seorang pemuka Yahudi banin Nadhir yang telah diusir Rasulullah saw. dari kota Madinah ke Khaibar, di dalamnya termasuk Salam bin Abi al-Haqiq, Salam bin Masykam dan Khanah ibnar Rabi', keluar menuju kota Mekah. Mereka berkumpul dengan para pemuka Quraisy dan membujuk mereka untuk memerangi Rasulullah saw. dan menjanjikan kemenangan serta bantuan dari kelompok mereka sendiri. Kaum Quraisy menyetujui usulan mereka dan bersama-sama keluar untuk mengajak kaum Ghathfan bergabung.
Mereka juga menyepakati usulan tersebut. Setelah itu, kaum Quraisy keluar bersama para sekutunya dibawah pimpinan Abu Sufyan Shakhar bin Harb, dan kaum Ghathfan dibawah pimpinan Uyainah bin Hushun bin Badar dengan kekuatan sebesar sepuluh ribu orang.Begitu Rasulullah saw. mendengar bergeraknya mereka untuk melakukan penyerangan, beliau segera memerintahkan kaum muslimin untuk menggali khandaq (lubang) di sekitar kota Madinah yang berhadapan ke timur kota. Hal itu beliau lakukan atas saran Salmah al-Farisi r.a. Dengan penuh ketekunan kaum muslimin bersama Rasulullah saw. bekerja keras menggali dan memindahkan tanah serta batu-batu.
Beberapa waktu kemudian, kaum musyrikin datang membuat kamp di sebelah timur kota di dekat Uhud. Lalu salah satu kelompok dari mereka turun ke dataran tinggi kota Madinah, sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur'an, "(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan bawahmu." (al-Ahzab:10) Rasulullah saw. keluar bersama kaum muslimin yang berkekuatan sekitar 3000 orang, ada yang mengatakan 700 orang.
Mereka menyandarkan punggung masing-masing ke bongkahan batu/tanah. Sementara, wajah mereka menghadap ke arah datangnya musuh. Sedangkan khandaq di depan mereka tidak lebih dari sebuah lubang tanpa air yang memisahkan antara mereka dan menghalangi pasukan berkuda dan pejalan kaki untuk sampai kepada mereka, serta menempatkan kaum wanita dan anak-anak di dalam benteng kota.Bani Quraizhah adalah salah satu kelompok Yahudi yang memiliki benteng di sebelah timur kota Madinah dan terikat perjanjian serta jaminan dengan Rasulullah saw.
Jumlah kekuatan mereka sekitar 800 laskar. Lalu Huyai bin Akhthab an-Nadhari pergi menemui mereka dan membujuknya untuk bersama-sama menyerang Rasulullah saw. Ia tidak beranjak dari sana hingga mereka mengkhianati perjanjian yang dibuatnya dan bergabung mengepung Rasulullah saw. dan kaum muslimin.
Kini urusannya semakin besar, persoalan semakin rumit, dan keadaan semakin kritis, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an, "Di situlah diuji orang-orang mukmin, dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat dasyat." (al-Ahzab:11) Mereka tetap tinggal di sana melindungi Rasulullah saw. dan para sahabatnya selama hampir satu bulan. Hanya saja kaum musyrikin belum sampai kepada mereka dan tidak terjadi pertempuran antara mereka.Lalu Amrun bin Abdi Wuddin al-'Amri salah seorang pasukan berkuda dan pahlawan pemberani yang tersohor pada zaman jahiliah, bersama beberapa orang prajurit berkuda melintasi khandaq dan berhasil menuju ke arah kaum muslimin. Rasulullah saw. segera memerintahkan beberapa prajurit berkuda untuk menghadapinya. Namun, tidak ada seorangpun yang menuruti perintahnya. Lalu beliau memerintahkan Ali bin Abi Thalib r.a. yang segera keluar menghadapinya.
Untuk beberapa saat keduanya bertempur hingga akhirnya Ali bin Abi Thalib berhasil membunuhnya. Dan ini adalah pertanda kemenangan. Lalu Allah mengirimkan angin topan yang berhembus sangat dasyat ke arah para pengepung hingga tidak ada sebuah tenda pun yang tersisa dan tanpa nyala api.
Akhirnya, mereka semua lari meninggalkan ketakutan dan menderita kerugian, sebagaiman firman Allah SWT. "Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan." (al-Ahzab:9)
Firman Allah SWT, "Wa junuudun lam tarauhaa," menurut Ibnu Katsir adalah para malaikat yang membuat mereka (kaum musyrikin) terguncang dan menyusupkan rasa kaget dan takut ke dalam hati mereka. Pada saat itu, setiap kepala kabilah berkata, "Wahai bani Fulan kemarilah kepadaku." Dan mereka pun berkumpul kepadanya dan berkata, "Keselamatan, keselamatan" karena Allah menimpakan ketakutan ke dalam hati mereka.
Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan (al-Ahzab:9). Al-Allamah bin Katsir berkata, "Allah SWT berfirman memberitahukan nikmat, keutamaan, dan kebaikan-Nya yang telah dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dalam menghadapi dan mengalahkan musuh-musuhnya pada saat mereka terkepung.
Hal itu terjadi pada tahun Khandaq, bulan Syawal tahun kelima Hijriah dalam pendapat yang sahih dan masyur."Musa bin Aqabah dan lain-lainnya berpendapat bahwa peristiwa itu terjadi pada tahun keempat Hijriah.
Adapun yang menjadi menjadi sebab pengepungan tersebut adalah bahwa seorang pemuka Yahudi banin Nadhir yang telah diusir Rasulullah saw. dari kota Madinah ke Khaibar, di dalamnya termasuk Salam bin Abi al-Haqiq, Salam bin Masykam dan Khanah ibnar Rabi', keluar menuju kota Mekah. Mereka berkumpul dengan para pemuka Quraisy dan membujuk mereka untuk memerangi Rasulullah saw. dan menjanjikan kemenangan serta bantuan dari kelompok mereka sendiri. Kaum Quraisy menyetujui usulan mereka dan bersama-sama keluar untuk mengajak kaum Ghathfan bergabung.
Mereka juga menyepakati usulan tersebut. Setelah itu, kaum Quraisy keluar bersama para sekutunya dibawah pimpinan Abu Sufyan Shakhar bin Harb, dan kaum Ghathfan dibawah pimpinan Uyainah bin Hushun bin Badar dengan kekuatan sebesar sepuluh ribu orang.Begitu Rasulullah saw. mendengar bergeraknya mereka untuk melakukan penyerangan, beliau segera memerintahkan kaum muslimin untuk menggali khandaq (lubang) di sekitar kota Madinah yang berhadapan ke timur kota. Hal itu beliau lakukan atas saran Salmah al-Farisi r.a. Dengan penuh ketekunan kaum muslimin bersama Rasulullah saw. bekerja keras menggali dan memindahkan tanah serta batu-batu.
Beberapa waktu kemudian, kaum musyrikin datang membuat kamp di sebelah timur kota di dekat Uhud. Lalu salah satu kelompok dari mereka turun ke dataran tinggi kota Madinah, sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur'an, "(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan bawahmu." (al-Ahzab:10) Rasulullah saw. keluar bersama kaum muslimin yang berkekuatan sekitar 3000 orang, ada yang mengatakan 700 orang.
Mereka menyandarkan punggung masing-masing ke bongkahan batu/tanah. Sementara, wajah mereka menghadap ke arah datangnya musuh. Sedangkan khandaq di depan mereka tidak lebih dari sebuah lubang tanpa air yang memisahkan antara mereka dan menghalangi pasukan berkuda dan pejalan kaki untuk sampai kepada mereka, serta menempatkan kaum wanita dan anak-anak di dalam benteng kota.Bani Quraizhah adalah salah satu kelompok Yahudi yang memiliki benteng di sebelah timur kota Madinah dan terikat perjanjian serta jaminan dengan Rasulullah saw.
Jumlah kekuatan mereka sekitar 800 laskar. Lalu Huyai bin Akhthab an-Nadhari pergi menemui mereka dan membujuknya untuk bersama-sama menyerang Rasulullah saw. Ia tidak beranjak dari sana hingga mereka mengkhianati perjanjian yang dibuatnya dan bergabung mengepung Rasulullah saw. dan kaum muslimin.
Kini urusannya semakin besar, persoalan semakin rumit, dan keadaan semakin kritis, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an, "Di situlah diuji orang-orang mukmin, dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat dasyat." (al-Ahzab:11) Mereka tetap tinggal di sana melindungi Rasulullah saw. dan para sahabatnya selama hampir satu bulan. Hanya saja kaum musyrikin belum sampai kepada mereka dan tidak terjadi pertempuran antara mereka.Lalu Amrun bin Abdi Wuddin al-'Amri salah seorang pasukan berkuda dan pahlawan pemberani yang tersohor pada zaman jahiliah, bersama beberapa orang prajurit berkuda melintasi khandaq dan berhasil menuju ke arah kaum muslimin. Rasulullah saw. segera memerintahkan beberapa prajurit berkuda untuk menghadapinya. Namun, tidak ada seorangpun yang menuruti perintahnya. Lalu beliau memerintahkan Ali bin Abi Thalib r.a. yang segera keluar menghadapinya.
Untuk beberapa saat keduanya bertempur hingga akhirnya Ali bin Abi Thalib berhasil membunuhnya. Dan ini adalah pertanda kemenangan. Lalu Allah mengirimkan angin topan yang berhembus sangat dasyat ke arah para pengepung hingga tidak ada sebuah tenda pun yang tersisa dan tanpa nyala api.
Akhirnya, mereka semua lari meninggalkan ketakutan dan menderita kerugian, sebagaiman firman Allah SWT. "Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan." (al-Ahzab:9)
Firman Allah SWT, "Wa junuudun lam tarauhaa," menurut Ibnu Katsir adalah para malaikat yang membuat mereka (kaum musyrikin) terguncang dan menyusupkan rasa kaget dan takut ke dalam hati mereka. Pada saat itu, setiap kepala kabilah berkata, "Wahai bani Fulan kemarilah kepadaku." Dan mereka pun berkumpul kepadanya dan berkata, "Keselamatan, keselamatan" karena Allah menimpakan ketakutan ke dalam hati mereka.
Polisi Siagakan Sniper di Jalur Jember-Banyuwangi?
Oleh Althaf pada Rabu 01 September 2010, 08:08 AM
Source: http://arrahmah.com/index.php/news/read/8989/polisi-siagakan-sniper-di-jalur-jember-banyuwangi#ixzz0yGwmX7ix
JEMBER (Arrahmah.com) - Polri berencana menyiagakan sebanyak 30 penembak jitu ("sniper") di jalur mudik sepanjang Kabupaten Jember hingga Kabupaten Banyuwangi, sepekan jelang("H-7") Lebaran 1431 Hijriah. Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Polres Jember Kompol Erick Hermawan, Selasa mengatakan, penembak jitu disebar di sejumlah titik rawan tindak kejahatan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. "Biasanya banyak 'bajing loncat' yang memanfaatkan jalan-jalan yang sepi untuk menghentikan mobil para pemudik, sehingga polisi menyiagakan penembak jitu untuk mengamankan pemudik," tutur Erick menegaskan.
Ia menjelaskan, berbagai tindak kejahatan sangat mungkin terjadi selama arus mudik dan balik di jalur Jember-Banyuwangi, yang paling dominan adalah pencurian dengan kekerasan. "Biasanya para perampok melakukan aksi kejahatannya di sejumlah ruas jalan yang sepi," ujarnya.
Menurut dia, puluhan penembak jitu tersebut berasal dari Brigade Mobil (Brimob) Mabes Polri yang membantu jajaran kepolisian resor (Polres) Jember dan polres lain, sepanjang jalur Jember-Banyuwangi. "Puluhan penembak jitu akan ditempatkan di sejumlah titik rawan tindakan kriminalitas di sepanjang jalur arus mudik Lebaran di kawasan jalur utama dan jalur alternatif," tuturnya menjelaskan.
Penembak jitu, lanjut dia, akan ditempatkan di sejumlah titik rawan kriminalitas sepanjang Kabupaten Jember hingga Banyuwangi sejak "H-7" hingga "H+8" Lebaran 2010. "Masyarakat tidak perlu khawatir untuk melewati jalur sepanjang Jember-Banyuwangi karena pengamanan ruas jalan itu sangat ketat, selama Lebaran," ucapnya menegaskan.
Terkait dengan perintah tembak di tempat, kata dia, tindakan tersebut bisa saja dikeluarkan setiap saat, tergantung dari aksi kejahatan yang dilakukan para "bajing loncat" tersebut. Kasat Lantas Polres Jember AKP I Gusti Agung Dhana A, mengatakan sebanyak delapan penembak jitu akan disiagakan di kawasan Garahan, Kecamatan Silo.
"Polisi juga menyiapkan satu pos pengamanan di Sempolan untuk mengantisipasi tindakan kriminalitas selama arus mudik dan balik Lebaran 2010, khusus di kawasan Garahan menuju Kumitir yang rawan macet, rawan kriminalitas dan rawan kecelakaan," ucap Agung. Sebanyak delapan pos pengamanan Lebaran di Kabupaten Jember akan disiagakan di sepanjang jalur mudik seperti titik rawan kecelakaan dan rawan tindak kriminalitas. (rep/arrahmah.com)
Ia menjelaskan, berbagai tindak kejahatan sangat mungkin terjadi selama arus mudik dan balik di jalur Jember-Banyuwangi, yang paling dominan adalah pencurian dengan kekerasan. "Biasanya para perampok melakukan aksi kejahatannya di sejumlah ruas jalan yang sepi," ujarnya.
Menurut dia, puluhan penembak jitu tersebut berasal dari Brigade Mobil (Brimob) Mabes Polri yang membantu jajaran kepolisian resor (Polres) Jember dan polres lain, sepanjang jalur Jember-Banyuwangi. "Puluhan penembak jitu akan ditempatkan di sejumlah titik rawan tindakan kriminalitas di sepanjang jalur arus mudik Lebaran di kawasan jalur utama dan jalur alternatif," tuturnya menjelaskan.
Penembak jitu, lanjut dia, akan ditempatkan di sejumlah titik rawan kriminalitas sepanjang Kabupaten Jember hingga Banyuwangi sejak "H-7" hingga "H+8" Lebaran 2010. "Masyarakat tidak perlu khawatir untuk melewati jalur sepanjang Jember-Banyuwangi karena pengamanan ruas jalan itu sangat ketat, selama Lebaran," ucapnya menegaskan.
Terkait dengan perintah tembak di tempat, kata dia, tindakan tersebut bisa saja dikeluarkan setiap saat, tergantung dari aksi kejahatan yang dilakukan para "bajing loncat" tersebut. Kasat Lantas Polres Jember AKP I Gusti Agung Dhana A, mengatakan sebanyak delapan penembak jitu akan disiagakan di kawasan Garahan, Kecamatan Silo.
"Polisi juga menyiapkan satu pos pengamanan di Sempolan untuk mengantisipasi tindakan kriminalitas selama arus mudik dan balik Lebaran 2010, khusus di kawasan Garahan menuju Kumitir yang rawan macet, rawan kriminalitas dan rawan kecelakaan," ucap Agung. Sebanyak delapan pos pengamanan Lebaran di Kabupaten Jember akan disiagakan di sepanjang jalur mudik seperti titik rawan kecelakaan dan rawan tindak kriminalitas. (rep/arrahmah.com)
Raih amal shalih, sebarkan informasi ini...
Source: http://arrahmah.com/index.php/news/read/8989/polisi-siagakan-sniper-di-jalur-jember-banyuwangi#ixzz0yGwmX7ix
Lebih Rendah Dari Binatang, Seorang Muslimah Ungkap Pengalamannya Dalam Penjara Israel
Oleh Hanin Mazaya pada Rabu 01 September 2010, 08:28 AM
Source: http://arrahmah.com/index.php/news/read/8991/lebih-rendah-dari-binatang-seorang-muslimah-ungkap-pengalamannya-dalam-penj#ixzz0yGwFsGNj
"Kamp Rusia...." ujar Jehan Dahadha sebelum ia terdiam. Tatapannya berpindah ke lantai dan Muslimah Palestina berusia 23 tahun itu mulai mendesah sebelum melanjutkan kisahnya.
"Tingkat rasa sakit yang diderita di dalam tahanan Kamp Rusia, apakah itu dari sisi psikologi maupun fisik, membuatnya dapat disebut 'toko jagal'. Ini tidak cocok bagi manusia tinggal di sana. Bahkan untuk hewan sekalipun."
Pada usia 19 tahun, Dahadha ditangkap di bawah dugaan Israel bahwa ia merupakan anggota pergerakan Jihad Islam dan ia dibawa pergi dari rumahnya di Ramallah, Tepi Barat.
Dia menghabiskan beberapa hari untuk diinterogasi dalam fasilitas penjara Kamp Rusia di Yerusalem sebelum dijatuhi hukuman penjara selama 16 bulan pada penjara Ha'Sharon di Israel utara.
"Kita sebagai orang Palestina seluruhnya menjadi tahanan, kakakku, ibuku, adikku. Tidak ada rumah Palestina yang tidak mengalami penderitaan, mulai dari penghancuran sampai penangkapan," ujar Dahadha yang berada dalam kantornya, Adameer Prisoners Support and Human Right Association di Ramallah.
Dahadha mengatakan alasan sebenarnya dirinya ditangkap karena ia terlibat dengan aksi unjuk rasa damai melawan pendudukan Israel, mengunjungi keluarga tahanan politik Palestina dan membantu para tahanan mendapatkan pengacara.
"Ada apa di balik (proses penangkapan dan penahanan Israel), tidak untuk menjaga ketertiban atau menghukum orang-orang yang melanggar hukum, mereka mendirikan penjara untuk merusak mental perlawanan atau menghilangkan ide penolakan pendudukan dalam pikiran Anda," ujar Ala Jaradat, Direktur Program Addameer.
Sekitar 700.000 orang Palestina telah ditangkap atau ditahan atas perintah militer ISrael sejak 1967.
Selama periode yang sama, hampir 10.000 perempuan Palestina berada dalam penjara Israel.
Saat ini, sekitar 7.000 penduduk Palestina ditahan oleh Israel, 300 diantaranya adalah anak-anak dan 34 kaum perempuan.
"Tahanan perempuan sangat sulit mendapat hak mereka, setiap kali mencoba bernegosiasi, mereka mengalami perlakukan kasar."
Dahadha mengatakan bahwa penelitian dan informasi yang ia kumpulkan sebelum masuk penjara sangat jauh berbeda dari apa yang dia lihat sendiri.
"Aku membaca dari surat kabar dan internet mengenai tahanan di penjara. Tidak peduli berapa banyak Anda membaca, Anda tidak akan pernah mengerti sampai Anda pergi sendiri ke sana," ujarnya. Ia menjelaskan bahwa penerangan sangat buruk, makanan tidak sehat dan kehadiran serangga serta kecoa dalam kamar tiap tahanan.
"Mereka memperlakukan kami dengan sangat buruk, bukan sebagai manusia. Manusia bagi mereka, terutama penduduk Palestina, diperlakukan lebih buruk dari binatang," lanjut Dahadha.
Pelecehan seksual dan intimidasi terus meningkat dan selalu dilakukan saat interogasi untuk memaksa Muslimah Palestina mengakui sesuatu.
Dahadha berbicara mengenai pengalamannya dalam tahanan Israel.
"Hidup saya berubah," ujarnya. "Aku bertunangan dengan pria Yordania, tetapi setelah aku bebas, mereka melarangku meninggalkan Palestina. setiap aku mencoba melintasi perbatasan, mereka memerintahkanku untuk kembali dan melakukan interogasi."
Baru bergerak untuk merencanakan pernikahan di musim gugur, Dahadha dan tunangan barunya diancam dengan pidana penjara oleh otoritas Israel.
"Bahkan setelah seorang tahanan telah keluar dari penjara," ujarnya dengan tersenyum tipis.
"Penyiksaan tidak berhenti sampai disitu." (haninmazaya/arrahmah.com)
"Tingkat rasa sakit yang diderita di dalam tahanan Kamp Rusia, apakah itu dari sisi psikologi maupun fisik, membuatnya dapat disebut 'toko jagal'. Ini tidak cocok bagi manusia tinggal di sana. Bahkan untuk hewan sekalipun."
Pada usia 19 tahun, Dahadha ditangkap di bawah dugaan Israel bahwa ia merupakan anggota pergerakan Jihad Islam dan ia dibawa pergi dari rumahnya di Ramallah, Tepi Barat.
Dia menghabiskan beberapa hari untuk diinterogasi dalam fasilitas penjara Kamp Rusia di Yerusalem sebelum dijatuhi hukuman penjara selama 16 bulan pada penjara Ha'Sharon di Israel utara.
"Kita sebagai orang Palestina seluruhnya menjadi tahanan, kakakku, ibuku, adikku. Tidak ada rumah Palestina yang tidak mengalami penderitaan, mulai dari penghancuran sampai penangkapan," ujar Dahadha yang berada dalam kantornya, Adameer Prisoners Support and Human Right Association di Ramallah.
Dahadha mengatakan alasan sebenarnya dirinya ditangkap karena ia terlibat dengan aksi unjuk rasa damai melawan pendudukan Israel, mengunjungi keluarga tahanan politik Palestina dan membantu para tahanan mendapatkan pengacara.
"Ada apa di balik (proses penangkapan dan penahanan Israel), tidak untuk menjaga ketertiban atau menghukum orang-orang yang melanggar hukum, mereka mendirikan penjara untuk merusak mental perlawanan atau menghilangkan ide penolakan pendudukan dalam pikiran Anda," ujar Ala Jaradat, Direktur Program Addameer.
Sekitar 700.000 orang Palestina telah ditangkap atau ditahan atas perintah militer ISrael sejak 1967.
Selama periode yang sama, hampir 10.000 perempuan Palestina berada dalam penjara Israel.
Saat ini, sekitar 7.000 penduduk Palestina ditahan oleh Israel, 300 diantaranya adalah anak-anak dan 34 kaum perempuan.
"Tahanan perempuan sangat sulit mendapat hak mereka, setiap kali mencoba bernegosiasi, mereka mengalami perlakukan kasar."
Dahadha mengatakan bahwa penelitian dan informasi yang ia kumpulkan sebelum masuk penjara sangat jauh berbeda dari apa yang dia lihat sendiri.
"Aku membaca dari surat kabar dan internet mengenai tahanan di penjara. Tidak peduli berapa banyak Anda membaca, Anda tidak akan pernah mengerti sampai Anda pergi sendiri ke sana," ujarnya. Ia menjelaskan bahwa penerangan sangat buruk, makanan tidak sehat dan kehadiran serangga serta kecoa dalam kamar tiap tahanan.
"Mereka memperlakukan kami dengan sangat buruk, bukan sebagai manusia. Manusia bagi mereka, terutama penduduk Palestina, diperlakukan lebih buruk dari binatang," lanjut Dahadha.
Pelecehan seksual dan intimidasi terus meningkat dan selalu dilakukan saat interogasi untuk memaksa Muslimah Palestina mengakui sesuatu.
Dahadha berbicara mengenai pengalamannya dalam tahanan Israel.
"Hidup saya berubah," ujarnya. "Aku bertunangan dengan pria Yordania, tetapi setelah aku bebas, mereka melarangku meninggalkan Palestina. setiap aku mencoba melintasi perbatasan, mereka memerintahkanku untuk kembali dan melakukan interogasi."
Baru bergerak untuk merencanakan pernikahan di musim gugur, Dahadha dan tunangan barunya diancam dengan pidana penjara oleh otoritas Israel.
"Bahkan setelah seorang tahanan telah keluar dari penjara," ujarnya dengan tersenyum tipis.
"Penyiksaan tidak berhenti sampai disitu." (haninmazaya/arrahmah.com)
Raih amal shalih, sebarkan informasi ini...
Source: http://arrahmah.com/index.php/news/read/8991/lebih-rendah-dari-binatang-seorang-muslimah-ungkap-pengalamannya-dalam-penj#ixzz0yGwFsGNj
Lebih Utama Mana Shalat Tarawih Berjamaah Atau Sendiri?
FASAL TENTANG SHALAT TARAWIH (3)
24/08/2010
Para ulama juga berbeda pendapat apakah seharusnya shalat tarawih dilaksanakan dengan berjamaah atau sendiri-sendiri di malam Ramadhan maka para ulama berbeda pendapat sebagai berikut:
Imam al-Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hanbal dan jumhur ulama Syafi’iyyah dan sebagian pengikut Imam Malik dan lainnya berpendapat bahwa: Shalat tarawih lebih utama dilakukan secara berjamaah, alasannya:
1) Mengikuti perintah Umar bin Khatab ra sebagaimana
hadis-hadis yang sudah diriwayatkan terdahulu.
2) Melaksanakan amalan para sahabat Nabi r.a
3) Melestarikan amalan kaum muslimin Timur dan Barat.
4) Karena termasuk perbuatan mensyi’arkan Islam,
sebagaimana halnya shalat Idul Fitri dan Idul Adha.
Malahan berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas Imam at Thahawi berpendapat berjamaah dalam shalat tarawih hukumnya Wajib Kifayah
Namun Imam Malik Abu Yusuf dan sebagian kecil pengikut Syafi’iyyah berpendapat bahwa shalat berjamaah Tarawih hukumnya “lebih utama dilaksanakan sendiri tanpa berjamaah”
Alasannya:
1) Sabda Nabi Muhammad Saw.
Artinya: hadits riwayat dari Yusrin bin Said bahwasanya Zaid bin Tsabit berkata: “Paling utama-utamanya shalat adalah shalat kalian dikerjakan dirumah kecuali shalat fardlu”.
Pengikut Imam Malik, bertanya kepadanya: Bagaimana Imam Malik melakukan Qiyamul lail di Bulan Ramadhan lebih disukai yang mana berjamaah dengan orang banyak atau dilaksanakan sendiri di rumah?
Imam Malik menjawab: kalau dilaksanakan sendiri di rumah itu kuat dan lama. Saya lebih suka. Tetapi kebanyakan kaum muslimin tidak kuat dan malas melaksanakan shalat sendiri di rumah
Imam Turmudzi dan Imam Rabiah melaksanakannya sendiri di rumah begitu juga ulama-ulama lain. Sementara Imam Malik lebih suka dan lebih senang melakukan shalat sunnat sendiri di rumah
24/08/2010
Para ulama juga berbeda pendapat apakah seharusnya shalat tarawih dilaksanakan dengan berjamaah atau sendiri-sendiri di malam Ramadhan maka para ulama berbeda pendapat sebagai berikut:
Imam al-Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hanbal dan jumhur ulama Syafi’iyyah dan sebagian pengikut Imam Malik dan lainnya berpendapat bahwa: Shalat tarawih lebih utama dilakukan secara berjamaah, alasannya:
1) Mengikuti perintah Umar bin Khatab ra sebagaimana
hadis-hadis yang sudah diriwayatkan terdahulu.
2) Melaksanakan amalan para sahabat Nabi r.a
3) Melestarikan amalan kaum muslimin Timur dan Barat.
4) Karena termasuk perbuatan mensyi’arkan Islam,
sebagaimana halnya shalat Idul Fitri dan Idul Adha.
Malahan berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas Imam at Thahawi berpendapat berjamaah dalam shalat tarawih hukumnya Wajib Kifayah
Namun Imam Malik Abu Yusuf dan sebagian kecil pengikut Syafi’iyyah berpendapat bahwa shalat berjamaah Tarawih hukumnya “lebih utama dilaksanakan sendiri tanpa berjamaah”
Alasannya:
1) Sabda Nabi Muhammad Saw.
عن يسر بن سعيد ان زيد بن ثابت قال: افضل الصلاة صلاتكم في بيوتكم الاصلاة المكتوبة. رواه الترمذى
Artinya: hadits riwayat dari Yusrin bin Said bahwasanya Zaid bin Tsabit berkata: “Paling utama-utamanya shalat adalah shalat kalian dikerjakan dirumah kecuali shalat fardlu”.
Pengikut Imam Malik, bertanya kepadanya: Bagaimana Imam Malik melakukan Qiyamul lail di Bulan Ramadhan lebih disukai yang mana berjamaah dengan orang banyak atau dilaksanakan sendiri di rumah?
Imam Malik menjawab: kalau dilaksanakan sendiri di rumah itu kuat dan lama. Saya lebih suka. Tetapi kebanyakan kaum muslimin tidak kuat dan malas melaksanakan shalat sendiri di rumah
Imam Turmudzi dan Imam Rabiah melaksanakannya sendiri di rumah begitu juga ulama-ulama lain. Sementara Imam Malik lebih suka dan lebih senang melakukan shalat sunnat sendiri di rumah
KH Muhaimin Zen
Ketua Umum Pengurus Pusat Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz (JQH) NU
Ketua Umum Pengurus Pusat Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz (JQH) NU
Parpol Tinggalkan Simbol Agama
Rabu, 1 September 2010 13:07
Jakarta, NU Online
Pengamat politik dari Centre for Strategic of International Studies (CSIS) J Kristiadi mengatakan pasca-Orde Baru partai-partai politik berbasis agama telah meninggalkan simbol-simbol agama.
"Hal ini dilakukan untuk meraih suara dalam pemilihan umum. Saat ini, agar mendapat dukungan dari masyarakat, semua partai harus mau jalan ke tengah. Partai yang mau jadi besar harus bisa merangkul dan menyatakan partai ini milik semua," katanya pada diskusi "Preferensi Agama dalam Perilaku Politik Pemilih di Indonesia" di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan hilangnya simbol-simbol agama dalam parpol setelah bangsa Indonesia belajar dari Orde Baru karena selama Orde Baru agama Islam direndahkan hanya sebagai instrumen politik.
"Kampanye dulu perang ayat. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) cari ayat untuk membenarkan milih PPP, Golkar juga punya ayat lain. Saya kira itu merendahkan agama," katanya.
Menurut dia, saat ini parpol yang pada dasarnya Islam, tetapi sudah bisa merangkul keseluruhan dan partai Islam pun tidak memakai simbol-simbol Islam, seperti PKB, PAN, dan PKS.
"Saat ini, PKS sudah menyatakan partai terbuka. Itu sangat menggembirakan bahwa simbol-simbol agama tidak dapat dijualbelikan untuk politik," ucapnya.
Peneliti senior dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi menilai partai politik berbasis Islam harus melakukan pembenahan agar suara mereka meningkat di pemilu mendatang.
"Partai Islam harus keluar dari `captive marketnya dengan merambah konstituen baru yang selama ini bernaung di partai politik nasionalis. Pemilih Muslim di Indonesia semakin rasional melihat isu yang diangkat oleh partai politik," katanya. (ant/mad)
Jakarta, NU Online
Pengamat politik dari Centre for Strategic of International Studies (CSIS) J Kristiadi mengatakan pasca-Orde Baru partai-partai politik berbasis agama telah meninggalkan simbol-simbol agama.
"Hal ini dilakukan untuk meraih suara dalam pemilihan umum. Saat ini, agar mendapat dukungan dari masyarakat, semua partai harus mau jalan ke tengah. Partai yang mau jadi besar harus bisa merangkul dan menyatakan partai ini milik semua," katanya pada diskusi "Preferensi Agama dalam Perilaku Politik Pemilih di Indonesia" di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan hilangnya simbol-simbol agama dalam parpol setelah bangsa Indonesia belajar dari Orde Baru karena selama Orde Baru agama Islam direndahkan hanya sebagai instrumen politik.
"Kampanye dulu perang ayat. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) cari ayat untuk membenarkan milih PPP, Golkar juga punya ayat lain. Saya kira itu merendahkan agama," katanya.
Menurut dia, saat ini parpol yang pada dasarnya Islam, tetapi sudah bisa merangkul keseluruhan dan partai Islam pun tidak memakai simbol-simbol Islam, seperti PKB, PAN, dan PKS.
"Saat ini, PKS sudah menyatakan partai terbuka. Itu sangat menggembirakan bahwa simbol-simbol agama tidak dapat dijualbelikan untuk politik," ucapnya.
Peneliti senior dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi menilai partai politik berbasis Islam harus melakukan pembenahan agar suara mereka meningkat di pemilu mendatang.
"Partai Islam harus keluar dari `captive marketnya dengan merambah konstituen baru yang selama ini bernaung di partai politik nasionalis. Pemilih Muslim di Indonesia semakin rasional melihat isu yang diangkat oleh partai politik," katanya. (ant/mad)
Iwan Fals Hibur Santri di 14 Kota
Rabu, 1 September 2010 14:14
Jakarta, NU Online
Salah satu lagu yang dinyanyikan langsung oleh Iwan Fals berjudul Ibu pada pentas di Pesantren Annur Bekasi Utara, Kota Bekasi, Jabar, menghibur para santri, aktivis pesantren, komunitas Oi dan lainnya.
Pentas yang berlangsung Selasa sore selepas Ashar ini merupakan pentas Iwan Fals yang kesebelas dalam rangkaian "Perjalanan Spritual Iwan Fals & Ki Ageng Ganjur" selama bulan Ramadhan 1431 Hijriyah.
"Selama bulan puasa pentas ini sudah terselenggara di 10 kota, sekarang di kota yang ke-11 dan kami masih akan pentas di tiga kota lagi," kata Iwan Fals.
Kota-kota yang hendak dijadikan pentas Iwan Fals selama Ramadan adalah Tangerang, Serang dan Sukabumi.
Dalam rangkaian pentas di Pesantren Annur tersebut Iwan Fals menyanyikan lagu antara lain berjudul "Ibu", lalu "Ujung Aspal Pondok Gede", dan "Tanam Siram Tanam".
Lagu Iwan Fals berjudul Ibu yang hits pada era 1990-an tersebut, menurut salah sorang penonoton, Didiet, sangat menyentuh kalbu dan bernilai spiritual tinggi karena memang ada anjuran dalam agama agar umat Islam mendahulukan ibu untuk dihormati. (ant/mad)
Jakarta, NU Online
Salah satu lagu yang dinyanyikan langsung oleh Iwan Fals berjudul Ibu pada pentas di Pesantren Annur Bekasi Utara, Kota Bekasi, Jabar, menghibur para santri, aktivis pesantren, komunitas Oi dan lainnya.
Pentas yang berlangsung Selasa sore selepas Ashar ini merupakan pentas Iwan Fals yang kesebelas dalam rangkaian "Perjalanan Spritual Iwan Fals & Ki Ageng Ganjur" selama bulan Ramadhan 1431 Hijriyah.
"Selama bulan puasa pentas ini sudah terselenggara di 10 kota, sekarang di kota yang ke-11 dan kami masih akan pentas di tiga kota lagi," kata Iwan Fals.
Kota-kota yang hendak dijadikan pentas Iwan Fals selama Ramadan adalah Tangerang, Serang dan Sukabumi.
Dalam rangkaian pentas di Pesantren Annur tersebut Iwan Fals menyanyikan lagu antara lain berjudul "Ibu", lalu "Ujung Aspal Pondok Gede", dan "Tanam Siram Tanam".
Lagu Iwan Fals berjudul Ibu yang hits pada era 1990-an tersebut, menurut salah sorang penonoton, Didiet, sangat menyentuh kalbu dan bernilai spiritual tinggi karena memang ada anjuran dalam agama agar umat Islam mendahulukan ibu untuk dihormati. (ant/mad)
Lukman Hakim: Gedung Baru DPR Tak Boleh Jadi Panti Pijat
Rabu, 1 September 2010 16:09
Jakarta, NU Online
Janji Ketua DPR Marzuki Alie untuk membatalkan rencana pembangunan sarana spa di gedung baru DPR harus ditepati. Gedung DPR adalah rumah aspirasi bagi rakyat jelata, bukan panti pijat anggota DPR.
"Gedung baru DPR harus benar-benar cerminkan gedung parlemen, bukan pusat rekreasi atau panti pijat," kata Wakil Ketua MPR, Lukman Hakim Saefudin di Jakarta, Rabu (1/9).
Yang harus dilengkapi di gedung baru DPR, menurut Lukman, adalah sarana yang menunjang kerja anggota DPR. Lukman mencontohkan, ruang anggota dan ruang staf ahli memang layak ditingkatkan kapasitasnya.
"Perpustakaan harus dibuat besar dan komplit, bukan malah spa, sauna, juga kolam renang. Kesannya kok sangat berlebihan," papar Lukman.
Lukman mengajak semua anggota DPR memahami fungsi gedung baru. Lukman berharap gedung baru DPR benar-benar menjadi tempat kerja yang efektif bagi anggota DPR.
"Utamakan efektifitas kerja saja agar aktualitas fungsi DPR lebih baik," harapnya. (min)
Jakarta, NU Online
Janji Ketua DPR Marzuki Alie untuk membatalkan rencana pembangunan sarana spa di gedung baru DPR harus ditepati. Gedung DPR adalah rumah aspirasi bagi rakyat jelata, bukan panti pijat anggota DPR.
"Gedung baru DPR harus benar-benar cerminkan gedung parlemen, bukan pusat rekreasi atau panti pijat," kata Wakil Ketua MPR, Lukman Hakim Saefudin di Jakarta, Rabu (1/9).
Yang harus dilengkapi di gedung baru DPR, menurut Lukman, adalah sarana yang menunjang kerja anggota DPR. Lukman mencontohkan, ruang anggota dan ruang staf ahli memang layak ditingkatkan kapasitasnya.
"Perpustakaan harus dibuat besar dan komplit, bukan malah spa, sauna, juga kolam renang. Kesannya kok sangat berlebihan," papar Lukman.
Lukman mengajak semua anggota DPR memahami fungsi gedung baru. Lukman berharap gedung baru DPR benar-benar menjadi tempat kerja yang efektif bagi anggota DPR.
"Utamakan efektifitas kerja saja agar aktualitas fungsi DPR lebih baik," harapnya. (min)
Masjid Agung Roma, Termegah di Eropa
| | | |
| Written by Fredi Wahyu Wasana |
| Friday, 27 August 2010 17:44 |
| Tempat ibadah dan kegiatan umat Islam di Italia ini menjadi simbol toleransi di jantung Katholik. Roma. Kota kuno nan cantik itu begitu tersohor dibelahan dunia. Ibu kota negara Republik Italia ini menjadi pusat agama Katholik. Tepatnya di Vatikan, kebijakan keagamaan umat Katholik terpusat di sana. Namun siapa yang mengira, ternyata kota yang identik dengan Katholik itu memiliki sebuah masjid megah yang berdiri sejak lama, yaitu Masjid Agung Roma, atau yang biasa disebut “Grande Moschea Masjid”. Masjid ini menjadi simbol toleransi keberagamaan di Italia. Letaknya di Basilica, Santo Paulus Roma, persisi bersebelahan dengan Vatikan dan Sinagog Yahudi. 40.000 Jama’ah Berdiri di atas lahan seluas 30 ribu meter persegi, masjid yang menjadi kebanggaan umat Islam Italia bahkan dunia ini mampu menampung sekitar 40.000 jama’ah. Lebih mengangumkan lagi, masjid ini merupakan masjid terbesar di daratan Eropa. Keberadaan masjid di tengah kota Roma itu tak terlepas dari jasa almarhum Raja Faisal bin Abdul Aziz Al-Saud, pemimpin Arab Saudi, yang meninggal pada 1975. Kala itu, Raja Faisal meminta kepada Presiden Giovanni Leone, yang menjabat presiden Republik Italia ke-6 sejak tahun 1971-1978, untuk membangun masjid bagi umat Islam Roma. “Sudah seharusnya Roma memiliki sebuah masjid, lantaran saat itu, tahun 1970-an, terdapat sekitar 40 ribu muslim,” kata Raja Faisal kala itu (Puluhan tahun sebelumnya terjadi imigrasi muslim besar-besaran dari negara-negara Asia untuk mencari penghidupan yang lebih baik). Lebih jauh, menurut Raja Faisal, rencana pembangunan masjid itu, selain sebagai tempat ibadah dan kegiatan umat Islam di Italia, juga bisa dimanfaatkan untuk menjalin hubungan akrab serta dialog antara umat Islam dan Kristen. Presiden Leone menyambut baik usulan Raja Faisal. Ia berjanji akan menyediakan tanah untuk pembangunan masjid itu. Maka, tepat pada tahun 1975, Presiden Leone mulai merealisasikan janjinya. Bersama Wali Kota Roma, Giulio Carlo Argan, ia menyumbangkan tanah seluas 30 ribu meter persegi yang kepada Pusat Kebudayaan Islam di Italia utuk dibangun sebuah masjid. Namun, karena terjadi suksesi kepemimpinan di Italia, pembangunannya baru dimulai pada tanggal 11 Desember 1984. Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Agung Roma dilakukan oleh Presiden Italia saat itu, Alessandro Pertini. Pembangunan baru selesai 11 tahun kemudian, tepatnya tanggal 21 Juni 1995. Pertemuan Dua Budaya Arsitek terkenal Italia, Paolo Portoghesi, dipercaya mendesain masjid ini setelah menyisihkan 40 arsitek lainnya dalam seleksi yang dilakukan Wali Kota Roma, Giulio Carlo Argan, bersama arsitek Avio Mattiozzi pada tahun 1975. Portoghesi juga dosen sejarah arsitek di Universitas Roma. Menyadari tanggung jawabnya sangat besar dalam mengemban tugas membangun masjid di negeri itu, ia pun mempelajari sejarah Islam untuk memahami arsitektur Islam, bahkan ia pun mempelajari terjemahan Al-Quran. Tidak hanya itu, demi mendapatkan sumber yang lebih akurat, ia juga melakukan penelitian langsung ke Yordania, Sudan, Tukia, Mesir, dan Tunisia. Sejak itulah, tepatnya pada tahun 1970-an, ia mulai mengenal arsitektur Islam, dan siap untuk mendesain masjid megah kebanggaan umat Islam. Portoghesi mendesain masjid berarsitektur Islam klasik berpadu gaya Eropa. Gaya Islam-nya, ia terinspirasikan Al-Quran surah An-Nur, yang berarti “cahaya”. Sedang gaya Eropa-nya, karena ia ingin melestarikan seni bangun negerinya. Masjid ini memiliki enam belas kubah ditambah sebuah kubah besar di tengah yang atasnya dihiasi bulan sabit, simbol Islam. Desain interior kubahnya saling silang. Dan menjadi ciri khas masjid ini. Teknik semen bersilang membuat bagian-bagian lengkungan tersebut terlihat begitu apik, menyimbolkan pertemuan dua kebudayaan: Islam dan Eropa. 1,030 Juta Muslim di Italia “Sukses membangun masjid ini telah memberikan kebahagiaan tersendiri buat saya. Selama mendedikasikan diri saya dalam seni arsitektur 20 tahun, baru kali ini saya bisa mewujudkan karya bangunan arsitektur abad lalu yang menggambarkan keindahan dan kedamaian begitu rupa,” kata Portoghesi. Rancangan ruang utama masjid, Portoghesi terinspirasikan dari arsitektur Islam klasik. Ruang ibadahnya didesain begitu luas, berbentuk persegi. Sementara untuk ruang ibadah wanita, dibangun dua balkon di dua sisi ruang utama. Untuk mendekorasi interior ruang utama masjid, arsitek yang juga pernah merancang Masjid Agung Strasbourg di Prancis ini mendatangkan sejumlah pengrajin tangan ahli dari Maroko. Menggambar berbagai mosaik yang membatasi balkon, relung, dan basis-basis lajur. Lajur-lajur yang didesain Portoghesi mengikuti motif klasik dari tipe lengkungan seperti yang ada di sebagian besar masjid kuno. Pola mosaik yang indah terdapat di lantai atas. Masjid karya Portoghesi ini juga tampak megah dengan adanya pilar-pilar pada bagian dalam dan luar bangunan utama setinggi 40 meter. Pilar-pilar masjid ini terlihat berbeda dengan pilar-pilar masjid-masjid yang ada di negara-negara Islam lainnya. Perbedaan itu terlihat pada bagian menara masjid yang memiliki bentuk semacam palem di hutan Maghribi, Maroko. Ada sekitar 186 pilar di bagian luar, 32 pilar di bagian dalam, dan dua buah menara yang tegak terpisah dari bangunan utama masjid. Terpisahnya menara itu dapat dipandang sebagai sebuah tugu, yang biasanya ditempatkan di ujung jalan-jalan kota Roma. Ini mewarisi gaya Eropa. Kemegahan bangunan masjid ini juga bisa dilihat pada dekorasi lantai masjid, yang terdiri dari beraneka warna dan memiliki motif geometris yang berbentuk bintang. Adapun bahannya terbuat dari marmer, batu alam, dan batu bata khas Roma. Halaman sekitar bangunan masjid disulap menjadi taman yang indah dilengkapi dengan air mancur yang jernih. Pohon palem, cemara, dan beberapa jenis pohon lainnya menutupi sekitar area masjid, menciptakan suasana teduh. Jalan-jalan kecil setapak dibuat di sekitar lokasi taman untuk memudahkan para pengunjung yang hendak menikmati keindahan taman masjid. Portoghesi melihat arsitektur Islam sebagai hal yang begitu luhur, sehingga ia memaksimalkan potensi yang dimilikinya untuk medesain Masjid Agung Roma. Kini, masjid megah itu menjadi kebanggaan 1,030 juta muslim di Italia. Ya, saat ini tercatat warga muslim menjadi pemeluk agama terbesar kedua di Italia setelah Katholik. Bazar Ramadhan Begitu juga menjelang waktu berbuka puasa. Muslim Italia memilih ngabuburit di lingkungan masjid. Mempelajari berbagai sejarah Islam yang digelar pengurus masjid, atau sekadar menikmati keindahan dan kemegahan masjid. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang memilih berbuka dengan ta’jil yang disediakan panitia, berlanjut dengan melaksanakan ibadah-ibadah lainnya. “Kami memilih melakukan shalat lima waktu, Tarawih, serta shalat berjama’ah lainnya di masjid ini, lantaran kami ingin merasakan suasana Ramadhan di Yaman, seraya mengobati rindu,” demikian kata Dr. Abdul Wali Asy-Syamiri, imigran Yaman di Roma. Memanjakan muslim Italia, pengurus masjid juga mengadakan bazar Ramadhan di halaman masjid dengan berbagai menu Timur Tengah, Asia, dan Italia tentunya. Pedagang-pedagang di sekitar masjid juga ada yang menjual makanan khas Arab, seperti kurma, kismis, manisan. Begitu antusias umat Islam Italia untuk beribadah di Masjid Agung Roma, sehingga jama’ah yang berasal dari luar kota pun berbondong-bondong datang ke sana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Terlebih di bulan mulia yang penuh ampunan ini. SEL |
Renungan Nuzulul Quran: Ketika Al-Quran Tinggal Tulisan
| | | |
653
| Written by Fredi Wahyu Wasana |
| Friday, 20 August 2010 10:33 |
| “Hampir datang suatu masa kepada umat manusia bahwa Islam tidaklah ketinggalan melainkan tinggal namanya, dan Al-Quran tidaklah ketinggalan melainkan tinggal tulisan...” Menurut keterangan sebagian ulama ahli tarikh, permulaan wahyu Al-Quran diturunkan pada hari ke-17 bulan Ramadhan tahun 41 Fiel, bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 M. Rasulullah pada waktu itu berumur 40 tahun. Dan penghabisan Al-Quran diturunkan pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun ke 10 Hijriyyah, bertepatan dengan 8 Maret tahun 632 M, dan saat itu Rasulullah sudah berusia 63 tahun. Masa diturunkannya Al-Quran selama 22 tahun dua bulan 22 hari. Al-Quran diturunkan dengan berangsur-angsur bukannya tanpa alasan. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Furqan ayat 32, “Berkatalah orang-orang yang kafir: Mengapa Al-Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).” “Dan Al-Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacanya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS Al-Isra’ 106). Al-Quran diturunkan dengan berproses itu bertujuan supaya Rasulullah SAW tidak merasa berat membaca dan mengajarkannya kepada manusia, dan supaya manusia yang menerima pengajaran dari Al-Quran dapat mengerjakannya sedikit demi sedikit, ajarannya masuk ke dalam qalbu, dan mereka dapat melaksanakan setiap perintah secara sempurna dan menghindari larangan dengan tuntas. Awal dan Akhir Wahyu Sedang wahyu penghabisan yang diturunkan ialah ayat yang sekarang termaktub dalam surah Al-Maidah ayat 5, ‘Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu’.” Dikisahkan, Nabi Muhammad SAW ketika menerima wahyu pertama kali itu sedang berada di Gua Hiraa’ dan gunungnya terkenal dengan nama “Jabal Nuur”. Saat itu Rasulullah SAW sedang mengasingkan diri dari masyarakat ramai untuk bermunajad dan beribadah. Beliau memang sering mengasingkan diri di dalam gua itu sejak pertengahan bulan Rabi’ul Awwal sampai pada bulan Ramadhan. Jadi lebih kurang enam bulan lamanya beliau sering pergi dari kota Makkah berkhalwat ke gua itu. Kemudian pada suatu malam di bulan Ramadhan dalam keadaan sunyi senyap, gelap gulita, dan seorang diri, beliau didatangi Malaikat Jibril, yang sebelumnya tidak pernah beliau kenal. Malaikat Jibril memberi tahu beliau bahwa malam itu beliau telah diangkat menjadi rasul Allah dan mulai diberi wahyu yaitu diawali dengan lima ayat surah Al-Alaq. Adapun wahyu yang penghabisan diturunkan kepada Rasulullah SAW, menurut beberapa riwayat yang banyak disepakati para ulama, ialah pada waktu Rasulullah SAW mengerjakan ibadah haji wada’ di Padang Arafah bersama-sama kaum muslimin pada 9 Dzulhijjah tahun ke 10 Hijriyyah. Hanya berselang 81 hari dari wafatnya Nabi. Keindahan Bahasa Al-Quran Riwayat hidup Nabi Muhammad SAW telah menunjukkan dengan jelas bahwa beliau tidak pernah ikut perlombaan karang-mengarang syair, membikin pidato, dan sebagainya, yang telah menjadi kebiasaan turun-temurun bangsa Arab pada umumnya di kala itu, terutama suku bangsanya sendiri, Quraisy. Betul bahwa Rasulullah SAW sejak kecil sudah fasih, lancar lidahnya, tetapi kefasihan itu adalah sesuatu yang biasa bagi orang Arab. Demikianlah keadaan pribadi Rasulullah sebelum diangkat menjadi rasul Allah atau sebelum beliau menerima wahyu Allah. Kemudian setelah beliau menjadi rasul dan Al-Quran telah diturunkan sedikit demi sedikit, segala yang menjadi kebesaran bangsa Arab di kala itu berangsur-angsur lenyap. Mereka umumnya menjadi lemah menghadapi semangat yang menyala-nyala yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Quran, yang ketajaman susunan kata-katanya bisa menembus jiwa siapa pun yang mendengarkannya. Di kala Al-Quran diturunkan kepada Rasulullah SAW, tidak sedikit bangsa Arab yang ahli dalam kesusastraan Arab yang ahli menyusun kata-kata untuk berpidato denga bahasa yang halus, fasih, dan indah. Begitu juga para penyairnya, sangatlah terkenal. Namun apa yang terjadi setelah Al-Quran diturunkan? Tidak seorang pun yang dapat mengimbangi satu ayat pun dalam Al-Quran. Allah SWT menyatakan dengan firman-Nya melalui perantaraan Nabi-Nya, mereka yang menentang Al-Quran dipersilakan membuat satu ayat saja yang bisa mengimbangi atau yang serupa dengan ayat Al-Quran, tapi tidak satu pun mereka yang mampu menjawab tantangan tersebut. Untuk mengetahui kehalusan dan keindahan bahasa Al-Quran itu bukan perkara mudah. Mereka yang belum pernah mempelajari bahasa Arab dengan sungguh-sungguh tentu tidak akan dapat membedakan kehalusan dan keindahan ayat-ayat Al-Quran dengan keindahan dan kehalusan bahasa Arab yang terkandung dalam kitab-kitab Arab umumnya. Rasul pun Menangis “Bulan Ramadhan itu yang di dalamnya diturunkan permulaan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk-petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang bathil.” (QS Al-Baqarah: 185). Al-Quran diturunkan ke langit dunia dari Lauh Al-Mahfuz pada bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan mendapat kemuliaan karena firman Allah SWT diturunkan pada bulan ini. Oleh sebab itu Rasulullah SAW belajar Al-Quran bersama Jibril pada bulan Ramadhan. Setiap malamnya Rasulullah SAW mendengarkan bacaan Jibril, mentadabburinya, membacanya, dan mengambil ibrah darinya. Rasulullah SAW hidup dengan Al-Quran dan menenteramkan hati dengannya. Orang yang tengah berpuasa dan membaca Al-Quran, berarti telah menyatukan keintiman hubungan antara bulan Ramadhan dan Al-Quran, maka ia benar-benar hidup bersama Al-Quran. “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS Shaad: 29). “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran, ataukah hati mereka terkunci?” (QS Muhammad: 24). “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS An-Nisa: 82). Pada bulan Ramadhan, harusnya kita menjadikan Al-Quran sebagai sumber inspirasi. Ia mengembalikan ingatan kita kepada masa diturunkannya dahulu, masa ia dipelajari, dan masa para salafush shalih dengan sungguh-sungguh memperhatikannya. Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah Al-Quran, karena pada hari Kiamat nanti ia akan menjadi penolong bagimu.” “Sebaik-baik kamu adalah yang mempelajari Al-Quran dan yang mengajarkannya.” “Bacalah dua kuntum keharuman, yaitu surah Al-Baqarah dan Ali Imran, karena keduanya pada hari Kiamat nanti akan datang seperti dua awan atau seperti sekumpulan burung yang terbang berbaris yang menaungi pembacanya dari terik panas.” Rasulullah SAW juga bersabda, “Orang yang membaca Al-Quran dan mahir dalam pembacaannya akan dibangkitkan bersama rombongan orang-orang yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Quran tapi tidak mahir akan memperoleh dua pahala.” Sebuah syair mengatakan: Aku mendengarmu, wahai Al-Quran ketika malam telah larut Kemuliaan sangatlah menggugah hati Denganmu kami membebaskan dunia sampai pagi menyongsong dengan cerah Setelah itu kami berkeliling negeri dan kami penuhi dengan pahala Dalam buku Sekolah Ramadhan, Dr A’id Abdullah Al-Qarni menulis, “Rasulullah SAW sangat dekat dengan Al-Quran pada bulan Ramadhan. Beliau menghabiskan waktunya bersama Al-Quran, dan mempelajarinya dari Jibril.” Al-Quran menempati posisi paling penting dalam kehidupan Rasulullah SAW, karena Al-Quran merupakan mukjizat terbesar beliau. Allah SWT mengirim Al-Quran kepada Rasulullah SAW di dunia untuk menjadikannya mukjizat yang tidak tertandingi oleh mukjizat selainnya. Mukjizat nabi-nabi lain berakhir begitu saja seiring dengan berakhirnya kehidupan nabi tersebut di dunia, sedangkan Al-Quran tidak demikian. Al-Quran akan tetap kekal abadi sepanjang masa. Al-Quran adalah pembuka jalan dakwah Rasulullah SAW, menjadi dindingnya, menunjukkan kekuatannya, dan menjelaskan ajaran yang dibawanya dengan berkesinambungan, generasi demi generasi. Rasulullah SAW selalu hidup bersama Al-Quran, dan beliau menjadikan kebanyakan waktu beliau untuk Al-Quran pada bulan Ramadhan. Ketika ditanya bagaimana akhlaq Rasulullah SAW, Aisyah RA menjawab, “Akhlaqnya adalah Al-Quran.” Dalam kitab Shahih Al-Bukhari disebutkan sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah berkata kepadaku, ‘Bacakan Al-Quran kepadaku!’ Aku menjawab, ‘Ya Rasulullah, bagaimana aku akan membacakan Al-Quran kepadamu sedangkan Al-Quran itu sendiri diturunkan kepadamu?’ Rasulullah SAW berkata lagi, ‘Bacakan Al-Quran kepadaku, karena aku suka mendengarkan Al-Quran dari orang lain.’ Akhirnya aku membacakannya kepada beliau dan beliau pun mendengarkan dengan khusyu’. Ketika aku sampai pada ayat yang berbunyi, ‘Maka bagaimanakah jika nanti Kami datangkan bagi setiap umat itu seorang saksi dan Kami jadikan engkau saksi atas mereka pula?’ (QS An-Nisa’: 41), Rasulullah SAW berkata, ‘Cukuplah hingga ayat ini.’ Waktu itu aku perhatikan, air mata beliau bercucuran. Ternyata Rasulullah SAW sangat terharu dengan ayat itu dan teringat kepada Allah SWT.” Abu Hatim dalam tafsirnya meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW kadang-kadang keluar pada waktu malam untuk mendengarkan bacaan-bacaan Al-Quran dari dalam rumah penduduk Anshar. Pada zaman itu rumah para sahabat diramaikan oleh bacaan Al-Quran, mereka menghabiskan malam dengan mentadabburi Al-Quran. Belum ada waktu itu orang mengobrol ke sana-kemari tanpa manfaat. Pada malam hari mereka adalah ahli ibadah, sedangkan pada siang hari mereka adalah pejuang berkuda yang mati-matian meninggikan kalimah Allah. Pada suatu malam Rasulullah SAW mendengar suara seorang perempuan tua membaca surah Al-Ghasyiyah. Beliau Rasulullah mendekati rumah itu dan mendekatkan kepalanya ke pintu untuk mendengarkan bacaan perempuan tua tersebut. Ternyata ia sedang membaca ayat Hal ataka haditsul ghasyiyah..... (Sudahkah datang kepadamu berita tentang hari pembalasan? – QS Al-Ghasyiyah: 1). Hari pembalasan, Kiamat, adalah peristiwa amata penting yang menakjubkan, ia adalah peristiwa besar yang bakal terjadi di dunia ini. Mendengar bacaan itu, Rasulullah SAW merasa seolah bacaan itu tertuju kepadanya. Beliau larut dalam keharuan dan menangis sambil berkata lirih, “Ya, telah datang berita itu kepadaku.” Lihatlah, sampai sejauh itu Rasulullah SAW tersentuh hatinya mendengar bacaan Al-Quran. Dalam kitab Shahih Al-Bukhari juga disebutkan, Rasulullah SAW pernah mendatangi Ubay ibn Ka’ab RA yang selalu menghabiskan waktunya untuk mempelajari Al-Quran dan yang paling bagus bacaannya. Beliau berkata kepadanya, “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadaku untuk membacakannya kepadamu ayat yang berbunyi Lam yakunilladzina kafaru min ahlil kitab.... (Orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik mengatakan bahwa mereka tidak akan meninggalkan agama mereka sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata – QS Al-Bayyinah: 1).” Ubay ibn Ka’ab berkata dengan nada heran, “Benarkah itu, ya Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya, Allah memerintahkan itu kepadaku dengan menyebut namamu.” Berlinang air mata Ubay ibn Ka’ab mendengarnya. Lalu Rasulullah SAW membacakan surah Al-Bayyinah itu sampai selesai. Rasulullah SAW juga pernah berkata kepada Ubay, “Wahai Abu Al-Mundzir (panggilan untuk Ubay), tahukah engkau ayat yang mana yang paling agung di dalam Al-Quran?” Ubay menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Rasulullah mengulangi pertanyaannya. Ubay pun masih menjawab dengan jawaban sama. Maka Rasulullah berkata, “Yakni ayat yang berbunyi Allahu la ilaha illa Huwal Hayyul Qayyum (ayat Kursi).” Lantas beliau meletakkan tangannya di dada Ubay seraya berkata, “Mudah-mudahan ilmu dimudahkan bagimu, wahai Abu Al-Mundzir.” Rasulullah SAW hidup bersama Al-Quran dengan cara membacanya, merenunginya, mengamalkannya, dan mengambil hukum darinya. Beliau selalu menjadikan Al-Quran itu sebagai bahan renungan dan peringatan. Dalam hadits Abu Dzar disebutkan, Rasulullah SAW pada suatu malam bangun dari tidurnya untuk membaca Al-Quran. Ketika baru membaca Bismillahirrahmanirrahiim, beliau menangis tersedu-sedu. Bacaan basmalah itu beliau ulang-ulang terus dan air matanya terus bercucuran. Lalu beliau berkata, “Sesungguhnya merugi orang-orang yang tidak mendapatkan rahmat Allah.” Merenungi Isinya Ibnu Mardawaih meriwayatkan, ketika sahabat Bilal RA lewat di depan rumah Rasulullah SAW pada waktu sahur untuk mengumandangkan adzan subuh di masjid, ia mendengar Rasulullah SAW membaca ayat yang berbunyi, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan ihwal penciptaan langit dan bumi seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari api neraka’.” (QS Ali Imran:190-191). Ketika Rasulullah tahu bahwa Bilal ikut mendengarnya, beliau berkata kepadanya, “Baru saja turun kepadaku beberapa ayat Al-Quran. Sungguh celakalah orang yang membacanya tapi tidak merenunginya.” Al-Quran memang teman hidup Rasulullah SAW, terutama di bulan Ramadhan. Karena itu terdapat banyak riwayat yang menyebutkan, para salaf dulu mengkhususkan bulan Ramadhan untuk merenungi Al-Quran dan tidak disibukkan dengan ilmu-ilmu lain walaupun memiliki keutamaan yang juga besar. Menurut sunnah, membaca Al-Quran haruslah dengan perlahan dan penuh penghayatan. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Tidaklah memahami Al-Quran orang yang membacanya (menamatkannya) kurang dari tiga hari.” Rasulullah SAW berkata kepada Ibnu Amru, “Bacalah Al-Quran dalam tujuh hari (paling cepat menamatkannya) dan jangan kurang dari itu.” Maka, menurut sunnah, menamatkan bacaan Al-Quran harus di atas tiga hari, jangan sampai kurang. Cara yang lebih baik adalah membacanya dengan merenungi dan meresapi setiap maknanya, karena cara yang seperti itulah yang membawa hasil dan menambah keimanan. Tiga Golongan Dalam hal membaca Al-Quran, manusia terbagi menjadi tiga golongan: Pertama, mereka yang berlebih-lebihan, yakni yang membacanya tanpa merenungi dan meresapi setiap maknanya. Tujuan mereka hanyalah mengkhatamkan sesering mungkin sehingga sebagian mereka ada yang mengkhatamkan dalam waktu satu atau dua hari saja. Mereka membacanya secepat mungkin. Kedua, mereka yang sangat jarang membacanya bahkan tidak pernah membacanya sama sekali. Ketiga, mereka yang berada di antara dua golongan di atas. Mereka tidak berlebih-lebihan dalam membacanya, tapi tidak pula berkekurangan. Inilah golongan yang terbaik. Dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Muslim Rasulullah SAW bersabda, “Apabila memasuki bulan Ramadhan, dibukalah pintu surga dan ditutup pintu neraka serta dibelenggu setan-setan.” Allah SWT lebih banyak menerima taubat hamba-hamba-Nya pada bulan Ramadhan, karena Allah menjadikan bulan itu bulan kebaikan dan pengampunan. Maka beruntunglah orang-orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan lalu berbuat baik di dalamnya. Beruntunglah orang yang dapat mencapai keridhaan Sang Maharahman di bulan ini, dan Mahasuci Allah, yang begitu banyak memberi ganjaran pada bulan ini, sampai Dia nanti di akhir bulan Ramadhan akan membebaskan siapa yang Dia kehendaki dari api neraka tanpa batas. Iman Terkikis Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan melaksanakan shalat Tahajjud seperti pada saat di luar Ramadhan, tapi beliau lebih giat lagi mengerjakannya, karena bulan Ramadhan adalah bulan bulan shiyam (puasa) dan qiyam (shalat malam) Dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ganjaran, diampuni atas dosa-dosanya yang telah lalu.” Dengan penuh keimanan artinya tidak termasuk orang yang berpuasa bukan karena iman atau hanya karena menurut adat, sedangkan mengharapkan ganjaran maksudnya bukan berpuasa karena riya’ dan pamer. Sepanjang malam bulan Ramadhan, Rasulullah SAW bermunajat kepada Allah SWT. Betapa besarnya pahala bangun shalat malam, terlebih lagi pada bulan Ramadhan, yang agung. Begitu pula sujud, berwudhu’, berdoa, dan menangis, terlebih lagi pada bulan Ramadhan. Ketika mendirikan shalat malam itu ditinggalkan oleh umat Islam, iman yang ada di dalam dada mereka menjadi terkikis dan keyakinan mereka menjadi lemah. Generasi berganti, tapi tidak seperti generasi yang hidup bersama Rasulullah SAW dulu. Generasi yang ada sekarang hanya generasi yang lemah, terhina, dan penuh kemalasan, kecuali sebagian kecil mereka yang masih dirahmati Allah SWT. Sungguh sedikit di antara mereka yang bersyukur. “Dan pada sebagian malam hari bersembahyang-Tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS Al-Isra: 79). Engkau akan dibangkitkan pada hari Kiamat nanti seperti saat engkau bangun malam. Kedudukanmu ditentukan pula dengan apa yang engkau laksanakan di waktu malam hari. Pada hari itu tidak ada yang bisa memberi syafa’at dan pertolongan kecuali seizin Allah. Apa yang telah engkau perbuat di dunia, seperti itulah keadaanmu nanti dibangkitkan. Bagi seorang muslim yang menginginkan kebaikan atas dirinya, ia mesti memperbanyak membaca Al-Quran, shalat malam. Apalagi di bulan Ramadhan, bulan untuk memperbaharui jiwa, bertabur kesempatan yang tidak akan tergantikan kapan pun, bulan taubat dan pembebasan dari api neraka. Sungguh merugi dan bodoh sekali orang yang bertemu bulan Ramadhan tapi tidak bertaubat dari masa lalunya sehingga tidak mendapat pembebasan dari neraka. Rasulullah SAW jika shalat malam tidak pernah lebih dari 11 rakaat, seperti yang diceritakan oleh Aisyah RA. Tapi satu rakaat yang beliau lakukan sungguh sangat lama. Dalam satu rakaat beliau bermunajad kepada Allah SWT, merenungi ayat-ayat-Nya. Beliau menghidupkan jiwanya dengan mentadabburi Al-Quran, menangis, dan merengek, bersujud, ruku’, dalam waktu lama, sehingga setiap rakaatnya menjadi suatu kebaikan, tidak ada yang lebih baik dari itu. Membaca Al-Quran dengan tajwid serta shalat dengan tenang itu jauh lebih baik daripada memperbanyak rakaat tanpa itu semua. Dalam beramal, kualitas lebih penting daripada kuantitas. Begitu juga dalam membaca Al-Quran. Jangan membaca dengan tergesa-gesa dan jangan pula disenandungkan yang sampai merusak kata dan maknanya. Ada orang yang hanya menamatkan Al-Quran sekali saja tapi karena bacaan, tajwid, dan penghayatannya sangat baik, kalamullah itu dapat mengobati penyakit dirinya dan luka hatinya. Al-Quran memang memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membacanya. Tapi ada juga orang yang menamatkan Al-Quran berkali-kali tapi Al-Quran itu tidak menjadi konsumsi hatinya dan tidak pula menjadi penguat bagi keyakinannya, karena ia membacanya tidak dengan penghayatan. Rumah para salafush shalih pada bulan penuh rahmah dan berkah ini bergema seperti gema lebah yang memancarkan cahaya dan dipenuhi kegembiraan. Mereka membaca Al-Quran dengan tartil, memperhatikan keajaiban-keajaiban isinya, takut dan menangis terhadap peringatan-peringatan yang terdapat di dalamnya, berbahagia dengan berita gembiranya, saling mengingatkan dengan perintah-perintahnya, dan saling mencegah dengan larangan-larangannya. Al-Quran bila dibaca dengan baik dapat menggugah perasaan dan melapangkan hati orang yang mendengarkannya. Tinggal di Tenggorokan Pada saat Al-Quran digantikan dengan yang lain, kerusakan pun semakin menjadi-jadi, bencana mewabah, paham menjadi berbenturan, dan segala tekad menemui kegagalan. Al-Quran, yang agung, menunjukkan manusia kepada jalan yang lurus. Al-Quran, yang agung, adalah cahaya, obat jiwa, ilmu pengetahuan, budaya, dan bukti nyata. Al-Quran, yang agung, adalah hidup dan ruh kehidupan, sumber kebahagiaan, serta induk kebajikan. Al-Quran, yang agung, adalah ajaran ketuhanan, undang-undang Ilahi, dan hikmah yang abadi. Rasulullah SAW bersabda, “Hampir datang suatu masa kepada umat manusia bahwa Islam tidaklah ketinggalan melainkan tinggal namanya, dan Al-Quran tidaklah ketinggalan melainkan tinggal tulisan, masjid-masjid mereka ramai tetapi sunyi kosong dari petunjuk yang benar, para ulama mereka lebih buruk dari segala apa yang di bawah kolong langit karena dari sisi mereka itu keluarnya fitnah dan kepada mereka fitnah akan kembali.” (HR Imam Al-Baihaqi dari Ali RA). Hadits ini jelas mengandung keterangan bahwa Islam tinggal namanya dan Al-Quran tinggal tulisannya. Apa yang diingatkan oleh Rasulllah SAW itu kini tampak mulai menjadi kenyataan. Dewasa ini Al-Quran tinggal tulisannya, semua tuntunannya tidak lagi diperhatikan dan tidak pula dipraktekkan. Jangankan dipraktekkan, mempelajari dan memikirkan saja sudah banyak yang tidak mau lagi. Banyak orang Islam yang merasa sudah cukup dengan kitab karangan para ulama, merasa cukup dengan kitab karangan para gurunya, merasa cukup dengan keterangan para leluhurnya atau nenek moyangnya.... Selanjutnya Rasulullah SAW bersabda, “Akan datang suatu masa umatku pada masa itu banyak para pembaca Al-Quran, sedikit orang yang pandai agama, dicabutlah ilmu pengetahuan, dan banyak huru-hara, kemudian datanglah sesudah itu suatu masa orang-orang dari golongan umatku membaca Al-Quran dengan tidak melalui tulang tenggorokan mereka.” (HR Imam At-Thabarani). Pada hadits lain beliau menyatakan, “Akan ada kemudian orang-orang dari umatku yang membaca Al-Quran yang bacaannya tidak melalui tenggorokannya, mereka terlepas dari agama Islam seperti terlepas anak panah dari busurnya, kemudian tidaklah mereka dapat kembali di dalamnya, mereka itu sejelek-jelek makhluk dan sejahat-jahat manusia.” (HR Imam Muslim). Kemudian ada hadits lainnya, “Akan ada nantinya para ahli ibadah yang bodoh dan para ahli membaca Al-Quran yang durhaka.” (HR Imam Abu Nu’aim). Keadaan umat Islam seperti yang diingatkan oleh Rasulullah SAW itu sudah mulai tampak pada zaman sekarang. Mereka tidak lagi menjadikan Al-Quran sebagai tuntunan hidup, tapi sekadar didendangkan sebatas tenggorokan. Al-Quran tidak lagi ditaati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Al-Quran hanya sebagai buku sakti yang dipajang di dalam lemari atau ditaruh di tempat yang tinggi sampai berdebu. Sekarang terserah kepada masing-masing kita. Apakah kita memang hidup bersama Al-Quran ini, mengenal kebesaran Al-Quran, sehingga kehidupan kita bahagia dengannya di dunia dan akhirat. Atau sebaliknya.... IMR |
Selalu Melaksanakan Perbuatan Mulia
| | |
| Kebaikan di bulan suci Ramadhan ini terus kita lakukan. Agar tatkala bulan suci Ramadhan telah kita lewatkan, kita tetap melaksanakan hal-hal yang mulia sehingga kalau meninggal insya Allah meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Setiap kali bulan suci Ramadhan tiba, ratusan masjid dan mushalla mengadakan acara buka bersama serta santunan anak yatim dan yatim piatu bagi anak-anak yang kurang mampu. Tak bedanya dengan Majelis Ta’lim Al-Chairiyyah, pimpinan Haji Chaidir Byah, di bilangan Cikunir, Bekasi Selatan. Sore itu, Jum’at 28 Agustus, selepas adzan shalat Ashar, puluhan yatim piatu dari penduduk sekitar dan juga dari Pondok Pesantren Al-Fath Galaxy Bekasi mendatangi kediaman Bapak H. Chaidir. Sebelum acara dibuka, puluhan anak yatim piatu membentuk barisan yang begitu rapi. Mereka duduk saling berhadapan, yang laki-laki berhadapan dengan laki-laki, yang perempuan berhadapan dengan perempuan. Tak berapa lama, acara pun dibuka dengan pembacaan surah Al-Fatihah, yang dipimpin langsung oleh Ustadz Abdul Basith. Setelah itu dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh tuan rumah sekaligus pemimpin majelis ta’lim. Dalam sambutannya, H. Chaidir mengucapkan banyak terima kasih kepada anak-anak yang telah menyempatkan hadir pada acara buka puasa itu. “Semoga semua niat kebaikan kita diterima oleh Allah SWT,” katanya. Penuh Berkah Detik-detik memasuki adzan maghrib, anak-anak pun membacakan doa berbuka puasa yang dipimpin langsung oleh Ustadz Taufik, pemimpin Pondok Pesantren Al-Fath. Kemudian acara pun berlanjut dengan shalat Maghrib berjama’ah, pembacaan doa, dan taushiyah, masih oleh Ustadz Taufik. Dalam taushiyahnya, Ustadz Taufik menyatakan kegembiraannya. “Dengan momentum Ramadhan dan acara buka bersama, kita bisa saling bersilaturahim, saling menyayangi satu di antara yang lain.” Acara diakhiri dengan pemberian santunan kepada anak yatim, dhuafa, dan santri Pondok Pesantren Al-Fath. RIS |
Berlomba-lomba dalam Kebaikan di AS
Selain beramal, semua kegiatan ini juga memperlihatkan kepada masyarakat Amerika umumnya bahwa muslim AS adalah warga negara yang baik. Omar Ahmad, seorang pegawai perusahaan teknologi informasi di Silicon Valley, California, yang masih harus bekerja ketika saat berbuka tiba, mengatakan, sumbangan makanan ke masjid sangat membantu orang-orang seperti dirinya. Lebih dari sekadar memberi makan bagi mereka yang kurang beruntung, di bulan yang penuh rahmat ini, banyak warga muslim AS melakukan amal kebaikan lainnya. Seperti yang dilakukan Yusuf Ramelize, seorang manajer produksi perusahaan layanan informasi di New York. Ia kerap meluangkan waktunya selama Ramadhan dengan membantu tunawisma di kota The Big Apple. Bahkan tahun lalu, melalui situs yang dibentuknya, homelessforoneweek.com, ia berhasil mengumpulkan dana 3.000 dolar AS , yang kemudian disumbangkan kepada lembaga New York’s Coalition for the Homeless. Tahun ini, ia berupaya mengumpulkan 5.000 dolar (Rp...) untuk diberikan kepada Bank Pangan kota New York. Kemudian pemilik rumah makan Ambassador di daerah Queens, New York, Shakeel Cozmi, mengimbau pelanggannya agar memberi sumbangan kepada Pakistan dengan menyediakan menu gratis selama satu kali makan malam. “Saya tidak menagih bayaran sedikit pun kepada pelanggan, menu yang saya sediakan akan saya alihkan ke harga makanan. Berapa pun besarnya uang yang dikumpulkan, setiap sennya akan disumbangkan bagi dana bantuan Pakistan,” katanya, Kamis (26/8), seperti dilansir voanews. “Ramadhan adalah bulan penuh rahmat. Dalam bulan inilah umat Islam berpuasa, dengan tujuan antara lain untuk berempati kepada mereka yang kurang beruntung, dan sangat bermurah hati menolong semua orang di seluruh dunia,” tutur General Manager Islamic Relief USA, Mohamed Abdul-Magd. Kegiatan seperti itu juga banyak dilakukan organisasi kemasyarakatan muslim lainnya. Misalnya Project Downtown di Miami. Selain beramal, semua kegiatan ini juga memperlihatkan kepada masyarakat Amerika umumnya bahwa muslim AS adalah warga negara yang baik. SEL |
Asma al Husna al Qahhar
Selalim apa manusia mampu? Tentu ia dibatasi umur. Sezalim apa manusia bisa? Pasti hanya dalam ukuran tertentu. Sedangkan Allah, Maha Memaksa dan tanpa batas kekuasaan-Nya.
Dia tenggelamkan Firaun ke dalam samudera. Dia benamkan Qarun ke dalam tanah dengan seluruh harta kekuasaannya. Dia siksa raja dengan seekor nyamuk yang membawa perintah. Allah memiliki cara yang tak pernah terpikir oleh makhluk-Nya. Di tenggelamkan anak nabi Nuh yang mendaki gunung paling tinggi. Di bakarnya kaum Luth dengan angin yang paling panas. Diguncangkan orang-orang Tsamud sampai mereka nyaris tak sempat membuka mulut.
Tak terpikir sebelumnya laut akan terbelah. Tak terbayang sebelumnya tanah akan menganga. Tak terkira seekor nyamuk yang lemah mampu membuat kepala seorang raja terpecah. Sungguh Allah Maha Memiliki cara untuk memaksa.
Dia paksa manusia yang melampaui batas untuk mengakui batas. Dia paksa manusia yang tak memiliki rasa takut untuk mengakui maut. Dia paksa manusia untuk mengakui kebesarannya.
Rasulullah pernah bersabda, mengutip firman Allah dalam hadits qudsinya. ”Allah yang Maha Perkasa memegang tujuh lapis langit dan bumi di tangan-Nya. Dia berfirman, ’Akulah Raja di mana orang-orang yang zalim, di mana orang-orang yang sombong?!” (HR Muslim)
Sungguh berani manusia yang berbuat zalim. Sungguh berani orang-orang yang berlaku sombong. Mereka menantang dan dicari oleh Allah SWT untuk dimusnahkan.
Maka jadilah Abdul Qahhar, hamba dari Tuhan yang Maha Memaksa. Dengan kekuatan yang dimilikinya ia membasmi kezaliman dan kesombongan. Maka dzikirkanlah kata al Qahhar, kalimat yang mengatasi segala kekerasan. Dengan pertolongan-Nya, akan tunduk orang-orang yang melampaui batas lagi durhaka.
MUI Tangsel Keluarkan Teguran untuk Restoran dan Tempat Hiburan
Sedangkan, 25 tempat hiburan malam adalah Inul Vizta, tempat karaoke Naff, Hotel Melati Sion, Hotel Melati, karaoke Orange, karaoke Las Vegas, Cafe Venalataria, One Stop, tempat hiburan di Gaplek Pamulang dan di Bintaro. "Rumah makan dan tempat hiburan hanya mendapat teguran saat sidak yang dilakukan sejak awal puasa hingga minggu kedua," kata Abdul Rozak.
Rozak menambahkan, tempat hiburan dan rumah makan tersebut akan kembali dilakukan sidak memasuki minggu ke tiga bulan puasa. Bila dalam sidak lanjutan, rumah makan dan tempat hiburan tersebut masih melanggar peraturan mengenai jam operasi, maka sanksi yang diberikan bukan lagi teguran melainkan
"Bila dalam sidak selanjutnya rumah makan dan tempat hiburan tersebut masih melanggar peraturan, maka sanksi yang diberikan adalah teguran tertulis," ujarnya.
Saat ini, lanjut Rozak, pihaknya sudah merencanakan sidak lanjutan yang akan digelar secara dadakan dan waktu yang tidak bisa ditentukan.
Hal ini agar informasi sidak tidak bocor kepada pengelola rumah makan dan tempat hiburan. "Kita tidak bisa berikan informasi, tetapi bila sudah ada ditempat maka akan kita koordinasi dengan media massa untuk membantu meng eksposenya," katanya. (ant)
Asma al Husna al Wahhab
Al Wahhab, Dia adalah Maha Pemberi. Pemberian-Nya tanpa syarat, juga tanpa batas. Tak terukur, juga tak ternilai. Tak ada satupun yang mampu menyamai pemberian-Nya. Tak pula satupun yang mampu menghitung anugerah-Nya.
Al Wahhab, Dia adalah Maha pemberi. Langit diberi-Nya awan, agar manusia di bumi ternaungi. Langit diberi-Nya awan, agar air kembali turun ke bumi dan menyuburkan tanah. Langit diberi-Nya awan, agar para sastrawan juga mendapat inspirasi.
Al Wahhab, Dia adalah Maha Pemberi. Burung dengan merdu berkicau, singa dengan gagah mengaum.
Bukankah begitu indah dan penuh harmoni semua yang dianugerahkan?
Diberikan manusia sebaik-baik rupa. Diberikan manusia setinggi-tinggi akal untuk menalar. Diberikan manusia sedalam-dalamnya hati untuk merasa. Diberikan manusia daya untuk berusaha sekuat-kuatnya.
Maha Suci Allah yang Maha Pemberi. Dia yang selalu menjawab doa dan memberikan segala yang dipinta hamba. Sungguh luas karunia-Nya. Cacing di dalam tanah, mendapatkan jatahnya. Burung yang tak tahu akan terbang kemana, juga mendapatkan rezekinya. Apalagi manusia, makhluk yang sangat dicintai-Nya, atas izin-Nya dan dengan segala usaha, ada banyak anugerah yang mampu didapatkan manusia.
Wahai hamba yang mendamba, jika ingin segala hasrat baik diijabah, dzikirkan selalu dari bibirmu, ya Wahhab. Tiada henti, tiada lelah. Insya Allah, Tuhan yang Maha Memberi akan mengabulkan segala.
Tapi ada satu pertanyaan yang tersisa, tidakkah kita malu dengan segala pemberian-Nya yang tidak sebanding dengan ketaatan yang kita sembahkan? Sungguh, Maha Suci Allah yang selalu memberi, meski dengan segala kealpaan kita yang selalu terjadi. Semoga Allah senantiasa memberi ampunan-Nya.
Sejak Puasa, Nasabah Pegadaian Meningkat
"Dari sebelum puasa, nasabah sudah mulai meningkat, hingga berlangsung sampai sekarang," kata pimpinan kantor pegadaian cabang Pasar Ciputat, Dedi Sudrajat, di Tangerang, Senin.
Dedi mengatakan, barang gadaian dari nasabah pegadaian banyak didominasi oleh perhiasan emas, sedangkan sebagian kecil berupa barang elektronik dan kendaraan, baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat. "Nasabah lebih banyak menggadaikan perhiasan emasnya dibandingkan dengan barang elektronik maupun kendaran karena bentuknya yang lebih kecil dan nilainya juga tinggi," katanya.
Selama bulan puasa, pihaknya menambah ketersedian modal dalam bentuk uang tunai sebesar Rp50 juta setiap harinya. Ketersediaan dana sekarang menjadi Rp150 juta untuk setiap harinya. "Jumlah tersebut untuk yang berada disini, sedangkan sisanya untuk penambahan 10 unit yang tersebar di Kota Tangerang Selatan masing-masing Rp10 juta, jadi keseluruhan manjadi Rp230 juta yang harus siap dalam setiap harinya," ucapnya.
Dedi menambahkan, nasabah pegadaian akan banyak menarik kembali perhiasan emasnya saat menjelang Lebaran dan nasabah akan meningkat kembali setelah sepekan dari Lebaran. "Sebelum Lebaran akan banyak nasabah mengambil perhiasan emasnya untuk keperluan lebaran, namun habis lebaran juga akan ramai lagi yang menggadaikan perhiasan emasnya," jelasnya.
Sementara itu, salah satu nasabah pegadaian, Susanti mengaku, ia menggadaikan perhiasan emasnya karena bentuknya ringan dan lebih aman. "Kalau elektronik atau kendaraan, selain barangnya besar, takutnya kebentur
Ruang Shalat Bandara Amerika Ramai saat Ramadhan
Pengunjung melakukan shalat Jumat, mengaji, dan bahkan shalat tarawih di ruang shalat bandara.
Sejumlah bandara besar di Amerika telah menyediakan ruang shalat untuk umat Islam.
Kebanyakan ruang tersebut disatukan dalam tempat ibadah umat berbagai agama, biasa disebut sebagai interfaith chapel.
Di Bandara Internasional Dulles di Washington, ruang tersebut terletak di bagian dalam terminal keberangkatan. Tempat shalat kaum Muslim yang beralaskan karpet dan menempati sisi kiri ruangan itu dilengkapi dengan sajadah, tasbih, kitab suci Al-Quran, serta buku-buku doa.
Ralph Benson, rohaniwan senior di bandara Dulles, Washington DC, mengatakan perlengkapan ibadah tersebut merupakan sumbangan dari komunitasi Muslim. “Beberapa (juga) dari masjid dan dari Saudi Airlines.
CAIR (Council on American-Islamic Relations) juga menyumbang kitab suci Al-Quran,” tambah Benson
Interfaith chapel ini, menurut Benson, sudah tersedia di sana sejak tahun 1996. Pemrakarsanya adalah sekelompok pengusaha dari berbagai agama yang memandang pentingnya keberadaan tempat ibadah sewaktu pengunjung bepergian melalui bandara itu. Menurutnya, keberadaan ruang tersebut menunjukkan pula adanya kebebasan menjalankan ibadah agama yang didukung Konstitusi Amerika.
Bandara Internasional JFK di New York ini merupakan salah satu yang tersibuk di Amerika.
Sementara itu, di Bandara Nasional Ronald Reagan, Washington DC, juga tersedia tempat ibadah serupa. Lokasinya di area umum, sebelum para penumpang memasuki gerbang-gerbang keberangkatan mereka. Selain para calon penumpang, banyak karyawan bandara yang memanfaatkan tempat tersebut.
Harta Purnama, manajer di sebuah restoran di bandara ini mengatakan mereka yang ingin shalat biasanya harus bergantian. “Karena chapel-nya tidak terlalu besar, hanya untuk 10-15 orang,” ujar Purnama.
Di Bandara John F. Kennedy di Kota New York, satu dari empat ruang ibadah bahkan dikhususkan bagi umat Islam. Mohammad Eko Soekarno, seorang warga Indonesia anggota militer Amerika, sudah beberapa kali mengunjungi tempat ini. Ia mengatakan, ruang shalat di JFK bahkan memisahkan kaum lelaki dan perempuan.
Bagaimana umat Muslim memanfaatkan tempat-tempat shalat di bandara selama Ramadan?
Menurut Kashif Bhatti, pegawai Otorita Bandara Metropolitan Washington, yang biasa menjadi imam shalat Jumat di ruang ibadah antar agama di bandara internasional Dulles, ”Pada hari-hari biasa, ada sekitar 30-40 orang shalat Jumat, tetapi pada bulan Ramadan, jumlahnya meningkat, ada sekitar 50-60 orang. “
Para karyawan bandara maupun calon penumpang singgah di interfaith chapel itu tidak hanya untuk shalat Jumat, tetapi juga untuk mengaji. Bhatti mengatakan ada pula pengunjung yang memanfaatkannya untuk shalat tarawih, meskipun tidak berjamaah.
Langganan:
Postingan (Atom)
"MAJELIS RASULULLAH SAW"